Good Partner

Good Partner
Part 50 - Bangun Kesiangan


__ADS_3

Di suatu tempat gang kecil jarang dilewat orang. Felix diculik seseorang dengan paksa, mulutnya dilakban. Penculik itu melempar tubuh Felix terjatuh ke tanah untuk memperlihatkan seorang pelaku misterius yang sedang menunggunya di sana sambil menggenggam sebuah tongkat besi


Pelaku misterius menghampiri Felix, membuka lakban pada mulut Felix dengan kasar.


"Tolong saya! Jangan bunuh saya!" pekik Felix menjerit ketakutan.


"Anda harus menjawab pertanyaan saya terlebih dahulu baru saya akan melepaskan Anda," ancam pemuda itu mengangkat dagu Felix dengan paksa.


Felix berlutut di hadapan penculik itu. "Saya pasti akan ... jelaskan semuanya, jangan bunuh saya dulu."


Pelaku misterius itu melipat kedua tangan di dada. "Anda tinggal menjawab pertanyaan ya atau tidak saja."


Felix mengangguk kaku. "Saya mengerti."


"Apakah ada seorang detektif mengunjungi rumah Anda untuk menginterogasi mengenai kematian pacar Anda itu?"


Felix memalingkan mata dengan gugup. "Itu ... saya tidak tahu apa-apa."


"Anda yakin?" Nada bicara penculik itu meninggi.


"Iya."


"LALU INI APA!" Pelaku itu melempar beberapa foto ke tanah.


Melihat foto berserakan di tanah, Felix semakin merinding ketakutan memohon ampun. "Saya mohon ... ampuni nyawa saya! Saya tidak bermaksud berbohong!"


"CEPAT KATAKAN SEJUJURNYA! APAKAH DUA DETEKTIF INI SUNGGUH MENGUNJUNGI RUMAH ANDA?" Pemuda itu menodongkan tongkat besi di dekat bahu Felix.


"Iya ... benar."


"Apa yang mereka tanyakan?"


"Mereka tidak terlalu banyak bertanya. Mereka hanya bertanya hubungan saya ... dengan Maria dan Emma saja."


"Selain itu tidak ada lagi?"


"Tidak ada. Saya kali ini berkata jujur," ucap Felix berlagak kuat namun sebenarnya ketakutan.


"Baiklah untuk kali ini saya akan mengampuni nyawa Anda. Tapi kalau sampai Anda berbohong lagi, siap-siap mempersiapkan pernyataan terakhir sebelum nyawa Anda berakhir!"


"Baik ... saya akan menuruti perintah Anda."


"Oh satu lagi, jika detektif itu datang mengunjungi Anda lagi, jangan memberitahu mereka mengenai kejadian sekarang ini dan tutup mulut dengan rapat!"


Sebelum berangkat kerja, aku tertidur pulas sampai tidak tahu sekarang sudah pukul berapa. Aku hanya ingin bermalasan di ranjang karena tubuhku rasanya pegal-pegal akibat kelelahan bekerja.


Aku mendengar ada suara Adrian membuka pintu kamar, lalu ia menempati tepi ranjang menepuk-nepuk lenganku. "Penny, ini sudah pagi. Sudah waktunya bangun!"


Meski Adrian yang membangunkan aku, tapi tubuhku masih ingin menolak bangun, aku tetap bersembunyi di bawah selimut bermalasan. "Aduh, aku masih mengantuk nih!"


Adrian menyunggingkan senyuman nakal memainkan jari jemarinya. "Sebenarnya aku ingin membuatmu sedikit geli sekarang."


"Jangan menggelitikku! Tunggu aku satu menit lagi!"


Adrian membuka selimutku dengan paksa. "Oh, jadi begini Penny yang kukenal setiap pagi susah dibangunkan."


"Adriiaan!"


Aku baru tersadar bahwa sekarang aku sudah tidak tinggal di rumahku lagi. Sekarang aku sudah menginap di kediaman kekasihku dan kebiasaan lamaku masih tidak bisa dihilangkan.


Dengan sigap aku duduk bersandar pada sandaran ranjang sambil menatapnya sedang menertawaiku terus. "Kenapa kamu menatapku begitu? Apa ada yang lucu?"

__ADS_1


Adrian menertawakan aku puas. "Kamu seperti anak kecil saja, susah dibangunkan."


Aku menutupi wajahku dengan rambutku agar ka tidak bisa melihat wajahku sangat merah. "Ish sudahlah jangan membuatku malu pagi-pagi begini!"


Adrian duduk di tepi ranjang lalu mendekapku erat sambil menepuk punggungku.


Mataku terbelalak memandangi jarum jam dinding kamar menunjukkan hari semakin siang, tapi Adrian masih tidak ingin berangkat kerja. Apakah aku tidak sengaja menyebarkan virus malas untuknya? "Adrian, bukankah kita harus bersiap-siap sekarang?"


Adrian mengelus pipiku lembut. "Aku masih ingin bersamamu, Penny. Aku tidak ingin berpisah denganmu."


Gombalannya terlalu manis menambah rasa nyaman aku ingin bermanja dengannya lebih lama. "Aku juga sama sepertimu."


Bibirnya menempel pada daun telingaku. "Bagaimana kalau aku menemanimu sarapan?"


Tatapanku melotot. "Nanti kamu bisa terlambat."


"Tidak masalah. Sebaiknya kamu rapikan dirimu dulu. Aku akan menunggumu di ruang makan." Adrian melepas pelukan sambil mengelus kepalaku, lalu melangkah keluar dari kamarku.


Sementara aku langsung beranjak dari ranjang merapikan rambutku yang terlihat sedikit berantakan. Seperti biasa ia selalu melihatku di saat tidak tepat, apalagi ia terang-terangan menyuruhku merapikan diriku.


Dengan sigap aku keluar dari kamarku menghampirinya sedang menungguku di meja makan. Pandanganku berbinar memandangi nasi omelet yang merupakan makanan kesukaanku.


"Bagaimana, Penny? Kamu bahagia sarapannya nasi omelet?"


Aku berlompat-lompat girang. "Adrian, memang kamu bisa diandalkan!"


"Coba kamu cicip dulu!"


Aku memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutku. Rasanya aku bahagia dicampur ingin menangis terharu menikmati masakannya. Nasi omelet buatannya tidak kalah enak dengan masakan ibu.


"Rasanya sangat lezat!" Aku mengacungkan jempolku padanya.


Adrian tersenyum girang. "Syukurlah, mulai besok aku akan membuatkan sarapan nasi omelet untukmu karena aku sangat menyukainya juga,"


"Aku ingin mengantarkanmu ke kantor juga."


"Tidak perlu, Adrian. Aku bisa berangkat sendiri."


"Nanti kalau kamu pergi sendirian bahaya, Penny."


Aku menggenggam tangan kanannya dengan tatapan percaya diri. "Adrian, kamu dengarkan perkataanku saja. Tenang saja tidak akan ada yang ingin mencelakakanku hari ini. Lagi pula ini semua salahku karena bangun kesiangan. Sebaiknya kamu berangkat sekarang tanpa menungguku. Nanti kamu bisa dimarahi atasanmu karena mengantarkan aku."


Embusan napas pasrah dikeluarkan dari rongga mulutnya. "Baiklah aku akan menurutimu. Tapi aku tidak pernah lupa memberi vitamin penyemangat untukmu."


Adrian beranjak dari kursi mendekapku dengan hangat sambil mengecup keningku mendalam selama beberapa detik, lalu ia mendaratkan bibirnya pada pipiku sekilas. "Ini vitamin dariku. Kamu harus bersemangat kerja hari ini."


Aku mengecup pipinya sekilas. "Aku juga selalu ingat memberikan vitamin untukmu supaya semangat bekerja."


"Kalau begitu aku berangkat dulu, Penny. Sampai bertemu nanti," pamitnya melambaikan tangannya padaku.


"Hati-hati, Adrian."


Setelah menghabiskan sarapan, aku berlari memasuki kamar mandi untuk membersihkan diriku. Dengan rasa gugup dan malu yang barusan terjadi membuatku kesal dengan diriku sendiri. Walaupun aku bangun kesiangan, Adrian masih ingin menemaniku dan tidak memarahiku seperti ibu. Membayangkannya memperlakukan aku hangat tadi membuatku tersenyum mengambang sekarang.


Tanpa perlu berlama di kamar mandi, aku bergegas mengambil tas kerjaku berlari menuju basement.


Aku menginjak pedal gas mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh menuju kantorku. Untung saja, aku sampai di kantorku tepat waktu, aku berlari memasuki kantor tapi ada sesuatu yang mengusik pikiranku sekarang. Ada suatu aroma yang tidak asing bagiku. Seperti pernah menghirupnya di suatu tempat belakangan ini.


Benar juga, aroma parfum ini sama seperti di tempat pembuangan mobil bekas waktu itu. Aku menatap sekelilingku tapi tidak ada sosok yang mencurigakan di sini.


"Hei, Penny! Kamu datang kesiangan lagi, ya!" Hans tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang membuatku hampir serangan jantung.

__ADS_1


"Aduh, kamu membuatku kaget saja, Hans!" keluhku sambil memegangi dadaku.


Hans menertawaiku puas. "Makanya Penny, kamu sebagai kepala detektif harus memberikan contoh yang baik kepada anggota timmu."


Aku memutar bola mata. "Iya saja deh. Seperti biasanya kamu selalu berlagak sombong di hadapanku karena kamu selalu tiba di kantor lebih awal."


Sekarang tidak ada waktu bercanda. Karena Hans selalu tiba lebih awal, aku harus menginterogasinya mengenai sesuatu yang mengusik pikiranku.


"Omong-omong, kamu tiba di sini selalu lebih awal, apakah kamu melihat ada sesuatu yang mencurigakan di sini?"


"Apa maksudmu? Maksudnya sesuatu yang mencurigakan menurutmu apa?" tanya Hans bingung.


"Seperti ada salah satu petugas kepolisian di sini yang bertingkah aneh. Tingkahnya yang sangat mencurigakan."


Hans mengedikkan bahu berwajah polos. "Hmm tidak kok. Mereka semua kelihatan biasa saja."


Sebenarnya aku tidak ingin mencurigai Hans. Tapi karena ia selalu datang lebih awal di sini sehingga aku terpaksa menginterogasinya untuk meyakinkan bahwa ia bukanlah pelaku yang mengejarku waktu itu.


Aku mendekatkan kepalaku pada punggungnya untuk menghirup aroma parfumnya. Aroma parfumnya sangat berbeda, sudah jelas bukan Hans pelakunya.


Hans menelan saliva gugup. "Apa yang kamu lakukan, Penny?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja ada debu yang melekat di punggungmu itu," jawabku tersenyum paksa sambil menyapu debu yang melekat di punggungnya.


Sedangkan dari kejauhan Fina sedang menatap cemburu melihat kedua temannya seperti sedang bermesraan diam-diam. Ia dengan kesal berjalan menghampiri kami berdua dengan tatapan tajam.


"Penny, kamu datangnya lumayan siang hari ini," sindir Fina tersenyum sinis padaku.


"Aku tadi sibuk ada urusan mendadak di rumah, jadi datangnya hari ini agak siang," sahutku membohonginya.


"Begitukah? Kalau begitu kita ngapain berdiri diam di sini saja, seharusnya kita kembali bekerja sekarang juga!" celetuknya memelototiku tajam.


Fina tersenyum genit menyingkirkan helaian anak rambut ke belakang tekinga. "Oh ya Hans, tolong buatkan aku kopi lagi! Kopi kemarin itu terasa lezat."


"Wah kamu menyukainya rupanya! Baiklah akan kubuatkan kopi yang lezat untukmu lagi!" Hans bersemangat mengambil kopi instan lagi.


Tiba-tiba ada seorang ibu tua yang memasuki kantorku dengan tatapan lesu dan ketakutan.


Ibu tua itu menghampiriku. "Apa Anda seorang detektif?"


"Iya benar, ada perlu apa Anda kemari?"


"Saya melihat kejadian pembunuhan ini di dekat sungai tempat ditemukan seorang mayat wanita."


Aku tersentak sambil mengamati sekelilingku penuh waspada. "Apa? Anda yakin?"


"Iya saya yakin sekali."


"Kalau begitu Anda harus ikut dengan saya ke ruang interogasi sekarang juga!" ucapku terburu-buru mengambil peralatanku sambil menuntun ibu tua itu memasuki ruang interogasi.


Aku mengisyaratkan semua anggota timku mengikutiku memasuki ruang interogasi. Di dalam ruang interogasi, aku menyiapkan laptopku dan menaruhnya di meja.


"Maaf, sebelum memulai pernyataan kesaksian Anda, saya harus mengetahui identitas Anda terlebih dahulu," tuturku dengan sopan.


"Nama saya Rina Dahlia, pekerjaan saya seorang ibu rumah tangga."


"Baik Bu Rina, tolong jelaskan apa yang Anda lihat mengenai kejadian pembunuhan tersebut!" pintaku dengan baik.


"Waktu itu, saya sedang berjalan mencari udara segar dan mendengar ada seorang gadis yang sedang berteriak. Maka dari itu, saya penasaran sekali dan berjalan mendekati suara gadis itu. Saya melihat gadis itu bertengkar dengan seorang pria sambil berebutan sebuah kamera yang ada di tangan gadis itu."


"Lalu apakah Anda mengingat wajah pria itu?" tanyaku semakin fokus.

__ADS_1


"Aku pernah melihat di TV. Wajah pria itu adalah CEO Josh Wilson dari stasiun TV BYZ."


__ADS_2