
Aku dan Adrian bergegas keluar dari mobil lalu memasuki kliniknya. Di dalam sana memang masih belum ada pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu karena ini masih terlalu pagi untuk melakukan sesi konsultasi dengan seorang psikiater. Saat aku dan Adrian ingin menerobos masuk ke dalam ruangan psikiater itu, seorang resepsionis wanita menghadang jalan kami dengan membentangkan kedua tangannya lebar.
"Kalian siapa? Kenapa kalian masuk tanpa meminta izin dulu?" selidik resepsionis itu menatap tajam.
Lalu aku dan Adrian mengeluarkan name tag kami memperlihatkannya kepada petugas resepsionis itu. Reaksinya ketika mengamati name tag kami langsung menunduk bersalah.
"Maaf saya tidak bermaksud berbuat lancang kepada kalian," sesalnya.
"Tidak apa-apa," balasku datar.
"Omong-omong, sedang apa kalian ke sini?"
"Kami ke sini untuk menanyakan beberapa informasi mengenai pasien yang barusan keluar dari klinik ini," jawab Adrian berterus terang.
"Tapi apakah kalian telah membuat janji dengan dokter Jesslyn?"
"Memangnya kami harus buat janji dulu?" tanyaku balik.
"Dokter Jesslyn merupakan tipe orang yang paling benci ketika bertemu dengan seseorang tanpa membuat janji dengannya terlebih dahulu," jelas petugas resepsionis itu.
"Kalau begitu izinkan kami untuk bertemu dengannya sekarang walaupun kami belum membuat janji dengannya. Kami mohon karena ini urusan mendesak," bujukku mendesak.
"Kalau mengenai itu sepertinya agak sulit sih."
"Bilang saja kepadanya kalau ada polisi sedang ingin menginterogasinya mengenai kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini," lanjutku.
"Tidak apa-apa biarkan saja mereka bertemu denganku," ucap dokter Jesslyn dari kejauhan.
Aku dan Adrian langsung menoleh ke arahnya lalu dokter Jesslyn melangkah menghampiri kami dengan senyuman ramah sambil membuka kacamatanya.
"Aku mendengar perbincangan kalian dengan petugas resepsionisku dari tadi. Apakah kalian ke sini untuk menanyakan informasi mengenai pasienku bernama Leonard?"
"Iya benar," sahutku.
"Perkenalkan aku dokter Jesslyn Clara, senang berkenalan dengan kalian," ucap dokter Jesslyn tersenyum ramah mengulurkan tangannya.
"Aku jaksa Adrian Christopher, sedangkan wanita di sebelahku kepala detektif Penny Patterson," balas Adrian berjabat tangan dengan dokter Jesslyn.
"Senang berkenalan denganmu juga, Dokter Jesslyn," ujarku berjabat tangan dengannya juga.
"Kalian ikut denganku ke ruanganku sekarang!" ajak dokter Jesslyn sambil menuntunku dan Adrian menuju ke ruangannya.
Aku dan Adrian memasuki ruangannya yang lumayan luas dilengkapi dengan pengharum ruangan yang menyengat di hidungku. Lalu kami berdua menduduki sebuah sofa kosong yang memuat dua orang. Sedangkan dokter Jesslyn menaruh tiga cangkir tehnya di atas meja.
"Silakan diminum dulu tehnya."
"Terima kasih," sahut Adrian ramah.
"Omong-omong, kamu menangani Leonard sudah berapa lama, ya?" tanyaku berbasa basi dulu.
"Sekitar beberapa tahun yang lalu sih. Dia seorang pengacara namun sayangnya memiliki penyakit langka begini," jawab dokter Jesslyn lesuh.
"Apa mungkin penyakit yang diidap Leonard merupakan penyakit yang tidak akan bisa pulih sepenuhnya?" selidik Adrian semakin penasaran.
"Bisa dikatakan begitu sih."
"Lalu penyakit apa yang diidapnya?" tanyaku semakin penasaran.
Dokter Jesslyn menghela napasnya lesuh duduk membungkuk.
"Pasien Leonard mengidap penyakit dissociative identity disorder (DID), biasanya orang sering mendengarnya dengan istilah gangguan kepribadian ganda."
Aku dan Adrian bergidik ngeri sendiri, kami jadi teringat salah satu drama thriller yang pernah kami tonton mengenai kepribadian ganda.
"Kepribadian ganda? Jadi maksudnya di dalam tubuhnya pengacara Leonard ada jiwanya yang lain?" Adrian menelan salivanya berat.
"Makanya kalian pasti heran kenapa dia kadang bersikap baik atau kadang bersikap kejam."
"Hufft! Dia bersikap baik dilihat dari mana! Dia selalu saja membuatku kesal!" ketus Adrian mengerucutkan bibirnya.
"Ish sebenarnya dia juga kadang baik! Kamu saja yang cemburunya berlebihan!" celetukku balik.
"Iya juga sih dia sampai mentraktirmu makan."
"Omong-omong, apakah mungkin kalian pernah melihat sosok dirinya bertingkah mencurigakan di hadapan kalian?" selidik dokter Jesslyn.
"Selama ini tidak sih. Tapi mulai belakangan ini aku agak mencurigainya," jawabku mengernyitkan alisku.
"Mencurigakan gimana, ya?"
"Waktu itu Leonard membebaskan perkara tuduhan palsu seorang saksi mata dalam kasus yang aku selidiki. Tapi di saat yang bersamaan, dia memasang sebuah chip di dalam pot tanaman depan ruang kerja timku untuk menyadapku dan anggota timku. Tadinya aku berpikir saat di ruang interogasi, dia hanya bersandiwara di hadapanku supaya aku tidak mencurigainya sama sekali," jelasku panjang lebar.
"Berarti tandanya saat dia sedang memasang chipnya di depan ruanganmu, dia bukanlah Leonard yang kalian kenal. Tapi kepribadiannya yang lain yaitu Zack."
__ADS_1
Aku dan Adrian berusaha mencerna perkataan yang dilontarkan dokter Jesslyn barusan. Aku semakin bingung dengan masalahnya. Zack itu adalah sosok dirinya pengacara Leonard sewaktu masih remaja tumbuh di panti asuhan. Kenapa bisa timbul kepribadian Zack di dalam tubuhnya pengacara Leonard? Berarti bisa disimpulkan Zack tidak meninggal sewaktu kecelakaan maut itu dan mengganti identitasnya menjadi Leonard.
"Tapi bukankah Zack itu merupakan nama lamanya pengacara Leonard?" tanyaku lagi bingung.
Dokter Jesslyn beranjak dari sofanya menghampiri lemari penyimpanannya mengambil sebuah map khusus untuk menyimpan rekam medis pengacara Leonard sejak pertama kali ia konsultasi. Lalu dokter Jesslyn memperlihatkan semua catatan medisnya padaku.
"Sebenarnya Leonard memiliki trauma sewaktu dia mengalami kecelakaan maut itu."
"Trauma?" tanyaku.
"Dia menceritakannya kepadaku bahwa saat itu dia baru saja keluar dari panti asuhan tempat dia tinggali sejak masih kecil. Sebenarnya dia tidak ingin hidup bersama dengan walinya yang baru namun dia dipaksa hidup bersamanya. Leonard sudah pasrah dan hanya ikuti perintahnya saja. Sebenarnya dia sudah sangat nyaman tinggal di panti asuhan itu bersama dengan ketiga teman dekatnya yang selama ini dia anggap sebagai saudara kandungnya. Bahkan rasanya dia juga ingin mengajak ketiga temannya untuk tinggal bersama dengannya juga."
"Jadi sebenarnya pengacara Leonard selama hidup bebas dari panti asuhan itu sebelum kecelakaan tidak diperlakukan dengan baik oleh ayah tirinya," papar Adrian bertopang dagu.
"Sebenarnya bukan ayah tirinya yang tidak memperlakukannya dengan baik. Tapi dia yang bersikap paranoid terhadapnya. Makanya gara-gara dia bersikap gitu, ayah tirinya tidak konsentrasi menyetir mobilnya tidak sempat menghindar mobil lain yang ingin menabraknya," lanjut dokter Jesslyn.
"Apakah Leonard menceritakan mengenai sewaktu kecelakaan itu dia ditolong oleh seseorang?" selidik Adrian.
"Dia menceritakanku bahwa sebenarnya waktu itu dirinya sudah tidak berdaya rasanya lebih pilih meninggalkan dunia ini saja daripada dia tidak memiliki seorang teman berada di sisinya. Tapi di pikirannya yang samar-samar, dia melihat ada seorang pria dewasa yang menukarkan tubuhnya dengan orang lain. Tadinya dia sempat berpikir kalau dirinya ditolong oleh seseorang sudah bersyukur. Tapi nyatanya orang yang menolongnya waktu itu suka menyiksanya habis-habisan sampai dia mengalami trauma."
Aku bergeming sejenak sambil merenungkan apa yang dijelaskan dari tadi.
"Berarti bisa disimpulkan selama ini dia mengidap penyakit kepribadian gandanya karena trauma yang dialaminya disiksa oleh orang itu," paparku berpikir cerdas.
"Disiksa oleh pria dewasa itu dan juga kecelakaan yang dialaminya. Karena dia tidak terbiasa berkeliaran di luar panti asuhan, lalu langsung menghadapi kecelakaan yang tidak terduga membuatnya sampai sekarang dihantui terus. Sejak itu kepribadiannya yang lain bernama Zack timbul dalam tubuhnya."
"Mungkin karena sebenarnya dia ingin kembali ke masa lalunya dan hidup bersama ketiga temannya, kepribadian masa lalunya tidak pernah lenyap dalam dirinya," tambah Adrian.
"Tapi kalau dia merindukan ketiga temannya kenapa harus membunuh mereka? Seharusnya Zack juga harus mengerti dengan kondisi saat ini," tanyaku bingung.
"Hanya Zack sendiri yang mengetahui alasannya melakukan perbuatan kejamnya. Bahkan Leonard sendiri juga tidak tahu alasannya kenapa Zack membunuhnya dengan kejam walaupun ingatan mengenai perbuatannya teringat samar-samar dalam pikirannya. Padahal Leonard tidak bermaksud membunuhnya."
"Jadinya selama ini kasus pembunuhan dari Angelina, Gracia, para pelajar SMA itu, dan Nielsen adalah perbuatannya Zack, bukan Leonard," tuturku mengangkat alisku.
"Sama satu lagi Pak Xavier juga dibunuh oleh Zack," tambah Adrian.
"Lalu yang mengintai Reporter Yulia dan juga Yohanes adalah ulahnya juga."
"Tadi sebenarnya Leonard berpesan padaku sesuatu. Maksudku sejak beberapa hari yang lalu."
"Memangnya dia berpesan apa?" tanyaku penasaran.
"Sepertinya dia ingin menyerahkan dirinya. Dia juga sudah menyerah dengan kondisinya saat ini semakin memburuk. Apalagi dia berpesan padaku kalau kondisi tubuhnya semakin parah maksudnya itu kalau sampai kepribadian Zack menguasai tubuhnya, sebaiknya aku jangan pernah bertemu dengannya lagi."
"Untuk saat ini belum pernah ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Aku hanya bisa memberikan beberapa macam obat yang dapat mencegahnya dan juga menstabilkan emosinya. Selain itu aku juga memberikan terapi rutin padanya."
Aku terduduk lemas sedikit bergidik ngeri mendengar penjelasan dari dokter Jesslyn secara lengkap. Bahkan ini masih sulit dipercaya seorang pengacara hebat juga mengidap gangguan jiwa itu. Sebenarnya aku sedikit merasa kasihan pada pengacara Leonard karena kepribadiannya yang lain membuat dirinya sekarang terancam dikurung di penjara. Tapi apa boleh buat, aku harus melakukan pekerjaanku dan tetap menjalankannya sesuai dengan prosedur hukum.
"Oh iya, aku hanya ingin memberitahu kepada kalian saja. Mungkin ini akan membantu penyelidikan kalian. Sebenarnya dia melakukan pembunuhan terhadap kedua temannya di rumahnya sendiri. Tapi dia tidak mengingatnya jelas. Karena saat dirinya tersadar waktu itu, dia melihat darah korban yang berceceran dalam rumahnya," tambah dokter Jesslyn.
"Begitu rupanya. Berarti dalam rekaman suara itu, Zack membawa Angelina paksa menuju rumahnya lalu melakukan pembunuhan di sana," sahut Adrian.
"Pantesan saja selama ini tidak ada jejak pembunuhannya terhadap Angelina dan Gracia lalu tubuh mereka ditemukan sudah membusuk di hutan," lanjutku berpikir keras hingga dahiku semakin berkerut.
"Tapi apakah kalian sungguh akan menangkapnya begitu saja?" tanya dokter Jesslyn ragu.
"Kami tetap menjalankan pekerjaan kami sesuai dengan prosedur hukum. Kalau kami tidak segera menangkapnya mungkin akan lebih banyak korban lagi yang dibunuh oleh Zack," jawabku mendesah pasrah.
"Aku sangat kasihan saja pada Leonard. Kalau seandainya dia tidak mengalami trauma sewaktu dulu mungkin dia tidak akan mengidap penyakit langka ini. Mungkin kejadian aneh tidak akan pernah terjadi di kota ini," desah dokter Jesslyn lesuh.
"Lebih tepatnya sih ini semua salah pria dewasa yang menolongnya waktu itu membuat dirinya trauma sampai sekarang," balasku.
"Tapi apakah Leonard pernah berbicara tentang pria dewasa itu? Identitas seperti namanya atau tempat tinggalnya sekarang?" selidik Adrian.
"Aku pernah menanyakannya waktu itu. Tapi dia tidak menceritakannya padaku sama sekali sampai sekarang."
"Mungkin ini efek trauma yang dialaminya sewaktu dulu membuat dirinya tidak ingin mengingat kehidupan masa lalunya yang kelam," ujar Adrian.
"Benar juga sih perkataanmu itu, Adrian."
"Maka dari itu, dia tidak ingin memperlihatkan identitas pria dewasa itu pada data pribadinya lalu memanipulasinya seolah-olah kedua orang tuanya sudah meninggal sejak dulu," tambah Adrian.
"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres pada pria dewasa itu deh. Mendengar tubuhnya pengacara Leonard ditukarkan dengan orang lain, pikiranku masih sangat mengganjal karena hal itu."
"Kita harus kembali ke kantor untuk diskusi dengan anggota timmu lainnya."
"Kalau begitu kita pergi ke sana sekarang juga!" ajakku beranjak dari sofanya bersama Adrian.
"Apakah kalian ingin pergi?" tanya dokter Jesslyn.
"Iya nih. Kami ingin melanjutkan penyelidikannya lagi bersama anggota tim lainnya."
"Apa mungkin kalian membutuhkan semua catatan medisnya?"
__ADS_1
"Nanti kamu kirimkan salinannya saja lewat emailku," jawabku.
"Baiklah nanti akan aku kirimkan padamu."
"Barangkali kamu mengetahui informasi baru yang penting berhubungan dengan Leonard, kamu bisa menghubungi lewat nomor ini," ucapku sambil memberikan kartu namaku padanya.
"Baiklah, Detektif Penny."
"Oh iya satu hal lagi. Mungkin karena kedatangan kami jadinya Zack bisa juga ingin melakukan perbuatan kejamnya lagi. Sebaiknya kamu berhati-hati saja mulai sekarang. Kalau dia mulai bertindak mencurigakan, kamu harus segera menghubungi kami," tambah Adrian.
"Baiklah jaksa Adrian, aku mengerti."
"Kalau begitu kami permisi dulu," pamitku sopan menundukkan kepalaku.
Lalu aku dan Adrian melangkah keluar dari ruangan itu disambut oleh petugas resepsionis itu di depan ruangan. Tatapan mata petugas resepsionis itu berbinar-binar terfokus pada Adrian sambil membenarkan rambutnya sedikit berantakan dan tersenyum sendiri.
"Maaf ya, yang tadi itu saya tidak bermaksud untuk bersikap kurang ajar pada Anda," sesalnya pada Adrian sedikit tersenyum centil.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi. Lagi pula sangat wajar kalau Anda bersikap tegas begitu di hadapan orang asing," balas Adrian tersenyum ramah.
"Jadinya Anda memaafkan saya, 'kan?"
"Tenang saja. Saya bukan tipe orang pendendam."
Aku semakin risih mengamati tingkahnya petugas resepsionis itu semakin aneh dan genit. Apalagi tatapan matanya itu terus fokus pada Adrian membuatku ingin menjambaknya sekarang. Tapi aku sedikit tenang karena tidak ada seorang pun yang bisa merebut suamiku dariku. Di sisi lain juga sebenarnya aku sangat kesal melihat wanita lain salah tingkah di hadapan suamiku.
Aku secara spontan merangkul tangannya Adrian mesra di hadapannya supaya ia merasa geram padaku dan tidak berani bertindak macam-macam di hadapan Adrian.
"Adrian, bagaimana kalau sekarang kamu mengantarkanku ke kantor lagi," ucapku manis.
"Kita berangkat sekarang saja!"
Adrian semakin mempererat rangkulan tanganku sambil melangkah keluar dari klinik itu. Sedangkan petugas resepsionis itu raut wajahnya langsung berubah drastis menjadi cemberut lalu menghentakkan kakinya kasar kembali berjaga pada meja resepsionisnya. Dokter Jesslyn mengamati tingkah karyawannya yang aneh itu dari tadi rasanya ingin menertawainya langsung. Namun ia menahan tawanya lebih memilih bersikap anggun menghampiri meja resepsionisnya.
"Tumben kamu salah tingkah pada seorang pria asing. Apakah kamu menyukainya?" tanya dokter Jesslyn tersenyum nakal.
"Kalau kamu jadi aku pasti menyukainya juga. Kamu kan bisa melihatnya sendiri wajahnya itu sangat tampan, apalagi dia itu adalah seorang jaksa. Sudah pasti semua wanita mengincarnya."
"Tapi sayangnya dia pasti sudah menikah dengan detektif wanita itu," ejek dokter Jesslyn.
"Memangnya kamu tahu dari mana dia sudah menikah dengan wanita itu?"
"Aku ini kan seorang psikiater jadinya sangat wajar bisa membaca bahasa tubuh orang. Kamu sendiri tadi lihat kan detektif wanita itu bersikap manis padanya lalu merangkul tangannya mesra. Sedangkan pria itu merangkul tangannya juga. Sudah pasti mereka menikah."
"Yah aku jadi tidak memiliki harapan untuk mendapatkannya deh!"
"Sabar ya. Aku jamin kamu pasti juga bakal mendapat seorang pria yang wajahnya tidak kalah tampan darinya," tutur dokter Jesslyn menepuk-nepuk pundaknya.
Sementara kini aku memasang sabuk pengaman dan masih terbawa emosi karena petugas resepsionis itu. Terutama sorot matanya Adrian dan senyumannya seperti menyukai petugas resepsionisnya. Memang sih petugas resepsionisnya juga terlihat cantik, jadinya wajar Adrian senyum terus padanya.
Sebelum melajukan mobilnya menuju kantor polisi, Adrian mendekatkan wajahnya menuju wajahku dengan senyuman godaan.
"Sayang, kenapa kamu cemberut?" tanyanya.
"Aku tidak cemberut. Kamu saja yang salah melihat," jawabku datar.
"Aku tahu kamu tadi cemburu karena petugas resepsionisnya, maka dari itu, wajahmu cemberut tidak enak dilihat sekarang," lontarnya santai sambil tertawa terkekeh.
Pipiku mulai memanas seperti sedang memanggang kue dalam oven. Aku membalikkan tubuhku menghadap kaca di sebelahku untuk menghindarinya.
"Sayang ...." lirihnya menepuk-nepuk pundakku.
"Pasti selama ini kamu berbicara dengan wanita sampai tersenyum seperti tadi," sahutku masih mengambek.
"Lihat mataku, Sayang."
Aku langsung menurutinya membalikkan tubuhku menghadapnya. Sorot matanya terfokus padaku sambil mengedipkan mata kirinya lalu mengecup keningku mendalam. Seperti biasa godaan darinya membuat senyumanku tidak karuan.
"Akhirnya kamu kembali tersenyum. Memang cara paling ampuh membuatmu tersenyum adalah menggodamu."
"Mmm kalau itu sih ...."
"Kalau kamu sedang cemburu menggemaskan sekali, Sayang." Adrian menggelitik hidungku hingga membuatku tertawa geli.
"Padahal kamu sendiri juga sering cemburu."
Sejenak ada ide cemerlang terlintas dalam pikiran Adrian. Tentunya dalam hal menggombal pujaan hatinya.
"Sayang, apa kamu tahu perbedaan senyumanku terhadapmu dengan orang lain?"
"Apa itu?"
"Kalau aku senyum pada orang lain, itu hanyalah senyuman biasa saja tidak bermakna sama sekali. Sedangkan aku senyum padamu, itu sangat bermakna yaitu senyuman penuh cinta menandakan bahwa aku selalu cinta pada wanita kesayanganku. Senyuman cinta ini hanya boleh dilihat dan dirasakan olehmu, Sayang." Gombalannya barusan membuatku ingin semakin manja padanya.
__ADS_1
"Kamu selalu saja menggombalku di saat genting begini. Senyuman khasku yang sangat kamu dambakan selama ini, hanya boleh dilihat olehmu. Aku juga selalu cinta padamu, Sayang."