Good Partner

Good Partner
S2 : Part 21 - Penghilang Stress


__ADS_3

Di sebuah klinik yang terletak di tengah perkotaan, seorang pemuda berpakaian formal sedang mengikuti tes terapi pikirannya secara rutin. Pemuda tersebut adalah pengacara Leonard yang semalam tiba-tiba kepalanya terasa sakit ketika sedang ingin minum minuman champagne hingga tidak sadarkan diri. Biasanya ketika pengacara Leonard memiliki waktu luang, ia berkunjung ke sini untuk menenangkan pikirannya yang tercampur aduk akibat pekerjaan yang dialaminya setiap hari terasa berat.


Usai melakukan terapi pikirannya, pengacara Leonard membuka kedua matanya secara perlahan sambil terus memegang kepalanya. Ia menyandarkan tubuhnya lemas pada sandaran kursi khusus berbusa tebal menghela napasnya lesuh.


"Jadinya apakah kamu bisa menghilangkan penyakitku ini?" tanya pengacara Leonard kepada psikiater wanita yang menanganinya.


"Karena kamu sudah mengalami penyakit ini sejak lama, sepertinya sangat mustahil untuk menghilangkannya. Kalau penyakit itu sungguh hilang begitu saja, mungkin kamu mengalami suatu keajaiban yang langka," jawab psikiater wanita tersebut.


"Apa tidak ada cara lain untuk menghilangkannya? Aku tidak bisa hidup seperti ini terus."


"Dari semua pasien yang aku tangani, untuk penyakit langka begini sepertinya sangat sulit untuk dipulihkan sepenuhnya."


"Pasti kamu bisa! Aku yakin kamu pasti tahu caranya untuk menghilangkan penyakitku!"


"Maafkan aku. Tapi aku akan usahakan untuk menghilangkan penyakitmu. Kamu hanya harus tetap jaga kesehatanmu. Kamu tidak boleh bekerja terlalu berlebihan hingga nanti kepalamu terasa mau pecah sampai tidak sadarkan diri lagi," saran psikiater wanita baik.


Pengacara Leonard menghembuskan napasnya kasar melonggarkan ikatan dasi pada lehernya sambil beranjak dari sofanya.


"Baiklah aku mengerti. Pokoknya aku akan menunggumu. Yang pasti kesimpulannya sekarang aku harus terus minum resep obat yang kamu berikan padaku seumur hidupku."


Pengacara Leonard melangkah keluar dari kliniknya lalu memasuki mobil SUV. Baru saja ia menekan tombol starter mobilnya belum menginjak pedal gasnya, kepalanya mulai terasa mau pecah lagi sampai menggelengkan kepalanya terus. Ia terus meruntukki dirinya sendiri memukuli setiran mobilnya kasar sampai puas.


Sementara Adrian yang sibuk berbincang dengan Yohanes dari tadi mengenai masalah pelaku kejahatan yang sebenarnya. Yohanes semakin geram hingga menggarukkan kepalanya kasar. Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Adrian meletakkan berkas kasusnya di atas meja kerjanya dan membukakan pintu ruangannya. Ia sedikit tersentak kaget menatap Carlos yang mendatanginya saat ini.


"Carlos, sedang apa kamu kemari?" tanya Adrian berpura-pura polos.


"Itu kepala jaksa Henry memanggilmu ke ruangannya sekarang," jawab Carlos datar.


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang. Kamu bisa kembali bekerja sekarang."


Adrian menutup pintu ruangannya dengan rapat lalu kembali menghampiri Yohanes. Apalagi wajah Yohanes seperti habis melihat hantu.


"Aduh kenapa dia bisa muncul tiba-tiba di saat begini!" keluh Yohanes mengelus dadanya yang hampir terkena serangan jantung.


"Untung saja kamu tidak bertingkah aneh sewaktu tadi dia berkunjung ke sini."


"Ish dia tahu saja kalau kita sedang membicarakannya dari tadi!" sungut Yohanes bergidik ngeri.


"Kalau seandainya Carlos tidak mengetuk pintunya tadi, gimana nasib kita sekarang. Apalagi mulutmu itu tidak bisa dijaga, Yohanes!"


"Iya, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi. Sebaiknya kamu cepat ke ruangan kepala jaksa kejam itu sekarang. Aku sih mendingan pura-pura tidak mendengar ocehannya kepala jaksa Henry."


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi ke sana dulu! Jaga ruanganku jangan membiarkan siapa pun memasukinya!" titah Adrian tegas melangkah keluar dari ruangannya.


Sementara Yohanes kini berperan sebagai petugas keamanan ruang kerja Adrian. Ia mengambil salah satu foto yang dipajang di meja mengamatinya terfokus.


"Aku kasihan padanya. Gara-gara kasus aneh ini dia tidak bisa berkumpul bersama keluarganya. Apalagi sekarang nyawanya dan istrinya sedang dalam bahaya. Seandainya saja aku bisa membantunya banyak, mungkin kasus ini akan cepat terselesaikan," ucapnya pada dirinya sendiri.


Adrian mengetuk pintu ruang kerja kepala jaksa Henry lalu memasukinya dengan kepalanya yang terangkat. Ia berlagak seperti sosok jaksa yang kompeten lalu menduduki sebuah sofa kosong yang memuat dua orang.


"Ada apa kamu memanggilku lagi, Kepala jaksa Henry?" tanya Adrian berbasa basi.


"Aku mendengar ada kejadian pembunuhan lagi semalam. Sepertinya pelakunya tidak akan tinggal diam saja. Sedangkan kamu tidak ada perkembangan sama sekali dalam proses penyelidikannya. Apakah kamu mau melihat lebih banyak korban lagi kalau kamu terus bertindak lambat?"


"Bukan tidak ada perkembangan. Tapi di kantor ini ada kaki tangan pelaku. Selama ini pembunuhan yang terjadi secara terus-menerus dan juga penyerangan terhadap jaksa Yohanes bukan merupakan suatu kebetulan. Pelakunya mengetahui persis pergerakan kita selama ini," jelas Adrian panjang lebar.


"Kamu paling bisa hanya berkata omong kosong! Sebaiknya kamu tidak usah berpikir aneh-aneh dan fokus saja pada pekerjaanmu!"


"Tapi aku sangat yakin pasti ada seseorang di kantor ini yang melaporkannya langsung kepada pelaku sesungguhnya. Buktinya saja pelakunya mengetahui alamat tempat tinggalnya jaksa Yohanes. Bukankah ini terdengar sangat aneh pelakunya mengetahui informasi itu?" Senyuman cerdas dan sorot matanya penuh percaya diri pada wajahnya Adrian.


Kepala jaksa Henry mengernyitkan alisnya melipat kedua tangannya.


"Memangnya kamu tahu persis siapa kaki tangan pelakunya sampai percaya diri begitu? Sepertinya aku masih meragukanmu."


"Untuk saat ini aku tidak bisa memberitahumu persis kepadamu karena belum memiliki bukti yang akurat. Tapi yang pasti suatu hari nanti, aku pasti akan menangkap kaki tangan pelakunya dan membawanya ke hadapanmu!" tegas Adrian.


"Pokoknya kamu harus selalu ingat ucapanmu barusan! Kalau kamu gagal menangkap pelakunya, maka aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah."


"Kita lihat saja nanti apakah aku berhasil menangkap pelakunya!"


Adrian beranjak dari sofanya membalikkan tubuhnya menghadap pintu keluar.


"Kalau penyelidikanmu terus tidak berkembang, maka aku akan meminta komisaris kepolisian untuk membubarkan tim unit 1 divisi kekerasan kejahatan!" ancam kepala jaksa Henry menatap licik.


Adrian tersentak menghentikan langkah kakinya ketika mendengar ucapan yang dilontarkan kepala jaksa Henry. Perasaannya kini ingin menghantamnya bertubi-tubi. Adrian menoleh ke belakang menatap menyeringai.


"Tidak akan aku biarkan kamu menghancurkan tim yang sudah terlihat sempurna itu! Kalau sampai aku mendengar bahwa tim itu dibubarkan secara tiba-tiba, aku ingin membentakmu saat itu juga tanpa segan!"


"Aku berkata seperti itu supaya kamu lebih bersemangat lagi menangkap pelakunya!"

__ADS_1


"Bersemangat? Tidak usah bicara munafik gitu deh! Aku paling benci mendengar perkataan orang munafik!" hardik Adrian mendengkus kesal.


"Aku bukan munafik. Tapi dengan menggunakan kekuasaan yang aku miliki saat ini, aku berhak untuk mengaturmu!"


"Terus terang aku lebih suka gaya bicara kepala jaksa yang lama dibandingkan dirimu! Kamu hanya lebih mementingkan kekuasaan dan harga dirimu yang lebih mahal dari emas! Kami sengaja mempertahankan posisimu supaya bisa menjabat sebagai jaksa agung!"


"Beraninya kamu berbicara begitu padaku, Jaksa Adrian!"


"Aku bicara begitu supaya kamu membungkam mulutmu yang tidak ada saringannya. Sudahlah aku lelah berdebat dengan orang munafik sepertimu. Lebih baik aku kembali bekerja saja!"


Adrian menghentakkan kakinya kesal melangkah keluar dari ruangan yang dipenuhi kesuraman membuatnya terasa tidak nyaman.


Malam hari sudah tiba, aku dan Adrian melanjutkan penyelidikan kasusnya di ruang kerja kediaman kami. Insiden menyeramkan yang aku alami saat ini sebenarnya aku ingin melaporkan kepadanya barangkali mungkin ia tahu dengan pelakunya. Apalagi kemungkinan pelakunya bekerja di kantornya. Tapi di sisi lain juga aku tidak ingin ia terus mencemaskanku. Aku menghela napasku lesuh sambil memainkan kuku jariku membuat Adrian menyadari aku sedang berkeluh kesah.


Adrian menaruh berkas laporannya di atas mejanya lalu mendekapku hangat.


"Sayang, ada apa denganmu? Apakah telah terjadi sesuatu yang buruk padamu? Kamu dimarahi Inspektur Danny?" tanyanya dengan tatapan penuh khawatir.


"Tidak apa-apa," jawabku tersenyum paksa.


"Sebenarnya sejak tadi aku menjemputmu dan makan malam kamu terlihat lesuh terus. Kalau telah terjadi sesuatu yang buruk padamu, kamu harus melaporkannya padaku."


"Aku lesuh karena gara-gara kasus pembunuhan yang terjadi selama tiga kali berturut-turut membuat kepalaku terasa semakin sakit."


Adrian secara spontan memijit pelipisku dengan kedua tangannya perlahan.


"Kalau sekarang bagaimana?"


"Sekarang sudah jauh lebih baik sih. Terima kasih, Sayang."


"Sebaiknya kamu beristirahat dulu saja. Aku cemas kamu bekerja kelelahan sampai jatuh sakit."


"Tidak masalah. Lagi pula berkat kamu barusan kepalaku jadi tidak pusing lagi."


Sekarang giliran Adrian yang memasang mimik wajah serius dicampur sedikit lesuh.


"Sebenarnya aku ingin memberitahu sesuatu yang penting padamu."


"Sesuatu apa?" tanyaku mulai penasaran.


"Aku dan Yohanes mencurigai ada kaki tangannya pelaku yang kerja di kantor kejaksaan."


"Selama ini aku pantau tidak ada satu karyawan pun yang memiliki kriteria persis seperti pelaku. Aku hanya mencurigainya sebagai kaki tangan pelaku karena salah satu investigator yang baru bekerja denganku beberapa bulan bisa juga dia adalah pelakunya. Apalagi kemarin dia menargetkan Yohanes sebagai sasaran ancaman pembunuhannya."


"Jadinya kamu akan gimana? Kamu tidak mungkin terang-terangan menuduhnya sebagai kaki tangan pelaku tanpa adanya bukti."


"Hmm sebenarnya aku belum berpikir jauh sih gimana cara membuktikannya sebagai kaki tangan pelaku."


"Ish aku kira kamu akan menangkapnya secepatnya!"


"Aku juga sebenarnya ingin menangkapnya dan menyuruhnya untuk memberitahu siapa pelakunya langsung. Tapi itu tidak semudah yang kita pikirkan. Apalagi tadi aku mendapat ancaman lagi dari kepala jaksa."


Sontak Adrian baru menyadari dirinya keceplosan berbicara mengenai masalah yang ingin dirahasiakannya dariku. Ia bergegas memalingkan matanya dariku dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lagi-lagi ada yang tidak beres dengannya. Aku sudah cukup muak melihat suamiku diperlakukan buruk terus.


"Ancaman apa? Kamu dimarahi oleh atasanmu lagi? Apa mungkin kepala jaksa meremehkan kita berdua lagi?" tanyaku penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu. Ancaman itu tidak penting bagimu," jawabnya memalingkan matanya dariku.


"Cepat katakan padaku, Adrian! Memangnya kepala jaksa mengancammu apa? Apakah mungkin kamu akan diskors selama beberapa hari?" Aku memegang pundaknya lebar dengan kedua tanganku.


"Sebenarnya sih tadi aku diancam kalau seandainya gagal menangkap pelakunya lagi, timmu yang selama ini bertahan selama bertahun-tahun akan dibubarkan olehnya."


Darahku hampir mendidih. Tanganku terkepal kuat sekarang, batas kesabaranku sudah habis.


"Teganya dia berkata begitu! Lihat saja nanti! Aku akan buktikan bahwa timku ini sebenarnya merupakan tim terbaik di antara semua divisi di kantorku!" gerutuku mengerucutkan bibirku rasanya aku ingin merobek lidah tajam kepala jaksa itu.


"Iya benar. Walaupun Hans dan Nathan sangat menyebalkan membuatmu selalu sakit kepala setiap pagi tapi mereka berdua sangat menghiburmu di saat kamu sedang stress apalagi aku tidak berada pada sisimu. Kalian berlima sudah sangat akrab sampai menganggap sebagai keluarga. Aku juga menganggap kalian berlima sebagai keluargaku juga walaupun aku tidak bekerja dalam timmu."


"Ish padahal kamu selama ini suka berdebat dengan Hans dan Nathan! Kamu sama saja seperti mereka membuat kepalaku terasa sakit!" sungutku mengerucutkan bibirku.


"Hehe maafkan aku, Penny. Itu karena mereka duluan yang mengomporiku sampai aku tidak tahan dengan tingkah laku mereka."


"Aku kalau jadi dirimu juga sama sih."


"Penny, pikiranku kini rasanya tidak ingin memikirkan kasus dulu. Karena besok hari libur jadinya aku ingin sedikit bersantai denganmu malam ini."


"Aku juga sudah lelah mikir kasus sampai kepalaku rasanya mau pecah. Kalau begitu kita melakukan kegiatan yang menyenangkan saja!" sorakku tersenyum girang.


"Bagaimana kalau kita menonton bersama? Terserah sih kamu mau nonton film apa."

__ADS_1


Aku secara spontan menggandeng tangannya menuju ruang tamu menduduki sofanya sambil menyandarkan kepalaku pada pundaknya. Aku mengambil remote TV menekan tombolnya sambil mencarikan sebuah film yang bagus untuk kami berdua. Di saat aku sedang melakukan pencarian, sebagian besar channel TV tentang kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini. Sebenarnya aku sudah sangat muak dengan kasus yang sedang aku selidiki saat ini. Aku mau menonton film saja isi channelnya semua adalah berita terkini mengenai kasus pembunuhannya.


"Lagi-lagi tentang kasus pembunuhan. Kenapa sih tidak ada satu pun film yang ditayangkan malam ini!" gerutu Adrian mengernyitkan alisnya.


"Mungkin ini menandakan bahwa kita tidak boleh bersantai dulu. Kita harus menuntaskan kasus pembunuhan ini baru bisa hidup dengan santai seperti orang normal lagi," desahku lesuh.


"Padahal aku kan mau nonton film bersamamu! Mau film apa pun kecuali film horror juga boleh deh."


"Kenapa kamu tidak mau menonton film horror? Kamu takut, ya?" Aku menyunggingkan senyuman nakal padanya.


"Tidak! Untuk apa aku takut nonton film gituan! Padahal itu kan salah satu genre favoritku!"


"Lalu kenapa kamu menghindarnya sekarang? Apa mungkin mentalmu sudah tidak kuat?"


"Bukan begitu. Aku takut nanti kamu bisa ketakutan sepanjang malam akibat nonton film gituan! Kalau kamu tidak bisa tidur nanti aku yang repot."


"Ish padahal menghadapi pembunuh sesungguhnya jauh lebih menyeramkan dibandingkan menonton film horror!"


Adrian melakukan pencarian filmnya lagi lalu pada akhirnya tanpa sengaja ia menemukan sebuah film juga tapi film romantis. Baru saja dipilih channel TV langsung muncul adegan ciuman terang-terangan membuatku gugup sekarang. Ia menolehkan kepalanya menghadapku lalu mendekatkan wajahnya menuju wajahku. Kini jantungku mulai tidak stabil akibat ia sepertinya ingin meniru adegan yang ada di film itu. Mataku kini terpejam hanya bisa merasakan sentuhan tangannya pada pelipisku.


"Kenapa kamu menutup matamu?" tanyanya tiba-tiba.


Kini aku sangat malu dan gugup di hadapannya. Mau buka mata tapi sebenarnya aku juga tidak ingin berhadapan dengannya langsung. Secara terpaksa aku membuka mataku namun memalingkan mata darinya.


"Aku mengira kamu ...."


"Aku kenapa? Kamu pasti berpikir bahwa aku--"


"Ssstt! Aku mau menonton filmnya jadi tidak bisa!"


Adrian mencium bibirku sekilas membuat mataku membulat secara sempurna. Aku mulai tersenyum sendiri sambil menyentuh bibirku usai dicium olehnya.


"Kamu nakal sekali," ucapku sedikit gelagapan akibat debaran jantungku tidak karuan.


"Untuk mengurangi stress," balasnya berlagak polos.


"Benar juga sih. Pikiran stress itu langsung tersapu bersih berkat suami kesayanganku." Aku tersenyum manis padanya lalu mengecup pipinya sekilas.


"Nah maka dari itu kamu jangan protes padaku kalau kau sangat menyukai vitamin penghilang stress dariku barusan.


"Sepertinya vitamin kita berdua itu paket lengkap, ya."


"Aku sebagai suami kesayanganmu harus memiliki vitamin istimewa untukmu. Selain vitamin penyemangat dan vitamin penghilang stress, ada dua vitamin lainnya yang pasti kamu ketahui secara tidak langsung."


"Hmm sudah pasti vitamin satunya lagi adalah vitamin pembawa mimpi indah," lontarku tersenyum cerdas.


"Lalu vitamin cinta untukmu, Sayang." Adrian mengedipkan mata kirinya padaku.


"Sudah kuduga kamu ingin berkata seperti itu padaku," balasku tersipu malu.


Secara spontan ia mendekapku hangat sambil membelai rambutku perlahan.


"Menonton film romantis bersamamu di saat pikiran kita sedang kacau rasanya sangat menyenangkan."


"Kalau begitu aku akan menjadikan pundakmu sebagai bantalku supaya kepalaku tidak terasa berat," ucapku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja.


"Hanya pundakku yang mampu mengurangi beban pikiranmu. Pundakku yang lebar ini hanya boleh disandar oleh wanitaku sepanjang hidupku."


Sedangkan di sisi lain, seorang pria misterius tampak dari belakang sedang mengamati foto yang ia dapatkan dari pemantauannya hari ini.


drrt...drrt...


Getaran ponselnya membuat dirinya berhenti sejenak mengamati fotonya lalu dengan sigap mengangkat panggilan teleponnya dari seseorang.


"Ada apa kamu meneleponku lagi? Aku juga memiliki kesibukanku!"


"Jaksa Adrian sepertinya tidak akan menyerah melakukan pencarian terhadapmu. Sebaiknya kamu jangan melakukan tindakan aneh lagi!"


"Aku juga tidak akan melakukan aksi aneh lagi. Kamu lihat saja tidak ada seseorang yang ingin aku bunuh lagi. Aku juga sudah membunuh semua saksi mata dalam kasus pembakaran gedung itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."


"Yang pasti seluruh jejak pembunuhan yang telah kalau lakukan selama ini jangan sampai terlewatkan satu pun."


"Iya kamu tidak usah sok memerintahku deh! Padahal aku adalah atasanmu tapi kamu bertindak seolah-olah kamu yang memimpin insiden pembunuhan ini."


"Pokoknya kamu harus selalu ingat siapa yang menolongmu selama ini. Kamu jangan pernah melupakan jasa yang telah kuberikan padamu!"


"Dasar banyak maunya! Sebaiknya kamu diam saja sebelum aku merobek kulitmu sampai tidak bersisa!"


Pria misterius tersebut mematikan teleponnya dengan penuh kesal lalu membantingnya di atas meja. Emosinya saat ini tidak bisa dikendalikan seolah-olah ingin melampiaskan amarahnya pada semua anggota tim detektif yang berusaha mengincarnya selama ini.

__ADS_1


"Kalau sampai mereka berbuat melebihi batas, pokoknya aku akan menghabisi mereka semua tanpa ragu. Gara-gara mereka, aku harus menyusun rencana yang lebih rumit lagi supaya mereka tidak akan pernah bisa menemukan keberadaanku! Karena biar gimanapun mereka melakukan segala cara untuk mendapatkan informasi tentang diriku, aku jamin tidak akan ada informasi mengenai data diriku! Identitasku tidak pernah terdaftar di mana pun!" gerutunya sambil menggebrak mejanya.


__ADS_2