Good Partner

Good Partner
Part 66 - Strategi Darurat


__ADS_3

Ini aneh sekali, kenapa Inspektur William tiba-tiba ingin menemui Josh di situasi seperti ini? Lalu apa hubungannya dengan Josh? Apakah mungkin karena artikel berita itu jadinya ia ingin menegur Josh dan sangat marah kepadanya?


Sekarang aku harus berpikir jernih. Jadinya saat ulang tahunnya Josh, aku tidak melihat kehadiran Inspektur William. Mungkin mereka tidak kenal terlalu dekat sehingga Josh tidak mengundangnya. Lalu bagaimana bisa Inspektur William mengetahui rumahnya Josh? Apa mungkin ia sudah menanyakannya terlebih dahulu sebelum berkunjung ke sini? Sekarang kepalaku terasa gosong dan rasanya ingin meledak begitu saja.


Saat aku sedang berpikir keras, Fina melambaikan tangannya tepat di depan mataku untuk menyadarkan lamunanku dari tadi.


"Penny! Penny!" pekik Fina.


Aku langsung tersadar dari lamunanku akibat suaranya Fina lumayan keras. "Hah! Ada apa, Fina?"


"Kamu sedang memikirkan apa sih sampai melamun?"


Aku menyipitkan mata. "Aku masih penasaran dengan Inspektur William. Kenapa dia tiba-tiba mengunjungi rumahnya Josh di waktu seperti ini? Bukankah ini sangat aneh?"


"Menurutku pasti dia sengaja mengunjungi rumahnya Josh akibat dia sudah tidak tahan lagi dengan emosinya," tutur Hans tiba-tiba.


"Maksudmu apa?" tanyaku menjadi penasaran.


"Coba kalau kamu jadi Inspektur William saat melihat artikel berita itu. Dia pasti sangat marah melihat artikel itu tiba-tiba dirilis terutama dirilis salah satu karyawan dari stasiun TV itu. Pasti dia mendatangi Josh untuk menegurnya lalu menyuruhnya memecat karyawan yang merilis artikel," kata Hans dengan persepsinya.


"Benar juga sih, persepsimu ini ada sedikit masuk akal juga," balas Nathan menepuk pundaknya Hans.


"Tapi kenapa dia baru mengunjunginya sekarang? Artikel berita itu sudah dirilis sejak beberapa hari yang lalu. Kalau ingin meminta Josh untuk memberhentikan publikasi artikel, sekarang sudah sangat terlambat karena artikel ini sudah menjadi topik pembicaraan utama di internet," sanggah Fina bertopang dagu.


"Mungkin salah satu dari mereka sangat sibuk jadinya tidak bisa saling bertemu langsung. Apalagi Inspektur William beberapa hari ini jarang sekali keluar dari ruang pribadinya," lanjut Hans.


Aku melipat kedua tangan di dada. "Sebenarnya yang ada di pikiranku saat ini, aku masih penasaran dengan pelaku yang berusaha membunuh Reporter Yulia. Menurut pernyataan kesaksian darinya, suara pelakunya itu sering didengar di tempat kerjanya. Sudah pasti pelakunya itu karyawan yang bekerja di sana."


Lagi-lagi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Pikiranku mulai tidak waras ingin melakukan suatu hal yang tidak sepantasnya dilakukan sekarang. Namun, aku tidak bisa memendamnya terlalu lama daripada terus menebak tiada akhir.


Aku bersiap-siap mengikat tali sepatuku dan tanganku sudah menggenggam gagang pintu mobil. "Aku akan memasuki rumah Josh sekarang juga."


"Tunggu, Penny!" tegur Fina menahan tanganku.


"Kenapa, Fina?"


"Nanti kalau kamu masuk ke rumah itu, Inspektur William pasti akan memarahimu habis-habisan. Lagi pula nanti dia akan mencurigaimu," usul Fina lembut.


Aku tersenyum santai melepaskan sentuhan tangannya. "Tenang saja. Aku sudah menyusun rancangan strategi agar Inspektur William tidak mencurigaiku."


"Tapi apakah kamu bisa melakukannya sendiri?"


"Bisa. Kamu tenang saja."


Fina langsung memelukku dengan erat seperti tidak ingin kehilanganku. Aku sedikit tidak terbiasa melihatnya memperlakukanku seperti ini. "Kalau butuh bantuan, kami semua akan siap membantu, Penny."

__ADS_1


"Terima kasih sudah perhatian, Fina. Aku pergi dulu," pamitku membuka mobilnya Hans.


Aku berjalan menuju rumahnya Josh sambil merapikan rambutku dan juga pakaianku. Aku harus bertingkah seolah-olah aku bermaksud mengunjunginya. Aku memasang raut wajah polos menekan bel rumahnya sebanyak tiga kali. Tak lama kemudian, Josh membuka pintu rumahnya.


"Penny, sedang apa kamu mengunjungiku di saat seperti ini?" sambut Josh dengan tatapan kebingungan.


"Itu ... aku penasaran dengan minuman wine yang kamu sajikan saat acara ulang tahunmu," jawabku dengan tatapan polos.


"Tapi kamu tumben mengunjungiku di waktu seperti ini."


"Adrian sangat penasaran minuman wine itu. Dia ingin beli tapi tidak tahu merek botol wine itu apa. Dia terus merengek seperti anak kecil padaku jadinya aku secara terpaksa mengunjungimu," ucapku berbohong, sebenarnya di dalam hatiku ini sangat gugup apalagi pakai nama Adrian, rasanya aku sangat berdosa padanya.


"Begitu rupanya, kalau begitu silakan masuk ke dalam dulu. Nanti akan aku perlihatkan untukmu." Josh mempersilakanku masuk ke dalam rumahnya.


Aku memasuki rumahnya Josh dan melihat Inspektur William sedang duduk di sofa ruang tamu.


Inspektur William menoleh ke belakang menatapku penasaran. "Penny, sedang apa kamu di sini? Bagaimana kamu tahu rumah ini?"


"Penny itu temanku. Kemarin dia pernah mengunjungi rumahku saat acara ulang tahunku," sahut Josh membantuku menjawabnya.


Inspektur William menatapku curiga. "Begitu rupanya, tapi bukankah kamu harusnya sedang berada di kantor?"


"Penny dibuat pacarnya sengsara. Dia ke sini untuk melihat botol wine karena pacarnya sangat menginginkannya."


Padahal dalam hatiku saat ini, sebenarnya itu adalah suatu kebohongan. Aku memakai Adrian untuk dijadikan alasanku ummengunjungi rumah ini. Kalau seandainya Adrian mengetahuinya, aku penasaran dengan reaksinya.


"Gara-gara kamu memerintahkan seorang reporter merilis artikel berita itu, aku jadi datang jauh-jauh ke sini memohon kepada CEO Josh menghentikannya!" bentak Inspektur William menatapku tajam.


Aku menunduk lesu. "Habisnya aku penasaran dengan berita itu tiba-tiba terkubur begitu saja."


"Perkataan Penny benar, memang suatu berita yang terkubur harus dipublikasikan ke seluruh media agar kebenaran dibalik kejadian itu segera terungkap. Bukankah itu benar, Penny?" Josh menatapku serius.


"Iya benar perkataannya, Josh. Kita tidak boleh mengubur kasus itu!"


"Pokoknya aku tidak akan menarik kembali artikel berita itu lagi karena sudah terlanjur menjadi bahan topik pembicaraan utama di semua media. Kalau aku menariknya kembali, nanti masyarakat akan sangat kecewa dan menghujat stasiun TVku," tegas Josh dengan tatapan serius.


"Tapi ...." Inspektur William sudah mulai kesal akibat mendengar ucapan Josh.


"Ini sudah terlambat dan tidak akan bisa mengubah situasi apa pun. Sebaiknya kamu pulang saja sekarang," saran Josh padanya.


"Baiklah, aku akan pulang sekarang juga. Lihat saja Penny, kita lihat siapa yang akan menang di antara kita berdua. Aku permisi dulu," pamit Inspektur William sambil menatapku geram keluar dari rumahnya Josh.


Sekarang di rumah ini hanya aku dan Josh. Ia menuntunku berjalan menuju gudang winenya. Aku melihat gudang winenya penuh koleksi berbagai merk wine langka dengan tatapan melongok.


"Aku tidak menyangka kamu menyimpan wine sebanyak ini."

__ADS_1


Josh meraba botol wine satu per satu. "Kebanyakan minuman wine ini aku belinya di luar negeri."


Aku memanyunkan bibir. "Benarkah? Kamu punya banyak uang jadi bebas beli wine sebanyak ini apalagi import."


"Aku beli sebagai koleksiku saja. Hobiku ini mengoleksi berbagai macam minuman anggur." balas Josh merendah.


"Enaknya hidup sebagai orang kaya."


"Tenang saja, suatu saat nanti kamu pasti akan menjadi orang kaya sepertiku."


Josh mengambil salah satu minuman wine dari raknya dan memberikannya kepadaku. "Minuman wine ini yang waktu itu aku sajikan di acara ulang tahunku."


"Oh, jadi ini. Baiklah nanti aku akan memberitahu kepada Adrian."


"Ini untukmu saja." Josh menyerahkan botol winenya padaku.


Mataku membulat sempurna. Sandiwaraku malahan jadi berujung rumit begini. Aku jadi merepotkan orang lain, karena sandiwaraku dari tadi.


"Tapi ini salah satu koleksimu."


"Aku masih punya sekitar lima botol lagi, kamu berikan saja kepada pacarmu itu," ucap Josh tersenyum lebar padaku.


"Wah, terima kasih banyak, Josh! Adrian pasti sangat senang minum wine ini lagi!" seruku dengan antusias, namun sebenarnya aku terpaksa menerimanya.


"Sini biar aku antarkan kamu ke depan rumahku." Josh menuntunku keluar dari rumahnya.


Setibanya di luar rumah, aku berpamitan pulang dengan Josh. Aku berjalan seperti orang normal menuju mobilnya Hans seolah-olah seperti aku tidak mengunjunginya dengan sengaja. Aku memasuki mobilnya Hans sambil menyandarkan kepalaku pada sandaran sofa dengan napas lega.


"Kenapa malah kamu bawa pulang botol wine?" tanya Fina kebingungan melihatku bawa botol wine.


"Ini yang aku maksud, rencana strategi memasuki rumah itu," jawabku sambil menggoyangkan botol wine itu.


"Kamu benar-benar cerdas sekali, Penny!" puji Nathan mengacungkan jempolnya padaku.


"Tapi kenapa kamu menggunakan botol wine ini sebagai alasannya?" tanya Fina penasaran.


"Sebenarnya aku menggunakan Adrian sebagai alasan memasuki rumah itu. Aku mengatakan kepada Josh bahwa Adrian sangat menyukai minuman wine yang disajikan saat acara ulang tahunnya Josh," jawabku tersenyum cerdas.


"Begitu rupanya." Ekspresi wajah Fina langsung lesu.


"Minuman anggurnya buat kita minum bersama saja," kata Nathan berusaha merebut botolnya dariku.


"Tidak boleh! Ini untukku dan Adrian!" celetukku menahan botol wine itu.


"Huft dasar pelit, Penny!" ketus Nathan, bibirnya mengerucut.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita kembali ke kantor!" Hans menekan tombol starter mobilnya.


__ADS_2