
Setibanya di kantor, aku langsung memanggil semua anggota timku berkumpul di ruang rapat. Kali ini rapatnya mengenai pernyataannya Fiona semalam itu.
"Aduh pusing!" keluhku sambil memijit pelipisku.
"Ada apa, Penny? Tidak biasanya kamu seperti ini," tanya Fina bingung sambil berkacak pinggang.
"Menurut kalian, mungkin tidak sih kalau sang ibu tega membunuh anaknya sendiri. Apalagi anaknya itu merupakan anak satu-satunya di keluarganya dan selalu dimanjakan sejak kecil," pikirku kembali fokus hingga dahiku berkerut.
"Menurutku tidak mungkin," balas Nathan cepat.
"Tuh benar, 'kan. Mungkin benturan kepalanya Fiona cukup keras jadinya dia salah mengingatnya."
"Memangnya dia bilang bahwa ibunya yang berusaha membunuhnya?" tanya Hans penasaran.
"Tapi menurutku bisa saja ibunya pelakunya," papar Fina dengan tatapan serius sambil bertopang dagu.
"Kenapa begitu?" tanya Hans.
"Bisa jadi ibunya membohongi kita semua. Kalau misalnya ibunya sangat menyayangi anaknya, mana mungkin Fiona main sembarangan menuduh ibunya seperti itu. Pasti ada sesuatu di antara mereka berdua. Walaupun benturan kepalanya cukup kuat, pasti Fiona tidak akan menuduh seorang ibu yang sangat menyayanginya."
Memang Fina paling bisa diandalkan di antara semua anggota timku. Sejak dulu otaknya selalu cerdik dan pintar memainkan kata.
"Benar juga, Fina. Kamu memang yang paling cerdas di antara semua sejak dulu," pujiku terkagum mengacungkan jempol padanya.
"Aku jadi malu nih," balas Fina tersipu malu.
"Memang Finaku detektif paling cerdas," puji Hans mengelus kepalanya Fina.
"Oh, jadi atasanmu ini bukan detektif paling cerdas! Awas kamu, Hans!" protesku sedikit mengancamnya menatap Hans dengan tajam.
Fina menggelengkan kepalanya dan tersenyum sendiri melihat tingkah kekasihnya. Lalu Fina merangkul tangannya Hans dengan manja.
"Finaku? Aduh Hans, kamu buat moodku hari ini semakin baik deh," rayunya manis.
"Ehem! Ingat kalian jangan sampai berlebihan. Ini di kantor, kalian harus mengingat situasi!" tegurku dengan tegas.
"Iya aku tahu, Penny," sahut Hans memutar bola matanya bermalasan.
"Hans, tolong buatkan aku kopi!" pinta Fina mengedipkan matanya berlagak imut.
"Siap! Demi Finaku," sahut Hans sambil mencubit pipi Fina lembut.
Sedangkan aku menatap mereka berdua dengan iri. Kemarin Nathan dan Tania yang bermesraan di hadapanku, hari ini giliran Fina dan Hans yang bermesraan. Sepertinya belakangan ini aku sedang diberi ujian sangat berat. Tapi tidak masalah, yang terpenting Adrian membuatkan kopi spesial untukku.
Aku mengambil botol minumku lalu meneguk kopinya menikmatinya secara perlahan sambil memejamkan mataku. Menurutku kopi buatan sendiri yang berarti dibuat dari biji kopi lebih nikmat rasanya dibandingkan kopi instan apalagi dibuat oleh suami tercintaku sendiri.
"Mmm enaknya kopinya," ucapku dengan nada godaan sengaja membuat mereka iri.
"Ah, paling itu kopi instan!" sindir Hans asal bicara.
"Kamu main sembarang kasih kesimpulan saja! Ini bukan kopi instan! Ini dari biji kopi asli, Adrian yang membuatkannya spesial untukku!" bentakku balik meninggikan nada bicaraku.
"Adrian yang buat sendiri? Aduh aku jadi iri nih!" keluh Fina memanyunkan bibirnya.
"Hmm masa sih dari biji kopi asli? Aku masih tidak percaya." Hans bergeming menyipitkan matanya menatapku curiga.
"Kamu bisa buat kopi dari biji kopi tidak?" tanyaku sedikit meledeknya melipat kedua tanganku di depan dada.
Helaan napas lesuh dihembuskan dari mulutnya setelah mendengar sindiranku barusan. Memang ia harus diberi pelajaran supaya tidak menyombongkan dirinya terus.
"Aku ... tidak bisa," jawabnya dengan lemas.
"Maka dari itu, lain kali jangan berlagak sombong. Hanya Adrian yang bisa membuatkan kopi spesial ini untukku. Dia adalah satu-satunya suami paling sempurna di mataku," celotehku kini giliran aku yang berlagak sombong di hadapannya.
"Sudahlah sekarang kita kembali bekerja lagi. Mungkin kita harus menanyakan ayahnya Fiona mengenai keadaan keluarganya selama ini," usul Fina mengalihkan pembicaraannya dengan nada kesalnya karena aku membuatnya semakin iri.
"Nanti siang kita harus mengunjungi rumah sakit lagi. Seperti biasa kamu ikut denganku, Fina," ajakku menepuk pundaknya.
"Kamu selalu mengajakku karena aku detektif yang paling cerdas, 'kan," sahutnya berlagak sombong.
"Iya saja deh," balasku terpaksa.
drrt...drrt...
Ponselku bergetar tiba-tiba, aku menaruh botol minumku di atas meja dan langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo Sayang, nanti siang kamu sibuk tidak?"
"Hmm sebenarnya sih nanti aku mau mengunjungi rumah sakit lagi."
"Yah! Padahal aku berencana mengajakmu makan siang bersama. Kebetulan hari ini aku tidak terlalu sibuk. Aku ingin sesekali makan bersamamu di saat jam kerja."
"Kalau begitu nanti kita makan bersama saja."
"Kamu serius? Bukankah kamu harus mengunjungi rumah sakit?"
"Bukan sesuatu yang mendesak juga. Aku lebih memilih makan siang bersamamu dibandingkan makan bersama anggota timku yang selalu membuatku iri." Aku mengucapkan itu sambil menatap mereka semua dengan tajam.
"Baiklah kalau begitu nanti kita makan di restoran tempat biasanya kita nongkrong."
__ADS_1
"Aku mengerti. Aku akan menunggumu di sana nanti, sampai bertemu nanti, Sayang."
Aku mengakhiri pembicaraan itu dan menutup panggilan teleponnya. Kembali lagi fokus pada rapat ini. Mereka semua menatapku kesal.
"Kenapa kalian menatapku begitu?" tanyaku sedikit gugup.
"Jadinya kamu mau ke rumah sakit atau mau makan siang bersama suamimu?" tanya Fina balik sambil berkacak pinggang mempertegasnya.
"Nanti kita jadi ke rumah sakit. Aku makan siang dulu bersama Adrian setelah itu baru ke rumah sakit."
"Penny tega sekali tidak mau makan siang bersama kita," ketus Hans dengan nada ngambek.
"Kalian semua yang mulai duluan membuatku iri terus. Jadi ini sebagai hukumannya aku tidak mau makan bersama kalian lagi. Kalian harus rasakan akibatnya sesekali!"
"Yah Penny gitu!" ketus Nathan sangat kecewa.
"Kan aku punya hak juga makan bersama suamiku. Lebih baik aku bermesraan dengannya di luar kantor daripada kalian tidak tahu diri bermesraan di sini selama 2 hari berturut-turut!"
"Tapi--"
"Sudahlah sekarang kembali bekerja!" tegasku.
Siang harinya, waktu yang kutunggu-tunggu akhirnya aku bisa makan siang bersama Adrian. Aku langsung keluar dari kantor menuju mobilku tanpa berpamitan dengan anggota timku. Setibanya di restoran itu, aku memilih tempat duduk yang bagus dulu yaitu tempat duduk dekat jendela. Aku terus menatap jam tanganku sambil menunggu kedatangannya. Sambil menunggunya, aku memesan makanannya terlebih dahulu.
drrt...drrt...
Ponselku bergetar lagi.
"Halo Sayang, apa kamu sudah sampai di sana?"
"Aku sudah sampai di sini sekitar lima menit yang lalu sih."
"Aduh gimana, ya! Aku sedang terjebak macet di jalan. Nanti kamu bisa menungguku lama."
"Tidak masalah, Sayang. Aku pasti akan menunggumu. Aku juga baru memesan makanannya."
"Maaf, ya, aku membuatmu menunggu lama."
"Sudahlah kamu fokus menyetirnya saja. Aku tutup teleponnya dulu, ya."
Aku menaruh kembali ponselku ke dalam saku blazerku dan lanjut menunggunya lagi. Tiba-tiba ada seseorang yang menutup kedua mataku dari belakang.
"Tebak ini siapa?"
"Tentu saja suamiku yang mengajakku makan siang bersama," jawabku langsung, karena aku tahu ia pasti menjahiliku dan sengaja membohongiku tadi.
Adrian melepas kedua tangannya lalu duduk berhadapan denganku.
"Karena hanya kamu satu-satunya pria yang mengajakku makan bersama dan juga paling usil."
"Yah tidak seru deh jadinya!"
"Maka dari itu, jangan iseng padaku terus."
"Tapi kalau seandainya aku sungguh terjebak macet, kamu masih mau menungguku?"
"Tentu saja aku pasti akan selalu menunggumu walaupun harus menunggu satu jam. Lebih baik menunggu lama dibandingkan makan bersama temanku yang tidak tahu diri."
"Kasihan kesayanganku ini. Tenang saja karena sekarang kita sudah bersama jadi manfaatkan waktu untuk bermesraan," ucapnya sambil mengelus kepalaku.
"Kamu tahu tidak? Tadi saat aku minum kopi spesial buatanmu itu, Hans bilang kalau itu terbuat dari kopi instan."
"Apa? Beraninya dia menyamakan kopi berkualitas dengan kopi instan! Padahal aku susah payah membuatkannya untukmu."
"Tenang saja. Aku bahkan berhasil membuat Fina iri hahaha."
"Nakal sekali sih istriku ini." Adrian mencubit pipiku lembut.
"Aku selalu menganggap suamiku ini paling sempurna dan tidak ada satu pun pria yang bisa mengalahkanmu."
Adrian menyentuh kedua telapak tanganku sambil mengelusnya pelan.
"Kamu juga selalu sempurna di mataku, Sayang. Dari ujung kepala sampai ujung kaki tidak ada satu pun kekurangan darimu."
"Sudah cukup gombalannya, Sayang!"
Pelayan restoran itu menghidangkan pesanan makanan yang aku pesan tadi di tengah pembicaraan kami. Aku mencium aroma makanannya membuatku semakin lapar dan langsung menikmatinya melahap.
"Sudahlah aku mau makan dulu, perutku sudah lapar nih," ucapku sambil melahap makanannya.
Adrian menggelengkan kepalanya sambil menyeka bercak minyak yang belepotan pada sudut bibir merahku tanpa sapu tangannya.
"Ada satu kekuranganmu. Kamu selalu saja makan belepotan," ucapnya sambil menghisap jempolnya bekas tadi menyeka sudut bibirku.
"Ih kamu juga sama saja jorok! Selalu saja tidak cuci tangan! Inilah kekuranganmu!"
"Kok jadi main nuduh kekurangan sih?"
"Lagi pula siapa yang mulai duluan!"
__ADS_1
"Sudahlah aku malas berdebat denganmu terus!"
"Sayang, ayolah jangan ngambek padaku!" rengekku manja.
"Aku tidak ngambek. Aku hanya malas berdebat, karena momen seperti ini seharusnya aku sibuk bermesraan denganmu, Sayang."
"Nah kalau tahu itu, sebaiknya kita bersikap manis saja."
"Kalau perlu, aku ingin bersamamu sekitar satu jam atau lebih," lontarnya santai menyunggingkan senyuman nakalnya.
"Saayaang!"
"Aku hanya bercanda, Sayang. Lagi pula kita harus kembali bekerja lagi." Adrian menghela napasnya lesuh.
"Tenang saja, nanti malam kita bisa bermesraan lagi sampai sepuasnya."
Setelah makan siang, aku harus berpisah dengannya lagi dan kembali bekerja padahal aku belum puas bersamanya. Aku kembali ke kantor polisi untuk menjemput Fina sesuai dengan janjiku tadi. Setibanya di sana, hanya ada ayahnya Fiona yang sedang membesuk anaknya. Sedangkan Fiona sedang tertidur pulas jadinya ini kesempatan yang baik untuk menanyakannya.
"Permisi, bolehkah saya berbicara dengan Anda sebentar?" tanyaku tersenyum ramah.
"Boleh saja. Sebaiknya kita jangan membicarakannya di sini."
Lalu aku mengajaknya membicarakannya di luar kamarnya Fiona. Kami duduk di sebuah bangku kosong panjang sambil menyantap kopi yang kubeli dari mesin pembuat kopi.
"Ini untuk Anda," ucapku sambil memberikan segelas kopinya.
"Terima kasih," sahutnya.
"Kalau boleh tahu nama Anda siapa?" tanyaku dengan baik.
"Saya Celio."
"Senang berkenalan dengan Anda, Pak Celio. Saya Detektif Penny. Maaf jika kemarin saya belum memperkenalkan diri saya dengan benar."
"Tidak apa-apa. Lalu yang duduk di sebelah Anda itu teman Anda juga?" tanya Pak Celio sambil menunjuk Fina.
"Saya Detektif Fina. Senang berkenalan dengan Anda," balas Fina sopan berjabat tangan dengan Pak Celio.
"Maaf jika pertanyaan saya agak lancang bagi Anda. Tapi bolehkah Anda sedikit bercerita tentang keluarga Anda? Karena mengenai pernyataan anak Anda semalam, tidak cukup membuktikan istri Anda melakukan kejahatan seperti itu," titahku dengan baik.
"Sebenarnya semalam saya sangat kaget ketika Fiona tiba-tiba menuduh istri saya yang mencoba membunuhnya. Padahal menurutku, istri saya itu wanita yang terbaik di antara semua wanita di dunia ini. Dia sangat menyayangi Fiona sampai rela bekerja keras demi putrinya. Margareth sama sekali tidak pernah memarahi Fiona bahkan ketika Fiona melakukan sedikit kesalahan, dia pasti akan memaafkannya. Margareth merupakan sosok wanita yang berhati lembut," terang Pak Celio panjang lebar.
Ketika aku mendengar perkataannya barusan, aku merasa ada sesuatu yang sangat janggal dengannya. Kalau Pak Celio menganggap keluarganya baik-baik saja selama ini, kenapa penampilannya sangat kusut? Kantung matanya yang membesar, rambut yang acak-acakkan, dan juga tubuhnya kurus sekali seperti kekurangan gizi. Aku sangat yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikannya. Selain itu, ia tidak berani menatapku sepenuhnya dan cara bicaranya seperti tidak ada harapan hidup.
"Begitu rupanya," sahut Fina datar.
"Tapi apakah Anda sedang tidak enak badan? Wajah Anda terlihat lesuh sekali," tanyaku berbasa basi.
"Iya selama ini saya bekerja keras jadinya tubuhku sedikit kelelahan. Tapi karena putri saya sedang sakit jadinya saya ajukan cuti untuk sementara waktu."
Aku melihat tangannya gemetaran terus seperti tidak bisa mengendalikannya. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya. Dilihat dari keseluruhannya, ia seperti harus mengonsumsi suatu obat khusus. Ia meneguk kopinya dengan cepat.
"Permisi saya harus masuk dulu," ucapnya lalu bergegas memasuki kamar itu.
Aku dan Fina juga ikut memasuki kamarnya lagi dan menatap Pak Celio sedang mengambil sebotol obat dari tasnya. Ia mengambil segelas air putih dan sebutir tablet obat itu lalu meminumnya. Aku terus menatap botol obat itu seperti ada sesuatu yang mencurigakan. Sepertinya Pak Celio kecanduan meminum obat itu sehingga tanpa minum obat, ia seperti ingin mati rasanya.
"Setiap hari Anda mengonsumsi obat itu?" tanyaku mulai penasaran, sorot mataku tertuju pada bungkusan obatnya.
"Iya."
"Kalau boleh tahu, itu obat apa?" tanyaku lagi.
"Obat penghilang stress."
"Tapi bukankah keadaan keluarga Anda selama ini baik-baik saja?" selidik Fina dengan sinis.
"Selama ini saya bekerja keras jadinya harus mengonsumsi obat ini."
"Sepertinya putri Anda masih tertidur lelap. Kalau begitu saya tidak akan mengganggunya. Saya permisi. Mungkin kalau terjadi sesuatu, saya bisa menghubungi Anda lagi," pamitku dengan ramah.
"Baiklah. Saya pasti akan menghubungi Anda lagi demi kebaikan putri saya."
Aku dan Fina meninggalkan kamar itu kemudian berjalan menuju tempat parkir untuk kembali ke kantor. Di saat kami sedang menuju tempat parkir, sosok Bu Margareth sedang memasuki rumah sakit dengan terburu-buru. Dilihat dari tingkah lakunya seperti bukan bermaksud untuk mengunjungi putrinya. Aku mencegah Fina memasuki mobilku lalu aku menekan tombol alarm untuk mengunci mobilku lagi.
"Ada apa, Penny?" tanyanya.
"Bu Margareth, pergerakannya mencurigakan sekali." Aku menautkan kedua alisku sambil bertopang dagu.
"Maksudnya mencurigakan?"
"Dia seperti ingin bertemu dengan seseorang. Bukan anaknya sendiri. Kalau dia ingin menjenguk anaknya, dia tidak mungkin lari seperti itu."
"Kalau begitu, kita ikuti dia dari belakang!" ajak Fina langsung menggenggam tanganku.
Aku dan Fina mengintai Bu Margareth diam-diam dari belakang. Benar dugaanku, ia tidak berjalan menuju kamarnya Fiona. Melainkan ia menuju suatu ruangan. Ruangan untuk konsultasi dengan dokter. Lalu ia menghentikan langkah kakinya di depan suatu ruangan konsultasi dan langsung memasuki ruangan itu.
Aku menghampiri ruangan itu dan melihat nama dokter yang tertera di pintu ruangan itu.
"Dokter Reyhan. Hmm untuk apa Bu Margareth bertemu dengan seorang dokter?" tanya Fina mulai penasaran.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Dokter ini merupakan dokter umum. Bu Margareth padahal terlihat sehat dibandingkan dengan suaminya sendiri."
"Apa mungkin?"