
Seminggu kemudian...
Sejak aku melahirkan Victoria, kesibukanku kini semakin bertambah. Tidak hanya pekerjaanku sebagai kepala detektif, tapi sebagai seorang ibu juga. Rutinitasku sekarang bukan hanya sekadar bangun pagi untuk masak sarapan saja, tapi mengurus Victoria sekarang prioritas utamaku. Bahkan sekarang aku tidak bisa tidur dengan nyenyak lagi karena setiap malam, Victoria selalu menangis terus setiap malam sehingga aku harus bangun dari tidurku dan mengurusnya. Sedangkan Adrian, aku tidak akan merepotkannya walaupun ia adalah seorang ayah dari putriku. Hampir setiap hari Adrian bekerja lembur dan selalu pulang larut malam. Jadinya aku tidak akan menambahkan bebannya lagi.
Saat kami sedang sarapan bersama, Adrian terus menggendong Victoria bermain bersamanya hingga Victoria tertawa puas. Memang Adrian sangat diandalkan sebagai ayah yang penyayang terhadap anaknya. Tapi, aku juga tidak ingin membiarkannya bermain terus sampai lupa waktu.
"Sayang, sebaiknya kamu sarapan dulu saja. Nanti kita bisa terlambat kalau bermain bersamanya terus," usulku sambil menikmati nasi omelet buatannya.
"Aku masih ingin bermain bersama bayi kita. Dia terlihat imut sekali kalau sedang tertawa." Adrian memainkan jari jemarinya sambil tertawa kecil.
"Kalau kamu bermain bersamanya terus, aku akan menyuapimu."
"Tidak masalah. Malahan aku semakin suka kalau disuapimu," lontarnya santai menyunggingkan senyuman nakal padaku.
"Ish dasar manja! Kamu tidak ada bedanya dengan Victoria!"
Aku beranjak dari kursi lalu duduk di sebelahnya sambil menyuapinya.
"Aku puas kalau disuapimu," rayunya manja sambil mengelus kepalaku.
"Padahal aku juga ingin disuapimu, tapi kamu sibuk bermain bersama Victoria." Aku memberinya kode keras menyunggingkan senyuman nakalku.
"Tentu saja aku pasti menyuapimu. Sambil merawat bayiku, aku juga bisa merawat istri kesayanganku dengan baik," balasnya sambil menyuapiku makanan.
"Omong-omong, ini sudah waktunya Victoria minum susu. Aku harus memberinya susu dulu."
Dengan sigap aku mengambil botol susu yang sudah terisi susunya lalu menduduki kursinya sambil menggendong Victoria.
"Waktunya minum susu, Putriku!" seruku sambil mengarahkan botol susunya pada mulut Victoria.
Saat Victoria sedang menyedot susunya, secara spontan Adrian mendekapku dan Victoria dengan hangat sambil mengecup pipiku sekilas.
"Aku menyayangimu, Penny," ungkapnya semakin bermanja padaku.
"Anak kita pasti akan menjadi anak yang kuat seperti kita. Memang wajahnya selalu terlihat imut setiap saat."
"Sama sepertimu, Penny," balasnya sambil mencubit hidungku lembut.
"Adrian, karena aku sedang sibuk memberi susu untuk Victoria, jadinya kamu--"
Aku belum sempat menyelesaikan perkataanku, mulutku langsung dibungkam olehnya dengan memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutku.
"Jadinya aku harus suapimu, Sayang."
"Memang kamu sangat peka padaku." balasku mencium pipinya sekilas.
"Karena aku tidak ingin melihatmu kelelahan. Bagaimana kalau aku suapimu terus selama kamu memberi susu untuk Victoria sampai makananmu juga habis?"
"Tapi nanti kamu jadi tidak bisa makan."
"Tenang saja aku bisa mengaturnya."
Karena kami sudah selesai sarapan, aku kembali menaruh Victoria di ranjang bayi. Adrian membersihkan dirinya dulu sedangkan aku mencuci semua piring kotor. Beberapa saat kemudian, Adrian baru saja merapikan dirinya terlihat menjadi jaksa yang tampan lalu tiba-tiba terdengar suara tangisan Victoria sangat keras. Dengan sigap Adrian berlari menghampiri rak penyimpanan untuk mencari popok.
"Sayang, cepat bantuku ganti popoknya Victoria!" pekikku masih sibuk mencuci piring.
"Iya, Sayang! Aku lagi cari popoknya nih," balas Adrian yang sibuk mencari popok di rak penyimpanan.
Adrian mencari popok dan akhirnya ketemu juga di bagian dalam rak penyimpanan itu. Lalu ia bergegas berlari menuju ranjang bayi untuk menghampiri Victoria yang sedang menangis tanpa henti-hentinya.
"Victoria putri kecilku, jangan menangis terus. Ada papa di sini menemanimu," ucap Adrian lembut menggendong Victoria untuk menenangkannya.
Setelah Victoria kembali tenang, Adrian memulai aksinya untuk mengganti popoknya Victoria. Sedangkan aku masih sibuk membereskan dapur. Rasanya lelah sekali melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Walaupun lelah, tapi aku tetap melakukannya dengan sepenuh hatiku demi keluarga kecilku.
Beberapa menit kemudian setelah aku membereskan semuanya, aku juga merapikan diriku. Aku memakai pakaian kerjaku yang terlihat professional dan merias wajahku agar terlihat lebih bersemangat sekaligus membuatnya semakin cinta padaku. Setelah selesai semuanya, aku mengambil tas kerjaku dan juga kunci mobilku. Pada saat bersamaan, Adrian juga selesai mengurus Victoria menghampiriku sambil menggendongnya.
"Sayang, hari ini aku yang mengantarmu ke kantor, ya," tawar Adrian.
"Tidak usah. Hampir setiap hari kamu pulang larut malam. Aku tidak akan merepotkanmu."
"Hari ini aku tidak terlalu sibuk. Lagi pula aku ingin meringankan bebanmu."
"Sudahlah aku tidak apa-apa. Kalau kamu mengantarkanku nanti kamu akan terlambat kerja. Kamu harus mengantar Victoria juga ke rumahku."
"Tidak masalah. Aku tidak mungkin terlambat kerja."
"Ish jangan begitu! Aku tidak tega melihatmu dimarahi atasanmu karena masalah kecil saja."
Victoria menangis dengan keras lagi akibat aku dan Adrian berdebat barusan membuatnya merasa tidak nyaman. Lalu aku menggendong Victoria berusaha untuk menenangkannya tapi ia tidak mau menurutiku. Adrian menduduki sofa ruang tamu dan menepuk pahanya mengisyaratkanku untuk duduk di atas pangkuannya. Aku langsung menurutinya lalu duduk di pangkuannya sedangkan ia langsung mendekapku dengan hangat. Di saat itu, Victoria langsung berhenti menangis dan tersenyum ceria menatap kami berdua.
"Aku tahu apa yang membuat Victoria selalu ceria," ucap Adrian tersenyum cerdas.
__ADS_1
"Anak kita bahagia kalau kita tidak berdebat seperti tadi. Dia suka sekali melihat kita saling damai dan penuh cinta."
"Maaf, ya, Sayang. Aku tidak akan lagi berdebat denganmu."
"Aku juga tidak mau ribut denganmu lagi. Nanti Victoria menangis lagi dan membuatku juga ikutan sedih."
"Kalau dua wanita kesayanganku sedih, sudah pasti aku juga sedih. Tapi tenang saja, aku tidak akan membuat Victoria menangis lagi."
Aku terus menepuk-nepuk punggung Victoria berirama membuatnya semakin tenang sambil tangannya bergerak berusaha menyentuh tanganku.
"Anak pintar, mama senang melihatmu selalu menurut."
"Mmm aku juga mau dimanjakan sama mama," ujarnya bersandar pada pundakku dengan manja.
"Anakku yang sudah besar juga pintar selalu menurutiku." Aku menempelkan pipiku pada pipinya tersenyum sendiri.
"Tubuhku pegal-pegal! Mau dipijat mama. Ayolah Penny, perlakukanku seperti Victoria," rengeknya seperti anak kecil menggoyangkan lenganku.
"Ish sudah cukup manjanya, Adrian! Kamu semakin lama semakin menjadi anak manja!"
"Bodoh amat!" ledeknya menjulurkan lidah padaku.
"Aku lelah mengurus dua anakku!"
"Aku cuma bercanda. Lagi pula aku harus menjadi contoh ayah yang terbaik di antara semua ayah di dunia ini. Aku pasti akan menjadi ayah yang paling berbeda di antara lainnya dan tidak ada satu pun yang bisa mengalahkanku dan juga akan selalu membuat anak kita merasa puas."
"Nah gitu baru suami kesayanganku. Benarkah, Victoria? Papa selalu yang terbaik," pujiku sambil menatap Victoria.
Adrian mengecup hidungku dengan sekilas membuatku hampir serangan jantung tanpa persiapan apa pun.
"Adriiaan!"
"Aku semakin sayang deh sama istriku ini. Sayang dan cinta pada Penny kesayanganku."
"Aduh kamu pagi-pagi sudah buat moodku baik deh! Adrian merupakan suamiku, ayah dari anakku, dan juga vitamin penyemangatku yang paling kucintai," balasku sambil mengedipkan mataku supaya terlihat imut.
"Coba ulangi perkataanmu tadi."
"Perkataan yang mana?"
"Papa yang terbaik deh. Aku semakin sayang pada Adrian," tuturnya menyunggungkan senyuman nakalnya semakin mendekati wajahku.
Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya lalu aku menurutinya dengan mengulangi perkataannya barusan.
"Mama Penny semakin manis saja," balasnya dengan pandangan berbinar mencubit pipiku lembut.
"Kamu hanya mengatakanku semakin manis? Bukan yang terbaik di antara semua wanita?"
"Penny istriku, ibu dari anakku, dan juga belahan jiwaku adalah yang terbaik pokoknya."
"Sudahlah, aku mau berangkat kerja. Nanti kita bisa terlambat kalau tidak berangkat sekarang. Ini teh hijau untukmu," ucapku sambil memberinya botol stainless.
"Terima kasih, Sayang. Teh hijau buatanmu memang yang terbaik. Sebelum itu aku mau berpamitan dengan putri kecilku. Victoria, papa terbaikmu ini mau berangkat kerja dulu. Nanti kita main lagi, ya," pamitnya sambil mencium dahinya Victoria.
Victoria menunjukkan respon dengan tersenyum lebar pada Adrian.
"Putriku yang cantik, papa pergi kerja dulu, ya. Dadah!" pamitnya lagi sambil melambaikan tangannya.
"Kamu gimana sih! Aku kan juga mau ikut ke basement!"
"Oh iya, aku lupa. Kalau begitu, ayo kita berangkat bersama sekarang!" Adrian merangkulku sambil berjalan bersama menuju basement.
Setibanya di basement, ini adalah tempat perpisahan kami. Aku menaruh Victoria secara perlahan di kursi khusus lalu memasangkan sabuk pengamannya. Di saat aku hendak menduduki kursi pengemudi, Adrian menahanku tiba-tiba menghalangiku memasuki mobilku.
"Ada apa, Sayang?" tanyaku.
"Aku belum memberimu vitamin penyemangat." Adrian mencium keningku dengan lembut agak lama penuh cinta. Lalu ia melepaskannya dan mempersilakanku memasuki mobilku.
"Sudah selesai?" tanyaku dengan senyuman girang.
"Sudah. Kamu boleh berangkat sekarang."
"Tapi aku ingin bersamamu lebih lama lagi. Sudah sekian lama kamu tidak memperlakukanku dengan manja. Belakangan ini kamu terus sibuk dengan pekerjaan sampai tidak memedulikanku," ucapku memanyunkan bibirku sedikit kecewa.
"Aku juga ingin bersamamu lebih lama lagi. Tapi apa boleh buat, pekerjaan yang membuat kita jarang menghabiskan waktu bersama."
"Aku jadi benci dengan pekerjaanku dan juga pekerjaanmu."
"Ish jangan begitu! Jangan karena kita jarang bersama jadi membenci pekerjaan kita. Tenang saja Sayang, malam ini aku usahakan akan pulang lebih awal supaya bisa bermain denganmu dan juga Victoria. Aku juga merasa kesepian kalau tidak ada kamu di sisiku." Adrian menyentuh kedua tanganku dan mengelus dengan lembut.
"Janji, ya? Aku pasti akan menunggumu pulang dan tidak akan tidur dulu. Aku ingin melihat sosok suamiku tidur tepat di sebelahku dan menggenggam tanganku setiap malam."
__ADS_1
"Aku akan menepati janjiku. Aku juga bosan makan malam sendirian di saat semua orang yang kusayangi sudah tertidur. Rasanya seperti aku belum menikah saja. Aku rindu makan malam bersamamu dan juga Victoria."
"Mmm peluk aku sebentar!" pintaku manis.
Adrian menurutiku lalu memeluk punggungku dengan hangat. Sekitar hampir satu menit berlalu, aku melepas pelukan itu mengingat waktu terus berjalan membuat kami bisa terlambat kerja.
"Aku sudah puas sekarang. Sebaiknya kita berangkat kerja sekarang juga," saranku lembut.
"Baiklah, aku akan berangkat deh. Sampai bertemu nanti malam, Sayang."
"Sampai jumpa, Sayang. Ingat tehnya jangan lupa diminum!"
"Iya aku pasti ingat."
Adrian memasuki mobilnya lalu mengendarai mobilnya menuju kantornya. Sedangkan aku mengendarai mobilku menuju rumah lamaku untuk menitipkan Victoria kepada ibu.
Aku memasuki rumahku menghampiri ibu yang sedang sarapan bersama ayah.
"Victoria sayang, ingat ya selalu nurut sama nenek," pesanku sambil mencium dahinya Victoria lalu menyerahkannya pada ibu.
"Sudahlah Penny, sebaiknya kamu berangkat kerja sekarang. Nanti kamu bisa terlambat."
"Iya, Bu. Aku akan berangkat sekarang. Jaga Victoria dengan bai,k ya, Bu."
"Tenang ibu tidak akan menyiksa anakmu. Ibu malahan ingin bermain dengan cucu kesayangan ibu."
"Kan siapa tahu ibu akan mengomeli Victoria sama seperti ibu memperlakukan dulu," tawaku terkekeh.
"Apa kamu bilang?"
"Tidak apa-apa. Aku berangkat dulu, Bu. Dadah, Putriku!" pamitku melambaikan tanganku.
"Ayah juga ingin bermain sepuasnya dengan cucu kesayangan ayah, semakin lama cucu ayah semakin terlihat cantik," lontar ayah sambil menatap Victoria yang sedang tersenyum.
"Aku pergi dulu, ya. Sampai bertemu, Ayah ibu. Anakku harus jadi anak baik, ya," pamitku bergegas meninggalkan rumahku.
Sekarang aku tiba di kantor lebih siang dari biasanya karena harus menitipkan Victoria kepada ibu. Setibanya di kantor, seperti biasa semua anggota timku sudah tiba duluan. Tania yang kini kondisinya sama sepertiku yaitu sama-sama harus mengurus anak kami sampai kelelahan seperti ini.
"Hoam ... tubuhku rasanya pegal-pegal," ucap Tania dengan mata ngantuk sambil menepuk punggungnya.
"Memang berat ya menjadi seorang ibu," ujar Fina menunjukkan rasa simpatinya padaku dan Tania.
"Iya nih. Setiap hari aku harus mengurus anakku selama 24 jam sampai aku kurang tidur begini. Belum pekerjaan kantor yang setiap hari bertumpuk," keluh Tania bernapas lesuh.
"Waktu itu aku ingin membantumu tapi kamu malah menolak," protes Nathan memanyunkan bibirnya.
"Aku tidak mau merepotkanmu, Nathan. Lagi pula mengurus anak itu adalah tugas seorang ibu."
"Tapi aku kan juga mau membantumu, aku seorang ayah juga."
"Masa sih kamu mau membantu istrimu," ketus Hans dengan nada ledekkan menyipitkan matanya curiga.
"Memang benar! Kalau tidak percaya tanya orangnya sekarang juga!" elak Nathan balik memelototi Hans dengan tajam.
"Sudahlah kalian tidak usah bertengkar lagi. Kebiasaan deh setiap pagi! Aku sudah muak dengan ini!" celetuk Fina mendengkus kesal sambil mengacak-acak rambutnya.
"Maaf, Fina. Aku tidak bermaksud membuatmu stress setiap pagi."
"Wah, tumben sekali Fina yang sekarang galak! Biasanya Penny yang selalu galak seperti singa!" seru Nathan heboh sambil bertepuk tangan.
"Ish aku ingin mencakarmu rasanya!" sungutku mengerucutkan bibirku.
"Sebaiknya kamu tenang, Fina," bujuk Hans menyentuh tangannya.
"Sudahlah aku mau sendirian saja!" bentak Fina menepis tangan Hans pelan.
"Tuh kan, kamu lihat sendiri. Pacarmu itu saja ngambek karena tingkahmu yang seperti anak kecil."
"Berisik sekali sih kalian! Pagi-pagi buat moodku tidak enak saja! Kalau mau berdebat sebaiknya di luar kantor saja, jangan di sini!" bentakku memelototi mereka berdua.
"Ma--"
"Basi ah selalu minta maaf padaku terus nanti diulangi lagi. Begitu terus saja sampai kakek nenek. Aku sudah bosan mendengarnya! Sudahlah lebih baik kita kembali bekerja saja!" Aku langsung memotong perkataan Hans tanpa segan.
Siang harinya, aku sibuk mengemil cokelat untuk menghilangkan stressku. Sejak aku mengandung Victoria, mengemil cokelat di saat aku sedang menganggur itu merupakan kebiasaan baruku sekarang. Walaupun Adrian suka menegurku untuk tidak keseringan memakan cokelat, aku terkadang bisa menurutinya dan tidak. Masih mending sih dibandingkan orang lain yang menegurku, aku pasti tidak akan menuruti nasihat orang lain. Pokoknya aku akan selalu menuruti nasihat suamiku sendiri.
Kring...kring...
Di saat kepalaku sedang sakit dan aku sedang mengemil cokelat, telepon kantor tiba-tiba berbunyi. Aku mendengkus kesal dan menaruh cokelat itu di atas meja lalu mengangkat teleponnya.
"Selamat siang, dengan Kepala Detektif Penny ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Ditemukan seorang gadis yang terjatuh dalam kondisi tidak sadarkan diri di tangga darurat di Apartemen Raffles."
"Baiklah saya akan ke sana sekarang." Aku langsung menutupi telepon itu mengajak semua anggota timku ke TKP.