
Dengan penuh rasa gelisah, aku menyandarkan tubuhku lemas pada sandaran kursi sambil terus memainkan kursinya berputar-putar hingga mengeluarkan suara yang sangat mengganggu suasana keheningan ruangan ini. Fina merasa terganggu langsung membanting pulpennya di atas meja dan menghampiriku seperti ingin menerkamku.
"Berisik sekali, Penny! Kamu merusak suasana tenangku saja!" bentak Fina berkacak pinggang.
"Aku hanya ingin bermain saja sekarang untuk menenangkan pikiranku yang sedang tidak enak sekarang," balasku santai sambil mengetuk mejaku terus sesuai irama.
Fina berdecak kesal menahan tanganku dan juga kursiku.
"Kamu mau mengajak ribut denganku, Penny?" bentak Fina mengibaskan kerah kemejanya.
"Justru kamu yang mengajak ribut denganku, Fina! Padahal aku tidak ingin kamu menggangguku sekarang!"
"Justru kamu yang dari tadi membuat keributan di ruangan ini. Bunyi kursimu dari tadi membuat kupingku perih sampai sekarang dan juga kamu sengaja mengetuk meja supaya menambah kebisingan!" bentak Fina balik.
"Sudahlah kalian berdua sebaiknya jangan bertengkar di pagi hari begini. Lebih baik kita menciptakan suasana yang indah di pagi hari yang sangat cerah," lontar Hans menengahiku dan Fina berlagak sombong.
"Aku tidak ingin bertengkar dengan Penny. Aku hanya merasa terganggu saja!"
"Sudahlah, Sayang. Kamu tidak usah memedulikannya lagi. Lebih baik aku membuatkan kopi yang spesial terbaik untukmu supaya suasana hatimu kembali membaik," goda Hans merangkul bahunya Fina mesra.
"Iya, Sayang. Aku juga ingin dibuatkan kopi spesial buatanmu yang membuatku menjadi semangat setiap harinya," rayu Fina sengaja meraba punggungnya Hans untuk mengomporiku.
"Hufft begitu saja sudah berlagak pamer! Padahal dari dulu sampai sekarang kamu hanya bisa membuat kopi instan saja!" ketusku mengerucutkan bibirku.
"Tidak masalah. Yang terpenting aku buatkan kopinya khusus untuk istriku. Kalian semua tidak bakal aku buatkan kopinya." Hans semakin memamerkan dirinya membuatku semakin geram padanya.
"Hei, Hans! Rasanya aku ingin melempar sepatuku ke kepalamu itu supaya amnesia!" hardikku.
"Biarpun aku amnesia, semua ingatan tentang Fina pasti akan masih utuh pada pikiranku."
"Kamu semakin hari semakin sombong saja, Hans!"
Hans tidak memedulikanku kemudian mengambil sebungkus kopi instannya dan juga gelas berukuran besar. Untuk membalas perbuatanku yang membuat Fina merasa terganggu, Fina sengaja menyandarkan kepalanya pada pundaknya Hans dengan manja sambil terus mengelus punggungnya lembut.
"Fina, apa yang kamu lakukan sekarang? Tidak seperti biasanya kamu bertindak seperti ini," tanya Hans gugup.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melakukannya saja," jawab Fina mengecup pipinya Hans.
Sementara Nathan dan Tania merasa risih mengamati tingkah aneh pasangan tukang pamer ini. Nathan menghembuskan napasnya kasar lalu menegur mereka berdua dengan tegas.
"Hei kalian berdua! Kalau mau bertingkah mesra mendingan di rumah saja deh. Ingat ini di tempat kerja!"
"Benar kata, Nathan. Aku saja sampai risih melihat tingkah kalian," lanjut Tania menatap sebal.
"Tenang saja. Sekarang kita sudah bekerja di ruang kerja khusus. Jadinya tidak mungkin ada seseorang yang sembarangan memasuki ruangan ini," balas Hans santai.
"Kalau sampai ketahuan Danny, aku tidak akan ikut campur urusan kalian, ya," celoteh Tania.
"Mana mungkin sih Danny bakalan memasuki ruangan kita! Kalau dia seandainya beneran memasuki ruangan ini tiba-tiba, aku bakal menendangnya seperti bola."
Ceklek!
Tiba-tiba Danny memasuki ruangan ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Hans tersentak kaget dan langsung bertingkah seperti orang normal bersama Fina. Sedangkan aku melihat situasi konyol ini rasanya ingin tertawa lepas sampai berguling-guling di atas lantai. Apalagi mendengar Hans yang sempat bertaruh tadi ingin menendang Danny seperti bola.
"Hans! Fina!" tegur Inspektur Danny tegas.
"Iya, Inspektur Danny!" sahut Hans dan Fina serentak berdiri tegak seperti seorang tentara.
"Kalian berdua tadi barusan melakukan kegiatan bermesraan! Apakah kalian sampai sekarang masih belum memahami aturan?"
"Maaf tadi kami tidak bermaksud untuk--"
"Tidak usah minta maaf! Aku sudah cukup muak mendengar permintaan maaf kalian berdua! Pasti kalian akan mengulanginya lagi suatu hari nanti!" ketus Inspektur Danny dengan tatapan mata elang.
"Tapi kemarin Penny dan Adrian bermesraan di sini kamu tidak menegurnya sama sekali!" protes Hans.
"Aku hanya melihat kenyataan saja. Yang jelas hari ini kalian berdua tertangkap basah! Kalau urusan Penny dan Adrian bermesraan itu belakangan."
"Hufft dasar pilih kasih!" gerutu Fina.
"Oh iya, omong-omong aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu, Penny. Kamu ikut denganku ke ruanganku sekarang!" titah Inspektur Danny kepadaku.
"Baiklah, Danny," patuhku sambil menjulurkan lidahku pada Hans dan Fina.
__ADS_1
"Awas saja, Danny! Nanti aku akan menendangmu seperti bola," gerutu Hans mengepalkan tangannya.
"Aku mendengarmu ucapanmu barusan, Hans." Inspektur Danny tersenyum sinis.
"Haha lagian kamu ini kalau ngomong tidak disaring dulu Hans," tawa Nathan sampai terus memukuli mejanya.
"Diam kamu, Nathan!"
Danny memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya menuntunku menuju ruang kerjanya. Aku mengikuti Danny memasuki ruang kerja pribadinya dan menduduki sebuah kosong di dekatnya.
"Ada apa kamu memanggilku, Inspektur Danny?" tanyaku berbasa basi.
"Aku mendengar pelajar SMA yang kamu tangkap kemarin sebagai tersangka utama kasus pembakaran gedung tadi pagi sudah dibebaskan."
"Iya benar."
"Dia dibebaskan tiba-tiba olehmu karena terbukti tidak bersalah sama sekali berkat bantuan seorang pengacara dari salah satu firma hukum terbaik di kota ini."
"Maaf Inspektur Danny, aku tidak bermaksud bertindah gegabah," sesalku menunduk bersalah.
"Aku memanggilmu ke sini bukan bermaksud untuk mengomelimu mengenai hal itu," balas Inspektur Danny santai.
"Lalu kamu memanggilku ke sini karena tingkah lakunya Hans dan Fina?"
"Bukan itu juga. Aku bermaksud untuk memperingatkanmu supaya tetap berhati-hati saja. Dulu kamu pernah salah menangkap pelaku kejahatan walaupun sebenarnya Josh merupakan pelaku sesungguhnya akibat jebakan kamera CCTV yang direkayasanya. Kalau sekarang seorang saksi mata dijebak opelaku sesungguhnya supaya kamu tidak mencari tahu keberadaannya lagi lebih dalam. Aku takut suatu hari nanti kamu akan dijebak juga oleh pelakunya karena kamu kepala detektif yang menangani kasus ini," tutur Inspektur Danny memperingatkanku baik.
Aku membulatkan mataku sempurna. Situasi sekarang berbeda jauh dengan sewaktu dulu malahan aku dimarahi habis-habisan oleh Inspektur William. Syukurlah Danny masih ada hati nuraninya.
"Tenang saja. Aku akan bertindak lebih berhati-hati lagi untuk ke depannya."
"Kalau sampai terbawa ke pihak kejaksaan maka masalah akan lebih rumit dan sulit teratasi. Kamu harus memikirkan dampak ke depannya."
"Iya aku mengerti. Kamu tidak usah bersikap cerewet padaku," selorohku memanyunkan bibirku.
"Ya sudah, kalau begitu kamu kembali bekerja lagi, Penny. Aku berharap kamu bisa menangani kasus ini secepatnya sebelum timbul banyak korban."
Aku tersenyum simpul di hadapannya menundukkan kepalaku hormat melangkahkan kakiku keluar dari ruangannya.
Sepanjang perjalananku kembali menuju ruang kerja timku, aku terus memikirkan kejanggalan yang dialami Nielsen sejak kasus pembakaran gedung. Waktu itu Nielsen berkata padaku bahwa pelakunya itu kalau dilihat samar-samar merupakan seorang pria bertubuh tinggi. Namun anehnya bagiku itu bagaimana caranya pembunuhnya itu mengetahui alamat emailnya Bu Fransisca? Sedangkan Fina sempat mencurigai bu guru berwajah dingin itu juga tidak mungkin dia adalah pelakunya. Selain itu, bagaimana bisa pelakunya mengetahui alamat rumahnya Nielsen? Sayangnya di daerah sekitar sana tidak terpasang kamera CCTV. Pasti pelakunya sudah merencanakan ini dan menargetkan Nielsen sebagai sasarannya sejak awal dengan sempurna.
Ponselku bergetar tiba-tiba. Aku mengambil ponsel dari saku blazerku dan langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo Adrian, ada apa kamu meneleponku tiba-tiba?"
"Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk berhati-hati saja. Aku sudah mendengar kabar bahwa Nielsen dibebaskan tadi pagi dari tim investigator. Pelakunya pasti tidak akan berdiam saja."
"Ish kenapa semuanya memperingatkanku seperti ini. Aku kan padahal selalu berhati-hati selama ini!"
"Penny, aku memperingatkanmu bukan untuk menakutimu atau mengancammu. Tapi aku sebagai suamimu sangat mencemaskan keselamatanmu saat ini. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi."
"Adrian, tenang saja kamu tidak usah mencemaskanku terus. Yang penting sekarang aku sudah membebaskan seseorang yang tidak bersalah."
"Kalau butuh bantuan, kamu harus ingat nomor satu orang yang harus kamu hubungi adalah aku."
"Tidak perlu kamu ngomong begitu juga sudah pasti aku akan meminta bantuanmu."
"Ya sudah deh kalau begitu aku akan tutup teleponnya dulu. Aku akan meminta investigator untuk membantu penyelidikannya juga. Kalau ada informasi yang baru, nanti aku akan menghubungimu lagi. Sampai bertemu, Penny sayang."
"Sampai bertemu nanti, Adrian sayang." Aku mengakhiri pembicarannya menutup panggilan teleponnya.
Aku kembali menghampiri semua anggota timku dan kembali mendiskusikan proses penyelidikannya.
"Sepertinya kita harus mengunjungi daerah sekitar tempat tinggalnya Nielsen lagi."
"Tapi daerah situ bukankah tidak ada kamera CCTV sama sekali?" tanya Tania.
"Aku hanya penasaran saja dengan kejanggalan tas sekolah para korban. Walaupun daerah tempat tinggalnya Nielsen tidak ada kamera CCTV, tapi daerah lainnya sepanjang jalan menuju rumahnya pasti ada kamera CCTV. Siapa tahu pelakunya tertangkap basah pada kameranya," jawabku mengerutkan dahiku.
"Kalau begitu kita pergi ke sana saja sekarang cek kamera CCTV di pos keamanan!" ajak Tania.
"Kamu ikut denganku, Tania. Yang lain tetap di sini saja berjaga. Siapa tahu mungkin ada saksi lainnya yang tidak sengaja melihat aksi kejamnya pelaku berkunjung kemari."
"Ish padahal aku kan juga mau ikut denganmu, Penny!" protes Fina berwajah cemberut.
__ADS_1
"Makanya Fina, lain kali jadi orang jangan suka mengajak ribut terus. Lagian tadi pagi kamu komporin Penny sengaja. Akhirnya terkena batunya juga sendiri," sindir Tania tertawa kecil.
"Sudahlah, Fina. Sesekali aku ingin pergi bersama Tania."
"Memang kamu ini teman terbaikku sejak dulu, Penny!" seru Tania merangkul pundakku.
Aku dan Tania mengunjungi beberapa pos keamanan sepanjang jalan menuju tempat tinggalnya Nielsen. Dari semua pos keamanan yang sudah aku kunjungi, tidak ada satu pun kamera CCTV yang merekam perbuatan pelaku. Bahkan tidak ada seorang pun bertindak mencurigakan tertangkap pada kamera. Selain itu juga ada beberapa kamera CCTV juga rusak tiba-tiba.
"Pasti pelakunya sudah merusak kameranya terlebih dahulu. Terutama daerah yang dilewatinya," ucap Tania.
"Apa boleh buat kalau tidak ada rekaman CCTV sama sekali. Kita hanya bisa mengharapkan seorang saksi mata saja yang melewati daerah itu secara kebetulan," desahku pasrah sambil menggarukkan kepalaku.
Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya menghampiriku di tengah perbincanganku dengan Tania.
"Permisi apa mungkin Anda adalah seorang polisi?" tanya wanita paruh baya tersebut kepadaku.
"Iya. Ada apa, ya?"
"Kebetulan sekali. Saya ingin mencari Anda sejak kemarin tapi tidak ketemu terus. Saya melihat pelaku yang kalian incar selama ini."
Tatapan mataku langsung melotot.
"Apa mungkin Anda melihat wajah pelakunya dengan jelas?" selidik Tania mulai penasaran.
"Waktu itu saya sedang melewati daerah sana menuju rumah saya. Namun saya melihat ada orang mencurigakan sedang membuang empat tas ke dalam tempat sampah. Tadinya saya mengira hanya orang tidak waras yang membuang semua tas itu. Dilihat lama-lama sepertinya dia bukanlah orang biasa."
"Apa mungkin pelakunya itu seorang pria bertubuh tinggi?" tanya Tania.
"Iya benar."
"Dia hanya membuang tasnya? Tidak bertindak apa pun lagi?" selidikku lagi.
"Tidak. Hanya saja saat dia sedang membuang tasnya, dia sambil menatap sekelilingnya seperti tidak tenang melakukannya."
"Baiklah, terima kasih atas kesaksian Anda yang dapat membantu proses penyelidikan kami."
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit wanita paruh baya tersebut.
Wanita paruh baya tersebut menundukkan kepalanya hormat lalu melanjutkan perjalanannya kembali. Tidak sampai 50 meter jaraknya, wanita paruh baya tersebut menghentikan langkah kakinya dan kembali menghampiriku lagi.
"Tunggu dulu! Saya jadi teringat sesuatu!" seru wanita paruh baya tersebut.
"Apa ada sesuatu lagi yang Anda ketahui?" tanyaku semakin penasaran.
"Saat pelakunya sedang membuang semua tas itu, dia mengambil dompet para pelajar itu dan juga ponselnya."
"Ponsel dan dompet? Apa mungkin pelakunya mengambil semua uang atau kartu dalam dompet itu? Atau mungkin pelakunya mengambil semua yang ada di dalam dompet itu?" tanya Tania mengernyitkan alisnya.
"Anehnya dia tidak mencuri uangnya atau kartu apapun dalan dompetnya. Oh, aku melihat dia mengambil sebuah foto dan juga kartu pelajar yang ada di dalam dompetnya!"
"Selain itu pelakunya tidak mengambil apa pun lagi?" selidikku lagi.
"Sepertinya tidak. Itu saja sih yang saya ingat."
"Baiklah. Terima kasih atas informasinya," ucapku sopan.
"Saya permisi dulu."
Aku dan Tania bergegas kembali ke kantor polisi lagi. Setibanya di sana, aku memasuki ruangan penyimpanan barang bukti para korban lalu mengambil semua tas para korban pembakaran. Aku membawa semua tas tersebut ke ruang kerja timku dan menaruhnya di atas meja kerjaku.
"Apa yang terjadi?" tanya Hans.
"Kalian coba periksa semua isi tas ini deh. Terutama dompet para korban!" pintaku kepada semua anggota timku.
"Baik, Penny," patuh Fina langsung membantuku membuka salah satu tas para korban dan menuangkan seisi tasnya di atas meja kerjanya hingga berantakan.
Fina mengecek satu per satu buku-buku pelajaran dan juga barang milik korban lainnya masih tetap utuh termasuk perhiasan. Kemudian Fina mengambil dompet korban dan mengeceknya.
"Kartu pelajar dan fotonya tidak ada di dalam dompetnya. Tapi uang dan kartu pembayaran masih tetap utuh di dalan dompetnya," ucap Fina memperlihatkan dompetnya kepadaku.
"Iya di sini juga, Penny. Di dalam tas orang ini tidak ada foto beserta kartu pelajarnya," ujar Nathan membongkar tasnya.
"Berarti bisa disimpulkan pelaku membunuh para korban bukan untuk mencuri benda berharga yang dimiliki korban, tapi pelaku mengincar kartu identitasnya para korban. Kalian sendiri juga bisa lihat name tag pada seragam mereka, kartu pelajar maupun foto pasti diambil olehnya tanpa terlewatkan," jelasku panjang lebar.
__ADS_1
"Apa mungkin pelaku memiliki rasa dendam pada korban?" tanya Hans bertopang dagu.
Sementara di sisi lain, di suatu ruangan yang pencahayaannya sedikit redup, sosok pria misterius tampak dari belakang sedang membersihkan name tag dari salah satu korban pembunuhannya. Name tag tersebut yang tadinya dipenuhi bercak darah korban kini kembali menjadi bersih seperti baru lagi. Usai itu, pria misterius tersebut menaruh name tagnya dijadikan satu dengan barang lainnya seperti foto, ponsel, dan juga kartu pelajar ke dalam suatu kotak transparan yang biasanya banyak ditemukan dalam museum. Pria misterius tersebut mengulas senyuman liciknya sambil tertawa seperti setan. Kemudian menghampiri fotonya Nielsen yang sedang sibuk berbincang dengan temannya di sekolah. Pria misterius itu mengambil sebuah pisau dan menusuk mukanya Nielsen yang tertera pada foto tersebut.