
Adrian menggenggam tanganku erat menatap pengacara Leonard serasa ingin menerkamnya habis-habisan. Aku dan Adrian ingin melangkah keluar dari Kafe itu namun pengacara Leonard sengaja menghadang jalannya dengan senyuman sinis.
"Kalian sombong sekali tidak menyapa seseorang yang mengenal kalian," sindir Leonard berkacak pinggang.
"Tidak ada sesuatu yang bisa aku bicarakan denganmu sekarang, Leonard. Sebaiknya kamu jangan menghalangi jalan kami sebelum aku kehilangan kesabaranku!" ketus Adrian memberontaknya mendorong tubuhnya pengacara Leonard sedikit bertenaga.
Pengacara Leonard menahan tubuhnya Adrian supaya tidak bisa melangkah darinya menepuk pundaknya.
"Karena kalian sudah terlanjur datang ke sini bagaimana kalau kita berbicara dengan baik sambil minum kopi dulu?" tawar pengacara Leonard.
Tatapan Adrian beralih padaku. Aku hanya membalasnya menganggukkan kepalaku dan menyandarkan kepalaku pada lengannya.
"Ya sudah, karena Penny setuju maka terpaksa aku juga harus berbincang denganmu sekarang."
"Kalau begitu sebaiknya kita masuk dulu," ajak pengacara Leonard.
Kami bertiga memasuki Kafe bersama sambil memesan kopinya terlebih dahulu. Aku dan Adrian memesan Matcha Latte sedangkan pengacara Leonard memesan Iced Americano Latte. Lalu kami bertiga menduduki sebuah tempat duduk kosong di samping jendela. Pengacara Leonard memilih duduk tepat berhadapan langsung dengan Adrian sambil minum kopinya.
"Omong-omong, tumben kalian berkunjung ke sini. Kalau aku sudah menikah mungkin tidak akan mengunjungi Kafe menikmati kopi bersama saja," ucap pengacara Leonard berbasa basi membuat Adrian memutar bola matanya bermalasan.
"Mengenai itu sebaiknya kamu tidak perlu tahu tentang urusan kami," balas Adrian dingin.
Aku menghembuskan napas kasar lalu menendang kakinya Adrian perlahan untuk menyadarkan tingkahnya yang mulai bersikap dingin lagi seperti waktu itu. Adrian secara spontan menoleh ke arahku lalu aku hanya bisa mengulum senyuman manisku saja.
"Oh, kami mengunjungi Kafe ini untuk bertemu dengan seseorang," ucapku melanjutkan perbincangannya.
"Begitu rupanya."
"Sedangkan kamu sedang apa ke sini sendirian di hari libur?" tanya Adrian menyipitkan matanya curiga.
"Memang biasanya aku selalu mengunjungi kafe ini di hari liburku. Apalagi kafe ini merupakan kafe langgananku biasanya tempat pertemuan dengan klienku. Makanya aku tidak pernah melihat kalian berkunjung ke sini."
"Kamu bertemu dengan klien selalu di sini pasti kamu sudah mencoba semua minuman kopi di sini," balasku ramah.
"Tidak juga sih. Aku hanya minum menu tertentu saja."
"Tapi aku bingung ini antara kebetulan atau bukan. Kenapa belakangan ini kita bertemu terus, ya?" selidik Adrian menatapnya semakin curiga.
"Mungkin ini yang dinamakan dunia sempit. Dari sekian banyak tempat di kota ini, tidak disangka bertemu kalian di sini padahal tidak janjian."
"Justru itu yang aku benci. Kenapa dari sekian banyak Kafe di kota ini bisa kebetulan bertemu denganmu di sini," ketus Adrian kembali menatap tajam.
"Sebenarnya aku bingung denganmu dari dulu, jAdrian. Kenapa kamu sangat membenciku? Apa aku berbuat salah padamu?" tanya pengacara Leonard mengangkat alisnya sambil menggenggam cangkir kopinya.
"Aku selalu merasa tidak nyaman setiap berada di dekatmu. Apalagi perbuatanmu terhadap Penny beberapa hari yang lalu, aku semakin membencimu." Adrian menghembuskan napasnya kasar seperti ingin menerkam habis-habisan seperti singa kelaparan.
"Omong-omong, tadi detektif Penny bilang kalau kalian ke sini tujuannya ingin bertemu dengan seseorang. Apa mungkin tentang masalah pekerjaan?" tanya pengacara Leonard mengalihkan pembicaraan yang menegangkan tadi.
"Iya hanya tadi orangnya ada urusan tiba-tiba jadinya tidak bisa bertemu dengan kami," jawabku.
"Wah, sayang sekali padahal kalian sudah jauh-jauh kemari!"
"Kamu lihat kan, bahkan di hari libur saja kami masih bisa bekerja. Maka dari itu, kamu jangan meremehkan kami sebelumnya."
"Ternyata kamu masih menyimpan dendam padaku karena masalah itu lagi! Padahal aku sudah tidak meremehkan kalian!"
"Pokoknya setiap ada orang yang meremehkan istriku, aku pasti akan menyimpan dendam sampai seterusnya."
Lagi-lagi perbincangan yang berujung suasana mencekam. Aku mendekatkan wajahku pada daun telinganya Adrian berbisik dengannya.
"Adrian...."
"Iya aku tahu, Penny," sahutnya lalu beralih pada pengacara Leonard lagi.
"Ternyata kamu orangnya pendendam juga, Adrian."
"Sebenarnya aku bukan orang pendendam. Tapi aku hanya dendam terhadap orang yang melukai hati, Penny."
"Memang ini yang dinamakan sang suami sangat menyayangi istrinya sampai bersikap berlebihan!"
"Tentu saja karena aku memang menyayangi Penny. Tidak ada seorang pun pria yang bisa mengalahkanku. Hanya aku yang bisa membuat Penny selalu hidup bahagia," ucap Adrian berlagak sombong membuat pipiku mulai memerah tersipu malu.
"Tenang saja, Adrian. Aku tidak mungkin merebut detektif Penny darimu. Lagi pula untuk apa aku berbuat dosa merebut pasangan hidup orang lain."
Adrian menghabiskan minuman kopinya tanpa tersisa satu tetes pun, begitu juga aku. Dengan tangannya lincah, ia menggandeng tanganku beranjak dari kursinya.
"Aku dan Penny sudah menghabiskan minuman kopinya jadi sudah waktunya kami pergi dari sini," pamit Adrian bersikap dingin.
"Ya sudah, kalau kalian mau pergi silakan saja. Aku tidak memiliki hak untuk menghentikan kalian lagi."
"Kalau begitu kami pergi dulu, ya," pamitku ramah.
Lalu aku dan Adrian melangkah keluar dari Kafe meninggalkan pengacara Leonard sendirian di sana. Sontak kepalanya pengacara Leonard terasa seperti mau pecah lagi. Ia terus meringis kesakitan sambil mengeluarkan obat khususnya dan menelannya dengan panik. Wajahnya mulai memucat dan pandangannya sedikit kabur seperti kesadarannya akan hilang lagi.
Aku dan Adrian berada di basement melangkah menuju mobil SUV yang terpakir di sana. Adrian secara spontan membukakan pintu mobilnya untukku seperti biasa. Kami berdua memasuki mobilnya bersama lalu aku memeluknya dengan hangat saat ia menekan tombol starter mobilnya.
"Sayang ...." lirihnya manja.
__ADS_1
"Mmm aku sangat sayang padamu deh. Tadi sebenarnya saat kamu mengatakan itu di hadapan pengacara Leonard, aku ingin memelukmu langsung. Cuma aku menahannya dengan sabar sampai ada ruang untuk kita bermesraan."
Adrian menurunkan suhu AC mobilnya namun aku menaikkan suhunya lagi.
"Ish nanti aku kedinginan!" sungutku.
"Tenang saja walaupun kamu kedinginan, tubuhku akan selalu menghangatkan tubuhmu yang dingin seperti kutub utara," sahutnya mengusap kepalaku.
"Apa mungkin kamu menurunkan suhu AC karena kepanasan?"
"Kamu tahu saja saat ini aku kepanasan karena bermesraan denganmu."
Aku semakin membenamkan kepalaku pada tubuhnya dengan manja.
"Aku mau pulang sekarang, Sayang. Aku ingin bersantai denganmu di rumah."
"Baiklah sesuai dengan keinginanmu, kita akan pulang sekarang. Lagi pula kalau kita melakukan di rumah lebih leluasa dibandingkan di mobil," patuhnya santai sambil melepas pelukannya lalu melajukan mobilnya.
Sementara di sisi lain, pengacara Leonard mengendarai mobilnya dengan pandangan sedikit kabur sehingga ia melajukan mobilnya sangat lambat seperti siput. Ia hendak mendatangi klinik langganannya untuk menjalankan sesi terapi otaknya lagi. Namun baru saja ia memarkirkan mobilnya di depan kliniknya, tapi tidak ada tanda kehadiran psikiater wanita tersebut dalam kliniknya. Lalu ia mengambil ponselnya dalam saku celananya menghubungi psikiater wanita tersebut.
"Halo Dokter Jesslyn, aku memerlukan bantuanmu sekarang."
"Tapi saat ini aku sedang tidak berada di klinik."
"Kamu harus ke rumahku sekarang juga. Sepertinya penyakitku ini semakin lama semakin parah."
"Baiklah tunggu sebentar. Aku akan tiba di sana dalam beberapa menit."
Panggilan teleponnya langsung terputus begitu saja oleh dokter Jesslyn. Pengacara Leonard melajukan mobilnya lagi menuju rumahnya. Setelah menempuh perjalanan dalam beberapa menit, pengacara Leonard tiba duluan di rumahnya. Ia dengan panik memasuki rumahnya lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamunya meringis kesakitan.
Ding...dong....
Terdengar suara bel rumahnya berbunyi nyaring. Pengacara Leonard beranjak dari sofa ruang tamunya melangkah keluar bergegas membuka pintu pagarnya untuk dokter Jesslyn.
"Cepat kamu masuk ke rumahku!" pinta Leonard panik.
Lalu dokter Jesslyn bergegas memasuki rumahnya pengaca Leonard sambil membawa peralatan khususnya. Pengacara Leonard menuntun dokter Jesslyn menuju ruang tamu lalu ia bergegas duduk di atas kursi khususnya yang wujudnya seperti kursi di klinik.
"Apa yang terjadi, Leonard?"
"Tadi tiba-tiba kepalaku terasa mau pecah lagi saat aku bertemu dengan orang lain. Apalagi orang itu sangat menyebalkan. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka berdua."
"Kamu sudah minum obatmu?"
"Tadi sudah sih. Untung saja aku membawa obat itu setiap saat. Sepertinya penyakitku semakin lama semakin parah. Kalau begini terus aku tidak bisa hidup membaur dengan orang lain." Pengacara Leonard menundukkan kepalanya pasrah.
"Bisa juga mungkin kamu bergadang lagi semalam. Sudah aku peringatkan kepadamu berkali-kali jangan bekerja terlalu berlebihan. Kalau kamu seperti ini terus, mungkin aku tidak bisa berperan sebagai dokter pribadimu lagi."
"Kamu jangan berkata seperti itu. Aku yakin kamu pasti bisa mengatasi penyakitmu itu. Asalkan kamu harus memiliki keberanian untuk melawannya. Walaupun dari sekian pasien yang aku hadapi memiliki penyakit serupa denganmu tapi mereka tidak bisa menghadapi penyakit langkanya, aku yakin kamu pasti bisa apalagi usiamu ini masih tergolong muda."
"Mungkin aku tidak akan pernah hidup berumur panjang deh. Penyakit ini akan cepat menyebar luas ke tubuhku."
"Sebenarnya bisa kalau kamu memiliki niat dari ketulusan hatimu. Aku yakin penyakitmu akan hilang juga."
"Sepertinya aku harus berpesan padamu terlebih dahulu. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padaku, kamu jangan pernah mendatangiku dan bertindak seperti orang asing saja. Aku tidak ingin kamu melihatku lemah begini."
"Biarpun begitu aku tetap akan berperan sebagai dokter pribadimu. Karena aku sudah merawatmu sejak beberapa tahun yang lalu," sahut dokter Jesslyn dengan tatapan penuh keyakinan.
"Ya sudah deh kalau kamu memaksa. Tapi kamu sebaiknya berpikir panjang sebelum kamu kecewa padaku nanti."
Dokter Jesslyn sibuk mengeluarkan peralatan terapi khususnya salah satunya yaitu alat yang biasanya sering ada di ruangan psikiater berfungsi untuk membuat pikiran pasien dirawat memasuki ke dunia mimpinya.
"Daripada kamu berpikir yang aneh-aneh lebih baik kamu pejamkan matamu saja. Aku akan memulai sesi terapi padamu lagi."
"Ya sudah deh. Aku juga sudah lelah berbicara denganmu panjang lebar tapi kamu tetap saja tidak mendengar perkataanku."
"Aku melakukan sesi terapi ini juga bertujuan untuk mencegah terjadi hal aneh yang akan terjadi lagi."
Hari sudah mulai gelap. Usai aku membersihkan diriku dan mengeringkan rambutku menggunakan handukku, tiba-tiba ponselku bergetar di atas meja ruang tamu. Aku meletakkan handukku lalu mengambil ponselku di atas meja ruang tamunya.
"Halo Penny, maaf tadi siang aku tidak bisa menepati janjiku untuk bertemu denganmu karena aku harus membantu temanku menulis artikel berita."
"Tidak apa-apa. Yang penting pekerjaanmu harus diselesaikan dulu baru membantuku menyelidiki kasus ini."
"Omong-omong, tadi sudah aku cek jadwalku. Besok aku memiliki banyak waktu luang. Apakah kamu dan Adrian ingin bertemu denganku besok untuk membahas bukti pembunuhannya lagi?"
"Boleh saja. Aku bisa sih kapan pun. Apakah barang buktinya masih utuh?"
"Tenang saja. Sampai detik ini aku menyimpan barangnya dengan baik. Bahkan aku sampai jarang membuka tasku demi menjaga barang buktinya dengan baik."
"Baguslah kalau begitu apakah kondisi di luar rumahmu ada seseorang yang sedang mengintaimu diam-diam? Coba kamu ngintip lewat jendela rumahmu deh!"
"Hmm tidak ada siapa pun sih di luar rumahku." Reporter Yulia mengintip kaca jendela luar rumahnya.
"Baguslah berarti sampai detik ini pelakunya masih belum mengetahui apa pun mengenai barang bukti itu. Kalau sampai pelakunya mengetahui ada barang bukti yang tersisa, mungkin dia akan menghabisimu tanpa segan sama seperti para korban sebelumnya yang merupakan saksi mata dari insiden pembakaran gedung."
"Tenang saja. Aku tidak mungkin membocorkan rahasia ini kepada siapa pun."
__ADS_1
"Baiklah aku sedikit lega mendengarnya. Omong-omong apakah besok kita akan bertemu di tempat yang sama seperti rencana sebelumnya?"
"Hmm sepertinya tidak. Nanti akan aku kirimkan alamatnya padamu."
"Baiklah kalau begitu sampai bertemu besok, Yulia."
"Sampai bertemu, Penny."
Aku menutup panggilan teleponnya lalu melanjutkan mengeringkan rambutku lagi. Sedangkan Adrian baru saja selesai membersihkan dirinya melangkah keluar dari kamar mandi sambil menggantungkan handuknya pada lehernya.
"Tadi siapa yang meneleponmu, Penny?"
"Oh, Reporter Yulia yang menghubungiku barusan. Katanya besok dia akan bertemu dengan kita lagi. Tapi kali ini dia sudah memastikan jadwalnya kosong sehingga tidak bentrok lagi dengan urusannya."
"Baguslah semakin cepat semakin baik. Untung saja besok masih hari libur."
"Adrian, kamu masih ingin menggantungkan handukmu pada lehermu?" tanyaku tertawa kecil.
"Hmm tidak kok. Aku baru saja ingin menjemur handuknya," jawabnya bergegas menggantung handuknya pada hanger handuk.
"Dasar pikun!"
"Kamu barusan bilang apa?" Adrian kembali menghampiriku semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuhku.
"Aku tidak bilang apa-apa. Kamu saja yang salah mendengarnya!"
"Kalau kamu berbohong padaku, siap-siap menerima hukuman dariku!" Adrian semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku dengan senyuman godaan.
Handuk yang aku genggam pada tanganku langsung terlepas. Adrian membelai rambutku dalam kondisi masih basah dan belum disisir. Kini jarak antara bibirnya dan bibirku hanya berbeda tipis. Ia menyunggingkan senyumannya ditambah rambutnya masih basah terlihat segar penampilannya apalagi dipandang dengan jarak dekat begini membuat jantungku semakin berdebar-debar. Jari jemarinya mulai dimainkan olehnya, firasatku mulai tidak enak mengenai ini.
"Karena kamu tidak menjawabku, jadi kamu harus menerima hukuman dariku sekarang!"
Tanpa berlama-lama, Adrian menggelitik tubuhku apalagi pundakku membuat aku tertawa keras sampai pipiku terasa sakit sekarang. Rasanya aku ingin memberontaknya memukuli dadanya namun aku tidak tega memukuli suami kesayanganku sendiri sehingga aku merelakannya saja. Dirinya tidak ingin memberi jeda dan masih saja terus menggelitikku sampai dirinya puas dengan gelak tawa nakalnya.
"Aduh Adrian ampun! Aku sudah tidak kuat nih haha!"
"Makanya kamu jangan ngomong kejelekanku diam-diam!"
"Haha Adrian kumohon hentikanlah! Aku tidak akan mengulanginya lagi!"
"Tidak mau!" Adrian menjulurkan lidahnya padaku sambil menggelitikku terus sampai aku tidak sengaja menarik tubuhnya menimpa tubuhku sekarang.
Kondisinya saat ini kepalanya menempel pada daun telinga kiriku. Malahan Adrian semakin sengaja melakukan aksinya mencium telingaku hingga aku merasa geli.
"Iih geli, Adrian!"
"Siapa suruh kamu sengaja menarik tubuhku? Berarti kamu ingin aku berbuat ini padamu, 'kan," godanya lagi kini mengecup puncak kepalaku manis yang mendalam.
"Aku tidak menarikmu. Kamu saja yang menggelitikku sampai aku tidak tahu tanganku bisa menarikmu tiba-tiba!" hardikku memalingkan mataku darinya.
"Tidak apa-apa. Malahan aku sangat menyukai berbuat begini padamu."
"Tuh kan sudah kuduga kamu pasti ingin modus padaku!"
"Aku tidak modus. Hanya saja aku ingin melakukan ini sepuasnya sebelum kembali serius bekerja besok."
"Kamu ingin bermain di kamar atau di sini?"
"Hmm kalau di kamar sih sepertinya ..."
Tubuhku digendong olehnya membawaku menuju kamar lalu membaringkan tubuhku di ranjang.
"Kenapa kamu membawaku kesini?" tanyaku bingung.
"Bukankah tadi kamu ingin bermain di kamar?"
"Iya sih. Di sini lebih luas dibandingkan di sofa kalau kamu ingin menggelitikku."
"Baiklah aku akan menggelitikmu lagi." Adrian mulai memainkan jari jemarinya.
"Jangan, Sayang!"
"Jadinya kamu ingin bermain apa?"
"Aku ingin bermain apa saja boleh, asalkan tidak menguras energi kita terlalu banyak. Besok kita harus bekerja lagi."
"Hmm kalau begini tidak seru deh."
"Kalau tidak seru, lebih baik aku nonton TV saja."
Saat aku ingin beranjak dari ranjang, Adrian menahan tubuhku lalu mendaratkan ciumannya pada pipiku.
"Kamu ingin menonton TV? Berarti aku harus menggendongmu lagi."
"Tidak perlu. Baiklah kalau kamu ingin menggelitikku tidak masalah."
"Tidak mau. Nanti kamu bisa kelelahan besok, lebih baik aku menciummu saja," lontarnya menghujani ciuman pada setiap titik wajahku.
__ADS_1
"Aku juga ingin menciummu, Sayang."
Kami berdua berujung bermain saling menghujani ciuman pada wajah kami dengan gelak tawa bahagia menghiasi suasana kemesraan kami sekarang.