Good Partner

Good Partner
Part 56 - Perkelahian dengan Pelaku


__ADS_3

Di saat Tania sedang mampir ke minimarket terdekat, aku sibuk menceramahi Nathan yang membuat keributan di kantor pagi hari. Aku sudah muak melihat anggota timku selalu saja membuat keributan di pagi hari tanpa melewatkan satu hari pun. Nanti kalau sampai mereka kelewatan, aku yang kena omelan.


Aku menggebrak mejanya dengan kasar hingga membuatnya ketakutan. "Hei, Nathan! Bisakah kamu jangan membuat keributan setiap pagi!"


"Aku tidak bermaksud membuat keributan, tapi Tania yang merengek terus dari di rumah sampai sekarang. Aku tidak tahan mendengarnya."


"Tapi kamu sebagai suaminya bisa membiarkannya membeli camilan untuk dirinya sendiri! Kamu bahkan tidak tahu dengan kondisi istrimu sendiri! Dia itu suka mengemil, jadinya tanpa mengemil, dia bisa seperti orang mati!"


"Tapi ini tidak seperti biasanya. Bahkan beberapa minggu lalu walaupun dia sedang lapar, dia tidak merengek seperti ini."


Memang benar sih. Sikap Tania hari ini kekanak-kanakan. Sikapnya selalu ngidam camilan, apa mungkin Tania sungguh hamil?


"Apa mungkin dia sedang mengidam?" Aku mulai berspekulasi aneh bertopang dagu.


Nathan memutar bola mata. "Mana mungkin. Kalau dia seperti itu sudah pasti memberitahuku dari awal."


"Biasanya kalau orang sedang mengidam pasti hamil, Nathan! Kamu yang tidak peka saja!"


Akhirnya Nathan mulai merasa bersalah, merenungkan kesalahannya sampai firasatnya tidak enak. Takut istrinya menaruh dendam padanya. "Apa benar dia sedang ngidam?"


drrt...drrt...


Ponselku berbunyi tiba-tiba. Dengan sigap mengambil ponsel dalam saku jaketku, lalu mengangkat panggilan telepon dari Tania.


"Halo Tania, kenapa kamu meneleponku tiba-tiba? Kamu ingin aku menemanimu berbelanja?"


"Tolong aku, Penny! Ada seseorang yang mengikutiku dari belakang!" Suara teriakan Tania terdengar sangat keras membuat telingaku sakit.


Bola mataku terbelalak. "Apa yang terjadi? Kenapa bisa ada seseorang yang mengikutimu tiba-tiba?"


"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja orang itu semakin mendekatiku, aku sangat takut, Penny."


"Kamu sedang ada di mana? Aku akan menolongmu sekarang juga!"


"Aku juga tidak tahu ini posisinya di mana. Aku akan share location dulu kepadamu. Cepat datang, Penny!"


"Jangan berbuat apa-apa dulu! Aku akan ke sana sekarang juga!" Aku langsung menutup panggilan teleponnya.


Nathan juga ikut panik sampai wajahnya mulai pucat. "Apa yang terjadi dengan Tania?"


"Tania dikejar seseorang. Kita harus menolongnya sekarang juga!"


"Apa? Ini tidak bisa dibiarkan! Ayo naik mobilku, Penny!" ajak Nathan terburu-buru mengambil kunci mobilnya berlari keluar dari kantor, diikuti aku dari belakang.


Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh sambil menggigit jari mengikuti navigasi posisi Tania berada. Navigasi itu menunjukkan bahwa Tania sedang berada di suatu gang yang sangat sempit di mana tidak bisa dilalui mobil. Secara terpaksa, aku dan Nathan menuruni mobil, lalu berlari menghampiri posisi Tania saat ini.


"Ayo cepat ke arah sini!" ajakku sambil berlari menuju suatu gang yang lebih sempit lagi.


Netra Nathan mulai memerah. "Tania, kumohon bertahanlah."


"Ke arah kiri, Nathan!" Aku berlari bersama Nathan belok kiri ke gang itu dan menemukan Tania yang sedang berlari juga.


"Tania!!" pekikku sambil berlari menghampirinya.


"Penny! Tolong aku!" teriaknya menjerit menolehkan kepala menghadapku.


Nathan sudah tidak tahan lagi melihat istrinya sendiri dikejar seperti itu. Ia melompati sebuah batu besar dan memberikan tendangan kuat mendarat pada kepala pelaku itu hingga terjatuh ke tanah.


BRUKK


Pelaku itu tidak berdaya. Dengan sigap Nathan berlari menghampiri Tania kemudian memeluknya ketakutan. "Tania, kamu tidak apa-apa? Apakah kamu terluka?"

__ADS_1


Tania menangis pecah mempererat pelukan. "Aku tidak terluka sama sekali, hanya saja aku sangat takut sekarang."


Nathan membalasnya mengelus punggungnya pelan. "Tenang saja, sekarang kamu aman. Aku akan melindungimu."


Pelaku itu sadar, dengan lincah membangkitkan tubuhnya lalu berlari secepat kilat. Aku juga berlari sekuat tenaga mengikutinya.


"BERHENTI!!" teriakku.


Pelaku itu melompati sebuah pagar batu yang cukup tinggi. Aku melihat ada sebuah tumpukan kardus tergeletak di sana, lalu melompati kardus itu melewati pagar batu. Pelaku itu menolehkan kepalanya menatapku ke belakang sambil berlari. Ia semakin panik melihatku terus berlari mengejarnya hingga akhirnya diakhiri jalan buntu di depan mata.


Sejenak aku mengambil napas sambil memegangi perutku sangat sakit akibat berlari tanpa henti.


"SEBAIKNYA MENYERAH DAN SERAHKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!"


Pelaku itu tidak menjawabku dan melempar tumpukan kayu di sekitarnya mengenai tubuhku.


PRAKKK


"ADUH!!" Pelaku itu melempar kayunya dengan keras membuat lengan tanganku sakit.


Pelaku itu menghampiriku dan menonjokku dengan keras hingga tubuhku terhempas ke tanah.


PLAKKK


"AAHH!!"


Aku membangkitkan tubuhku secara perlahan dan menendangnya dengan sekuat tenagaku hingga pelaku itu terhempas ke tembok.


BRUGHHH


"RASAKAN AKIBAT INGIN MELUKAI TEMAN SAYA!!" teriakku mengepalkan kedua tanganku menonjoknya lagi.


BRUGHH


BRUKKK


"AARGHH!" Kakiku terasa sakit sekali. Rasanya aku tidak kuat untuk berdiri.


Aku mengambil sebuah balok kayu yang ada di dekatku, lalu memukulnya sekuat tenaga.


PRAKK


Pelaku itu tidak menyerahnya juga dan menampar wajahku dengan kasar hingga pipiku berdarah.


PLAKKK


"MATI SEKARANG JUGA!!" pekik pelaku itu menonjokku lagi hingga aku sudah tidak berdaya.


Aku dengan lemas meraih tanganku berusaha melepaskan masker pembunuh. Tapi tanganku sudah tidak ada tenaga lagi, lalu terjatuh lemas. Meski di mata semua orang aku adalah detektif lemah, tapi tidak semua wanita yang pandai beladiri mampu bertarung melawan pembunuh asli dengan tangannya sendiri.


"PENNY, BERTAHANLAH!!" Aku mendengar suara teriakan Adrian dari kejauhan, spontan aku langsung menoleh ke arahnya.


Pelaku itu langsung membuang balok kayu yang rencananya ingin menimpukku. Pembunuh itu berlari lincah memanjat pagar batu.


Sedangkan mereka bertiga berlari menghampiriku dengan panik. Terutama aku bisa melihat wajah Adrian sangat pucat.


Tania menangis terisam. "Penny, maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi terluka."


Adrian menggendongku. "Penny, bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga!"


Aku menggeleng menampakkan senyuman tipis. "Aku tidak apa-apa, Adrian. Ini hanya luka kecil. Kamu tidak usah mencemaskan aku berlebihan."

__ADS_1


"Kamu masih bilang baik-baik saja di saat kamu hampir mati di depan mataku! Pokoknya aku akan membawamu ke rumah sakit dengan paksa!" bentaknya keras kepala sambil menggendongku menuju mobilnya.


Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Setibanya di rumah sakit, ia menggendongku lagi menuju ruang UGD dan membaringkan tubuhku di sebuah ranjang pasien.


Seorang dokter wanita bertugas menghampiri kami. "Apa yang terjadi?"


"Tolong obati lukanya di seluruh tubuhnya!" pintanya dengan tegas.


Aku menunduk malu mengerucutkan bibir. "Aku baik-baik saja, jangan berlebihan seperti ini."


"Pokoknya kamu harus diberi pengobatan dulu. Aku tidak tahan melihatmu terluka seperti ini!"


Setelah aku diberi pengobatan rasanya aku ingin memaksakan diriku berdiri tapi dicegah Adrian terus. Selain aku, Tania juga diberi pengobatan, posisinya sedang terbaring di ranjang sebelahku.


"Adrian, kumohon biarkan aku kembali ke kantorku sekarang," bujukku dengan manja.


"Apa kamu kehilangan akal sehatmu, Penny? Kenapa kamu mengejar pelakunya sendiri seperti itu?" bentaknya menaikkan nada bicara sampai mengejutkan beberapa perawat.


Mendengar perkataannya agak kasar, aku mulai kesal dengannya. "Aku ingin menangkapnya dengan tanganku sendiri dan memasukkannya ke penjara akibat ingin melukai Tania serta para korban lainnya juga!"


"Tapi apa kamu masih ingat kematian yang dialami Emma dan Maria? Mereka berdua itu dicekik sampai mereka tewas! Apa kamu tidak bisa berpikir lebih panjang lagi?!"


"Aku tidak peduli sama sekali. Yang terpenting aku menangkap pelakunya begitu saja dan kasus ini akan terselesaikan dengan cepat!"


"Lalu, bagaimana denganku? Apakah kamu tidak memikirkanku sama sekali?" Air matanya mulai mengalir dari kelopak mata.


Mengamatinya seperti ini membuatku merasa bersalah padanya sekarang. Aku menyentuh tangannya tersenyum tipis padanya. Memang aku salah karena aku bersikap egois demi kasus cepat terselesaikan, tanpa kusadari, aku menyakiti perasaannya juga.


"Adrian ...."


"Yang pasti ini semua salahku. Kalau saja aku tidak memaksakan diriku pergi ke minimarket, kejadian ini tidak akan terjadi begitu saja," sergah Tania merutukki dirinya sendiri memukuli ranjang.


"Ini bukan salahmu, Tania. Jangan menyalahkan dirimu. Seharusnya aku menemanimu tadi jadinya tidak akan terjadi seperti ini," desis Nathan mendesah lesu menggenggam tangan Tania.


Aku memandangi mereka lesu. "Kalian tidak salah. Aku saja yang tidak berpikir lebih panjang dan nekat mengejar pelakunya begitu saja."


"Maka dari itu, kumohon jangan berbuat seperti ini lagi! Aku tidak ingin melihat kekasihku diperlakukan kasar sampai wajahnya terluka!" bujuknya dengan wajah memelas sambil menyentuh pipiku.


"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang detektif saja! Seorang detektif harus mempertaruhkan nyawanya demi menangkap pelaku kejahatan!"


"Kalau kamu jadi aku melihatmu dengan kondisi seperti ini, apakah hatimu tidak terasa sakit?"


Adrian melontarkan perkataannya seperti itu lagi membuatku semakin bersalah padanya karena secara tidak langsung aku seperti mencabik-cabik hatinya.


Aku menghela napas lesu. "Itu ... sebenarnya aku juga merasa sakit."


"Sekarang perasaanku seperti itu. Kamu membuatku sakit hati sekarang!" ketus Adrian sambil memegang dadanya.


Aku menundukkan kepala sambil memainkan kuku jari. "Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, Adrian. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi."


"Kamu berjanji?"


"Tenang saja, aku tidak akan berbuat nekat seperti itu lagi. Aku akan selalu menurutimu supaya hatimu tidak sakit gara-gara tindakan gegabahku." Senyuman hangatku terukir pada wajahku, aku memeluknya penuh kasih sayang.


Akhirnya Adrian kembali tersenyum lagi, mengusap kepalaku lambat laun. "Terima kasih, Penny. Pokoknya aku akan selalu melindungimu supaya aku tidak kehilanganmu tepat di depan mataku."


Aku menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga sambil menyentuh pipiku bekas ditonjok. "Adrian, apakah luka di wajahku terlihat cukup parah?"


Adrian mengerucutkan bibir. "Bagiku lukanya parah membuatku gelisah melihatnya."


"Benarkah? Semoga saja luka itu cepat sembuh supaya wajahku kembali bersinar di hadapanmu."

__ADS_1


Tiba-tiba Adrian mendaratkan kecupan manisnya pada pipiku selama beberapa detik. "Semoga dengan vitaminku barusan, wajahmu bisa bersinar kembali sekarang. Karena aku memberikan vitamin istimewa untukmu."


Aku juga mencium pipinya. "Sekarang aku tidak merasa kesakitan berkat vitamin darimu."


__ADS_2