Good Partner

Good Partner
Special Part 10 - In My Heart


__ADS_3

Sementara di sisi lain, Fina bersiap-siap mengambil tas kerjanya dan juga kunci mobil hendak pulang kerja. Sebenarnya kakinya masih terasa sedikit sakit akibat dihajar Dokter Reyhan tadi siang. Ia jalan sedikit terpincang hingga tubuhnya hampir terjatuh ke lantai akibat tidak bisa menahan tubuhnya lagi. Hans ketika mengetahui kekasihnya kesakitan begitu langsung menghampiri dan menggendongnya tidak peduli dilihat anggota kepolisian lainnya di sana.


"Apa yang kamu lakukan, Hans? Lepaskan aku!" Fina berusaha memberontaknya, akan tetapi Hans menggendongnya paksa keluar dari kantor polisi menuju tempat parkir.


Di tempat parkir, Hans mengantarkan Fina menuju mobilnya Fina dan mengambil kunci mobil Fina yang bergelantungan pada tangannya.


"Hei! Itu kunci mobilku!" pekik Fina.


Hans tidak memedulikannya lalu menekan tombol alarm mobilnya. Ia membuka pintu penumpang tepat di sebelah kursi pengemudi dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Di tengah perjalanan, Hans tidak mengucapkan satu kata pun kepada Fina dan raut wajahnya seperti sedang mengambek karena suatu hal. Sedangkan Fina berdiam diri saja lalu menghadapkan tubuhnya ke arah jendela mobil. Suasana di dalam mobil itu bagaikan seperti sedang ada perang dingin di antara sepasang kekasih tersebut.


Beberapa saat kemudian, setibanya di rumahnya Fina, Fina membuka sabuk pengamannya kemudian keluar dari mobilnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Hans.


"Tunggu!" Akhirnya Hans mengucapkan satu kata dari mulutnya yang tersegel rapat, dengan sigap keluar dari mobil itu lalu membukakan pintu mobilnya untuk Fina dan menggendongnya lagi keluar dari mobil.


Hans memasukkan kode akses rumahnya Fina lalu menuntunnya masuk ke dalam rumahnya. Di antara semua orang terdekatnya Fina, hanya Hans yang mengetahui kode akses rumahnya. Ia membaringkan tubuhnya Fina di sofa ruang tamu kemudian mengambil sebuah kotak P3K yang diletakkan di lemari penyimpanan. Hans mengambil sebuah obat dari kotak itu lalu mengoleskannya ke sudut bibirnya Fina yang memar.


"AAHH!" Fina meringis kesakitan.


"Ini akibat kamu tidak melawannya tadi! Seharusnya kamu tidak membiarkannya membuatmu terluka begini!" bentak Hans mencebik kesal.


"Kamu kenapa sih, Hans? Dari tadi siang ngambek terus dan tidak berbicara padaku. Sekarang kamu marah padaku! Apa mungkin kamu marah karena misi itu!" ketus Fina memalingkan matanya.


"Iya aku sebenarnya cemburu! Kamu bersikap genit terhadap pria lain di saat aku tidak mengetahui yang sebenarnya! Yang buat aku kesal itu, kamu menyembunyikannya dariku! Sebenarnya kamu menganggapku sebagai kekasihmu tidak sih!" Hans berhenti mengoleskan obat pada luka di sudut bibirnya Fina dan memasukkan obat itu dengan kasar ke dalam kotaknya.


"Aku sengaja tidak memberitahumu takut kamu akan mengambek begini, ternyata benar dugaanku. Maaf Hans, aku tidak bermaksud genit. Tapi ini demi pekerjaan. Kamu harus ingat bahwa perasaan pribadi tidak boleh dicampur dengan pekerjaan. Sejujurnya aku tidak ingin genit dengan pria lain selain kamu. Kalau kamu mau memarahiku, marah saja sampai puas!"


Hans mengecup keningnya Fina dengan manis lalu memeluknya hangat.


"Aku lega mendengar perkataanmu barusan. Maaf ya kalau aku hari ini bersikap kekanak-kanakan padamu. Aku tidak suka melihat wanita yang kucintai bersama dengan pria lain," ucap Hans kembali mengukir senyuman tipis sambil membelai rambut Fina.


"Tenang. Hanya kamu satu-satunya pria yang kucintai, Hans," balas Fina mengelus punggungnya Hans.


"Omong-omong, aku harus kembali ke kantor dulu. Mobilku masih terparkir di sana."


"Kamu ceroboh sekali sih! Harusnya tadi kamu membiarkanku pulang sendiri saja!"


"Kakimu pincang begitu mana mungkin bisa setir. Sudahlah aku pergi dulu nanti aku balik lagi ke sini lanjut mengobatimu lagi."


"Kalau begitu, kamu teruskan saja obati lukaku sampai tuntas baru kembali ke kantor daripada kamu mondar mandir ke sini."


"Ya sudah deh, aku di sini terus sampai kamu puas baru aku pergi."


Hans melanjutkan mengobati luka kakinya Fina sampai tuntas lalu kembali ke kantor untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir di sana.


Aku membuatkan kopi untuk Adrian yang dibuat dari biji kopi. Walaupun sudah pulang kerja, ia tetap masih melanjutkan pekerjaannya hingga larut malam. Aku memasuki ruang kerjanya dan menaruh segelas kopinya di atas meja kerjanya.


"Kopi untukmu, Sayang."


"Terima kasih, Sayang." Adrian tersenyum manis padaku sambil meminum kopi buatanku.


Aku menarik kursi yang bersandar di dekat jendela menuju belakang kursi kerjanya. Kemudian aku memeluknya dari belakang dengan manja.


"Aku sedang menyalurkan energi di tubuhku untukmu. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu."


Adrian berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang menatapku tersenyum manis.


"Aku jadi semakin bersemangat kerja berkat energi darimu."


"Tapi sebentar lagi aku mau mandi. Tidak masalah?"


"Tidak masalah, lebih baik kamu mandi sekarang daripada terserang flu."


"Kalau begitu aku mandi dulu, ya, nanti aku lanjut menemanimu bekerja."


Usai membersihkan diri, aku kembali ke kamarku dan mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutku. Adrian menghampiriku mengambil hair dryer yang ada pada tanganku dan mengibaskan rambutku yang basah ini.


"Biar aku saja yang mengeringkan rambutmu."


"Sudahlah, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu itu."


"Ish sesekali aku harus beristirahat dong! Aku juga bosan kalau hari ini kerja terus dari pagi sampai malam." Adrian tersenyum nakal lalu sengaja mengacak-acak rambutku seperti singa.


"Saayaang!"


"Rambutmu lucu sekali sekarang." Adrian tertawa usil sambil memegangi perutnya.


"Kamu sengaja, ya, mengeringkan rambutku supaya bisa mengacak rambutku yang indah ini!" ketusku menatapnya tajam sambil berkacak pinggang.


"Nanti juga kamu bisa menyisirnya kembali," lontarnya santai.


"Dasar kamu selalu saja iseng!" Aku memalingkan kedua mataku dan melipat tanganku di dada.


"Iya deh nanti aku rapikan untukmu."


"Tidak usah!" tolakku mendengkus kesal.


Adrian mematikan hair dryer kemudian mengambil sisirku di atas meja rias lalu menyisir rambutku perlahan. Raut wajahku langsung berubah drastis menjadi tersenyum mengambang. Sejujurnya aku suka sih kalau Adrian sengaja melakukan itu supaya ia bisa menyisirkan rambutku.


"Penny, kalau kamu suka rambut indahmu itu disisir olehku bilang saja secara langsung, tidak usah pakai ngambek segala," bisiknya dekat daun telingaku.


"Aku biasa saja," balasku berlagak jual mahal.


"Coba kamu lihat cermin sekarang! Ekspresimu itu beda jauh dengan ucapanmu barusan."


"Wajahku biasa saja!" Aku terus menyangkalnya sampai tidak tahan lagi menahan senyumanku.


"Tuh kan, dasar pembohong!" ketusnya menjitak kepalaku pelan.


"Aduh!"


"Karena kamu berani membohongi suamimu sendiri, kamu pantas mendapat hukuman dariku!"


Adrian menarik tanganku kemudian menghempaskan tubuhku terbaring di atas ranjang.


"Adrian, apa yang kamu lakukan?" tanyaku sedikit gugup menelan salivaku berat.


"Siap-siap menerima hukuman dariku!" Adrian memainkan jari jemarinya sambil menggerakkan leher.


"Jangan yang aneh-aneh deh hukumannya!"


"Aneh gimana maksudnya." Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku menyunggingkan senyuman nakal.


"Itu ...."


"Itu apa? Jawab yang benar dong!"


"Itu ...."


"Karena kamu tidak bisa menjawabnya, aku akan memberi hukumannya sekarang!"


Adrian menggelitik tubuhku membuatku tertawa sampai sakit perut dan juga wajahku merah merona.


"Adrian! Sudah hentikan geli ini!" tawaku tertawa geli.


"Tidak mau! Aku mau menggelitikmu sampai aku puas!"


"Aduh geli! Adrian, kamu tega sekali sih padaku.


"Bodoh amat!" ejeknya menjulurkan lidahnya.


Aku tertawa tanpa henti-hentinya sampai napasku sedikit sesak. Aku sengaja melebihkannya supaya ia melepaskanku.


"Adrian, aku serius nih! Napasku sudah mulai sesak!"


"Hah?"


Adrian menghentikan aksinya lalu membantuku duduk bersandar pada sandaran ranjang. Ia duduk tepat di sebelahku lalu mendekapku.


"Penny, apa napasmu masih sesak? Maaf, ya, aku tidak bermaksud membuatmu kesakitan."


"Aku tadi hanya berpura-pura," balasku terkekeh tersenyum nakal.


"Iih aku serius! Aku takut melihatmu begitu tadi."


"Aku sengaja begitu supaya bisa menggelitikmu sekarang!"


Aku melepas dekapannya lalu menghempaskan tubuhnya terbaring di atas ranjang dan mulai membalasnya akibat perbuatannya itu. Kali ini ia yang tertawa terbahak-bahak sampai rasanya ingin menggelitikku juga. Tapi aku menahan kedua tangannya supaya tidak bisa bermacam-macam denganku.


"Peennyy!"


"Kenapa? Sekarang kamu tahu kan gimana rasanya aku tadi."


"Ampun, Penny! Aku sudah tidak kuat lagi!"


Aku tidak memedulikannya dan terus melanjutkan aksiku sampai aku lelah.


Keesokan harinya karena hari libur, kami main bersama Victoria. Aku menggendong Victoria kemudian menaruhnya di atas ranjang. Sedangkan Adrian membawa berbagai mainannya menaruh semuanya di atas ranjang.

__ADS_1


"Victoria, main sama papa, yuk!"


Victoria tidak menghiraukannya lalu merangkak menuju arahku dengan senyuman lebar.


"Tuh Victoria lebih memilih bermain bersamaku daripada kamu," ledekku.


"Victoria kok gitu sih! Masa papamu ini dicuekin! Kalau begitu papa ambil mainan kesukaanmu saja deh."


Adrian mengambil mainan rattle dengan sengaja menggoyangkannya.


Cring..cring..cring..


Victoria dengan respon merangkak menuju Adrian.


"Anak pintar!" Adrian meletakkan rattle itu membiarkan Victoria memainkannya sendiri.


"Oh iya, sekarang kan ada acara TV kesukaannya. Aku akan membawanya ke ruang tamu."


"Tapi dia masih mau main."


"Victoria, kamu mau main atau mau nonton?" tanyaku kepadanya.


Victoria masih memainkan rattlenya lalu aku menggendongnya menuju ruang tamu. Aku menekan remote TV itu dan memilih saluran TV khusus untuk anak-anak. Sambil memainkan rattlenya, Victoria juga menonton acara TV tersenyum lebar. Sedangkan aku dan Adrian juga ikut menontonnya bersama sambil memeluk anak kami dengan hangat. Di tengah acara TV itu berlangsung, Victoria mulai memejamkan matanya perlahan kemudian tertidur pulas.


"Aku akan menggendongnya ke kamar," ucapku.


"Tunggu sebentar!"


Adrian menggendong Victoria sebentar mencium dahinya dengan lembut.


"Tidur yang nyenyak, Putriku."


Adrian menyerahkan Victoria kepadaku kemudian aku menggendongnya menuju kamar dan meletakkan di ranjang bayi. Aku kembali ke ruang tamu lagi menghampiri Adrian yang sedang menonton berita. Ketika menonton berita itu, ia sangat resah dan mematikan TV langsung.


"Kenapa kamu mematikan TV?" tanyaku duduk di sebelahnya.


"Aku takut, Penny."


"Takut kenapa?"


"Belakangan ini sering ada berita tentang perselingkuhan. Apalagi saat kamu menyelidiki kasus yang berkaitan dengan perselingkuhan, aku jadi semakin takut rasanya," ujarnya merangkulku erat.


"Apa ... mungkin kamu takut aku akan berselingkuh darimu suatu hari nanti?" tanyaku ragu.


"Aku takut kamu akan seperti wanita yang kamu tangkap itu. Kalau suatu hari nanti seandainya aku kehilangan pekerjaanku atau kamu sudah bosan denganku gimana. Lalu kamu menganggapku pria yang tidak berguna lagi gimana?"


"Adrian, tatap mataku sekarang."


Adrian menurutiku lalu menatapku dengan serius. Aku menyentuh pipinya dengan kedua tanganku mengukir senyuman khasku.


"Sekarang ekspresiku gimana?" tanyaku lembut.


"Kamu tersenyum bahagia."


"Adrian, aku tidak mungkin berselingkuh darimu. Aku tidak pernah menganggap kamu itu suami yang payah. Sudah setahun kita menikah, tapi perasaanku tidak pernah berubah terhadapmu. Apa kamu lupa? Cinta kita berdua itu selalu abadi. Kalau seandainya aku cerai denganmu, aku harus melepas cincin pernikahan ini yang selalu melekat di jari manisku. Tapi aku tidak mau. Aku tidak suka! Aku tidak bisa hidup tanpa cincin ini. Bahkan saat aku sedang mengandung Victoria, di saat berat badanku meningkat drastis, aku terus memakainya walaupun jariku terluka sampai membekas hingga sekarang. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Adrian. Jadinya kamu jangan pernah memikirkan hal yang aneh lagi deh."


"Penny ...."


"Selain itu, sekarang yang melengkapi kebahagiaan kita adalah anak kita Victoria. Aku tidak mungkin berpisah dengan kalian berdua demi keegoisanku. Aku hanya ingin memiliki anak kalau ayahnya itu adalah Adrian Christopher. Aku tidak mungkin mencintai lebih dari satu pria di dunia ini. Kamu adalah pria yang berbeda di antara semua. Mana ada pria di dunia ini yang rela merawat istrinya sedang sakit dan mengajukan cuti tanpa berpikir panjang. Lalu di saat aku sedang mengandung anak kita, kamu rela bolak-balik ke kantorku demi menjagaku terus dengan sabar. Pria yang terlihat sempurna hanyalah kamu Aku sungguh wanita paling beruntung di dunia ini memiliki suami yang sempurna dan sangat perhatian padaku."


"Aku rela melakukan itu karena aku sangat mencintaimu, Penny."


"Maka dari itu, aku tidak akan pernah melepas cincin pernikahan kita yang langka ini. Bahkan saat aku sedang bekerja, aku selalu menjaga benda berharga ini dengan baik."


"Aku jadi teringat di saat kita sedang memilih cincin pernikahan kita," ucapnya sambil menyentuh jari manisku erpasang cincin pernikahan.


*****


Satu bulan sebelum pernikahan...


Aku dan Adrian sibuk menyiapkan pernikahan kami. Salah satunya adalah memilih cincin pernikahan kami. Adrian mengajakku ke toko perhiasan dan memilihkan cincin pernikahan untukku.


"Kamu suka yang ini tidak?" tanyanya sambil menunjuk salah satu cincin yang terpajang di etalase.


"Hmm entahlah. Aku coba dulu deh."


"Tolong keluarkan cincinnya untuk kami!" titah Adrian kepada salah satu penjaga toko.


Penjaga toko itu mengeluarkan cincin yang terpajang di etalase lalu Adrian memasangkan cincinnya pada jari manisku.


"Kamu suka tidak?" tanyanya lagi.


"Aku kurang suka model cincinnya."


Adrian memasangkan cincin lagi pada jari manisku, tapi aku masih merasa sedikit kurang dengan cincin itu. Padahal dilihat dari ukirannya, cincin yang ini terlihat bagus.


"Aku sebenarnya suka sama cincinnya tapi ada yang kurang saja," ucapku menautkan kedua alisku.


"Coba kamu pakaikan cincinnya untukku!"


Kali ini aku yang memasangkan cincinnya pada jari manisnya. Raut wajahnya datar seperti tidak ada sesuatu yang spesial.


"Aku tahu kenapa kamu merasa ada yang kurang dengan semua cincin telah kamu coba," ucapnya tersenyum cerdas.


"Apa itu? Apa karena aku terlalu cerewet?"


"Coba kamu pikirkan baik-baik di saat aku melamarmu waktu itu. Aku memasangkan cincin lamarannya pada jari manismu ini, gimana rasanya?"


"Waktu itu rasanya aku merasa sangat bahagia dan ada sesuatu yang istimewa dari cincin lamaran ini."


"Kamu tahu tidak? Cincin lamaranmu ini aku sengaja merancangnya khusus untukmu."


"Benarkah? Pantesan cincinnya terlihat indah sekali." Aku menatap cincin lamaran yang melekat pada jariku bersinar.


"Bagaimana kalau kita merancang khusus cincin pernikahannya? Aku ingin cincinnya berbeda dari yang lainnya dan hanya ada sepasang di dunia ini. Mau cari di toko perhiasan mana pun, tidak ada yang bisa menyamakan cincin kita karena ini adalah hasil rancangan dari kita berdua."


"Kamu romantis sekali, Adrian! Baiklah kalau begitu kita merancangnya bersama!"


*****


Kembali lagi di saat aku sedang mencurahkan hatiku kepada Adrian di ruang tamu.


"Pokoknya aku selalu mengingat bahwa Penny selalu miliknya Adrian dan begitu pula juga Adrian selalu miliknya Penny. Dibalik cincin nikah ini, ada ukiran inisial nama kita berdua juga. Hatiku hanya menerimamu saja."


"Dari dulu sampai sekarang, melebihi siapa pun hanya kamu yang bisa aku miliki di hatiku. Aku juga tidak mungkin berselingkuh darimu. Kalau sampai itu terjadi lebih baik aku mati saja daripada menghadapimu. Ibu dari anakku hanyalah Penny Patterson, wanita yang paling kucintai sepanjang hidupku. Hanya kamu yang boleh kusentuh dari ujung kepala sampai kaki dan juga selalu tidur bersamamu di ranjangku.


"Aku sangat mencintaimu, Adrian."


Aku mengecup bibirnya dengan singkat lalu melepasnya. Adrian menyentuh pelipisku lalu mencium bibirku dan mulai memainkan bibirnya, kali ini ia menguasai ciuman itu tanpa melepaskannya sedetik pun sambil meremas punggungku ini. Aku melingkarkan kedua tanganku pada lehernya dan juga mulai memainkan aksi itu dalam durasi agak lama. Ia melepas tautan bibirnya sebentar dan mengangkat tubuhku menggendong seperti anak kecil sambil menyalakan sebuah instrument kesukaannya untuk menenangkan pikirannya di saat sedang stress berjudul "Forever In Love - Kenny G".


Adrian melanjutkan aksi ciuman itu lagi tanpa adanya jeda sambil menggendongku menuju counter pantry. Aku duduk di atas counter itu dan masih melanjutkan aksi manisnya. Ia menghentikan aksi itu sejenak lalu mengelus pipiku lembut.


"Aku menginginkannya lagi. Aku sangat mencintaimu sampai rasanya aku kecanduan melakukannya terus," ucapnya kemudian mulai memainkan bibirnya lagi dan tangannya terus meraba tubuhku.


Aksi ciuman ini semakin terasa romantis jika dilengkapi dengan iringan instrument itu ditambah Adrian melakukannya semakin penuh cinta. Aku sangat menikmatinya sampai rasanya tidak akan melepasnya begitu saja. Bahkan kalau seandainya ada kurir pengiriman barang atau teman-teman mengunjungi ke sini di situasi sekarang, kami tetap tidak memedulikannya sama sekali. Sekarang ini dunia terasa milik kami berdua saja. Kecuali kalau anak kami menangis tiba-tiba barulah menghentikannya.


Adrian memberi jeda dan mengecup bibirku dengan sekilas lalu aku juga membalasnya mengecupnya dengan sekilas juga, begitu terus kami saling menghujani ciuman pada bibir dengan gelak tawa bahagia menghiasi suasana romantis.


"Kalian begitu terus saja sampai besok, nikmati sepuasnya," ucap Maia tiba-tiba.


Suara ibu membuat kami berdua menghentikan aksinya lalu aku kembali berdiri sikap sempurna. Kami berdua sangat terkejut ketika orang tua kami mengunjungi kami secara tiba-tiba hingga mata kami terbelalak.


"Anak zaman sekarang kalau sudah cinta mati begini deh jadinya. Tidak memedulikan orang di sekelilingnya. Bahkan kita yang sudah tiba di sini sejak dua menit yang lalu saja mereka tetap tidak menyadarinya," ledek Randy tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayah harusnya kalau mau berkunjung itu hubungi aku dulu dong!" tegur Adrian mencebik kesal.


"Memangnya kenapa harus hubungi kamu dulu? Kamu kan anak ayah sendiri, untuk apa hubungi anak sendiri kalau ingin berkunjung."


"Kan siapa tahu kalau aku, Penny, dan Victoria tidak ada di dalam gimana. Nanti ayah bisa tunggunya lama!"


"Tenang saja. Lagi pula ayah, Peter, dan Maia kan tahu kode aksesnya."


"Ish ayah ini mengganggu suasana saja!" ketus Adrian mengerucutkan bibirnya.


"Sudah kuduga kamu kesal karena kami mengganggu kalian yang sedang sibuk bermesraan."


Lagi-lagi Adrian bersikap berlebihan, terpaksa aku mengalihkan perbincangan penuh kecanggungan sekaligus penasaran dengan ibu.


"Omong-omong, ibu ngapain berkunjung ke sini?" tanyaku mengalihkan pembicaraannya.


"Kami ingin bermain dengan cucu kesayangan kami. Walaupun hampir setiap hari kalian menitipkannya pada ibu, kamimasih belum puas main dengannya," jawab Maia.


"Oh iya, selain itu juga ibumu bawakan telur dadar gulung kesukaan kalian berdua nih," sambung Peter sambil membukakan tempat makanannya dan menaruhnya di atas meja makan.


"Asyik telur dadar gulung! Memang ibu yang terbaik deh!" sorak Adrian memeluk ibu dengan hangat.


"Sini biar aku yang memindahkannya ke piring." Aku mengambil sebuah piring dan memindahkan telur dadar gulung satu per satu.


Adrian langsung mengambil sumpitnya dan mencicipi telur dadar gulung menikmatinya sampai tersenyum mengambang.

__ADS_1


"Mmm memang telur dadar gulung buatan ibu yang terbaik!" puji Adrian terkagum mengacungkan jempolnya.


"Kamu manis sekali sih Adrian setiap memuji masakkan ibu," balas Maia tersenyum sendiri.


Sedangkan aku sibuk melahap telur dadar gulungnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Begitu pula Adrian yang terus melahapnya seperti singa kelaparan. Kemudian sekarang tersisa satu saja, aku ingin mengambilnya dengan sumpitku tapi keburu direbut Adrian.


"Itu punyaku, Adrian! Kembalikan padaku!"


"Aku duluan yang mengambilnya jadi aku yang dapat!" ledeknya sambil memainkan telur dadar gulung itu untuk menggodaku.


"Ish padahal aku yang melihatnya duluan!"


"Tetap saja aku yang mengambilnya duluan, siapa cepat dia dapat!" ledeknya lagi.


"Iya deh aku mengalah." Aku mendengkus pasrah dan meletakkan sumpitku di atas piring.


Adrian menyuapiku tiba-tiba sambil mengelus kepalaku lembut.


"Aku mana mungkin tidak memberikannya padamu. Apa pun yang kamu inginkan akan aku selalu memberikannya padamu."


"Kenapa sih aku punya suami gemas begini!" Aku mencubit pipinya terus.


Sedangkan Peter, Maia, dan Randy menatap tingkah kegemasan itu dari sofa ruang tamu.


"Mereka ini sama saja tidak berubah sejak dulu," ujar Maia.


"Sikap mereka berdua masih saja kekanak-kanakan. Tapi lebih baik begini daripada mereka bertengkar," lanjut Randy.


"Rasanya aku lega melihat mereka berdua begini terus tanpa bertengkar sekali pun. Apalagi sejak setahun lalu mereka menikah, mereka selalu hidup bahagia begini dan juga menghasilkan keturunan," tutur Peter tersenyum lebar.


"Mereka pasti sangat lelah ketika mengurus anaknya. Di saat setelah pulang kerja, mereka sibuk mengurus anaknya tanpa mengenal lelah," tambah Randy.


"Bagaimana kalau kita memberi mereka kebebasan sekarang? Kita yang merawat Victoria," usul Maia.


"Ide yang cemerlang, Maia!" puji Peter.


Lalu ibu menghampiri kami berdua sedang asyik di meja makan.


"Kalian berdua pergi berkencan saja, biar ibu yang menjaga Victoria di sini."


"Tapi ibu sudah menjaga Victoria hampir setiap hari, apa ibu tidak lelah mengurusnya?" tanya Adrian.


"Ibu malah senang merawat cucu ibu sendiri. Sudahlah kalian berdua bersenang-senang saja."


"Terima kasih, Bu," ucapku memeluk ibu.


Aku dan Adrian bersiap-siap mengganti pakaian kami. Lalu kami berdua berpamitan dulu kepada ayah, ibu, dan juga ayah mertuaku.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada ide terlintas di pikiranku saat melihat sebuah toko kue.


"Sayang, bagaimana kalau kita membuat kue cokelat bersama? Jadinya kita belanja dulu bahan-bahannya baru nanti buat kuenya," tawarku.


"Tapi kita kan belum pernah buat kue bersama."


"Kamu tidak mau?"


"Bukan begitu. Nanti kalau kuenya tidak enak gimana."


"Temanku pernah memberikan resepnya padaku. Tenang saja kuenya pasti enak."


"Baiklah kalau begitu kita akan membuatnya nanti sesuai keinginanmu."


Setibanya di pusat perbelanjaan, kami menuju suatu supermarket untuk berbelanja bahan keperluannya seperti telur, susu, buah strawberry, bubuk cokelat, tepung, dan masih banyak lagi. Setelah itu, Adrian mengajakku makan siang bersama di restoran tempat ia melamarku dulu.


Setibanya di sana, kami berdua tidak sengaja bertemu dengan Nathan dan Tania saat memasuki restoran itu.


"Penny, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di tempat begini," sapa Tania memelukku.


"Aku jarang bertemu denganmu tanpa sengaja di hari libur begini," sahutku ramah.


"Omong-omong, kalian biasanya makan di sini?" tanya Adrian berbasa-basi.


"Tidak juga. Kebetulan saja hari ini kami ingin makan siang di sini. Lagi pula restoran ini latarnya sangat romantis, cocok sekali untuk makan berdua sama istriku," jawab Nathan merangkul tangan Tania.


"Erhan ada di mana? Aku rindu melihat wajah gemasnya nih," tanyaku.


"Ibuku yang mengurus Erhan di rumah," jawab Nathan.


"Oh, sama dong. Ibuku juga merawat Victoria dan membiarkan kami berdua menghabiskan waktu bersama," balasku.


Sementara itu, Fina dan Hans juga mendatangi restoran dan menghampiri kami semua.


"Wah, akhirnya aku bertemu dengan kalian semua deh di sini!" sapa Hans bertepuk tangan.


"Tumben kamu makan di restoran begini," balas Adrian bermalasan.


"Iya dong. Aku dan Fina sesekali harus mencoba makan di sini," ujar Hans berlagak sombong.


"Kalian semua baru makan di sini pertama kali. Sedangkan aku dan Penny pernah makan di sini sebelumnya. Selain itu, aku juga melamarnya di sini," tutur Adrian yang berlagak sombong juga sambil merangkul tanganku mesra.


"Dasar sombong, Adrian!" ketus Hans.


"Ini pembalasan akibat kalian semua membuat istriku iri melihat kemesraan kalian di kantor," ledeknya balik.


"Kalau iri bilang deh," ledekku juga tersenyum nakal.


"Sudahlah, aku lapar nih! Sebaiknya kita makan saja, Hans," rengek Fina manja.


"Ya sudah, kita makan saja daripada menghadapi mereka semua." Hans menggandeng tangan Fina memasuki restoran.


Kami semua berpencar menuju tempat duduk masing-masing dan menyantap makan siangnya. Sedangkan aku dan Adrian duduk di kursi yang sama dengan waktu itu.


"Aku jadi teringat di saat kamu melamarku di sini. Kamu sengaja memilih kursi ini dan juga menu makanannya sama dengan waktu itu, 'kan," ucapku tersenyum girang.


"Tempat ini sangat bersejarah untuk kita berdua. Di mana hati kita berdua bersatu secara permanen."


"Tapi ingat kamu tidak boleh memesan wine! Ini masih siang."


"Iya aku tahu. Kalau sampai aku mabuk, nanti tidak bisa bermain bersamamu dan Victoria."


Setelah makan siang, kami berdua kembali menuju kediaman kami. Ayah, ibu, dan ayah mertuaku sedang sibuk bermain dengan anakku.


"Bagaimana dengan kencan kalian?" tanya Randy.


"Kami hanya berbelanja dan makan siang romantis," jawabku.


"Bagiku, semua kegiatanku bersama dengan Penny itu adalah kencan dan yang pasti sangat menyenangkan."


"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu, ya. Kami tidak akan mengganggu kalian lagi," pamit Peter.


"Kami pergi dulu, ya," pamit Randy.


Mereka meninggalkan kami bertiga sendiri di sini. Sedangkan aku mengeluarkan bahan yang tadi dibeli dan juga alat untuk membuat kue. Adrian bermain bersama Victoria sejenak dan menidurkannya. Kemudian kami memulai membuat kuenya bersama dimulai dari membuat adonannya. Sambil membuat kuenya, Adrian memelukku dari belakang dan menyentuh kedua tanganku. Di tengah pembuatan kuenya, Adrian juga sengaja bermain bersamaku untuk memperindah suasana seperti mencolek adonan kuenya mengenai pipiku, begitu pula aku mencolek adonan tepungnya mengenai pipinya tertawa bahagia. Kami berdua melakukannya seperti itu terus dari awal hingga akhir.


Setelah menghabiskan waktu 2 jam, kami mencicipi kue buatan kami pertama kalinya. Pertama ia menyantap kuenya dan menikmatinya sejenak.


"Bagaimana rasanya? Apakah gagal?" tanyaku penasaran.


"Mmm enak sekali. Aku tidak menyangka kita bisa buat kue selezat ini. Coba kamu cicip deh!" Adrian menyuapi kuenya untukku.


"Kamu benar. Rasanya lebih nikmat kalau dibuat oleh kita berdua sendiri."


"Lain kali, kita tidak usah membelinya lagi. Biar aku yang membuatkannya untukmu saja."


"Jangan! Aku maunya membuat kuenya bersamamu."


"Supaya kamu bisa manja denganku ya seperti tadi," balasnya tersenyum nakal.


"Kamu ini tahu saja."


"Nanti sore kita main bersama Victoria di taman, gimana?"


"Boleh juga. Sesekali kita mengajaknya main di taman."


Sore harinya, Adrian mengajakku dan Victoria menghabiskan waktu bersama di taman kota. Kami menghampiri sebuah ayunan taman dan mendudukinya. Adrian mendekapku dan Victoria dengan hangat sambil menggoyangkan ayunannya. Victoria terus tertawa di saat ayunan itu bergerak.


"Adrian, aku senang memiliki keluarga ini bersamamu. Bahkan Victoria saja sangat bahagia setiap kali bermain bersama kita."


"Aku ingin anak kita nanti bahagia terus sampai seterusnya. Apalagi kamu, Penny. Aku pasti akan membuatmu dan Victoria bahagia terus."


"Coba kamu ayunkan lagi, Adrian! Sepertinya Victoria makin senang!" titahku tersenyum bahagia.


"Victoria, papa ayunkan lebih kencang lagi, ya, supaya kamu tertawa terus."


"Ayo, Papa Adrian!"


"Ini membuktikan aku sangat mencintai Penny Patterson dan juga Victoria Anastasia."


Adrian mengayunkannya lebih kencang lagi tertawa bahagia, begitu juga denganku dan Victoria menikmati momen keluarga bahagia ini bersama.

__ADS_1


-The End Of Season 1-


Kisah romansa Penny dan Adrian masih akan terus berlangsung bahagia, mari simak season 2 dijamin buat tambah baper.


__ADS_2