
Aku sedang mendiskusikan artikel berita yang saat ini sedang menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan masyarakat. Para netizen meminta pihak kepolisian menyelidiki ulang kasus itu lagi. Asumsiku mengatakan bahwa kasus yang terjadi setahun yang lalu ada kaitannya dengan kasus saat ini.
Tapi sepertinya Inspektur William menyangkalnya dilihat dari raut wajahnya. Entah kenapa aku mulai merasa ada yang janggal melihatnya seperti itu dan terus memaksaku untuk segera menyelesaikan kasus ini dengan benar. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya dariku. Lalu dihirup dari aroma parfumnya yang sangat menyengat di ruangan ini sama seperti yang ada di tempat pembuangan mobil bekas waktu itu.
Aku memasang tatapan curiga. "Maksudmu apa? Jadi kamu menyuruhku mengubur kasus itu?"
"Aku tidak mengatakan kamu harus mengubur kasus itu. Tapi kamu harus menyelesaikan kasus yang sekarang terlebih dahulu, lalu melakukan penyelidikan kasus yang ada di artikel berita itu," jawab Inspektur William dengan tegas.
"Tapi korban dari kasus ini dan kasus yang ada di artikel berita itu memiliki kesamaan. Mereka adalah seorang wanita," balasku meninggikan nada bicaraku.
"Itu hanya suatu kebetulan saja. Kamu tidak usah memikirkan sampai sejauh itu!"
Batas kesabaranku hampir habis. Darahku semakin mendidih hingga aku ingin membentaknya kasar. "Kebetulan? Apakah kamu tidak curiga korbannya selalu wanita?!"
Inspektur William memukuli meja. "Mau korbannya wanita atau apa terserah. Tapi yang terpenting, jika kamu bilang kasus ini ada kaitannya dengan kasus setahun lalu, bawa bukti yang akurat kepadaku baru kamu boleh berasumsi konyol!"
Aku tertawa remeh, semakin ia bertindak begini, aku yakin ada sesuatu di baliknya. "Kamu bertindak seperti ini supaya menjaga nama baikmu, 'kan? Demi pangkatmu yang setinggi ini?"
"Beraninya kamu berkata lancang! Lagi pula kalau kamu jadi aku, pasti akan berpikir panjang dan tidak akan berbuat gegabah yang dapat mencemari nama baikmu!"
"Aku kalau jadi inspektur sepertimu. Aku lebih mengutamakan mengungkapkan kebenaran dibanding menutupi kebenaran dan menguburnya di suatu tempat demi harga dirimu yang sangat mahal itu."
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang dalam membuktikan kasus ini! Apakah asumsi konyolmu itu benar atau tidak. Pokoknya aku akan menunggu bukti yang sangat akurat, bukan hanya mengandalkan seorang saksi yang sudah rabun sampai kamu salah menangkap pelakunya!"
"Aku tidak takut sama sekali. Lagi pula dengan perilisan artikel ini, kebenaran akan terungkap sebentar lagi. Kamu hanya bisa menunggu diam saja dan menyaksikan aku!" tantangku beranjak dari sofa lalu keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu keras.
Inspektur William sangat menggenggam gelas kaca. Ia rasanya ingin melempar gelas itu tapi tidak bisa karena ia harus menjaga harga dirinya saat sedang bekerja. Setelah emosinya mulai meredam, ia menaruh gelas kaca itu di atas meja dan mengambil ponselnya dari saku jasnya untuk menghubungi seseorang dengan tatapan sinis.
"Apa Anda melihat artikel berita itu di internet?" tanya Inspektur William.
"Saya sudah melihatnya dari kemarin dan menjadi topik pembicaraan hangat saat ini." Suara pemuda misterius itu terdengar di ponsel.
"Sekarang kita harus bagaimana. Anak buah saya sudah mulai mencurigainya, sebentar lagi rencana kita akan terbongkar."
"Tenang saja, hal itu tidak akan pernah terjadi."
"Bagaimana Anda bisa berkata dengan tenang? Apakah Anda tidak takut akan terekspos di kalangan masyarakat?"
"Semua akan beres jika Anda hanya melakukan perintah saya saja sekarang."
"Apakah perintah Anda itu akan menjaminkan mempertahankan posisi saya saat ini? Apakah Anda masih bisa dipercaya? Bagaimana kalau saya sampai tertangkap anak buah saya suatu hari nanti?"
"Anda hanya cukup diam saja dan tidak melakukan apa pun. Anda cukup duduk dengan tenang di ruangan Anda sambil menonton pergerakan anak buah Anda selama ini. Lalu jika dia sampai berbuat kelewatan, bunuh saja anak buah Anda tanpa segan."
__ADS_1
Ekspresi wajah Inspektur William terlihat sedikit gugup, tangab kanannya memukuli sandaran sofa. "Anda menyuruh saya membunuhnya? Apakah Anda gila? Saya seorang inspektur, tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu!"
"Jika Anda ingin mempertahankan jabatan Anda saat ini, sebaiknya Anda membunuhnya saja daripada Anda membiarkannya hidup seperti itu, lalu dia akan menangkap Anda suatu hari nanti."
"Apakah Anda yakin?"
"Kalau Anda masih meragukan saya, apakah saya harus memberi banyak emas lagi atau semacamnya agar saya bisa membungkam mulut Anda itu!"
"Baik, saya mengerti. Saya akan melaksanakan perintah Anda dengan baik." Inspektur William mengakhiri pembicaraannya dengan menutup panggilan telepon. Ia sangat kebingungan sendiri sambil menggarukkan kepalanya dengan kesal.
Aku menduduki kursi kerjaku sambil mengacak-acak rambutku hingga terlihat seperti singa. Hans menghampiriku dengan menatapku ketakutan seperti melihat hantu.
"Kenapa? Kamu takut? Kamu melihatku seperti hantu saja!" celetukku seperti ingin menerkamnya sekarang.
Hans bergidik ngeri sampai bulu kuduk naik. "Ada apa sih? Kenapa pagi-pagi kamu seperti singa yang sedang kelaparan?"
"Aku sedang kesal saja dengan Inspektur William. Dia tidak menerima asumsiku dan mengatakan aku itu bodoh."
Hans menepuk pundakku santai. "Sudah sebaiknya kamu tidak usah mendengarkannya. Dia itu sangat sombong dengan jabatannya tinggi."
"Omong-omong, kenapa kamu sudah masuk kerja? Apakah perutmu itu sudah membaik?" tanyaku mengalihkan pembicaraannya.
"Tenang saja. Sekarang tubuhku sudah sehat kembali dan bisa bekerja dengan semangat!" Hans memamerkan otot lengannya.
"Yah kalau tahu perutku lebih baik sakit sih," tawa Hans terkekeh.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menyuruh Fina berjaga sepanjang hari," balasku setengah bergurau.
"Eh jangan gitu dong! Baiklah aku akan menjaganya sepanjang malam sampai mataku melotot." Hans memperlihatkan tatapan melototnya.
"Kemarin itu, Fina pasti merawatmu dengan baik kan."
Hans membayangkan adegan manis yang dilakukan Fina kemarin sampai senyumannya terlihat mengambang. "Dia itu bukan merawatku, tapi mengomeliku seperti ibuku yang sedang mengomeliku."
"Apakah terjadi sesuatu dengan kalian berdua semalam?"
"Maksud terjadi sesuatu apa, ya?" Hans bertanya balik dengan tatapan polos.
"Mungkin dia memperhatikanmu seperti pria idamannya."
Hans mengedikkan bahu. "Tidak. Kemarin itu tidak terjadi sesuatu yang spesial. Dia memperlakukan aku seperti rekan dekatnya."
"Kalau memperlakukanmu sebagai teman dekat, kenapa kemarin aku susah menghubunginya di saat sedang genting," tutur Nathan muncul tiba-tiba sambil menertawai Hans.
__ADS_1
Hans menggaruk kesal sambil berputar seperti orang tidak waras melampiaskan kekesalannya. "Aish beneran tidak terjadi apa-apa. Dia hanya membantuku mengambilkan barang untukku saja karena aku kesulitan bergerak waktu itu."
Nathan menyipitkan mata curiga. "Hmm aku mencium aroma mencurigakan di antara kalian berdua."
"Apakah ada yang membicarakanku saat ini?" tanya Fina tiba-tiba menghampiri kami semua.
Reaksi semuanya terkejut termasuk aku hampir serangan jantung.
Hans menggeleng seperti orang bodoh. "Tidak ada apa-apa kok."
Fina mendekati Hans dengan tatapan sipit. "Aneh sekali, dari tadi saat aku di rumah sakit sampai sekarang hidungku terasa gatal dan rasanya ingin bersin terus."
Sore hari, giliran aku yang bertugas menjaga Yulia di rumah sakit. Tiba-tiba di tengah jalan terjadi kemacetan lalu lintas akibat adanya kecelakaan. Aku hanya bisa mendesah pasrah harus menghadapi kemacetan parah ini. Jarak posisiku saat ini dengan rumah sakit sekitar 5 kilometer lagi. Aku harus menunggu dengan penuh kesabaran.
Sekitar 20 menit terjebak di kemacetan, akhirnya aku terlepas juga dan dengan kecepatan penuh menginjak pedal gas menuju rumah sakit.
Setibanya di sana, aku bergegas keluar dari mobilku dan berlari menuju kamar inap Reporter Yulia.
Aku memasuki ruangan dan melihat Tania hampir ketiduran saat menungguku. "Maaf Tania, kamu pasti sudah menungguku lama."
Tania menguap dan mengucek mata. "Tidak kok. Lagi pula aku juga kurang tidur semalam jadinya agak mengantuk."
"Kamu pulang ke rumah saja dan beristirahat. Biar aku yang berjaga di sini."
"Baiklah, Penny. Aku akan mengandalkanmu sekarang. Aku pergi dulu ya," pamit Tania sambil menepuk pundakku melangkah keluar dari kamar itu.
Saat Tania hendak keluar dari kamar, tiba-tiba Adrian memasuki kamar juga.
"Kamu datang juga, Adrian," sapa Tania agak kaget.
"Hari ini kebetulan aku bisa pulang lebih awal jadi sekalian memeriksa kondisi Yulia," sahut Adrian tersenyum ramah.
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu ya. Akan aku tinggalkan kalian berdua di sini," pamit Tania dengan sigap meninggalkan kamar ini.
Adrian mengambil salah satu kursi kosong dan meletakkannya tepat di sebelahku.
"Kenapa kamu datang ke sini?" sambutku bingung.
"Aku dengar kamu bertugas menjaganya di sore hari. Jadinya aku sekalian menemanimu menjaganya," jawabnya sambil membelai rambutku.
Aku menundukkan kepala sambil memainkan kuku jari. Merenungkan sikapku tadi pagi sangat kekanak-kanakan pasti sedikit menyinggungnya. "Maaf ya, tadi pagi aku tidak bermaksud kesal padamu."
"Tidak apa-apa. Lagi pula sangat wajar jika kamu mengambek seperti itu karena aku membuatmu kesepian sepanjang malam," balas Adrian sambil menyentuh tanganku.
__ADS_1
"Memang kamu satu-satunya yang paling mengerti isi hatiku saat ini." Senyuman manis terukir pada wajahku sekarang.