Good Partner

Good Partner
S2 : Part 20 - Kaki Tangan Pelaku


__ADS_3

Aku dan seluruh anggota timku mengunjungi daerah sekitar tempat tinggalnya Pak Xavier. Pertama kali tempat yang kami kunjungi adalah minimarket terlebih dahulu untuk mengecek pemantau kamera CCTV dulu. Aku memerintahkan salah satu penjaga toko untuk memutar rekaman CCTV saat sekitar waktu sebelum insiden.


Kamera CCTV yang dimiliki minimarket ini untung saja tidak ada kendala sama sekali sehingga aku bisa melihat pergerakan pelakunya sebelum insiden itu terjadi. Selama 10 menit aku memantau kamera CCTV namun tidak ada jejak pelaku terekam dalam kamera CCTV. Seharusnya kalau mau menyerang Pak Xavier, pelakunya pasti melewati minimarket ini.


"Apa mungkin ada seseorang terlihat mencurigakan yang wajahnya ditutupi masker dan postur tubuhnya tinggi mengunjungi minimarket ini? Atau mungkin dia melewati depan minimarket dan bertingkah aneh?" tanyaku kepada penjaga minimarketnya.


"Hmm sepertinya tidak sih."


"Apa setiap pria ini mengunjungi minimarket, ada seseorang yang mengikutinya terus?" Hans memperlihatkan foto Pak Xavier kepada penjaga minimarket tersebut.


"Tidak sih. Selama ini dia pergi sendirian atau bersama dengan temannya ke sini."


"Baiklah terima kasih atas informasinya. Silakan kembali bekerja lagi," ucap Fina.


Aku mengisyaratkan seluruh anggota timku dengan menggoyangkan jari telunjukku untuk bergegas keluar dari minimarket itu mengikutiku menyelidiki jejak pembunuhannya lagi.


Aku dan seluruh anggota timku menelusuri gang kecil itu menuju rumahnya Pak Xavier. Semakin dalam gangnya, semakin sedikit orang melewati area ini. Langkah kakiku terhenti ketika mengamati sebuah bercak darah yang masih membekas di atas aspal. Karena hari masih cerah jadinya bekas darah akibat pertempuran hebat antara pelaku dan korban masih ada di sini. Jarak antara minimarket dan area ini sekitar hampir 1 kilometer, pantas saja jejak pelaku tidak terekam pada kamera CCTV minimarket. Aku memakai sarung tangan karet sambil berjongkok lalu menyentuh aspal dilumuri darah.


"Darahnya masih belum kering. Tidak salah lagi ini adalah darahnya Pak Xavier," ucapku kembali fokus pada penyelidikan.


"Tapi aku masih bingung sebenarnya. Pelakunya membawa Pak Xavier ke mana?" tanya Hans.


Aku mengamati sekelilingku menemukan sebuah jalanan bercabang yang tidak bisa dilalui mobil dan tidak ada kamera CCTV sama sekali.


"Pelakunya pasti melakukan pembunuhannya di sini tiba-tiba. Lalu Pak Xavier mungkin ingin berusaha melawannya tapi pelakunya tidak membiarkannya begitu saja dan mengikat lehernya dengan tali tambang hingga tidak bernyawa. Setelah melakukan aksi kejamnya, pelaku membawa tubuhnya melewati jalanan itu untuk melarikan diri," jelasku sambil menunjuk jalan pintas itu.


"Benar perkataanmu, Penny. Bercak darahnya tidak hanya di sini saja. Tapi ini membentuk seperti sebuah jejak!" Tania fokus mengamati bercak darahnya Pak Xavier sepanjang jalan di gang ini.


"Sepertinya kita harus kembali ke kantor lagi untuk rapat darurat." Aku beranjak melepaskan sarung tangan karetku.


Setibanya di kantor, aku dan seluruh anggota timku kembali menuju ruang kerja tim mendiskusikan penyelidikan tiga kasus kejahatan yang terjadi berturut-turut. Aku menggeser sebuah papan tulis dan juga mengambil spidol hitam untuk menggambar skemanya.


tok..tok..tok..


Terdengar suara ketukan pintu ketika aku ingin memulai rapatnya. Aku menaruh spidolnya di atas meja dan membukakan pintunya.


"Kepala detektif Penny, ada sebuah paket untukmu," ucap salah satu petugas kepolisian memberikan sebuah kotak kepadaku.


Aku mengamati kotak ini tapi anehnya tidak ada nama pengirim maupun jasa pengirimannya. Kotak ini dibungkus bersih tanpa sedikit noda. Hanya ada namaku yang tertera pada kotak ini.


"Apa kamu lihat pengirimnya?" tanyaku.


"Tidak sih. Tadi ketika aku kembali bekerja, aku menemukan kotak ini di atas meja kerjaku."


"Baiklah, terima kasih, ya. Silakan kembali bekerja," kataku sambil menutup pintunya lagi.


Aku meletakkan kotak ini di atas meja kerjaku lalu mengambil sebuah cutter untuk membuka kotaknya. Sedangkan semua anggota timku menghampiriku penasaran dengan isi kotaknya.


"Ini aneh sekali. Kenapa ada orang tiba-tiba mengirim paket untukmu?" tanya Nathan memiringkan kepalanya.


"Mungkin paketnya itu dari teman lamanya Penny yang sudah lama tidak bertemu," papar Hans mulai berpikir konyol.


"Ish kamu ini bicara apa sih! Mana mungkin teman lamanya Penny mengirimkan paket tanpa ada namanya!" hardik Fina memukuli lengannya Hans.


Aku membuka kotak ini secara perlahan dengan penuh rasa gugup lalu tersentak kaget ketika melihat isi kotaknya. Aku berteriak menjerit hingga tubuhku lemas tumbang ke lantai sambil menggigit bibir bawah.


"Penny!" pekik semua anggota timku membantuku bangkit berdiri lagi.


Dengan penuh rasa penasaran dan percaya diri, Fina mengambil kotak tersebut lalu berteriak menjerit juga ketika mengintip isi kotaknya. Secara spontan Fina langsung bersembunyi tepat di belakang Hans.


"Kenapa ... bisa ada benda mengerikan itu?" Fina bergidik ngeri menggigit bibirnya.


Sedangkan Nathan sendiri juga sebenarnya merinding melihat isi kotak tersebut berupa surat ancaman dan juga beberapa foto yang dilumuri bercak darah. Ia secara sukarela mengambilnya dan membacakan suratnya untukku.

__ADS_1


"Kalau kamu terus mencari informasi tentangku lebih dalam lagi, maka kamu tinggal tunggu saja menyaksikan banyak korban yang akan terbunuh akibat dirimu. Tidak hanya itu juga, kamu dan seluruh anggota timmu akan aku habisi kalian satu per satu!"


Tangannya Nathan sudah tidak bisa dikendalikan lagi akibat surat ancaman yang mengerikan itu membuatnya semakin ketakutan dan menelan salivanya berat. Aku duduk lemas pada meja kerjaku sambil memainkan kuku jariku.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Penny! Kalau begini terus mungkin nyawamu akan terancam!" tegas Fina panik.


"Pelakunya semakin lama semakin berani berbuat seenaknya. Apalagi sekarang dia mengirimkan paket misterius ini di kantor polisi," lanjut Hans.


"Untung saja pelakunya mengirimkan paket ini untukku di kantor polisi. Kalau sampai dia mengirimkannya di kediamanku, mungkin akan lebih gawat."


"Aku penasaran dengan reaksinya Adrian kalau mengetahui kamu diteror begini sama seperti dulu," kata Nathan menyipitkan matanya.


"Adrian tidak boleh mengetahui kejadian ini. Kalau sampai dia tahu, pasti dia akan mencari pelakunya sampai bertaruh nyawanya. Aku tidak ingin dia terluka karena aku."


"Tenang saja. Kami tidak akan memberitahu hal ini kepadanya." Fina memelukku hangat sambil mengelus punggungku.


"Rahasia tetap terjaga dengan aman, Penny." Hans memperagakkan menutup mulutnya dengan rapat.


"Kalau begitu salah satu dari kalian tolong bawa kotak ini ke tim forensik! Aku akan memantau rekaman CCTV di ruang pengendalian dulu," pintaku tegas.


"Aku yang akan membawanya saja." Hans sukarela mengambil kotak itu membawanya keluar dari ruangan ini.


Sedangkan aku melangkah menuju ruang pengendalian untuk mengecek rekaman CCTV di luar kantor polisi. Aku mengamati rekaman CCTV hingga mataku terfokus tanpa peduli ada seseorang menggangguku tiba-tiba. Lalu dalam rekaman CCTV tersebut ada seseorang membawa kotak misterius ke dalam kantor ini melalui jasa pengiriman. Aku menghentikan pemutaran videonya dan memperbesar layarnya pada pelaku yang berani mengancamku.


Mataku tertuju pada seragam jasa pengirimannya, lalu aku bergegas kembali menuju ruang kerja timku lagi mengajak Nathan untuk ikut denganku menuju tempat jasa pengiriman barangnya.


Nathan bergegas mengambil kunci mobilnya lalu melangkah menuju lahan parkir mobil. Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, Nathan memarkirkan mobilnya tepat di depan jasa pengiriman tersebut.


Aku dan Nathan mendatangi salah satu petugas jasa pengiriman yang sedang menganggur saat ini.


"Permisi, boleh minta waktunya sebentar?" tanyaku sopan.


"Iya ada yang bisa saya bantu?"


"Apa mungkin Anda pernah melihat orang ini bekerja di sini?" Aku memperlihatkan foto pelakunya kepada pekerja tersebut.


"Pasti pelakunya telah mengincar salah satu pekerja di sini dulu," bisik Nathan kepadaku.


"Apa hari ini ada salah satu karyawan di sini yang sedang mengambil cuti kerja?" selidikku lagi.


"Tidak sih. Menurut daftar absensi karyawan hari ini, tidak ada satu pun karyawan yang mengambil cuti kerja."


"Berarti ada satu pelaku itu sengaja mencuri seragam kerja jasa pengiriman ini supaya seolah-olah terlihat bukan pelakunya," bisik Nathan lagi padaku.


"Benar juga sih perkataanmu itu."


drrt...drrt....


Ponselku bergetar di dalam saku blazerku. Aku langsung mengangkat panggilan teleponnya dari Hans.


"Halo Hans, jadi hasilnya gimana?"


"Tadi tim forensik sudah mengeceknya namun tidak ada sidik jari yang teridentifikasi dalam kotak ini."


"Aish lagi-lagi berita buruk yang muncul! Ya sudah deh terima kasih, ya, Hans. Kamu bisa kembali ke kantor sekarang."


Aku mengakhiri pembicaraannya langsung menutup panggilan teleponnya.


"Karena kita sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi di sini sebaiknya kita kembali ke kantor saja," desahku pasrah.


"Baiklah, Penny."


Aku dan Nathan bergegas kembali ke kantor polisi lagi melanjutkan rapat yang tertunda tadi. Setibanya di ruang kerja tim, aku menggeser papan tulisnya ke tengah ruangan dan mengambil spidol hitamnya lagi.

__ADS_1


"Sekarang kita akan mulai dari awal lagi. Pertama pelakunya mengincar para pelajar SMA itu dan mengambil foto, kartu identitas beserta ponsel korban. Lalu pelakunya membunuh saksi mata satu per satu secara kejam. Pelakunya membunuh Pak Xavier semalam tapi kartu identitasnya dan ponsel masih tetap utuh," paparku memulai rapatnya dengan fokus.


"Jadi bisa disimpulkan sebenarnya pelaku terobsesi dengan identitas para pelajar SMA hingga mencuri kartu identitas semua korban yang dibunuhnya," lanjut Fina berspekulasi.


"Benar sekali. Pelaku sudah pasti memiliki gangguan jiwa yang berhubungan dengan traumanya di masa lalu sehingga dia terobsesi membunuh banyak orang," sambung Tania.


"Bisa juga pelakunya sungguh Zack merupakan korban kecelakaan lalu lintas di tahun 2018. Seseorang membantunya menukarnya dengan orang lain sehingga seolah-olah terlihat dia tewas dalam kecelakaan tersebut," ujarku sambil terus menggambar skemanya.


"Sekarang pelakunya berani bertindak menargetkan jaksa Yohanes untuk menakuti kita dan juga mengirimkan sebuah kotak misterius untukmu yang berisi surat ancaman dan foto kita," sambung Nathan hingga dahinya berkerut.


"Jadinya menurutku, di antara semua keterkaitan insiden yang terjadi belakangan ini. Bisa disimpulkan pelakunya itu adalah seseorang yang mengenal dekat dengan kita." Aku mengulum senyuman cerdasku.


"Tapi aku masih bingung, Penny. Selama ini aku terus memantau semua orang dalam kantor polisi ini tapi tidak ada seorang pun yang memiliki postur tubuh sama dengan pelaku," sanggah Hans mengangkat alisnya.


"Aku juga sampai mengawasi setiap orang saat aku ke kamar kecil juga tidak ada pria yang bertubuh tinggi gitu deh," lanjut Nathan.


"Memang sih kita lihat selama ini tidak ada yang memiliki postur tubuh sama persis dengan pelaku."


"Berarti kesimpulannya pelaku sebenarnya bukan dari kantor polisi ini. Tapi dari kantor kejaksaan?" Fina melontarkan perkataannya sedikit ragu.


"Kenapa kamu bisa berpikir pelakunya dari kantor kejaksaan, Fina?" tanyaku penasaran padanya.


"Karena pelakunya tahu persis dengan pergerakan kita. Siapa tahu pelakunya sengaja mendengar perbincangan Adrian dengan rekan kerja lainnya saat sedang bekerja."


Aku berusaha mencerna pikirannya namun bagiku ini masih terdengar tidak masuk akal.


"Sepertinya bukan dari kantor kejaksaan deh. Kalau seandainya pelakunya bekerja di sana, kenapa dia jauh-jauh mengirimkan kotak misterius ini kepadaku? Kenapa dia tidak mengirimkannya langsung kepada Adrian yang menyelidiki kasus ini juga?"


"Bisa juga pelakunya merasa dengan menakuti Adrian tidak ada gunanya sama sekali. Dia pasti mencari kelemahannya yaitu dirimu supaya kamu menyerah menyelidiki kasus ini," balas Fina melipat kedua tangannya.


"Tapi Adrian tidak pernah bilang kepadaku bahwa ada seseorang yang terlihat mencurigakan di kantornya," sangkalku.


"Tidak mungkin pelakunya menunjukkan dirinya terang-terangan di sana apalagi tempat bekerjanya itu adalah kantor kejaksaan yang selama ini keamanannya selalu dijaga secara ketat."


"Hmm bisa jadi sih persepsimu itu benar, Fina. Apalagi mengenai insiden yang dialami Yohanes beberapa hari yang lalu. Pelakunya mengetahui persis jam pulang kerjanya dan juga alamat tempat tinggalnya. Kemungkinan pelakunya adalah orang yang bekerja di kantor kejaksaan." Aku terus berjalan mondar mandir sambil memainkan spidolnya.


Sedangkan di sisi lain, Adrian sedang sibuk bekerja di ruang kerja pribadinya bersama Yohanes. Saat ini pemikiran Adrian juga sama yaitu mencurigai pelakunya yang sesungguhnya merupakan seseorang dari kantor kejaksaan.


"Yohanes, sepertinya pelaku yang menyerangmu waktu itu adalah orang yang bekerja di kantor ini," tukas Adrian berwajah serius.


"Tadinya aku juga berpikir seperti itu. Teknik penyerangannya seperti dia tahu jam pulang kerjaku dan juga alamat tempat tinggalku terdengar sangat sempurna. Tapi sebenarnya aku masih sedikit ragu sih."


"Memangnya ada apa?"


"Setiap kali aku mengamati foto pelaku yang tertangkap pada kamera CCTV, sepertinya tidak ada seorang pun dari kantor ini yang memiliki postur tubuh setinggi itu deh." Yohanes terus mengamati foto pelakunya yang sedikit buram hingga matanya juling.


"Benar juga sih. Selama ini aku tidak pernah bertemu orang yang memiliki postur tubuh setinggi itu deh."


"Sudah pasti ada kaki tangan pelaku yang bekerja di sini. Lalu kaki tangannya itu bisa juga berhubungan dekat dengan kita."


"Hmm tapi siapa? Tidak mungkin tim investigator yang selama ini bekerja denganku bertahun-tahun mengkhianatiku tiba-tiba."


"Benar juga sih. Lagi pula juga tidak mungkin tim investigator yang selama ini bekerja denganku juga tega melaporkan pergerakanku kepada pelakunya."


"Sebenarnya ada sih tim investigator baru yang bekerja denganku belakangan ini."


"Apa mungkin pelakunya bisa juga Carlos? Maksudku dia itu adalah kaki tangannya pelaku?" tanya Yohanes sangat penasaran.


"Karena Carlos satu-satunya anggota investigator yang baru bekerja sama denganku selama beberapa bulan terakhir ini. Selain itu bisa juga dia selama ini berpura-pura bertingkah bodoh supaya aku tidak mencurigainya sama sekali."


"Nah makanya itu aku sedikit geram pada karaktermu, Adrian! Kalau saja karaktermu ini tidak lemah lembut, mungkin dia tidak akan bertindah sejauh ini!" omel Yohanes mengerucutkan bibirnya.


"Ish kenapa kamu jadi mempermasalahkan karakterku sih! Aku juga tidak ingin menakuti semua tim investigator yang selama ini bekerja sama denganku! Lagi pula waktu itu saat kamu mengunjungi ruanganku, kamu membentaknya habis-habisan sih jadi dia melampiaskannya padamu!" tegas Adrian.

__ADS_1


"Lagi pula dia tidak punya tata krama sama sekali! Walaupun dia adalah anggota baru setidaknya dia juga ada etikanya!"


"Ya sudahlah, pokoknya mulai sekarang kita harus mengawasi pergerakannya."


__ADS_2