Good Partner

Good Partner
Part 92 - Eternal Love


__ADS_3

Empat bulan kemudian...


Aku memiliki jantung lain di dalam diriku sekarang. Tentu saja itu adalah jantung bayiku yang ada di dalam kandungku. Aku sudah mengandung anakku selama 7 minggu berarti hampir memasuki 2 bulan. Selama hampir 2 bulan ini walaupun aku sering mengalami morning sickness, akan tetapi aku tetap bahagia menghadapinya demi anakku. Selama aku sedang hamil, pekerjaanku di kantor tidak terlalu berat dan hanya sekedar mengarahkan dan mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh anggota timku saja.


Hari ini adalah hari ulang tahunku. Tahun ini adalah tahun yang spesial bagiku karena ini pertama kalinya aku bangun dari tidurku langsung disambut suami tercintaku berada di sisiku dan juga bayi di dalam kandunganku.


"Selamat ulang tahun, Istri kesayanganku," sambutnya mencium pipiku lalu membantuku duduk bersandar pada sandaran ranjang.


"Senangnya pagi-pagi begini diucapin suamiku."


"Anakku, ayo ucapkan selamat ulang tahun untuk mama," bisiknya mendekati perutku.


"Anak kita pasti mendengar perkataanmu barusan."


"Aku akan memasakkan sup untukmu. Kamu tidur dulu saja, Sayang."


"Tidak mau. Aku maunya masak denganmu!" tolakku keras kepala.


"Kamu sedang hamil. Kamu jangan terlalu banyak bergerak."


"Pokoknya aku mau masak!" rengekku seperti anak kecil sambil menggoyangkan lengannya.


"Hmm ya sudah deh apa boleh buat. Tapi kalau tidak sanggup jangan memaksakan dirimu, ya."


"Suamiku memang baik deh!" seruku memeluknya dengan manja.


"Demu kesayanganku."


Seperti biasa sejak aku hamil, setiap hari aku tidak lagi sarapan nasi omelet. Akan tetapi, aku sarapan sup asparagus untuk menjaga kesehatanku. Aku memakai celemekku lalu mulai membersihkan sayurnya. Sedangkan Adrian terus mengawasiku sambil mendekapku dari belakang takut aku mengalami mual lagi. Untungnya di saat hari ulang tahunku, aku tidak mengalami itu. Setelah selesai memasak, aku menghidangkan supnya di atas meja makan.


"Sup asparagus spesial untuk kita berdua sudah siap disantap," ucapku menampakkan senyuman ceriaku.


"Masakan istriku selalu yang terbaik!" pujinya mengacungkan jempolnya untukku.


"Padahal kamu lebih jago memasak daripada aku."


"Tidak. Kita berdua yang jago memasak."


"Mulai lagi kamu memujiku berlebihan."


"Nanti anak kita dijamin ketagihan makan masakan kita berdua."


"Iya bahkan walaupun bayi kita masih di dalam perutku, dia makannya sangat rakus sampai aku kelaparan," lontarku sambil mengelus perutku pelan yang masih kurus.


"Nanti aku akan memasak banyak makanan untukmu selama kamu mengandung anak kita supaya bayinya kuat saat lahir nanti."


"Sebaiknya kita harus cepat habiskan supnya, nanti kita bisa terlambat ke kantor."


Setelah selesai sarapan, kami bersiap-siap terlebih dahulu. Rutinitas setiap pagi aku selalu membantunya mengikat dasinya.


"Kamu sudah terlihat sempurna, Sayang."


"Sayang, aku ingin memberimu hadiah yang bermakna," ucapnya menyunggingkan senyuman nakalnya.


"Apa itu?"


Adrian memelukku dengan erat lalu mencium bibirku dengan manis. Aku terus memejamkan mataku dan memeluk punggungnya dengan mesra untuk menikmatinya. Kemudian ia melepas tautan bibirnya sejenak dan mencium keningku sekilas. Lalu ia melanjutkan aksi ciumannya lagi membuatnya kecanduan sampai aku terdorong jatuh duduk di atas ranjang. Setelah durasi cukup lama, aku melepas ciuman itu karena baru menyadari bahwa kami bisa terlambat kerja jika melanjutkannya terus hingga mataku terbelalak.


"Kenapa kamu melepasnya?" tanyanya sedikit kecewa sambil mengusap bibirku agak basah.


"Kamu gimana sih! Mau sampai kapan kita begini terus. Nanti kita bisa terlambat!" gerutuku memukuli lengannya pelan.


"Oh iya. Aku sampai lupa dengan itu," balasnya sambil menepuk jidatnya.


"Sudahlah, ayo kita berangkat sekarang!" Aku mengambil jas kerjanya lalu memakaikan untuknya.


"Tapi apakah kamu sanggup kerja? Kemarin itu kamu terus mual sampai aku harus menjemputmu pulang di saat aku bekerja," tanyanya dengan ragu.


"Tenang saja. Hari ini tidak akan terjadi apa-apa. Sejak tadi bangun aku tidak mual. Kamu tidak usah mencemaskanku, fokus kerja saja," jawabku tersenyum percaya diri sambil menyentuh pundaknya dengan kedua tanganku.


"Kalau terjadi sesuatu, kau harus menghubungiku, ya. Aku pasti akan menjemputmu pulang walaupun aku sibuk."


"Aduh, jangan terlalu memaksakan diri, Sayang! Aku bisa menyuruh Fina atau siapa pun mengantarkanku pulang."


"Pokoknya kamu harus selalu ingat untuk tidak terlalu bekerja dengan keras."


"Iya, sudah pasti aku selalu menurutimu."


"Ayo kita berangkat sekarang!" ajaknya menggandeng tanganku.


Sesampainya di kantor, aku turun dari mobilnya Adrian dan mulai merasa sedikit mual lagi. Tapi aku harus menahannya dan harus kuat di hadapan anggota timku semua supaya mereka tidak melaporkannya kepada Adrian.


"Pagi semua," sapaku ceria.


"Yang ulang tahun senang banget sih hari ini. Apa mungkin Adrian melakukan sesuatu denganmu?" tanya Nathan menyipitkan matanya menatapku curiga.


"Hari ini dia biasa saja," jawabku dengan wajah polos padahal tadi kami berdua sempat berciuman mesra.


"Aneh sekali. Biasanya kalau istri ulang tahun pasti suaminya kasih hadiah atau kejutan di pagi hari," lanjut Nathan lagi mengernyitkan alisnya.


"Maksudmu itu kejutan seperti apa, ya?" tanyaku balik bingung.


"Seperti kasih kado atau apa pun gitu," ujar Fina tiba-tiba menghampiriku.


"Hmm Adrian tidak melakukan itu tadi pagi."


"Masa sih? Bukankah dia selalu memberikan apa yang kamu inginkan?" tanya Fina sambil berkacak pinggang.


"Dia hanya mengucapkan selamat ulang tahun saja," jawabku dengan lesuh.


"Adrian benar-benar parah sekali! Bahkan kalau istriku ulang tahun saja aku langsung memberinya kado di pagi hari," celoteh Nathan berlagak sombong.


"Ah, masa sih! Aku tidak percaya!" ketus Hans sedikit mengejeknya.


"Kalau tidak percaya, tanya saja pada istriku!" elak Nathan balik memelototinya dengan tajam.


"Tapi apa benar Adrian hanya bersikap biasa saja?" tanya Fina yang masih tidak memercayaiku.


"Iya. Dia tidak melakukan hal spesial lainnya," jawabku semakin mendesah lesuh.


"Hmm bisa saja mungkin dia akan memberimu hadiah saat pulang kerja nanti."


"Iya, lebih baik kamu berpikir positif saja," saran Hans tumben bersikap bijak padaku.


"Aku tidak mengharapkan hadiah darinya. Melihatnya di pagi hari sudah membuatku senang." ujarku dengan datar.


Sebenarnya aku tidak mengharapkan lebih darinya karena aku selalu menerima sesuatu darinya. Walaupun ia menganggap ciuman tadi pagi itu adalah hadiah darinya, aku sudah cukup senang. Yang penting ia sungguh mencintaiku sepenuh hatinya.


"Nanti aku akan mentraktir kalian makan siang."


"Kita makan di mana?" tanya Nathan.


"Tidak jauh dari kantor. Seperti biasa kita makan bersama di restoran oriental. Aku kan sedang hamil jadinya tidak boleh makan makanan sembarangan."


"Oh yang itu," jawab Nathan.


"Sudahlah sekarang kita fokus bekerja," ucapku mulai serius.


Sesuai dengan janjiku, siang harinya aku mentraktir semua anggota timku kecuali Tania yang saat ini sedang mengambil cuti akibat sedang hamil juga. Aku mengajak mereka semua makan di restoran oriental yaitu salah satu restoran langgananku makan bersama anggkta timku atau berdua dengan suamiku. Mereka semua memesan berbagai macam makanan yang enak sedangkan aku hanya memesan sayur-sayuran dan fuyunghai.


Sementara di sisi lain, sambil bekerja Adrian terus menatap jam tangannya. Jarum panjang menunjukkan angka dua belas, ia langsung membereskan berkasnya di meja kerjanya lalu memakai jas kerjanya serta mengambil tas kerjanya langsung meninggalkan ruang kerjanya.


"Penny, aku akan memberimu kejutan spesial. Aku yakin kamu pasti sangat menyukainya," gumamnya dalam hati tersenyum mengambang membayangkannya.

__ADS_1


Tak terasa hari sudah mulai gelap. Sekarang sudah waktunya aku pulang kerja. Aku menunggu suamiku menjemputku pulang di depan kantor sambil memandangi jam tangan. Tidak sampai 10 menit, Adrian menampakkan dirinya dan menghampiriku.


"Maaf ya. Kamu pasti menungguku lama."


"Tidak juga, aku baru saja di sini."


"Ayo, kita pulang sekarang!"


Selama perjalanan pulang, Adrian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak bilang ingin memberiku hadiah. Bahkan ia tidak menanyakan kondisiku saat ini. Apa mungkin ia ingin membalas dendamnya karena saat hari ulang tahunnya, aku membuatnya kecewa dulu.


Sejak turun dari mobilnya di basement dan menuju kediaman kami, ia tetap diam seperti ada masalah di kantor.


"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kamu dari tadi diam saja?" tanyaku mulai cemas.


"Tidak apa-apa."


"Kalau terjadi sesuatu, kamu harus bilang padaku. Tadi pagi sebelum berangkat kerja kamu masih bisa tersenyum ceria di hadapanku."


"Tidak ada masalah di kantor," ucapnya lagi sambil menekan kode akses kediamannya.


Aku memasuki kediaman kami dan melepas sepatuku. Pada saat bersamaan, Adrian menutupi mataku dengan kedua telapak tangannya tiba-tiba.


"Sayang, kamu sebenarnya kenapa sih?" tanyaku kebingungan melihat tindakannya saat ini.


"Sudahlah, kamu ikuti instruksiku saja."


Aku tidak bisa melihat apa pun sekarang. Aku hanya bisa mengikuti aba-abanya sambil berpegangan tangannya dengan erat. Lalu ia menghentikan langkah kakinya dan menyingkirkan telapak tangannya dari pandanganku.


"Surprise, Sayang!" serunya mencium pipiku.


Rasanya aku ingin menangis terharu melihat kejutannya. Ia memberiku kejutan banyak hadiah yang tergeletak di atas meja ruang tamu hingga aku berdecak kagum memandanginya dengan pandangan berbinar.


"Sayang, aku tidak menyangka kamu memberiku kejutan seperti ini!" seruku girang memeluknya erat.


"Aku pasti akan memberimu hadiah. Mana mungkin aku tidak memberimu hadiah untuk istri kesayanganku," balasnya sambil mengelus kepalaku lembut.


"Aku ingin membuka hadiahnya sekarang."


Adrian mengambil salah satu kotak hadiahnya dan memberikannya kepadaku.


"Coba deh buka yang ini!"


"Hmm isinya apa ya kira-kira? Sepertinya ringan sekali." Aku terus menggoyangkan kotak hadiah itu penuh penasaran.


"Buka saja sih!"


Aku menurutinya lalu membuka bungkusan kotak hadiah itu. Lalu setelah membuka bungkusannya, ada sebuah catatan kecil dan ternyata ini masih ada lapisan kotak lagi. Sebelum itu, aku membaca catatan kecil itu dalam hati.


"Happy birthday, My beloved Penny."


Apa ini? Catatannya hanya begitu saja? Sudahlah aku melanjutkan membuka bungkusan hadiahnya lagi. Setelah aku membuka bungkusan lapisan kedua, ada kotak lainnya lagi sehingga aku harus membukanya lagi dan membaca catatan kecil lainnya.


"Maaf ya kalau membuatmu repot buka hadiah ini."


Iya ini sangat repot. Bahkan aku sudah mulai kesal membukanya. Aku melanjutkan membuka kotaknya lagi dan ternyata masih ada dilapisi kotak lainnya lagi.


"Walaupun hadiahnya kecil tapi ini sangatlah berharga dan bermakna bagimu."


Aku membukanya lagi hingga tanganku sudah mulai pegal dan masih ada dilapisi kotak lagi hingga aku memutar kedua bola mataku bermalasan.


"Aku sangat menyayangimu, Penny. Aku mendoakan semoga kamu dan bayi kita akan sehat selalu sampai persalinan nanti."


Aku membuka kotaknya lagi dan masih ada kotak lainnya membuatku sudah mulai pasrah membukanya.


"Kamu akan menjadi seorang kepala detektif, istriku, dan ibu terbaik sepanjang masa, Penny. Apalagi aku sangat menyukai senyuman khasmu. Kamu bagaikan bintang paling bersinar terang di langit."


Kali ini aku membuka kotaknya dengan tanganku yang lincah lalu membaca catatan darinya lagi.


"Aku sangat mencintaimu, Penny. Aku harap cinta kita berdua akan selalu abadi."


"Kamu suka hadiahnya?" tanyanya sambil menggenggam kedua tanganku.


"Aku rasanya ingin menangis sekarang. Kamu niat sekali membungkuskan hadiahnya berlapis-lapis seperti ini spesial untukku dan juga menulis ucapannya satu per satu. Ungkapan yang kamu tulis semua pada lembaran kecil itu sangat menyentuh hatiku. Selain itu, kamu memberiku kalung yang sangat indah ini. Kamu romantis sekali, Adrian." Air mata haruku mulai mengalir dari kelopak mataku.


"Aku sampai memikirkan rencana ini jauh-jauh hari. Aku tidak ingin memberimu kejutan sama seperti pasangan lainnya. Mungkin ada yang bungkus hadiahnya sama sepertiku. Tapi aku ingin sedikit berbeda dengan mengungkapkan isi hatiku pada catatan kecil. Sekaligus membuktikan seberapa besar cintaku terhadapmu."


"Aku beruntung sekali memiliki suami sepertimu yang selalu memberiku kejutan berbeda dari lainnya."


"Sini aku pakaikan kalungnya untukmu."


Aku mengangkat rambutku dan membiarkannya memakaikan kalungnya pada leherku. Lalu ia mencium keningku manis mendalam.


"Kalungmu itu hanya ada satu-satunya di dunia ini. Aku sengaja merancang dan memesannya secara khusus dari jauh-jauh hari demi kamu. Kalung langka ini hanya boleh dipakai oleh istriku yang langka juga. Setiap kali kamu memakai kalung ini, aku ingin kamu selalu mengingatku di mana pun kamu berada walaupun aku tidak berada di sisimu. Selain itu, kalung ini menandakan bahwa Adrian Christopher akan selalu setia menemanimu dan selalu ada di hatimu setiap saat."


Air mataku terus mengalir membasahi pipiku, lalu ia secara spontan mengusap air mataku dengan jempolnya. Aku memeluknya dengan erat serasa tidak ingin melepaskannya bagaikan melekat seperti lem.


"Adrian, aku bingung ingin berkata apa lagi. Kamu sudah seperti batu berlian yang sangat langka di dunia ini. Hanya aku yang bisa menjaga batu berlian itu agar tidak musnah. Bagiku tidak ada satupun pria di dunia ini yang memiliki hati yang lembut sepertimu. Aku pasti akan menjaga kalung pemberianmu ini sampai aku tua. Sama seperti aku akan selalu menjagamu sampai selamanya."


"Sudahlah, Penny. Jangan membuatku ikutan menangis juga. Sebaiknya kamu membuka hadiah lainnya." Adrian mengusap air matanya mengukir senyuman bahagianya padaku.


Aku mengambil sebuah paper bag lalu membukanya, ternyata isinya adalah sekumpulan cokelat mahal.


"Adrian, kamu sungguh membelikan cokelat sebanyak ini untukku?" Aku memandangi bungkusan cokelat mahal dengan pandangan berbinar sambil menatap suamiku juga.


"Tadi sebenarnya aku mampir ke toko cokelat untuk membelikan beberapa cokelat untukmu. Aku tahu istriku ini sangat menyukai cokelat apalagi saat sedang hamil selalu merengek meminta cokelat dariku."


"Kamu satu-satunya yang bisa membaca isi pikiran dan hatiku."


Adrian menyalakan lilin di kue ulang tahunku sambil menyanyikannya untukku.


"Happy birthday to you."


"Happy birthday to you."


"Happy birthday to my lovely Penny."


"Happy birthday to you."


Setelah menyanyikan lagu itu, Adrian mengecup keningku dengan lembut.


"Ayo tiup lilinnya, Sayang!"


"Kamu juga harus meniupnya bersamaku karena kamu adalah bagian terpenting dalam hidupku."


"Baiklah, Sayang."


Aku memejamkan mataku sejenak lalu membuka mataku dan meniup lilinnya bersamaan dengan Adrian.


"Ayo, kita makan malam!" ajaknya menggandeng tanganku menuju ruang makan.


"Aku penasaran tadi kamu berdoa seperti apa."


"Sudahlah yang penting aku mau makan sekarang. Perutku sudah lapar dari tadi."


Di atas meja makan banyak sekali makanannya. Aku bahkan tidak bisa membayangkan aku bisa menghabiskan semuanya.


"Sayang, kamu yang memasak ini semua?" tanyaku berdecak kagum hingga mulutku terbuka lebar.


"Sebenarnya aku tidak memasak semuanya. Sup iga dan mie telur puyuh ini tadi aku beli di restoran. Aku mendengar bahwa sup iga itu sangat baik untuk kesehatan ibu hamil dan juga telur puyuh kaya proteinnya."


"Tapi aku belum tentu bisa menghabiskan semua makanannya.


"Tidak apa-apa. Nanti aku akan membantumu."

__ADS_1


"Sebelum itu, aku ingin potong kuenya dulu."


Aku mengambil pisau kecil lalu memotong kue blackforest nya menjadi beberapa bagian. Lalu aku mengambil sepotong kuenya dan menyuapinya.


"Mmm manisnya kalau disuapimu," ucapnya tersenyum manis.


"Suapi aku, Sayang," rayuku manja.


Adrian mengambil sepotong kuenya dan memasukkannya ke dalam mulutku.


"Kuenya semakin manis kalau disuapimu," ujarku tersenyum mengambang.


"Sudah, ya. Kita lanjutkan makan malamnya lagi."


Setelah selesai makan malam, karena banyak sekali piring kotor jadinya kami mencuci piring bersama. Sambil mencuci piring, aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya.


"Adrian, kamu tahu tidak? Hari ulang tahunku kali ini paling spesial di antara semuanya. Ini pertama kalinya aku dikasih kejutan istimewa seperti ini."


"Di antara semua hadiah, kamu paling suka yang mana?


"Aku paling suka hadiah yang ini. Adrian yang selalu menemaniku setiap saat," jawabku sambil menyentuh kalung pemberiannya.


"Sudah kuduga kamu pasti sangat menyukainya. Tapi biasanya wanita lain paling suka diberi hadiah bunga mawar. Malahan kamu tidak suka dikasih bunga."


"Kamu tahu perbedaan bunga mawar dengan kalung ini?"


"Apa itu?"


"Kalau kamu memberiku bunga mawar, lama kelamaan bunga mawar itu akan layu dalam beberapa hari dan akan dibuang begitu saja. Tapi kalung ini berbeda. Walaupun aku merawatnya setiap hari, kalung ini tidak akan rusak begitu saja. Aku bisa memakainya seumur hidupku dan akan selalu abadi. Sama seperti cinta kita berdua selalu abadi."


"Penny ...."


"Terima kasih kamu sudah memberiku banyak hal istimewa hari ini. Momen ulang tahunku hari ini, akan selalu kuingat sepanjang hidupku, merayakannya bersama suami yang paling kucintai."


Aku mencium bibirnya sambil memejamkan mataku sejenak dengan penuh cinta lalu aku melepas sentuhan bibirnya mengukir senyuman khasku padanya. Adrian merasa tidak puas dan mencium bibirku lembut dengan penuh kasih sayang dalam waktu yang lama, menikmatinya sampai rasanya ingin memelukku namun tangannya dipenuhi busa. Setelah durasi cukup lama, ia melepas tautan bibirnya lalu mencolek wajahku tiba-tiba sambil menertawaiku.


"Adriiaan!"


"Wajahmu itu lucu sekali." Adrian terus mencolek wajahku hingga wajahku ini dipenuhi sabun.


"Dasar! Aku akan membalasmu juga!"


Aku membalasnya dengan mencolek wajahnya juga.


"Peenny! Kenapa kamu merusak wajahku!" gerutunya sambil menyeka sabun pada wajahnya.


"Bodoh amat! Yang penting aku puas bermain denganmu," ejekku sambil menjulurkan lidahku.


"Kalau begitu aku ingin bermain bersamamu lebih lama lagi, Sayang." Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya mencolek wajahku terus tanpa memberi jeda.


Kami saling mencolek wajah dengan gelak tawa nakal dan bahagia menambah suasana romantis. Sekarang wajah kami dipenuhi dengan sabun akibat dari tadi perang sabun. Awalnya kami mencuci piring berujung menjadi bermain sabun.


Setelah mencuci piring dan membersihkan diri, kami berdua bersantai di sofa ruang tamu. Adrian membaringkan tubuhnya menjadikan pahaku sebagai bantalnya.


"Sayang, maukah kita pindah rumah saja?" tawarnya tiba-tiba.


"Kenapa? Aku suka tinggal di apartemen elit ini. Memangnya kamu ingin pindah ke mana?"


"Aku berencana ingin pindah ke penthouse yang lebih besar. Aku ingin tinggal di tempat yang lebih luas sehingga bisa melihat anak kita berlarian."


"Tapi biayanya mahal. Kalau kita jual apartemen ini, uangnya tidak akan cukup membeli penthouse."


"Menurutku tinggal di sini masih agak sempit."


"Tidak masalah. Aku tidak butuh tinggal di penthouse yang luas. Aku maunya tinggal bersamamu di sini saja sudah cukup bagiku. Selain itu, kita mau tinggal di mana pun, aku selalu hidup bahagia bersamamu," paparku sambil mengelus pipinya lembut.


"Aku mengerti. Kalau begitu aku tidak akan berencana untuk pindah lagi sesuai dengan keinginanmu."


"Kamu cukup memikirkanku dan bayi kita saja."


"Kalau begitu kita harus memikirkan nama anak kita dulu. Kamu ingin menamakan anak kita apa?"


"Hmm dipikiranku sih, aku ingin memberi nama Victoria kalau anak kita adalah perempuan."


"Kalau laki-laki?"


"Aku ingin memberi nama Victor."


"Kenapa kamu memberi nama dengan unsur Victor?"


"Victoria dan Victor keduanya berasal dari kata 'Victory' yang artinya kemenangan. Aku memberikan nama itu karena aku mengingat ketika pertama kali berpacaran, kamu mengajakku menjadi pacarmu di saat kita memenangkan kasusnya Pak Colin. Lalu kamu melamarku di hari kemenangan kasusnya Josh. Aku ingin anak kita akan selalu yang terbaik dan selalu menang di antara semua anak di dunia ini. Sama seperti kita berdua selalu memenangkan memecahkan setiap masalahnya. Selain itu, bagiku kamu selalu membawa kemenangan untuk keluarga kecil kita."


"Nama yang sangat indah. Aku berharap anak kita nanti akan menjadi anak yang cerdas seperti kita berdua. Kamu juga merupakan unsur terpenting dalam keluarga kecil ini yang selalu membawa kemenangan juga."


"Sudah pasti dong."


"Sudah lama kita tidak tiduran bersama di sofa. Sini tiduran bersamaku."


Aku menurutinya lalu bergabung dengannya tiduran di sofa. Adrian mendekapku dengan hangat sambil menepuk-nepuk punggungku sedangkan aku melingkarkan tangan kiriku di lehernya.


"Penny kesayanganku," ucapnya sambil menyentuh pipiku.


"Iya Adrian kesayanganku juga."


"Aku sangat tidak sabar menantikan kelahiran anak pertama kita nanti."


"Aku juga begitu."


Adrian mengelus perutku lalu mengecupnya penuh perasaan mendalam.


"Semoga anakku nantinya akan menjadi anak yang cantik atau tampan."


Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat. Untungnya selama proses kehamilanku selalu berjalan dengan lancar sampai persalinan. Akhirnya putri pertamaku keluar dari kandunganku dengan sehat. Sesuai dengan rencana awal, aku memberi nama putriku adalah Victoria Anastasia. Nama kedua Anastasia diawali huruf 'A' berasal dari nama Adrian.


Di saat anak kami berdua memasuki usia 2 bulan, Adrian mengajak kami semua untuk foto keluarga di studio foto.


"Bayiku yang cantik sepertinya tahu saja ingin difoto," ucapku sambil mengelus kepalanya.


"Karena anak kita sama sepertimu, kalau mau difoto pasti selalu tersenyum," balasnya menggendong Victoria menatapnya dengan pandangan berbinar.


Sekarang kami sudah siap pada posisinya. Aku dan Adrian menduduki sebuah sofa panjang sambil menggendong bayi kami bersamaan mengukir senyuman paling bahagia menghadap kamera siap untuk melakukan pemotretan.


Setelah melakukan sesi foto keluarga, Adrian mengajak kami semua pergi ke aquarium tempat ia pernah mengajakku dulu. Saat kami semua sedang mengelilingi aquarium itu, Victoria terus tersenyum ceria.


"Sayang! Lihat deh putri kita tersenyum bahagia!" seru Adrian menggendong Victoria.


"Victoria pasti sangat menyukai aquarium."


"Sepertinya senyumanmu itu mewarisi Victoria. Senyumannya sama sepertimu, Penny."


"Bentuk mata dan hidungnya Victoria juga mirip denganmu."


"Victoria, papa pasti akan selalu membuatmu tersenyum bahagia begini sama seperti mama. Papa sangat menyayangimu putri kesayanganku," ucapnya sambil mencium pipinya Victoria.


"Mama juga pasti akan selalu menyayangimu dan selalu mengabulkan keinginanmu. Mama sangat bahagia melihatmu selalu ceria, Victoria," ujarku juga mencium pipinya Victoria.


"Aku pasti akan melindungimu dan Victoria dalam situasi apa pun. Aku pasti akan melindungi dua harta berhargaku ini seumur hidupku," ucapnya dengan senyuman hangat.


"Aku juga akan melindungimu dan Victoria seumur hidupku. Aku ingin kita selalu hidup bahagia selamanya."


"Aku sangat mencintaimu Penny sampai selamanya."


"Aku juga mencintaimu Adrian sampai selamanya."

__ADS_1


Sambil menggendong Victoria, Adrian mencium keningku dengan manis lalu kami berdua mencium pipinya Victoria bersamaan dengan penuh kasih sayang. Aku berharap cinta kami berdua selalu abadi dan begitu juga keluarga kecil kita selalu bersama sampai kami menua.


__ADS_2