
Adrian membisikkan idenya kepada Yohanes dengan mendekatkan wajahnya pada daun telinga Yohanes. Yohanes hanya meresponnya menganggukkan kepalanya terus sambil menyimaknya dengan serius.
"Jadi kamu mengerti ideku, 'kan?" tanya Adrian memastikannya.
"Kalau kamu mau bertindak begini, sepertinya sangat menyenangkan. Selama aku bekerja sebagai seorang jaksa, aku jarang sekali melakukan ini."
"Hufft! Semuanya saja kamu anggap menyenangkan. Memangnya ideku barusan kamu anggap seperti permainan?"
"Bukan permainan sih. Tapi seru saja ini seperti terjadi dalam adegan drama misteri," tawa Yohanes terkekeh.
"Ish kamu tidak usah berlagak menyamakan drama kesukaanmu denganku dan Penny!" sungut Adrian menjitak kepalanya Yohanes.
"Apa? Penny suka drama misteri juga? Wah, ternyata aku dan dia lumayan memiliki kesukaan yang sama!" sorak Yohanes kegirangan.
"Dia suka nonton film horror juga sepertiku walaupun dulu saat aku ajak berkencan dengannya, dia ketakutan sampai memelukku seperti bonekanya sepanjang nonton filmnya."
"Wah, aku juga suka nonton film horror tuh! Bagaimana dengan film romantis? Pasti dia suka dengan film romantis, kebanyakan wanita suka nonton genrenya romantis," seru Yohanes berkedip matanya.
"Nah kalau film romantis sih dia kurang suka yang terlalu berlebihan. Penny suka menonton film romantis kalau ada cerita misterinya juga. Kalau genrenya pure romance dia tidak terlalu suka sama sepertiku," jelas Adrian bernada sombong.
"Wah memang aku dan Penny juga cocok sebenarnya! Aku juga kurang gitu suka nonton film pure romance," seru Yohanes lagi semakin heboh tersenyum mengambang.
Adrian menatap sebal melipat kedua tangannya di depan dadanya. Apalagi mendengar rekannya satu ini semakin menyebalkan, membuat batas kesabarannya hampir habis.
"Yoohaanees!"
"Apa, Adrian?"
"Mau aku robek mulutmu itu?"
"Memangnya kenapa? Genre film kesukaanku juga sama dengan Penny," sahut Yohanes memasang raut wajah polosnya.
"Ish tidak boleh ada pria lain yang menyamakan kesukaannya apa pun itu dengan istriku!"
"Dasar, Adrian! Kamu egois sekali sih kalau sudah menyangkut masalah wanita! Sudahlah mendingan kamu jujur saja bahwa sekarang kamu sedang cemburu," celoteh Yohanes sengaja menyenggol lengannya Adrian.
"Untuk apa aku cemburu! Lagi pula juga kamu sudah menikah sejak lama jadinya aku sedikit tenang."
"Hmm kalau begitu nanti setelah kasus ini berakhir, aku ingin mengajak Penny dan juga istriku nonton bersama di bioskop. Aku memilih tempat duduk di tengah supaya bisa mengamati Penny dan istriku bersamaan," gurau Yohanes tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut.
"Kamu mau mati?" Adrian menatap tajam seperti sedang ingin menerkam sambil menendang kakinya.
"Aduh, Adrian! Padahal aku cuma bercanda tapi kamu bersikap berlebihan begini. Jangan bilang kamu memperlakukan semua lelaki sama sepertiku kalau istrimu sedang berduaan dengan pria lain!"
"Tidak hanya itu saja! Kalau sampai ada pria lain yang menyentuh Penny, aku akan mematahkan tulangnya supaya tidak berani berbuat macam-macam dengannya lagi! Karena kamu adalah teman dekatku saja jadi aku tidak mungkin melakukan hal kejam itu padamu."
"Iih kamu ternyata seram juga, ya, kalau sudah marah."
"Ya sudahlah, kamu tidak usah banyak mengeluh lagi dan ikut denganku menjalankan misi."
Yohanes memutar bola matanya bermalasan melangkahkan kakinya lesuh mengekori Adrian dari belakang menuju pintu ruangannya. Adrian membuka pintunya perlahan dengan celahnya sedikit mengawasi pergerakan Carlos diam-diam. Sedangkan Yohanes juga ingin mengintip tapi tertutup oleh tubuhnya Adrian. Ia sedikit mendorong tubuhnya Adrian geser ke samping hingga hampir saja menimbulkan suara.
"Ish kenapa kamu mendorongku!" bisik Adrian.
"Habisnya aku juga ingin mengintip tapi tertutup oleh tubuhmu yang besar."
"Makanya kamu harus makan yang banyak supaya tumbuh besar sepertiku."
"Cih memangnya aku ini sedang dalam masa pertumbuhan! Bicara sih gampang, ya! Lagi pula postur tubuh kita hampir sama, ya. Berlebihan sekali!"
"Sstttt!"
Adrian membungkam mulutnya Yohanes dengan jari telunjuknya ketika Carlos mulai melakukan pergerakannya. Carlos menempelkan ponselnya pada daun telinganya sedang berbincang dengan seseorang dengan raut wajahnya yang serius. Sedangkan Adrian berusaha mendengar percakapannya lewat teleponnya namun suaranya tidak terdengar jelas.
"Apa mungkin Carlos sedang berbicara dengan pelakunya?" Yohanes melontarkan pertanyaannya tiba-tiba.
"Ish mulutmu ini memang tidak bisa diajak kerja sama!" sungut Adrian memukuli mulutnya Yohanes pelan.
"Ya sudah deh aku diam lagi."
Mereka melanjutkan mendengar perbincangannya Carlos dengan penelepon misterius. Hanya berdurasi singkat, Carlos mengakhiri panggilan teleponnya lalu bergegas melangkah keluar dari ruang investigator timnya. Adrian dan Yohanes langsung mengikuti Carlos dari belakang secara diam-diam tanpa dicurigai anggota tim investigator lainnya. Seketika Carlos sedang menekan tombol liftnya, mereka berdua bersembunyi di balik tembok sambil memantau pergerakannya lagi.
"Sebenarnya Carlos ini mau ke mana sih?" tanya Yohanes mulai penasaran.
"Sudahlah kamu tidak usah banyak tanya dan fokus ikuti dia terus."
__ADS_1
Ketika pintu lift terbuka lebar, Carlos memasuki liftnya sambil mengamati sekelilingnya. Adrian dan Yohanes dengan sigap berlari menuju lift tersebut saat pintu liftnya tertutup rapat.
"Sepertinya dia menuju basement. Kita harus menaikki lift sebelah segera," kata Adrian.
Ting...
Kebetulan di saat yang bersamaan pintu lift sebelah terbuka lebar. Adrian dan Yohanes bergegas memasuki liftnya bersama dan menekan tombol lift menuju basement.
Saat pintu lift terbuka lebar lagi, Adrian dan Yohanes berlari menuju lahan parkir. Hampir saja mereka berdua tertangkap basah dengan Carlos saat ia sedang melajukan mobilnya menuju pintu keluar.
"Ayo kita naik mobilmu sekarang!" ajak Adrian terburu-buru.
"Lho kenapa kamu yang memerintahku jadinya?"
"Sudahlah tidak usah cerewet! Kamu hanya menuruti perintahku saja!"
Yohanes menghentakkan kakinya kasar sambil menekan tombol alarm mobilnya dari kejauhan. Mereka berdua memasuki mobilnya bersamaan lalu Yohanes menginjak pedal gasnya dalam mengikuti mobilnya Carlos dari belakang.
Di tengah perjalanan melakukan pengejarannya, Carlos melajukan mobilnya semakin cepat hingga membuat Adrian semakin geram pada Yohanes yang menyetir mobilnya tidak kebut.
"Ish kamu ini bisa nyetir tidak sih!" hardik Adrian mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tidak usah cerewet deh kalau menjadikanku sebagai sopir pribadimu! Padahal kamu sendiri juga bisa menyetir kebut!"
"Sudahlah kamu tidak usah banyak bicara cepat kejar Carlos. Jangan sampai kamu kehilangannya!"
"Kamu paling pintar memerintah orang. Sedangkan kamu sendiri enak hanya duduk diam seperti raja!" ketus Yohanes penuh emosi sambil menginjak pedal gasnya semakin mendalam.
"Bahkan istriku lebih andal kalau menyetir kebut daripada kamu."
"Wah, ternyata istrimu ini memang sungguh wanita sempurna! Rasanya aku ingin--"
"Jangan membicarakan istriku lagi! Fokus pada pekerjaan sekarang!"
Kali ini Yohanes mulai menyetir seperti orang gila. Dari tadi ia menyalipkan mobilnya dengan mobil lain tanpa peduli mobilnya hampir tertabrak dengan yang lainnya. Lalu pada akhirnya ia berhasil mengejar mobilnya Carlos dan melajukan mobilnya seperti orang normal lagi.
"Aduh aku sebenarnya sudah tidak sabaran dari tadi! Carlos ini mau ke mana sih? Sepertinya dia akan pergi ke tempat persembunyian pelakunya," oceh Yohanes menggarukkan kepalanya.
"Dilihat dari cara menyetirnya yang sedikit ugal-ugalan, sepertinya dia memang sedang ingin berkunjung ke tempat persembunyian pelakunya. Apalagi tadi saat dia meninggalkan kantornya dan juga memasuki lift, wajahnya penuh dengan kegelisahan," pikir Adrian bertopang dagunya dengan tatapan curiga.
Namun persepsi mereka berdua sepertinya salah. Tiba-tiba Carlos memberhentikan mobilnya di pinggir jalan lalu melangkah keluar dari mobilnya memasuki sebuah restoran. Sedangkan Yohanes langsung menginjak pedal remnya memarkirkan mobilnya di pinggir jalan juga.
"Ini aneh sekali. Kenapa Carlos tiba-tiba mengunjungi restoran ini? Apa mungkin dia sedang lapar?" tanya Yohanes bingung.
"Aku pun juga tidak tahu kenapa dia bisa mengunjungi tempat ini padahal saat di kantor dia seperti sedang ingin bertemu dengan seseorang di luar kantor secara diam-diam."
"Jangan bilang kalau Carlos bertemu dengan pembunuhnya di dalam restoran itu!" Raut wajah Yohanes mulai memucat dan menelan salivanya berat.
"Bisa juga pemikiranmu itu benar! Kalau begitu kita harus masuk ke restoran itu sekarang!"
Ketika Adrian dan Yohanes baru menggenggam gagang pintunya, Carlos menampakkan dirinya sambil membawa sekantong plastik berisi makanannya memasuki mobilnya. Carlos menekan tombol starter mobilnya lagi melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sementara Adrian dan Yohanes semakin mencurigai pergerakannya sekarang. Yohanes kembali melajukan mobilnya melanjutkan pengintaiannya.
"Ini aneh sekali. Dia pergi ke restoran itu hanya beli makanan. Lalu kenapa tadi di kantor raut wajahnya penuh gelisah, ya?" tanya Yohanes semakin bingung.
"Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya dari kita. Pokoknya kita harus tetap memantaunya terus."
"Mungkin Carlos membelikan makanan untuk pembunuhnya. Bisa juga pembunuhnya tidak berani menginjakkan kakinya keluar dari rumahnya takut tertangkap oleh polisi," lanjut Yohanes mulai berspekulasi aneh.
"Kamu ini ada-ada saja pemikiranmu barusan! Mana mungkin sih pembunuhnya memerintahkan Carlos untuk membelikan makanan!" celoteh Adrian.
"Ih bisa juga pemikiranku itu benar!"
"Omong-omong, mobilnya Carlos masuk ke dalam basement rumah sakit itu," ucap Adrian menunjuk mobilnya Carlos.
Yohanes segera membelokkan mobilnya memasuki basement rumah sakit itu mengambil karcis parkirnya. Lalu Yohanes memarkirkan mobilnya di belakang mobilnya Carlos. Sedangkan Carlos melangkah keluar dari mobilnya sambil membawa bungkusan makanannya.
"Hmm sebenarnya Carlos mau ngapain sih di rumah sakit ini?" tanya Yohanes lagi.
"Apa mungkin ada kerabat atau keluarganya Carlos yang sedang dirawat di rumah sakit ini, ya?"
"Coba saja kita mengikutinya lagi!"
Adrian dan Yohanes bergegas mengikuti Carlos lagi dari belakang. Ketika Carlos memasuki liftnya, Adrian dan Yohanes bergegas mengamati lantai yang ditujunya. Lalu secara kebetulan lagi pintu lift sebelah terbuka, Adrian dan Yohanes memasuki lift itu menekan tombol lantai lift yang dituju Carlos.
Ketika pintu lift terbuka secara lebar, Adrian dan Yohanes melangkahkan kakinya sedikit cepat kembali melanjutkan pengintaian Carlos lagi secara diam-diam. Langkah kaki Carlos terhenti tepat di depan suatu ruangan lalu memasukinya. Adrian dan Yohanes mengintip di depan ruangan itu mengamati Carlos sedang menjenguk seorang ibu tua yang sedang terbaring di ranjang pasien.
__ADS_1
"Yohanes."
"Benar perkataanmu, Adrian. Carlos mengunjungi rumah sakit ini karena ibunya sedang sakit parah," desah Yohanes lesuh.
"Tapi yang masih mengganjal dalam pikiranku dari tadi kenapa dia menyembunyikannya dari kita? Kenapa dia tidak memberitahukannya langsung kepada kita?"
"Hmm mungkin bisa juga dia tidak ingin kamu memarahinya karena sering keluar dari kantor." Yohanes mengernyitkan alisnya.
"Ish aku mana mungkin bersikap kejam gitu sih! Kalau ini alasan sebenarnya selama ini dia suka berkeliaran di luar kantor tanpa memberitahu kabarnya kepadaku, aku tidak akan memarahinya."
"Kalau aku jadi dirimu juga tidak akan memarahinya sih."
"Masa sih? Waktu itu dia tidak mengetuk pintu ruanganku saja kamu sudah menegurnya habis-habisan apalagi dia sering keluar dari kantor tanpa memberitahu kita kabarnya."
"Itu beda cerita. Kalau ini kan karena orang tuanya sakit. Masa iya anaknya tidak merawat orang tuanya dengan baik."
Sontak pintu kamar itu terbuka lebar. Adrian dan Yohanes tersentak kaget hingga hampir terjatuh ke belakang mengamati Carlos sedang melangkah keluar dari ruangan itu menghampiri mereka berdua.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Carlos bingung.
"Itu ... karena Adrian yang mengajaknya," jawab Yohanes gelagapan bergegas mendorong tubuhnya Adrian pelan.
"Ish dasar teman pengkhianat!" ketus Adrian menatap sebal.
"Aku tahu kalian dari tadi mengikutiku diam-diam dari belakang."
Adrian dan Yohanes bergeming bingung ingin menjelaskannya seperti apa. Apalagi raut wajahnya Yohanes mulai memucat.
"Kami ke sini mengikutimu karena mencemaskanmu," ucap Yohanes sedikit gugup.
"Untuk apa kalian mencemaskanku?"
"Habisnya kamu sering keluar dari kantor tanpa meminta izin kepadaku dulu," jawab Adrian datar.
"Apa mungkin kalian menganggapku sebagai kaki tangan pelaku makanya kalian mengikutiku terus dari tadi?" tanya Carlos dengan tatapan curiga.
Lontaran perkataan Carlos barusan membuat Adrian dan Yohanes seperti terkena sambaran petir. Terutama Yohanes yang sibuk membacakan doanya dalam batinnya yang terdalam.
"Sepertinya begitu. Kalian tidak menjawabku sama sekali," tambah Carlos.
"Jadi apa benar kamu bekerja sebagai kaki tangannya pelaku?" selidik Adrian mulai kembali serius.
"Sebaiknya kita jangan membicarakan ini di sini."
Carlos menuntun Adrian dan Yohanes menuju atap rumah sakit. Setibanya di sana, Carlos melangkahkan kakinya lesuh lalu membalikkan tubuhnya menghadap Yohanes dan Adrian untuk melanjutkan pembicaraannya yang sempat terpotong tadi.
"Jadinya kalian sungguh menganggapku adalah kaki tangan pembunuh?" tanya Carlos mempertegasnya.
"Iya benar. Kalau bukan itu memangnya apa lagi. Kamu selalu bertindak mencurigakan di dalam kantor dan juga satu-satunya orang yang bekerja dekat denganku adalah kamu juga. Waktu itu saat aku sedang diincar oleh pelakunya, pasti itu ulah perbuatanmu, 'kan. Sebaiknya kamu mengaku saja, Carlos! Sekarang kamu tertangkap basah oleh kami!" tegas Yohanes dengan tatapan tajam.
"Kalian ini sungguh memiliki mata yang tajam seperti elang, ya."
"Selagi kami masih berbuat baik padamu sebaiknya kamu berkata jujur saja pada kami sebelum kami memperlakukanmu dengan buruk!" lanjut Adrian.
"Kalian sungguh tidak melihat faktanya terlebih dahulu sebelum bertindak! Itulah kenapa aku selalu bertindak secara diam-diam di belakang kalian!"
"Jadinya kamu sungguh memberikan informasi mengenaiku kepada pembunuhnya?" selidik Yohanes.
"Katakan yang sejujurnya, Carlos!" celetuk Adrian mulai geram.
Sedangkan di sisi lain, ketika aku baru saja keluar dari kamar kecil, seorang petugas kebersihan tidak sengaja memecahkan sebuah pot kecil hingga pecahan potnya tersebar ke mana-mana. Aku bergegas menghampiri petugas kebersihan tersebut membantunya membersihkan serpihan pecahan potnya. Petugas kebersihan itu menatapku langsung memberikan hormat kepadaku.
"Biar aku saja yang membantumu membersihkannya," tawarku tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa. Biar aku saja yang membersihkannya sendiri. Lagi pula ini juga akibat tindakan cerobohku yang menyenggol potnya sampai pecah," tolak petugas kebersihan itu halus.
"Tidak usah malu-malu. Lagi pula juga saat ini aku sedang tidak terlalu sibuk. Sebaiknya aku membantumu saja supaya pekerjaanmu cepat terselesaikan."
"Terima kasih."
"Wah, ternyata kepala detektif andalan kantor polisi ini baik sekali, ya!" puji Inspektur Danny tiba-tiba menampakkan dirinya.
"Aku biasa saja. Kamu tidak usah berkata berlebihan," sahutku merendah menunduk malu.
"Yang pasti aku sebagai atasanmu sangat bangga memiliki bawahan sepertimu. Ya sudah, kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi," ujar Inspektur Danny menepuk pundakku lagi lalu melangkahkan kakinya memasuki ruang kerjanya.
__ADS_1
Sedangkan aku kembali melanjutkan membersihkan serpihan pecahan pot itu. Namun di antara semua serpihan dan tanah yang berceceran, aku menemukan sebuah chip misterius terjatuh di atas lantai.