
Pelaku misterius bertubuh tinggi itu melepas jaket, topi, beserta maskernya karena tubuhnya saat ini sangat gerah setelah melakukan pengejaran terhadap Reporter Yulia tadi. Pria bertubuh tegap tersebut membalikkan tubuhnya melangkah menuju tengah ruangan rahasianya di bawah cahaya lampu agak redup. Sosok wajah pria itu terlihat tidak asing bagi beberapa orang karena pria muda yang selama ini merupakan pelaku sesungguhnya dalam kasus pembunuhan para pelajar SMA dan juga saksi mata yang menyaksikan aksi pembunuhannya, adalah seorang pengacara andal dalam firma hukum L&C ternama dalam kota ini. Pengacara tersebut adalah pengacara Leonard yang merupakan musuh bebuyutan Adrian sejak dulu.
Sosok pengacara Leonard mengambil selembar foto yang tertera semua anggota detektif dan jaksa yang menyelidiki kasus pembunuhan ini. Ia mencengkeram foto tersebut hingga kertas yang tadinya mulus menjadi seperti sebuah sampah. Apalagi tatapannya sangat kejam ketika mengamati sosok kepala detektif wanita yang cerdas dan pantang menyerah memecahkan kasusnya. Ia mengambil pisau kecilnya lalu menusuk semua orang yang tertera dalam foto itu satu per satu sambil tertawa seperti setan.
Amarahnya mulai tidak bisa terkendalikan. Rencana yang dirancangnya susah payah berujung gagal dan hampir saja tertangkap oleh para detektif. Kali ini ia tidak akan mudah goyah dan mencari segala cara untuk menghancurkan hidup seluruh anggota tim detektif tersebut.
"Lihat saja nanti! Aku tidak akan bertindak bodoh begitu saja! Kalau kalian sampai mencari informasiku lebih dalam lagi, maka aku akan menghabisi kalian semua!" gerutunya pada diri sendiri.
Namun tiba-tiba kepalanya terasa sakit seperti bom ingin meledak. Pengacara Leonard meringis kesakitan sambil memegang kepalanya hingga tubuhnya ambruk di atas lantai.
"Kenapa ini terus terjadi padaku? Aku tidak mau hidup begini terus!"
Pengacara Leonard merangkak lemas lalu duduk bersandar pada tembok sambil memikirkan kejadian yang selama ini ia lakukan dan terus mengamati seluruh barang korban para pelajar SMA itu.
*****
Enam bulan yang lalu...
Pengacara Leonard melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Angelina. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan gang lalu melangkah keluar dari mobilnya mencari rumah kontrakannya Angelina. Jalanan yang sepi dan hanya diterangi lampu jalan sedikit redup membuat suasana di sekitar sana terkesan seperti sebuah film horror.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer, alhasil pengacara Leonard menemukan rumah kontrakannya Angelina dan ada sosok gadis cantik masih dalam balutan seragam sekolahnya sedang membuang sampah di depan rumahnya. Ia bergegas melangkahkan kakinya cepat menghampiri Angelina yang ingin memasuki rumahnya lalu menarik tangannya paksa. Angelina menoleh ke belakang menepis tangannya dengan kasar dan melangkahkan kakinya mundur.
"Siapa kamu? Sedang apa kamu ke sini tiba-tiba?" tanya Angelina bernada tinggi.
"Aku? Aku adalah teman lamamu sewaktu kecil! Kenapa kamu melupakanku?"
"Sejak kapan aku memiliki teman seorang penguntit!" sindir Angelina memicingkan matanya.
Pengacara Leonard mulai geram dan mencengkeram kerah kemeja seragam sekolahnya Angelina dengan kuat. Angelina membela dirinya dengan sekuat tenaganya menyingkirkan cengkeraman tangannya lalu mendaratkan tamparan yang kuat pada pipinya.
PLAKK
"Kenapa kamu bisa tahu rumahku? Siapa kamu sebenarnya?"
"Kamu tidak usah takut melihatku, Angelina. Apakah kamu lupa? Kita ini adalah teman dekat sewaktu masih kecil."
"Siapa kamu sebenarnya? Aku tidak memiliki teman saat aku kecil."
"Apa maksudmu? Beraninya kamu berkata seperti itu!"
PLAKKK
Tamparan yang kuat dari pengacara Leonard mendarat pada pipinya Angelina hingga memerah. Ia meringis kesakitan memegang pipinya yang memar. Tubuhnya Angelina mulai merinding bergidik ngeri lalu memutuskan memohon ampun dengan pelakunya.
"Tolong ampuni aku! Aku sungguh tidak mengenalmu sama sekali. Kalau kamu mengincar uang, aku tidak memiliki uang sama sekali."
"Aku mengunjungimu bukan untuk mencuri uangmu! Tapi aku ke sini untuk bertemu teman lamaku yang aku rindukan selama bertahun-tahun!"
"Kalau mau mencari teman lama sepertinya kamu salah mengenali orang. Semua temanku terlihat seumuran denganku. Sedangkan kamu hanyalah seorang pria dewasa yang tidak waras!"
PLAKKK
"Sekarang aku tidak akan segan menamparmu akibat kamu melupakanku!" bentak pengacara Leonard menjambak rambutnya Angelina kasar.
"Kamu saja yang buta tidak melihat orang di hadapanmu ini! Karena kamu terlalu banyak minum alkohol, pandanganmu jadi pudar dan melihatku seperti wanita dewasa juga!"
"Aku sudah tidak tahan mendengar ocehanmu yang tidak masuk akal. Sebaiknya kamu ikut denganku sekarang!"
Pengacara Leonard menarik rambutnya Angelina dengan kasar mengikutinya menuju mobil yang terparkir di depan gang.
"Lepaskan aku! Lepaskan sebelum aku memanggil polisi!" bentak Angelina berusaha membela dirinya memukuli pengacara Leonard.
Sedangkan pengacara Leonard sudah tidak tahan dengan tingkahnya Angelina yang terus memberontak lalu memukuli wajahnya hingga tidak sadarkan diri. Pengacara Leonard mengangkat tubuhnya Angelina seperti sekarung beras menaruhnya di kursi penumpang belakang. Ia membawa Angelina menuju rumahnya dengan paksa dan melemparkan tubuhnya terjatuh ke lantai.
"Aduh! Kenapa kamu membawaku ke sini?" keluh Angelina memegang kepalanya kesakitan.
"Karena aku ingin berbicara padamu dengan tenang di sini. Aku tidak ingin menimbulkan keributan di luar rumahmu."
Angelina membangkitkan tubuhnya lemas berdiri sedikit bergoyang sambil melangkahkan kakinya keluar dari rumah besar itu. Namun pengacara Leonard menahannya lalu melempar tubuhnya lagi terjatuh di atas lantai.
"Kalau kamu bersikap begini terus, aku tidak akan mudah mengampunimu begitu saja!" bentak pengacara Leonard yang batas kesabarannya mulai habis.
__ADS_1
"Untuk apa aku berdiam lama di rumah seorang psikopat! Walaupun rumahmu ini terlihat bagus, tapi sebenarnya pemilik rumahnya memiliki hati yang busuk!" hardik Angelina dengan tatapan tajam.
Pengacara Leonard langsung mencekik lehernya Angelina dengan kuat sambil mengambil sebuah pisau yang ada di dapurnya.
Ckk...ckk...
Napasnya Angelina mulai terasa sesak. Tanpa berlama-lama, pengacara Leonard menusuk perutnya Angelina dengan kejam.
"RASAKAN INI AKIBAT PERBUATANMU!"
Jkkk...jkkk...
Pengacara Leonard menusuk perutnya Angelina sebanyak 5 kali hingga darahnya tercecer ke mana-mana. Usai melakukan aksi pembunuhannya, ia meraba seluruh bagian seragam sekolahnya Angelina dan mengambil ponsel beserta dompetnya.
*****
Kembali lagi di saat pengacara Leonard duduk tertegun bersandar pada tembok sambil mengamati barang milik para korban yang dipajang di sebuah kotak transparan.
"Kalau seandainya dia mengingat namaku, mungkin aku tidak akan pernah melakukan pembunuhan yang kejam ini."
Sontak kepalanya semakin terasa sakit namun ia lebih memilih tidak meminum obat yang diberikan oleh dokter Jesslyn. Pengacara Leonard menghampiri salah satu kotak yang terpajang di tengah ruangan yaitu semua barang milik Gracia dan mengambil foto Gracia sedang bersama dengan Angelina.
"Maafkan aku telah menyakiti kalian dengan kejam. Aku tidak bermaksud membunuh kalian semua. Aku hanya sangat kesal karena kalian melupakanku begitu saja padahal aku yang menjaga kalian di panti asuhan sewaktu dulu. Kalian saja yang tidak tahu berterima kasih!" gumamnya sambil memasukkan fotonya kembali ke dalam kotak tersebut.
Lalu pengacara Leonard melangkah keluar dari ruang rahasianya yang tersembunyi dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.
"Aku tidak akan membiarkan dia mengambil alih! Pokoknya aku harus tetap kuat supaya bisa menguasai semua ini!"
Pengacara Leonard memasukkan botol obatnya ke dalam laci meja samping ranjangnya. Ia sangat membenci meminum obat itu karena bisa melemahkan tubuhnya.
Sedangkan di sisi lain, aku sibuk mondar mandir di dalam kamar sambil bertopang dagu terus memikirkan kejadian yang dialami Reporter Yulia barusan. Menurutku memang kejadian pengejaran ini sudah direncanakan oleh pelakunya dari awal, pelakunya pasti mencari tahu informasi mengenaiku, seluruh anggota timku, dan juga orang di sekelilingku. Apalagi Reporter Yulia selama ini selalu membantuku sehingga pelakunya yakin sekali ada barang bukti yang dipegangnya. Tapi jika dilihat lama-lama, kalau aku melihat postur tubuhnya pelaku berdasarkan foto dalam rekaman CCTV, aku merasa seperti melihatnya di suatu tempat. Namun sayangnya aku lupa dengan hal penting ini. Kalau seandainya aku mengetahui siapa pelaku sebenarnya, mungkin aku akan segera menangkapnya dengan tanganku sendiri.
Sementara Adrian baru saja selesai membersihkan dirinya langsung menghampiriku yang sedang gelisah saat ini. Ia menggenggam tanganku lalu menuntunku duduk bersamanya pada tepi ranjang.
"Sayang, kenapa wajahmu murung begitu? Apa mungkin kejadian yang dialami Reporter Yulia barusan mengusik pikiranmu terus?"
"Sayang, elus kepalaku sekarang," rayuku manja.
"Bagaimana? Apakah kepalamu terasa membaik?"
"Sekarang sudah jauh lebih baik dari yang tadi," jawabku kembali tersenyum tipis padanya.
"Kamu jangan memikirkan kejadian itu terus."
"Aku juga ingin begitu. Tapi setelah apa yang dialami Reporter Yulia, rasanya aku jadi semakin takut dengan pelakunya. Sepertinya pelakunya bukanlah pelaku pembunuhan biasa. Aku takut pelakunya memiliki gangguan jiwa seperti Josh bahkan lebih parah." Air mataku mulai membanjiri pipiku dalam kondisi tanganku sedikit gemetar.
"Sayang, kamu tidak usah takut dengan pelakunya lagi. Ada aku yang akan selalu menemanimu di setiap saat kecuali saat aku sedang bekerja di kantor. Maaf aku tidak bisa menemanimu sepanjang hari, tapi tenang saja pelakunya tidak akan menyakiti orang di sekitar kita lagi. Apalagi kamu memerintahkan petugas kepolisian untuk patroli daerah tempat tinggalnya Reporter Yulia. Aku yakin dia pasti akan baik-baik saja selama ada yang menjaganya."
"Aku sebenarnya tidak mencemaskan itu. Aku mencemaskan keselamatan anak kita. Kalau Reporter Yulia diikuti oleh pembunuhnya, aku takut dia akan mengincar anak kita juga."
Embusan napas lesuh dikeluarkan dari mulut Adrian sejenak. Sebenarnya ia juga mencemaskan sang buah hati. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa pun selain menangkap pembunuhnya langsung.
"Hmm bagaimana kalau begini saja. Sebaiknya kamu memerintahkan petugas kepolisian untuk berpatroli daerah rumah orang tua kita, sekolah anak-anak, dan juga daerah rumah orang tua seluruh anggota timmu," usulnya.
"Benar juga sih. Kalau begitu mulai besok aku akan menyuruh polisi untuk berpatroli semua daerah itu."
"Sebenarnya belakangan ini aku sangat merindukan anak kita. Rasanya aku ingin menghubungi ibumu untuk meminta Victoria berkomunikasi dengan kita melalui telepon," ucap Adrian lesuh.
"Ish sekarang sudah tengah malam pasti Victoria sudah tidur nyenyak!"
"Iya aku tahu itu. Pokoknya besok aku akan menangkap kaki tangan pelakunya di kantorku supaya dia tidak membungkam mulutnya terus!"
"Tapi Sayang, kamu tidak mungkin menangkapnya tanpa ada bukti, 'kan."
"Tenang saja aku bisa membuktikannya. Aku akan mengintai pergerakannya yang terlihat mencurigakan terus."
Aku membenamkan kepalaku pada tubuhnya dan memeluknya erat.
"Jangan sampai kamu terluka, Sayang. Aku benci melihatmu terluka terus karena menangani kasus terus."
"Sayang, aku juga tidak ingin tubuhku terluka. Aku ingin wajahku dan tubuhku terus terlihat bersih dari luka supaya aku selalu terlihat tampan di matamu," ucapnya berlagak keren sambil menaikkan rambutnya yang terlihat segar.
__ADS_1
Aku memajukan kepalaku mendekat ke wajahnya menyentuh pipinya.
"Jagalah wajahmu yang tampan langka ini! Karena memiliki seorang suami berwajah tampan itu sangat sulit dan membutuhkan perjuangan."
"Tapi kalau khusus wanita sepertimu tidak membutuhkan perjuangan yang besar untuk menjadikanku sebagai suamimu karena memang kita berdua sudah ditakdirkan bersama sejak dulu. Kamu sangat beruntung bertemu denganku dan berhasil memenangkan hatiku."
"Ini yang aku selalu suka darimu, Adrian."
"Pokoknya kamu tidak usah terlalu mencemaskanku lagi. Aku pasti akan menjaga kondisi fisik tubuhku dengan baik supaya aku selalu terlihat paling tampan di antara kamu dan Victoria ketika sedang berfoto."
"Kamu tidak boleh melupakan hal itu!" tegasku.
Adrian membungkam mulutku dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibirku.
"Ini sudah malam. Sebaiknya kamu tidak usah cerewet."
"Padahal aku cerewet demi kebaikan suamiku." Bibirku manyun lalu menggeserkan tubuhku menjauh dirinya.
Dengan sigap ia menggeserkan tubuhnya juga mendekatiku lalu menahanku dengan memelukku erat supaya tidak bisa kabur darinya.
"Kamu cerewet tapi manis sekali, Sayang," gombalnya lembut.
Sedangkan di sisi lain, Nathan dan Tania tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak pulang dari rumah sakit. Tania terus duduk tertegun di pinggir ranjangnya sambil mengamati cedera yang ada di kakinya. Sementara Nathan secara spontan menghampiri Tania lalu meluruskan kakinya Tania sambil memijitnya perlahan.
"Bagaimana kakimu? Apakah masih terasa sedikit pegal-pegal?" tanya Nathan.
"Maaf ya, Nathan."
"Kenapa kamu meminta maaf padaku?"
"Setelah aku dari tadi merenungkan pikiranku, kamu pasti sangat ketakutan mengamatiku dihajar oleh pelakunya langsung dari kejauhan."
"Sudahlah sebaiknya kamu tidak usah pikirkan musibah itu lagi. Kalau sudah berlalu sebaiknya buang saja jauh-jauh. Sekarang kamu hanya memikirkan kondisi tubuhmu saja. Lihat nih akibat kecerobohanmu, kamu mengalami cedera pada kaki dan wajahmu!"
"Iya, lain kali aku tidak akan bertindak seperti sok jagoan lagi. Aku juga tidak mau menghadapi pelakunya sendirian lagi, rasanya sangat menakutkan tadi," ucap Tania bergidik ngeri menelan salivanya berat.
"Makanya kamu tidak sabaran sih jadi orang! Kamu tidak ada bedanya dengan Fina atau Penny yang selalu tidak berpikir panjang!" celetuk Nathan mengerucutkan bibirnya.
"Ish aku berbeda dengan mereka! Aku merupakan tipe orang yang selalu menyaring perkataanku sebelum dikeluarkan dari mulutku! Sedangkan aku juga berbeda dari Penny. Aku bukan tipe orang yang suka berbuat nekat terus!"
"Tapi barusan tadi kamu berbuat nekat seperti Penny. Memang kalian cocok jadi teman dekat sejak dulu."
"Lebih baik sikapku mirip seperti Penny daripada Fina yang dari dulu selalu menyebalkan! Memang Fina dan Hans cocok jadi pasangan suami istri karena mereka berdua memiliki sikap yang sama menyebalkan!" seloroh Tania.
"Kalau kamu dan aku cocok karena apa?" Nathan mulai menyunggingkan senyumannya.
"Hmm kita berdua cocok karena memang kita adalah pasangan terbaik sepanjang masa."
"Ish kirain kamu ingin berkata apa! Padahal aku sudah serius mau mendengar perkataanmu!"
"Sudahlah aku lelah. Aku ingin tidur saja sekarang."
Keesokan harinya, Adrian memasuki ruang kerjanya dengan penuh kehati-hatian bersama Yohanes. Untuk kasus ini, Yohanes secara sukarela membantu Adrian terus sampai tuntas. Apalagi ia masih kesal dengan insiden yang menimpanya sekitar beberapa hari yang lalu membuat dirinya tidak bisa tidur nyenyak.
"Ada apa dengan wajahmu? Apa kamu habis berkelahi dengan istrimu?" tanya Adrian bingung mengamati wajahnya Yohanes sedikit kusut.
"Ish kenapa kamu bisa memiliki pemikiran seperti itu! Aku mana mungkin sih bertengkar dengan istriku!" sungut Yohanes.
"Lalu kenapa pagi-pagi begini wajahmu sudah tidak enak dilihat?"
"Kamu kira aku bisa tidur nyenyak sejak insiden yang aku alami waktu itu. Aku kan sudah bilang kepadamu. Aku membantumu menangkap kaki tangan pelakunya supaya aku bisa hidup bebas lagi."
"Iya sih kalau aku jadi dirimu pasti tidak bisa tidur nyenyak juga."
"Tapi aku heran denganmu. Kenapa wajahmu ini selalu terlihat bersinar terang walaupun sedang menyelidiki kasus ini?" tanya Yohanes penasaran berkacak pinggang.
"Karena aku ingin istriku selalu mengamati wajah tampanku yang menyinari kehidupannya terus," jawab Adrian percaya diri tersenyum lebar.
"Dasar sombong, Adrian!"
"Omong-omong, aku ingin kamu membantuku menangkap Carlos hari ini juga."
__ADS_1
"Jadinya kita akan menangkapnya dengan cara apa? Apa kamu punya ide cemerlang?"