Good Partner

Good Partner
Part 44 - Persaingan yang Ketat


__ADS_3

Keringat dinginnya mulai mengalir di sekujur tubuhnya hingga tangannya mulai gemetar sekarang. Tangan kanannya meraih tangan kiriku dari belakang supaya ia bisa menenangkan dirinya. Namun sebenarnya aku bingung dengan situasi saat ini. Tidak seperti biasanya Adrian bersikap seperti ini, padahal ia merupakan tipe pria cuek terhadap segala hal.


"Sudah lama kita tidak berjumpa, Adrian," sapa Fina tersenyum ramah.


Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana Fina bisa mengenal Adrian?


Mulutku terbuka lebar. "Kalian saling mengenal?"


"Dulu kami berteman saat kuliah," jawab Adrian bermalasan memalingkan mata dari Fina.


Untungnya Fina bukan mantan pacar Adrian, sehingga aku merasa sedikit lega. "Begitu rupanya."


"Ternyata kamu sudah memiliki kekasih, sangat disayangkan. Padahal dulu saat aku menyatakan perasaanku padamu, kamu menolakku dengan mentah," sambung Fina dengan nada sombong sambil menyantap makanannya.


Mendengar perkataan Fina membuat perasaanku sangat tidak enak. Aku merasa seperti terganggu karena kehadirannya dan takut Fina akan merebut Adrian dariku suatu hari nanti. Aku berinisiatif mempererat genggaman tanganku supaya Adrian tidak akan pernah meninggalkan aku.


Adrian menghembuskan napas kasar. "Fina, sebaiknya hentikan!"


Fina meminum segelas bir, lalu membanting gelas dengan kasar di atas meja. "Kenapa kamu sampai sekarang masih tidak menyukaiku? Sedangkan saat aku bertemu dengan sekarang kamu punya kekasih!"


"Maaf Fina, sebenarnya aku dari dulu tidak memiliki perasaan padamu sama sekali. Perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kamu harus menyerah sekarang!" ujar Adrian terlihat tegas tapi sebenarnya ia sangat gugup saat menyentuh tanganku dengan gemetar.


"Pokoknya aku masih tidak rela melihatmu berbahagia bersama Penny!"


"Sudah cukup, Fina! Penny adalah satu-satunya wanita yang paling kusayangi. Jangan pernah menyakiti hatinya!" Adrian merangkul pundakku dengan mesra hingga membuat Fina semakin terbakar api cemburu.


Senyuman bahagia terukir pada wajahku setelah mendengarkan ucapan Adrian. Aku sengaja menyandarkan kepalaku dengan manja supaya Fina tidak akan berani membentak Adrian.


Sedangkan Nathan dari tadi sudah merasa tidak nyaman dengan atmosfer di restoran ini akibat kami berdebat kelamaan, ia memikirkan cara mengalihkan perbincangan mencekam ini. "Sudahlah daripada kita berdebat mengenai masa lalu, lebih baik kita lanjutkan menyantap makanannya lagi!"


Hans kesal bukan karena tidak nyaman mendengar perdebatan, tapi justru ia cemburu karena Fina menyukai Adrian. Ia berpura-pura berwajah polos menuangkan segelas bir untuk Fina. "Omong-omong Fina, aku dengar kamu dipindahkan dari kantor pusat."


"Iya benar."


"Kenapa begitu? Bukankah bekerja di kantor pusat lebih enak daripada di kantor cabang kecil seperti ini?"


"Aku dipindahkan ke sini karena katanya kantor cabang ini untuk divisi kalian kekurangan satu anggota jadinya aku dipindahkan. Lalu kalian juga pasti membutuhkan detektif yang cerdas sepertiku, 'kan." Fina sengaja menatapku remeh membuatku rasanya ingin menjambak rambutnya kasar.


Aku berlagak percaya diri menatapnya tajam. "Oh, begitukah? Kalau begitu aku jadi tidak usah menyelidiki kasus ini dengan susah payah karena ada bantuan darimu juga."


"Selain itu kita bisa berkencan dengan bebas setiap hari, Penny," sambung Adrian sambil mengelus kepalaku gemas.


"Benar juga! Aku rindu berkencan denganmu, Adrian." Aku memasang wajah cemberut dan memanyunkan bibirku.


"Aish, mulai lagi deh mereka berpacaran tidak mengenal tempat!" sungut Nathan menggelengkan kepalanya.


Fina hanya bisa tersenyum paksa akibat terbakar api cemburu dikompori terus. "Tadi aku hanya bercanda. Aku senang bekerja sama dengan detektif cerdas sepertimu, Penny!"


"Sudah, ayo kita mengisi perutku kita hingga penuh! Besok kita harus bekerja lagi," ujar Tania dari tadi sibuk menyantap makanannya dan tidak peduli dengan perdebatan kami.

__ADS_1


Perutku sudah kenyang sekarang akibat menyantap banyak makanan. Kami semua berpamitan pulang ke rumah kami masing-masing. Kini hanya tersisa aku, Adrian, dan juga Fina yang masih berada di luar restoran.


"Aku pamit pulang dulu ya, sampai bertemu besok Penny. Semoga kalian berbahagia terus!" pamit Fina meninggalkanku dan Adrian berjalan menuju mobilnya dengan gaya terlihat angkuh membuatku semakin geram rasanya.


Aku mengambil napas dan membuangnya perlahan supaya aku bisa kembali tenang. Sepertinya sekarang aku memiliki persaingan yang baru dan ketat. Tidak akan kubiarkan Fina merebut Adrian dariku.


Sementara Adrian menatapku yang sedang geram, ia menenangkanku dengan menggenggam tanganku. "Kamu masih marah?"


Aku masih mengepalkan tanganku dengan sebal, meski aku mulai sedikit tenang berkat sentuhan cinta tangan Adrian. "Sebenarnya aku ingin menjambak rambutnya sekarang juga! Sikap dia sangat sombong membuatku geram terus!"


Dahi Adrian mengernyit. "Ini aneh sekali, dulu sewaktu aku berteman dengannya, sikapnya tidak seperti ini."


"Mungkin dia cemburu karena kamu sekarang sudah memiliki aku jadinya dia sengaja memamerkan kecerdasannya hingga membuatku emosi seperti ini."


Adrian mencium keningku mendalam dalam durasi sedikit lama hingga hatiku kembali terasa tenang berkatnya. Sentuhan hangatnya saat ini, aku bisa merasakan ia sedang berusaha menenangkanku. Ia mendekapku hangat sambil mengusap kepalaku lembut.


"Tenang saja hatiku tidak akan tergoyah karena sikapnya. Karena kamu satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupku selain kedua orang tuaku."


"Adrian...."


Bibirnya mendarat di keningku lagi. "Akan kupastikan kamu adalah kekasih pertama dan terakhirku. Aku pasti bisa mempertahankan hubungan kita yang sudah sangat dekat sekarang."


Aku tersipu malu, mengelus punggung lebarnya pelan. "Setiap kamu menggombalku, kamu membuatku ingin terus bermanja denganmu!"


Adrian melepas pelukan. "Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu pulang ke rumah saja."


"Tapi aku masih mau bersamamu terus," rengekku manja seperti anak kecil.


Aku mendesah lesu setelah menanggapi nasihatnya. Tapi aku tetap harus menurutinya. Aku juga tidak ingin merepotkannya lagi, sedangkan besok ia harus kembali bekerja juga.


"Baiklah, aku akan menuruti perintahmu yang cerewet ini. Lagi pula besok aku harus mengunjungi rumah temannya korban dari kasus ini." Sejenak aku membersihkan debu yang melekat pada jasnya.


"Mulai besok kamu harus berwaspada! Kamu harus ajak temanmu menemanimu!"


"Tenang saja, aku akan mengajak Fina untuk menemaniku besok," balasku dengan santai.


"Apa? Kamu ingin mengajaknya? Kenapa?"


Barusan suaranya membuat gendang telingaku hampir pecah, menyebalkan! Karena ia kekasihku, aku harus menjawabnya dengan lembut.


"Dia sendiri tadi bilang bahwa dia detektif yang cerdas, jadinya aku membutuhkannya membantuku selidiki kasus ini."


"Tapi nanti kamu merasa tidak nyaman. Bagaimana kalau dia menyakiti perasaanmu lagi seperti tadi?"


Aku menampakkan senyuman percaya diri menyentuh pundaknya dengan kedua tangan. "Tenang saja, urusan pribadi tidak akan bercampur dengan urusan pekerjaan."


Adrian memutar bola mata. "Baiklah aku tidak memaksa kehendakmu. Tapi kalau sampai dia berani menyakitimu lagi, kamu harus melaporkannya padaku. Biar aku yang memarahinya."


"Tenang saja aku tidak akan membiarkannya menyakiti perasaanku lagi. Lagi pula aku adalah wanita yang kuat menghadapi masalah kecil begini."

__ADS_1


Adrian mencium pipiku. "Inilah salah satu alasan aku menyukaimu, Penny. Aku sangat menyukai wanita yang selalu terlihat kuat di mataku dan tidak mudah ditindas."


"Ish tapi kamu sangat mencemaskanku setiap saat sejak dulu!"


"Aku mencemaskanmu karena aku tidak ingin kamu terluka di hadapanku."


Keesokan paginya, aku berangkat ke kantor terlebih dahulu untuk mengajak Fina mengikutiku ke rumah Emma.


Di kamar kecil, setelah aku buang air kecil, Fina sedang mencuci tangannya sambil bercermin merapikan dirinya.


"Fina, aku ingin meminta bantuanmu."


"Apa itu?" Fina mengambil tisu untuk mengelap tangannya yang basah.


"Nanti maukah kamu ikut denganku mengunjungi rumah Emma?" ajakku sebenarnya gugup.


"Boleh saja, kenapa tidak. Aku malahan berharap kamu mengajakku untuk pergi denganmu," sahut Fina dengan nada sombongnya lagi.


Aku menepuk pundaknya. "Baiklah, kalau begitu setelah aku cek emai nanti, kita akan pergi bersama ke sana."


Aku menghampiri meja kerjaku dan membuka komputerku terlebih dahulu. Ternyata ada notifikasi email yang masuk lalu aku segera membuka *e*mail itu dari tim forensik mengenai hasil autopsi mayat Maria. Hasil autopsi itu adalah ada kerusakan rongga tulang leher yang cukup parah hingga ligamennya pecah dan membuat patah tulang leher tapi tidak ditemukan sidik jari pelaku yang mencekiknya. Sudah kuduga persepsiku benar dengan melihat luka memarnya waktu itu.


Fina memandangi layar monitorku dengan fokus. "Apakah hasil autopsinya sudah keluar?"


"Hasilnya itu ada kerusakan rongga tulang lehernya sudah pasti itu dicekik seseorang dengan sengaja."


"Baiklah, kalau begitu kita pergi ke rumah Emma sekarang!" ajak Fina terburu-buru mengambil kunci mobil yang ditaruh di meja kerjanya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya sampai juga di rumah Emma. Aku menekan bel rumahnya sebanyak tiga kali.


Tak lama kemudian, Emma keluar dari rumahnya melihatku dengan tatapan bingung.


"Kalian siapa?"


"Kami adalah detektif. Kami akan menginterogasimu mengenai kasus kematian teman dekatmu itu, harap kerja samanya," jawabku ramah.


Emma mempersilakanku dan Fina memasuki rumahnya. Di ruang tamunya banyak sekali foto terpajang Emma bersama Maria yang terlihat sangat akrab.


"Apa kalian berdua dulu sangat dekat?" tanyaku berbasa basi terlebih dahulu sambil menyentuh salah satu bingkai foto.


"Itu dulu, sekarang aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya."


"Kata ibunya Maria, terakhir kali dia melihatmu dan Maria sedang bertengkar hebat di depan rumah Maria," pungkas Fina tersenyum sinis.


"Itu ... karena masalah pribadi lain," jawab Emma mulai gugup.


"Tapi jika kalian berdua bersahabat kenapa kalian berdua bertengkar sampai melukai diri?" Fina mengucapkannya dengan tajam seperti pisau silet.


"Suka-suka aku dong! Kalau orang bertengkar memangnya tidak boleh saling melukai!" ketus Emma mulai kesal.

__ADS_1


Sudah kuduga Fina akan menjadi pengacau jika aku mengajaknya. Rasanya aku ingin membentaknya tapi mustahil aku melakukannya di hadapan Emma. Aku mendekatkan bibirku pada daun telinganya. "Fina, sebaiknya kita jangan membicarakan ini perlahan dulu."


"Jika kamu berkata seperti itu, bisa jadi kamu tersangka utama kasus ini!" tukas Fina menatap Emma dengan tajam hingga membuat Emma ketakutan.


__ADS_2