
Usai makan malam, aku menghampiri Adrian sibuk fokus bekerja pada ruang kerjanya. Walaupun ia masih belum membersihkan dirinya, wajahnya tetap terlihat menyegarkan apalagi saat sibuk membaca laporan kasusnya, ia selalu menunjukkan wajah kejantannya membuatku semakin terngiang-ngiang.
Aku menduduki kursi tepat di sebelahnya dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja sambil memeluknya erat.
"Sayang, kalau kamu lelah sebaiknya tidur saja. Biar aku yang bekerja saja," usulnya lembut.
"Mmm tidak masalah. Yang penting aku bisa menjadikan pundakmu sebagai bantalku," ucapku manja.
"Dasar manja! Tapi tidak apa-apa, aku semakin suka kalau kamu bersikap manja padaku terus." Adrian mendekapku hangat sambil mengusap kepalaku.
"Tuh lagi pula kamu sendiri juga suka bermanja padaku," lontarku mengulum senyuman khasku sambil mengelus punggungnya.
drrt...drrt...
Ponselnya Adrian tiba-tiba bergetar di atas mejanya. Ia dengan sigap mengangkat panggilan telepon dari Yohanes.
"Ada apa kamu menghubungi malam-malam begini, Yohanes?"
"Tolong aku, Adrian! Aku sedang dikejar pembunuhnya!"
"Apa? Sekarang posisimu ada di mana?"
"Yang pasti sekarang aku sedang menyetir di tengah jalan. Aku akan kirimkan share location padamu sekarang."
"Baiklah, aku akan menolongmu sekarang!" Adrian terburu-buru mematikan panggilan teleponnya dan beranjak dari kursinya.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanyaku bingung.
"Yohanes sedang dikejar pembunuh. Aku harus menolongnya sekarang!"
"Ayo kita ke sana sekarang!"
Adrian mengambil kunci mobilnya lalu memakai sepatu kerjanya. Aku pun juga bersiap-siap ikut dengannya memakai sepatuku.
Di tengah perjalanan menolong Yohanes, aku memberikan pesan singkat pada obrolan grup yang berisi semua anggota timku untuk meminta pertolongan mereka membantuku dan Adrian menolong Yohanes. Sedangkan Adrian menancapkan gasnya dalam mengendarai mobil SUV hitam dengan kecepatan penuh sambil memukuli setirannya.
"Awas saja kalau sampai pelakunya membunuh temanku! Aku pasti akan membunuhnya saat itu juga!" hardik Adrian mengerucutkan bibirnya.
"Adrian, kita juga harus berdoa semoga tidak terjadi sesuatu padanya. Aku tahu Yohanes adalah teman dekatmu juga."
"Penny, kalau seandainya pelaku itu bertingkah macam-macam padanya dan aku harus turun tangan melawan pelaku itu dengan tanganku sendiri, kamu tunggu di dalam mobil saja demi keselamatanmu."
"Aku juga sudah meminta bantuan semua anggota timku. Walaupun itu terjadi, aku juga akan membantumu melawannya."
"Tapi nanti kamu bisa terluka kalau membantuku. Aku tidak akan membiarkanmu terluka."
"Aku lebih sedih kalau melihatmu terluka sendirian."
"Penny, dengarkan aku saja. Ini demi keselamatan kamu."
"Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan keselamatanku, tapi keselamatan Yohanes. Nanti juga semua anggota timku membantu kita untuk melawan pelakunya. Aku yakin kita bisa menolongnya."
Sedangkan Yohanes kini sedang dikejar oleh pembunuh dari belakang. Ia menancapkan gasnya semakin dalam menuju suatu tempat yang menurutnya aman. Namun, pria misterius tersebut tidak menyerah begitu saja menambahkan kecepatan mobilnya lagi hingga mencapai mobilnya Yohanes.
Yohanes semakin panik dan menambahkan kecepatan mobilnya lagi hingga menerobos lampu merah di persimpangan jalan tanpa peduli terkena tilang. Pria misterius tersebut juga menerobos lampu merahnya dan ingin menyelip di depan mobilnya Yohanes. Karena hari sudah larut sehingga jalanan jarang dilalui mobil membuat pria misterius tersebut memgemudikan mobilnya sedikit ugal-ugalan.
Tangannya Yohanes semakin gemetar memegang setirannya dan keringat dingin terus mengalir pada lehernya membuat dirinya semakin gerah sambil melonggarkan lilitan dasi terikat pada lehernya. Yohanes melajukan mobilnya ke sembarang area yaitu area agak terpencil dari perkotaan demi menyelamatkan dirinya. Karena mobil pria misterius tersebut sudah tidak lagi terlihat, ia memberhentikan mobilnya di suatu tempat merupakan gang kecil lalu bergegas keluar dari mobilnya sambil mencari tempat untuk bersembunyi.
Namun sekarang bukan baginya untuk bernapas lega. Pria misterius tersebut berhasil menemukan keberadaan Yohanes dan memberhentikan mobilnya juga. Ia mengambil tongkat besi yang ditaruh di kursi penumpang membawanya keluar dari mobil.
PANGGG!!
Pria misterius tersebut sengaja memukuli tongkat besinya pada tembok membuat Yohanes semakin ketakutan menggigit jarinya di dalam suatu ruangan yang hampa dan gelap. Yohanes merasa suara pukulan tongkat besi tersebut semakin terdengar keras lalu ia berinisiatif melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan melarikan diri lagi. Pria misterius itu menemukan sosok Yohanes sedang berlari hingga membuatnya berlari mengejar juga.
"Jangan pernah berpikir Anda bisa kabur dari saya!" pekik pria misterius tersebut.
Yohanes hanya fokus melarikan diri dan mencari tempat yang aman baginya. Tapi ia berlari hingga mencapai jalanan buntu di depannya.
"Sial! Kenapa di saat begini jalanannya buntu!" umpatnya sambil berusaha mencari cara untuk menyelamatkan dirinya sebelum pria misterius tersebut berhasil menghampirinya.
Yohanes sudah bertingkah seperti orang gila sampai rambutnya terlihat tidak beraturan sekarang. Pria misterius tersebut menampakkan dirinya di hadapan Yohanes sambil menggerakkan lehernya dan memukuli tongkat besi pada tembok.
"Sudah saya duga Anda akan bersembunyi di sini. Kali ini Anda tidak akan bisa lepas dari saya!" pekik pria misterius tersebut mengayunkan tongkat besinya mengarah Yohanes.
Sementara aku dan Adrian masih melakukan pencarian Yohanes melalui sistem navigasinya. Adrian semakin gelisah menggarukkan kepalanya kesal sambil fokus mengendarai mobilnya dengan kebut. Sebagai istri yang baik, aku menenangkan hati suamiku dengan menyentuh tangannya. Aku tersenyum ceria menatapnya dan ia membalasku mengedipkan mata kirinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," ucapnya tersenyum hangat.
"Sekarang kamu harus fokus menolong Yohanes dan jangan berpikir yang aneh-aneh lagi."
"Sepertinya dia berada di area terpencil. Di situ sangat berbahaya, pelakunya bisa berbuat seenaknya di sana."
Kembali lagi pada Yohanes kini sedang mengalami suasana mencekam menghadapi seorang pembunuh di depan matanya. Ia mengepalkan kedua tangannya memperagakan posisi tubuhnya bersiap untuk menghajar pembunuhnya.
"Saya tidak takut dengan Anda! Sebenarnya saya pandai berkelahi kok!" elak Yohanes berlagak sombong.
"Ya sudah, kalau begitu hadapi saya sekarang!"
Yohanes melayangkan kepalan tangannya mengarah pada wajah pria misterius tersebut yang tertutup oleh masker. Tapi aksinya gagal begitu saja lalu pria misterius tersebut menahan tangannya Yohanes dan langsung membalikkan tubuhnya terjatuh ke tanah. Yohanes mengeluh kesakitan hingga membuatnya kesulitan bangkit kembali.
"Katanya Anda pandai berkelahi, tapi Anda sendiri memukul saya saja tidak bisa tadi," sindir pria misterius tersebut.
Yohanes membangkitkan tubuhnya lagi lalu berdiri bersikap sempurna di hadapan pelaku tersebut.
"Yang tadi itu saya belum siap. Sekarang saya sudah siap ingin bertarung dengan Anda!" Yohanes melayangkan tendangan kakinya hingga mengenai wajahnya pria misterius.
BRUKK
Tubuh pria misterius tersebut terhempas ke tanah lalu dengan lincah bangkit lagi dan menodongkan tongkat besinya mengarah pada Yohanes.
"Katakan pada saya sekarang! Siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda membunuh para pelajar SMA dan mengambil foto beserta kartu identitasnya!" ketus Yohanes melonggarkan ikatan dasinya berlagak percaya diri.
"Untuk apa saya memberitahukannya kepada Anda. Saya bukanlah orang bodoh yang mudah tertipu dengan perkataan orang lain!"
"Sebaiknya Anda menyerah saja!"
Dengan penuh emosi, pria misterius tersebut mengayunkan tongkat besinya mengenai tubuhnya Yohanes dan kakinya hingga membuat tubuhnya rubuh ke tanah lagi. Karena Yohanes sudah kehabisan tenaganya, pria misterius itu terus menendangnya dengan sekuat tenaganya.
BRUKKK
"Rasakan ini akibat perbuatan Anda itu yang selalu saja mengincar saya!" bentak pria misterius itu.
Baru saja ingin mendaratkan pukulannya lagi, terdengar suara sirene mobil polisi yang sedang mendatangi area ini dari kejauhan. Pembunuh tersebut menghentikan aksinya lalu melarikan diri kembali memasuki mobilnya.
Adrian memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobilnya Yohanes lalu bergegas keluar dari mobilnya. Tak lama kemudian semua anggota timku juga tiba di sini dan bergegas bergabung denganku dan Adrian melakukan pencarian keberadaan Yohanes melalui sistem navigasinya.
Kami semua menelusuri seluruh area terpencil itu sambil menatap navigasinya lalu alhasil kami menemukan tubuhnya Yohanes terlentang di atas tanah dipenuhi luka. Aku dan seluruh anggota timku bergegas menghampirinya.
"Pelakunya melarikan diri," sahut Yohanes lemas.
"Sudahlah kamu tidak usah banyak bicara. Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang!"
Tim paramedis mengangkat tubuhnya Yohanes ke dalam mobil ambulans mengantarkannya ke rumah sakit. Karena Adrian menyetir mobilnya Yohanes menuju rumah sakit, maka kini aku menyetir mobilnya Adrian menuju rumah sakit juga diikuti oleh seluruh anggota timku dari belakang.
Setibanya di rumah sakit, Yohanes langsung dibawa ke ruang UGD oleh tim paramedis. Adrian baru saja tiba di rumah sakit langsung menyusulnya memasuki ruang UGD. Yohanes menatap Adrian dengan malas lalu memalingkan mata darinya.
"Kamu berlebihan sekali, Adrian! Padahal ini hanya luka kecil tapi kamu sampai memanggil ambulans untuk mengantarkanku ke sini."
"Sudahlah kamu tidak usah cerewet! Yang penting sekarang kamu harus diberi pengobatan dulu! Lihat saja tubuhmu itu dipenuhi luka memar. Padahal kamu tidak bisa membela diri tapi masih sok jagoan ingin berkelahi dengan pelaku! Untung saja aku datang tepat waktu," celoteh Adrian mulai mengeluarkan jurus cerewetnya.
"Aku ini seorang lelaki yang kuat! Lihat saja nih aku akan buktikan padamu!" Yohanes berusaha sekuat tenaganya bangkit dari ranjangnya namun tubuhnya sudah tidak bertenaga lagi untuk menahan berat badannya lalu kembali terbaring di atas ranjang pasien.
"Maaf Anda harus tetap tenang selama diberi pengobatan," ucap dokter yang bertugas.
"Tuh padahal kamu sendiri sudah tidak bertenaga masih saja terus berontak! Sudahlah pokoknya kamu harus beristirahat dulu selama beberapa hari ke depan!" tegas Adrian.
"Hufft! Lagi pula juga pasti besok aku sudah bisa pulang ke rumahku!"
Tak lama kemudian, aku dan seluruh anggota timku menghampiri mereka berdua di ruang UGD. Yohanes mengulum senyumannya padaku dan tertawa kecil.
"Memang kamu tidak salah memilih pasangan hidupmu, Penny. Suami kesayanganmu itu terus saja menyuruhku tetap tinggal di rumah sakit. Kalau dia perlakukan teman dekatnya seperti ini apalagi istrinya. Mungkin dia akan terus menjagamu seperti petugas keamanan yang berjaga selama 24 jam," ucapnya.
"Kalau Adrian itu memang dia sifatnya sangat penyayang. Adrian selalu bersikap baik terhadap semua orang. Benarkah begitu, Adrian?" Aku merangkul tangannya mesra dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya.
"Aku memang selalu perhatian pada semua orang yang bersikap baik padaku. Tapi kalau terhadap istriku sendiri, aku lebih perhatian lagi sampai rasanya aku ingin terus melekat padamu," sahutnya mengusap kepalaku.
Mendengar perkataannya barusan, Hans dan Nathan memutar bola mata mereka bermalasan.
"Seperti biasa setiap kali kau dipuji selalu saja bertingkah sombong lagi!" hardik Hans memicingkan matanya.
"Benar tuh! Aku saja sampai muak melihatmu bersikap angkuh terus, Adrian!" sindir Nathan mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Kalian ngomong begitu bilang saja iri! Kalau iri mendingan tidak usah malu-malu deh!" celetuk Adrian mengerucutkan bibirnya.
"Iya benar tuh. Bilang saja kalau kalian tidak bisa meniru gayanya Adrian," sambungku berkacak pinggang.
"Hei, Penny! Kamu diam saja deh! Tidak usah ikut campur urusan lelaki!" tegur Hans tegas.
"Aku berhak ikut campur dong karena aku adalah istrinya!" bentakku balik menatap tajam.
"Ya sudahlah, aku terserah padamu saja, Penny! Berdebat denganmu juga tidak ada gunanya!" Hans menghembuskan napas kasarnya dan melipat kedua tangannya.
Daripada perdebatan penting terus berlanjut, lebih baik aku fokus dengan kasus lagi.
"Omong-omong Yohanes, apa mungkin kamu melihat wajah pelaku yang menyerangmu tadi?" tanyaku mengalihkan pembicaraan aneh ini dan mulai menyelidikinya.
"Tadi sebenarnya aku ingin melepas masker dari wajahnya tapi sayangnya tanganku ini kalah lincah dari pelakunya. Dia sangat lincah dan pandai berkelahi sampai aku ketakutan sekarang setiap kali membayangkan kejadian tadi."
"Lalu kamu mengingat plat mobil pelakunya?" tanya Adrian.
"Aduh bodohnya aku itu tidak mengingat plat nomornya sama sekali! Memang kalau masalah ingatan selalu aku yang paling payah!" gerutu Yohanes menepuk jidatnya.
"Tenang saja. Aku dan Tania akan mengamati rekaman CCTV sewaktu kamu dikejar tadi," ucap Nathan mengajukan dirinya sukarela.
"Baiklah, aku akan mengandalkan kalian," balasku menepuk pundak mereka berdua.
Lalu Nathan dan Tania berpamitan denganku bergegas meninggalkan runah sakit ini.
"Makanya Yohanes, kalau kamu tidak ada kerjaan mendingan pulang cepat. Giliran kamu sedang menganggur, kamu tidak memanfaatkan kesempatan emasmu. Sedangkan kamu sibuk menyelidiki kasus sampai larut malam, kamu terus berdoa supaya bisa pulang lebih awal. Ada-ada saja kamu!"
"Hufft! Padahal masih baik aku ingin membantumu menyelidiki kasus ini!" sungut Yohanes membalikkan tubuhnya menghindar Adrian.
"Tapi kalau kamu bermaksud untuk membantuku seharusnya kamu jangan sampai bekerja lembur!"
"Iya juga sih."
"Memang kamu ini antara terlalu polos atau tidak bisa berpikir jernih!" Adrian menjitak kepalanya Yohanes berkali-kali.
"Tuh Penny lihat tingkah laku suami kesayanganmu. Dia kalau di kantor selalu bersikap begini padaku!"
"Hmm kalau aku sih tidak ingin ikut campur dengan urusan kalian berdua," gurauku tersenyum nakal.
"Kamu bisa lihat sendiri, 'kan! Penny lebih pilih membelaku daripadamu!"
"Dasar sombong, Adrian!" ketus Hans dan Yohanes serentak membuat Fina tertawa kecil.
"Seharusnya aku yang menikahimu saja, ya ,Penny. Mungkin Adrian tidak akan berlagak sombong terus sampai sekarang," gurau Yohanes.
Emosi Adrian meledak lagi mendengar dirinya dikompori hal berkaitan sang istri.
"Lagi-lagi kamu membahas itu! Awas saja sampai kamu merebut Penny dariku! Aku akan mematahkan tangan dan kakimu supaya tidak bisa berbuat macam-macam padanya!" ancamnya menatap tajam.
"Ish kamu seram amat sih kalau sudah mengungkit masalah wanitamu!"
"Pokoknya kalian semua dengarkan aku baik-baik! Aku tidak akan pernah membiarkan kalian merebut Penny dariku!" tegasnya sambil merangkul bahuku mesra.
"Tapi omong-omong, kalian tidak memberitahu istriku bahwa aku diserang oleh pembunuh itu, 'kan?" tanya Yohanes.
"Tenang saja. Untuk saat ini aku tidak akan memberitahukannya. Lagi pula kamu pasti tidak ingin membuatnya mencemaskanmu."
"Iya nih. Soalnya kalau dia sudah cerewet sudah deh rewelnya sudah seperti ibu-ibu cerewet!"
"Tapi kalau kamu tidak pulang ke rumahmu sekarang dan kita tidak memberitahu kabarmu kepadanya nanti dia akan mencemaskanmu terus sepanjang malam," kata Fina.
"Benar juga sih. Serba salah aku jadi orang."
"Sudahlah lebih baik aku kasih tahu saja kepada istrimu supaya dia bisa merawatmu dengan baik di sini." Adrian memberikan sebuah pesan singkat kepada istrinya Yohanes.
"Iya lagi pula juga Adrian tidak bisa merawatmu sepanjang hari," lanjutku.
"Ya sudah deh. Aku terserah pada kalian saja."
"Tapi aku masih merasa ada yang aneh deh," ucapku kembali serius hingga dahiku berkerut.
"Aduh Penny, di saat begini kamu masih bisa memikirkan yang lain!" keluh Hans.
"Yang anehnya kenapa pelakunya bisa mengetahui alamat tempat tinggalmu, Yohanes?"
__ADS_1
"Benar juga sih. Padahal selama ini pelakunya mengincar para pelajar SMA," balas Yohanes bertopang dagunya.
"Mungkin pelakunya bermaksud untuk memperingatkan kepadaku dan Penny."