Good Partner

Good Partner
Part 76 - Tidak Berdaya


__ADS_3

Tak lama kemudian, mobil ambulans mendatangi tempat ini lalu paramedis berhamburan membawa tempat tidur pasien menghampiri Hans tergeletak di tengah jalan. Paramedis mengangkat tubuhnya Hans dipenuhi darah lalu membawanya memasuki mobil ambulans.


Fina langsung berlari menghampiri paramedis itu sambil menangis terisak-isak. "Apakah aku boleh mengikutinya? Aku walinya."


"Silakan ikut dengan kami." Paramedis mempersilakan Fina memasuki mobil ambulans.


Sedangkan aku dan teman lainnya menyusul mobil ambulans yang membawa Hans menuju rumah sakit terdekat.


Setibanya di rumah sakit, kami berlari memasuki ruang UGD melihat Hans dalam kondisi koma. Para dokter berusaha menstabilkan tanda vital tubuh Hans dengan menggunakan alat Defibrilator. Fina menangis dengan pasrah tepat di sebelah tempat tidur, berlutut tidak berdaya.


Aku menghampirinya lalu memeluknya mengelus punggungnya berusaha menenangkannya.


"Bagaimana jika dia tidak tersadar kembali?" tanya Fina, bibirnya mulai memucat dan rambutnya sangat berantakan.


"Jangan berpikiran yang aneh, Fina! Aku sangat yakin Hans akan bangun. Aku mengenalnya dari dulu, dia itu pria sangat kuat."


Fina menggigit jari ketakutan. "Dia mengalami kecelakaan tepat di depan mataku yang membuat pikiranku sekarang selalu dihantui kejadian tadi."


"Kamu cukup berdoa saja agar dia cepat bangun."


Para dokter berusaha mengembalikan tanda vitalnya Hans hingga membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Tak lama kemudian, tanda vitalnya kembali seperti semula.


Fina kembali tersenyum tipis, lalu secara perlahan membangkitkan tubuhnya mengikuti para dokter menuju ruang operasi. Aku dan yang lainnya menemani Fina menunggu di depan ruang operasi sampai operasi itu selesai.


Adrian melipat kedua tangan di dada. Melihat tingkah Fina berubah drastis, ia sangat lega, tapi ia juga masih membutuhkan kepastian supaya tidak membuatnya bingung. "Fina, apakah kamu sungguh menyukai Hans sampai sejauh itu?"


"Dia satu-satunya pria yang paling mengerti perasaanku dan juga kondisiku. Saat pikiranku sedang kacau, dia selalu ada di sisiku menghiburku."


Nathan menatap wajahnya Adrian dengan tatapan curiga. Ia terus menatap wajah itu dengan fokus. Terutama terpaku pada sudut bibir Adrian terlihat tidak biasanya. "Bibirmu itu kenapa?"


Adrian memasang wajah polos menyentuh bibirnya dengan jempol. "Memangnya ada salah apa dengan bibirku?"


"Itu seperti warna lipstik wanita."


Aku jadi teringat kejadian di hotel tadi bersamanya. Nathan membuatku mengingatnya lagi meskipun aku berusaha tidak memikirkannya dulu hingga wajahku memanas sekarang. Bukan karena aku tidak suka, justru aku sangat menyukainya sampai membuat seisi pikiranku dipenuhi adegan ciuman.


Sudah pasti aku berbohong daripada dipermalukan temanku sendiri. "Tadi Adrian habis bertengkar hebat dengan Josh jadinya agak sedikit terluka di bibirnya."


Nathan semakin menyipitkan mata. "Tapi aku sangat yakin itu warna lipstik wanita."


Tania memukuli punggung Nathan. "Aish kamu kenapa mempermasalahkan hal kecil seperti itu sih!"


Sorot mata Nathan terfokus melihatku dan Adrian. "Apakah terjadi sesuatu dengan kalian berdua?"


"Memang mulutmu harus dikunci rapat!" ketus Tania membungkam mulut Nathan dengan telapak tangannya.


"Aku hanya penasaran saja!"


"Sebaiknya kamu diam saja sebelum aku menjewer telingamu sampai merah!"


Nathan merengek manja. "Iya, aku mengerti. Ampuni aku."


Aku hanya bisa tersenyum sendiri melihat tingkah kekonyolan mereka berdua sekaligus mengucapkan dalam hatiku berterima kasih kepada Tania yang telah membuat Nathan tidak mencurigai Adrian lagi. Selama menunggu, rasanya aku sudah sangat lelah dan tubuhku hampir terjatuh dari bangku.


Adrian langsung menahan tubuhku, lalu melepaskan jasnya menyelimuti tubuhku dengan hangat. "Kamu tidur dulu saja, nanti akan aku bangunkan."


Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya. "Baiklah, aku pinjam pundakmu itu untuk kujadikan bantal."


Satu jam telah berlalu, salah satu dokter yang menangani operasinya Hans keluar dari ruang operasi menghampiri Fina.


"Bagaimana dengan kondisinya, Dok?" tanya Fina dengan gugup.


"Operasinya berjalan lancar. Untungnya pasien tidak kehilangan banyak darah, mungkin pasien akan kembali tersadar secepatnya."


Fina bernapas lega. "Syukurlah. Terima kasih banyak telah menyelamatkan nyawanya, Dok."


Setelah Hans dipindahkan ke bangsal umum, aku dan yang lainnya menyusul Fina memasuki kamar itu. Aku bermaksud berpamitan pulang dengannya karena besok aku harus kembali bekerja. Begitu pula Nathan dan Tania berpamitan dengannya. Sedangkan Fina tetap berjaga di sini sepanjang malam hingga Hans tersadar.


Di kediaman Adrian, karena tubuhku sudah sangat kelelahan jadinya aku memutuskan langsung tidur dan membersihkan diriku seadanya saja. Tapi sebelum itu, aku harus mengobati luka di pipinya.


Aku mengambil kotak P3K, lalu duduk di sofa ruang tamu. "Adrian."


"Kenapa, Penny?" Adrian menyahutiku duduk tepat di sebelahku.

__ADS_1


Aku mengambil sebuah obat salep dan mengoleskan pada pipinya.


Adrian tertawa kecil menatapku penuh cinta. "Ini hanya luka kecil. Tidak perlu dipakai obat, kamu sangat berlebihan."


"Aku merasa terganggu melihatnya. Aku tidak suka melihatmu terluka."


Adrian membelai rambutku lambat laun. "Memang kamu pantas menjadi pacar kesayanganku."


"Kamu terluka karena aku, jadi aku harus bertanggung jawab mengobatimu."


"Ini bukan salahmu. Ini semua karena keparat gila itu. Sudah jangan dipikirkan lagi, sebaiknya kamu beristirahat cukup."


Aku memasukkan obat salep ke kotak. "Baiklah, setelah ini aku akan tidur."


Adrian menyentuh pipiku sambil menatap bibirku terfokus. Senyumannya terus mengambang membuatku semakin gugup di hadapannya. Ia pasti masih membayangkan adegan ciuman pertama kita di hotel.


"Kamu kenapa, Adrian?"


Jempolnya masih meraba bibirku. "Tidak apa-apa."


"Tubuhku terasa pegal sekarang."


"Baiklah, kita sebaiknya beristirahat saja." Dengan sigap Adrian melepas sentuhannya.


Keesokan harinya, Fina masih berjaga di rumah sakit sepanjang malam hingga kepalanya tertidur di atas tangan Hans. Tiba-tiba Hans membuka kedua matanya perlahan melihat sosok Fina masih dalam keadaan tertidur sambil mengelus kepalanya. Gara-gara Hans melakukan aksinya, Fina terbangun menatap Hans yang sudah tersadar dengan tangisan haru.


"Kamu sudah sadar."


"Kamu tiba di sini sejak kapan?" tanya Hans masih lemas.


Fina berdecak kesal memukuli lengan Hans pelan. "Kamu ini bodoh sekali! Aku merawatmu sepanjang malam hingga aku ketiduran seperti ini!"


Hans menggarukkan kepala menunduk malu. "Benarkah? Maaf telah merepotkanmu sampai kamu tidak pulang ke rumahmu."


"Kenapa kamu nekat sekali lari menyeberangi jalan? Apakah kamu tidak takut mati? Bagaimana jika seandainya kamu beneran pergi meninggalkan kita semua?"


Hans melihat Fina menangis pecah langsung memeluknya dengan hangat. "Terima kasih telah mencemaskanku, Fina. Aku tidak menyangka karaktermu yang sangat arogan memiliki sisi baik."


Fina ingin memarahinya lagi karena ucapan sindirian itu, tapi di sisi lain ia tidak tega juga dan membiarkannya berlalu. "Sudahlah yang penting kamu sudah tersadar, aku sudah bersyukur."


"Tidak boleh! Kamu baru saja dioperasi!"


Aku masih sangat canggung dengan kejadian semalam sehingga aku berinisiatif berangkat ke kantor sendiri. Bahkan setibanya di kantor, aku terus melamun karena ciuman itu sampai membuat beberapa orang bingung melihatku bertingkah tidak biasanya.


Aku memasuki ruang rapat mengadakan rapat bersama Nathan dan Tania.


"Bagaimana dengan keadaan Hans sekarang?" tanyaku kepada mereka berdua.


"Aku dengar dari Fina, Hans sudah tersadar tadi," jawab Tania.


Aku tersenyum tipis. "Syukurlah, aku lega mendengarnya."


"Ini semua karena keparat itu jadi teman kita seperti ini!" ketus Nathan memukuli meja kasar.


"Apakah kalian menemukan jejak keberadaannya?"


"Aku sudah mengecek kamera CCTV di ruang pengendalian, dia tidak ditemukan di mana pun," ujar Tania.


"Sepertinya aku harus mengunjungi kantornya sekarang." Aku mengepalkan kedua tanganku dengan tatapan elang.


Tania menahan tanganku erat. "Jangan bilang kamu pergi ke sana sendirian, Penny!"


"Aku sudah tidak tahan lagi dengan perbuatannya!"


Nathan mengangkat tangan kanan. "Biar kami ikut denganmu, Penny."


"Ya sudah, kalian cepat naik mobilku sekarang!"


Aku, Nathan, dan Tania menerobos masuk gedung stasiun TV elit walaupun petugas keamanan terus menghadang jalan. Setelah tiba di lantai paling atas yaitu ruang kerjanya, kami terus berjalan bahkan mendorong sekretaris yang berjaga di depan ruangan itu lalu memasukinya dengan paksa. Namun usaha kami tidak membuahkan hasil.


"Sudah saya bilang tadi, CEO Josh sedang tidak masuk hari ini!" bentak sekretarisnya.


"Apakah Anda tahu dia tidak masuk karena alasan apa?" tanyaku dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Katanya dia sedang ada urusan pribadi jadi tidak masuk kerja hari ini."


"Alasan pribadi itu, maksudnya apa?" tanya Nathan berkacak pinggang.


"Saya juga tidak tahu. Yang pasti kalian semua cepat keluar dari sini! Kalian tidak boleh menerobos masuk tanpa ada surat penangkapan resmi!"


Sedangkan di rumah sangat megah itu, Josh terus bersembunyi di dalam ruang rahasia. Asisten pribadinya memasuki ruangannya untuk melaporkannya sesuatu.


"Para detektif itu menerobos masuk ke ruang kerja Tuan tadi," ujar asisten pribadi itu.


"Sekarang mereka beraninya menerobos masuk begitu saja! Tidak akan kuampuni mereka semua!" ketus Josh geram.


"Kita harus bagaimana sekarang?"


"Gunakan kelemahannya. Kamu sebaiknya mengurus kelemahannya itu dan seret dia ke sini!" pinta Josh dengan tatapan kejam.


"Baik, Tuan."


"Penny, rasakan nanti akibat perbuatanmu semalam itu!"


Aku, Nathan, dan Tania menjenguk Hans di rumah sakit. Saat aku memasuki kamarnya Hans, aku melihat mereka berdua sedang asik berbincang seperti sepasang kekasih saja.


Aku tertawa ledek. "Ada pasangan baru deh di sini."


"Tidak kok. Kita hanya teman saja!" bantah Hans gugup.


"Kalau teman tidak sedekat gini," ucap Nathan sedikit meledek mereka berdua.


Tania memukuli punggung Nathan. "Sudahlah Nathan, jangan ganggu mereka berdua!"


"Omong-omong, apakah kalian sudah menemukan Josh?" tanya Fina mengalihkan pembicaraannya.


"Belum. Aku tidak menemukan jejaknya di mana pun. Bahkan dia hari ini tidak datang bekerja," jawab Tania pasrah.


"Secara terpaksa, kita harus mencari tahu keberadaan barang-barang milik korban yang menghilang. Terutama kameranya Maria pasti ada bukti perbuatannya Josh disana. Dengan adanya itu, kita sudah bisa membuktikan kejahatannya dan menangkapnya," paparku dengan tatapan serius.


"Kira-kira dia sembunyikan semua itu di mana ya?" Hans mulai berpikir sambil bertopang dagu.


"Setelah berpengalaman dengan kasusnya Pak Colin, aku sangat yakin Josh menyembunyikan benda itu di suatu ruang rahasia."


Sepanjang hari, aku terus menemani Hans di rumah sakit hingga sore hari. Hari sudah mulai gelap, aku berpamitan untuk pulang.


Setibanya di kediaman Adrian, aku duduk di sofa empuk sambil memainkan ponselku.


drrt..drrt..


Tiba-tiba Adrian menghubungiku, dengan sigap aku mengangkat panggilan teleponnya.


"Kamu sudah pulang?"


"Aku sedang beristirahat di ruang tamu."


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama di restoran hari ini?"


Aku tersenyum manis. "Tumben kamu mengajakku makan malam."


"Hari ini aku tidak terlalu sibuk dan juga sudah lama kita tidak makan malam di luar. Lagi pula aku ingin merayakan malam natal bersamamu."


"Benar juga. Bahkan aku sampai tidak menyadarinya hari ini malam natal."


"Ini pertama kalinya kita merayakan natal bersama sebagai sepasang kekasih. Aku akan mengajakmu makan di restoran berbintang lima spesial untukmu."


"Tapi aku belum siap sama sekali. Bahkan aku belum menyiapkan kado natal untukmu."


"Menurutku kamu berpenampilan seperti biasa saja sudah cantik. Kamu tidak perlu repot menyediakan kado natal untukku karena cukup melihatmu saja sudah membuatku sangat bahagia. Kado natal terbaik bagiku adalah kamu, Penny."


Senyumanku semakin tidak karuan karena gombalan manisnya. "Bisakah kamu berhenti menggombalku?"


"Aku sudah mau tiba di sana. Aku tutup teleponnya dulu, ya."


Adrian memarkirkan mobilnya di basement dan bergegas keluar dari mobilnya. Saat ia sedang menekan alarm mobilnya untuk mengunci mobil, tiba-tiba ada seseorang yang menyuntiknya dari belakang.


Jkkk...

__ADS_1


Suntikan itu membuat Adrian sangat lemas hingga terjatuh pingsan.


__ADS_2