Good Partner

Good Partner
S2 : Part 41 - Something Strange


__ADS_3

Suasana di dalam kamar kembali canggung lagi membahas kasus pembunuhan yang sedang kami selidiki sekarang. Aku menghembuskan napasku kasar ketika mendengar laporan dari Yohanes barusan.


"Jadinya dia sungguh tidak mau mengakui perbuatannya?" tanyaku mempertegasnya.


"Bukan tidak mau mengakui sih. Lebih cenderung dia tidak mau diinterogasi anggota detektif timmu."


"Bahkan pengacara Leonard juga tidak mau membuka mulutnya?" tanya Adrian.


"Katanya dia ingin diinterogasi oleh kalian berdua saja. Ada sesuatu yang penting ingin disampaikan olehnya."


"Hmm sesuatu apa tuh sampai ingin membicarakannya kepada kita berdua saja?" Aku mengerutkan dahiku bertopang dagu.


"Menurut dugaanku sih bisa juga dia ingin menceritakan masa lalunya kepada kita," sahut Adrian.


"Aku sih tidak tahu saat ini dia berperan sebagai siapa. Yang pasti aku memberitahukan ini kepada kalian diam-diam karena anggota timmu menyuruhku untuk merahasiakannya dari kalian."


"Memangnya alasannya apa?" tanyaku penasaran.


"Kata Fina sih dia tidak mau mengganggu kebersamaan kalian berdua dulu."


Aku mendengarnya langsung menggelengkan kepalaku dan menepuk jidatku. Di saat seperti ini, mereka bahkan masih mementingkan momen kemesraanku dengan Adrian daripada kasus.


"Astaga, Fina! Di saat begini masih bisa memikirkan hal begituan."


"Tapi tidak apa-apa. Yang terpenting dia mengerti situasi kita sekarang," sahut Adrian santai.


"Ish pikiranmu hanya ingin bersenang-senang saja!" sungutku.


"Omong-omong, kapan kamu boleh keluar dari rumah sakit?"


"Empat hari lagi baru aku bisa bebas dari tempat ini."


"Ya sudah, semoga cepat sembuh, ya, Adrian." Yohanes bermaksud melontarkan perkataannya kepada Adrian namun tatapan matanya tertuju padaku.


Adrian mulai mencengkeram bantalnya erat ingin melemparkannya mengenai wajah Yohanes.


"Kamu berbicara padaku tapi kenapa kamu melihat Penny terus?" protes Adrian menatap sebal.


"Habisnya aku bosan melihatmu, Adrian!"


"Ish kalau begitu kamu ngapain menjengukku tiba-tiba dan merusak momen kebersamaanku dengan istriku!" sungut Adrian mengangkat bantalnya lagi.


"Kan aku bertujuan untuk memberitahukan informasi kepadamu."


"Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Yang terpenting sekarang kamu cepat keluar dari sini!" usir Adrian mengibaskan tangan kirinya.


"Ish kenapa kamu mengusirnya, Adrian! Dia kan teman baikmu sendiri!" celetukku memelototinya.


"Kamu parah sekali memperlakukanku tidak sopan! Padahal aku lebih tua darimu!"


"Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi! Aku malas melihat wajahmu sekarang!"


"Ya sudah, aku pergi sekarang deh," pamit Yohanes lesuh.


"Kamu mau pergi sekarang? Tinggallah di sini lebih lama lagi," ucapku lembut.


"Sayang! Kenapa malahan kamu menyuruhnya tetap di sini lebih lama?" tegur Adrian menatapku tajam.


"Kan tidak ada salahnya kalau kalian berbincang lebih lama lagi."


"Tidak apa-apa Penny. Aku tidak akan merusak momen kebersamaan lagi. Apalagi ini sudah malam waktunya bagi pasangan suami istri menghabiskan waktu bersama. Lagi pula aku harus pulang sekarang. Nanti dimarahi istriku."


"Baguslah kalau kamu menyadarinya. Sebaiknya kamu cepat pulang sekarang!" tegas Adrian.


"Aku pergi dulu, ya. Sampai jumpa Penny dan Adrian," pamit Yohanes melambaikan tangannya padaku.


Api cemburu dalam tubuhnya semakin membara. Ia menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya kasar.


"Yoohaneess! Mau aku robek mulutmu itu?" bentak Adrian emosinya membludak.


"Hehe maaf. Kalau begitu aku kabur dulu." Yohanes terburu-buru melangkah keluar dari sini.


Sementara aku menoleh pada Adrian menghentakkan kakiku kasar menghampirinya lalu mencubit pipinya sedikit bertenaga. Aku agak kesal melihat tingkah cemburunya sangat berlebihan.


"Aduh sakit, Sayang! Kenapa kamu mencubit pipiku?" keluhnya meringis kesakitan.


"Ini hukuman akibat kamu bersikap cemburu terlalu berlebihan. Masa iya kamu memperlakukan temanmu kasar begitu!"


"Habisnya aku sudah tidak tahan dengan tingkahnya semakin hari semakin keterlaluan setiap membicarakan tentangmu. Apalagi dia sengaja terang-terangan memperagakkannya di depan mataku sendiri!" Adrian mendengkus kesal melipat kedua tangannya.


"Kamu menggemaskan sekali sih kalau lagi cemburu!" ejekku tertawa terkekeh.


"Ini sudah malam. Kamu tidur dulu saja."


"Iya sih benar juga. Semalam aku hampir tidak tidur. Ya sudah deh, kalau begitu aku tidur di sofa saja. Selamat malam, Sayang."


Aku menduduki sofa di dekat jendela lalu menyelimuti tubuhku dulu. Namun Adrian mengamatiku dari kejauhan dengan raut wajah cemberutnya.


"Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa?" protesnya.


"Bukankah kamu sendiri tadi menyuruhku untuk tidur?" tanyaku balik.


"Aku menyuruhmu tidur tapi bukan tidur di sofa."


"Lalu aku harus tidur di lantai?"


"Aduh kenapa kamu tidak peka sih!" keluhnya kesal menggarukkan kepalanya.


"Habisnya kamu bicaranya tidak jelas sih. Kalau aku tidak boleh tidur di sofa atau di lantai, jadinya aku tidur di mana? Apakah aku harus tidur di langit-langit seperti ninja?" celetukku balik.


"Astaga, Sayang! Maksudku itu kamu tidur bersamaku sekarang!"


Aku memicingkan mataku membayangkan tidur di atas ranjang pasien yang sangat sempit itu membuatku bakal susah bergerak. Padahal biasanya aku tidur di ranjangnya yang luas sehingga aku bisa membolak balik tubuhku dengan leluasa. Sedangkan sekarang aku tidur seperti sedang diikat tali saja. Apalagi kondisi tubuhnya saat ini masih belum pulih total, tubuhnya bisa terasa pegal-pegal kalau tidur bersamanya sekarang.


"Tidak mau!" tolakku langsung.


"Memangnya kenapa? Kamu tidak suka tidur bersamaku?"


"Ish nanti tubuhmu sakit kalau aku tidur di sana juga! Lagi pula ranjang itu sempit sekali. Aku tidak terbiasa tidur di ranjang yang sempit," selorohku menyipitkan mataku.


"Tidak apa-apa. Pokoknya kamu harus menurutiku."

__ADS_1


Aku memutar bola mataku bermalasan menghampirinya menaikki ranjangnya lagi lalu membaringkan tubuhku dalam dekapan hangatnya. Adrian menaikkan selimutnya menutupi tubuhku hingga leher kemudian mengecup puncak kepalaku manis.


"Ish tidur di sini sempit sekali!" sungutku mengerucutkan bibirku.


"Yang penting aku bisa mengawasimu lebih dekat."


Aku mengelus pipinya lembut dan mengulum senyuman khasku.


"Kalau begitu aku juga tidak mau tidur. Aku ingin terus mengamatimu sepanjang malam."


"Jangan nanti kamu bisa sakit kalau tidak tidur. Biar aku saja yang terus mengawasimu. Lagi pula aku sudah tidur kelamaan sampai bosan."


"Tapi aku tidak ingin kamu menghilang dariku lagi ketika aku terbangun."


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu waktu itu. Tapi tenang saja aku tidak akan berbuat begitu lagi," sesalnya menunduk bersalah.


"Ish waktu itu kamu membuatku hampir serangan jantung saja!"


Rasa bersalah semakin timbul dalam diri Adrian. Apalagi ia baru mengingat sebuah janji yang diingkarkannya terpaksa.


"Selain itu, aku sebenarnya sudah berjanji denganmu bahwa seharusnya aku bermain bersamamu kemarin. Malahan aku terbaring di sini membuatmu menangis seharian. Maafkan aku tidak menepati janjiku dengan baik."


"Tidak apa-apa. Kita bisa bermain nanti setelah kamu boleh keluar dari rumah sakit. Yang penting sekarang kamu tidur saja," saranku baik.


"Justru terbalik. Seharusnya kamu yang tidur, Sayang."


"Tidak mau," tolakku langsung.


"Iih keras kepala sekali sih!"


"Bodoh amat yang terpenting aku puas melihatmu." Aku menjulurkan lidahku.


"Kamu lebih nakal dari Victoria!"


"Nakal tapi menggemaskan." Aku mengedipkan mataku bertindak imut.


"Sayang, kenapa kamu selalu imut di mataku sih?" Adrian mencubit pipiku lembut dengan pandangan berbinar.


"Tidak tahu. Mungkin memang aku selalu imut di hadapanmu sejak dulu."


Adrian mengecup pipiku bekas terkena tamparan Zack saat aku disekap.


"Apakah pipimu bekas ditampar masih terasa sakit?"


"Sekarang sudah tidak sama sekali. Sebaiknya kamu fokus pada kesehatanmu saja. Kamu harus cepat sembuh demi aku, Sayang." Tangan kananku mengelus kepalanya lembut.


"Tenang saja. Aku pasti cepat sembuh demi Penny kesayanganku," balasnya manis mengecup hidungku sekilas lalu menempelkan hidungnya pada hidungku.


"Adrian kesayanganku pasti selalu terlihat kuat di mataku," ucapku sambil menguap dan mengucek kedua mataku.


"Tuh kan kamu mengantuk. Sudahlah kamu tidur saja. Lagi pula aku juga mau tidur nih."


"Baiklah aku akan menurutimu. Akhirnya aku bisa tidur bersamamu lagi." Aku tidur merengkuh pada dadanya memeluknya erat.


"Sehari tidur sendirian rasanya jenuh sekali. Kalau tidur bersamamu sudah pasti tidurku nyenyak."


"Semoga bermimpi indah, Suamiku."


Keesokan paginya, aku merapikan rambutku terlihat sangat kusut lalu mengganti pakaianku menjadi pakaian kerja lagi. Sebenarnya hari ini aku ingin kembali bekerja menginterogasi pengacara Leonard, namun aku juga tidak ingin meninggalkan Adrian di sini karena aku merasa seperti baru saja melihatnya terbangun dari komanya. Karena ia masih dalam kondisi tertidur dan juga ini masih terlalu pagi untuk memulai aktivitasku, aku memutuskan kembali tidur dalam dekapannya lalu mengalungkan tanganku pada lehernya. Tak lama kemudian, ia terbangun dari mimpinya menyambut pagiku dengan mengecup pipiku manis.


"Pagi, Sayang," sambutku manis.


"Ternyata kamu sudah bangun dari tadi. Kamu ingin pergi ke mana pagi-pagi begini?" tanyanya memandangiku sudah berpakaian rapi.


"Rencananya sih aku ingin kembali bekerja. Bolehkah?"


Adrian menghela napasnya lesuh sambil mempererat pelukannya.


"Kamu akan meninggalkanku sendirian di sini lagi."


"Maaf aku tidak bermaksud membiarkanmu sendirian. Tapi aku penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan pengacara Leonard kepada kita. Siapa tahu mungkin dia akan memberitahu kepada kita cluenya kenapa tiba-tiba dia ditolong sewaktu kecelakaan."


"Baiklah kalau begitu kamu harus membelikan makanan untukku dulu. Aku mulai lapar nih," rengeknya mulai manja.


"Ish mulai deh kamu bersikap seperti anak kecil! Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu sekarang membelikanmu makanan."


"Bantu aku duduk dulu."


Aku menurutinya membantunya duduk tegak lalu memberikan remote TV untuknya.


"Kalau bosan, nonton TV saja sambil menungguku kembali ke sini."


"Tidak akan bosan, tenang saja. Mungkin kamu akan kembali ke sini sekitar 30 menit kemudian."


"Kalau begitu aku pergi dulu, ya," pamitku melambaikan tanganku padanya.


Aku memutuskan berjalan kaki saja membeli makanan untuk kami berdua. Lagi pula juga jaraknya sekitar 500 meter dari rumah sakit ini ada sebuah restoran yang sudah dibuka jam segini. Ketika aku sudah melangkah sekitar 200 meter, aku merasa seperti ada seseorang mengikutiku dari belakang. Aku mengurungkan niatku menoleh ke belakang tetap berfokus menatap depan saja, namun perasaanku semakin tidak enak. Langkah kaki seseorang terasa semakin terdengar pada telingaku. Kedengarannya bukan seperti pejalan kaki biasa, tapi ada beberapa orang yang sedang mengintaiku sekarang.


Dengan perasaan agak takut, aku semakin memperbesar langkah kakiku lalu pada akhirnya aku berlari menuju suatu tempat untuk menyelamatkan diriku. Aku terus berlari hingga menabrak beberapa pejalan kaki di pinggir jalan lalu memasuki sebuah gang kecil di perkotaan untuk bersembunyi. Namun usahaku terbuang sia-sia. Orang-orang yang mengejarku menemukan keberadaanku sedang bersembunyi di tempat ini. Aku menelan salivaku berat melangkahkan kakiku mundur sedikit demi sedikit. Apalagi aku harus menghadapi lima preman jalanan yang terlihat menakutkan.


"Kalian mau apa? Apa kalian membutuhkan uang dariku?" Aku berlagak seperti wanita pemberani namun sebenarnya dalam tubuhku sedikit merinding ketakutan.


"Kami tidak membutuhkan uang Anda. Kami hanya diperintahkan untuk menghabisi Anda sekarang!" bentak salah satu preman yang berdiri di paling depan.


"Saya tidak takut dengan kalian. Kalau berani, lawan saya saja sekarang!" celetukku balik mulai mengepalkan tanganku.


"Anda itu seorang wanita mana mungkin bisa melawan kami berlima," sahut preman yang berdiri di paling depan itu.


"Baiklah kalau begitu kita akan melihat siapa yang menang dalam pertarungan ini," ucapku sambil meregangkan otot-ototku dulu.


Preman yang berdiri di paling depan langsung menyerangku dulu melayangkan kepalan tangannya mengarah pada wajahku namun aku menahan kepalannya lalu membanting tubuhnya terjatuh ke tanah. Aku berlagak sombong mengangkat kepalaku penuh percaya diri.


"Bagaimana dengan kemampuan saya? Apakah terbukti bahwa saya adalah wanita kuat?"


"Yang tadi itu saya hanya menakuti Anda saja," sinis preman itu.


"Katakan yang sebenarnya sekarang! Siapa yang berani memerintahkan kalian untuk membunuh saya?"


"Kalian tidak usah mendengarkannya dan habisi dia sekarang juga!" pinta preman itu kepada seluruh anak buahnya.


Para preman itu langsung menyerangku lalu aku mulai dengan aksi kerenku. Aku menonjok wajah preman itu satu per satu dengan sekuat tenagaku lalu saat salah satu dari mereka ingin menyerangku dari belakang, aku menyikutnya dengan kasar lalu menonjok wajahnya hingga terjatuh ke tanah.

__ADS_1


BRUKKK


"Jangan sampai membiarkannya hidup dengan tenang!" pinta ketua premannya.


Aku tidak membalas perkataannya dan terus menghajar para preman ini hingga napasku mulai terengah-rengah. Beberapa preman masih tetap bertahan terus menghajarku namun aku tetap tidak menyerah begitu saja. Aku mendaratkan kepalan tanganku pada wajah dan juga perut tiga preman sekaligus dengan kuat hingga mereka semua ambruk ke tanah.


BRUKKK


Pertarungan antara aku dengan kelima preman itu dimenangkan olehku. Aku berjalan dengan anggun sambil membenarkan rambutku meninggalkan gang itu. Namun ketua premannya masih tetap tidak menyerah begitu saja lalu mengepalkan tangannya ingin menyerangku lagi.


Sontak Fina dan Hans muncul entah dari mana melayangkan tendangannya pada ketua preman itu hingga habis-habisan. Aku berdiri mematung bernapas sedikit sesak dan mengibaskan kerah kemejaku akibat gerah. Lalu mereka berdua menarik tanganku untuk kabur dari para preman yang menyerangku ke suatu tempat lebih aman.


"Penny, apakah kamu terluka?" tanya Fina sangat cemas sambil mengamati wajahku dan juga tanganku.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku," jawabku tersenyum hangat.


"Omong-omong, apa yang telah terjadi sebenarnya? Kenapa bisa ada preman mengincarmu?" tanya Hans.


"Aku juga tidak tahu. Yang pasti mereka diperintahkan oleh seseorang untuk membunuhku," jawabku serius.


"Bukankah kita sudah menangkap pengacara Leonard? Seharusnya sudah tidak ada yang mengincarmu lagi," gerutu Hans menggarukkan kepalanya.


"Menurut dugaanku, sepertinya preman yang tadi mengincarku ada hubungannya dengan pengacara Leonard," ujarku mulai berspekulasi.


"Maksudmu kemungkinan orang yang mengincarmu adalah orang yang menolong pengacara Leonard sewaktu dulu?" tanya Fina mempertegasnya.


"Iya benar."


"Ini sungguh tidak bisa dipercaya!" seru Hans.


"Aku akan membeli sarapan dulu lalu pergi ke kantor untuk menginterogasi pengacara Leonard."


"Sebaiknya biarkan kami saja yang membelikan makanan untuk kalian berdua. Kamu harus kembali ke rumah sakit untuk melindungi Adrian," saran Fina.


"Benar juga! Kalau begitu aku mengandalkanmu, Fina!"


Aku bergegas berlari kembali ke rumah sakit memastikan tidak terjadi sesuatu padanya. Dengan panik aku terus menekan tombol liftnya sambil menggarukkan kepalaku. Ketika pintu lift terbuka, aku langsung menekan tombol lantai dituju. Begitu pintunya terbuka lagi, aku berlari memasuki kamarnya lalu memeluknya dengan erat. Adrian menatapku bingung lalu memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku.


"Penny, kamu kenapa? Apakah terjadi sesuatu padamu?" tanyanya sangat cemas.


"Syukurlah kamu masih selamat," jawabku bernapas lega.


"Apakah ada seseorang mencoba membunuhku?"


Aku melepas pelukannya duduk lemas tepat di sampingnya menggenggam tangannya.


"Melihatmu dalam keadaan selamat saja aku sudah sangat bersyukur," ucapku tersenyum manis.


"Pasti telah terjadi sesuatu padamu tadi sampai tanganmu gemetar sekarang," balasnya menatap curiga.


"Iya memang benar. Telah terjadi sesuatu padanya tadi." Hans dan Fina memasuki ruangan ini sambil membawakan pesanan makananku.


"Tadi Penny hampir dibunuh lima preman sekaligus," ujar Hans.


"Apa?!"


Adrian langsung mengamati wajahku dan tanganku untuk mengecek kondisi fisik tubuhku seperti alat scanner.


"Penny, apakah kamu terluka? Kenapa kamu tidak mau memberitahuku tadi?" tanyanya sangat cemas.


"Aku baik-baik saja, Adrian. Aku tidak terluka sama sekali," balasku santai.


"Jangan membuatku takut, Penny ...." Adrian memelukku dengan erat seperti takut akan kehilanganku lagi.


"Tadi itu kamu hampir dihajar oleh salah satu premannya. Untung saja aku dan Fina datang tepat waktu menolongmu," lontar Hans tumben bersikap tegas.


"Omong-omong, bagaimana kamu bisa menemukanku?" tanyaku penasaran pada mereka berdua.


"Itu karena kebetulan kami melihatmu sedang dikejar oleh sekelompok preman itu," jawab Fina.


"Jadinya apa yang telah terjadi sebenarnya? Kenapa bisa ada orang yang ingin membunuhmu?" tanya Adrian semakin bingung padaku.


"Sepertinya ini ada kaitannya dengan orang yang menolong pengacara Leonard sewaktu dulu. Mungkin dia ingin membicarakan sesuatu yang penting pada kita karena masalah ini," ujarku mengernyitkan alisku.


"Bagaimana kamu bisa tahu pengacara Leonard ingin membicarakannya?" tanya Fina berkacak pinggang.


"Kemarin Yohanes menceritakannya padaku. Kamu sengaja menyembunyikannya dariku supaya aku bisa menghabiskan waktuku bersama Adrian," jawabku kepadanya.


"Ish dasar Yohanes mulut ember!" sungut Fina mengerucutkan bibirnya.


"Maka dari itu, aku harus kembali ke kantor untuk menginterogasinya," kataku.


"Lalu bagaimana dengan Adrian? Nanti pasti dia juga bisa menjadi target incarannya," tanya Hans memiringkan kepalanya.


"Aku bisa sendiri. Kalian sebaiknya kembali saja," ujar Adrian berlagak berani.


"Tidak mau! Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian di sini!" tolakku keras kepala.


"Tapi Penny, kamu harus menginterogasi pengacara Leonard untuk mendapatkan jawaban dari teka teki semua ini," ujar Adrian menggenggam tanganku.


"Kalau sampai terjadi sesuatu padamu gimana, Adrian?" tanyaku balik.


"Kalau begitu aku yang akan menjaganya di sini," ucap Hans sukarela menunjuk dirinya.


"Jangan, Hans! Sebaiknya kamu dan Fina menjaga Penny!" tolak Adrian tegas.


"Tapi nanti tidak ada yang menjagamu sama sekali di sini. Bisa juga kamu dan Penny sekarang masih diincar olehnya!" sergah Fina.


"Mendingan tidak ada yang menjagaku daripada nyawa istriku dalam bahaya!"


"Adrian, jangan berkata begitu! Keselamatanmu juga sangat penting bagiku!" elakku balik padanya.


Adrian mengulum senyumannya membelai rambutku perlahan.


"Aku tidak ingin melihat istriku terluka lagi. Karena kamu adalah belahan jiwaku."


"Jadinya sekarang gimana, Adrian? Apa aku tetap harus menjaga Penny?" tanya Hans bingung.


Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Aku mengukir senyuman cerdasku membuka suaraku.


"Aku tahu siapa yang akan menjagamu nanti."

__ADS_1


__ADS_2