
Setibanya di kantor, aku melihat Hans mengeluh kesakitan sambil memegang perutnya dengan wajahnya sangat pucat dan Fina tepat di sebelahnya sedang merawatnya.
Di satu sisi, aku menatap meja kerja Divisi Kejahatan Kekerasan Unit 2, di sana hanya ada Danny dan tiga anak buahnya yang sedang sibuk bekerja tanpa adanya pergerakan mencurigakan. Aku tidak bermaksud mencurigai seluruh anggota unit 2, namun hanya berwaspada saja.
Saat aku sedang berkonsentasi memantau sekelilingku, aku mendengar suara keluhan Hans sangat menggangguku. Meski ia selalu menyebalkan di mataku, tapi aku tidak tega melihatnya menderita.
"Aaah! Sakit perutku!" keluh Hans kesakitan, kalau dilihat seperti terkena usus buntu.
"Maka dari itu Hans, lain kali kalau makan tuh jangan yang aneh-aneh deh!" ledek Nathan menertawai Hans puas.
"Kamu ini bagaimana sih! Masa rekan timmu kesakitan malahan kamu sibuk menertawakanku!" celetuk Hans memelototi Nathan sambil terus memegangi perutnya kesakitan.
"Aku tidak menertawakanmu. Hanya untuk memperingatkanmu saja, lain kali jangan makan makanan yang aneh terutama makanan pedas!"
Hans memanyunkan bibir. "Lagi pula memang sedang ada promo tidak seperti biasanya, adinya aku sesekali mencoba makanan itu. Eh saat aku mencoba rasanya pedas sekali sampai aku tidak tahan."
"Maka dari itu, kalau ada promo makanan lebih baik lihat dengan teliti dulu apakah makanan itu pedas atau tidak. Lagi pula kamu serakah sekali sih demi promo saja kamu sampai pulang cepat semalam," saran Nathan sambil menjitak kepala Hans tanpa ragu.
Mendengar perdebatan mereka sangat tidak penting bagiku hingga membuat telingaku terasa panas sekarang, aku menghembuskan napasku dengan kasar sambil mengepalkan tanganku.
Seperti biasa, aku mudah marah. Aku memijit kepalaku memelototi mereka berdua. "Sudahlah kalian berdua diam saja! Kepalaku sakit sekali sekarang!"
Fina menyeduh segelas teh hangat untuk Hans. "Aku juga dari tadi sakit kepala melihatmu kesakitan seperti ini!"
"Lihat tuh, gara-gara kamu berbuat gegabah seperti ini jadi semua orang sakit kepala!" bentak Nathan lagi.
"Sudahlah Nathan, sebaiknya kamu jangan marah lagi! Nanti aku juga ikutan sakit kepala!" celetuk Tania mengerucutkan bibir.
Nathan mendesah lesu, tatapannya beralih pada istrinya langsung merangkul pundaknya. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sakit kepala."
Aku memutar bola mataku, melangkah mendekati Hans. "Kalau kamu tidak enak badan, lebih baik kamu pulang ke rumah saja dan beristirahat!"
"Tidak usah, aku akan tetap bekerja di sini saja!" tolak Hans keras kepala.
"Kamu keras kepala sekali sih!" bentak Fina menaruh secangkir teh hangat di meja kerja Hans.
Hans membulatkan matanya dengan sempurna, terkagum melihat tingkah Fina yang tiba-tiba perhatian sekali padanya. Padahal selama ini Fina tidak tertarik dengannya sama sekali.
"Fina, ini demi pekerjaan. Aku harus melakukan pekerjaanku dengan semampuku," ujar Hans lembut.
"Tidak bisa! Seorang detektif tidak boleh terlihat lemah saat sedang bekerja! Lebih baik kamu pulang saja sekarang!" bentak Fina dengan tatapan melotot berkacak pinggang.
"Fina, aku tahu kamu sangat perhatian dengan rekan kerjamu tapi tubuhku ini masih kuat bekerja."
"Aku bukan perhatian ... tapi hanya saja aku malu melihat rekan kerjaku seperti ini," balas Fina agak gugup memalingkan matanya dari Hans.
Tiba-tiba Hans merasa perutnya sangat kram. "Aaah! Sepertinya aku harus ke kamar kecil lagi!"
__ADS_1
Hans terburu-buru berlari menuju kamar kecil sambil memegang perutnya.
Sedangkan Fina menatapnya hanya bisa menggelengkan kepala. "Dia ini benar-benar membuatku geram saja!"
Aku tertawa kikuk. "Kamu sangat perhatian pada Hans."
"Aku ini sebagai rekan kerjanya sudah pasti perhatian sekali sesama rekan kerjaku," lanjut Fina menatapku gugup.
Perkataannya sangat ambigu membuatku mencurigai apa yang ada di isi pikirannya sekarang. "Hmm masa sih. Kalau seandainya aku yang sakit perut seperti itu, apakah kamu akan memperlakukanku seperti tadi kamu sangat perhatian pada Hans?"
Fina memasang tatapan elang melipat kedua tangan di dada. "Penny, kamu pasti menganggapku sangat menyukai Hans, 'kan? Aku masih tidak memiliki perasaan padanya. Dia hanya sebatas rekan kerjaku saja. Lagi pula aku masih memiliki perasaan pada Adrian. Kamu harus ingat itu!"
Di saat Fina mengatakan perkataan itu, Hans mendengarnya sangat terkejut sampai berdiri dengan lemas. Lalu ia berjalan dengan lesu kembali ke meja kerjanya dan tidak menatap Fina.
Dengan sigap aku menarik tangan Fina paksa menuju sudut tembok untuk berbicara dengannya secara pribadi.
"Lepaskan aku, Penny!" ketus Fina memberontak berusaha melepaskan genggaman tanganku.
"Bisakah kamu jaga ucapanmu? Kamu tadi tidak melihat Hans sampai lesu begitu saat mendengar ucapanmu barusan!" hardikku mempererat genggaman tangannya.
"Dia lesu begitu karena sakit perutnya yang semakin parah!"
"Kamu sangat tidak peka, Fina! Hans itu sangat menyukaimu!" celetukku rasanya ingin menjambak rambutnya.
Fina langsung terdiam dan raut wajahnya berubah drastis dengan tatapan gugup. "Bagaimana kamu tahu itu?"
Tangan kanan Fina rasanya terus gemetaran. "Apa iya dia sampai berbuat seperti itu demi aku?"
"Lebih baik kamu mengantarnya pulang sekarang," saranku dengan baik.
Fina membuang muka. "Percuma, dia pasti tetap keras kepala dan tidak akan mendengarkanku."
"Ayolah, Fina!" Aku sudah tidak tahan lagi dengan Fina dan menariknya menghampiri Hans.
Aku langsung melepas genggaman tangan Fina membiarkannya berbicara dengan Hans secara pribadi.
Hans bingung melihat tingkah Fina terlihat aneh, padahal tadi sempat sombong saat mengucapkan kalimat penolakan. "Ada apa, Fina?"
"Fina bilang dia ingin mengantarkanmu pulang ke rumah," jawabku tertawa terkekeh.
Hans kembali tersenyum seperti semangat hidupnya semakin membara. "Benarkah, Fina?"
"Aku sudah tidak tahan melihatmu sakit seperti ini! Lebih baik aku mengantarkanmu pulang dengan paksa! Ayo ikut denganku!" ajak Fina sambil menarik tangan Hans dan mengambil kunci mobilnya Hans keluar dari kantor polisi.
Hans terdiam sejenak bingung dengan situasi saat ini sampai dahinya berkerut. "Tunggu, Fina! Kenapa kamu bertingkah seperti ini tiba-tiba?"
"Pokoknya kamu diam saja dan ikut denganku sekarang! Kamu sedang sakit, maka dari itu, harus diberi perawatan tambahan!" Fina menarik tangan Hans menuju tempat parkir.
__ADS_1
Nathan melihat aksi Fina barusan terhadap Hans sampai menatapnya melongok dan bertepuk tangan meriah.
"Fina dan Hans, aku sangat mendukung kalian berdua!" seru Nathan.
"Memang mereka ini lama kelamaan menjadi pasangan yang serasi!" tambahTania sambil mengemil camilannya.
"Yang pasti aku lebih suka melihatnya perhatian pada Hans daripada bersikap dingin padaku," tuturku tersenyum sendiri.
Kembali lagi Nathan terfokus pada istrinya dan semakin penasaran dengan istrinya sangat rakus hari ini. "Omong-omong, aku sangat penasaran denganmu, Tania. Apakah kamu sungguh sedang ngidam?"
Tania memasang raut wajah polos. "Apa maksudmu? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Entah kenapa hari ini kamu selalu merengek ingin makan terus. Kelakuanmu tidak seperti biasanya walaupun perutmu itu karet."
"Aku setuju dengan Nathan. Kamu seperti sedang ngidam."
Tania tertawa kikuk. "Oh, kamu pasti berpikir bahwa aku sedang hamil, 'kan?"
"Iya,Tania," jawab Nathan datar.
"Aku ini tidak sedang hamil! Selama ini aku tes selalu hasilnya tidak hamil kok."
Ekspresi Nathan kembali datar ketika mendengar kabar itu tidak sesuai ekspektasinya. "Begitu rupanya. Lalu kenapa kamu hari ini terasa lapar terus?"
Tania mengangkat kepala berlagak angkuh. "Suka-suka perutku dong!"
"Sepertinya perutmu itu memiliki kapasitas yang sangat besar menampung makanan banyak," ejekku menertawainya puas.
Tiba-tiba di tengah perbincangan kami, anggota divisi unit sebelah heboh saat melihat berita di internet.
"Apa ini? Katanya ada dua orang gadis yang menghilang secara misterius!" seru salah satu anggota tim heboh.
"Wah, ini benar-benar sangat mengerikan! Mereka menghilang seperti hantu saja!" tambah anggota tim lainnya heboh juga.
Aku, Nathan, dan Tania langsung membuka ponsel kami dan melihat artikel yang dirilis Yulia. Sekarang ini, berita hilangnya dua orang gadis ini menjadi trending di segala media.
"Wah, ternyata dia sungguh merilis artikelnya dengan cepat!" seru Nathan.
Aku tersenyum licik. "Sekarang pasti pelakunya akan mengamuk sekali saat melihat artikel ini."
Sedangkan di sisi lain, pemuda misterius saat melihat artikel itu langsung membanting ponselnya dengan kasar hingga layar ponselnya retak. Lalu ia melempar semua barang di meja kerjanya jatuh ke lantai. Asisten pribadi itu memasuki ruang kerja pemuda misterius dengan gugup.
"Siapa dengan berani merilis berita ini?" hardik pemuda misterius itu penuh emosi.
"Aku mendengar bahwa Reporter Yulia dari stasiun TV BYZ yang merilis artikel itu tiba-tiba."
"Cepat siapkan mobil untukku! Aku akan menghabisi dia malam ini!" pinta pemuda itu sambil melepaskan lilitan dasi.
__ADS_1
Malam harinya, di saat Yulia sedang melakukan perjalanan pulang di sebuah gang lumayan kecil, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Ia berlari dengan cepat sambil mengirimkan sinyal SOS.