
Suaraku mulai berserak dan kehabisan energi berteriak meminta tolong. Perlahan mataku terpejam dan akhirnya terjatuh pingsan karena kehabisan napas.
Beberapa menit kemudian, aku terbangun mendengar banyak orang datang ke sini menolong kami semua. Petugas pemadam kebakaran mendobrak pintu paksa hingga rusak lalu menolong kami keluar dari sini. Beberapa petugas pemadam kebakaran mengangkat rak yang menimpa tubuh Adrian, lalu mengangkat tubuhnya keluar dari sini.
Punggung belakangnya memiliki luka bakar cukup parah hingga air mataku berlinang. Aku berusaha mengulurkan tangan kananku ingin meraihnya, tapi tidak bisa. Aku juga dibawa keluar dari tempat ini dan diberi ventilator sambil memasuki ambulance yang akan mengantarkan aku menuju rumah sakit terdekat oleh tim paramedis.
Setelah dibawa ke rumah sakit, akhirnya tubuhku mulai bertenaga. Aku melihat ranjang pasien di sebelah kiriku yaitu Pak Colin, untungnya ia masih dalam keadaan stabil dan baik-baik saja sehingga aku bisa membawanya kembali ke kota asal.
Sedangkan di sebelah kananku, aku melihat Adrian dalam kondisi sangat kritis hingga para dokter menggunakan alat Defibrilator untuk membangkitkannya dari koma.
Aku beranjak dari ranjang perlahan melangkah menuju ranjangnya. Aku ingin meraih tangannya mengucapkan terima kasih kepadanya, tapi aku hanya bisa menangis pasrah memandanginya terbaring dalam kondisi koma karena menyelamatkan aku.
Tak lama kemudian, tanda vitalnya sudah kembali normal sehingga aku sedikit tersenyum lega. Para dokter langsung membawa Adrian menuju ruang operasi. Aku juga mengikuti para dokter sambil menggenggam tangan Adrian menuju ruang operasi. Setibanya di depan ruang operasi, aku melepas genggaman tanganku lalu menduduki sebuah bangku kosong.
Sambil menunggu operasi selesai, aku mengunjungi kamar Pak Colin dan memborgolnya terlebih dahulu supaya ia tidak bisa kabur ke mana pun.
Saat aku sedang memborgolnya, Pak Colin terbangun menatapku dengan tatapan pasrah. "Di saat begini Anda masih bisa memborgol saya."
"Saya takut Anda masih bisa kabur dengan kesempatan emas seperti ini."
"Apakah operasi Adrian berjalan lancar?"
Aku menajamkan tatapanku sambil mengepalkan kedua tanganku rasanya ingin menonjoknya habis-habisan karena nyawa sahabat yang paling kusayangi hampir melayang karena keparat ini. "Gara-gara Anda, nyawanya hampir tidak terselamatkan. Anda sebaiknya mengurus diri Anda sendiri saja. Jika sampai terjadi sesuatu buruk padanya, saya akan membunuh Anda sekarang juga. Besok Anda akan dipulangkan kembali melalui helikopter."
Aku berjalan keluar dari kamar Pak Colin, lalu kembali menunggu di depan ruang operasi. Operasi ini sudah berjalan sekitar dua jam hingga aku hampir tertidur di bangku. Namun, aku harus menahan mataku demi mendengar kabar operasinya.
Satu jam kemudian, para dokter yang menangani operasinya Adrian keluar dari ruang operasi dan mengatakan bahwa operasinya berjalan dengan lancar sehingga ia sudah bisa dipindahkan ke kamar pasien. Kemudian, aku mengisi data rawat inap memindahkan Adrian ke bangsal VIP.
Setibanya di ruang inap, aku menarik salah satu kursi mendekati ranjangnya, menatapnya dengan lesu. Lagi-lagi aku melihatnya memakai seragam pasien dalam kondisi tidak sadarkan diri. Rasanya sangat sesak melihat kondisinya kritis dua kali.
Adrian sungguh mengatakannya dengan serius. Waktu itu saat di rumah sakit, ia berkata bahwa ia ingin melindungiku bahkan sampai rela mengorbankan nyawanya. Tapi bagiku bukan berarti seperti ini. Ini sangat menyiksaku takut akan kehilangannya. Tangisanku pecah sambil memandangi tanpa bosan. Bahkan aku tidak bisa tertidur nyenyak karena ini. Air mataku mengalir deras hingga membasahi telapak tangannya.
Keesokan pagi, aku terbangun dan mataku bengkak akibat menangis sepanjang malam. Adrian masih belum membuka matanya bahkan tangannya tidak menunjukkan rrespons Aku memasuki kamar kecil sejenak mencuci wajahku dan bersiap-siap menghampiri Pak Colin.
Helikopter kepolisian yang menjemput Pak Colin telah tiba di atap rumah sakit. Hans bersama beberapa petugas polisi menghampiriku.
"Kami akan membawa tersangka ini segera menuju kantor kejaksaan," kata salah satu petugas polisi sambil menuntun Pak Colin menuju helikopter.
"Terima kasih telah datang jauh kemari," balasku sopan.
Hans menatapku cemas. "Kamu akan di sini berapa lama?"
"Aku akan di sini sampai Adrian pulih total. Tolong katakan pada komisaris polisi, aku akan tugas dinas selama tiga minggu."
"Baiklah, nanti aku akan sampaikan. Aku pergi dulu, sampai jumpa tiga minggu lagi," pamit Hans berlari memasuki helikopter.
Aku mampir ke kafetaria rumah sakit untuk membeli makanan. Selain itu, aku juga pergi ke minimarket membeli handuk kecil dan berbagai perlengkapan untuk merawat Adrian selama di rumah sakit.
Aku kembali memasuki kamarnya Adrian. Aku mengambil handuk mencelupkannya ke dalam baskom kecil lalu mengelap tangannya. Begitulah kegiatanku seperti itu terus hingga Adrian kembali tersadar sambil mendoakannya.
Memasuki senja saat aku hendak pergi ke kamar kecil, aku merasakan sentuhan hangat darinya pada tangan kiriku. Dengan sigap aku membalikkan tubuhku menghadapnya menangis terharu melihatnya kembali sadar.
"Penny ...."
Aku langsung memeluknya melampiaskan kerinduanku sepanjang hari. "Akhirnya kamu bangun juga, aku menunggumu sadar selama ini."
Adrian tersenyum ceria, perlahan mengusap kelopak mataku basah. "Kamu jangan menangis lagi. Tenang saja aku adalah lelaki yang kuat."
__ADS_1
Aku kesal dengannya. Di saat begini ia masih bisa santai, sedangkan aku selalu mencemaskannya sepanjang hari!
"Dasar kamu masih bisa tersenyum di saat seperti ini!" sungutku sambil menyentil dahinya.
Adrian memanyunkan bibir mengelus dahinya. "Aduh sakit, Penny! Aku kan pasien masa disiksa seperti ini."
Aku membuang muka sambil beranjak dari tepi ranjang. "Maaf aku hanya sedang kesal saja. Sudahlah, aku mau ke kamar kecil dulu."
Adrian menahan tanganku cepat. "Tunggu dulu, Penny! Kamu harus menemaniku sebentar. Lagi pula aku lapar ingin makan sesuatu."
Aku membalikkan tubuhku dan memutar bola mata. "Kamu belum boleh makan, ini perintah dari dokter. Tahan lapar saja sampai sakit perut!"
Adrian melipat kedua tangan di dada. "Kamu tega sekali, Penny!"
Aku melepas genggaman tangannya paksa. "Sudahlah aku ingin ke kamar kecil saja dari tadi tidak jadi terus."
Setelah kembali dari kamar kecil, aku membuka bungkusan makanan yang tadi pagi kubeli. Aku sengaja membuka bungkusan makanan dan mendekatkannya pada Adrian supaya ia tergoda aroma makanannya sehingga membuatnya kelaparan.
"Aromanya enak sekali, bagi sedikit untukku!" rengeknya seperti anak kecil.
Aku langsung menjauhkan bungkusan makanan darinya. "Tidak boleh, pokoknya kamu tidak boleh makan sampai kamu buang angin."
Adrian memasang wajah memelas sambil mengelus perutnya semakin mengamuk. "Kalau begini terus aku bisa mati kelaparan nih."
"Makanya cepat buang angin sana pakai segala cara."
"Bicara sih mudah sekali ya, coba kalau kamu menggantikan posisiku!" elaknya mengambek.
"Sambil menunggu kamu buang angin lebih baik kita mendiskusikan hal lain. Sidang Pak Colin akan ditunda tiga minggu karena kamu harus dirawat di sini. Kamu tidak boleh menjadi jaksa yang menanganinya karena Pak Colin termasuk kerabat kita, tapi kamu adalah saksi penting," tuturku fokus pada pekerjaan.
Aku mencubit pipinya gemas. "Maka dari itu, kamu cepat sembuh dan kita bisa kembali lagi, kalau bisa tidak perlu menunggu tiga minggu!"
pufft..
"Maaf aku barusan buang angin. Tunggu! Kalau aku tadi buang angin, berarti aku sudah bisa makan sepuasnya," Adrian tertawa bahagia seperti anak kecil.
Aku tertawa gemas sambil mengelus kepalanya. "Iya, sekarang aku pergi ke bawah dulu belikan makanan untukmu."
Malam harinya, aku sudah mengantuk akibat kurang tidur sambil mengambil selimut rumah sakit, lalu membaringkan tubuhku di sofa.
"Kamu pasti sangat kelelahan menungguku sadar." Adrian membuka suaranya tiba-tiba.
Aku membalikkan tubuh menghadapnya. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa lelah saja."
"Aku tahu kamu menangis terus sepanjang malam, jangan berbohong padaku."
Mataku terbelalak dan pipiku sedikit memerah, seperti biasa ia selalu peka setiap terjadi sesuatu padaku. "Bagaimana kamu tahu?"
Aku beranjak dari sofa menduduki kursi di sebelah ranjang.
Adrian menatapku cemas, jempol kanannya menyentuh kelopak mataku lembut. "Matamu bengkak, aku tidak suka. Ternyata kamu sungguh berlebihan sekali menangis sampai wajahmu tidak enak dilihat."
Embusan napas lesu keluar dari mulutku. "Aku takut kalau kamu sampai tidak tersadar selamanya. Habisnya kamu sangat nekat menolongku waktu itu. Aku sebenarnya takut kehilangan sahabat seperti kamu."
Adrian tersenyum tipis menepuk dadanya. "Sudah kubilang padamu sebelumnya bahwa aku akan menjadi pengawal pribadi dan malaikat pelindungmu."
"Tapi aku sangat mencemaskanmu, Adrian!"
__ADS_1
Adrian memposisikan tubuhnya duduk bersandar di sandaran ranjang sambil menepuk tepi ranjangnya. "Kamu duduk di sini saja. Aku ingin berbincang denganmu lebih dekat."
Aku menurutinya, lalu menduduki ranjang. Ia membiarkan punggungku bersandar pada tubuhnya sambil mendekapku hangat. Jika dibayangkan, posisi tubuh kami seperti sepasang kekasih sedang bercumbu mesra padahal hubungan kami belum sejauh itu.
Adrian mengelus punggung tanganku lambat laun. "Terima kasih sudah mencemaskan aku, Penny."
Melihat senyumannya sudah berhasil membuatku tersenyum ceria. "Melihatmu bisa tersenyum sudah sangat bersyukur bagiku."
Sorot matanya memeriksa kondisi wajahku sekaligus tanganku. "Omong-omong, apakah lukamu parah? Kenapa kamu tidak meminta pengobatan dari dokter?"
Aku menutupi lukaku dengan lengan bajuku. "Ini hanya luka kecil saja. Aku tidak perlu dirawat inap. Aku justru lebih mencemaskan kondisi tubuhmu. Kamu terluka parah akibat menolongku."
Adrian mempererat pelukannya. "Walaupun aku terluka parah, tapi aku sangat bersyukur dan lega melihatmu kondisi sehat, Penny."
Entah kenapa aku merasa perlakuan hangatnya saat ini sedikit berbeda dari biasa. Aku bisa merasakan perlakuannya saat ini menunjukkan bahwa hubungan kami lebih dari sahabat sehingga aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya sampai tidak ingin melepaskannya. Namun aku tidak ingin mengambil kesimpulan karena bisa saja pemikiranku berbeda dengan realita.
Mataku sulit terbuka mulai tidak bisa menahan kantukku.
"Penny, sebaiknya kamu beristirahat dulu. Maafkan aku merepotkanmu sampai kamu merawatku tanpa mengenal lelah."
"Tidak apa-apa, Adrian. Aku merawatmu sepanjang hari setulus hatiku. Kalau begitu aku tidur di sofa dulu ya. Selamat malam, Adrian." Aku melepas pelukannya, lalu membaringkan tubuhku di sofa sambil menyelimuti tubuhku.
"Selamat malam, Penny."
Tiga minggu kemudian, Adrian sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Aku mengunjungi toko pakaian sebentar membeli sebuah pakaian baru untuknya karena pakaian yang ia pakai sebelumnya robek. Aku memilihkan pakaiannya sambil membayangkan dirinya memakainya hingga tanpa kusadari senyumanku mengambang.
Aku memutuskan membeli kemeja, celana panjang berbahan, dan juga mantel untuknya. Lalu aku bergegas kembali ke rumah sakit.
Aku mendatanginya sambil memberikan sebuah paper bag untuknya. "Pakailah ini. Tadi aku membeli pakaian untukmu di toko pakaian dekat rumah sakit. Aku sih tidak tahu persis dengan ukuran baju dan celananya pas atau tidak. Semoga kamu menyukainya."
Adrian berdecak kagum memandangi pakaian yang kubeli dengan pandangan berbinar. "Wah, bagaimana kamu bisa tahu gaya pakaian kesukaanku! Memang kamu yang terbaik, Penny!"
Aku tersipu malu. "Aku hanya memakai perasaan saja saat membelinya."
"Kalau begitu aku coba dulu di kamar kecil." Adrian bergegas memasuki kamar kecil sambil membawa paper bag.
Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar kecil, tersenyum sendiri memperlihatkan penampilan tampannya padaku membuat tatapanku sampai tidak berkedip.
Aku mengamati penampilannya terlihat menyegarkan dari ujung kepala hingga kaki. "Sepertinya ukurannya pas, untung aku tidak salah pilih ukurannya."
"Kamu terpesona melihatku memakai pakaian keren ini dibandingkan seragam pasien?" godanya membuatku hampir tersedak.
"Kamu terlihat tampan, Adrian."
Mataku terbelalak menyadari ucapanku yang keceplosan dari mulutku lalu dengan sigap aku menutup mulutku rapat.
Sedangkan Adrian mendekatiku menyunggingkan senyuman nakal padaku. "Kamu barusan bilang apa? Aku terlihat tampan memakai pakaian ini?"
Aku memalingkan mataku. "Anggap saja angin berlalu!"
"Penampilanku tampan berkat kamu pandai memilihkan pakaian untukku."
"Sudahlah, ayo kita berangkat ke bandara sekarang!" ajakku gelagapan.
Kami berdua memanggil taksi untuk mengantar kami menuju ke bandara dan kembali ke kota asal kami.
Setelah dua jam penerbangan, akhirnya kami tiba juga di kota asal dan segera memanggil taksi lagi untuk mengantarkan kami ke gedung pengadilan.
__ADS_1