
Kami langsung memesan makanan dengan porsi banyak. Aku dan Adrian masih penasaran Tania sebenarnya ingin memberitahukan hal apa sampai serius begitu. Tapi anehnya Nathan terlihat santai menyantap daging panggang.
Aku melipat kedua tanganku di dada. Rasanya aku tidak sabar mendengar hal penting ingin disampaikan Tania. "Sebenarnya kamu ingin membicarakan apa sih, Tania?"
"Sebenarnya aku ingin memberikan ini untuk kalian berdua." Tania memberikan sebuah undangan untukku dan Adrian.
Mata Adrian terbelalak melihat kartu undangan. "Jangan bilang kalian ...."
Tania merangkul tangan Nathan mesra. "Aku dan Nathan akan menikah bulan depan."
"Aish, mana undangan untukku!" protes Hans cemberut.
Nathan memutar bola matanya sambil menggeser kartu undangan untuk Hans. "Itu untukmu."
Hans tertawa terkekeh. "Ternyata aku juga diundang. Terima kasih!"
Tetap saja aku masih sulit percaya. Apalagi tingkah Nathan dan Tania selama ini tidak terlihat seperti sepasang kekasih, bahkan sering bertengkar saat kerja. "Tapi sejak kapan? Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal?"
"Kalau aku memberitahumu pasti kamu lebih fokus pekerjaan dan tidak tertarik mengenai hal itu," jawab Tania cemberut.
"Maka dari itu Penny, cepat nyusul kami. Kamu sudah hampir berusia 30 tahun tapi masih belum punya pacar," ejek Nathan menertawaiku.
"Uhuk...uhuk..."
Aku tersentak kaget hingga batuk tersedak. Dengan sigap Adrian memberiku segelas air. "Kamu tidak apa-apa? Ini minum dulu."
Adrian mengambil sapu tangan dari saku jasnya lalu merangkul pundakku sambil menyeka percikan air melekat sekitar bibirku. "Penny, lain kali kamu jangan terburu-buru makannya nanti kamu bisa tersedak."
Responsku hanya tersenyum malu menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga.
"Memang Nathan mulutnya tidak bisa dijaga!" gerutu Hans.
"Ish kamu menyebalkan, Nathan! Aku ingin mencakarmu sekarang juga." Jariku sudab bersiap seperti singa ingin menerkam mangsa.
"Sudahlah jangan bertengkar. Ayo lanjut makan lagi!" kata Tania melerai.
Sekarang tinggal aku dan Tania sendirian di luar restoran. Gara-gara ucapan Nathan tadi, rasanya aku gelisah sekarang. Memang sih seumur hidup aku tidak pernah berpacaran dengan siapa pun. Aku biasanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mana mungkin ada pria yang menyukaiku.
"Penny, kamu kenapa? Kenapa wajahmu lesu begitu?" Tania menyentuh pundakku tiba-tiba membuatku tersadar dari lamunanku.
"Tidak apa-apa."
"Maaf ya soal ucapan Nathan tadi. Tapi kamu sungguh belum berpacaran dengan seseorang? Adrian tidak mengucapkan sesuatu?"
Aku menggeleng pelan dan menghela napas lesu. "Adrian itu hanya sebatas sahabat setiaku. Lagi pula dia mana tertarik dengan penampilanku seperti ini dan aku hanya sibuk dengan pekerjaan. Dia terlihat sangat tampan dam sempurna pasti banyak wanita lainnya yang mengincarnya dulu."
Tania tertawa terbahak sampai sakit perut sambil mencubit pipiku. "Memang kamu sangat tidak peka, Penny! Adrian sangat menyukaimu sejak dulu. Dia sangat perhatian padamu, selalu ada di sisimu di saat kamu sedang kesulitan, merelakan nyawanya demi kamu, mencemaskanmu hingga mengutusku dan Nathan menjagamu waktu itu."
"Tapi dia bilang bahwa aku hanya sahabat terbaiknya saja."
Tania memutar bola mata. "Mana mungkin sih pria dan wanita bisa menjadi sahabat terdekat. Aku yakin suatu hari nanti dia akan menyatakan perasaannya padamu."
"Sepertinya tidak mungkin."
"Sudahlah aku mau pulang dulu. Pokoknya aku mendoakan terbaik untuk kalian berdua saja."
Saat ini aku tidak bisa tidur karena masih memikirkan hal itu. Aku sebenarnya sangat bingung semenjak dulu Adrian sebenarnya memperlakukanku sebagai sahabatnya atau hal lain. Aku menyukainya semenjak dulu, tapi hingga sekarang aku tidak terlalu mengharapkannya membalas perasaanku.
Aku menatap kotak jam tangan yang kubeli waktu itu bersama Tania bahkan belum aku memberikan padanya. Namun aku merasa jawabannya pasti 'terima kasih', tidak ada hal lainnya. Tapi mustahil aku tidak memberikan jam tangan ini untuknya.
Dengan sigap aku mengambil ponselku menghubunginya daripada aku terus galau sendiri.
"Bisakah ... kita bertemu besok siang di restoran biasanya?"
"Boleh saja. Lagi pula besok aku tidak sibuk."
"Baiklah, sampai bertemu besok."
Aku mengendarai mobilku menuju tempat pertemuan kami. Saat aku memasuki restoran itu, Adrian melambaikan tangannya padaku.
Aku berlari menghampirinya menduduki kursi di hadapannya. "Maaf, kamu pasti menungguku lama."
"Tidak apa-apa. Aku juga baru tiba di sini sekitar dua menit yang lalu."
Aku tersenyum malu memberikan paper bag untuknya. "Ini hadiah untukmu. Sebenarnya selain beli makanan khas Korea, aku juga membelikan ini untukmu tapi lupa akibat mengurus pekerjaan."
Pandangannya berbinar ketika membuka kotaknya berisi sebuah jam tangan mahal, lalu ia langsung memakainya. "Terima kasih Penny, aku sangat menyukainya."
Aku hanya bisa pasrah melihat reaksinya datar. Seorang jaksa yang terlihat sempurna tidak mungkin tertarik denganku yang berpenampilan biasa saja.
"Penny, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Ekspresi wajah Adrian yang awalnya tersenyum girang, tatapannya kini terlihat penuh kasih sayang padaku. "Kamu satu-satunya wanita yang membuatku selalu nyaman ketika berada di sisimu. Di mataku, kamu adalah satu-satunya wanita yang sangat tangguh, pantang menyerah, dan juga manis. Kamu adalah wanita sesuai dengan tipe idamanku. Seumur hidupku, baru pertama kalinya aku menyatakan perasaanku pada wanita yang kusayangi. Aku sangat menyayangimu, Penny." Adrian menyatakan perasaannya kepadaku sambil memegang tanganku.
Aku membulatkan mataku hingga jantungku berdebar kuat sekarang, sungguh di luar dugaan. Awalnya aku ingin menyatakan perasaanku duluan, justru sekarang ia melangkah maju duluan. "Kamu ... baru saja menyatakan perasaanmu padaku?"
"Aku tidak mau hubungan kita hanya sebatas sahabat saja. Aku ingin hubungan kita melebihi itu. Setiap kamu dalam bahaya, rasanya aku tidak ingin kehilangan wanita yang kusayangi. Aku akan selalu melindungimu. Rasanya hatiku sangat sakit saat melihatmu terluka."
__ADS_1
"Adrian ...."
"Setiap kali kamu melekat padaku, aku tidak ingin melepaskanmu begitu saja. Aku selalu bahagia memiliki wanita sepertimu yang selalu berada di sisiku setiap saat. Selama ini entah kamu sibuk atau tidak, kamu selalu luangkan waktumu mendengarkan curahan hatiku."
Adrian tersenyum bahagia mengelus punggung tanganku penuh kasih sayang. "Penny, maukah kamu menjadi kekasihku?"
Air mataku terus berlinang pada kelopak mataku. Aku tidak menyangka ia mengajakku menjadi kekasihnya, padahal aku hanya wanita biasa.
Tanpa berpikir panjang, aku menganggukkan kepalaku mengukir senyuman bahagia. "Aku ingin menjadi kekasihmu, Adrian. Aku juga sangat menyayangimu semenjak dulu. Aku sangat bahagia ketika kamu selalu di sisiku setiap saat dan melindungiku dari bahaya. Kamu adalah pria yang paling kusayangi."
Adrian beranjak dari kursinya menghampiriku dan membiarkanku duduk di atas pangkuannya sambil mendekapku penuh cinta. "Aku akan membuatmu bahagia hingga seterusnya. Aku ingin menciptakan momen-momen bahagia untuk kita berdua yang tidak pernah terlupakan."
Aku tersenyum anggun. "Adrian, selama ini kamu menghiburku dan juga aku selalu mengingat setiap momen kita lakukan selama ini."
Ponselku tiba-tiba bergetar di saat momen kemesraan kami menandakan sebuah notifikasi pesan singkat muncul. Sejenak aku membaca pesan itu.
"Detektif Penny, selamat Anda dipromosikan menjadi kepala detektif unit 1 kekerasan kejahatan."
Reaksiku sangat terkejut mendengar kabar baik dan tidak terduga bagiku. Aku menatap kekasihku sekilas tersenyum bahagia padanya.
Adrian juga ikut tersenyum mengelus punggung tanganku lambat laun. "Ada apa, Penny?"
"Aku dipromosikan menjadi kepala detektif. Akhirnya impianku tercapai juga," jawabku memeluknya kegirangan.
"Selamat, Penny! Aku sangat bangga memiliki kekasih sepertimu. Kita harus merayakan ini."
Adrian mencium keningku mendalam penuh dengan perasaan kasih sayang dalam durasi beberapa detik hingga jantungku semakin berdebar kencang.
"Penny, pasti selama ini kamu mengira aku sudah pernah berpacaran dengan seseorang."
Aku tertawa gemas mencubit pipinya. "Kamu terlihat sempurna pasti banyak wanita yang mengincarmu."
Dibalas tawa bahagia dilepaskan Adrian. "Walaupun bagi kamu, aku sempurna, aku tetap mencari wanita yang sempurna. Kamu adalah wanita sempurna yang bisa melengkapi hidupku."
Kedua tanganku bergelayut di lehernya manja. "Adrian, aku menganggapmu sebagai pacar pertamaku karena aku menyayangimu."
Adrian berinisiatif memasukkan sesendok makanannya ke dalam mulutku. "Kalau menyayangiku, kamu harus disuapi aku."
"Tentu saja aku mau disuapimu, Adrian." Aku menyuapinya juga.
"Bagaimana kalau besok kita makan bersama keluargamu dan ayahku? Sekalian aku mau mengatakan kepada mereka mengenai hubungan kita."
"Boleh. Tapi apa ini terlalu cepat memberitahukan hal ini kepada mereka." Sebenarnya aku sedikit ragu, karena menurutku baru jadian tapi melaporkan hubungan kami kepada orang tua itu sangat berlebihan, seolah-olah kami ingin menikah.
Adrian menyentuh pundakku dengan kedua tangan. "Tenang saja. Lagi pula ayahmu dan ayahku sudah dekat sejak lama. Pasti mereka sangat setuju dengan hubungan kira sekarang."
"Aku terharu kamu sangat menyukai hadiah pemberianku."
Adrian memutar pergelangan tangannya. "Tentu saja, karena ini pertama kalinya aku menerima hadiah istimewa dari seorang wanita yang kusayangi."
Aku menunduk malu. "Kamu semakin tampan ketika memakai jam tangan pemberianku."
Tangan kanannya membelai rambutku. "Aku senang mendengar pujianmu barusan."
Keesokan harinya, sesuai dengan janji kami mengadakan pertemuan keluarga di restoran berbintang lima. Kami mengadakan pertemuan keluarga sekaligus merayakan kenaikan pangkatku.
"Selamat Penny atas kenaikan jabatanmu!" sorak Randy berjabat tangan denganku.
"Ayah sangat bangga mempunyai putri cerdas sepertimu, Penny," kata ayah dengan bangga.
"Iya mudah-mudahan kamu tidak bangun kesiangan lagi," ledek ibu tertawa terkekeh.
"Aduh, ibu jangan membuatku malu dong!" keluhku tersipu malu.
Adrian berhenti sejenak menatapku tersenyum manis sambil menggenggam tanganku di depan orang tua kami. "Paman, Tante, Ayah, ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada kalian."
"Apa mungkin kalian berdua berpacaran?" tanya ayah langsung.
Mulutku terbuka lebar, tidak kusangka ayah tahu hubungan kami padahal aku belum memberitahukan hak ini. "Bagaimana ayah mengetahuinya?"
"Ayah pasti tahu dong. Sudah terbaca di raut wajah kalian berdua. Ayah menyetujui hubungan kalian berdua. Kamu sudah dewasa, Penny. Memang sangat wajar kamu sudah berhubungan dengan pria yang kamu sayangi."
"Anak kita memang sudah dewasa ya. Ayah juga sangat mendukung hubungan kalian putraku," tutur Randy tersenyum pada kami.
Adrian menunduk hormat. "Terima kasih ayah dan paman telah menyetujui hubungan kami."
"Sudahlah bagaimana kalau kalian berdua pergi berkencan. Sebaiknya di hari libur begini, kalian menghabiskan waktu luang kalian untuk bersenang-senang," usul ibu.
"Iya, aku sangat setuju. Kalian berkencan saja biar ayah akan berbincang di sini bersama Maia dan Peter." Paman Randy mengibaskan tangannya mengisyaratkan mengusir kami berdua.
Aku dan Adrian saling bergandengan tangan berjalan kaki bersama mencari udara segar. Lalu, kami tidak sengaja melewati minimarket tempat pertama kali kami bertemu di sana.
"Kamu masih ingat dengan tempat ini?" tanyanya merangkul pundakku mesra.
"Aku masih ingat sekali sampai sekarang. Aku menabrakmu waktu itu hingga barangmu berjatuhan semua."
Adrian mencium pipiku. "Untungnya kamu waktu itu menabrakku. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang kita tidak akan berpacaran."
__ADS_1
Aku juga mencium pipinya. "Aku sangat beruntung bertemu denganmu waktu itu."
"Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan kita?" ajaknya menggandeng tanganku lagi.
Lalu kami berjalan ke tempat di mana aku dikejar pelaku misterius hingga terjatuh dan Adrian menarikku memasuki toko ini. Bisa dikatakan sejak itu, aku mulai menyukainya.
"Bukankah waktu itu kamu menolongku saat aku dikejar di tempat ini?"
Adrian mencubit pipiku lembut. "Iya, kamu membuatku khawatir saja waktu itu. Untung saja aku kebetulan lewat sini. Kalau tidak, nanti kanu terluka parah gimana."
Aku merangkul tangannya manja. "Iya, maaf telah membuatmu khawatir terus."
"Lalu kamu harusnya lebih berhati-hati. Kamu harus selalu ikat tali sepatumu dan jangan ceroboh sampai jatuh. Aku tidak suka melihatmu banyak bekas luka," sambungnya mulai mengeluarkan jurus cerewetnya.
Telingaku sudah mulai penasaran akibat mendengar ocehannya panjang lebar tidak ada bedanya dengan ibu. "Lain kali aku tidak akan ceroboh lagi dan selalu berhati-hati. Lagi pula kamu lebih parah memiliki banyak bekas jahitan akibat menolongku."
"Aku sudah sehat. Lihat saja kalau tidak percaya." Adrian berlagak kuat memamerkan otot lengannya padaku.
"Aku masih tidak percaya." Aku mengepalkan tanganku memukuli punggungnya sedikit bertenaga.
"Aduh sakit, Penny! Kamu ini tega sekali sih!" keluhnya meringis kesakitan sambil mengelus punggungnya.
"Apa? Kamu masih sakit di bagian mana? Coba kulihat lukanya! Jangan membuatku takut, Adrian!" Aku memeriksa kondisi tubuhnya panik.
Adrian menyunggingkan senyuman nakal sambil mencubit pipiku sedikit bertenaga. "Aku hanya bercanda, Penny."
Bibirku memanyun. "Kamu ini selalu membuatku khawatir saja!"
"Sudah jangan membahas masa lalu, ayo kita melanjutkan perjalanan kita lagi!" ajak Adrian merangkul pundakku mesra.
Kami berjalan bersama hingga larut malam. Ini pertama kalinya, aku merasakan momen bahagia dengan pria sangat kusayangi. Aku merasa sangat nyaman ketika berada di sisinya, apalagi sekarang ini.
Aku bangun pagi dan bersiap-siap untuk upacara penobatanku. Aku berpakaian seragam kepolisian dan menguncir rambutku model ponytail, lalu sarapan terlebih dahulu.
Setelah sarapan, aku bergegas keluar dari rumah sambil membawa tas kerjaku.
Adrian menyambutku langsung memelukku dan mengelus kepalaku lambat laun. "Kamu sangat cantik hari ini "
Aku mengedipkan mata manja. "Kamu juga tampan, Adrian."
"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajaknya membukakan pintu mobil untukku.
Sorot mataku sangat gatal melihat dasi yang dipakai pacarku mengganggu pemandangan. "Tunggu sebentar! Dasimu sedikit miring, tidak enak dilihat."
Di saat aku membenarkan dasinya, Adrian mendekatkan wajahnya pada wajahku sambil mengelus pipiku. Pipiku merah merona melihat senyuman manisnya di hadapanku apalagi jarak kita berdekatan begini.
"Aku suka melihatmu sangat gemas seperti ini," ucapnya manis.
Aku membenarkan kerah kemejanya sejenak "Dasimu sudah terlihat rapi sekarang."
"Sudah siap?" Adrian mengulurkan tangan kanannya padaku.
Aku menggenggam tangannya "Aku sudah siap!"
Di tengah perjalanan, aku membuka jendela mobil mengulurkan tanganku dan melihat masyarakat disini terlihat bahagia dan rasanya aku juga ikutan bahagia melihatnya karena sudah lama sekali kota ini tidak terlihat damai seperti ini. Selain itu, aku juga sangat bahagia karena memiliki seorang pria yang kusayangi di sisiku sekarang.
Upacara penobatanku sebagai kepala detektif berlangsung di sebuah aula besar yang biasanya dijadikan untuk rapat resmi para petinggi. Aku diberi penghargaan oleh komisaris polisi sambil berjabat tangan dengannya. Saat aku resmi menjadi kepala detektif, semua anggota kepolisian bertepuk tangan meriah padaku terutama aku bisa memandangi kekasihku tersenyum bahagia bertepuk tangan paling meriah.
Acaranya berlangsung dengan lancar. Aku berlari menghampirinya sambil memeluknya erat.
"Kamu berhasil, Penny! Aku sangat bangga padamu. Aku merasa seperti aku yang diberi penghargaan," soraknya girang.
"Ini berkatmu, Adrian. Kamu yang membuatku berhasil mendapatkan posisi ini."
Adrian memberikan sebuah buket bunga berwarna warni padaku. "Ini untuk kekasih kesayanganku."
Aku terkagum memandangi buket bunganya.
"Bunganya indah sekali. Terima kasih, Adrian!"
Adrian mendaratkan kecupan manis pada puncak kepalaku mendalam. "Penny, kamu memang vitamin penyemangat hidupku. Melihat kepribadianmu yang penuh semangat, aku menjadi semakin bersemangat berkat kamu."
Aku mencium pipinya berdurasi lama menyalurkan energi kasih sayang. "Aku juga menganggapmu sebagai vitamin penyemangatku. Karaktermu yang selalu pantang menyerah membuatku termotivasi."
Bibirnya berpindah mendarat di punggung tanganku. "Kamu ingin berkencan denganku?"
Tanpa perlu berpikir lama, aku menganggukkan kepalaku.
Lengan kekarnya spontan memelukku erat. "Hari ini aku ingin bermain bersamamu sampai sepuasnya untuk merayakan kemenanganmu."
Aku semakin mempererat pelukannya manja. "Ini bukan hanya kemenanganku, tapi kemenangan kita berdua karena kamu adalah kekasihku. Kamu ingin bermain selama seharian denganku, aku pasti tidak masalah."
Sedangkan ketiga detektif lainnya menyaksikan momen kemesraan ini dari kejauhan sambil menggelengkan kepala.
"Ternyata mereka sungguh berpacaran," lontar Tania ikut bahagia.
"Manis juga mereka," sahut Nathan terkekeh.
__ADS_1
"Sebenarnya mereka walaupun berteman juga selalu bermesraan setiap saat. Mereka saja yang tidak menyadarinya," ejek Hans.