Good Partner

Good Partner
Part 86 - My Best Sweetheart


__ADS_3

Di sisi lain, Hans seperti biasa tiba di kantor polisi lebih awal. Ia merapikan penampilannya dulu di kamar kecil sambil bergaya keren dengan menampakkan gigi putihnya berderet. Sejak berpacaran dengan Fina, Hans selalu menjaga penampilannya dengan baik dan bersikap lembut terhadap Fina. Sebelum Fina tiba di kantor, Hans tak lupa selalu membuatkan kopi yang spesial hanya untuk Fina.


Tak lama kemudian, Fina tiba di kantor berjalan anggun seperti model mengibaskan rambut panjangnya sehingga membuat Hans menatapnya melongok hingga mulutnya terbuka lebar.


"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Fina bingung menautkan kedua alisnya.


"Apakah kamu sehat, Fina?" tanya Hans balik.


"Maksudmu apa, Hans? Fina menatapnya dengan tajam semakin mendekati Hans.


"Itu kamu ...."


"Kamu mengira aku ini sudah stress berat sampai bertingkah aneh pagi-pagi seperti ini, 'kan!"


"Bukan itu--"


"Lalu apa? Kamu membuatku kesal saja pagi-pagi!"


"Hari ini kamu cantik sekali," goda Hans membelai rambutnya Fina.


"Kamu pasti berbohong, 'kan!"


"Aku sungguh mengatakannya, Fina! Mana mungkin aku membohongi pacarku sendiri. Kalau tidak percaya, mari kita berfoto bersama."


Hans mengambil ponselnya bersiap-siap mengatur kamera mengarah pada mereka berdua. Dengan rasa malu, Fina langsung mengambil ponsel Hans menyimpannya di saku jaketnya.


"Fina! Kenapa kamu mengambil ponselku!" celetuk Hans berusaha merebut ponselnya kembali.


"Kamu bagaimana sih! Masa kita foto bersama di tempat kerja seperti ini!" elaknya mencebik kesal.


"Aku mau membuktikan kecantikanmu itu."


"Pokoknya aku tidak mau berfoto saat sedang bekerja!"


"Ya sudah kalau begitu nanti saat kita pulang kerja baru berfoto bersama, bagaimana? Masa kita sejak pacaran belum ada foto bersama sih," tawar Hans dengan wajah cemberutnya.


"Iya deh, nanti ya!"


"Janji?"


"Tenang saja, aku tidak pernah mengingkari janji," ucap Fina mengulurkan jari kelingkingnya dan menempelkannya pada jari kelingkingnya Hans.


"Baiklah kalau begitu ini kopi manis untukmu mengisi semangat di pagi hari." Hans memberikan segelas kopinya kepada Fina.


"Mana ada sih kopi manis. Dasar bodoh!"


"Hanya kamu yang bisa merasakan manisnya kopi buatanku ini di antara semua kopi."


"Kopi untukku mana?" Nathan tiba-tiba muncul entah dari mana seperti hantu yang muncul di siang bolong membuat mereka berdua kaget sampai hampir serangan jantung.


"Tidak ada! Kamu buat kopi sendiri saja!" ketus Hans geram karena Nathan merusak momen indah mereka berdua.


"Dasar pelit!"


"Sudahlah, Nathan. Biar aku saja yang membuatkan kopi untukmu," bujuk Tania menepuk pundak suaminya.


"Memang istriku ini yang terbaik," balas Nathan mengelus kepala istrinya.


"Fina yang terbaik di antara semua!" elak Hans sambil menyisingkan lengan jaketnya.


"Tidak! Istriku lebih baik!" Nathan tidak ingin kalah berdebat dengannya mendongakkan kepalanya sambil berkacak pinggang.


Fina hanya bisa berdiam diri saja sambil menyentuh tangannya Hans untuk menenangkannya. Sedangkan Tania menenangkan Nathan dengan memberi kopi buatannya. Emosi mereka berdua mulai mereda dan situasi kembali normal lagi berkat pasangan mereka.


"Nah begini, kan enak. Kalau sampai Penny tahu kalian membuat keributan di pagi hari pasti dia akan ganas seperti dulu," ujar Tania bernapas lega.


"Untung saja dia belum tiba di sini," lanjut Nathan.


"Omong-omong, dia tumben sekali belum nongol juga. Biasanya, kan, dia rajin datang pagi," ujar Hans sambil mengamati sekelilingnya.


"Mungkin dia bangun kesiangan lagi," tawa Nathan terkekeh.


"Atau mungkin dia sibuk berduaan dengan calon suaminya?" Hans ikut berspekulasi aneh sambil bertopang dagu.


"Aish kalian berdua sebaiknya jangan berpikiran aneh!" omel Fina.


ACHOOO


Setelah berpamitan dengan Adrian, hidungku terasa gatal tiba-tiba dan rasanya ingin bersin terus. Aku merasa ada seseorang yang sedang membicarakanku dari belakang. Saat aku memasuki kantor, semua anggota timku berkerumunan tepat di depan meja kerjaku membuatku mencurigai mereka sekarang. Aku menghampiri mereka dan raut wajahnya Nathan langsung berubah drastis lalu memalingkan matanya dariku.


"Kenapa, Nathan? Kenapa kamu tidak berani menatapku?" tanyaku menatapnya dengan tajam.


"Tadi Nathan itu--" Hans belum selesai bicara lalu Fina langsung menutup mulutnya dengan rapat.


"Tidak ada apa-apa, Penny. Semua baik-baik saja," ujar Fina sedikit gugup.


"Mereka semua membuat keributan di pagi hari!"


Danny membanting tumpukan berkas kasus di mejanya lalu menghampiriku seperti ingin menerkamku.


"Mereka membuat keributan apa?" tanyaku mulai penasaran dicampur gugup.


"Sudah kuperingatkan kepadamu berkali-kali, Penny! Dilarang membicarakan asmara di kantor! Mereka dari tadi berdebat karena itu!" bentak Danny membuat telingaku ini panas di pagi hari.


"Maaf Danny, nanti aku akan menegur mereka berdua," sesalku menundukkan kepalaku bersalah di hadapannya.


"Kalau kamu menyadarinya sendiri, baguslah."


Kring...kring...


Ponselnya Danny berdering tiba-tiba, ia mengambil ponselnya dari sakunya dan menatap nama penelepon itu sambil tersenyum sendiri.


"Iya sayang, ada apa meneleponku?" Danny menjawab panggilan telepon itu lalu langsung meninggalkanku kembali ke meja kerjanya.


Hans dan Nathan mengepalkan tangan mereka rasanya ingin menghajar Danny habis-habisan. Lalu masing-masing pasangan mereka langsung menghentikan aksinya dan kembali menuju meja kerjanya.


"Awas saja, Danny! Membicarakan orang padahal sendiri juga sama saja!" ketus Hans menghembuskan napasnya kasar.


"Iya tuh, sok mematuhi aturan padahal tadi jelas-jelas menjawab telepon dari istrinya mesra!" sambung Nathan.


"Kalian berdua sudah diam saja!" bentakku menatap mereka berdua dengan tajam.


"Lho kenapa kamu memarahi kami berdua? Memangnya kami ada salah apa?" tanya Hans bingung memasang wajah polosnya.


"Kalian selalu membuat keributan di pagi hari dan aku selalu ditegur Danny hampir setiap pagi!" ketusku memelototi mereka berdua.


"Tapi, kan, dia sendiri juga salah," elak Nathan.


"Pokoknya aku tidak mau tahu! Kalian siap-siap menerima hukuman dariku!"

__ADS_1


"Hukuman apa?" tanya Hans mulai gugup.


Aku mengambil sebuah catatan berkas kasus yang sedang kuselidiki saat ini dan memberikannya kepada mereka berdua.


"Kasus ini kalian pecahkan sendiri!" pintaku dengan tegas.


"Kenapa kamu memberikan hukuman pada kami!" protes Hans beranjak dari kursinya memelototiku.


"Hukuman kalian berdua karena selalu membuat keributan di pagi hari! Kalian sesekali harus diberi pelajaran supaya kapok!" hardikku sambil memukuli tumpukan berkasnya kasar.


"Ampuni kami, Penny! Kami tidak akan mengulanginya lagi," rayu Nathan manis.


"Percuma kalian merayuku manis, aku tetap tidak peduli! Cepat sana laksanakan tugas kalian sekarang juga!" Aku mendorong mereka berdua paksa seperti mengusir mereka.


"Kamu serius, Penny?" tanya Hans menghentikan langkah kakinya sejenak.


"Iya aku serius sekarang! Cepat kembali bekerja!" titahku membanting tumpukan berkas kasus di meja kerjaku kasar hingga beberapa petugas kepolisian menatapku gugup.


Hans dan Nathan melangkahkan kakinya dengan lesuh didampingi oleh pasangan mereka tanpa berbicara padaku. Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya Hans yang saat ini sangat manja di hadapan Fina. Sedangkan Nathan matanya seperti berkaca-kaca sambil memeluk Tania. Rasanya seperti seolah-olah aku yang bersikap kejam terhadap mereka. Lalu mereka berempat kembali bekerja meninggalkanku sendirian di sini.


Selama seharian ini, aku terus sendiri di kantor sampai rasanya aku sudah mulai bosan. Walaupun ada anggota kepolisian lainnya dan juga para detektif dari unit 2, aku sangat kesepian sekarang. Aku menatap layar ponselku melihat foto-fotoku bersama dengan Adrian saat sedang berkencan. Seandainya saja sekarang ia tidak sibuk, aku pasti akan memintanya untuk menemaniku saat ini.


Kring...kring...


Adrian menghuhungi di saat yang tepat, panjang umurnya nanti. Permohonanku terkabul begitu saja tidak sampai sepuluh menit. Dengan semangat aku langsung mengangkat panggilan telepon darinya.


"Kamu sedang sibuk?"


"Aku sedang nganggur sekarang."


"Bagus, kalau begitu mari kita mampir ke suatu tempat sekarang."


"Tapi kamu harus bekerja."


"Sekarang aku juga sedang nganggur. Pokoknya sebentar lagi aku akan menjemputmu, bersiap-siaplah."


"Baiklah, aku akan menunggumu." Aku mengakhiri panggilan teleponnya lalu bergegas memasuki kamar kecil untuk merapikan rambutku yang berantakan akibat emosi tadi.


Di kamar mandi selain menyisir rambutku, aku mengambil lipstik merahku memoleskan pada bibirku supaya terlihat lebih berkilauan. Lipstikku sempat memudar tadi sehingga aku memolesnya lebih tebal.


Sudah hampir 30 menit, ia masih belum menampakkan dirinya juga. Aku sudah tidak sabar menunggunya dan memutuskan untuk menunggunya di luar. Hujan guyur lumayan deras pasti ia lama karena terjebak macet di tengah jalan.


Tak lama kemudian, ia tiba juga di sini melangkahkan kakinya menghampiriku dengan membawa payungnya. Aku tidak tahan lagi dan berlari menghampirinya tidak peduli seluruh tubuhku basah kuyup lalu memeluknya manja.


"Kamu gimana sih, Penny! Seharusnya kamu diam di situ saja dan menungguku!" omelnya mengerucutkan bibirnya.


"Aku hanya tidak sabar menunggumu saja. Lagi pula aku tidak basah kuyup," balasku dengan percaya diri.


"Pegang payungnya dulu!"


Aku menggenggam payungnya lalu ia melepaskan jasnya untuk menyelimutiku.


"Nanti kamu terserang flu jika tubuhmu basah gini," ucapnya lembut sambil mengancingkan satu per satu.


"Tenang saja, aku adalah wanita yang kuat. Lagi pula ada kamu yang selalu menghangatkan tubuhku."


"Dasar nakal, Penny!" Adrian mencubit hidungku lembut.


"Bodoh amat!"


"Aku akan menghangatkan tubuhmu sekarang." Adrian memeluk punggungku sambil mengusap rambutku.


"Baiklah, kalau begitu ayo naik mobilku sekarang!"


Di tengah perjalanan menuju suatu tempat, sebenarnya aku masih penasaran dengannya sambil memandanginya terus.


"Sebenarnya kita akan pergi ke mana sih?" tanyaku sudah tidak sabar memajukan kepalaku mendekatinya.


"Aku akan membawamu ke butik gaun pengantin."


"Apa? Kenapa tiba-tiba begini?"


"Selagi kita punya waktu luang, sebaiknya kita harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Aku penasaran bagaimana penampilanmu saat memakai gaun pengantin."


"Tapi ... wajahku sangat kusut sekarang. Bahkan rambutku basah akibat kehujanan."


"Itu karena kamu yang bodoh main lari begitu saja."


Emosiku semakin tidak stabil mendengar calon suamiku menyindirku di saat suasana hatiku buruk sejak tadi.


"Apa? Kamu bilang aku bodoh? Tega sekali kamu mengucapkan perkataan itu! Kamu bahkan tidak tahu suasana hatiku saat ini!"


"Kamu kenapa, Penny? Apakah ada masalah di kantor?"


"Tidak ada kok," jawabku jual mahal membuang wajahku.


"Kalau ada masalah, kamu harus ceritakan padaku. Jangan dipendam dalam hati."


Aku membuang napasku dengan dalam dan menundukkan kepalaku sambil memainkan jariku.


"Sebenarnya tadi aku ditegur lagi gara-gara anggota timku membuat keributan. Entah kenapa setiap anggota timku yang bersalah, selalu saja aku yang kena."


"Mereka sungguh keterlaluan! Beraninya mereka membuatmu selalu kesusahan! Lihat saja nanti akan kubalas perbuatan mereka!" ketusnya sambil memegangi setirannya erat.


"Sudahlah Adrian, jangan marah. Lagi pula aku juga sudah memberikan mereka hukuman."


"Jangan bilang hukumannya itu ringan."


"Tenang saja, aku menyuruh mereka semua untuk selidiki kasus yang sedang aku kerjakan. Sesekali aku harus bersantai dan menenangkan pikiranku."


"Lalu aku bisa berduaan denganmu lagi deh, ini kesempatan emas."


"Maka dari itu, kamu harus berterima kasih padaku."


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir 30 menit, akhirnya kami tiba juga di butik gaun pengantin itu. Aku mengambil beberapa gaun pengantin yang menurutku terbaik dan membawanya ke dalam fitting room. Gaun pertama yang kucoba itu model strapless dress polos dengan motif sederhana. Aku keluar dari fitting room dan memperlihatkannya kepada Adrian.


"Bagaimana dengan penampilanku?" Aku tersenyum anggun di hadapannya.


"Polos! Ganti yang lain!" protesnya langsung pada intinya.


"Ish baiklah kalau begitu tunggu sebentar!"


Kali ini aku mencoba model mermaid gown. Memang gaun ini agak sempit karena sangat ketat sehingga aku berjalan dengan kaku dan memperlihatkannya kepadanya lagi.


"Kalau yang ini gimana?" tanyaku lagi sambil memegangi roknya.


"Kakimu seperti sedang diikat saja! Aku tidak ingin melihatmu sengsara begitu! Ganti yang lain!" protesnya lagi semakin terdengar cerewet pada telingaku.


"Kamu ini cerewet sekali sih!"

__ADS_1


Aku memasuki ruangan fitting room lagi dan mencoba beberapa rekomendasi gaun pengantin lainnya. Beberapa kali aku mencoba dan memperlihatkannya kepada Adrian selalu saja ia menyuruhku ganti lagi. Ini gaun terakhir yang kucoba, menurutku ini gaun terbaik di antara semua gaun yang kucoba.


"Ini yang terakhir. Bagaimana dengan yang ini?" tanyaku mendesah pasrah.


"Jelek!" ketusnya hingga membuatku sudah tidak tahan dengan kelakuannya sekarang.


"Kamu maunya apa sih, Adrian?! Dari semua gaun yang kucoba tidak ada satu pun kamu menyukainya!"


"Sebenarnya kamu niat tidak sih menikah denganku! Aku tidak suka melihatmu memakai gaun yang polos dan rok terlalu ketat!" celetuknya balik meninggikan nada bicaranya.


"Aku sudah pasti berniat menikah denganmu. Tapi kamu saja yang cerewet!"


"Tunggu sebentar. Akan kucarikan gaun yang terbaik untukmu!"


Adrian menghampiri salah satu penjaga toko dan memintanya untuk memberikan beberapa gaun pengantin yang terbaik untuknya. Namun baginya tidak satu pun gaun terlihat pas di matanya.


Beberapa menit kemudian, ia menghampiriku lagi dengan membawa sebuah gaun pengantin yang terlihat megah.


"Coba kamu pakai ini!" pintanya sambil menyerahkan gaun pilihannya padaku.


"Nanti juga kamu suruh ganti lagi."


"Sepertinya aku tidak akan menyuruhmu ganti gaun lagi."


"Baiklah, tunggu sebentar di sini."


Aku memasuki fitting room lagi memakai gaun pengantin pilihan Adrian. Saat aku memakainya sambil bercermin, ternyata gaun ini sangat istimewa dibandingkan semua yang kucoba. Aku tidak menyangka Adrian memilih model ball gown untukku. Aku keluar dari fitting room berjalan dengan anggun mengulum senyuman bahagiaku menghampirinya sampai ia menatapku tercengang mulutnya terbuka lebar.


"Penny ...." lirihnya terkagum padaku.


"Kenapa? Apakah aku terlihat jelek?" tanyaku sedikit gugup sambil memandangi gaunku.


Adrian menarik tanganku membuatku terjatuh duduk di sofa bersebelahan dengannya.


"Aku memang tidak salah memilih gaun ini untukmu. Kamu semakin cantik di mataku," godanya dengan senyuman manis sambil menyentuh pipiku.


"Benarkah? Akhirnya aku tidak perlu mencoba gaun lainnya lagi," balasku bernapas lega.


"Tapi apakah kamu menyukai gaunnya? Kalau kamu tidak suka, kamu bisa menggantinya lagi."


"Aku sangat menyukai gaun ini. Memang pilihanmu itu tidak salah, Adrian! Bagiku gaun ini adalah gaun yang paling istimewa di antara semua. Bahkan aku merasa seperti putri di negeri dongeng."


"Kalau kamu putrinya, aku pangerannya," gombalnya tersenyum godaan sambil mengedipkan mata kirinya.


"Aku tidak sabar ingin memakai gaun ini di hari pernikahan kita."


"Bagaimana kalau kamu memilihkan setelan tuxedo untukku nanti? Aku ingin dipilih oleh tunanganku sendiri supaya penampilanku terlihat sangat tampan di hari pernikahan kita nanti."


"Tentu saja aku akan memilihkan tuxedo yang terbaik untukmu supaya foto pernikahan kita juga terlihat sangat sempurna.


Adrian menyentuh pipiku dengan kedua tangannya sambil mendekatkan wajahnya menuju wajahku. Jantungku semakin berpacu cepat dan sedikit gugup kalau seandainya ia sungguh berciuman denganku di tempat umum.


"Adrian, sebaiknya kita melakukannya di tempat lain saja."


"Aku tahu itu. Hanya saja aku merasa bibirmu jauh lebih berkilauan dibandingkan tadi pagi. Pasti kamu memakai lipstik dulu sebelum aku menjemputmu tadi," lontarnya santai tersenyum mamis padaku.


"Aku mengira kamu akan berciuman denganku di sini," balasku gugup menunduk malu.


"Kamu ingin aku melakukannya?"


"Ish lupakan saja perkataanku tadi! Aku hanya asal bicara!"


"Hmm asal bicara tapi terdengar seperti kamu sangat menginginkannya." Adrian bertopang dagu menautkan kedua alisnya.


"Kalau kamu tidak percaya, aku tidak masalah."


"Sebenarnya aku ingin menikahimu sekarang, Penny. Penampilanmu sudah sangat pas, tinggal aku berganti pakaian."


"Padahal penampilanku sekarang terlihat kusut." Bibirku memanyun sambil aku memainkan kuku jariku.


"Kalau kamu menganggap dirimu sekarang kusut, apalagi saat hari pernikahan kita nantinya. Padahal walaupun penampilanmu kusut, kamu tetap cantik di mataku."


"Ish kamu semakin lama semakin cerdas menggombalku!"


Setelah selesai mencoba gaun pengantin, kami berdua makan bersama di restoran sebelum pulang ke rumah. Setibanya di sana, kami tidak sengaja melihat Fina dan Hans yang sedang makan malam bersama juga.


"Aku akan mengganggu mereka berdua sebagai pembalasan atas perbuatannya." Adrian ingin menghampiri mereka berdua tapi aku mencegahnya.


"Sudah biarkan saja. Lebih baik kita makan bersama saja."


"Tapi--"


"Tidak masalah kok. Yang terpenting aku bisa makan bersamamu sekarang."


Sedangkan di sisi lain, Fina dan Hans sedang makan malam romantis. Fina mengambil ponselnya lalu mengarahkan kamera ponselnya ke mereka.


"Ayo, kita berfoto bersama!" ajak Fina dengan semangat.


"Tunggu! Aku harus merapikan penampilanku dulu!"


"Lama ih! Kamu sudah tampan!" puji Fina membuat Hans tersenyum sendiri.


"Aku ... tampan?"


"Sudah lihat kamera saja. Satu ... dua ... tiga!"


Cekrek


Mereka berdua foto dengan pose wajah imut. Hans langsung mengambil ponselnya Fina untuk melihat hasil fotonya barusan.


"Kamu imut sekali!" ucap Hans dengan manis sambil mencubit pipinya Fina dengan lembut.


"Masa sih!"


"Memang kamu selalu imut."


"Sudahlah jangan buat mukaku semakin memerah."


Sedangkan aku dan Adrian hanya bisa menggelengkan kepala saja menatap tingkah mereka dari kejauhan.


"Mereka ini tidak mau kalah mesra dengan kita," ujarku menatap mereka lirih.


"Tidak masalah. Sebentar lagi kita akan menikah juga dan lebih mesra dari mereka," tuturnya dengan percaya diri.


"Calon suamiku tetap yang terbaik di antara semua."


"Wanita kesayanganku tepat di hadapanku ini juga yang terbaik di antara semua wanita di dunia ini."


"Selain itu kita akan menjadi pasangan terbaik di antara semua," lontarku bersamanya serentak saling tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2