Good Partner

Good Partner
S2 : Part 40 - Worrying You


__ADS_3

Jika dibayangkan posisi tubuhku menimpa tubuhnya saat ini seperti sedang ingin melakukan ciuman. Apalagi kalau dilihat dari belakang mungkin akan timbul terjadi kesalahpahaman. Ditambah raut wajahnya terfokus padaku dengan pandangan berbinar-binar membuat salah satu pengunjung mendatangi kamar ini sengaja berdeham.


"Ehem...ehem..."


Aku dan Adrian bergegas menoleh ke arah suara dehaman itu. Sosok Nathan dari tadi berdiri mematung bersama dengan yang lainnya di belakangnya memasang raut wajah polos mereka berlagak seperti orang bodoh. Kami berdua tersipu malu akibat dengan posisi seperti ini pasti mereka semua akan berpikir hal yang aneh-aneh. Dengan sigap aku menuruni ranjangnya lalu duduk seperti orang professional pada kursi sebelah ranjang. Sementara Nathan dan Hans tertawa kikuk lalu memalingkan matanya dariku.


"Tadi kami tidak melihat apa pun," ucap Nathan bertingkah seperti orang bodoh sambil menggarukkan kepalanya.


"Sepertinya kami berkunjung pada waktu yang salah deh," lanjut Hans tatapan matanya pada langit-langit.


"Kalian ngomong apa sih dari tadi? Aku tidak mengerti maksud perkataan kalian barusan," tanyaku mengernyitkan alisku.


"Aku tahu, Penny. Kamu sebenarnya ingin menghabiskan waktu bersama Adrian lebih banyak lagi," tutur Fina menatapku iri.


"Kamu tidak usah bertingkah seperti orang polos deh, Penny," sambung Tania tertawa kecil.


"Kalian ini justru yang aneh dari tadi!" celetukku balik.


"Sudahlah Penny, ini makanan untukmu dariku. Jangan lupa kamu habiskan makanannya, ya," pesan Fina padaku sambil memberikan sebungkus makanannya untukku.


"Terima kasih, Fina. Aku merepotkanmu dari kemarin," ucapku tersenyum girang.


"Oh iya, Fina kan hanya membeli satu porsi saja. Nanti kalian berdua saling berbagi saja makanannya," papar Tania.


"Ide yang bagus, Tania. Kalau begini kan menambah suasana romantis kalian," sambung Nathan mengacungkan jempolnya pada Tania.


"Tunggu sebentar! Sebenarnya kalian semua berbicara seperti itu pada kami berdua bermaksud untuk meledek, ya?" Adrian melipat kedua tangannya mengangkat alisnya.


"Tapi Adrian bukankah kamu ingin berbuat seperti itu pada Penny? Seharusnya kalian berdua senang dong kalau kami sebagai teman mendukung kalian," tanya Hans balik.


"Jangan bilang kalian salah paham karena melihat tingkah kami berdua tadi," tukas Adrian menatap curiga.


Semuanya berpura-pura seperti orang bodoh. Aku dan Adrian rasanya ingin menjewer telinga mereka satu per satu.


"Tadi kami sungguh tidak melihatnya, benarkah begitu, Fina?" lontar Hans semakin bertingkah bodoh sengaja menyenggol lengannya Fina.


"Jawab yang jujur, Fina!" tegas Adrian menatap menyeringai.


"Tadi kami memang benar tidak melihat apa pun," sahut Fina menggarukkan kepalanya.


Batas kesabaran Adrian sudah habis. Ia sebenarnya tahu Fina seperti sedang membohonginya tadi.


"Sudahlah kalian semua pergi dari sini! Merusak suasana saja!" Adrian mengusir mereka dengan mengibaskan tangan kirinya.


"Berarti memang benar kami mengunjungimu di waktu yang tidak tepat," ledek Fina tertawa kecil.


Adrian bergeming lalu tatapan matanya tertuju padaku sambil merangkul tanganku.


"Sayang, mereka ganggu terus!" rengeknya manja menggoyangkan tanganku.


"Ish padahal ini semua gara-gara kamu jadi mereka semua salah paham!" sungutku memalingkan mataku darinya.


"Omong-omong Penny, dari tadi aku melihat wajahmu sepertinya hari ini kamu lebih cantik dari kemarin deh." Tania menatapku penuh curiga sambil mendekatiku.


Aku menelan salivaku berat melangkah mundur hingga menabrak tembok. Tatapan matanya Tania sudah seperti alat scanner memerhatikan wajahku seperti ada noda yang melekat dan mengangkat daguku.


"Kamu memakai riasan, ya?" tanyanya semakin curiga.


"Tuh sudah kuduga dari awal sejak memasuki ruangan ini. Ada sesuatu yang berbeda dari Penny," tambah Nathan juga mendekatiku.


"Aduh kenapa kalian seperti alat scanner sih!" keluhku mendengkus kesal.


"Memang sih biasanya kamu memakai riasan setiap harinya. Tapi kemarin karena kamu menangis terus jadinya kelihatan sekali wajahmu memucat. Sedangkan hari ini kamu memakai riasan lumayan tebal deh," ujar Tania sambil menyeka debu yang melekat pada kemejaku.


"Kamu barusan bilang apa, Tania? Kemarin Penny menangis seharian?" tanya Adrian tiba-tiba dengan tatapan melotot.


"Nih dengarkan baik-baik, ya, Adrian! Kemarin istrimu melihatmu terbaring terus seharian sampai nangis dan tidak mau makan," jelas Tania.


"Apakah benar, Penny?" tanya Adrian menatapku tajam.


Tatapan mataku terfokus pada Tania rasanya ingin menendang kakinya dengan kuat sekarang. Memang mulutnya ember sekali pakai lapor segala. Siap-siap deh aku diomeli habis-habisan oleh Adrian. Aku mendekatkan wajahku pada daun telinganya Tania berbisik dengannya.


"Dasar ember!" ketusku mengerucutkan bibirku.


"Kan ini demi kebaikanmu. Lagi pula kemarin kamu keras kepala tidak mau makan terus!" celetuk Tania balik.


"Penny!" panggil Adrian kesal.


"Tania hanya bersikap berlebihan. Kemarin aku sungguh tidak begitu," bantahku menggeleng cepat.


"Bukan Tania yang berlebihan. Tapi Penny sungguh bersikap begitu. Dengarkan baik-baik, Adrian! Kemarin aku juga membelikan makan siang untuknya tapi dia keras bilang tidak berselera makan sampai aku ingin menyuapinya." Fina melanjutkan pelaporannya kepada Adrian.


"Iya kemarin saja dia nangis terus sampai mengusir kami karena dia ingin sendirian berada di sampingmu." Hans menambahkan bumbunya.


"Bukan--"


"Aku berniat menyuapinya tapi dia menolakku mentah dan berkata padaku bahwa dia hanya ingin disuapimu Adrian," sambung Fina.


"Lalu dia mengatakan kami cerewet terus menasihatinya. Padahal kami bersikap baik kepadanya takut terjadi sesuatu padanya!" tegas Nathan mengakhiri pelaporannya membuatku semakin kesal.


Aku sudah tidak tahan dengan emosiku lagi lalu meneriakki mereka semua.


"CUKUP HENTIKAN! KENAPA KALIAN SEMUA MULUTNYA EMBER SEKALI SIH!" teriakku sampai wajahku memerah seperti kepiting rebus.


"Padahal kami hanya melaporkan kepadanya tentang kondisimu kemarin," sahut Nathan berlagak polos.


"Penny!" tegur Adrian lagi.


"Kenapa kamu membentakku, Adrian?" tanyaku agak kesal.


"Siap-siap kamu terima hukuman dariku!"


Keempat anggota timku semakin bertingkah bodoh bahkan ada yang berpura-pura mengamati langit-langit terus. Lalu Fina mencolek lengannya Hans sengaja.


"Sepertinya situasinya semakin tidak enak. Kita pergi dari sini saja, yuk!" ajak Fina merangkul tangannya.


"Ya sudah deh, kita jangan mengganggu mereka lagi. Biarkan mereka bermesraan terus sampai puas," sahut Hans menuntun Fina melangkah keluar.


"Kalian bersenang-senang saja dulu!" pekik Fina dari luar.


Sementara Tania juga merangkul tangannya Nathan lalu mengulum senyuman tipisnya padaku.


"Kalau begitu aku juga pergi dulu deh, Penny. Lagi pula kami juga harus kembali ke kantor untuk bekerja," pamit Tania.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian pergi saja sana," sahutku datar.


"Adrian, kamu harus memarahi istrimu karena kemarin dia sungguh menangis seharian sampai matanya membengkak," pesan Nathan sedikit menertawaiku.


"Ish mana mungkin sih Adrian bersikap begitu!" sungut Tania memukuli lengannya Nathan.


"Baiklah, Nathan. Aku pasti akan memarahinya habis-habisan," patuh Adrian mulai menyunggingkan senyuman nakalnya.


"Kalau begitu kita kabur dulu yuk, Tania!" Nathan menggenggam tangannya Tania berlari keluar dari ruangan ini.


Kini tersisa hanya aku dan Adrian lagi. Suasana mulai menegangkan apalagi tatapannya terus memelototiku seperti ingin menerkamku. Adrian menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya kasar.


"Penny!" panggilnya kasar.


"Adrian, aku sungguh tidak bertingkah begitu semalam," sangkalku lagi.


"Duduk di sebelahku sekarang!" pintanya menepuk ranjangnya.


"Tapi nanti kamu--"


"Sudah tidak usah banyak alasan!"


Aku memutar bola mataku bermalasan menurutinya menduduki ranjangnya tepat di sebelahnya. Adrian menyentuh pundakku dengan kedua tangannya.


"Lihat aku, Penny," ucapnya pelan.


Aku menolehkan kepalaku menghadapnya dengan tatapan sendu.


"Adrian, kemarin aku--"


"Aku ini bodoh sekali tidak menyadarinya dari awal. Kalau dilihat lama-lama matamu sedikit membengkak. Pasti karena kamu menangis seharian melihatku terbaring terus," keluhnya menyentuh kelopak mataku dengan jari jempolnya.


"Iya deh, aku mengakuinya. Kemarin memang aku menangis sampai tidak berselera makan dan tidak tidur karena terus menjagamu seharian," desahku lesuh.


"Penny ...."


"Tapi tenang saja, kemarin aku masih bisa makan dan tidur sebentar. Kamu bisa lihat aku sekarang baik-baik saja," balasku berlagak kuat dengan berseri-seri.


"Dasar pembohong!"


"Aku tidak berbohong padamu, Adrian."


"Walaupun kamu berusaha menutupinya, kamu tidak akan pernah bisa membohongiku!"


"Adrian!"


Tangan kirinya merangkul pinggangku ramping dan tangan kanannya membelai rambutku perlahan.


"Aku tidak akan membuatmu menangis seharian lagi. Aku paling tidak suka kalau kamu menangis sampai tidak berselera makan atau tidak bisa tidur nyenyak. Kalau kamu tidak melakukan dua kegiatan yang kecil saja, kau bisa jatuh sakit juga, Penny. Walaupun kondisiku saat itu membuatmu takut, tapi setidaknya kamu tetap harus menjaga kesehatanmu."


"Aku mana bisa makan dan tidur dengan tenang kalau melihatmu begitu. Kemarin kamu sungguh menakutiku," lirihku menundukkan kepalaku sambil memainkan kuku jariku.


"Walaupun kamu takut tetap saja harus fokus pada kesehatanmu juga. Kalau seandainya saat aku terbangun melihatmu dalam kondisi tidak enak badan, aku pasti akan sangat bersalah padamu. Apakah kamu ingin aku merasa bersalah juga? Aku ingin kamu selalu terlihat sehat dan ceria setiap saat."


Aku menghela napasku lesuh sedikit menyesal setelah mendengar lontaran nasihatnya barusan. Memang benar sih kalau seandainya aku jatuh sakit, ia pasti akan sangat mencemaskanku sampai tidak bisa tidur nyenyak.


"Maafkan aku, Adrian. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi," sesalku.


"Aku pasti berjanji." Aku melekatkan jari kelingkingku padanya dengan tatapan manis.


"Masih kurang puas. Sepertinya harus ditambah lagi."


Adrian mengecup keningku mendalam dalam durasi beberapa detik.


"Dengan begini kamu pasti menepati janji tidak akan berbuat begitu lagi. Memang aku harus memberimu kasih sayang lebih banyak lagi supaya kamu menurutiku."


Aku membalasnya dengan mengecup pipinya sekilas membuktikan bahwa aku sungguh menepati janjiku.


"Aku pasti menepati janjiku."


"Nah karena kamu sudah menepati janjimu sekarang sebaiknya kita makan saja."


"Iya deh aku ambilkan makanannya dulu."


Aku menarik tatakan mejanya lalu membukakan bungkusan makanannya menaruhnya di atas sana. Sebelum itu aku menyetel posisi sandaran tempat tidurnya tegak memudahkan aku untuk menyuapinya. Ketika aku ingin mengambil sendoknya, Adrian merebutnya dariku mengambil sesendok makanannya untukku.


"Buka mulutmu, Penny."


"Kenapa posisinya jadi terbalik? Seharusnya aku yang menyuapimu."


Adrian langsung menyuapiku untuk membungkam mulutku yang dari tadi rewel.


"Kamu berisik sekali sih!" hardiknya.


"Ish kamu juga harus makan!" sungutku merebut sendoknya dari genggaman tangannya.


Aku mengambil sesendok makanannya lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Adrian meresponku mencubit pipiku lembut.


"Kamu nakal sekali, Sayang. Padahal aku bermaksud untuk memberimu makan malahan kamu yang menyuapiku."


"Justru kamu yang harus makan! Bukankah sebelumnya kamu merengek padaku meminta makanan seperti anak kecil? Bahkan kamu lebih manja dari Victoria!"


Raut wajahnya kembali murung menghela napasnya lesuh.


"Kamu tidak memberitahu Victoria mengenai keadaanku, 'kan?" tanyanya gugup.


"Tenang saja. Mana mungkin aku memberitahunya langsung. Adanya reaksinya akan lebih parah dariku."


"Aku tidak ingin anak kita mengetahui papanya sedang sakit parah."


"Maka dari itu, kamu harus makan yang banyak supaya kembali kuat lagi. Selama seharian kemarin kamu tidak makan sama sekali, tubuhmu pasti lemah," ujarku cerewet sambil menyuapinya lagi.


"Melihatmu saja sudah membuatku kembali bertenaga lagi," gombalnya tersenyum nakal.


"Ish gombal terus saja!"


Sementara di sisi lain, keempat detektif itu bermalasan di ruang kerja tim. Apalagi Hans dan Nathan matanya terasa berat untuk membukanya sambil terus menguap.


"Entah kenapa kalau tidak ada Penny rasanya sepi sekali ruangan ini," ujar Fina lesuh.


"Iya tidak ada seseorang yang meneriakki kita lagi," sahut Hans.


"Ish pikiranmu selalu saja ingin membuat Penny marah! Aku yakin kalau suatu hari nanti Penny darah tinggi pasti karena ulahmu!" sergah Fina memukuli punggungnya Hans.

__ADS_1


"Tapi kalau Penny sedang marah memang lucu sekali sih seperti ibu cerewet," tambah Nathan tertawa kecil.


"Memang kalian berdua sungguh keterlaluan!" hardik Tania berkacak pinggang.


"Omong-omong, aku sangat penasaran dengan mereka berdua sekarang. Apalagi membayangkan Adrian memarahi Penny seperti apa." Hans menyunggingkan senyumannya membayangkannya sampai tertawa sendiri.


"Mana mungkin Adrian memarahi istrinya sendiri. Lagi pula sikapnya kan lembut," balas Fina.


"Tapi bisa saja Adrian sungguh memarahinya. Kamu lihat saja tatapannya tadi tidak seperti biasanya," lanjut Nathan menambah bumbu.


"Dia tidak memarahinya, mungkin menasihatinya dengan baik," sangkal Tania.


Sedangkan di tengah pembicaraan mereka, Fina mengambil salah satu foto yang terpajang pada sebuah meja kerja kosong.


"Dilihat dari foto pernikahan mereka saja sepertinya Adrian tidak mungkin memarahinya. Bahkan foto pernikahanku saja tidak terlihat manis seperti mereka."


"Tadi kamu bilang apa, Fina?" tanya Hans dari kejauhan.


"Tidak apa-apa. Mungkin tadi kamu salah mendengarnya," sangkal Fina berlagak polos menaruh kembali fotonya.


Tak terasa hari sudah mulai gelap. Aku merasa seperti baru saja melihatnya terbangun di hadapanku sekitar satu jam yang lalu. Kini aku memutuskan membantunya mengusap keringat yang melekat pada wajahnya. Aku mengambil sebuah baskom kecil yang diisi sedikit air beserta handuk kecil. Aku mencelupkan handuk kecilnya ke dalam baskom lalu memerasnya dengan sekuat tenagaku. Kemudian handuk kecilnya aku gunakan untuk mengusap keringat pada tangannya dulu. Sebelum itu aku menyisingkan lengan bajunya dulu lalu mengusap keringatnya. Sedangkan Adrian dari tadi hanya mengamatiku saja dengan pandangan berbinar-binar.


"Aku ingin setiap hari kamu memperlakukanku seperti ini," ucapnya tersenyum hangat.


"Ish dasar manja! Sebenarnya cederamu juga tidak terlalu parah seharusnya kamu bisa keluar dari rumah sakit lebih cepat," sungutku.


"Kamu menganggap cederaku tidak parah tapi kemarin kamu menangis ketakutan melihatku!"


"Maksudku itu, cedera di tubuhmu itu yang tidak terlalu parah. Aku masih cemas dengan kondisi kepalamu."


Usai mengelap kedua tangannya, aku mencelupkan handuknya lagi ke dalam baskom lalu memerasnya. Wajahku mendekat pada wajahnya memulai mengusap keringatnya yang melekat pada dahinya secara perlahan lalu ke sisi lainnya hingga terakhir mengusap bibirnya dengan handuk kecilnya. Ia menahan tanganku untuk melanjutkannya lagi dengan tatapan terfokus padaku apalagi jarak wajah kami sangat dekat. Aku menjadi sedikit gugup mengamati tingkahnya tiba-tiba seperti ini lalu aku membelokkan kepalaku berpura-pura melihat ke arah lain. Namun ia menahan wajahku supaya tetap tertuju padanya.


"Kenapa kamu menghindar?" tanyanya.


"Aku tidak menghindar."


"Lalu kenapa kamu tidak terus menatap wajahku? Bukankah itu yang kamu inginkan sejak kemarin?"


"Iya sih. Sudahlah kamu diam saja jangan bergerak. Aku jadi susah mengelapnya nih!"


Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku sambil menyentuh pipiku. Aku menggenggam handuk kecilnya erat lalu memejamkan kedua mataku hingga jarak bibir kami saat ini sangat berbeda tipis.


BAMM


Tiba-tiba ada seseorang mendorong pintunya paksa membuatku dan Adrian tersentak kaget menghentikan aksi kami. Ternyata Yohanes yang memasuki ruangan ini hingga membuat Adrian sangat geram padanya sekarang. Yohanes melangkah menghampirinya dengan tatapan penuh cemas.


"Adrian, kamu sudah sadar rupanya. Aku sangat mencemaskanmu sejak kemarin," sapa Yohanes.


"Ish kenapa semua orang hari ini merusak momen sih!" sungut Adrian mendengkus kesal.


"Hehe maafkan aku, Adrian."


Lalu tatapan matanya Yohanes beralih padaku yang sedang duduk manis di kursi sebelah ranjang.


"Apa kabarmu, Penny? Pasti sangat lelah mengurus temanku yang cengeng," tanyanya padaku mengulurkan tangannya.


"Aku baik-baik saja sekarang sejak Adrian kembali tersadar. Memang sih sedikit lelah mengurusnya tapi sebenarnya menyenangkan," jawabku tersenyum ramah berjabat tangan dengannya.


Yohanes tidak ingin melepas genggaman tangannya terus tersenyum padaku hingga membuat Adrian menghembuskan napasnya lalu melemparkan bantalnya mengarah padanya.


PUKK


"Aduh!" Yohanes mengeluh kesakitan sambil memegang kepalanya.


"Lepaskan genggaman tanganmu darinya! Siapa yang menyuruhmu menyentuh tangannya?" celotehnya mengerucutkan bibirnya.


"Lho memangnya aku berjabat tangan tidak boleh? Kan aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Benarkah begitu, Penny?"


Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil tertawa kikuk.


"Iya benar."


"Saayaang! Kenapa kamu malah lebih memilih membelanya daripada aku?" tegur Adrian.


"Kan suka-suka dia mau berjabat tanganku atau tidak!" bentakku balik.


"Sudahlah, Penny. Kamu tidak usah marah lagi. Sebaiknya kita bersantai saja sekarang," ucap Yohanes menepuk pundakku.


Adrian membulatkan matanya memelototinya dengan tajam lalu mengepalkan tangan kanannya.


"Hei, Yohanes! Kenapa kamu menyentuh lengannya?" celetuknya menatap sebal.


"Memangnya aku tidak boleh menyentuhnya? Dasar cerewet, Adrian!" celetuk Yohanes balik.


"Tidak boleh! Pokoknya yang boleh menyentuhnya hanya aku saja!" tegasnya mendengkus kesal.


Aku memutar bola mataku bermalasan lalu menarik jari telunjuknya Yohanes menghampiri jendela kamar. Adrian mengamati reaksiku barusan membuat api cemburunya semakin membara.


"Sayang! Kenapa kamu menarik jari telunjuknya?" tegurnya lagi membuatku semakin geram padanya.


"Ish kau cerewet sekali sih, Adrian! Kamu berkata begitu seperti menganggap Yohanes sebagai bakteri!"


"Kalau aku cerewet begini sudah wajar dong!"


"Iya kamu cerewet sampai tega melempar bantal kena wajahku sampai sakit!" protes Yohanes.


"Kalau cemburu bilang saja sih! Lagi pula ada-ada saja kamu. Yohanes kan sudah menikah juga jadinya tidak mungkin merebutku darimu!"


"Iya benar, Penny. Mana mungkin aku berbuat kejam begitu pada temanku sendiri. Dia saja yang sikapnya terlalu berlebihan!"


"Sekarang aku mau kau berkata jujur padaku, Yohanes! Sebenarnya kamu datang ke sini bertujuan untuk menjengukku atau melihat istriku sih?"


"Ya, sudah pasti untuk menjenguk temanku yang sedang sakit parah," tawa Yohanes terkekeh menghampiri Adrian lagi.


"Kalau dilihat dari tadi sih sepertinya kamu sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan Penny saja! Sedangkan aku tidak dipedulikan sama sekali!" ketusnya dibakar api cemburu.


"Padahal bukan itu sebenarnya. Aku ke sini untuk melaporkanmu mengenai pengacara Leonard," ujar Yohanes serius.


Raut wajahnya Adrian berubah drastis menjadi serius juga ketika mendengar perkataan Yohanes barusan.


"Jadinya apakah dia mengakuinya?"


"Dia sama sekali tidak ingin membuka mulutnya."

__ADS_1


__ADS_2