Good Partner

Good Partner
Part 24 - Chip Misterius


__ADS_3

Aku membulatkan mataku mengamati chip misterius ada di dalam powerbank selama ini. Jika dilihat lama, chip ini terlihat alat penyadap suara. Namun, aku masih bingung, sebenarnya siapa yang menaruh chip ini diam-diam?


Aku membangkitkan tubuhku dengan lemas dan wajahku mulai pucat. Tiba-tiba aku teringat saat pertama kali aku mendapatkan powerbank itu setahun lalu. Powerbank itu pertama kali aku dapatkan dari hadiah undian saat acara pembukaan restoran milik Pak Colin. Tapi, menurutku mustahil Pak Colin melakukan hal gituan apalagi hubungan ayah, paman Randy, dan Pak Colin sangat dekat sewaktu dulu.


Sementara Tania yang baru saja dari kamar kecil sedang berjalan menuju meja kerjanya, tatapannya melotot mengamati powerbank tergeletak di lantai. Dengan sigap ia menghampiriku lalu berjongkok mengambil powerbank. "Penny, kenapa kamu membanting powerbank? Sebelum dibanting lebih baik untukku dulu."


"Tadi powerbank tidak mau menyala. Maka dari itu, aku banting saja siapa tahu berfungsi. Tapi anehnya ... aku menemukan chip ini di powerbank," jawabku merinding ketakutan sambil memperlihatkan chip itu kepada Tania.


Tatapan mata Tania terbelalak mengamati chip misterius digenggam tanganku hingga mulutnya terbuka lebar. "Apa ini? Kenapa bisa ada benda mengerikan seperti ini?"


Aku menggeleng dan bertopang dagu. "Aku juga tidak tahu. Yang pasti ada seseorang memasukkannya diam-diam."


"Sebaiknya kita membicarakan hal ini di ruang rapat!" usul Tania berbisik.


Di saat kami sedang melangkah menuju ruang rapat, Nathan baru saja keluar dari kamar kecil juga langsung menghampiriku dan Tania.


"Apa yang terjadi? Kenapa kita melakukan rapat lagi?"


Tania memukuli lengan Nathan sedikit bertenaga. "Kenapa kamu lama sekali sih! Kamu ketinggalan banyak informasi jadinya!"


"Habisnya tadi aku sedang ...."


Belum saja Nathan menyelesaikan perkataannya, mulutnya langsung dibungkam Tania dengan cepat menggunakan telapak tangannya.


"Ish kenapa kamu menjelaskannya pada kami! Kamu diam saja!" omel Tania memukuli lengan Nathan lagi, kali ini lebih bertenaga dari sebelumnya.


Sejenak Nathan mengelus lengannya kesakitan karena dipukul terus. "Ya sudah, kalau begitu aku tetap diam saja. Omong-omong kalian sedang membicarakan apa sih dari tadi sampai harus melakukan rapat lagi?"


"Kamu diam saja dan ikut dengan kami ke ruang rapat sekarang!" Aku menarik tangan Nathan paksa ikut denganku memasuki ruang rapat sebelum ia rewel lagi.


Setibanya di ruang rapat, aku langsung membungkus chip itu dengan plastik kecil bening supaya pembicaraan kami tidak didengar pelaku.


Wajah Nathan terlihat kebingungan sampai menampakkan kerutan pada dahinya, mulutnya sangat gatal ingin melontarkan pertanyaannya lagi. "Sebenarnya ada apa sih? Kenapa kalian berdua bertingkah aneh dari tadi?"


Tania membungkam mulut Nathan dengan telapak tangannya. "Ssstt! Jangan ngomong terlalu keras. Tadi Penny temukan sebuah chip di powerbank."


"Apa? Kok bisa? Selama ini kita disadap?" Nathan terkejut mendengar perkataan Tania barusan tanpa ia sadari suaranya terdengar cukup keras.


"Ish sudah Tania peringatkan tadi jangan terlalu keras bicaranya!" sungutku bibirku mengerucut.


"Ya sudah, aku pergi dari sini sekarang!" elak Nathan memelototi Tania tajam.


"Ish kalian bisa fokus sedikit tidak sih!" gerutuku sambil memukuli meja untuk menenangkan mereka.


Suasana kembali hening. Akhirnya mereka menatapku juga setelah berdebat dalam durasi cukup lama.


"Maaf, silakan lanjutkan, Penny," sesal Tania menunduk malu.


"Sekarang setiap kita menyelidiki kasus harus lebih berwaspada. Kita tidak tahu apa ada alat penyadap lagi di kantor ini," ucapku mulai fokus pada inti pembicaraannya.

__ADS_1


"Hmm siapa kira-kira yang memasang chip ini?" Nathan mulai berpikir keras sambil berkacak pinggang.


"Mungkin Pak John yang memasangnya," jawab Tania asal berpikir.


"Oh ya, waktu itu aku menyuruh kalian menyelidiki Pak John. Apakah ada sesuatu yang mencurigakan?" tanyaku mengalihkan pembicaraannya sejenak.


Tania mengeluarkan ponsel memperlihatkan sebuah foto mengenai penemuannya. "Aku menemukan sebuah catatan di laci mejanya. Ini isi catatannya, sudah aku foto waktu itu saat dia sedang tidak ada di sini."


Nathan menggaruk kesal. "Di sini tertulis kata 'Versailles'. Hmm sepertinya nama suatu tempat. Tapi maksud tempat dari catatan ini apa, ya?"


"Kita harus segera mencari tempat ini. Pasti ada sesuatu penting yang disembunyikan di sana," usul Tania.


"Kalau begitu, ayo sekarang kita cari tempat itu di internet!" usulku.


Aku, Tania, dan Nathan kembali bekerja di meja kerja kami dan membuka laptop untuk mencari tempat itu. Namun, baru saja aku mengetik kata kunci itu pada kolom pencarian, hasil pencariannya banyak sekali. Memang sih kata 'Versailles' terdengar umum bagi orang biasa. Namun bagi kami, pasti ada makna tersembunyi di balik itu hingga Pak John menyembunyikannya dari kami.


"Aduh kata kunci 'Versailles' banyak sekali di internet! Kalau begini bagaimana kita bisa mencarinya," keluh Nathan menghembuskan napasnya kasar.


"Ini akan membuang waktu dan tenaga. Apakah tidak ada cara lain, Penny?" tanya Tania mendesah pasrah sambil menatapku.


"Aku akan mengunjungi paman Randy lagi untuk mencoba menanyakannya tentang ini," jawabku sambil membereskan barangku.


Setibanya di rutan, aku bertemu dengan Adrian juga ingin mengunjungi ayahnya. Ditemani seperti ini kebetulan, tentu saja aku tidak akan merasa canggung saat berkomunikasi dengan paman Randy nanti.


"Kamu di sini juga rupanya, Penny," sapa Adrian ramah padaku.


"Padahal aku tidak bermaksud mengajakmu menemaniku, kebetulan sekali kita bertemu seperti ini," balasku tersenyum ceria padanya.


Aku tertawa usil. "Ada deh. Pokoknya kamu lihat saja nanti."


Setibanya di ruangan pengunjung tahanan, aku tersenyum ramah di hadapan paman Randy.


"Paman, aku berkunjung lagi," sapaku sopan.


"Paman sangat senang melihatmu lagi, Penny," sahut paman Randy bahagia melihatku.


Adrian memanyunkan bibir seketika melihat situasi ayahnya tidak menatapnya sama sekali sejak memasuki ruangan. "Ayah tidak menyapaku? Putra ayah sendiri malah dicuekin! Ayah tega lebih memilih anak orang lain yang disapa lebih dulu."


Paman Randy tertawa terbahak mengamati putranya dari ujung kepala sampai dada. "Ayah melihatmu masih baik-baik saja. Kamu harus sering mengajak Penny mengunjungi ayah."


Mengingat waktu disita cukup banyak, terpaksa aku memotong perbincangan santai ini. "Omong-omong paman, aku mau bertanya nih."


"Silakan bertanya. Jangan bersikap malu di hadapan paman."


"Apakah paman pernah mendengar kata 'Versailles' seperti nama suatu tempat gitu?"


Paman Randy mengedikkan bahu. "Entahlah. Tapi paman pernah mendengar dari orang itu 'Versailles' itu wujudnya seperti istana kuno yang bergaya classic di Eropa."


"Istana kuno?"

__ADS_1


Memang sih saat aku sedang menelusuri pencarian kata itu, hasil pencarian di internet semuanya berupa foto bangunan istana classic.


"Omong-omong, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu, Penny?" Paman Randy bertanya balik.


drrt...drrt...


Ponselku berbunyi tiba-tiba di tengah pembicaraanku dengan paman Randy. Karena yang meneleponku adalah Pak Colin, aku langsung mengangkat.


"Detektif Penny, apakah Anda sedang sibuk sekarang?"


"Tidak Pak. Saya sedang mengunjungi paman Randy."


"Anda sedang mengunjungi Randy? Kalau begitu tolong sampaikan salam kepadanya, ya. Saya ingin mengajak Anda untuk makan bersama di rumah saya hari ini. Apakah Anda memiliki waktu luang?"


"Saya ada waktu luang, Pak."


"Baiklah, kalau begitu saya kirimkan alamat rumah saya kepada Anda. Ajak Adrian juga mengunjungi rumah saya. Sampai bertemu nanti."


"Saya akan mengajaknya untuk mengunjungi Bapak nanti," ucapku sambil menutup panggilan teleponnya.


Adrian menggeserkan kursi mendekatiku dengan tatapan penuh penasaran apalagi tadi mendengar namanya sempat disebutkan. "Siapa yang menelepon tadi?"


"Oh, itu Pak Colin yang meneleponku. Dia mengajak kita berdua untuk makan bersama di rumahnya."


"Baiklah, kita ke sana sekarang saja. Ayah, aku pamit pergi dulu ya," pamit Adrian kepada ayahnya.


Setibanya di rumah Pak Colin, aku dan Adrian berdecak kagum mengamati kemewahan rumah Pak Colin. Rumahnya sangat besar memiliki halaman yang sangat luas bahkan ukuran rumahnya kira-kira lima kali lipat lebih besar dari rumahku. Tidak sampai dua menit menunggu, Pak Colin menyambut kedatangan kami berdua.


"Selamat datang Detektif Penny dan Jaksa Adrian. Silakan masuk ke dalam dulu," sambut Pak Colin ramah.


"Terima kasih telah mengundang kami untuk makan bersama Bapak," sahutku dengan ramah sambil memasuki rumahnya bersama Adrian.


Aku berjalan memasuki rumahnya, ternyata interior rumahnya itu benar-benar megah sekali bagaikan istana. Aku melihat seisi rumah ini sampai mataku terbelalak. Rasanya aku ingin memiliki rumah seperti ini.


"Silakan duduk di sini," ucap Pak Colin sambil menarik kursi untukku.


"Terima kasih."


Lalu para pelayan membawakan berbagai macam makanan dan kelihatannya sangat lezat dan berkelas. Tentu saja kalau pemilik restoran pasti pandai memilih menu yang terlezat.


"Terima kasih atas makanannya, Pak," ucap Adrian tersenyum ramah.


"Selamat menikmati makanannya kalian berdua," tutur Pak Colin.


"Omong-omong Pak Colin, rumahnya bagus sekali seperti istana. Saya jadi ingin punya rumah seperti ini dan banyak barang antiknya," pujiku.


"Sebenarnya rumah saya dulu tidak semegah ini, hanya saja seiring berjalannya waktu, saya semakin sukses dan akhirnya saya bisa membangun rumah mewah ini," balas Pak Colin merendah.


"Memang Bapak ini patut menjadi panutan saya," puji Adrian sambil mengacungkan jempol padanya.

__ADS_1


Aku melihat sekelilingku dipenuhi banyak patung dan barang-barang antik. Tapi aku menemukan sesuatu yang aneh terselip di antara barang-barang itu. Aku berjalan mendekati sebuah lukisan istana Versailles.


__ADS_2