
Keputusanku kini sudah bertekad bulat menangkap kepala jaksa Henry hari ini. Sebelum itu, aku sudah meminta bantuan Nathan untuk memproses pembuatan surat penangkapan resminya dulu. Saat ini sandiwara kami masih berlanjut walaupun kemarin sudah menjalankan misinya lancar. Sebenarnya tujuan Adrian mengajakku bermalam di hotel bukan karena untuk kesenangan juga, tapi juga untuk memantau pergerakannya kepala jaksa Henry.
Namun aku tidak ingin menamakan sandiwara lagi. Tingkah laku kemesraan kami saat ini sungguh dilakukan dengan sepenuh hati. Apalagi ketika aku bangun lebih awal berencana untuk membereskan barangnya dulu, aku mengurungkan niatku melakukannya dan lebih memilih tetap tertidur di sebelahnya.
Adrian menggerakkan tangannya terbangun dari mimpinya kemudian sentuhan manis dari bibirnya mendarat pada keningku membuat pagiku terasa nyaman sekarang. Saat ini aku masih berpura-pura tertidur supaya bisa merasakan kehangatannya lebih lama lagi. Ia melanjutkan aksinya lagi mengelus kepalaku perlahan membuat senyumanku kini semakin mengambang.
"Dalam kondisi tertidur saja senyumanmu masih terlihat cantik, Sayang," ucapnya manis.
Kini aku sudah tidak bisa menahannya lagi dan menyerah. Aku tidur merengkuh pada tubuhnya semakin mempererat pelukannya.
"Terima kasih pujian manisnya, Sayang."
"Kamu sudah bangun rupanya dari tadi. Maaf aku tidak bermaksud membangunkanmu."
"Tadinya aku berencana membereskan semua barang tapi tidak jadi deh."
"Kenapa, Sayang? Apa mungkin kamu ingin berlama-lama tidur bersamaku karena sudah lama kita tidak tidur bersama di ranjang yang luas," godanya memajukan kepalanya mendekatiku.
"Bisa dikatakan begitu sih."
"Kalau begitu tidur lagi saja."
"Tapi karena hari sudah terang sebaiknya kita bersiap-siap saja. Kamu jangan melupakan misi kita."
Aku terburu-buru beranjak dari ranjangnya namun ia menyunggingkan senyuman nakalnya lalu menarik tanganku hingga aku terbaring dalam pelukannya lagi.
"Sayang! Kita tidak ada waktu bermain!"
"Aku masih ingin tidur bersamamu," ujarnya keras kepala.
"Baiklah aku juga sebenarnya ingin menikmatinya lebih lama lagi. Tapi bukan berarti sampai lupa misi. Jadinya kita jangan tiduran seperti ini kelamaan, ya. Lagi pula kita harus mempersiapkan diri kita terlebih dahulu."
"Iya, Sayang. Sebentar lagi juga kita mandi dulu lalu setelah semuanya beres, baru kita menangkapnya dan jangan biarkan dia terlepas dari kandangnya."
Tatapan mata kami kini saling bertemu dengan pandangan berbinar, tangan kanannya menyentuh pelipisku lalu ia mendaratkan bibirnya pada hidungku yang lembut.
"Jadinya kamu mau sampai kapan kita terus seperti ini?" tanyaku sambil mengecup pipinya.
"Hmm mungkin sampai siang," guraunya santai tertawa kecil.
"Saayaanng!"
"Aku hanya bercanda. Lagi pula aku ingin misi kita cepat terselesaikan supaya aku bisa bermain bersamamu sepuasnya."
"Nah karena kamu ingin misi kita cepat selesai, sebaiknya aku mandi dulu saja."
"Lalu kamu bilas rambutku lagi seperti kemarin."
"Kepalamu masih terasa sakit?"
"Hmm sudah tidak begitu sih."
"Aku mandi sekarang deh."
Aku melepas pelukannya beranjak dari ranjang ingin menuju kamar mandi. Ketika aku ingin mengambil pakaianku, sontak kedua tangannya melingkar pada perutku dari belakang sambil mencium lekukan leherku.
"Mmm geli, Sayang!"
"Jadinya kamu ingin membilas rambutku lagi?"
"Tapi bukankah kepalamu sudah tidak sakit?"
"Aku lebih suka rambutku dibilas olehmu seperti kemarin," rengeknya seperti anak kecil.
"Ish dasar manja!"
"Apa mungkin kamu ingin mandi bersamaku?"
Mendengar tawarannya barusan membuat pipiku sudah memanas di pagi hari begini. Aku terdiam sejenak membuatnya terus mencium pipiku.
"Jadinya bagaimana, Sayang?" Adrian mengulang tawarannya lagi.
"Baiklah aku akan membilas rambutmu sekarang, setelah itu baru aku mandi."
Sementara Hans, Fina, dan Yohanes sibuk melakukan misi mereka di depan rumahnya kepala jaksa Henry. Terutama misi ini sangat membutuhkan bantuannya Hans karena rumah tersebut dijaga keamanan yang lumayan ketat.
Sekarang saatnya mereka bertiga melakukan aksinya. Hans melakukan peretasannya terhadap pintu gerbang rumah terlebih dahulu. Seperti biasa dengan kepintarannya dalam bidang ini, tidak membutuhkan waktu yang terlalu banyak untuk meretas keamanannya. Yohanes berdecak kagum sampai mulutnya terbuka lebar mengamati kejeniusannya.
"Kamu hebat sekali, Hans! Mungkin kalau aku yang meretas pasti bisa setengah jam atau satu jam baru berhasil. Itu saja kemungkinannya kecil," puji Yohanes bertepuk tangan.
"Sudah pasti dong. Kalau suamiku pasti paling jenius dalam bidang begini. Makanya aku tidak pernah menyesal menjadi istrinya," sahut Fina menyandarkan tangannya pada pundaknya Hans berlagak sombong menyibakkan rambutnya.
"Aduh, Fina! Kamu jangan membuatku malu dong!" Hans menunduk malu sampai pipinya memerah.
Sementara Yohanes memutar bola matanya bermalasan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Iya aku tahu kalian adalah pasangan mesra. Tapi bisakah kita sekarang masuk ke dalam dan mencari ruang rahasianya?"
"Oh iya, benar juga! Aku sampai hampir lupa gara-gara dipuji hehe," tawa Hans terkekeh menepuk jidatnya.
"Selalu saja aku jadi nyamuk di depan semua pasangan!" sergah Yohanes bermalasan.
Mereka bertiga memasuki rumahnya dan lagi-lagi pintunya dijaga ketat juga keamanannya. Hans tersenyum cerdas mengeluarkan jurus peretasannya lagi dengan tatapan mata seperti orang jenius. Usai melakukannya, mereka bertiga bergegas memasuki rumah itu mencari ruang rahasianya setiap sudut ruangan.
Hans dan Yohanes bertugas mencari lantai atas sedangkan Fina mencari di lantai satu. Pertama Fina mencari di bagian ruang tamunya bahkan sampai mengambil setiap buku yang ditaruh di rak bukunya. Selain itu juga Fina menyentuh dan menggeser benda lainnya seperti patung, guci, maupun pot tanaman kecil yang ditaruh di sana juga tidak ada tanda ruang rahasia di balik rak buku. Fina mendengkus pasrah mulai gerah sambil menguncir rambutnya dan meraba setiap sudut rak buku.
"Aish, kenapa tidak ada tombolnya sih!" gerutu Fina geram.
Setelah melakukan pencarian cukup lama di rak buku, akhirnya Fina menyerah juga lalu menghampiri setiap lukisan yang terpasang di dinding ruang tamu. Dirinya mulai menyenamkan lehernya lalu menggeser dan mencabut setiap lukisannya namun tetap saja tidak ada tombol atau semacamnya menuju ruang rahasianya.
"Hmm apa mungkin ada semacam tombol di guci itu ya?" gumam Fina, tatapan matanya terfokus pada salah satu guci antik yang ditaruh di sudut tembok.
Fina menghampiri guci itu meraba setiap sisinya dan juga dalamnya namun tidak ada hal yang mencurigakan di sana. Ia mulai geram dan merutukki dirinya sendiri sampai tatapan matanya seperti ingin menerkam seseorang.
Sementara Hans dan Yohanes masih melakukan penelusurannya di lantai atas. Mereka sibuk mencari pintu rahasianya di kamarnya seperti melakukan pencarian di bawah ranjang, belakang TV, bingkai foto yang terpasang di dinding dan juga walk in closet sampai menggeser setiap gantungan pakaiannya namun usaha mereka tetap sia-sia.
"Aish kenapa tidak ada apa-apa sih di sini!" gerutu Hans menggarukkan kepalanya kesal.
"Coba kamu tenangkan dirimu dan berpikir jernih! Tadi kita sudah mencari di kamar tamu, ruang kerja, dan juga kamar ini tapi tidak ada satu pun benda yang terlihat mencurigakan. Bisa juga ada sesuatu yang sangat berarti baginya dijadikan sebagai tombol pintu rahasianya," tegas Yohanes berwajah serius.
"Iya sih bicara mudah menurutmu. Tapi kita sudah mencarinya sampai lelah tetap tidak ada tombolnya."
Sedangkan Fina sudah lelah sampai napasnya sedikit terengah-rengah menghampiri mereka di kamar.
"Apa kalian menemukannya?" tanya Fina.
"Tidak nih. Kita sudah cari setiap ruangan tapi tidak ada tombol apa pun," jawab Hans pasrah.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bergegas menemukannya sebelum dia pulang," usul Yohanes.
"Iya tapi mau gimana bisa bergegas. Dari tadi saja kita tidak menemukan apa pun," keluh Hans berkacak pinggang.
"Tunggu sebentar!" Tiba-tiba Fina menyadari sesuatu ada ide cemerlang terlintas dalam pikirannya.
"Ada apa, Fina?" tanya Yohanes terheran.
"Aku baru mengingatnya! Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi?"
"Memangnya kenapa sih?" tanya Hans semakin penasaran.
"Kalian ikut aku sekarang!"
Fina melangkahkan kakinya cepat menuju ruang kerja yang diekori oleh Hans dan Yohanes dari belakang lalu berdiri mematung tepat di depan rak bukunya.
"Bukankah tadi kita sudah mencari di sini?" tanya Yohanes memiringkan kepalanya.
"Iya benar. Aku bahkan mencarinya sampai seperti orang tidak waras," sahut Hans.
"Seingatku dalam rekaman CCTV di rumah ini ada pintu rahasia di ruang kerja ini. Kalian saja yang tidak menyadarinya sama sekali," lontar Fina tersenyum cerdas.
"Hmm tapi kami sungguh tidak menemukan apa pun di sini, Fina," balas Hans.
"Coba pikirkan baik-baik deh! Dia pasti memiliki sesuatu yang baginya berharga untuk dijadikan sebagai tombol menuju ruang rahasianya. Pasti benda itu ingin dia simpan sepanjang hidupnya dan membuat dirinya terkenal baik," jelas Fina dengan serius.
"Oh, aku tahu! Mungkin benda itu!" seru Yohanes.
"Apa itu?" tanya Hans.
Yohanes menghampiri salah satu penghargaan terbaik yang diraih oleh kepala jaksa Henry ditaruh di rak buku lalu mengambilnya.
CLIK!
Tiba-tiba sebuah pintu di balik rak bukunya terbuka secara lebar membuat Hans membuka mulutnya secara lebar dan membelalakkan matanya.
"Wah, bagaimana bisa kamu tahu ada semacam tombol pada penghargaannya?" tanya Hans berdecak kagum.
"Sudah jelaslah. Dia itu merupakan satu-satunya jaksa paling sombong di kantorku. Jadinya pasti benda paling berharga baginya adalah penghargaan ketika dia menjabat sebagai kepala jaksa."
"Ayo, kita masuk ke sana sekarang!" ajak Fina terburu-buru.
Di dalam sana, terdapat tumpukan uang yang ditaruh di atas meja membuat mereka menatapnya sampai melongok apalagi Hans yang air liurnya hampir menetes.
"Ini tidak mungkin," ucap Hans.
"Ternyata selama ini dia menyembunyikan uangnya di sini," ujar Yohanes mengangkat alisnya.
"Sudah deh dia tertangkap basah," kata Fina santai.
"Ini yang dinamakan surga uang." Sorot mata Hans semakin terfokus pada tumpukan uang yang tersusun rapi.
"Di saat begini kamu masih bisa bercanda!" tegur Yohanes menyenggol lengan Hans sengaja.
"Apa mungkin anaknya tidak sengaja menemukan ruang rahasia ini lalu berdebat dengannya?" pikir Hans mengernyitkan alisnya.
"Iya benar. Karena itu dia tidak sengaja mendorong anaknya sampai terjatuh dari tangga," jawab Yohanes.
"Wah, Dasar berengsek! Hanya demi menutupi perbuatan kotornya saja sampai mencelakakan anaknya sendiri!" umpat Hans geram menonjok tembok.
"Kita tinggal menunggunya datang ke sini," ujar Fina.
Kepala jaksa Henry memarkirkan mobilnya tepat di depan rumahnya lalu bingung mengamati ada sebuah mobil SUV yang terparkir di dekat rumahnya juga. Terutama pintu pagar rumah terbuka secara lebar membuatnya panik sekarang.
"Pasti ada maling masuk ke rumahku!" pekiknya panik.
Ia bergegas berlari memasuki rumahnya menuju ruang rahasianya. Aku dan Adrian juga keluar dari mobil memasuki rumahnya takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap tiga orang lainnya di dalam sana.
Ketika mereka bertiga sedang mengelilingi ruang rahasia yang tidak begitu luas, tiba-tiba kepala jaksa Henry menampakkan dirinya meneriakki mereka semua.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?" teriaknya membuat mereka bertiga berdiri mematung.
Yohanes mengangkat kepalanya penuh percaya diri melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu tidak usah berlagak tidak berdosa sama sekali! Melihat wajahmu saja sudah membuatku muak!" ketusnya.
"Memangnya kalau menemukan ruangan ini kalian bisa membuatku dikurung di penjara?"
"Sebaiknya kamu menyerah saja dan serahkan dirimu di kantor polisi sebelum aku bertindak lebih jauh lagi!" bentak Yohanes mengepalkan tangannya.
Tatapan mata kepala jaksa Henry menajam menghampiri Yohanes mencengkeram kerah kemejanya erat lalu mendorong tubuhnya menabrak tembok dengan kasar.
BRUKK
Hans dan Fina menatap sampai melongok ingin melerai perkelahian mereka. Di saat yang bersamaan, aku dan Adrian juga baru tiba di ruang rahasia terkejut melihat Yohanes diperlakukan kasar seperti itu. Dengan penuh kesal, Adrian mengepalkan tangannya menghampiri kepala jaksa Henry melepas cengkeramannya dan menonjok wajahnya tanpa segan.
"Beraninya kamu memperlakukan Yohanes seperti itu!" bentak Adrian penuh emosi.
Kepala jaksa Henry tidak berdiam diri saja lalu membalasnya dengan melayangkan tonjokkan pada wajahnya Adrian dengan kuat.
BRUKK
"Adrian!" teriakku menjerit lalu menghampirinya.
"Jadi ini rencanamu dari awal untuk menghancurkanku, jaksa Adrian," tukas kepala jaksa Henry.
"Memang kamu tidak pantas disebut sebagai manusia. Kamu hanyalah sebuah sampah yang pantas dibuang dan dihanyutkan ke laut," balas Adrian mengumpat kasar.
"Sampah? Jaga ucapanmu, jaksa Adrian! Justru selama ini kamu yang pantas disebut dengan sampah karena kamu bukan jaksa yang kompeten!" Kepala jaksa Henry mencengkeram kerah kemejanya Adrian lalu secara spontan aku langsung melepas cengkeramannya dan mendorong tubuhnya kasar menjauh darinya.
"Kamu jangan pernah menyakiti Adrian! Kalau sampai kamu berani menyakitinya, aku akan memperlakukanmu lebih kasar lagi!" ancamku dengan tatapan mata elang.
"Tidak hanya kamu saja yang maju, Penny. Aku dan Hans akan melawannya juga kalau sampai melukai Adrian!" lontar Fina lantang menggenggam tangannya Hans menghampiriku.
"Kalau berani mengatakan hal yang tidak sepantasnya kepada Adrian, kamu sebaiknya hadapi aku dulu!" sergah Yohanes berdiri tepat di hadapannya.
"Dengan kekuasaan yang aku miliki saat ini, aku pasti akan menang daripada kalian semua!" bentaknya balik.
"Kamu sendiri bahkan tidak memahami arti kekuasaan. Sampah sepertimu tidak pantas mendapatkan kekuasaan. Karena dengan memiliki kekuasaan tidak akan menjaminkan kamu yang mendapatkan kemenangannya. Kekuasaan hanya pantas diraih oleh orang yang bijak dalam menggunakannya," lontar Adrian menceramahinya panjang lebar.
"Apa kalian semua lupa bahwa aku memliki kekuasaan lebih tinggi daripada kalian?" Kepala jaksa Henry masih belum menyerah terus membantah kami.
"Kekuasaan lebih tinggi tapi kalau dipakai untuk melakukan perbuatan kotor sama saja percuma. Kamu tidak akan bisa jadi jaksa agung," jawab Yohanes berlagak bijak.
"Sebaiknya kalian semua pergi dari sini sebelum aku menghabisi kalian!"
"Tidak akan!" celetukku balik.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi yang sedang mendatangi tempat ini dari kejauhan. Semakin lama bunyinya terdengar semakin nyaring membuat raut wajahnya agak takut.
"Kamu tidak bisa kabur dari sini lagi!" tegurku tersenyum cerdas.
"Akan kubalas perbuatan kalian semua!"
Tidak sampai semenit, Nathan dan Tania mendatangi ruang rahasia ini sambil memperlihatkan surat penangkapan resmi.
"Kepala jaksa Henry! Kamu tidak bisa kabur dari sini lagi!" tegas Nathan lantang.
Aku mengangkat kepalaku menatap penuh percaya diri sambil mengeluarkan borgol dari saku blazerku.
"Kamu bisa lihat sendiri, 'kan! Dengan surat resmi penangkapan, kamu tidak akan bisa kabur lagi dari kami!" hardikku.
"Awas saja kalian!"
Kepala jaksa Henry mengepalkan tangannya melayangkannya menuju wajahku lalu dengan sigap Adrian melindungiku menahan kepalan tangannya lalu menonjoknya balik tidak peduli menimbulkan darah atau tidak.
BRUKKK
Dengan penuh emosi Adrian menarik kerah kemeja kepala jaksa Henry paksa menabrak dinding menahannya dari belakang.
"Beraninya kamu ingin melukai istriku! Kalau sampai kamu menyentuhnya dari ujung kepala sampai kaki bahkan sehelai rambutnya, aku tidak hanya menonjokmu. Tapi aku ingin membunuhmu dengan mematahkan semua tulangmu supaya tidak bisa bertindak kejam lagi!" bentak Adrian emosinya membludak.
"Detektif bodoh sepertinya tidak pantas hidup tenang bersamamu!" umpat kepala jaksa Henry tersenyum sinis.
"DIAM! SEKALI LAGI KAMU MERENDAHKANNYA, AKU AKAN MEMATAHKAN LEHERMU DULU!"
Adrian menonjok wajah kepala jaksa Henry membuat semua detektif berada di sini terpukau lihatnya.
"Adrian seram sekali kalau sudah marah," sorak Hans tercengang.
"Apalagi kalau istri kesayangannya hampir saja dipukul, pasti dia tidak akan mudah mengampuninya," tambah Fina.
Sementara aku dengan santainya menghampirinya lalu memborgolnya tersenyum penuh percaya diri.
"Kepala jaksa Henry, kamu ditangkap atas penggelapan dana yang telah kamu perbuat selama ini. Kamu memiliki hak untuk menyewa pengacara untuk membelamu atau hak untuk berdiam diri saja," ucapku lantang sambil memborgol tangannya.
"Kali ini kamu yang kalah!" celetuk Yohanes.
"Oh iya, kamu memang bukan manusia. Demi menutupi keserakahanmu, kau sampai berdebat dengan putramu hingga dirinya terjatuh dari tangga dan tewas. Lalu kamu menukar tubuhnya dengan pengacara Leonard. Seharusnya perkaramu ditambah lagi supaya hukumanmu lebih berat!" lanjutku.
"Kamu!"
"Bawa dia sekarang juga!" titahku tegas.
Nathan dan Hans menuntunnya keluar dari ruangan ini dengan paksa memasuki mobil van hitam lalu diekori oleh Yohanes, Fina, dan Tania dari belakang. Nathan bertugas menyetir mobil van hitam membawanya menuju kantor polisi untuk diinterogasi olehku lebih lanjut.
Adrian mengamatiku seperti alat scanner memeriksa seluruh tubuhku penuh cemas.
"Sayang, apakah kamu terluka? Bagian mana yang sakit?"
"Aku baik-baik saja, Sayang," balasku tersenyum hangat padanya.
"Kamu membuatku khawatir saja. Tadi dia hampir saja memukulimu tepat di hadapanku." Adrian memelukku erat sambil mengusap kepalaku.
"Bagaimana denganmu? Kamu tadi dipukul tepat di hadapanku."
"Tidak sakit. Sebaiknya kita ke kantor polisi sekarang."
"Tapi--"
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Lebih baik kita urus masalahnya dulu sampai selesai."
Setibanya di kantor polisi, Nathan dan Hans langsung menuntun kepala jaksa Henry memasuki ruang interogasi. Sementara aku membawa semua barang bukti ke dalam ruangan itu lalu menyusunnya secara rapi di atas meja. Aku menduduki sebuah kursi tepat di hadapannya mulai memainkan pulpenku.
"Mari kita mulai interogasinya. Apa hubunganmu dengan pengacara Leonard?" selidikku mulai fokus.
"Kenapa kamu menanyakan itu padaku? Pertanyaanmu tidak ada hubungannya dengan kasus ini."
"Kamu tidak mengakuinya berarti tandanya memang kamu ada hubungan dengannya. Tidak usah dipertanyakan sudah sangat jelas jawabannya. Kamu ada hubungan dengannya sejak kamu menolongnya terpaksa di saat kecelakaan beruntun itu terjadi. Kamu sengaja menukar tubuh anakmu yang sudah tewas tidak sengaja dibunuh olehmu dengan pengacara Leonard untuk menutupi kesalahanmu. Ini sudah terbukti dengan jelas melalui dokumen yang tersimpan dalam brankas rahasiamu di hotel," terangku panjang lebar sambil memperlihatkan dokumennya.
"Memang apa salahnya aku berbuat begitu? Padahal aku berbuat baik menolong orang dari kematian," bantahnya berlagak polos.
Lontarannya barusan membuatku semakin emosi. Aku memukuli mejanya dengan kasar rasanya ingin menonjok wajahnya sampai terluka parah.
"Berbuat baik? Yang namanya berbuat baik tidak mendorong anakmu sampai tewas!" hardikku menatap tajam.
"Itu kesalahannya karena ceroboh tidak melihat sekelilingnya!"
"Rasanya aku ingin menghajarmu sekarang! Bahkan kamu tetap tidak merasa berdosa sama sekali walaupun anakmu sudah tewas. Selain itu, kamu mengadopsi pengacara Leoanard dengan memalsukan identitasnya lalu menyiksanya sampai trauma!"
"Oh, kalau itu hanya sebagai pelampiasanku. Lagi pula juga aku sangat berharap orang itu harus cepat disingkirkan dari hadapanku!"
"Memang kamu tidak waras sama sekali! Akan aku pastikan kamu mendapatkan hukuman yang berat setimpal dengan perbuatanmu!" hardikku rasanya darahku sudah mendidih.
"Yang pasti aku tidak ingin melihatnya lagi!"
"Kamu bahkan lebih berdosa darinya menurutku. Kamu menciptakan monster dalam tubuhnya hingga sekarang!"
"Justru dia yang monster makanya aku ingin cepat menyingkirkannya!"
"Kamu bukan bermaksud untuk menyingkirkannya, tapi kamu ingin membunuhku beberapa hari yang lalu dengan menyuruh preman untuk menyerangku. Aku tahu itu dari awal. Kamu sengaja meremehkanku dan jaksa Adrian seolah-olah terlihat bahwa kamu selalu saja bertindak benar. Tapi kenyataannya berbanding terbalik. Aku sudah muak dengan sikap munafikmu terhadap semua orang di kantor kejaksaan lalu menegur mereka habis-habisan walaupun mereka melakukan kesalahan kecil!"
"Beraninya kamu berkata seperti itu!"
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Apalagi kamu pernah membuat jaksa Adrian sakit hati akibat lontaranmu yang setajam silet. Aku akan menaruh dendam padamu selamanya!"
"Kamu!"
Aku beranjak dari kursinya kasar mengambil semua barangku.
"Sepertinya sudah tidak ada hal lain yang bisa aku tanyakan padamu lagi. Sesi interogasinya sampai di sini saja!"
Aku membuka pintunya kasar melangkah keluar menuju ruang kerja timku menaruh semua barangku di meja kerjaku. Di sana ada Adrian yang dari tadi menungguku selesai melakukan sesi interogasi.
"Kamu sudah selesai menginterogasinya?"
"Sudah nih."
"Bagaimana? Apakah dia mengakuinya?"
"Dia bahkan sudah tidak pantas disebut sebagai manusia. Memang tadi dia agak mengakuinya tapi dengan jawaban kejam," desahku pasrah.
"Dasar keparat! Dia tidak ada kapoknya sama sekali!" umpatnya geram mengepalkan tangannya.
Aku menggenggam tangannya mengukir senyuman manisku.
__ADS_1
"Ayo kita pulang sekarang, Adrian!" ajakku.
"Lebih baik kita bersantai di apartemen saja."