Good Partner

Good Partner
Part 47 - Menginap


__ADS_3

Jantungku berdebar sangat kencang hingga pipiku merah merona. Di saat larut malam begini, ia mengajakku menginap di apartemennya. Kepalaku menjadi terasa sakit akibat menangani kasus pembunuhan Emma ditambah ia berkata padaku seperti itu. Untuk menenangkan pikiranku sekarang, aku menyalakan radio saat ini diputar sebuah lagu romantis.


Suasana sekarang tidak cocok mendengarkan lagu romantis, justru membuatku entah kenapa semakin gugup. Aku langsung mematikan radio dengan cepat.


"Kenapa kamu matikan radionya? Bukankah lagunya terdengar enak?" tanya Adrian bingung sambil fokus mengendarai mobilnya.


Aku memasang raut wajah serius melipat kedua tangan di dada. "Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku menginap di rumahmu?"


"Karena ... supaya aku bisa menjagamu dengan baik. Kamu bilang ada seseorang yang mengikutimu saat kamu mau pulang. Sekarang nyawamu menjadi taruhannya. Pembunuh itu menargetkanmu." jawab Adrian agak gugup mengatakannya.


Menurutku ini sangat berlebihan kalau hanya sekadar demi melindungiku dari bahaya. "Ayah dan ibuku pasti tidak mengizinkannya."


"Tenang saja, kedua orang tuamu pasti mengizinkannya. Lagi pula kita tidak melakukan sesuatu yang aneh kok."


Perkataannya terdengar ambigu membuatku semakin mencurigainya. "Maksud sesuatu aneh itu apa, ya?"


Pipinya merah merona langsung menggeleng cepat. "Bukan apa-apa!"


"Kamu akan menjagaku setiap hari sampai kasus itu selesai?"


"Iya, tenang saja. Lagi pula bukankah kalau menyelidiki kasus bersama di apartemenku itu jauh lebih mudah berkomunikasinya dibandingkan harus bertemu di suatu tempat?" Adrian sangat canggung mengatakannya membuatnya sangat gerah dan melonggarkan lilitan ikatan dasinya.


Jika dipikir-pikir, aku suka idenya. Dengan begini, aku bisa pulang kerja bersamanya setiap hari dan bisa melakukan apa pun yang kita inginkan bersama, tanpa harus dipisah jarak jauh.


Adrian menggenggam tanganku mengukir senyuman manis padaku. "Nanti aku akan membicarakan ini dengan orang tuamu. Ini demi keselamatan wanita yang sangat kusayangi."


Aku menunduk malu mengelus punggung tangannya. "Kalau aku sih tidak masalah menginap di apartemenmu. Kita tinggal mendengar jawaban dari orang tuaku nanti."


Aku dan Adrian memasuki rumahku bersama menuju ruang tamu menghampiri ayah dan ibu yang sedang sibuk menonton TV.


Aku dan Adrian menduduki sofa saling berpegangan tangan.


"Ayah ... ibu, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ujarku dengan gugup.


Ayah mematikan televisi sejenak. "Ada apa, Penny?"


"Adrian mengajakku untuk menginap di rumahnya supaya kami dengan mudah mengerjakan kasus ini bersama," bujukku pada ayah hingga tanganku sangat gemetar, karena ini pertama kalinya aku membujuk ayah seperti ini.


"Kumohon paman, aku ingin melindungi Penny setiap saat demi keselamatannya dengan sepenuh hatiku."


"Ayah mengizinkannya," ujar ayah tanpa berpikir panjang.


Aku membulatkan mataku sempurna tidak menyangka ayah menyetujuinya dengan cepat. "Apa aku tidak salah mendengarnya, Ayah? Kenapa ayah langsung mengizinkannya?"


"Kalian sudah sangat akrab sejak dulu. Bahkan hubungan kalian sekarang sebagai sepasang kekasih. Lagi pula ayah tahu bahwa Adrian akan menjagamu dengan baik sejak kamu pergi ke Gangnam bersamanya dua bulan yang lalu. Sejak dulu ayah sudah memercayainya sepenuhnya," jawab ayah dengan percaya diri sambil makan camilan.


Adrian tersenyum percaya diri menunduk hormat sekilas. "Terima kasih paman sudah memercayaiku sepenuhnya."


Ayah menepuk pundak Adrian. "Tolong, lindungi putriku dengan baik!"


"Bagaimana dengan, Ibu?" tanyaku masih meragukan ibu, apalagi karakter ibu tegas.


"Ibu sih tidak masalah. Hanya saja ingat kalian harus pisah kamar!" tegas ibu.


Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan menepuk jidat. Bisa-bisanya ibu berpikiran aneh di situasi genting seperti ini. Apalagi membicarakannya di hadapan Adrian, pasti pikiran Adrian tercemar karena perkataan ibu. "Astaga ibu kenapa bisa berpikir yang aneh sih! Aku sudah pasti tidur di kamar tamu!"


Adrian merangkul pundakku. "Tenang saja, Tante. Aku akan membiarkan Penny tidur di kamar tamu yang sangat nyaman sehingga dia bisa tidur dengan nyenyak setiap hari."


"Karena ayah dan ibu mengizinkannya, aku akan mengemas barang-barang keperluanku dulu!"


Aku langsung berlari menuju kamarku mengambil sebuah koper yang kuletakkan di dalam lemariku dan mengambil beberapa pakaianku beserta peralatan lainnya.


Setelah selesai mengemas barangku, aku membawa koperku menuruni tangga perlahan, lalu menghampiri ayah dan ibu lagi untuk berpamitan.


"Ayah ibu, aku pergi dulu, ya. Ingat jaga kesehatan ayah dan ibu. Kalau terjadi sesuatu yang mencurigakan harus menghubungiku. Selain itu, jangan pernah membuka pintu untuk orang asing," pamitku sambil berpesan pada mereka sambil memeluknya dengan hangat.


Ayah mengelus kepalaku seperti anak kecil. "Hati-hati, Penny! Kamu jangan sampai kelelahan bekerjanya."

__ADS_1


"Ingat jangan pulang larut malam!" tegas ibu mengelus punggungku.


"Aku pergi dulu ya, sampai jumpa ayah dan ibu!" Aku bersiap-siap menarik koperku keluar dari rumahku, diikuti Adrian dari belakang.


"Aku permisi, Paman dan tante," pamit Adrian sopan.


Aku menekan tombol alarm mobilku lalu memasukkan koperku ke dalam bagasi mobil.


Dengan cepat Adrian langsung menggenggam tanganku. "Kamu tidak ingin naik mobilku?"


"Tidak usah. Aku harus membawa mobilku juga. Kamu tidak akan selalu bisa mengantar dan menjemputku sesuka hatimu."


"Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat sekarang! Akan kuawasi mobilmu dari belakang untuk berjaga-jaga."


Setibanya di apartemen elit, ia menuntunku memasuki kediamannya sambil membantu menarik koperku menuju kamar tamu. Aku jadi teringat dengan kejadian dua bulan yang lalu saat aku sedang menyelidiki kasusnya Pak Colin di sini hingga ketiduran. Apartemen ini sungguh memiliki banyak kenangan indah yang kuciptakan juga sejak aku berpacaran dengannya, meski terkesan sederhana.


"Sebaiknya kamu beristirahat dulu, ini sudah larut malam. Besok kamu harus kembali bekerja lagi," usulnya sambil menarik koperku memasuki kamar tamu.


"Baiklah, aku akan tidur sekarang. Selamat malam, Adrian."


"Selamat malam juga, Penny."


Keesokan pagi, aku terbangun dalam kondisi rambutku sangat berantakan. Aku bergegas beranjak dari ranjang dan menatap cermin merapikan rambutku terlihat seperti singa. Seperti biasa kebiasaan lamaku ini sulit sekali dihilangkan.


Dengan sigap aku melangkah keluar dari kamar mencium aroma masakan sangat harum membuat perutku berbunyi. Aku berjalan menuju ruang makan, mataku terbelalak memandangi banyak makanan sudah tersedia di meja makan sampai kakiku mematung.


"Kamu sudah bangun," sambutnya memelukku dari belakang.


Tatapanku melongok mengamati semua menu makanan terlihat lezat. "Kamu yang memasak ini semua lagi?"


Adrian mencium pipiku. "Iya, ini persembahan spesial untukmu dan ini juga menyambut pagimu yang indah."


"Vitamin penyemangat darimu membuatku semakin bersemangat bekerja. Aku juga ingin memberimu vitamin." Aku juga mencium pipinya sekilas.


"Ayo, kita makan sekarang! Nanti keburu dingin jadi tidak enak rasanya."


Baru mencoba satu sendok sup asparagus, rasanya aku ingin menangis terharu karena akhirnya aku bisa mencicipi masakannya lagi setelah sekian lama, belakangan ini aku jarang menikmati masakannya. "Masakanmu itu selalu terasa lezat. Sejak pertama kali kamu masak untukku sampai kita pacaran, masakanmu tidak pernah mengecewakan aku."


Adrian menunduk malu. "Padahal menurutku biasa saja."


Aku mengelus kepala Adrian lambat laun. "Aku bahagia memiliki kekasih yang manis seperti kamu, Adrian."


Adrian juga mengelus kepalaku. "Sedangkan kamu juga selalu terlihat manis, Penny. Apalagi mulai hari ini aku bisa sarapan bersamamu setiap hari, mengawasimu setiap saat, dan bebas berduaan bersamamu."


"Maka dari itu aku tidak menolak tawaranmu kemarin," lontarku santai.


Adrian menyipitkan mata, melipat kedua tangan di dada. "Tapi kemarin kamu seperti ragu menerima ajakanku deh."


"Itu karena aku tidak terbiasa tidur di kediaman pria. Kalau kamu jadi aku pasti sangat gugup," bantahku gelagapan memalingkan mataku darinya.


Aku menyentuh tangan kanannya dengan tatapan percaya diri. "Awalnya mengejutkanku tapi aku sangat bersyukur dan bahagia menjadi kekasihmu, Adrian. Menurutku jarang sekali ada pria sepertimu yang ingin melindungi wanitanya dari bahaya sampai sejauh ini."


Adrian membelai rambutku lembut. "Aku memperlakukanmu dengan baik mulai sekarang."


"Oh iya, nanti kamu yang mengantarkan aku ke kantor atau aku pergi sendiri?"


"Nanti aku yang akan mengantarkanmu saja. Hari ini aku tidak terlalu sibuk sepertinya. Lagi pula sejak dulu aku ingin berangkat ke kantor bersamamu, Penny."


Setibanya di kantor, aku berpamitan dengan Adrian dan berlari memasuki kantor menghampiri Fina.


"Ayo, kita pergi ke rumah Felix!" ajakku dengan semangat.


"Baiklah, aku naik mobilmu saja," sahut Fina datar.


"Tadi aku tidak membawa mobilku saat datang kesini jadinya kita harus pergi ke sana dengan mobilmu," ucapku dengan gugup, takut


reaksi Fina akan menyeramkan jika ia tahu bahwa Adrian yang mengantarku tadi.

__ADS_1


Fina mendesah pasrah tidak menjawabku sama sekali lalu mengambil kunci mobilnya berjalan menuju tempat parkir.


Di tengah perjalanan, ia bersikap dingin dan tidak membuka suaranya padaku.


Beberapa menit kemudian, akhirnya kami tiba juga di rumahnya Felix. Aku menekan bel sebanyak tiga kali lalu Felix mempersilakan kami berdua memasuki rumahnya. Aku melihat ada foto kebersamaan Felix dan Maria yang sedang duduk di taman.


"Kalian berdua mesra sekali di foto ini," ujarku berbasa basi dulu.


"Kami memang selalu mesra setiap saat."


"Apa mungkin Maria bertingkah aneh belakangan ini? Terutama tepat sebelum dia terbunuh,"


"Sebenarnya aku cemburu belakangan ini."


Aku melangkahkan kakiku mendekatinya. "Kenapa cemburu? Apakah Maria selingkuh dengan pria lain?"


"Aku pernah melihatnya sedang berbicara dengan pria lain saat malam hari. Pembicaraan mereka berdua kelihatannya sangat serius. Lalu, saat aku bertanya dengannya dia hanya menjawab pria itu kliennya."


"Apakah mungkin kamu mengingat wajah pria itu?"


Felix menggeleng. "Saat itu gelap sekali, aku tidak melihatnya dengan jelas dan juga dia memakai topi hitam. Maaf aku tidak bisa membantumu banyak."


"Tidak apa-apa. Pernyataanmu ini cukup membantu penyelidikan kasus ini."


"Lalu apa hubunganmu dengan Emma?" Lagi-lagi Fina memotong perbincangan seriusku. Entah apa yang merasuki pikirannya.


"Emma itu hanya temanku saja."


"Kudengar, Emma dan Maria sempat bertengkar karena mereka saling cemburu."


"Aku tidak tahu tentang hal itu." ujar Felix dengan gugup.


"Apa kamu menyukai mereka berdua?" selidik Fina dengan tatapan tajam.


Felix memelototi Fina, emosinya jadi terpancing karena Fina mengomporinya. "Aku hanya menyukai Maria. Emma itu hanya sebatas teman saja."


"Benarkah? Kamu tidak tertarik dengan menyimpan sesuatu yang berharga bagi mereka, 'kan?"


"Tidak. Untuk apa aku menyimpan benda seperti itu."


"Berarti bukan kamu pembunuhnya. Ayo Penny, kita pergi dari sini sekarang!" ajak Fina berjalan dengan santai keluar dari rumah Felix.


Aku merasa tidak enak dengan Felix dan meminta maafnya langsung untuk mewakili Fina.


Setibanya di kantor, aku menghampiri meja Fina dan berbicaranya langsung dengan tatapan tajam.


"Bisakah kamu jaga mulutmu yang tajam? Kamu barusan memberi tekanan pada Felix!" celetukku dengan kesal.


Fina tertawa remeh melipat kedua tangan di dada. "Aku hanya mengujinya saja. Lagi pula biasanya pelaku pembunuhannya itu adalah kekasihnya korban karena cinta segitiga."


"Tapi bukan berarti kamu berkata seperti itu di depannya!"


Fina memukuli meja agak bertenaga. "Sudahlah masalah ini jangan dipeributkan lagi! Aku ingin beristirahat!"


Malam harinya, sudah waktunya aku pulang kerja, aku keluar dari kantor dengan penuh semangat dan menghampiri Adrian yang sudah menungguku di luar dari tadi.


"Adrian!" panggilku.


"Aku bahagia melihatmu bersemangat begini, Penny," sambutnya merangkul pundakku mencubit hidungku lembut.


"Pulang bersama kekasihku rasanya sangat menyenangkan."


Adrian mengelus kepalaku sekilas. "Kalau begitu aku akan menjemputmu pulang setiap hari."


Saat aku sedang menaikki mobilnya Adrian, sosok Fina berdiri dari kejauhan memasang tatapan seperti ingin membunuhku.


"Jadi tadi kamu tidak membawa mobilmu karena diantar Adrian!" pekik Fina.

__ADS_1


__ADS_2