Good Partner

Good Partner
Part 35 - Pilihan


__ADS_3

Aku membalikkan tubuhku dengan gugup, disambut tatapan kejam Pak Colin. Aku melangkah mundur perlahan menelan salivaku berat, sedangkan Pak Colin berjalan terus mendekatiku seolah-olah seperti ingin membunuhku.


"Kenapa kalian memasuki ruangan saya tanpa izin? Apakah kalian tidak diajarkan sopan santun?"


"Itu ...." Aku bingung ingin menjawabnya seperti apa dengan penuh rasa gugup aku mencengkeram lengan jaketku erat.


"CEPAT KATAKAN!" bentak Pak Colin hingga membuatku tanpa sengaja memundurkan langkah kakiku menabrak meja sehingga beberapa barang jatuh.


Dengan sigap Hans melindungiku dengan merentangkan tangannya di hadapanku. "Kalau mau membunuh kami, bunuh saya dulu!"


"Jangan, Hans! Pak Colin adalah orang yang sangat berbahaya. Sebaiknya kamu mundur saja!" tegasku pada Hans.


"Lagi pula Detektif Nathan dan Jaksa Adrian sudah saya tangkap tadi," ujar Pak Colin tersenyum jahat.


Tania memasang tatapan kejam mengepalkan tangan. "Anda jangan pernah menyakiti Nathan!"


"Jangan pernah berani menyentuh kedua teman saya bahkan sehelai rambut pun! Kalau Anda melukai mereka, saya akan membunuh Anda sekarang juga!" bentakku mengancamnya melotot tajam.


Pak Colin mengambil salah satu pisaunya tergeletak di meja lalu menodongkannya mengarah pada kami. "Sebenarnya sangat mudah jika ingin menyelamatkan teman kesayangan Anda. Cukup tutup mulut dan pergi dari sini!"


Aku seperti dilema sekarang. Jika aku ingin menyelamatkan Adrian dan Nathan, maka aku harus menyembunyikan semua bukti ini dan Pak Colin akan bebas selamanya, lalu korban akan bertambah. Tapi jika aku membuka mulut dan melaporkan ke pihak kepolisian, Pak Colin akan membunuh dua orang yang paling kusayangi dengan kejam.


"Penny, sekarang kita harus bagaimana?" tanya Tania sangat panik.


"Sial, kenapa kita harus memilih salah satu dari kedua pilihan itu!" umpat Hans memukuli tembok dengan kasar.


Sorot mataku tertuju pada jarum jam dinding yang terus bergerak hingga pada akhirnya sekarang adalah waktu yang tepat bagiku. Baiklah ini sudah waktunya aku memutuskan pilihannya tanpa keraguan lagi sambil mengulum senyuman cerdas.


"Baiklah, kami menyerah. Cepat lepaskan Adrian dan Nathan sekarang juga!"


"Pilihan yang sangat bagus, Detektif Penny. Memang teman pasti lebih diutamakan daripada pekerjaan," balas Pak Colin bertepuk tangan sambil tertawa jahat.


Habs memelototiku. "Apakah kamu tidak waras? Kamu mau menyerah?!"


Tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi sedang datang menuju ke sini. Para polisi datang berkerumunan mengepung rumah Pak Colin. Tania dan Hans menatapku kebingungan karena aku berlagak santai sambil merapikan jaketku sedikit kusut.


"Tidak semudah itu saya menutup mulut. Saya bukan detektif bodoh yang mudah tertipu begitu saja. Sebaiknya Anda yang menyerah saja karena polisi sudah mengepung rumah Anda. Anda tidak akan bisa pergi ke mana pun lagi."


"Sial!" Pak Colin mencoba melarikan diri, namun sudah ada petugas polisi yang menghampirinya.


Aku mendekati Pak Colin sambil mengeluarkan borgol dari saku jaketku, memborgol tangannya. "Anda ditangkap atas pembunuhan Gerry, melakukan penyuapan kepada pihak kepolisian dan menyembunyikan bukti kasus pembunuhan Alya. Harap mengikuti kami ke kantor polisi!"


Aku menuntun Pak Colin keluar dari ruangan ini menuju mobil polisi. Aku berjalan keluar dari rumah itu memandangi Nathan dan Adrian masih terlihat baik-baik saja, sudah cukup membuatku kembali tenang.


Aku berhenti sejenak, memerintahkan petugas polisi mengantarkan Pak Colin memasuki mobil polisi. Lalu, aku berlari menghampiri Adrian memeluknya erat melampiaskan kecemasanku dari tadi.


"Penny ...."


Aku memeriksa kondisi tubuhnya panik. "Kamu terluka? Dari tadi aku takut terjadi sesuatu buruk padamu apalagi mendengarmu dan Nathan ditangkap Pak Colin."


Adrian tersenyum tipis juga memeriksa kondisiku. "Aku baik-baik saja, Penny. Bagaimana denganmu? Kamu tidak diperlakukan buruk oleh keparat itu, 'kan?"

__ADS_1


"Tenang saja. Aku juga tidak terluka sama sekali."


Adrian semakin mempererat pelukan. "Terima kasih sudah menolongku, Penny."


Sementara Tania dan Hans setelah menyita semua barang bukti di dalam ruang rahasia itu, mereka berdua menghampiriku.


"Sebaiknya kita kembali ke kantor sekarang," usul Tania.


Hans menatapku dan Adrian saling berpelukan sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian berdua tolong kondisikan situasi."


Dengan sigap aku dan Adrian melepas pelukannya sedikit canggung. Meski sebenarnya kami saling berpelukan, tapi ini pertama kalinya kami ditegur terang-terangan. Apalagi detektif menyebalkan itu suka berpikiran jauh.


Aku mengendarai mobilku menuju kantor polisi untuk menginterogasi Pak Colin sambil membawa semua bukti yang disimpannya dalam ruangan itu.


Setibanya di kantor polisi, aku bergegas memasuki ruang interogasi dan membawa semua buktinya ke sana. Barang buktinya terlalu banyak hingga aku kesulitan menyusunnya di atas meja. Pak Colin mengamati sekeliling ruang interogasi dengan tatapan gugup dan pasrah.


"Kenapa? Anda tidak terbiasa diinterogasi?" ejekku sambil mengambil laptopku mencatat pernyataannya.


"Jadi ini ruang interogasinya. Selama ini saya hanya melihat melalui tayangan TV saja," sahut Pak Colin membuang muka.


"Daripada berbasa basi lebih kita langsung memulai interogasinya. Hmm kita harus memulainya dari mana dulu ya. Anda terlalu banyak perkara sampai saya bingung ingin menanyakan dari mana."


"Bagaimana keadaan Peter?" tanya Pak Colin mengalihkan pembicaraannya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kasus pembunuhan Alya setahun yang lalu, apakah Anda dalang dibalik semua ini?" selidikku mulai fokus pada interogasinya.


"Bukankah kasus itu pelakunya adalah orang lain ya?" tanya Pak Colin balik mengangkat alisnya.


Pak Colin terdiam sejenak bingung ingin berkata apa lagi. Jika ia diam, berarti sudah terbukti bahwa ia yang menyuruh Gerry meracuni Ray.


"Jika Anda diam berarti Anda yang membunuhnya. Lalu apakah Anda yang menyuruh Pak John untuk memalsukan bukti sidik jari pembunuhan Gerry dan menjebak saya?" tanyaku kesal teringat kejadian waktu itu yang hampir mencemari nama baikku.


"Pak John yang memalsukan buktinya, bukan saya," bantah Pak Colin seperti tidak berdosa.


Aku melempar semua foto bukti di meja. "Lalu ini apa?"


"Itu mungkin foto editan."


"Percuma saja Anda menyangkalnya terus. Kini semua bukti yang telah Anda simpan di rumah Anda sudah saya ambil semuanya."


Pak Colin menghembuskan napasnya kasar.


"Anda memang cerdas sekali, Detektif Penny."


"Sesi interogasi sampai di sini saja. Anda akan segera dibawa ke kantor kejaksaan," ujarku sambil membereskan semua barang bukti, lalu meninggalkan ruang interogasi.


Saat aku berjalan keluar ruang interogasi membuka pintunya, teman-temanku menyambutku dengan meriah.


"Akhirnya kita menang!" sorak Tania girang.


"Pokoknya aku sudah bisa tidur nyenyak," lontar Nathan berlompat seperti anak kecil.

__ADS_1


"Selamat ya, Penny. Akhirnya kita berhasil menangkap pelaku sesungguhnya," sorak Adrian tersenyum bahagia padaku.


"Terima kasih teman-teman, tanpa kalian semua kita tidak akan berakhir seperti ini," balasku sambil memeluk mereka semua.


"Ehem! Bagaimana dengan traktirannya?" protes Hans tersenyum sinis melipat kedua tangannya di depan dada.


Aku menepuk jidat. "Oh ya, aku hampir lupa! Sesuai dengan janjiku, aku akan mentraktir kalian semua hari ini."


Aku mengajak semua temanku mengunjungi restoran barbeque untuk merayakan kemenangan kami hari ini. Kami memesan banyak makanan karena sudah beberapa hari ini kami makannya hanya sedikit saja. Aku menduduki kursi di sebelah Adrian sambil mengangkat gelasku.


"Mari bersulang untuk kemenangan kita!" ajakk.


"Bersulang!" Semua temanku saling menabrakkan gelas lalu menyesap bir masing-masing.


"Hore sekarang kita bebas!" teriak Nathan girang.


"Aku sudah bisa makan sepuasnya sekarang," kata Tania sambil menikmati makanannya melahap.


"Penny, kemungkinan kamu akan dipromosikan menjadi kepala detektif," ujar Adrian dengan bangga.


Soal promosi, sebenarnya aku sudah menyerah dan melupakannya sejak lama. Apalagi berdasarkan pengalamanku, untuk menjadi kepala detektif biasanya harus memerlukan pengalaman kerja bertahun-tahun dan sudah berumur. "Aku belum pantas mendapatkan posisi itu."


Hans menepuk tanganku. "Ish jangan tidak percaya diri! Bukankah dari dulu kamu ingin mendapatkan posisi itu?"


Aku menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga. "Memang sih aku ingin menjadi kepala detektif, tapi sekarang masih terlalu dini. Lagi pula masih banyak detektif lain yang lebih baik daripadaku."


"Pokoknya aku mendoakan semoga kamu cepat dipromosikan menjadi kepala detektif," ujar Tania dengan tatapan percaya diri.


"Ayahku dan ayahmu pasti sangat bangga denganmu, Penny. Kamu adalah pahlawan bagi mereka dan bagi kota ini," tambah Adrian menepuk pundakku dengan pandangan berbinar.


"Iya benar kata Adrian. Kamu adalah pahlawan yang sebenarnya," sambung Nathan sambil mengacungkan jempol padaku.


"Aku hanya melaksanakan pekerjaanku saja. Kamu juga berperan besar dalam membantuku menyelesaikan kasus ini, Adrian," lontarku sambil menatap Adrian dengan tatapan penuh makna.


"Karena kamu dan aku sangat kompak menyelesaikan kasusnya sejak awal," balasnya tersenyum ceria padaku sambil memberikan beberapa potong daging panggang untukku.


Aku juga memberikan beberapa potong daging panggang untuknya. "Sudah kita lanjutkan makannya sampai puas,"


Setelah kami berbincang puas di restoran sampai malam, aku berpamitan dengan mereka lalu pulang ke rumahku. Aku langsung berlari memasuki kamarku dan melompati ranjangku sambil menggulingkan tubuhku melepas kebahagiaanku saat ini. Akhirnya aku bisa merasakan kehidupanku dengan nyaman tanpa rasa takut lagi. Aku sudah bisa tidur dengan nyenyak dan tidak akan bermimpi buruk lagi.


Keesokan harinya, matahari bersinar terang menembus jendelaku hingga membuatku langsung terbangun dari dunia mimpi.


drrt...drrt...


Ponselku bergetar tiba-tiba membuatku sedikit terkejut. Tidak biasanya ada yang menghubungiku pagi-pagi begini. Tapi karena yang menghubungiku adalah Adrian, aku langsung mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo Adrian, tumben kamu meneleponku pagi-pagi begini."


"Aku mendengar kendaraan yang ditumpangi Pak Colin saat menuju kantor kejaksaan mengalami kecelakaan. Lalu saat pihak kepolisian menuju ke sana, Pak Colin sepertinya melarikan diri," Suara Adrian terdengar panik lewat telepon.


Ketika mendengar kabar buruk darinya barusan, tubuhku lemas hingga ponselku terjatuh ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2