
Di saat begini, tumben beberapa anggota timku belum berkunjung datang. Kecuali Hans seperti biasa selalu datang lebih awal dan juga belakangan ini Fina selalu datang lebih awal. Kalau Nathan dan Tania, aku sih tidak terlalu mengharapkan mereka datang pagi seperti ini. Sebenarnya mataku masih sangat berat dan rasanya perih saat melihat layar monitorku. Aku beristirahat sejenak memejamkan mataku dan juga menenangkan pikiranku.
drrt...drrt...
Aku sangat terkejut tiba-tiba ponselku berbunyi di saat aku sedang mengantuk sampai aku hampir terjatuh dari kursiku. Aku mengambil ponselku di meja, yang meneleponku itu adalah vitamin penyemangatku. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah karena pergi tanpa berpamitan dengannya. Pasti ia menghubungiku bertujuan memarahiku.
"Penny, tega sekali kamu pergi tanpa berpamitan denganku, lalu meninggalkan catatan kecil seperti ini!"
Benar dugaanku, siap-siap aku dimarahi. "Maafkan aku, Adrian. Sebenarnya saat aku bangun tidur, aku melihatmu masih tertidur jadinya aku tidak ingin mengganggumu."
"Aku merindukanmu, Penny. Aku ingin sarapan bersamamu saja tidak bisa. Sedangkan semalam kamu pulang larut malam, waktu kebersamaan kita jadi berkurang."
Memang benar sih. Belakangan ini aku jarang menghabiskan waktu bersamanya, meski aku menginap di kediamannya. Karena urusan pekerjaan yang menghalangi kencan kami. Sebenarnya aku rindu momen bisa kencan dengannya sepuasnya.
"Aku juga sangat merindukanmu, Adrian. Sebenarnya aku ingin dipeluk kamu terus. Aku rindu melihat wajahmu walaupun hanya tadi aku tidak melihatmu."
"Maka dari itu, kalau kamu tidak sibuk, kamu harus pulang lebih awal. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Sekarang aku mengerti kenapa waktu itu kamu marah padaku saat aku pulang larut malam."
"Aku tidak marah. Hanya merasa kesepian saja. Lagi pula kalau aku bisa pulang lebih awal, aku ingin pulang dan bisa menatap wajah tampanmu."
"Baiklah, aku tunggu, ya. Omong-omong, masakanmu ini semakin hari semakin ada kemajuan."
"Benarkah? Padahal aku hanya sedikit menambahkan takaran bumbunya saja."
"Sudah kubilang beberapa kali, makanannya rasanya enak karena dimasak kamu."
"Jadinya masakannya memang enak atau karena aku yang memasak?"
"Kombinasi dari keduanya dong."
Pipiku semakin memerah dan memanas, bukan karena udara di pagi hari. Tapi karena gombalannya seperti biasa yang berhasil membuat jantungku berpacu cepat.
"Bisakah kamu jangan menggombalku di pagi hari?"
"Penny, sehari saja tanpa mendapatkan vitamin darimu rasanya ada sesuatu yang kurang dalam hidupku."
"Kalau begitu nanti saat pulang kerja, aku memberimu vitamin yang sangat banyak gimana?"
"Tentu saja mau."
"Sudahlah aku tutup teleponnya dulu ya, aku harus kembali bekerja."
"Tunggu sebentar!"
"Ada apa lagi?"
"Pokoknya kamu harus pulang lebih awal hari ini. Aku ingin melihat wajah cantikmu dan juga memberi extra vitamin untukmu."
"Tenang saja aku pasti akan pulang hari ini. Aku juga menginginkan vitaminmu."
"Kalau begitu, kamu kembali bekerja saja. Pasti kamu sangat sibuk sekarang."
"Ya sudah, aku tutup teleponnya, ya. Sampai bertemu nanti."
Aku mengakhiri pembicaraannya. Tiba-tiba Fina mendongakkan kepalanya di hadapanku sambil tersenyum sendiri menatapku.
Aku tersentak sampai jantungku hampir lepas. "Aduh kaget, Fina!"
__ADS_1
"Kamu habis menelepon Adrian, ya," tukas Fina menyunggingkan senyuman licik.
Aku mengangkat kepalaku bergaya angkuh. "Kenapa memangnya? Apa kamu cemburu?"
"Tenang saja. Aku sudah menyerah dengannya," lontar Fina dengan santai.
Mataku membulat sempurna. Tidak biasanya ia mengucapkan sesuatu berbanding terbalik dengan biasanya. "Benarkah? Kamu sungguh tidak memiliki perasaan padanya lagi?"
Sedangkan hatinya Hans mulai berbunga-bunga merasa ada sedikit harapan mendekati Fina.
"Aku tidak akan memaksanya lagi. Lagi pula aku sudah cukup lelah mengejarnya terus," lanjut Fina tersenyum lega.
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?" tanyaku memastikannya, siapa tahu ia sengaja berbohong supaya aku meremehkannya.
"Sebenarnya saat aku pertama kali bertemu Adrian setelah bertahun-tahun di acara penyambutanku waktu itu, aku tidak sengaja melihat ponselnya memasang foto dia sedang bersamamu tersenyum bahagia. Setelah kupikir panjang, lebih baik aku merelakannya saja demi dia hidup bahagia bersama dengan wanita dicintainya. Selain itu, dia pasti sangat kesal setiap bertemu denganku dan selalu tersenyum ceria di hadapanmu. Jadinya, aku berharap kalian berdua harus selalu bersama," ungkap Fina dengan tatapan tulus melepas apa yang dipendamnya selama ini padaku panjang lebar.
"Apa kamu yakin?" selidikku lagi.
"Cinta bertepuk sebelah tangan jika diteruskan terasa sangat sakit. Aku harus merelakannya demi kebahagiaannya dan aku sendiri harus mencari seorang pria merupakan jodohku sebenarnya."
Aku langsung memeluknya erat dan tersenyum lebar padanya. "Terima kasih telah merelakan Adrian untukku."
"Tapi ada satu syarat," ujar Fina tiba-tiba serius.
"Syarat apa? Apakah itu sulit?" tanyaku mulai gugup lagi, cemas ia akan berubah pikiran.
"Kamu harus selalu melindunginya dan juga tidak menyakiti hatinya. Sampai itu terjadi, akan kubunuhmu sekarang juga!" ancam Fina memelototiku dengan tatapan elang.
"Tenang saja, aku tidak mungkin berbuat seperti itu di hadapannya."
"Aku sebenarnya menyukai seseorang sekarang," ucap Fina tersipu malu.
"Pokoknya ada deh. Nanti kamu pasti mengetahuinya."
"Ehem..ehem.."
Hans sengaja berdeham hingga Fina menatapnya cemas.
"Kamu kenapa, Hans? Apakah kamu terserang flu?" tanya Fina cemas sambil mendekati Hans menyentuh dahinya secara spontan.
Mendapat perlakuan hangat dari wanita pujaannya, Hans tersenyum mengambang bahkan sorot matanya terfokus pada Fina, tidak memedulikan orang di sekitarnya.
Hans bersandiwara memegangi lehernya seperti sakit tenggorokan sungguhan.
"Tidak apa-apa. Mungkin tadi aku menghabiskan sarapanku terburu-buru jadi tenggorokanku tidak enak seperti ini."
"Sebaiknya kamu minum yang banyak supaya tidak sakit tenggorokan!" saran Fina tegas.
"Iya, aku mengerti." Hans mematuhinya hingga senyumannya semakin mengambang.
"Apa kamu mau permen? Kebetulan sekali hari ini aku membawa permen," tawar Fina pada Hans.
Hans mengangguk cepat. "Boleh juga nih. Aku suka sekali makan permen."
"Kenapa aku tidak ditawarkan?" protesku memanyunkan bibirku kecewa.
"Oh, kamu mau juga, Penny. Tunggu sebentar, mungkin masih ada sisa permen di tasku."
__ADS_1
Dengan sigap Fina membuka tasnya mencari permen untukku dan Hans. Namun ia hanya mempunyai satu permen untuk diberikan kepada Hans. "Ini untukmu, Hans."
Hans membelalakan mata. "Kamu sungguh memberikannya kepadaku? Kamu tidak akan memberikan pada Penny?"
Aku menyipitkan mataku sambil menyenggol lengan Fina dengan sengaja. "Oh, jadi kamu lebih memilih Hans dibandingkan aku!"
"Bukan begitu. Karena Hans yang memintanya duluan makanya aku berikan permen untuknya," sahut Fina gelagapan.
"Terima kasih, Fina!" sorak Hans girang.
"Omong-omong, sebaiknya kamu buka email balasan dari anonim itu," usul Fina padaku.
Aku menepuk jidatku. "Oh ya, aku sampai melupakan itu akibat sibuk berbincang denganmu tadi!"
Aku menatap layar monitorku lagi dan membuka email itu. Pesan balasan dari anonim itu berupa alamat suatu tempat dan juga nomor teleponnya. Ia memintaku menemuinya hari ini juga karena ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
"Aku harus menemui orang itu hari ini," ujarku.
"Biar aku ikut denganmu, Penny! Kalau kamu pergi sendiri itu sangat berbahaya," tawar Fina sukarela mengangkat tangan kanannya.
"Baiklah, kalau begitu Fina akan ikut denganku. Sedangkan Hans, Nathan, dan juga Tania tetap berjaga di kantor."
"Baik aku mengerti, Penny," patuh Hans.
"Ayo naik mobilku saja, Fina!" ajakku sambil mengambil kunci mobilku.
Orang itu memintaku bertemu di suatu Kafe yang jaraknya sekitar 6 kilometer dari kantor polisi. Jadinya tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama.
Setibanya di tempat pertemuan, aku dan Fina duduk di sana menunggunya sambil minum kopi. Tak lama kemudian, ada seorang gadis yang menghampiriku dengan tatapan ragu.
"Apakah kamu, Kepala Detektif Penny?"
"Iya benar itu aku, tapi kamu siapa?"
"Namaku Celine, aku yang mengirimkan email itu padamu."
"Aku ingin bertanya padamu banyak pertanyaan, apakah kamu keberatan?" tanyaku lagi.
"Tidak masalah, lagi pula aku harus mengungkapkan ini semua kepadamu," jawabnya santai.
Sebelum kami berbincang, Celine memesan kopi untuknya terlebih dahulu. Lalu ia duduk tepat di hadapanku.
"Kenapa kamu tiba-tiba mengirimkan rekaman CCTV itu kepadaku? Lalu kamu dapat rekaman itu dari mana?" selidikku mulai fokus pada penyelidikan.
"Sebenarnya, aku bekerja di bar tempat pria itu biasanya nongkrong di sana. Aku tidak sengaja melihat bosku sedang merekam sesuatu menggunakan kameranya sendiri. Aku bersembunyi diam-diam dan melihat dia sedang merekam ulang rekaman CCTV di bar saat itu," ujar Celine berterus terang.
Aku mengepalkan tanganku geram. "Sudah kuduga pasti Josh memerintah seseorang untuk merekam ulang dan mengedit."
"Aku melihat asisten pribadinya itu memberikan sejumlah uang kepada bosku dan bosku langsung melakukan perintahnya."
"Tapi kenapa kamu baru sekarang memberikan rekaman CCTV kepadaku?"
"Aku sudah tidak tahan lagi jika kebenaran itu disembunyikan terus. Rasanya aku memiliki dosa yang besar saat aku mengetahui ada rekaman CCTV yang asli dimanipulasi seperti itu. Maka dari itu, aku sengaja menyimpan rekaman CCTV sampai pada waktunya aku memberikannya padamu," ujar Celine dengan tatapan tulus.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Terima kasih atas pernyataan jujurmu kepadaku. Nanti di saat kami sudah menangkapnya, kamu harus bersaksi di persidangan. Apakah kamu ingin bersaksi di sana?"
"Tentu saja demi mengungkapkan kebenaran," jawab Celine cepat.
__ADS_1
"Baiklah Celine terima kasih atas kerja samanya. Untuk saat ini, sebaiknya kamu jaga mulutmu dan jangan mengungkapkan ini kepada siapa pun. Kita tidak tahu suatu saat nanti kamu akan menjadi target utama pelakunya sama seperti korban sebelumnya."
Setelah selesai berbincang, aku dan Fina berpamitan dengan Celine kembali ke kantor. Di tengah perjalanan, aku melihat mobilnya Josh sedang menuju ke suatu tempat, tapi bukan menuju stasiun TV BYZ.