Good Partner

Good Partner
Part 23 - Interogasi


__ADS_3

Sekarang aku sudah sangat siap mengembalikan nama baikku dan karierku. Aku berangkat menuju kantor polisi mengendarai mobilku terfokus pada jalan raya yang dikawal semua temanku baik di samping maupun belakang mobilku.


Setibanya di kantor polisi, aku menuruni mobilku mengangkat wajahku penuh percaya diri sambil dikawal semua temanku untuk melindungiku dari serbuan para reporter saat ini. Tania dan Nathan menjagaku di depanku sedangkan Adrian menggenggam tanganku erat mengawalku memasuki kantor polisi.


"Apakah benar Anda adalah pembunuhnya?" tanya salah satu reporter.


"Kenapa Anda tiba-tiba menyerahkan diri di kantor polisi?" tanya reporter lainnya.


"Kenapa Anda membunuhnya?" tanya reporter lainnya juga.


Di tengah keributan, Nathan menghembuskan napasnya kasar dengan kesal akibat ia didorong terus oleh para reporter. Selain itu saat aku diserbu di depan kantor polisi, salah satu petugas polisi menghampiriku untuk memborgol tanganku.


Adrian menatapku lesu sejenak, sedangkan aku membalasnya tersenyum santai mengisyaratkan bahwa aku akan baik-baik saja. Ia melepas genggaman tangannya merelakan aku diborgol petugas kepolisian.


"Detektif Penny, Anda ditangkap atas pembunuhan Pak Gerry. Silakan Anda mengikuti saya," kata polisi itu.


Aku mengikutinya memasuki ruang interogasi. Rasanya sangat aneh. Biasanya aku yang menginterogasi saksi atau tersangka. Sekarang keadaan malah sebaliknya. Kini aku yang diinterogasi sebagai tersangka kasus pembunuhan. Lebih parahnya detektif yang menginterogasiku sekarang adalah Detektif Hans yaitu salah satu musuhku di kantor ini. Sejak dulu aku tidak terlalu menyukai sikapnya yang terkadang suka memamerkan kelebihannya pada orang lain.


"Astaga, Penny! Kenapa aku yang harus menginterogasimu? Ini sangat menjengkelkan!" sambut Hans dengan nada sindiran.


"Aku juga malas sebenarnya diinterogasi kamu, Hans," sahutku memutar bola mataku bermalasan.


"Lebih baik kamu diam saja dan jawab pertanyaanku dengan jujur!" tegas Hans berwajah serius sambil membuka berkas kasusnya.


"Tenang saja. Semua ucapanku itu adalah suatu kejujuran. Aku tidak pernah membohongi sesama rekan kerjaku," balasku duduk bersilang.


Hans memposisikan dirinya kembali bersikap profesional sambil memainkan pulpen miliknya memasang tatapan serius, meski awalnya raut wajahnya sangat menjengkelkan.


"Baiklah, mari kita mulai interogasinya. Tanggal 30 Agustus 2020 pukul 2 siang, ditemukan sebuah jasad diduga korban bernama Gerry yang merupakan sipir yang baru bekerja di rutan, apakah kamu yang membunuhnya?" selidiknya mulai fokus pada interogasi.


"Bukan aku pembunuhnya." Aku menjawabnya langsung tanpa berpikir panjang.


"Lalu kenapa ada yang melaporkan kepada pihak polisi bahwa ada yang melihatmu sedang membunuhnya dan ada bukti sidik jari kamu?" Hans tersenyum licik padaku sambil memperlihatkan laporan hasil sidik jari dari tim forensik padaku.


Aku tertawa remeh. "Sidik jari itu bisa dimanipulasi. Lagi pula aku punya alibi yang membuktikan bahwa aku tidak bersalah."


Hans mendongakkan kepala. "Apa alibimu?"


"Sekitar pukul 12 siang hingga pukul 1 siang, aku bersama Jaksa Adrian berkunjung ke rutan untuk mengunjungi tahanan yang dikurung di sana. Lalu pukul 1 siang, aku meninggalkan rutan dan melakukan perjalanan kembali ke kantor polisi. Tapi di tengah jalan, aku dihubungi nomor tidak dikenal yang mengaku bahwa dirinya merupakan korban bernama Gerry. Karena dia salah satu pihak terlibat dalam kasus pembunuhan tahanan bernama Ray terjadi beberapa hari yang lalu, aku langsung pergi ke alamat yang dikirimkannya untuk menangkapnya. Jarak antara posisi saat aku dihubungi dengan TKP itu sekitar 15 kilometer yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sedangkan aku tiba di TKP sekitar pukul 2 siang lewat. Berarti ini membuktikan bahwa aku tidak membunuhnya sama sekali." Aku menceritakan semua kejadiannya secara rinci pada Hans tanpa melewatkan satu pun dengan tatapan penuh percaya diri.


Alis Hans terangkat sebelah. "Kamu punya buktinya?"


"Jaksa Adrian memiliki bukti bahwa bukan aku pembunuhnya dan juga ada bukti bahwa ada namaku terdaftar dalam daftar kunjungan penjara," jawabku berlagak sombong.


"Baiklah. Tolong panggil Jaksa Adrian memasuki ruangan!" pinta Hans kepada salah satu petugas kepolisian yang sedang berjaga di pintu.


Adrian memasuki ruang interogasi bersama sipir yang berjaga waktu itu sambil membawa barang bukti.


"Apakah kamu punya bukti yang bisa membuktikan alibi Detektif Penny?" tanya Hans dengan ragu menatap Adrian.

__ADS_1


Adrian menyerahkan sebuah flashdisk. "Ini bukti rekaman CCTV saat aku dan Detektif Penny sedang berkunjung, lalu ini daftar nama pengunjung penjara beserta waktu kunjungannya."


Tatapan Hans terfokus pada petugas sipir itu berdiri di sebelah Adrian. "Lalu dia siapa?"


"Oh, dia ini sipir yang bertugas saat aku dan Detektif Penny sedang berkunjung. Siapa tahu kamu ragu dengan buktinya jadi kamu bisa menanyakannya langsung," jawab Adrian berlagak percaya diri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Dengan sigap Hans memeriksa daftar kunjungan dan juga rekaman CCTV. Raut wajahnya langsung berubah saat memeriksa buktinya dan merasa tidak enak padaku.


Akhirnya kemenangan jelas-jelas di depan mata. Kini justru aku yang memamerkan kecerdasanku. "Sudah kukatakan sebelumnya. Aku bukan pembunuhnya. Kamu yang tidak percaya denganku saja sejak dulu. Lagi pula untuk apa aku membunuh orang sedangkan aku sendiri adalah detektif."


"Jaksa Adrian dan petugas sipir boleh meninggalkan ruang interogasi!"


Setelah mereka berdua meninggalkan ruang interogasi, Hans melanjutkan interogasinya denganku.


"Kamu mau melepaskanku sekarang?" tanyaku memelototinya tajam sambil menarik tanganku masih diikat borgol.


"Jika bukan kamu pelakunya, lalu siapa yang membunuhnya? Sidik jarimu jelas terbukti di sana." Hans bingung dengan situasi saat ini hingga dahinya berkerut.


"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya padamu secara rinci. Yang pasti ada orang dalam yang bersekongkol dengan pelaku aslinya sehingga dia bisa mendapatkan sidik jariku dan menjebakku dengan mudah."


"Siapakah itu? Jangan bilang kamu mencurigaiku!" tukas Hans mulai gugup.


Aku tertawa lepas melihat betapa polosnya Hans kalau ia sudah tidak bisa berpikir. "Walaupun kamu sejak dulu sangat membenciku tapi kamu tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Aku tidak akan mencurigaimu. Nanti aku akan memberitahu semuanya jika aku memiliki bukti yang akurat. Kamu tunggu saja."


"Baiklah, interogasinya sampai di sini saja. Kamu dibebaskan dari tuduhanmu sekarang."


"Akhirnya detektif terhebat kita dibebaskan dari tuduhan!" sorak Nathan heboh sambil menepuk pundakku.


"Aku bisa nongkrong denganmu lagi dengan bebas," ujar Tania mempererat pelukannya seperti ingin mencekik aku.


"Tania, jangan memelukku terlalu erat! Aku kesulitan bernapas sekarang," sahutku dengan napas tersengal-sengal sambil memukuli punggungnya pelan.


Tania melepas pelukan. "Maaf, Penny. Saat ini aku terlalu bahagia melihatmu dibebaskan sampai begini."


"Memang Tania ini ada-ada saja!" celetuk Nathan menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang.


Sorot mataku tertuju pada Adrian yang dari tadi hanya berdiam diri saja, melihatku dari belakang menampakkan senyuman ceria.


Adrian berperan besar menyelamatkanku kali ini. Untuk melampiaskan rasa kebahagiaanku, aku mendekatinya memeluknya dengan hangat.


"Adrian, kamu berperan besar dalam membantuku membebaskan tuduhanku. Terima kasih, Adrian."


"Penny, aku lega sekali melihatmu kembali bahagia seperti ini! Aku berusaha membantumu semampuku supaya aku bisa bebas mengajakmu makan bersama lagi seperti sebelumnya," balasnya ikut bahagia denganku tanpa disadari ia mempererat pelukannya, tapi tidak seperti Tania yang rasanya ingin membunuhku tadi.


Pelukan hangat dari Adrian, walaupun ia terkadang memelukku spontan, tapi rasanya aku sangat nyaman mendapat perlakuannya sekarang. Nathan dan Tania mengamati tingkah kami sengaja berdeham.


"Ehem...ehem..."


Aku dan Adrian terlalu puas saling berpelukan hingga tidak menyadari tempat. Selain itu, hubungan kami hanya sebatas sahabat, spontan aku melepas pelukannya sambil menunduk malu.

__ADS_1


"Kenapa kalian berdua menertawaiku?"


"Tidak apa-apa. Jangan hiraukan kami," sahut Tania bertingkah seperti orang bodoh mengamati langit-langit.


"Kami tertawa karena terlalu bahagia, Penny," timpal Nathan asal bicara.


"Omong-omong, bagaimana kalau kita makan siang bersama untuk merayakan kebebasan Penny dari tuduhan? Sekalian mengunjungi Pak Colin," ajak Adrian kepada kami semua.


"Boleh juga, ayo kita ke sana sekarang!" sahutku dengan semangat.


Setibanya di restoran, seperti biasa kami memesan menu kesukaan kami yaitu makanan oriental. Saat kami sedang menyantap makanan, Pak Colin menghampiriku dengan tatapan cemas.


"Detektif Penny, apakah Anda baik-baik saja? Saya mendengar berita bahwa Anda ditangkap atas pelaku pembunuhan," tanya Pak Colin.


"Sekarang saya sudah bukan buronan yang dicari lagi," jawabku ramah.


Pak Colin berkacak pinggang. "Sebenarnya kenapa pelaku itu selalu mengincar orang yang tidak bersalah terus?"


"Yang pasti saya harus menangkap pelaku itu secepatnya supaya tidak menimbulkan banyak korban lagi di kota ini."


"Sudahlah daripada kita memikirkan kasus yang memusingkan, lebih baik kita makan dulu supaya energi kita terisi penuh untuk menangkap pelakunya," lontar Tania sambil makan dengan lahap.


"Aduh, kamu ini pikirannya makan terus!" oceh Nathan sambil menyentil dahi Tania.


Melihat tingkah aneh mereka berdua, aku dan Adrian hanya bisa menertawai mereka puas.


drrt...drrt...


Ponsel Adrian berbunyi tiba-tiba di tengah perbincangan kami semua. Ia langsung mengangkat panggilan teleponnya.


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga," kata Adrian bergegas menutup panggilan telepon.


"Ada urusan di kantor?" tanyaku penasaran.


Adrian menghela napas lemas. "Aku harus pergi sekarang, ada urusan penting tiba-tiba di kantor. Maaf ya aku tidak bisa berbincang dengan kalian lebih lama."


Aku menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Kalau itu urusan mendesak sebaiknya kamu pergi saja."


"Maafkan aku, Penny. Aku menghancurkan merayakan kemenanganmu," sesalnya lagi.


Aku mengibaskan tangan kananku. "Sudahlah itu tidak penting, pekerjaan lebih penting daripada ini."


"Kalau begitu aku pergi dulu ya," pamitnya sambil menepuk pundakku dan meninggalkan kami semua.


Setelah makan siang, aku, Tania dan Nathan kembali ke kantor untuk melanjutkan penyelidikannya. Saat aku sedang menelusuri penyelidikan lewat ponselku, tiba-tiba baterai ponselku mati. Dengan sigap aku mencolok ponselku dengan powerbank tapi tetap tidak berfungsi. Padahal aku sudah meminta bantuan Tania sebelumnya untuk mengisi daya powerbank. Aku mengambil kabel lalu mengisi daya powerbank juga tetap tidak bisa. Mungkin aku harus membantingnya supaya menyala.


PRAK..PRAK..


Aku membanting powerbank dengan kasar hingga membuat semua orang memandangiku. Tapi ada sesuatu yang aneh muncul dari sana. Aku mengambil benda misterius itu dan ternyata benda itu adalah sebuah chip.

__ADS_1


__ADS_2