Good Partner

Good Partner
S2 : Part 36 - You're My Best Hero


__ADS_3

Fina dan Tania terus menelusuri seluruh area pergudangan kosong itu namun masih belum ada jejak kehadiran pembunuh di sana. Setelah melakukan pencarian dalam waktu yang lama, mereka berdua memutuskan untuk berkumpul kembali pada titik pertemuan mereka sebelum berpencar.


"Penny kok belum ada sih?" tanya Fina terheran.


"Aku juga tidak tahu nih. Padahal kita sudah berada di area ini dalam waktu yang lama," jawab Tania sedikit gugup.


"Coba aku hubungi Penny dulu."


Fina mengambil ponsel dari saku celananya membuat panggilan telepon. Panggilan pertama tidak terjawab sama sekali. Lalu Fina mencoba membuat panggilannya lagi namun hasilnya sama saja tidak ada respon sama sekali. Fina mulai sedikit ketakutan bibirnya memucat sambil terus menggigit jarinya. Embusan napas pasrahnya yang ia keluarkan membuat Tania semakin ketakutan.


"Fina, kamu jangan begitu dong. Aku sekarang jadi takut terjadi sesuatu padanya," ucap Tania gelagapan.


"Aku bukan bermaksud menakutimu. Tapi biasanya Penny tidak pernah mengabaikan panggilan dariku. Apalagi aku tadi sudah mencoba menghubunginya sekitar lima kali tapi dia tidak meresponnya sama sekali." Fina melontarkan perkataannya terbata-bata sambil mengacak-acak rambutnya.


"Jangan bilang Penny ...."


"Penny diculik oleh Zack. Aku harus meminta bantuan sekarang."


Sedangkan di sisi lain pada saat bersamaan, Adrian baru saja ingin melangkah keluar dari ruang kerjanya merasa dadanya tiba-tiba terasa sakit. Sakitnya terasa mendalam seperti dihajar oleh seseorang secara kuat. Keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuhnya hingga tubuhnya ambruk ke lantai. Untung saja Yohanes ada di dalam ruangannya langsung menahan tubuhnya.


"Aarghhh!"


"Adrian, kamu kenapa?" tanya Yohanes sangat cemas.


"Dadaku ... sakit sekali," jawabnya meringis kesakitan sambil terus memegangi dadanya.


"Ini aneh sekali. Tidak seperti biasanya kamu begini."


"Perasaanku tidak enak sekarang. Seperti telah terjadi sesuatu yang buruk." Buliran air mata mulai mengalir dari kelopak matanya secara spontan.


"Sesuatu apa itu? Kenapa kamu menangis?"


Adrian baru menyadari situasinya saat ini sama seperti saat menangani kasusnya Josh terjadi beberapa tahun yang lalu. Wajahnya mulai memucat menggigit bibirnya.


"Penny! Istriku dalam bahaya!" pekiknya panik.


drrt...drrt...


Ponselnya bergetar di dalam saku jasnya. Ia bergegas mengambil ponselnya mengangkat panggilan teleponnya dari Fina.


"Fina, apakah Penny sedang bersamamu?" tanya Adrian panik.


"Maafkan aku Adrian. Aku tidak bermaksud untuk--"


"Penny ada di mana sekarang? Cepat katakan!"


"Tadi saat kami melakukan pencarian di pergudangan kosong, Penny menghilang tiba-tiba. Dia diculik oleh Zack."


Laporan Fina barusan membuat Adrian seperti terkena sambaran petir. Ia berdiri lemas sambil memegangi meja kerjanya hingga tubuhnya hampir ambruk lagi.


"Baiklah aku akan menolongnya sekarang. Aku bisa menemukannya. Kalian sebaiknya kembali ke kantor saja."


Adrian langsung membuka navigasinya untuk melacak keberadaannya. Ia bergegas berlari keluar dari ruang kerjanya tanpa berpamitan dengan Yohanes.


'Penny bertahanlah. Aku pasti bisa menolongmu tepat waktu.'


Sementara aku saat ini merasa seperti berada di ruang hampa hanya mendengar suara tetesan air. Kepalaku masih sedikit terasa sakit akibat tadi dibius oleh pelakunya. Secara perlahan aku membuka kedua mataku mengamati sekelilingku. Ternyata aku berada di tepi kolam renang indoor yang sudah terbelangkai. Aku berusaha bangkit berdiri namun tangan dan kakiku diikat kuat menggunakan tali tambang. Tubuhku semakin merinding apalagi aku berada di tempat yang diterangi hanya satu lampu pencahayaannya redup.


Terdengar suara langkah kaki seseorang semakin mendekat ke arah sini. Giliran aku tertangkap oleh pelakunya, aku bisa mendengar suara langkah kakinya dengan jelas. Semakin lama sosok wajahnya semakin terlihat jelas. Sosok pengacara Leonard bukan maksudku Zack sedang menghampiriku dengan penampilan seperti seorang pembunuh sekarang. Ia berjongkok tepat di hadapanku tersenyum seperti psikopat.


"Detektif Penny," sinis Zack.


"Ternyata aku bertemu juga denganmu, Zack," sahutku menatap tajam.


"Oh, jadinya kamu sudah mengetahui identitasku yang sebenarnya."


"Aku bukan detektif bodoh. Sudah pasti cepat lambat aku mengetahui identitasmu yang sebenarnya."


"Bagaimana perasaanmu sekarang ketika kamu berusaha menangkapku tapi sepertinya berbanding terbalik?"


"Lihat saja nanti. Kamu pasti akan tertangkap juga. Adrian pasti menolongku," jawabku dengan tatapan penuh percaya diri.


Zack melangkah menghampiri sebuah keran air yang digunakan untuk mengisi kolam renang ini lalu memutarnya ke arah kanan. Air mengalir cukup deras mulai mengisi kolam renang yang kosong. Ia kembali menghampiriku sambil memegang pisau kecil di tangannya.


"Sekarang aku memberimu kesempatan selagi aku masih baik. Sebaiknya kamu menyerah saja dan jangan pernah mengincarku lagi!" bentak Zack.


"Aku tidak akan sebodoh gitu memercayaimu! Mana mungkin aku membiarkan buronan sepertimu terlepas dari kandang!"


PLAKKK


Tamparan yang kuat darinya mendarat pada pipiku. Aku berusaha menahan rasa sakitnya berlagak kuat.


"Hanya segitu saja kemampuanmu?"


"Yang tadi itu aku hanya menakutimu saja. Sekarang rasakan akibatnya!"


PLAKKK


Kali ini tamparannya lebih kuat dari tadi hingga wajahku mulai sedikit memar. Aku terus mengamati pisau yang ada di tangannya untuk merebutnya. Tatapanku terfokus pada pisaunya mengukur perkiraanku untuk merebut darinya.


"Jadinya sekarang kamu mau menyerah?" tanya Zack menatap menyeringai.


Aku tidak menjawabnya langsung dengan sekuat tenagaku mendorongnya hingga terjatuh walaupun kondisi kedua kakiku terikat. Lalu aku berusaha menggeserkan tubuhku merebut pisau darinya untuk melepaskan ikatan tali ini namun aku kalah cepat darinya. Ia bangkit lagi lalu menjambak rambutku kasar.


"BERANINYA KAMU MELAWANKU!" teriak Zack emosinya membludak.


"LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA!" teriakku balik berusaha melepas ikatannya sekuat tenagaku.


"Tidak akan kubiarkan hidup! Kamu sendiri lihat saja kolam renang ini akan terisi penuh sebentar lagi!"


Aku menoleh ke belakang mengamati kolam yang tadinya kosong tidak ada setetes air pun kini hampir terisi penuh.


"Kalau kamu berani melawanku lagi, maka aku akan melemparmu ke dalam kolam dengan kedalaman dua meter!" bentak Zack seperti orang gila.


Sebenarnya aku mulai sedikit ketakutan. Apalagi melihat emosinya Zack semakin lama semakin tidak bisa terkendalikan. Aku berharap semoga kepribadiannya pengacara Leonard kembali lagi pada tubuhnya namun sepertinya saat ini Zack sudah menguasai tubuhnya sekarang. Aku memutuskan untuk berbasa basi dengannya terlebih dahulu untuk mengulur waktu.

__ADS_1


"Kenapa kamu membunuh semua teman dekatmu dan juga para pelajar SMA lainnya?"


"Karena mereka semua bersikap kurang ajar padaku! Kalau seandainya mereka tidak melupakanku, mungkin aku tidak akan berbuat jahat begini!"


"Kamu saja yang tidak waras! Masa lalumu sebaiknya lupakan saja! Memangnya dengan melampiaskan kemarahanmu, mereka bertiga bisa mengingatmu kembali? Tidak sama sekali! Menurutku adanya sekarang kamu seperti sampah yang pantas dibuang jauh-jauh ke laut!"


"Kamu barusan bilang apa? Beraninya kamu mengatakanku sampah?"


"Leonard sebenarnya dia tidak mempermasalahkan kalau teman lamanya melupakannya. Kamu saja yang tidak bisa menerimanya sama sekali!"


"Leonard hanyalah orang bodoh yang bisanya merengek saja!"


"Tidak! Justru kamu yang bodoh tidak mengerti apa pun!"


Zack sangat geram padaku mendorong tubuhku sedikit menuju sudut kolam.


"Kalau kamu berani melawanku lagi, aku akan mendorong tubuhmu lagi hingga terjatuh ke dalam kolam!"


Sedangkan Adrian baru saja tiba di tempat ini langsung memarkirkan mobilnya di sembarang tempat lalu berlari memasuki area ini.


"PENNY!"


Suara teriakan itu terdengar sangat tidak asing bagiku. Aku mulai tersenyum tipis ketika mengetahui Adrian segera menolongku dan menangkap Zack. Namun Zack langsung bergegas bangkit berdiri dan mulai panik.


"Sial! Kenapa dia bisa menemukan tempat ini?" umpat Zack.


Zack menoleh ke arahku lalu mendorong tubuhku kasar hingga tercebur ke dalam kolam langsung melarikan diri dari tempat ini.


BYURRR


Napasku mulai terasa sesak sekarang. Mataku juga sudah sulit untuk membuka secara lebar. Aku terus menggoyangkan kakiku berusaha melepaskan ikatan kakinya. Namun usahaku tidak membuahkan hasil. Aku sudah mulai kehilangan napas hingga tubuhku tidak berdaya sekarang.


"PENNY!"


Suara teriakannya dari kejauhan membuatku rasanya ingin meneriakki dari sini untuk meminta pertolongannya. Namun saat ini aku hampir kehilangan kesadaranku.


Sementara Adrian dari tadi sibuk melakukan pencariannya lalu akhirnya menemukanku juga yang sudah berada di dasar kolam dengan kedalaman dua meter.


"PENNY!"


Adrian langsung melepaskan jas kerjanya melemparkannya ke lantai lalu mengambil napasnya mendalam dan melompat ke dalam kolam untuk menolongku yang sudah tidak berdaya ini. Sedangkan tatapanku sekarang hanya samar-samar melihatnya sedang menyelam menghampiriku. Ia melingkarkan tangannya pada pinggangku yang ramping lalu berusaha mengangkat tubuhku naik ke atas permukaan. Tubuhku rasanya sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Secara perlahan mataku kembali terpejam tidak sadarkan diri.


Sedangkan Adrian semakin panik lalu berusaha untuk naik ke permukaan sambil mengangkat tubuh sang wanita pujaan hatinya. Tak lama kemudian, ia berhasil meraih permukaan lalu menaruh wanitanya di atas lantai sambil melepaskan ikatan talinya. Adrian melakukan pertolongan pertamanya dengan memompa tubuh yang sudah lemas.


"Penny, sadarlah! Kembalilah padaku! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sangat mencintaimu, Penny!" teriaknya lantang, air matanya terus membanjiri pipinya.


Ia melakukan sentuhan antar bibirnya dan memberikan napas hangatnya berulang kali. Embusan napas hangatnya yang baru saja dikeluarkan dari mulutnya sangat nyaman dalam tubuhku membuat tubuhku kembali bertenaga. Secara perlahan aku membuka kedua mataku lalu memuntahkan air yang tidak sengaja aku telan tadi saat aku tenggelam. Tatapan mataku langsung tertuju padanya dengan tangisan tersedu-sedu.


"Penny ...." lirihnya memegang pipiku.


Aku langsung memeluknya erat dalam kondisi tanganku masih gemetar ketakutan.


"Aku takut ... Adrian. Tadi rasanya aku seperti hampir mati," tangisku bergidik ngeri.


"Penny, aku tidak mungkin membiarkanmu mati di hadapanku. Aku pasti akan menolongmu tepat waktu dengan tanganku sendiri. Maafkan aku kalau aku datangnya terlambat," ujarnya sambil menyelimuti tubuhku dengan jas kerjanya.


"Tentu saja aku akan selalu menjadi pahlawan terbaikmu, Penny. Aku berperan sebagai pahlawan istimewa yang selalu menolongmu setiap saat dan tidak pernah mengecewakanmu selamanya."


"Adrian ...." Aku membenamkan kepalaku pada dadanya dengan manja.


"Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang!" Adrian menggendong tubuhku keluar dari area ini.


Adrian membopongku memasuki mobilnya lalu ia menduduki kursi pengemudi sambil mengancingkan jas kerjanya untukku.


"Tubuhmu basah kuyup nanti kamu bisa masuk angin," ucapnya mendekapku hangat.


"Tubuhmu juga basah, Adrian. Sebaiknya kamu memakai jasmu saja untuk menghangatkan tubuhmu."


"Tidak perlu. Kamu lebih memerlukannya daripada aku. Sudahlah aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit sekarang."


"Tapi aku baik-baik saja, Adrian," tolakku halus.


"Tidak peduli! Pokoknya kamu harus diberi pengobatan sekarang!"


Adrian melajukan mobilnya kebut mengantarkanku menuju rumah sakit terdekat. Setibanya di sana, Adrian menggendongku lagi keluar mobilnya membawaku menuju ruang UGD. Sebenarnya aku sedikit malu diperlakukan seperti ini sampai tidak berani mengangkat kepalaku tegak. Lalu ada salah satu dokter yang berjaga di sana menghampiri kami.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong Anda obati lukanya! Jangan sampai ada yang terlewatkan!" pintanya tegas.


Dokter itu mengambil peralatannya langsung mengobati luka memar di kakiku.


"Adrian, sebaiknya kamu jangan bertindak berlebihan begini," ucapku gugup.


"Aku bertindak berlebihan karena aku tidak ingin melihatmu terluka di hadapanku," balasnya menyentuh tanganku.


"Adrian ...."


"Sudahlah sebaiknya kamu diam dan turuti perintahku saja."


Usai lukaku diobati oleh dokter, Adrian menuntunku perlahan menuruni ranjang pasien dengan merangkul tanganku.


"Penny, kalau kamu masih tidak kuat jalan, biar aku yang menggendongmu."


"Tidak apa-apa, Adrian. Aku baik-baik saja. Kamu bisa lihat sekarang aku sudah kuat."


Aku berlagak kuat di hadapannya walaupun kakiku masih sedikit lemas melangkah ke depan. Adrian secara spontan mempererat rangkulan tangannya supaya aku tidak mudah terjatuh. Ia membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya sambil melangkah keluar dari ruang UGD.


Di tengah perjalanan pulang menuju kediaman kami, Adrian memarkirkan mobilnya tiba-tiba di depan sebuah butik pakaian.


"Adrian, kenapa kamu memarkirkan mobilmu?" tanyaku bingung.


"Aku ingin membelikan pakaian untukmu. Pakaianmu itu basah kuyup, nanti kamu bisa terserang flu."


"Tapi--"

__ADS_1


Adrian bergegas membukakan pintu mobilnya untukku dan menuntunku memasuki butik pakaiannya. Ia memilihkan sebuah kemeja cokelat dan juga celana pantofel hitam untukku.


"Sebaiknya kamu ganti pakaianmu sekarang."


"Bagaimana denganmu?" tanyaku.


"Aku juga akan ganti pakaianku. Kamu duluan saja."


Aku hanya menurutinya langsung memasuki fitting room berganti pakaianku yang sudah basah kuyup ini. Usai itu, aku melangkah keluar dari sana lalu memperlihatkan penampilanku kepadanya.


"Pakaiannya sangat cocok untukmu," lontarnya berdecak kagum.


"Kalau begitu aku juga akan memilihkan pakaian untukmu."


Aku mengambilkan sebuah kemeja cokelat tua dan juga celana hitamnya untuknya.


"Kenapa kamu memilihkan warna pakaiannya sama denganmu?" tanyanya penasaran.


"Karena aku ingin kita terlihat seperti pasangan serasi saja."


"Tunggu sebentar, ya. Aku ganti pakaianku dulu."


Adrian mengganti pakaiannya dalam durasi singkat lalu melangkah keluar dari fitting room. Aku langsung menarik tangannya berdiri di hadapan cermin berdiri tegak.


"Sayang, lihat penampilan kita memang sudah seperti pasangan serasi," sorakku girang mengulum senyuman khasku.


"Kita memang selalu serasi sejak dulu, Sayang," balasnya dengan senyuman godaan.


"Aku memang tidak salah memilih pakaian untukmu."


Adrian memajukan kepalanya tepat di hadapanku sambil mengelus kepalaku.


"Kalau kamu yang memilih pasti selalu yang terbaik di antara semua."


"Tubuhku lelah, Sayang. Aku ingin pulang sekarang," rayuku manja.


"Baiklah kita pulang sekarang, yuk!"


Usai membersihkan diriku, aku mengambil sebuah kotak P3K dari lemari penyimpanan lalu menaruhnya di atas meja. Ketika aku ingin mengambil obat salep untuk mengobati luka di kakiku, Adrian merebut obatnya dari tanganku.


"Biarkan aku saja yang mengobatimu," tawarnya.


Adrian membuka tutup botolnya lalu mengoleskan sedikit salepnya pada memar di kakiku. Setelah itu tatapan matanya terfokus pada wajahku sambil menyentuh daguku.


"Sayang, mau aku obati luka di wajahmu menggunakan apa?"


"Karena tadi aku ditampar berkali-kali jadinya lebih baik kompress pakai es batu saja."


"Apa? Dia menampar wajahmu? Beraninya keparat itu merusak wajah istriku!"


"Sudahlah sebaiknya kamu ambilkan es batunya dulu untukku."


Adrian tidak menghiraukanku lalu mengecup pipiku sedikit memerah bekas kena tamparan tadi. Ia semakin memperdalam ciumannya sambil mendekapku hangat.


"Adrian ...." Spontan senyumanku semakin melebar sambil mengelus kepalanya.


"Bagaimana rasanya sekarang? Apakah terasa lebih baik?"


"Setiap kali aku kena tamparan dari seseorang, kamu selalu mengobati lukanya dengan mencium pipiku. Memang sungguh ajaib obat darimu!" seruku berdecak kagum.


"Hanya aku yang bisa mengobatimu sampai sembuh sepenuhnya. Tidak ada yang bisa menyembuhkanmu dengan cara istimewa seperti ini. Aku berperan sebagai vitamin penyembuhmu." Adrian mengecup pipiku sisi lainnya secara mendalam juga.


"Terima kasih sudah menolongku tadi. Kalau saja tadi kamu tidak datang tepat waktu mungkin aku sungguh bisa mati tenggelam."


Adrian melepas ciuman pipinya lalu raut wajahnya berubah menjadi gelisah dan menghembuskan napasnya kasar tiba-tiba.


"Penny, bisakah kamu jangan membuatku khawatir terus? Tadi itu sebenarnya aku sangat takut kalau kau sungguh mati di hadapanku."


"Tadi itu aku--"


"Kenapa kamu selalu bersikap ceroboh sejak dulu? Kenapa kamu selalu merepotkanku menolongmu terus setiap kali kamu mengalami bahaya? Alangkah baiknya kalau kamu selalu berhati-hati supaya tidak dalam bahaya terus!" gerutunya nada bicaranya mulai meninggi.


Perkataannya barusan membuat hatiku terasa terkena sambaran petir. Suamiku yang biasanya bersikap hangat padaku tiba-tiba berubah menjadi dingin begini. Apalagi ia sangat menyinggungku sekarang.


"Maksudmu apa? Aku merepotkanmu terus?"


"Iya benar! Aku sudah lelah melihatmu selalu saja disiksa oleh orang lain! Kenapa kamu suka menempatkan dirimu dalam bahaya? Apakah kamu tidak menyayangi nyawamu sendiri?"


"Memangnya aku yang mau mengalami bahaya? Aku juga sebenarnya ingin hidup tenang! Tapi selalu saja ada bahaya terus mengancam nyawaku!"


"Kalau perlu aku ingin kau berhenti dari pekerjaanmu saja. Jadinya setiap hari kamu bisa merawat Victoria dengan tenang! Selain itu nyawamu juga tidak akan terancam!"


Aku semakin kesal mendengar ucapannya yang menyebalkan dari tadi. Rasanya aku ingin meneriakkinya sekarang juga. Apalagi berhubungan mimpiku sejak dulu.


"Kamu tega sekali berkata seperti itu padaku! Secara tidak langsung kamu menghalangi mimpiku sejak dulu!" ketusku mengangkat alisku.


"Aku sengaja menyarankanmu begitu demi keselamatan hidupmu!"


"Demi keselamatanku? Kamu salah besar, Adrian! Itu tandanya kamu barusan menghalangi mimpi istrimu sendiri!"


Adrian baru tersadar dengan ucapan yang dilontarkannya barusan membuat hatiku sekarang sangat tersinggung.


"Penny, aku tidak bermaksud--"


"Aku benci dengan suami yang menghalangi mimpi istrinya sejak dulu," ungkapku sangat kesal.


"Penny, maafkan aku." Adrian menggenggam tanganku namun aku menepis tangannya kasar.


"Kamu bukan Adrian yang aku kenal." Aku menatapnya dengan tajam dan bersikap dingin padanya.


Aku beranjak dari sofa menghentakkan kakiku kasar memasuki kamar membawa bantalnya lalu melemparkan ke wajahnya tanpa peduli ia kesakitan.


"Aku malas tidur denganmu hari ini! Kamu tidur di sofa saja sana!" bentakku.


"Penny, kumohon--"

__ADS_1


Aku langsung menutup pintu kamarnya sedikit kasar lalu menaikki ranjangnya tanpa peduli ia terus memohon ampun padaku di depan kamar.


__ADS_2