
Aku dan anggota timku mengikuti mobilnya Inspektur William dari belakang. Sambil mengintainya, aku mengeluarkan ponselku dari saku jaketku untuk memberikan pesan singkat kepada Adrian bahwa aku akan pulang larut malam hari ini. Semakin lama mobilnya Inspektur William melaju semakin cepat sehingga Nathan menambah kecepatan mobilnya.
Hans menggarukkan kepala. "Sebenarnya dia mau ke mana sih malam-malam begini?"
Aku terfokus melihat mobilnya Inspektur William. "Aku yakin sekali dia ingin bertemu Josh di suatu tempat sangat sepi dan jarang dilalui orang."
"Tapi kalau seandainya mereka saling bertemu, kira-kira mereka bertemu untuk apa sampai larut malam begini?" tanya Hans semakin bingung.
Fina mengedikkan bahu. "Entahlah yang pasti kita lihat saja."
Mobilnya Inspektur William semakin lama mengarah ke tempat terpencil di mana tempat itu gangnya sangat kecil dan hanya bisa dilalui satu mobil saja. Tak lama kemudian, ia memberhentikan mobilnya kemudian keluar dari mobilnya. Nathan dengan sigap memarkirkan mobilnya jauh dari jangkauannya.
Kami turun dari mobil dan bersembunyi di balik semak-semak melihat pergerakannya. Ia berjalan sambil menatap sekelilingnya dan bertemu dengan seseorang memakai pakaian formal.
Karena ini sudah larut malam sehingga agak sulit melihatnya dengan jelas. Aku melangkah perlahan bersembunyi di balik sebuah tong, lalu aku dapat melihatnya dengan jelas sosok yang ditemui Inspektur William. Ternyata Josh yang menemui Inspektur William sambil membawa sebuah tas besar. Aku harus mendengarkan pembicaraan mereka dengan baik.
"Di mana uangnya?" tanya Inspektur William.
Josh melempar tas besar yang digenggamnya ke arah Inspektur William. Lalu Inspektur William dengan sigap mengambil tas itu dan membuka seisi tasnya.
"Apakah masih kurang?" tanya Josh.
"Segini sudah cukup banyak. Terima kasih banyak," jawab Inspektur William sambil menatap seisi tas itu melongok.
"Tapi ada satu syarat."
"Syarat apa itu? Akan saya laksanakan perintah Anda dengan benar."
"Kalau anak buah Anda itu terus menggali informasi mengenai kasus ini, bunuh mereka semua tanpa segan!" pinta Josh dengan kejam.
"Apa? Saya harus membunuh mereka semua?" tanya Inspektur William mulai gemetaran.
"Kenapa? Anda tidak berani melakukannya? Atau karena kalian sesama polisi jadinya tidak saling membunuh?" bentak Josh meninggikan nada bicaranya.
"Tidak. Tapi bukankah ini berlebihan?"
"Anda mau karier Anda hancur begitu saja karena para tikus yang menyebalkan itu?"
Inspektur William menggeleng. "Tidak."
"Kalau begitu Anda sebaiknya singkirkan semua tikus itu supaya tidak ada yang berani mengganggu kita!"
Tanganku gemetar dan keringat dingin mulai mengalir pada leherku. Aku merekam pembicaraannya, sedangkan Fina berjongkok du sebelahku memotret setiap pergerakan mereka berdua. Inspektur William meninggalkan Josh sambil membawa tas besar itu menuju mobilnya memasukkannya ke bagasi mobil.
Aku dan anggota timku bergegas memasuki mobilnya Nathan, lalu kembali mengikuti mobilnya Inspektur William dari belakang.
Tania menggigit jari ketakutan. "Jadi, sekarang kita harus bagaimana? Cepat lambat Inspektur William segera membunuh kita semua."
"Aku tidak akan membiarkannya lolos. Kita harus menyusun rencana strategi baru," jawabku dengan tatapan serius.
Hans menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil. "Aduh, padahal aku belum berpacaran! Aku masih mau menikmati hidupku lebih lama lagi."
__ADS_1
Lagi-lagi Hans mengucapkan hal konyol setiap menghadapi situasi di saat genting. Aku malas meresponsnya.
"Hans, sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu dulu! Kita justru harus memikirkan cara untuk menghentikan pergerakan Inspektur William!" celetuk Fina dengan tatapan tajam.
"Iya benar tuh, Hans. Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu!" tegur Tania tegas.
"Kalau Hans pikirannya selalu wanita terus. Ya, mungkin karena dia kelamaan tidak berpacaran dengan seseorang, maka dari itu dia bersikap seperti ini," sindir Nathan sambil fokus mengendarai mobilnya.
Hans mengepalkan tangannya kuat, memelototi Nathan. "Kamu barusan bilang apa?"
"Lupakan saja. Anggap saja hanya angin berlalu."
Tiba-tiba aku tersadar ada ide cemerlangku melintas di pikiranku. "Aku punya ide yang bagus untuk menghentikan Inspektur William!"
Hans menolehkan kepalanya menghadapku. "Apa tuh, Penny? Kasih tahu kami dong!"
"Kalian pasti tahu dong Inspektur William sangat terobsesi dengan jabatannya saat ini. Kita akan menggunakan kelemahannya itu," jawabku tersenyum cerdas.
"Jangan bilang kamu mau mengancamnya, Penny!" tukas Tania.
"Bukan mengancamnya tapi lebih cenderung memperingatkannya. Sekarang kita sudah punya bukti perbincangannya dengan Josh berupa foto dan juga rekaman suara. Dia pasti akan membuka mulutnya jika kita mengancamnya dengan bukti itu," tuturku sambil memperlihatkan ponselku.
Fina menepuk pundakku. "Memang kamu cerdas sekali, Penny!"
"Aku memikirkan strategi ini demi keselamatan kalian. Aku tidak ingin melihat kalian menderita akibat sifat keegoisannya."
"Sepertinya Inspektur William sedang menuju ke rumahnya," ucap Nathan tiba-tiba sambil menyetir mobil.
"Kita harus tetap mengikutinya terus. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya!" ujarku.
Inspektur William berjalan ke halaman belakang rumah, membuka sebuah tong besar. Ia mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalam tas dimasukkan ke dalam tong.
"Ini adalah jackpot," bisik Fina menggelengkan kepala.
"Ternyata selama ini Inspektur William diberi suap berupa emas dan juga barang antik lainnya," bisikku balik.
"Aku sebenarnya sangat penasaran. Dia memiliki harta sebanyak itu, kenapa penampilannya tetap seperti biasanya?"
"Mungkin dia tetap menyembunyikan kekayaannya supaya tidak ketahuan," jawabku sambil memotret Inspektur William yang sedang memasukkan barang-barang itu.
Barang-barang itu dimulai dari sebuah barang antik, emas batangan, dan juga tumpukan uang yang nominalnya besar. Aku memotret semua barang yang dimasukkannya ke dalam tong besar tanpa melewatkan satu detik pun. Setelah ia selesai memasukkan barang-barang berharga itu, ia masuk ke dalam rumah dan menutupi pintu serta jendela dengan rapat.
Aku dan Fina bergegas kembali memasuki mobilnya Nathan dan melakukan perjalanan kembali menuju kantor polisi.
"Kita menggunakan ini sebagai kelemahannya," ucapku memperlihatkan foto kepada mereka semua.
"Wah, dia ini punya harta sebanyak ini harusnya bagi-bagi ke kita!" seru Hans melihat foto itu sampai melongok.
"Kita mengancamnya dengan mengekspos fotonya disebarluaskan di internet atau dia sebaiknya buka mulutnya beritahu kepada kita apa yang direncanakan Josh sebenarnya dan menyuruhnya mengajukan surat pengunduran diri," tuturku dengan tatapan fokus.
"Pilihannya sangat seram. Aku sangat yakin pasti Inspektur William akan sangat sulit untuk memilih salah satu diantara dua pilihan itu," pungkas Nathan percaya diri.
__ADS_1
Hans tersenyum licik. "Aku yakin Inspektur William akan lebih memilih membuka mulutnya dibandingkan dia diam saja dan kita mengeksposnya di internet."
"Kita lihat saja nanti, dia akan memilih yang mana. Pilihan akan jatuh di tangannya dan akan memengaruhi masa depannya nanti," kata Fina dengan tatapan licik.
Setibanya di kantor polisi, aku memanggil taksi dan melakukan perjalanan pulang menuju kediamannya Adrian. Setibanya di kediaman Adrian, aku melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul satu subuh. Tidak kusangka aku pulang larut malam begini.
Sementara Adrian menungguku dari tadi di ruang tamu sampai tertidur lelap di sofa. Dengan sigap aku mengambil selimutku dari kamarku lalu menyelimuti tubuhnya hingga menutupi lehernya. Aku berjongkok di hadapannya sambil mengelus kepalanya pelan. Aku semakin bersalah padanya, karena secara tidak langsung aku merepotkannya.
Tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku, perlahan Adrian mengerjapkan mata menampakkan senyuman ceria. "Penny, akhirnya kamu pulang juga."
Aku menunduk bersalah. "Kenapa kamu menungguku? Sudah kubilang kamu tidak perlu menungguku."
"Tidak apa-apa, Penny. Aku hanya ingin melihat wajah cantikmu sekarang."
Gombalannya sangat manis meski tengah malam. Tetap saja aku merasa bersalah karena membuatnya menungguku sampai kelelahan dan kesepian. "Kamu menungguku sampai tertidur di sofa, aku jadi merasa bersalah."
"Kamu sudah makan?"
Aku menggeleng lemas. "Hmm belum sih."
"Baiklah kalau begitu aku akan memasak makan malam untukmu." Adrian langsung beranjak dari sofa.
Aku menahan tubuhnya cepat. "Tidak perlu, Adrian. Ini sudah terlalu malam. Sebaiknya kamu tidur saja."
"Aku lebih tidak tega melihat tubuhmu lemas karena tidak makan."
"Tapi--"
Tangan kanannya membelai rambutku lembut "Kamu tunggu di sini sebentar sampai aku selesai memasak."
Sambil menunggunya selesai memasak, aku membersihkan diriku tanpa perlu keramas hanya sekitar lima menit supaya aku tidak terserang flu.
Tak lama kemudian, Adrian menghidangkan masakannya di meja makan.
"Maaf kalau aku memasak terlalu sederhana."
Aku tersenyum anggun menggerakkan lengannya pelan. "Justru aku harus berterima kasih padamu karena kamu rela bangun hanya untuk membuatkan makan malam untukku."
Adrian mencium pipiku sekilas. "Aku rela bangun juga karena ingin menemanimu sekarang sampai selesai makan."
Aku juga mencium pipinya. "Nanti aku yang cuci piring saja."
"Tidak perlu, biar aku saja. Kamu bekerja seharian penuh sampai kelelahan sebaiknya kamu beristirahat dulu saja."
"Baiklah aku akan menurutimu saja."
Namun aku tetap menunggunya membereskan semuanya baru aku bisa tertidur lelap.
Aku bangun lebih awal dari Adrian untuk memasak sarapan untuk kami berdua dalam situasi matahari belum terbit dan aku masih mengantuk karena kurang tidur. Setelah sarapan, aku menulis sebuah catatan kecil untuk Adrian dan meletakkan kertas itu di bawah piringnya.
"Maafkan aku Adrian, aku berangkat ke kantor tanpa berpamitan denganmu. Semoga kamu menyukai nasi omelet buatanku."
__ADS_1
Aku bergegas mengambil kunci mobilku berangkat ke kantor lagi kembali bekerja.
Setibanya di kantor, aku berjalan menuju meja kerjaku dan ada notifikasi email balasan dari anonim itu. Di saat aku sedang ingin membuka email itu, Inspektur William juga baru tiba di kantor dalam raut wajah masih mengantuk juga akibat kejadian semalam.