
Persiapan bulan madu kami tidak membutuhkan waktu yang banyak. Sebelum berangkat ke sana, kami mengemas barang-barang keperluan secukupnya saja terlebih dahulu. Kami berbulan madu di Queenstown hanya sekitar tiga hari saja mengingat budget dan juga tidak perlu menghabiskan waktu yang banyak di sana. Karena sekarang bulan April sehingga di sana pasti sedang musim gugur. Aku menyiapkan baju hangat dan mantel sebanyak-banyaknya lalu tak lupa juga syal untuk menutupi leherku. Sejujurnya sih walaupun musim gugur dengan kondisi cuaca yang masih sedikit hangat, aku tidak terlalu kuat dingin terutama di saat malam hari. Aku cukup membutuhkan satu koper besar saja untuk mengemas barangku, tidak perlu membawa barang yang banyak karena sangat tidak nyaman bagiku.
Setelah selesai mengemas barang, Adrian memanggil taksi untuk mengantarkan kami ke bandara. Di dalam pesawat, belum saja lepas landas rasanya aku sangat mengantuk. Mungkin ini karena semalam aku kurang tidur nyenyak karena menantikan bulan madu ini.
"Sayang, kalau mengantuk sebaiknya tidur dulu saja. Perjalanan kita masih cukup lama."
"Hoam ... tapi kalau aku tertidur pulas nanti rambutku berantakan."
"Nanti aku akan menyisir rambutmu. Kamu tidak perlu khawatir."
Aku langsung menurutinya menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja. Lengan kekarnya mendekapku hangat dan bibirnya menyentuh keningku lembut.
"Aku penasaran dengan pemandangan di sana seperti apa nantinya," ucapku sambil membayangkannya dalam pikiranku sesuai apa yang pernah kulihat di internet.
"Yang pasti menurutku pemandangannya jauh lebih indah dibandingkan di internet."
"Aku jadi semakin tidak sabar memandanginya."
"Daripada aku terus menunggu, lebih baik aku tidur bersamamu saja." Adrian semakin mempererat pelukannya sambil mengusap kepalaku lembut.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam, akhirnya kami tiba juga di Queenstown. Pertama kali saat keluar dari Queenstown Airport, udara di sini sangat segar dan masih belum banyak polusi udaranya karena keindahan alam di sini masih dilestarikan dengan baik. Kami langsung memanggil taksi untuk mengantarkan kami menuju suatu hotel yang telah di booking oleh kami sebelumnya. Kami menginap di hotel di mana kamar hotel tersebut jika menatap jendela luar dapat melihat langsung keindahan pemandangan Lake Wakatipu. Pandanganku terus berbinar memandangi pemandangan alam sambil saling berpegangan tangan dengan suamiku.
"Sayang, lihat daunnya berguguran semua!" seruku girang.
"Waktu itu kita pergi ke Gangnam juga musim gugur, tapi reaksimu tidak seperti ini."
"Itu masih kalah indah. Kalau di sini suasananya lebih terasa nyaman."
"Apalagi kita sedang berbulan madu, suasananya terkesan jauh lebih romantis," lanjutnya sambil membelai rambutku lembut.
Setelah melakukan check in kamar hotel, kami memasuki kamar hotelnya dan meletakkan koper kami di sana. Tempat wisata pertama yang akan kami kunjungi adalah Moke Lake yaitu tempat di mana biasanya calon pengantin melakukan foto preweddingnya di sana. Selain itu, banyak para turis asing melakukan camping disana. Berdasarkan foto yang tertera di internet mengenai danau itu, memang keindahannya sangat luar biasa sampai aku ingin terus berada disana. Rasanya aku tidak sabar untuk menginjakkan kakiku di sana. Memang jarak hotel kami dengan danau itu agak jauh sehingga lumayan menghabiskan waktu cukup lama untuk pergi ke sana.
Sekitar menghabiskan waktu perjalanan sekitar 40 menit, akhirnya kami tiba juga di sana. Aku berdecak kagum saat melihat pemandangan Moke Lake. Ini terlihat persis seperti yang ada di internet. Bahkan aku mengira yang di internet itu hanyalah sebuah hasil foto editan dari fotografer saja.
"Indahnya!" seruku.
"Pantesan tempat ini dijadikan untuk tempat foto prewedding. Bahkan terlihat seperti lukisan saja."
"Benar dugaanmu tadi saat di pesawat, pemandangannya bahkan jauh lebih indah dibandingkan di internet."
"Tempat ini juga cocok sekali untuk bermesraan denganmu."
"Aku ingin foto berdua bersamamu," rayuku mengedipkan mataku manis.
"Tunggu, ya, aku keluarkan kameranya dulu."
Adrian mengeluarkan sebuah kamera DSLR dari tasnya. Kemudian ia mengatur resolusi kameranya dan mengarahkan kamera itu menghadap kami berdua. Karena tidak ada yang berminat mengambil foto kami jadinya foto ini terlihat seperti wefie saja.
"Sayang, siap ya lihat kamera. Hitungan satu ...dua ... tiga!" serunya memberi aba-aba dulu sebelum melakukan pemotretannya.
Cekrek
Di saat hitungan ketiga aku mencium pipinya Adrian dengan mesra sehingga hasil pengambilan fotonya terlihat bagus.
"Bagus fotonya! Aku suka sekali!" sorakku terkagum melompat dengan girang.
"Kamu tahu saja dari tadi aku ingin dicium pipiku," balasnya menyunggingkan senyuman nakal melekatkan hidungnya pada hidungku.
"Biasanya kamu mencium pipiku tiba-tiba saat kita sedang berfoto bersama. Sekarang giliranku yang mencium pipimu."
"Hmm seandainya saja foto prewedding kita di sini saja. Pasti hasilnya akan lebih bagus dari foto kita barusan."
"Aku tidak masalah. Mau foto di mana pun kalau setiap bersamamu pasti hasilnya selalu bagus."
"Apalagi semua foto prewedding kita di banyak tempat terlihat sangat manis."
"Hey, you two!" pekik seorang fotografer tiba-tiba menghampiri kami berdua.
"Pardon me?" balas Adrian dengan tatapan bingung.
"You two are so adorable. I want to take a photo for you."
"Really? Thank you so much. Please take our best photo!"
"All right. Please, give me your camera!" pinta fotografer itu dengan baik.
"Here." Adrian menyerahkan kameranya kepada fotografer itu.
"Could you please hug her warmly?"
Adrian langsung menurutinya dan memelukku dengan mesra.
"Okay, that's good! I will take photo now. One ... two ... three!"
Cekrek
"Very good! I will take another photo again."
Kami berdua melakukan foto bersama dengan berbagai pose. Tentu saja kami sangat tidak rugi bertemu dengan fotografer yang baik ingin mengambil foto kami berdua. Fotografer tersebut memberikan instruksi berbagai macam gaya sehingga hasil fotonya tidak terlihat kaku. Posenya seperti Adrian mengangkat tubuhku tinggi sambil berputar, duduk saling bersandar punggung di padang rumput, dan masih banyak lagi pose yang kami lakukan sudah seperti foto prewedding jedua kalinya. Untung saja pakaian kami juga terlihat bagus sehingga tidak merusak pemandangan foto. Kami berdua berfoto bersama hingga hampir menjelang sore hari.
"Okay last photo. You must kiss her."
Adrian merangkul pinggangku dengan erat dan menyentuh pipiku mengulum senyuman bahagianya padaku.
"I always be happy with you, My love," ungkapnya padaku.
"Me too. I really love you, My beloved husband," balasku tersenyum bahagia sambil menyentuh pipinya.
Adrian mendaratkan bibirnya pada bibirku menciumku lembut dan manis hingga secara spontan mata kami saling terpejam menghayatinya.
"That's enough!"
Adrian melepas tautan bibirnya dan mengakhirinya dengan mencium keningku sekilas. Lalu ia menghampiri fotografer itu untuk melihat hasil fotonya.
"Here." Fotografer tersebut mengembalikan kamera pada Adrian.
"Thank you for your time, Sir," ucap Adrian tersenyum ramah.
"I hope you two will live happily forever. So I will leave you two now."
Fotografer itu mengambil peralatannya lagi yang ditaruh di atas tanah lalu meninggalkan kami berdua. Adrian membuka galeri kameranya dan melihat hasil foto-foto yang diambil tadi.
"Aku suka semua fotonya. Kita terlihat mesra sekali di sini," ucapku berdecak kagum memandangi fotonya dengan pandangan berbinar.
"Apalagi foto yang terakhir, ya," balasnya mengelus pipiku.
"Yang terakhir itu aku kaget saat dia menyuruhmu menciumku."
"Aku mau melakukannya lagi, ah." Adrian mengecup bibirku lagi sekilas.
"Sayang!"
__ADS_1
"Hari sudah mulai sore. Sebaiknya kita makan bersama di restoran."
Adrian mengajakku ke salah satu restoran terkenal di Queenstown. Menu utama dari restoran ini adalah makanan laut seperti kerang. Karena aku tidak begitu suka makan kerang jadinya Adrian memesan salad saja untuk kami berdua. Selain makanan seafoodnya enak, saladnya juga tidak kalah enak.
"Sayang, kalau kamu mau makan kerang tidak masalah. Aku yang makan saladnya saja," ucapku merasa tidak enak dengannya.
"Aku juga tidak terlalu suka makan kerang. Lagi pula terlalu banyak makan kerang nanti bisa kolestrol."
"Kalau begitu kenapa kita makan di sini? Kita kan bisa makan salad di tempat lain yang jauh lebih murah."
"Tidak masalah. Kita juga sesekali mencoba makanan di sini. Waktu itu aku menelusuri internet katanya salad di sini juga lumayan enak."
"Tapi--"
"Sudahlah. Yang terpenting kamu menikmati makanannya. Setelah ini kita harus kembali ke hotel."
Setelah selesai makan malam, kami kembali ke hotel. Setibanya di hotel, aku langsung membersihkan diriku. Di saat aku sedang mengeringkan rambutku dengan handukku, aku menatap jendela luar kamarku melihat keindahan langit malam ini. Aku melangkahkan kakiku menuju balkon kamar melihat langit ini dipenuhi dengan bintang. Memang saat malam hari di New Zealand pasti langitnya dihiasi dengan kelap kelipnya bintang. Sementara itu, Adrian yang baru selesai membersihkan dirinya menghampiriku dan mendekapku dengan hangat dari belakang.
"Sayang ...." panggilku manis.
"Untung saja cuacanya cerah jadinya aku bisa menikmati melihat bintangnya bersamamu."
"Melihat bintang bersamamu rasanya romantis sekali."
"Coba kamu perhatikan baik-baik deh! Ada tiga bintang berkumpul di sana," ujarnya sambil menunjuk tiga bintangnya.
"Iya, aku melihatnya."
"Bintang yang paling besar itu adalah aku. Lalu bintang yang di sebelah bintang besar itu adalah kamu. Sedangkan bintang yang paling kecil itu adalah anak kita. Aku ingin kita semua selalu bersatu seperti bintang itu."
Gombalan manisnya membuat pipiku terasa hangat dan senyumanku semakin tidak karuan.
"Mmm kamu bisa saja berpikir begitu."
"Aku ingin anak kita terlihat bersinar seperti bintang kecil itu."
"Sayang, sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin memiliki anak."
"Tentu saja. Maka dari itu, aku ingin melakukannya bersamamu kalau kamu sudah siap." Adrian menatapku percaya diri sambil menyentuh pundakku dengan kedua tangannya.
"Aku juga tidak sabar sepertimu. Mengenai waktu persiapanku, sebenarnya aku siap melakukannya."
Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat membuat anak dengannya. Keputusan ada di tangan suamiku, sedangkan aku sudah siap.
"Omong-omong, aku masih ingin melihat bintangnya lebih lama lagi."
"Tanganku dingin," rayuku manja.
"Sini biar aku menghangatkannya untukmu."
Adrian menyentuh kedua tanganku, lalu menghembuskan napas hangatnya untukku sambil menggesekkan tanganku dengan tangannya.
"Masih kedinginan?"
"Sekarang sudah lebih baik," balasku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja.
"Aku ingin memandangimu yang terus bersinar di langit. Saat aku sedang memandang langit, aku bisa merasakan kehangatanmu menyinari langit malam ini."
"Aku juga sangat menyukai bintang Adrian yang bersinar dengan terang di sebelahku," gombalku terfokus pada bintang besar itu dengan pandangan berbinar.
"Sama seperti aku selalu bersinar dalam kehidupanmu supaya tidak redup dalam kegelapan," balasnya menggesekkan hidungnya pada hidungku.
"Kamu bersinar terang setiap malam tidur bersamaku sehingga aku bisa tidur nyenyak setiap hari."
"Sayang, sebaiknya kita beristirahat dulu saja. Kita harus mengisi energi kita untuk berpetualang besok."
"Baiklah, lagi pula juga aku sudah mengantuk sekarang."
Hari kedua di Queenstown, kami berdua melanjutkan perjalanan kami menuju tempat Winery yaitu Gibbston Valley Winery. Di sini sangat terkenal dengan kaya akan anggurnya.
"Wah, aku seperti di dunia mimpi saja!" seruku berdecak kagum menatap sekelilingku.
"Selama ini kita hanya sekadar menikmati wine. Jadinya sesekali kita harus mengunjungi Winery seperti apa."
"Sekarang aku sudah tahu gambaran asal mula wine."
Setelah dari sana, kami berdua menuju Onsen Hot Pools di mana tempat tersebut merupakan tempat kolam pemandian air panas alami indoor sekaligus dapat menikmati keindahan pemandangan sambil berendam di sana. Aku melepas balutan handuk kimonoku dan kini tubuhku hanya dibaluti pakaian bikini model halter neck dan celana pendek ketat. Aku merendam tubuhku dalam kolam air panas itu sambil membilas wajahku.
Tak lama kemudian, Adrian juga ikut bergabung denganku merendamkan tubuhnya di sini lalu merangkul pinggangku erat. Sambil merendamkan tubuh kami, tak lupa juga kami sambil menyantap makanan dan juga minuman yang sudah disediakan di sana.
"Sayang, berendam bersamamu di kolam air panas sangat menyenangkan ya apalagi sambil menikmati pemandangan," ucapku tersenyum manis padanya.
"Apalagi rasanya sangat romantis berendam bersama istri kesayanganku," balasnya mencium pipiku sekilas.
"Mmm aku semakin ingin bermanja denganmu." Aku membenamkan kepalaku pada tubuhnya dengan manja.
"Aku sangat menyukai kamu bermanja denganku saat sedang berendam bersamaku. Kalau begitu aku juga suapi makanannya untukmu."
Sambil menikmati pemandangan dan bersantai berendam di kolam, kami saling menyuapi makanannya dan juga bermesraan sampai tidak mengenal waktu. Karena hari mulai gelap, aku memutuskan untuk keluar dari kolamnya.
"Sayang, kita sudah lama berendamnya, sebaiknya kamu mandi saja."
"Aku ingin menikmatinya lebih lama lagi, boleh tidak?" rengeknya manja menggenggam tanganku.
"Tapi kita sudah di sini hampir 1 jam, lama-lama kita bisa masuk angin."
"Ayolah 10 menit lagi kita baru naik, ya! Lagi pula ini kan air panas, tidak mungkin kita masuk angin."
"Tidak mau! Aku mau naik sekarang juga!" celetukku balik.
"Sayang!"
"Pokoknya aku mau naik sekarang saja!"
Aku tidak memedulikannya lalu keluar dari kolam air panas itu. Tapi Adrian menarik tanganku lagi hingga aku terjatuh ke kolam lagi.
"Adrian! Kamu ini nakal sekali sih!" ketusku mencebik kesal mengerucutkan bibirku.
"Ini hukuman akibat kamu tidak menurutiku!"
Adrian menyentuh pipiku lalu melakukan aksi ciuman manisnya sambil meraba punggungku tanpa melepaskannya sedetik pun. Setelah dipikir-pikir, berciuman di kolam air panas ini sangatlah romantis. Aku tidak ingin menolaknya. Kini hatiku berbunga sambil mengalungkan kedua tanganku pada lehernya, memainkan bibirku bersamanya menikmati momen manis ini entah sampai kami puas melakukannya. Setelah beberapa lama, ia mengakhiri aksinya mengusap bibirku lalu mencipratkan air panasnya pada wajahku tiba-tiba.
"Hahaha rasakan ini akibat kamu tadi melawanku," tawanya terbahak-bahak seperti anak kecil yang sedang bermain air.
"Iih! Kamu ini sungguh nakal sekali! Aku juga tidak akan kalah darimu!"
Aku membalasnya dengan mencipratkan air panasnya ke wajahnya lalu tiada habisnya perang air seperti ini. Tadinya hanya meminta 10 menit saja berendam lebih lama, kini sudah lebih dari 10 menit dan berujung menjadi bermain seperti anak kecil. Aku sudah cukup lelah bermain dengannya lalu aku mengistirahatkan tubuhku duduk berendam lagi dengan santai dalam dekapan hangatnya.
"Bagaimana, Sayang? Tadi itu seru, 'kan."
"Iya seru sekali! Aku sangat menikmatinya sampai aku lelah nih!" jawabku dengan senyuman ceria.
__ADS_1
"Mau lagi?" Adrian mulai mengibaskan tangannya dalam air.
"Sudah cukup, ya. Sekarang aku sungguh ingin naik."
"Kalau kamu naik lagi, aku menciummu lagi nih."
"Ish kamu sangat modus!"
"Padahal tadi saat kita berciuman, kamu menikmatinya penuh penghayatan." Adrian menyipitkan matanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aduh kamu membuatku malu saja! Aku ingin naik!"
"Iya deh, aku juga akan naik sekarang. Tapi tunggu sebentar ya aku ambilkan handuk kimonomu dulu."
Adrian naik duluan dari kolam air panasnya lalu mengambil handuk kimonoku yang kutaruh di bangku. Aku juga naik dari kolam itu kemudian ia membaluti tubuhku dengan handuk kimonoku dan mencium bibirku lagi sekilas.
"Sayang!" tegurku.
"Kan sudah kubilang, aku akan menciummu lagi kalau naik," balasnya menyunggingkan senyuman nakalnya.
"Sudahlah aku mandi dulu! Nanti kita jadi dinner romantis, 'kan?"
"Iya, hal penting itu kita tidak boleh melupakannya."
Kami melakukan dinner romantis di hotel kami menginap. Walaupun hanya di hotel, tapi menurutku ini sudah sangat romantis. Hotel ini juga dikenal dengan restoran yang berlatar romantis. Sambil menyantap makan malam yang meja makannya dihiasi sekuntum bunga mawar dan juga lilin untuk menambah suasana romantisnya, kami juga bisa melihat keindahan bintang dari sini.
"Kalau dinner romantis sambil melihat bintang rasanya jauh lebih romantis. Momen langka seperti ini harus selalu kita mengingatnya," ucapnya sambil menggenggam tanganku.
"Ditambah aku menyuapimu juga supaya lebih manis rasanya."
"Kamu membuatku semakin bermanja denganmu." Adrian mengedipkan mata kirinya padaku.
"Tidak masalah. Malahan aku semakin mencintaimu."
Sebelum tidur, Adrian mengajakku duduk di sofa kamar untuk minum wine yang dibelinya tadi saat mendatangi sebuah toko wine.
"Sayang, kalau tidak kuat minum tidak masalah," sarannya baik.
"Sekarang aku sudah mulai terbiasa. Minum wine itu ternyata enak juga." Aku menjadi kecanduan menuangkan segelasnya winenya dan minum beberapa teguk.
"Aku khawatir denganmu. Kamu tidak biasanya minum sebanyak ini."
"Kamu ini! Sudahlah kamu juga harus minum!"
Adrian hanya bisa berdiam diri saja dan melanjutkan minum winenya. Semakin lama kepalaku mulai terasa pusing dan mabuk. Apalagi Adrian yang minumnya lebih banyak dariku sudah mulai bertingkah aneh dan melekatkan hidungnya pada hidungku membiarkanku duduk di atas pangkuannya.
"I'm crazy about you, Penny. I really want you."
"I'm crazy about you too, Adrian," balasku menyentuh pipinya dan terus mengelusnya.
"Sayang, kamu sudah mulai mabuk."
"Biarkan aku mabuk. Pokoknya aku ingin minum sepuasnya. Padahal kamu sendiri lebih mabuk dariku," lontarku mulai asal bicara.
"Kalau itu keinginanmu baiklah mari kita minum sepuasnya malam ini."
Akhirnya kami minum wine sepuasnya sampai mabuk berat. Bahkan aku sudah mulai kehilangan kesadaranku dan bertingkah semakin aneh.
"Penny kesayanganku, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu Adrian sayang. Bahkan jantungku terus berdebar berada di dekatmu sekarang."
Adrian mengambil gelas wine pada genggaman tanganku menaruhnya di atas meja. Ia memajukan kepalanya sambil mempererat pelukannya melakukan ciumannya lagi. Entah kenapa rasanya aku kecanduan berciuman bersamanya sambil menikmatinya mengelus punggungnya. Semakin lama ciuman panasnya semakin mendalam sambil membaringkan tubuhku di atas ranjang berukuran king size.
Keesokan harinya, matahari menembus jendela kamar membuatku jadi terbangun. Aku secara perlahan membuka kedua mataku dan merasa ada sesuatu yang aneh di sekelilingku. Pakaian semalam yang aku kenakan dan juga pakaiannya berserakan di mana pun. Lalu aku menghadapnya yang masih tertidur dalam kondisi bertelanjang dada membuatku semakin yakin bahwa kami melakukan hal panas sepanjang malam. Aku berusaha mengingatnya, tapi tidak bisa akibat terlalu mabuk. Yang aku ingat hanyalah sepotong ingatan kecil. Sedangkan Adrian baru terbangun dari tidurnya langsung mencium bibirku sekilas.
"Morning kiss untukmu, Sayang."
"Sayang, semalam kita melakukan apa? Kenapa pakaian kita berserakan seperti ini? Apakah mungkin kita sungguh melakukannya?" tanyaku penasaran.
"Kamu tidak mengingatnya? Semalam kita berdua sungguh melakukannya sampai kamu menikmatinya."
Tiba-tiba aku jadi teringat dengan kejadian semalam. Aku mengakuinya. Memang aku sangat menikmatinya sampai bersamanya hingga membuat pipiku merah merona. Namun, aku tetap berlagak tidak mengingat semuanya.
"Aku hanya mengingat sedikit saja. Maaf ya aku tidak mengingat momen itu."
"Tidak masalah. Yang penting kita sudah menikmatinya semalam. Aku sangat puas melakukannya bersamamu."
"Tapi aku tidak merasakan tubuhku sakit. Hanya saja tubuhku sedikit dingin karena aku tidak memakai apa pun sekarang."
"Karena aku melakukannya dengan lembut, Sayang. Aku tidak ingin kamu kesakitan dan kelelahan saat kita sedang berbulan madu," tuturnya sambil mengelus kepalaku lembut.
"Kalau begitu hangatkan tubuhku. Rasanya dingin sekarang," pintaku manja.
Dengan sigap Adrian mendekapku hangat sambil mengusap kepalaku lembut.
"Hari ini hari terakhir kita di sini. Sebenarnya aku ingin lebih lama lagi," ujarku sebenarnya tidak rela meninggalkan tempat ini.
"Kalau begitu kita perpanjang waktunya saja."
"Tidak perlu, aku hanya bercanda. Ada dua tempat terakhir yang ingin aku kunjungi."
Aku mengajaknya ke Skyline Queenstown yaitu tempat di mana bisa menikmati pemandangan Queenstown dengan gondola dan juga ada restoran dan bar di sana.
"Aku pasti akan merindukan Queenstown. Tempat di mana kita menciptakan banyak kenangan terindah kita di sini."
"Aku juga sama sepertimu. Rasanya waktu terasa sangat cepat berlalu."
"Aku ingin kita foto bersama lagi untuk terakhir kalinya di sini."
"Baiklah aku akan mengeluarkan kameraku dulu."
Kami saling berfoto bersama selama menaikki gondolanya sebagai bukti salah satu kenangan terindah yang kami lakukan selama bulan madu.
Kami bersenang-senang di Skyline Queenstown sampai siang hari dan makan siang bersama di sana. Setelah itu tidak lupa kami mengunjungi Lake Wakatipu. Pemandangan di sana juga tidak kalah jauh dengan Moke Lake. Kami mendayung kayak dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Setelah melakukan semua itu hingga sore sambil menikmati matahari terbenam, kami berjalan sepanjang danau itu saling bergandengan tangan.
"Adrian," panggilku manis.
"Iya, Penny."
"Terima kasih untuk semua apa yang telah kamu lakukan selama bulan madu ini untukku. Aku sangat bahagia melakukan setiap kegiatan di sini bersamamu. Aku pasti akan selalu mengingat setiap kenangan indah yang kita ciptakan di sini seumur hidupku."
"Maaf ya kalau aku tidak bisa mengajakmu ke semua tempat wisata di sini."
"Tidak apa-apa. Walaupun kita hanya mengunjungi beberapa tempat, tapi aku sungguh menikmatinya. Bulan madu ini sangat bermakna bagiku."
Adrian menghentikan langkah kakinya lalu mencium keningku dengan manis.
"Aku mencintaimu, Penny, sungguh mencintaimu sebesar-besarnya."
"Aku juga sangat mencintaimu, Adrian."
__ADS_1
"Tanganmu dingin sekali. Sini biar aku hangatkan seluruh tubuhmu," ucapnya lalu mendekapku dengan hangat.
"Aku selalu merasa nyaman setiap bersamamu."