Good Partner

Good Partner
S2 : Part 48 - My Vitamin


__ADS_3

Tak terasa hari sudah gelap. Usai membersihkan diriku, aku melangkah keluar dari kamar mandi menuju ruang tamu mengamati Adrian sedang menungguku dari tadi. Tatapan matanya terfokus padaku dengan pandangan berbinar mengukir senyuman manis menopang dagunya pada sandaran sofa.


"Sudah selesai mandi, Sayang?" sambutnya.


"Kenapa kamu menatapku begitu? Aku jadi gugup sekarang," sahutku tersipu malu hingga pipiku mulai memanas.


"Kemarilah, Sayang." Adrian membentangkan kedua tangannya secara lebar mengisyaratkanku untuk bermanja dengannya.


Aku langsung menjemur handukku lalu mempercepat langkah kakiku menghampirinya dan duduk di atas pangkuannya melingkarkan kedua tanganku pada lehernya.


"Sayang ...." lirihku manja.


"Sebentar lagi kita bisa bermain dengan putri kita lagi. Apa kamu punya rencana ingin mengajaknya ke suatu tempat?"


"Entahlah. Kalau aku sih sudah pasti ingin mengajaknya ke banyak tempat yang menyenangkan bagi kita bertiga."


"Nanti kalau mau pergi ke mana pun tinggal beritahu saja padaku. Aku pasti akan mengantarkan kalian walaupun jaraknya jauh."


"Tidak jauh. Yang terpenting bagiku kita bertiga selalu bahagia saja sudah lebih dari cukup. Lebih baik sekarang kamu fokus mempersiapkan persidanganmu besok."


"Sayang, doakanku supaya besok aku memenangkan persidangannya," ucapnya melekatkan tanganku pada dadanya.


"Aku yakin sekali kamu pasti memenangkannya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu."


Adrian mendekatkan wajahnya menuju wajahku membuatku terfokus pada pipinya sedikit memerah akibat terkena tamparan tadi. Spontan aku mengelus pipinya lembut.


"Pasti tadi terasa sakit sekali," ucapku gelisah.


"Sebenarnya tidak sakit. Aku sudah terbiasa terkena tamparan seperti itu," balasnya berlagak kuat.


"Aku akan mengobatimu sekarang."


Aku mengecup pipinya mendalam penuh kasih sayang dan cinta sehingga menghapus rasa sakit yang pedih dialaminya tadi. Walaupun terlihat sederhana pengobatannya, tapi pasti sangat bermakna baginya. Begitu juga aku ketika setiap kali terkena tamparan, ia pasti mengobatinya dengan kecupan penuh kasih sayang yang membuat hatiku sangat nyaman.


"Sekarang pasti sudah merasa lebih baik, 'kan."


"Vitamin darimu selalu yang terbaik dalam hidupku. Bahkan vitaminmu itu tidak bisa dinilai dengan harga karena terlalu berharga sampai aku bingung ingin memberikan harga seberapa mahal," gombalnya membelai rambutku.


"Pokoknya vitamin khusus dariku hanya untukmu. Sedangkan vitaminmu hanya boleh diberikan untukku saja."


"Mau vitamin dariku sekarang?" tawarnya mulai menyunggingkan senyuman nakalnya.


Aku mengulum senyumanku menganggukkan kepalaku. Tatapan mata kami saling bertemu satu sama lain membuat jantungku semakin berdebar-debar. Ditambah tanganku masih melekat pada dadanya bisa merasakan detak jantungnya juga berdebar saat ini, pipiku semakin merah merona.


DUARRR


Tiba-tiba di saat momen kemesraan kami diganggu oleh suara petir cukup keras hingga membuatku sedikit ketakutan lalu spontan memeluknya erat hingga terbaring di atas sofa. Posisi tubuhku saat ini menimpa tubuhnya.


"Sayang, kamu masih ketakutan? Maukah kita di kamar saja?" tanyanya sangat mencemaskanku.


"Tidak perlu. Sekarang aku sudah tidak ketakutan lagi karena kamu sedang menemaniku," jawabku tersenyum girang.


Adrian mendaratkan kecupan manisnya pada pipiku sambil mempererat pelukannya.


"Vitamin tadi belum sempat aku berikan padamu. Anggap saja vitamin dariku ini tidak akan membuatmu ketakutan lagi yang menandakan aku akan selalu hadir dalam hatimu setiap saat."


"Mmm berarti bisa dikatakan vitamin darimu bertambah satu lagi, yaitu vitamin penghilang rasa takut."


"Sayang, ternyata vitaminku sungguh serba guna bagimu. Banyak sekali kegunaan vitaminku sejak kita berpacaran dulu."


"Maka dari itu aku paling suka menikmati vitaminmu dibandingkan vitamin yang biasa dijual di toko obat."


Adrian menyunggingkan senyuman nakal semakin memajukan wajahnya mendekatiku.


"Vitaminku masih banyak di dalam tubuhku. Aku ingin menyalurkan semua vitaminku untukmu."


"Ish nanti kamu tidak bertenaga besok."


"Bodoh amat!"


"Besok aku ingin kamu belikan cokelat untukku," rayuku mengedipkan mataku berlagak imut.


"Baiklah setelah selesai persidangannya, aku akan belikan cokelat kesukaanmu yang banyak. Sekalian untukku juga," patuhnya mengedipkan mata kirinya padaku.


Suara petirnya sangat menggangguku dari tadi. Adrian berinisiatid menutup kedua telingaku dengan telapak tangannya.


"Aku tahu sebenarnya kamu masih ketakutan. Makanya aku menutup telingamu saja."


"Lebih cenderung sedikit ketakutan sih," balasku tertawa kecil.


"Melihat tingkahmu sekarang, aku jadi merindukan anak kita. Biasanya ketika sedang ada petir begini, Victoria sangat ketakutan dan terus memelukku erat."


"Aku sangat mencemaskannya sekarang. Apa mungkin ibu bisa membuatnya tidak ketakutan ya? Biasanya hanya kita berdua yang bisa membuatnya tenang. Rasanya aku ingin melihat wajahnya sekarang juga."


Adrian semakin mempererat pelukannya sambil mengusap kepalaku lembut.


"Aku yakin ibu pasti bisa merawatnya dengan baik."


"Sayang, tubuhmu membuatku hangat sekarang," ucapku manja


"Memang aku ini sangat cocok menjadi selimut untukmu."


"Sebagai gantinya aku ingin membuatkan cokelat panas untukmu. Tapi kamu harus menemaniku."


"Baiklah, Sayang. Kalau begitu aku terus menempel padamu supaya kamu tidak ketakutan."


Kami berdua beranjak dari sofa menghampiri pantry saling bergandengan tangan. Aku mengambil cokelat batangan, susu, dan juga bahan lainnya menaruh di atas meja. Di saat aku sedang mengaduk cokelat dan susu, Adrian melingkarkan kedua tangannya pada perutku dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada pundakku.


"Sayang ..." lirihku.


"Kamu fokus saja, Sayang. Aku memelukmu supaya kamu tidak ketakutan."


"Memang kamu suamiku yang terbaik."


Beberapa saat kemudian, aku mematikan kompornya lalu menuangkan cokelat panasnya ke dalam gelas. Usai itu kami berdua kembali menduduki sofa sambil menikmati minuman cokelat panas buatanku. Adrian mendekapku hangat membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya.


"Bagaimana rasanya?" tanyaku padanya.


"Manis sepertimu, Sayang," jawabnya mengecup pipiku sekilas.

__ADS_1


"Kamu bisa saja berkata seperti itu."


"Apalagi dibuatkan spesial oleh istriku, rasanya juga paling istimewa di antara semua cokelat panas di dunia ini."


"Karena aku sudah membuatkanmu cokelat panas dan kamu menerima banyak vitamin dariku, besok kamu harus bersemangat menghadapi sidangnya." Aku mengelus pipinya lembut.


"Tentu saja, Sayang. Selain itu kamu selalu saja menggodaku minum sampai belepotan begini." Adrian mengusap bercak cokelat melekat pada sudut bibirku dengan jari jempolnya.


"Ish padahal aku tidak sengaja minum sampai belepotan!"


"Aku paling suka melihatmu seperti ini, Sayang."


Keesokan harinya adalah hari yang paling kutunggu bagi kami berdua. Akhirnya kasus memberatkan ini berakhir juga sehingga kami tidak perlu mencemaskan terjadi sesuatu yang aneh lagi. Hari ini merupakan persidangan pengacara Leonard dan kepala jaksa Henry. Namun untuk kasusnya kepala jaksa Henry dipegang oleh Yohanes karena ia cukup andal dalam menangani persidangannya sedangkan Adrian tetap menangani pengacara Leonard.


Sebelum memasuki gedung pengadilan, aku dan Adrian masih berada di dalam mobil mempersiapkan diri dulu. Sudah kupastikan semua saksi bisa hadir dalam persidangan sehingga Adrian dapat memenangkannya. Ketika ia ingin membuka pintu mobilnya, aku menahan tangannya dulu.


"Tunggu, Sayang!" tegurku.


"Kenapa? Apa penampilanku sekarang masih belum terlihat keren?" tanyanya sambil membenarkan dasinya.


"Memang kamu tidak peka sama sekali! Aku lelah denganmu!"


Adrian menyunggingkan senyuman nakal memajukan kepalanya.


"Aku butuh vitamin penyemangat darimu, Sayang."


"Untung saja kamu masih peka."


Aku menyentuh pelipisnya dengan kedua tanganku mencium pipinya lembut dan mendalam supaya energi dari tubuhku membangkitkan semangatnya. Adrian juga tidak mau kalah dariku mencium puncak kepalaku mendalam selama beberapa detik lalu memelukku erat.


"Terima kasih, Sayang. Sekarang rasanya aku sangat bersemangat untuk mengakhiri semua ini," ucapnya tersenyum ceria.


"Energi dariku jangan dibuang sia-sia, ya. Kamu harus memanfaatkannya dengan baik."


"Ayo, kita masuk sekarang!" ajaknya penuh bersemangat menggenggam tanganku erat.


Kami berdua memasuki gedung pengadilannya bersama lalu berpencar ketika ingin memasuki ruang sidangnya. Aku menempati bangku kosong di paling depan merupakan tempat yang sangat bagus untuk memandangnya dengan jelas selama persidangan berlangsung. Tak lama kemudian semua anggota timku tiba di sini lalu menempati bangku tepat di sebelahku.


"Apa kamu gugup?" tanya Fina.


"Tidak sama sekali. Aku percaya Adrian pasti akan memenangkannya." Aku mengangkat kepalaku berlagak sombong melipat kedua tanganku di dada.


"Kalau yang namanya Adrian, aku yakin dia pasti bisa nih. Aku juga sangat mendukungnya," lontar Tania.


"Kenapa kamu malah membela suami orang?" tanya Nathan dengan nada cemburu.


"Memang benar kan Adrian selalu yang terbaik."


"Hati-hati, Nathan! Nanti istrimu bisa tiba-tiba menyukainya lho," ujar Hans memperingatkannya.


"Hei, Hans! Jangan pernah menghasut suamiku, ya! Aku sudah pasti tetap mencintainya sepenuh hatiku," tegur Tania sambil merangkul tangan suaminya.


"Aku juga percaya bahwa istriku tetap mencintaiku walaupun ada pria lain yang lebih baik dariku," sambung Nathan tersenyum lebar.


"Ish sudahlah kalian berisik sekali sih di ruang sidang! Kalian membuatku malu saja!" tegurku mengerucutkan bibirku.


Mereka semua hening sejenak kembali bersikap seperti orang normal lagi. Tak lama kemudian, Yohanes menampakkan dirinya di sini menghampiriku.


"Boleh nih." Fina menggeser tubuhnya memberikan tempat untuk Yohanes menduduki bangkunya. Sehingga orang yang duduk tepat di sebelahku adalah Yohanes.


Yohanes mendekatkan wajahnya pada daun telingaku.


"Apa kamu sudah siap melihat suamimu yang keren?"


"Dia selalu tampil keren setiap saat. Ditambah melihatnya berargumen dalam persidangan semakin tampan wajahnya," jawabku terngiang-ngiang dengan senyuman mengambang.


Adrian beserta pengacara yang akan berargumen dalam persidangan memasuki ruangan ini lalu menempati tempatnya masing-masing. Tatapan matanya ketika memandang Yohanes yang duduk tepat di sebelahku langsung menajam seperti silet.


'*K*enapa harus dia yang duduk di sebelah istriku! Memang Fina tidak bisa diandalkan malahan duduknya berjauhan dengannya!' gumamnya dalam hati.


Tatapan mataku menoleh pada Adrian, mengukir senyuman khasku lalu mengepalkan tangan kananku mengisyaratkan untuk memberikan semangat. Ia membalasku dengan mengedipkan mata kirinya tersenyum hangat padaku.


'Penny, percayakan saja sepenuhnya padaku. Aku akan membawakan kemenangan untuk kita hari ini,' gumamnya dalam hati.


Para hakim yang memimpin dalam persidangan memasuki ruang sidang ini menempati tempatnya. Lalu semua pengunjung dalam ruangan berdiri sejenak memberikan penghormatan terlebih dahulu sebelum memulainya. Usai memberikan penghormatan, semuanya kembali duduk lalu kepala hakim memberikan aba-abanya.


"Jaksa penuntut, silakan dimulai memberikan pernyatannya."


"Tanggal 10 April ditemukan dua mayat wanita telah membusuk yang merupakan pelajar SMA dari Felicity High School. Kedua korban memiliki luka sayatan sama pada perutnya dengan tusukan sebanyak lima kali sehingga merobek ususnya beserta leher korban juga memiliki luka memar yang cukup parah. Menurut hasil autopsi dari tim forensik, korban dicekik oleh terdakwa sampai susah bernapas sambil ditusuk secara kejam," ucap Adrian mulai berfokus pada persidangannya.


"Wah parah sekali pembunuhnya! Memang dia tidak pantas hidup!" Semua orang dalam ruangan ini sibuk membisikkan mengenai pembunuhnya.


"Tidak hanya itu saja. Terdakwa juga membunuh para pelajar SMA lainnya di sebuah gedung kelas tambahan lalu membakar gedungnya untuk menutupi jejak pembunuhannya. Sama seperti korban sebelumnya pola pembunuhannya dilakukan sama persis. Terdakwa mengambil foto, ponsel, name tag, dan juga kartu pelajar korban disimpan untuk dijadikan sebagai cinderamata. Kemudian terdakwa juga membunuh korban lainnya yang merupakan saksi mata dari kejadian pembakaran gedung tersebut lalu mengambil semua barang yang sama seperti korban sebelumnya. Menurut dokter yang menanganinya, terdakwa memiliki gangguan jiwa dissociative identity disorder atau biasa dikenal dengan kepribadian ganda," lanjut Adrian.


"Tapi bukan berarti terdakwa melakukan kesalahannya secara langsung," balas sang pengacara.


"Walaupun itu tidak secara langsung, namun menurut pernyataan beberapa saksi mata dan juga semua bukti yang didapatkan bahwa sidik jari terdakwa memang ditemukan di sana. Memang kepribadiannya yang lain melakukan aksi pembunuhannya tapi tetap saja kita harus mengikuti prosedur hukum," lontar Adrian.


"Wah memang sungguh tidak bisa dimaafkan. Orang tidak waras harus dihukum di penjara!" Semua orang kembali menggosipkannya lagi dari belakang hingga membuat suasana dalam ruangan ini mulai berisik.


Lalu kepala hakim secara spontan mengetuk palunya supaya suasana kembali hening seperti semula.


"Silakan dilanjutkan, Jaksa penuntut."


"Terdakwa sengaja melakukan penyamaran sebagai wali lalu mengirimkan email kepada wali kelas yang berisi surat keterangan pindah sekolah ke luar negeri. Diketahui terdakwa memiliki penyakit gangguan jiwa begini akibat trauma yang dialaminya di masa lalu dan juga tidak rela hidup berpisah dengan para korban yang merupakan teman lamanya saat tinggal di panti asuhan saat usianya masih remaja," lanjut Adrian berlagak professional lagi.


"Keberatan Yang Mulia! Jaksa penuntut menyampaikan pernyataannya di luar dari perkaranya," bantah sang pengacara.


"Keberatan ditolak," balas kepala hakim.


"Yang Mulia, saya akan memanggil seorang saksi merupakan seorang psikiater yang selama ini menangani terdakwa sejak mengidap penyakitnya," ujar Adrian.


"Silakan."


Dokter Jesslyn menduduki kursi saksinya dengan tegak mengangkat kepalanya percaya diri walaupun sebenarnya ia sedikit merasa bersalah harus merelakan pasien yang dirawatnya dalam waktu lama. Sebelum memulai melontarkan pernyataannya, ia mengucapkan sumpah saksi terlebih dahulu.


"Saksi, apakah benar Anda merawat terdakwa sejak beberapa tahun yang lalu?" selidik Adrian tatapan serius.


"Iya benar. Terdakwa memang memiliki trauma yang menakutkan hingga dirinya sekarang mengidap penyakit langka. Kalau terdakwa tidak bisa mengendalikan dirinya, maka dirinya yang lain akan muncul tiba-tiba."

__ADS_1


"Yang Mulia, ini bukti rekam medis bahwa terdakwa mengidap penyakitnya," ujar Adrian memperlihatkannya pada layar monitor.


"Keberatan Yang Mulia! Jaksa penuntut semakin lama menyampaikan argumennya di luar perkara!" bantah sang pengacara lagi.


"Pembela, apakah Anda memiliki buktinya?" tanya kepala hakim.


Sang pengacara menghela napasnya pasrah.


"Tidak ada, Yang Mulia."


"Kalau begitu keberatan ditolak. Jaksa penuntut, silakan lanjutkan," pinta kepala hakim.


"Saya akan memanggil seorang saksi lagi yang merupakan bartender di sebuah klub malam tempat para korban biasanya menghabiskan waktu luang di sana," tutur Adrian.


"Silakan."


Patrick menduduki kursi saksinya lalu mengucapkan sumpahnya dulu.


"Saksi, tolong jelaskan kejadian saat korban bernama Gracia disiksa oleh terdakwa malam itu," titah Adrian.


"Waktu itu saya melihatnya dibawa paksa oleh terdakwa keluar dari klub maka dari itu saya memutuskan untuk mengikutinya dari belakang karena tidak seperti biasanya korban diperlakukan kasar. Saat saya berada di luar gedung, saya mengamati korban dipukul oleh terdakwa secara kejam," jelas Patrick.


"Apakah Anda memiliki buktinya, jaksa penuntut?" tanya kepala hakim.


"Saya memiliki rekaman CCTV membuktikan terdakwa selama ini mengunjungi klub malam tersebut untuk menguntit para korban yang dibunuhnya," ujarnya sambil memperlihatkan rekaman CCTV.


Sementara selama persidangan berlangsung, aku hanya bisa duduk diam berdoa demi kelancaran sidang ini. Batinku selalu menyemangatinya diam-diam walaupun ia sama sekali tidak mengetahuinya. Karena insting hati kami berdua saling melekat kuat sehingga isi hatiku sekarang pasti tersampaikan pada hatinya sekarang.


Usai persidangan berlangsung dalam waktu hampir dua jam, kini hakim memutuskan hasil akhir dari persidangannya.


"Terdakwa Leonard Philip melakukan penyiksaan terhadap para pelajar SMA lalu membunuhnya secara kejam. Selain itu terdakwa juga melakukan pembunuhan terhadap seorang saksi mata yang menyaksikan kejadian pembakaran gedung dan juga terdakwa melakukan pembakaran gedung merusak properti tempat demi menutupi jejak kejahatannya. Selain itu terdakwa juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap jaksa penuntut Adrian Christopher, jaksa Yohanes Harrington beserta kepala detektif Penny Patterson. Maka dari itu, atas perbuatan kejamnya terhadap para korban, hak pengacara terdakwa dicabut beserta diberi hukuman penjara seumur hidupnya," papar kepala hakim mengetuk palunya tiga kali.


Tok...tok...tok...


Petugas kepolisian menuntun pengacara Leonard keluar dari ruang sidang ini. Sebelum itu, ia menghentikan langkah kakinya menatapku dengan ramah menganggukkan kepalanya. Aku membalasnya dengan tatapan ramah juga. Baru kali ini ada tersangka yang mengakui kejahatannya walaupun sebenarnya bukan perbuatannya secara tidak langsung. Sebenarnya aku merasa kasihan padanya karena di usianya masih tergolong muda harus membusuk di balik jeruji besi.


Namun sekarang aku tidak ingin berfokus padanya lagi. Setelah persidangannya selesai dengan lancar, masih ada satu persidangan lagi yang harus kuhadiri bersama semua anggota timku. Kini giliran Yohanes yang maju berlagak sebagai seorang jaksa professional untuk menuntut perkara yang dilakukan kepala jaksa Henry.


Sebelum memulai persidangannya, dengan wajah santainya Adrian menggenggam tanganku erat lalu mendekatkan bibirnya pada daun telingaku.


"Sayang, tadi saat sebelum mulai sidangnya, apa yang kamu bicarakan dengan Yohanes?" bisiknya.


"Tidak ada sesuatu yang penting," jawabku datar sambil terfokus pada Yohanes.


"Ayolah tadi sepertinya kalian membicarakan sesuatu yang seru!"


"Ish bisa tidak sih jangan bertingkah manja di sini! Kamu membuatku malu saja!"


"Kalau kamu tidak ingin memberitahuku, maka aku akan lebih manja lagi."


Saat yang bersamaan, para hakim yang menangani persidangan ini memasuki ruang sidangnya menempati tempat yang telah disediakan. Usai memberikan penghormatan, Yohanes memulai memberikan pernyataannya terlebih dahulu.


"Terdakwa Henry melakukan perbuatan tercela yaitu melakukan penggelapan dana sejak dirinya menjabat sebagai kepala jaksa. Dana yang telah dikumpulkan disimpan olehnya di dalam ruang penyimpanan rahasia rumahnya. Sedangkan buku rekening rahasianya beserta dokumen asli mengenai anak yang diadopsinya disimpan dalam sebuah hotel. Terdakwa memalsukan identitas anak itu secara ilegal," tutur Yohanes berlagak seperti jaksa professional.


Disela persidangan berlangsung, Adrian membisikkan sesuatu kepadaku lagi.


"Bagaimana, Sayang? Lebih keren aku atau Yohanes kalau sedang berargumen di depan?" tanyanya tersenyum nakal.


"Hmm siapa, ya." Aku sengaja menjawabnya dengan ragu membuatnya sedikit kesal padaku.


"Jangan bilang Yohanes terlihat lebih keren daripada aku."


"Tentu saja kamu yang paling keren," ungkapku girang.


"Karena aku selalu keren saat persidangan, kamu semakin cinta padaku."


Selama persidangan berlangsung, semuanya berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala. Kepala jaksa Henry terlihat pasrah di kursi terdakwa dengan wajahnya yang kusut. Saat persidangan berakhir, kepala hakim menyampaikan tuntutan akhir atas perbuatannya.


"Terdakwa Henry Rio melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang kepala jaksa yaitu melakukan penggelapan dana lalu memalsukan identitas orang secara ilegal serta bersekongkol dengan pelaku kejahatan kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini. Maka dari itu, jabatan yang dimiliki terdakwa dicabut dan juga terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama 30 tahun," tutur kepala hakim mengetuk palunya.


Tok...tok...tok...


Di saat petugas kepolisian menuntun kepala jaksa Henry keluar dari ruang sidangnya, ia memelototiku dan Adrian dengan kesal.


"Awas kamu, jaksa Adrian! Akan aku balas perbuatanmu itu!" ancamnya.


Namun semua orang di sana fokus menggosipkan kejelekannya dan menertawainya. Sementara Adrian berlagak percaya diri melipat kedua tangannya di dada.


"Sudah kubilang berulang kali, kamu akan kalah dariku suatu hari nanti," lontar Adrian tersenyum cerdas.


Kepala jaksa Henry mengepalkan tangannya ingin menyerang Adrian namun ditahan oleh dua petugas kepolisian langsung menuntunnya paksa keluar dari ruangan ini.


Sekarang hidup kami berdua kembali tenang lagi. Kebusukan kepala jaksa Henry sudah menyebar luas di segala media sosial berkat artikel yang ditulis Reporter Yulia sehingga kini menjadi trending topik. Sebenarnya sebelum persidangan berlangsung, aku sempat meminta bantuannya menulis artikel lalu mempostingnya di publik.


Di luar gedung pengadilan, Adrian menggendongku tiba-tiba sambil berputar-putar dengan gelak tawa bahagia. Begitu juga aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya ikut tertawa bahagia bersamanya untuk merayakan kemenangan kami.


"Kita berhasil, Sayang!" soraknya heboh.


"Tentu saja kita pasti berhasil berkat penampilanmu yang keren tadi."


"Ini juga berkat vitamin penyemangatku yang sangat cerdas. Akhirnya aku bisa bermain denganmu dan Victoria sampai sepuasnya. Aku sudah menantikan ini sejak lama."


"Sayang, aku rindu sekali bermain bersamamu."


"Ehem...ehem..."


Semua anggota timku berdeham tampak risih melihat kemesraan kami berdua.


Aku dan Adrian baru menyadari masih ada kehadiran semua anggota timku langsung kembali bertingkah seperti orang normal lagi. Adrian dengan sigap menurunkanku lalu membenarkan jas kerjanya.


"Aku tahu kalian memang bahagia karena bisa bermesraan lagi tapi ini di luar gedung pengadilan. Kalian tidak boleh melakukannya di sini," tegur Hans tegas.


"Ish kenapa kamu yang mengatur kami!" ketus Adrian menatap tajam.


"Sudahlah daripada kita berdebat di sini, bagaimana kalau kita makan bersama untuk merayakan kemenangan?" ajak Nathan.


"Betul nih. Aku juga ingin makan bersama kalian," jawab Tania girang.


"Kalau aku sih tentu saja mau," balas Fina.

__ADS_1


"Aku sudah pasti iya. Tapi kalau pasangan yang satu ini sepertinya tidak mau deh," sindir Hans berkacak pinggang.


__ADS_2