Good Partner

Good Partner
Part 42 - Keributan di Pagi Hari


__ADS_3

Aku berdiri mematung hingga wajahku mulai memucat ketika mendengar berita barusan. Sepertinya aku harus mempersiapkan mentalku lagi menyelidiki kasus berat seperti dulu.


"Penny, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya ayah menonton berita itu dengan tatapan ketakutan.


"Aku juga tidak tahu, Ayah. Yang pasti sekarang aku harus pergi ke sana untuk menyelidiki mayat wanita itu," jawabku dengan panik dan keringat dingin mulai mengalir pada leherku.


"Penny, sarapannya sudah jadi!" pekik ibu dari dapur.


"Baik, Bu!"


Di meja makan sudah tersedia nasi omelet yang dimasak ibu. Dengan kecepatan tinggi, aku menghabiskan nasi omelet itu tanpa mengunyah langsung menelannya begitu saja, ibu hanya bisa menggelengkan kepala melihatku makan sangat rakus. Untung saja ini adalah makanan favoritku jadinya mempermudahku menghabiskannya dengan cepat.


"Uhuk...uhuk..."


Aku makan terburu-buru hingga batuk tersedak sambil minum segelas air.


"Penny, kalau makan itu pelan-pelan saja! Jangan terburu-buru!" tegas ibu.


"Aku tidak punya banyak waktu, Bu. Barusan di berita disiarkan bahwa ada mayat wanita yang ditemukan di dasar sungai." Aku menyantap nasi omelet itu hingga mulutku belepotan seperti anak kecil dan sudah tidak peduli dengan hal itu.


"Aduh, kamu ini makan masih seperti anak kecil! Di sudut bibirmu ada sisa nasi di sana. Nanti jangan lupa bersihkan nasi itu." Ibu menunjuk bagian sudut bibirku ada nasi menempel.


"Iya, nanti akan kubersihkan," patuhku sambil menelan satu sendok terakhir dan nasi yang menempel di bibirku.


Aku bergegas memasuki kamar mandi membersihkan diriku membutuhkan waktu hanya sekitar 10 menit saja sudah termasuk keramas. Tanpa merias wajahku, aku berlari keluar dari rumahku memasuki mobilku.


Sekarang aksiku mulai lagi seperti dulu. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh menuju TKP. Untungnya karena kasus Pak Colin yang sangat mengerikan itu, aku jadi sangat mahir mengendarai mobilku dengan lincah. Kini aku bisa menerobos mobil yang berusaha menghalangi jalanku tanpa hampir menabrak mobil lain seperti dulu. Tapi ini hanya berlaku untuk darurat saja aku menyetir seperti seorang pembalap mobil. Kalau aku sedang berduaan bersama Adrian, aku menyetir seperti orang normal menikmati momen kebersamaannya.


Setelah menempuh perjalanan menuju TKP yang memakan waktu sekitar 15 menit dari rumahku atau aslinya jika tidak mengebut itu menghabiskan waktu 20 menit, akhirnya aku tiba di sana. Di TKP itu sudah banyak reporter yang ingin meliput berita mengenai kejadian ini tapi dihadang pihak kepolisian agar tidak menerobos police line.


Dengan sigap, aku berlari ke sana melewati garis pembatas itu sambil mengalungkan name tag di leherku dan menghampiri tim forensik yang akan membawa mayat wanita itu untuk diautopsi. "Permisi, apakah saya boleh melihat mayatnya? Saya ingin mengidentifikasi mayatnya terlebih dahulu."


"Silakan."


Tim forensik itu membiarkan aku untuk memeriksa kondisi mayat itu. Aku mengambil sarung tangan karet di sakuku, lalu memakainya terlebih dahulu agar tidak merusak bukti. Kemudian aku memeriksa keseluruhan tubuh mayat itu tidak ada bekas luka sayatan ataupun lainnya.


Hanya saja ada sesuatu yang terlihat mencurigakan di lehernya. Ada luka memar keabu-abuan yang membekas di leher mayat itu. Dengan ragu aku mencurigai bahwa wanita ini dicekik sampai kehabisan napas, lalu dibuang ke dasar sungai ini.


"Kapan hasil autopsinya keluar?" tanyaku lagi.


"Paling cepat hasil tes itu akan keluar sore hari. Nanti akan saya kirimkan hasilnya melalui email."


"Baiklah, saya akan menunggu hasil autopsinya."


Aku melepaskan sarung tanganku, lalu berlari memasuki mobilku dan melajukannya menuju kantor polisi. Sejak kasus Pak Colin terpecahkan dua bulan yang lalu, aku dan timku dipindahkan ke divisi kekerasan kejahatan unit 1, bukan lagi divisi kecelakaan lalu lintas karena kami lebih cocok mengatasi kasus seperti ini dan berhasil memecahkannya. Ini juga berkat bantuan kekasihku sehingga kami pantas menempati divisi ini.


Di meja kerjaku sudah ada Tania, Nathan, dan Hans yang menungguku dari tadi. Sekarang, Hans sudah bergabung dalam timku dan sudah tidak lagi bermusuhan denganku sejak aku mentraktirnya.


"Hei, Penny! Kamu lama sekali datangnya!" panggil Hans dengan nada sombong.

__ADS_1


Pagi-pagi sudah dikompori membuat suasana hatiku sudah rusak. "Lebih baik kamu tidak usah berlagak sombong deh. Karena selama ini kamu selalu datang lebih awal sehingga kamu selalu bersikap angkuh!"


Nathan menggeleng ledek. "Hans ini memang dari dulu sampai sekarang tidak berubah sikap sombongnya. Memang pantas tidak pernah dapat jodoh terus."


Hans mengepalkan tangan kanan memelototi Nathan. "Yang sudah menikah lebih baik diam saja!"


"Omong-omong, hari ini kita kedatangan anggota baru yang akan bergabung dengan tim kita!" sorak Tania memberitahukan hal penting ini bertujuan mengalihkan perdebatan dua pria membuatku sakit kepala.


Hans bertopang dagu. "Benar juga. Anggota baru itu pria atau wanita, ya?"


Tania memiringkan kepala. "Menurutku sih dia itu seorang pria."


Mendengar sang istri tertarik dengan pria lain, Nathan memasang mimik wajah cemberut menampakkan sisi cemburunya. "Jangan pria dong! Nanti kamu jadi tertarik dengannya dan meninggalkanku sendirian!"


"Memangnya kenapa kalau itu pria? Kamu cemburu?" tanya Hans setengah meledek kepada Nathan.


"Iya jelas dong! Nanti kalau pria itu sampai merebut istriku gimana!" Nathan merangkul pundak Tania.


drrt...drrt...


Ponselku tiba-tiba berbunyi di saat aku sedang menyaksikan betapa kacaunya timku di pagi hari yang indah. Untung saja yang meneleponku adalah vitamin penyemangatku, tentu saja aku langsung mengangkat panggilan teleponnya.


"Penny, apakah semalam kamu tidur nyenyak?" Suara Adrian terdengar manis lewat telepon.


"Aku tidurnya nyenyak sampai mimpi indah semalam," jawabku sambil tersenyum sendiri.


"Aku sangat lega mendengarnya."


"Aku ingin mendengar suaramu, Penny. Aku merindukanmu."


Lagi-lagi senyumanku tidak karuan setiap kali mendengarnya merindukan aku setiap pagi.


"Padahal kita baru saja berkencan seharian kemarin. Tapi aku juga sangat merindukanmu, Adrian."


"Memang kamu vitamin penyemangatku, Penny. Mendengar suara indahmu saja sekarang aku bersemangat bekerja."


"Kamu juga vitamin penyemangatku, Adrian. Pagiku terasa hangat berkat kamu menghiburku sekarang." Aku menatap menyeringai pada semua anggota timku.


"Oh ya, aku dengar bahwa tadi ada mayat wanita ditemukan tewas di dasar sungai. Kebetulan sekali aku selidiki kasus itu."


"Iya, aku juga yang bertugas menyelidiki kasus ini. Untung saja kasus yang kita dapatkan sama seperti sewaktu dulu."


"Maka dari itu, sekarang sepertinya kota ini mulai lagi tidak aman. Ingat kamu jangan pulang larut malam, jika sampai kerja lembur sebaiknya kamu menetap di kantor saja. Lalu kalau kamu sedang berjalan kaki, ingat selalu mengajak minimal salah satu temanmu untuk menemanimu."


Sudah kuduga pasti Adrian akan bersikap cerewet lagi setiap ada bahaya mendatang. Meski ia selalu cerewet, tapi aku sangat menyukainya karena sikapnya sangat cerewet demi kebaikanku. Ya, kadang terkesan menyebalkan.


"Aku tahu. Kamu mulai lagi cerewet seperti dulu!"


"Oh, jadi kamu lebih memilihku untuk tidak cerewet padamu. Padahal aku ini sangat perhatian denganmu. Kalau begitu aku tidak akan cerewet lagi deh!"

__ADS_1


"Aku tarik lagi ucapanku barusan. Jangan mengambek lagi, ya! Nanti aku jadi sedih."


"Pokoknya mulai sekarang kamu harus tetap berhati-hati saja. Aku harus kembali bekerja lagi, sampai bertemu nanti, Penny."


"Sampai bertemu, Adrian." Sambil tersenyum sendiri, aku menutup teleponku.


Di saat aku sedang berkomunikasi dengan Adrian, teman-temanku menatapku seperti ingin menerkamku saja terutama Hans.


Hans menggeleng ledek dan tertawa kikuk. "Sudah selesai teleponnya?"


"Iya sudah. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu cemburu?" tanyaku balik dengan nada meninggi.


"Kalau di kantor itu tidak boleh saling bermesraan, kamu harus tahu hal itu!" ujar Hans dengan tegas membanting tatakan kertasnya.


"Sudah lebih baik mengaku saja bahwa kamu iri melihat kami semua sudah memiliki pasangan." Nathan tertawa puas menepuk-nepuk pundak Hans.


Hans menarik kemeja Nathan. "HEI, NATHAN! PAGI-PAGI SUDAH MEMBUATKU EMOSI SAJA!"


"Sudahlah, Hans! Jangan membuat keributan di sini!" ketus Tania membela suaminya sambil melepas cengkeraman tangan Hans.


"Suamimu ini yang membuatku terpancing emosi terlebih dahulu!"


"Sudah sebaiknya kalian hentikan ...."


"DIAM KAMU, PENNY!" Aku belum saja menyelesaikan ucapanku langsung dibentak Hans dan Nathan.


"Ada keributan apa lagi pagi-pagi begini!" pekik Kepala Detektif dari Divisi Kekerasan Kejahatan Unit 2 yang bernama Danny.


Suasana hening sejenak. Namun, tetap saja Hans seperti ingin melempar kesalahannya pada orang lain.


Nathan menunjuk Hans dengan jari telunjuknya. "Dia yang membuat keributan terlebih dahulu!"


"Kamu yang mengomporiku tadi!" elak Hans balik memelototi Nathan dengan tajam.


Sedangkan aku sudah pasrah melihatnya sambil menggelengkan kepalaku melihat betapa kekanak-kanakannya kelakuan timku.


Danny berkacak pinggang memasang tatapan elang padaku. "Penny, kamu ini bagaimana sih! Bukankah seharusnya kamu meleraikan mereka berdua!"


Sebenarnya aku sudah cukup kebal menghadapi omelan Danny, tapi malu juga kalau hampir setiap hari ditegur begini. "Maaf Danny jika mereka berdua membuat keributan hingga anggota timmu merasa terganggu."


"Baiklah, untuk kali ini akan kumaafkan!" gerutu Danny lalu kembali ke meja kerjanya lagi.


Aku menjewer telinga Nathan dan Hans serentak. "Sudah lebih baik kalian tenang dulu saja! Kalian yang membuat keributan, nanti aku yang kena teguran lagi!"


Nathan meringis kesakitan mengelus daun telinganya bekas dijewer. "Maaf, Penny! Aku tidak akan membuat keributan lagi."


Hans juga mengeluh kesakitan."Aku juga minta maaf, Penny."


"Nah kalau sudah tenang, mari kita lanjutkan bekerja lagi!" kataku dengan semangat sambil menepuk pundak mereka.

__ADS_1


Di saat kami sedang sibuk bekerja, tiba-tiba datanglah seorang wanita yang lumayan cantik berambut panjang hingga membuat seisi kantor ini terpesona melihatnya. Wanita itu menghampiri mejaku.


__ADS_2