
Langit mulai menampakkan warna jingga dan udara semakin dingin. Aku dan Adrian duduk bersama di bangku taman rumah sakit. Para pasien rumah sakit kembali memasuki kamar masing-masing.
Adrian melepaskan jas kerjanya menyelimuti tubuhku mengancing jasnya. "Pakailah ini agar tidak masuk angin."
"Terima kasih, Adrian," balasku tersenyum tipis.
"Kamu masih kesal?"
Sebenarnya aku tidak kesal. Tapi aku merasa sungkan karena merepotkannya terus. Aku ingin hidup mandiri tanpa bantuan orang lain. Hanya saja ia salah paham mengira aku sedang kesal.
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu lagi. Aku sebenarnya tidak kesal, hanya saja kalau kamu mengikutiku ke Gangnam, nanti pekerjaan kantor gimana."
Adrian menepuk jidat lalu menyentuh pundakku. "Penny, pekerjaan kantor itu urusan belakangan. Hal yang terpenting, yaitu keselamatanmu. Benar perkataan ayahmu, nanti kalau kamu menghadapi bahaya lagi siapa yang akan menolongmu. Kamu adalah seorang wanita. Seorang wanita tidak boleh bepergian sendiri apalagi di luar negeri."
"Tapi ...."
"Pokoknya besok kita berangkat ke sana bersama. Lagi pula kita akan menangkap Pak Colin pada hari itu juga dan kembali lagi ke sini. Aku juga bisa beralasan ingin melakukan tugas dinas demi pekerjaan menangkap pembunuh."
Angin berhembus dengan kencang hingga membuat Adrian spontan mendekapku hangat. Namun, dekapannya kali ini penuh kasih sayang bagiku. "Pokoknya aku harus menjadi pengawalmu bahkan sampai ada bahaya, aku akan selalu melindungimu sampai rela mengorbankan nyawaku."
Rona merah menyala pada pipiku seketika mendengar ungkapan manis darinya. "Adrian, terima kasih selalu setia menjadi pengawalku sekaligus malaikat pelindungku."
"Sebaiknya kamu pesan tiket penerbangannya sekarang, nanti keburu habis stok tiketnya."
"Kalau begitu, aku akan pesan tiket penerbangan besok untuk kita berdua," jawabku sambil mengambil ponselku untuk memesan tiketnya.
Adrian memajukan kepalanya mendekati ponselku. "Bagaimana? Apakah ada tiket penerbangan besok pagi?"
"Ada nih. Untung saja masih ada stoknya." Aku langsung menekan tombol pemesanan tiket.
Ketika aku menolehkan kepalaku menghadapnya, jarak wajah kami sangat berdekatan hingga membuatku gugup sekarang. Apalagi tangannya juga tanpa sengaja menyentuh tanganku yang sedang menggenggam ponselku.
Dengan sigap aku menjauhkan kepalaku darinya sambil memalingkan mataku. "Besok aku yang pesan taksi."
"Tidak perlu. Biar aku saja. Kamu tinggal tunggu saja."
Keesokan paginya, kami berdua berangkat menuju bandara naik taksi bersama. Kami hanya membawa diri saja karena pada hari ini juga kami pasti akan menangkap Pak Colin dan membawanya ke sini.
Setelah dua jam penerbangan, akhirnya kami sampai juga di Gangnam. Kami memanggil taksi dan meminta sopir taksi mengantarkan kami menuju Elite Company.
Hampir satu jam perjalanan dari bandara, sopir taksi memberhentikan mobilnya di depan Elite Company. Bangunan itu sudah sangat usang dan banyak semak belukar di sekeliling bangunan. Tempat ini bagiku seperti bangunan yang sudah terkutuk dan jika saat malam hari, pasti akan ada hal aneh seperti makhluk gaib.
Adrian mengamati sekeliling bangunan ini dengan tatapan bingung sambil berkacak pinggang. "Ini aneh sekali. Apa benar kemungkinan Pak Colin bersembunyi di sini?"
Aku menendang sebuah kaleng kosong tergeletak di dekatku. "Bangunan ini kosong dan tidak ada sesuatu yang menarik."
"Kata ayahmu, Pak Colin menyembunyikan sesuatu yang penting di ruang rahasia."
Aku dan Adrian berjalan menelusuri bangunan itu mencari sebuah ruang rahasia.
Ciittt...ciiittt...
"ADRIAN!" pekikku menjerit, lalu bersembunyi di belakangnya tanpa kusadari aku memeluknya dari belakang.
Adrian tertawa ledek sambil menggelengkan kepala. "Itu hanya seekor tikus. Kamu ternyata sangat penakut, Penny."
Aku tersenyum malu langsung melepas pelukan sambil mengelus dada. "Aku hanya kaget saja. Lagi pula bangunannya terlihat seperti ini aku jadi takut."
Adrian mengulurkan tangan kanan tersenyum manis padaku. "Pegang tanganku, Penny. Kamu tidak perlu takut karena aku selalu berada di sisimu."
Aku tertawa girang menggenggam tangannya erat. "Berkat kamu sekarang aku tidak takut lagi."
Kami berdua berjalan menuju halaman belakang gedung, banyak dedaunan kering di sana. Saat kami sedang berkeliling, aku melihat ada suatu patung berukir malaikat yang sedang memegang bunga.
Aku jadi teringat ucapan Ray waktu itu sebelum tewas. Lalu aku menarik tangan Adrian segera mencari sesuatu di sekeliling patung itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Adrian kebingungan melihatku.
Aku mencoba meraba di setiap sisi patung. "Coba kamu bantu aku mencari sesuatu di sini. Ray waktu itu pernah memberitahuku mengenai logo bunga Magnolia bersayap. Dia sengaja memberitahuku clue itu. Yang dimaksud sebenarnya bukan logo, tapi patung ini,"
__ADS_1
"Coba aku bantu cari."
Saat aku sedang meraba-raba patung, tiba-tiba aku menekan seperti suatu tombol.
CLIK
Pintu rahasia terbuka secara perlahan yang terletak di bawah tanah. Aku dan Adrian segera memasuki ruang bawah tanah.
BAAM
Pintu tersebut tertutup secara otomatis. Ternyata ini yang disembunyikan Pak Colin selama ini. Di sini banyak sekali uang yang bertumpuk dan membentuk seperti tangga. Lalu di sini juga ada laporan audit perusahaan yang asli. Kami berdua mengamati semua ini hingga mata terbelalak.
PRAAK
Terdengar suara tumpukan kertas yang terjatuh. Aku dan Adrian berjalan ke arah sana. Sudah kuduga Pak Colin bersembunyi dan bertahan hidup di tempat seperti ini. Pak Colin terlihat takut saat melihat kami dan langsung ingin melarikan diri. Namun, Adrian menghalanginya kabur.
"Bagaimana kalian bisa menemukan ... saya di sini?"
"RASAKAN INI AKIBAT MENJEBAK AYAH SAYA!" Adrian menonjok wajah Pak Colin.
PLAKK
"TAMPARAN KEDUA UNTUK AYAH SAYA!" Aku menghajar Pak Colin hingga terjatuh ke lantai.
PLAKK
"Beraninya kalian menghajar saya!" Pak Colin menggunakan kakinya menendang kakiku sehingga tubuhku ambruk ke lantai.
Seketika Pak Colin baru berdiri tegak, sudah dihajar Adrian lagi sampai pada akhirnya kembali terjatuh. "Jangan melukai Penny seperti itu! Saya tidak akan membiarkan Anda menyentuh Penny bahkan sehelai rambut pun!"
"Aduh!" Aku meringis kesakitan akibat kakiku sedikit berdarah berdarah.
Dengan sigap Adrian menghampiriku berjongkok di sebelahku sambil menahan sedikit darah mengalir di betisku. "Kakimu berdarah!"
Pak Colin bangkit lagi dan mengambil salah satu tongkat besi yang ada di dekatnya mengayunkannya mengarah ke Adrian.
Namun Adrian tidak sempat menghindarnya sehingga pukulan keras itu mengenai punggung belakangnya hingga sedikit berdarah.
BRUKK
"ADRIAN!!"
Amarahku sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku membangkitkan tubuhku secara perlahan dan mengambil salah satu tongkat besi lagi memukuli Pak Colin.
PLAKK...PLAKK
Aku memukuli Pak Colin dengan tongkat besi dua kali dengan keras hingga ia terjatuh lemas ke lantai.
Dengan sigap aku menghampiri Adrian dan membantunya bangkit berdiri. "Kamu berdarah! Bagaimana ini ...."
"Ini masih tidak seberapa, kamu tenang saja. Kita harus mengakhiri ini secepatnya," balas Adrian berjalan menghampiri Pak Colin.
"Aku belum selesai menamparnya tadi. TAMPARAN KETIGA UNTUK PARA KORBAN PEMBUNUHAN YANG DIBUNUH OLEH ANDA!" Adrian menampar Pak Colin sampai babak belur.
PUKK
Setelah aku dan Adrian menghajar Pak Colin, aku langsung mengambil tali rafia dan mengambil kursi untuk mengikat Pak Colin.
"Sekarang Anda sudah tidak bisa pergi ke mana pun. Menyerahlah!" sergah Adrian.
"Bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini? Padahal tempat ini sudah lama terbengkalai dan jarang dilewati banyak orang," tanya Pak Colin dengan lemas akibat dihajar kami.
"Untungnya saat sebelum Ray tewas dibunuh Anda, dia memberitahu saya clue terlebih dahulu," jawabku dengan santai lalu melempar tongkat besi itu.
Adrian menunjuk tumpukan uang sambil menjambak rambut Pak Colin. "Apa ini? Kenapa bisa banyak tumpukan uang di sini?"
Pak Colin tersenyum iblis. "Ini adalah hasil penggelapan dana dan pencucian uang perusahaan saya saat 15 tahun yang lalu."
Adrian sudah tidak bisa menahan emosinya dan mengangkat kerah baju Pak Colin beserta kursinya kemudian mendorongnya ke arah tembok dengan kasar. "Anda masih bisa tersenyum? Anda bahagia membuat ayah saya dan ayahnya Penny menderita. Tidak akan saya maafkan seumur hidup saya."
__ADS_1
"Untungnya mereka mudah tertipu saya. Memang mereka sangatlah bodoh."
"Beraninya Anda mengucapkan seperti itu!" ucapku dengan kesal menonjoknya lagi.
PUKK
Adrian mengeluarkan pistol dari saku mantelku dan menodongkan pistol ke arah kepala Pak Colin. "Sebaiknya Anda menyerah saja sebelum terlambat!"
"Ini tidak akan berakhir. Dengan semua tumpukan uang yang ada di sini, saya bisa melakukan apa saja yang saya mau," balas Pak Colin dengan nada tidak berdosa.
"Dasar berengsek! Anda memang tidak punya akhlak sama sekali!" umpat Adrian semakin kesal.
Tiba-tiba aku mencium seperti bau gosong dan seperti ada asap yang muncul dari kabel listrik itu.
KZZZT
Api yang muncul dari kabel itu tiba-tiba menyambar ke mana-mana membuatku dan Adrian panik.
"KEBAKARAN!" teriakku menjerit.
"CEPAT KITA KELUAR DARI SINI SEKARANG!" pekik Adrian lalu segera berlari menuju pintu keluar.
"Kalian harus cepat melepaskan saya jika ingin selamat dan keluar dari sini, hanya satu-satunya saya yang tahu tombol pintu keluarnya," ucap Pak Colin panik.
"Bagaimana ini, Adrian?" tanyaku kebingungan dan panik.
Adrian menggarukkan kepala kesal. "Baiklah kita harus melepaskan terlebih dahulu. Setelah keluar dari sini, kita baru mengikatnya lagi."
Setelah aku melepaskan ikatannya, Pak Colin berlari menuju tombol pintu keluar ruang rahasia ini dan menekannya. Akan tetapi, setelah ditekan berulang kali, tombol itu tidak berfungsi sama sekali.
"Sial! Tombolnya tidak berfungsi," umpat Pak Colin sambil menekan tombol itu terus.
"APA? LALU BAGAIMANA CARANYA KITA KELUAR?" tanyaku kesal dicampur panik.
"Sebentar, aku menghubungi pemadam kebakaran dulu," ucap Adrian sambil mengeluarkan ponselnya, untungnya masih ada sedikit sinyal menghubungi panggilan darurat.
"Apa tidak ada jalan keluar lain selain tombol itu?" tanyaku lagi.
"Tombol itu hanya satu-satunya membuka pintu masuk ruangan ini," jawab Pak Colin dengan lemas.
"Untung saja masih ada sinyal walaupun sangat lemah. Pemadam kebakaran akan tiba di sini sekitar beberapa menit lagi," kata Adrian memasukkan ponselnya kembali ke saku mantel.
PRAKKK
Semua barang di sini mulai terbakar dan berjatuhan. Pandanganku mulai kabur karena terlalu banyak asap di sini.
"Uhuk..uhukk.."
Aku mulai kesulitan bernapas dan batuk terus. Kini tubuhku tidak kuat berdiri hingga terjatuh ke lantai.
"Penny! Penny! Bertahanlah!" pekik Adrian dari kejauhan berusaha menghampiriku.
Aku hampir tidak bisa melihat apa pun lagi. Aku hanya bisa melihat sekelilingku dengan samar-samar. Pak Colin juga sudah tidak berdaya dan terjatuh dengan lemas. Adrian lagi berjuang menghampiriku dan tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang terjatuh. Aku melihat sebuah rak yang hampir terjatuh menimpaku.
"TIDAK, PENNY!" pekik Adrian lalu melompat ke arahku dan melindungiku dari rak itu.
BRUGHH
Tubuh Adrian tertimpa rak sehingga ia tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa memelukku dengan erat dan menutupi seluruh tubuhku dengan mantelnya agar tidak terkena api. Ia meringis kesakitan dan sesak bernapas.
Mataku mulai berkaca-kaca melihat bibirnya yang bergerak berusaha berbicara padaku dengan lemas.
"Penny, kamu harus bertahan hidup. Aku harus menepati janjiku ... dengan ayahmu." Akibat kehabisan napas, Adrian tidak sadarkan diri.
"Adrian, sadarlah! Kamu harus bertahan!" teriakku menepuk pipinya.
Melihat sahabat yang paling kusayangi terjatuh pingsan demi melindungi nyawaku, aku menangis semakin keras dan ingin segera keluar dari sini. Petugas pemadam kebakaran lama sekali datang ke sini. Apakah kami semua akan mati terpanggang di sini? Aku hanya bisa berdoa saja dan terus meminta tolong dengan lemas.
"Tolonglah kami!"
__ADS_1