
Setelah makan malam dan membersihkan diri, aku menyandarkan tubuhku lemas pada sandaran ranjang sambil menunggu Adrian selesai membersihkan dirinya. Aku menghampiri Victoria dan menggendongnya sebentar agar tidak membangunkannya.
Tak lama kemudian, Adrian selesai membersihkan dirinya lalu aku menaruh Victoria kembali ke tempat tidurnya. Aku kembali duduk di ranjang sambil memijit kakiku yang pegal-pegal.
"Mau kupijit?" tawar Adrian menduduki sudut ranjang.
"Mmm tentu saja boleh. Hari ini rasanya aku capek sekali. Aku iri melihat Hans tadi memijit pundaknya Fina," sahutku merayunya manja.
"Kalau begitu sekarang tidur tengkurap dulu."
Aku menurutinya dan membaringkan tubuhku dalan posisi tengkurap. Lalu Adrian meregangkan ototnya melakukan pemanasan dan mulai memijit punggungku.
"Mmm enaknya." Aku menikmati pijatannya mengukir senyuman mengambang.
"Mau kupijit lebih lama lagi?"
"Aku sih terserah. Tergantung tanganmu itu sanggup atau tidak saja."
"Satu jam menurutku tidak masalah. Asalkan yang terpenting tubuhmu itu tidak terasa pegal lagi."
"Ish jangan! Nanti jari tanganmu bisa sakit!"
"Ini demi istriku."
"Kalau begitu jangan berhenti, aku menyukainya."
"Bagian mana lagi yang pegal?"
"Pijit pundakku."
"Baiklah. Sekarang aku akan memijit pundakmu."
Adrian meregangkan ototnya lagi lalu memulai memijit pundakku sambil mengusap kepalaku.
"Bagaimana rasanya?"
"Mmm enaknya."
Adrian menghentikan aksi pijatnya lalu membaringkan tubuhnya dalam posisi tengkurap juga dan menjadikan punggungku sebagai penopang kepalanya.
"Sayang, kenapa kamu berhenti memijitku? Apa mungkin tanganmu sudah pegal?"
"Bukan. Aku hanya ingin memelukmu saja. Aku merindukanmu sepanjang hari."
"Tapi badanmu itu berat."
"Seberat apa? Sebesar cintaku padamu."
"Tuh mulai lagi kan gombalannya. Tidak masalah sih kalau kamu jujur sekali padaku."
"Aku kan selalu jujur padamu. Aku ingin bermain bersamamu sebentar."
Adrian membalikkan tubuhku menjadi posisi terbaring di atas ranjang lalu memelukku dengan erat sambil berguling-guling di ranjang.
"Sudah lama aku tidak bermain berdua bersamamu seperti ini. Rasanya sangat menyenangkan," ucapnya tersenyum ceria.
"Aku ingin bermain lebih lama lagi."
"Baiklah kalau itu keinginanmu. Ayo main guling-guling lagi!" Adrian menggulingkan tubuhnya sambil menggelitikku sampai wajahku merah merona.
"Haha ayo lagi, Adrian! Ini sangat menyenangkan untuk menghilangkan stress!"
"Mau berapa lama, Penny?"
"Sampai kamu lelah."
"Aku tidak akan lelah bermain denganmu."
Adrian melanjutkan aksi kekanak-kanakannya menggulingkan tubuhnya lagi tertawa bahagia. Beberapa menit kemudian, ia sudah mulai lelah dan melepas pelukannya. Aku kembali tidur dengan posisi sempurna dan secara perlahan memejamkan kedua mataku. Lalu Adrian mendekapku dengan hangat supaya aku bisa tidur nyenyak. Akan tetapi, saat tengah malam Victoria terus menangis sehingga aku harus bangun dan menenangkannya. Aku harus memberinya susu dan juga mengganti popoknya lalu menidurkannya lagi. Aku terbangun sekitar tiga kali sehingga aku merasa tubuhku ini lemas sekarang.
"Sayang, aku yang jaga Victoria saja. Kamu sebaiknya tidur," usulnya lembut.
"Tidak apa-apa. Kaum tidur saja, sudah beberapa hari kamu kurang tidur. Aku saja yang mengurus Victoria," tolakku halus sambil menidurkan Victoria.
"Tapi nanti kamu bisa sakit kalau begini terus."
"Tenang saja aku wanita kuat jadi tidak akan mudah sakit," ucapku dengan percaya diri.
"Aku sangat mencemaskanmu. Hari ini kamu bekerja keras seharian ditambah mengurus Victoria, nanti kamu bisa kelelahan dan jatuh sakit."
"Ssst!! Sudahlah jangan berisik nanti Victoria bisa bangun." Aku menggendong Victoria sambil menepuk-nepuk punggungnya berirama sehingga membuatnya sangat nyaman denganku. Lalu secara perlahan Victoria tertidur pulas, akhirnya aku bisa kembali tidur lagi.
Aku menaruh Victoria kembali lagi ke tempat tidurnya lagi. Kemudian aku kembali ke dekapannya berusaha untuk tertidur pulas.
"Selamat bermimpi indah, Sayang," ucapnya mencium keningku sekilas
"Kamu juga, Sayang."
Keesokan paginya, aku merasa tubuhku ini sangat berat untuk bangun. Aku berusaha beranjak dari ranjang tapi rasanya tubuhku menolak. Walaupun ini masih sangat pagi, aku harus bangun lebih awal untuk membuatkan sarapan. Secara perlahan aku melepas dekapannya Adrian agar tidak membangunkannya sambil bangkit dari ranjang. Kepalaku sangat pusing sehingga aku sulit menatap sekelilingku. Tubuhku menggigil rasanya seperti di kutub utara. Baru saja aku melangkahkan kakiku sebanyak tiga langkah langsung tubuhku tumbang begitu saja.
BRUKKK
Gara-gara aku terjatuh ke lantai membuat Adrian bangun dari tidurnya dan menatapku dengan panik.
"Sayang! Kamu kenapa?" Dengan sigap Adrian menghampiriku lalu mengangkat tubuhku kembali ke ranjang.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja kepalaku sedikit pusing," sahutku dengan lemas sambil menyentuh dahiku.
"Wajahmu memerah. Apa mungkin kamu kena demam?" tanyanya semakin cemas.
"Tidak mungkin. Ini hanya sakit kepala biasa," bantahku berlagak kuat.
Adrian menyentuh dahiku dan juga menyentuh leherku untuk memeriksa kondisi tubuhku saat ini.
"Kamu demam. Sebentar akan aku ambilkan termometer dulu."
"Sudah kubilang itu bukan demam."
Adrian tidak menghiraukanku lalu mengambil termometer yang ada di laci mejanya. Ia mengarahkan termometer itu pada kepalaku untuk mendeteksi tubuhku saat ini.
"Sudah kuduga kamu demam. Suhu tubuhmu ini sekarang 38 derajat Celcius. Kamu masih bilang itu bukan demam!"
"Tapi walaupun aku demam, aku harus mengurus Victoria dulu," balasku keras kepala.
"Tidak boleh! Pokoknya aku akan mengurusnya seharian! Sebaiknya kamu beristirahat saja supaya cepat sembuh!"
"Tapi kamu harus bekerja hari ini. Biar aku panggil ibu ke sini untuk merawatku dan Victoria."
__ADS_1
"Urusan pekerjaan tinggal aku meminta cuti saja hari ini."
"Tapi--"
"Ini demi kamu, Sayang. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang kalau kondisi tubuhmu begini. Lebih baik aku menjagamu di sini daripada seharian di kantor aku terus mencemaskanmu."
"Nanti pekerjaanmu terganggu karena aku."
"Sudahlah tidak usah dipikirkan, sebaiknya kamu tidur lagi. Aku akan memasak bubur untukmu nanti kalau sudah selesai aku baru membangunkanmu. Apakah kamu mengerti?"
Aku hanya bisa menghela napasku lesuh setelah mendengar perkataannya barusan. Tidak mungkin aku menolak penawarannya barusan, nanti ia akan kecewa padaku.
"Iya deh, aku mengerti. Aku akan menurutimu."
"Tidur dulu, Sayang," ucapnya sambil menyelimuti tubuhku dan mencium keningku sekilas.
Adrian bergegas ke dapur dan mengambil bahan makanan yang ada di kulkas. Lalu ia mulai memotong sayur-sayur dan juga memasak bubur. Di tengah ia sedang memasak, Victoria terus menangis menandakan bahwa sudah waktunya ia mengganti popoknya. Adrian mematikan kompornya lalu bergegas menghampiri Victoria untuk mengganti popoknya. Usai melakukan aksinya, Adrian memberi susu pada Victoria sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.
"Anakku yang pintar, hari ini papa akan merawatmu seharian. Mama sedang sakit, doain mama supaya cepat sembuh, ya," ucapnya sambil mencium pipinya Victoria.
Victoria menunjukkan responnya dengan mengukir senyuman ceria dan juga menyentuh tangannya Adrian.
"Setiap papa melihatmu tersenyum begini selalu teringat mama ketika sedang bahagia. Papa sangat menyayangimu, Anakku."
Setelah Victoria menghabiskan susunya, Adrian menggendongnya terus untuk menidurkannya lagi selama beberapa menit. Di saat Victoria sudah tertidur lelap, Adrian mengembalikannya lagi ke tempat tidurnya dan melanjutkan memasak bubur.
Beberapa menit kemudian, Adrian membawa buburnya menuju kamar dan menaruhnya di meja sebelah ranjang.
"Sayang, ayo bangun. Buburnya sudah jadi," panggilnya pelan berusaha membangunkanku.
Aku membuka kedua mataku secara perlahan lalu Adrian membantuku duduk bersandar pada sandaran ranjangnya.
"Aku lapar," rengekku manja sambil mengelus perutku.
"Sini biar aku suapi." Adrian mengambil sesendok bubur sambil meniupinya lalu mengarahkannya ke mulutku.
Aku membuka mulutku dengan lebar malahan Adrian memundurkan sendoknya sambil menyunggingkan senyuman nakal.
"Sayang!"
"Iya deh kali ini aku beneran suapimu."
Adrian memasukkan buburnya ke dalam mulutku dan mencium pipiku dengan lembut.
"Dua asupan sekaligus untuk kesayanganku."
"Suamiku ini kenapa sih nakal sekali sampai rasanya aku ingin mencubit pipinya!"
"Ya sudah, cubit pipiku sekarang!"
"Awas, ya, kalau kamu mengeluh kesakitan!" ancamku sungguh mencubit pipinya sekarang.
"Aku suka dicubit olehmu," lontarnya santai sambil mengedipkan mata kirinya.
"Karena aku tidak berani mencubitmu dengan kasar."
"Bukan begitu. Karena kamu istriku. Mau cubit kasar atau tidak, bagiku itu tidak masalah."
"Kalau begitu, aku mencubitmu kasar sekarang." Aku bersiap-siap memainkan jariku untuk mencubitnya lagi.
"Dasar!"
"Sudahlah aku mau lanjutkan suapimu lagi. Nanti keburu buburnya dingin."
Adrian melanjutkan suapi bubur untukku lagi dengan trik anehnya lagi membuatku agak kesal dengannya tapi sangat menyenangkan sebenarnya. Ia selalu memikirkan segala cara memperlakukanku berbeda dari yang lainnya membuatku semakin jatuh cinta padanya. Bahkan bagiku dengan triknya ini membuat moodku menjadi semakin baik sehingga aku cepat sembuh dari demamku.
"Anak pintar," ujarnya mengelus kepalaku seperti anak kecil.
"Memangnya aku ini anak kecil!"
"Sekarang aku menganggapmu sebagai anak kecil kalau sedang sakit!"
"Padahal kamu sendiri lebih kekanak-kanakan!" Aku melipat tanganku di depan dada dan memalingkan mataku darinya.
"Aku sengaja supaya membuatmu selalu nyaman setiap kali bersamaku."
"Omong-omong, kamu sudah makan? Jangan bilang kamu belum makan dari tadi akibat sibuk mengurusku dan Victoria."
"Hmm belum sih."
"Ish kamu ini! Sudahlah lebih baik kamu makan dulu, nanti kamu bisa sakit sepertiku!" omelku tegas.
"Iya deh. Nih kamu minum obat dulu. Adrian memberikan sebutir tablet obat pereda demam dan segelas air putih untukku.
Setelah itu, Adrian membawa mangkuknya keluar dari kamar dan menyantap sarapannya yang ada di meja makan. Setelah selesai sarapan, ia membawa sebuah baskom berisi air hangat dan juga handuk kecil ke dalam kamar. Ia menghampiriku lagi dan menggulungkan lengan piyamaku untuk menyeka keringatku dengan handuk itu. Adrian mencelupkan handuk kecilnya ke dalam baskom yang berisi air hangat lalu memerasnya dan menyeka keringat yang melekat pada tanganku.
"Adrian ...." lirihku manja.
"Iya kenapa? Apa kepalamu terasa sakit lagi?" sahutnya sambil menyentuh dahiku.
"Bukan. Tapi aku takut kamu akan kelelahan nanti mengurusku terus tanpa henti-hentinya."
"Urusan aku kelelahan atau tidak itu belakangan. Yang terpenting kamu harus sembuh dulu, itu prioritas nomor satuku."
Aku menatapnya dengan senyuman khasku sambil mengelus pipinya. Setiap ia percaya diri memprioritaskanku dalam hidupnya, sudah pasti membangkitkan semangatku.
"Tenang saja, aku pasti akan cepat sembuh. Apalagi kalau dirawatmu, antibodiku semakin kuat untuk melawan virus dalam tubuhku."
"Aku selalu mendoakanmu cepat sembuh supaya kita bisa bermain lagi. Semalam aku tidak puas bermain denganmu."
"Iya aku sedang berjuang nih demi suamiku. Lagi pula aku juga ingin menggendong Victoria saja tidak bisa karena sedang demam."
"Mau aku bawa Victoria ke sini?"
"Ish jangan! Nanti dia juga kena demam!"
"Aku tidak membiarkannya mendekatimu, tenang saja. Victoria pasti sangat merindukanmu."
"Tapi bawa dia ke sini saat dia terbangun saja. Jangan saat dia sedang tertidur, nanti adanya kamu membangunkannya."
"Iya cerewet!"
"Apa kamu bilang barusan?" Aku menatapnya menyeringai sambil melipat kedua tanganku di depan dada.
"Aku hanya bilang kamu sangat menggemaskan, Sayang," tuturnya sambil mencubit pipiku dengan lembut.
"Sudahlah, aku ngantuk akibat minum obat tadi. Aku mau tidur."
__ADS_1
"Jangan tidur dulu, tatap aku lebih lama lagi."
"Ayolah, Sayang! Aku mau tidur supaya cepat sembuh. Apakah kamu tidak ingin aku cepat sembuh?" rengekku menatapnya dengan mengedipkan mataku terus.
"Tunggu sebentar, ya. Sebentar lagi juga aku selesai mengelap keringatmu ini."
Kini Adrian menyeka keringatku pada area bibirku. Tangannya terus mengusap bibirku membuatku bingung dengannya. Padahal ia sudah mengusapnya berulang kali.
"Sayang, memangnya bibirku masih basah?" tanyaku bingung menautkan kedua alisku.
"Bibir cantikmu harus selalu terlihat berkilauan maka dari itu aku terus mengelap dari tadi."
Adrian berhenti menyeka keringatku lalu menaruh baskomnya di lantai dan membaringkan tubuhku lagi. Ia menaikki ranjang duduk tepat di sebelahku sambil mengelus kepalaku lembut.
"Aku akan selalu berada di sisimu," ucapnya lembut mengukir senyuman manis.
"Tapi nanti kamu merasa bosan kalau di kamar terus."
"Kalau menemani istriku yang sedang tidur, aku tidak akan pernah bosan. Aku kan bisa terus melihatmu."
"Mmm rasanya aku ingin dimanjakan olehmu terus."
Adrian beranjak dari ranjang menuju ruang kerjanya mengambil berkas kasus yang sedang ditanganinya kemudian menaruh di atas ranjang. Ia meraih tanganku kemudian melingkarkan kedua tanganku pada perutnya.
"Katanya kamu ingin manja denganku terus, 'kan. Peluk aku terus saja sampai kamu ketiduran. Supaya kamu bisa merasakan kehangatanku yang akan menyembuhkanmu."
"Nanti kamu tidak konsentrasi kerjanya!"
"Aku justru lebih konsentrasi kalau dekat denganmu."
"Kalau kamu tidak masalah, baiklah aku akan menggunakan kesempatan ini dengan baik." Aku mempererat pelukannya hingga membuat senyumannya semakin mengambang.
"Aku yakin kamu pasti akan cepat kalau berada di sisiku sepanjang hari."
Sepanjang hari, Adrian terus merawatku tanpa henti-hentinya sambil bekerja. Bahkan saat aku terbangun sejenak, aku memandanginya tertidur di sebelahku sambil mendekapku. Memandangi senyuman manisnya saat ini, rasanya aku ingin memperlakukannya dengan manis juga. Berkat dirinya, kondisi tubuhku seiring berjalan waktu semakin kuat.
Saat aku mencium pipinya sambil mengelusnya lembut, senyumannya semakin mengambang seolah-olah seperti ia sangat menikmatinya.
"Sayang, di saat kamu sedang sakit, kamu masih bisa menciumku," ucapnya sambil membuka matanya dan mengelus pipiku.
Aku sedikit kaget melihatnya tiba-tiba terbangun.
"Maaf, Sayang. Aku hanya ingin menciummu, bukan membangunkanmu."
"Aku suka kau memperlakukanku seperti itu. Saat kamu sembuh nanti, aku bisa memperlakukanmu sesuka hatiku."
"Coba kamu cek kondisi tubuhku!"
Adrian menyentuh dahiku selama beberapa detik.
"Aku bisa merasakan demammu sebentar lagi akan turun."
"Baiklah, aku akan istirahat lebih lama lagi."
"Kalau begitu aku akan menemanimu supaya cepat sembuh." Adrian mendekapku sambil mencium dahiku sekilas.
Selain itu, ia juga merawat Victoria tanpa mengenal lelah. Bahkan hingga sore sampai demamku semakin menurun ia terus menemaniku tidur terus. Karena demamku semakin membaik, Adrian mengambil termometernya lagi dan mengarahkannya pada kepalaku lagi.
"Akhirnya, demammu menurun drastis. Sekarang suhu tubuhmu itu 37.3 derajat Celcius!" serunya girang duduk di hadapanku.
"Tapi aku masih sedikit demam, Sayang."
"Biar gimanapun aku sangat bersyukur sebentar lagi kamu akan pulih total."
"Ini berkat dirimu yang setia merawatku seharian. Terima kasih, Sayang." Aku memeluknya dengan hangat sambil mengelus punggungnya pelan.
"Tapi aku masih belum puas. Aku ingin kamu lebih cepat sembuhnya."
"Ish kamu harus tunggu dengan sabar! Nanti malam juga aku akan sembuh total."
"Aku tidak bisa menunggunya selama itu. Aku ingin kamu sembuh sekarang juga."
"Aku juga maunya begitu. Aku sudah minum obat pereda demamnya secara rutin dan tidur cukup."
"Ada satu hal lagi yang membuatmu cepat sembuh."
"Hmm apa itu?"
Adrian menyentuh pipiku dengan tangan kirinya lalu merangkul pinggangku dengan tangan kanannya, mencium bibirku mendalam. Aku langsung melepas tautan bibirnya dan memalingkan mataku darinya.
"Kenapa kamu melepaskannya? Kamu tidak suka diciumku?" tanyanya kecewa memanyunkan bibirnya.
"Nanti kamu juga demam kalau menciumku."
"Itu tidak mungkin terjadi. Antibodiku cukup kuat untuk melawan virusnya," ujarnya dengan percaya diri.
"Sayang ...." lirihku mengukir senyuman bahagia.
Adrian melanjutkan aksi ciumannya sempat tertunda dan semakin memperdalamnya sambil meraba-raba pinggangku dalam durasi cukup lama untuk menikmatinya tanpa melepasnya sedetik pun. Aku memeluk punggungnya dengan erat menikmati ciuman darinya yang penuh dengan kasih sayang. Rasanya seperti kekuatan cintanya terhadapku lebih kuat dari virusnya sehingga aku bisa merasakan tubuhku kembali bertenaga berkat ciuman manisnya. Satu menit aksi ciumannya berlangsung tanpa jeda, ia melepas sentuhan bibirnya dan mendekapku dengan hangat.
"Terima kasih telah mengobatiku, Vitamin penyemangatku," ucapku tersenyum ceria sambil mengelus kepalanya.
"Sekarang aku bukan hanya vitamin penyemangatmu, tapi juga vitamin penyembuh."
"Untung suamiku ini sangat bisa kuandalkan."
Berkat dirinya sekarang kondisi tubuhku semakin membaik. Akhirnya tengah malam saat aku mengecek kondisi tubuhku sudah kembali normal. Aku bisa merawat anakku lagi dan beraktivitas normal.
Keesokan paginya, aku bersemangat mengurus anakku dulu sebelum berangkat kerja sedangkan Adrian sibuk membuatkan sarapan untuk kami berdua. Setelah selesai sarapan, ia seperti biasa membuatkan kopi untukku agar aku bekerja dengan semangat di kantor.
"Hari ini aku akan mengantarmu ke kantor. Kamu baru sembuh jadinya tidak boleh kelelahan bekerja."
"Kali ini aku menurutimu. Aku rindu diantar olehmu setiap pagi. Belakangan ini kamu jarang mengantarku ke kantor."
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajakknya merangkul bahuku dengan semangat.
Sebelum mengantarku ke kantor, kami berdua mampir sebentar ke rumahku untuk menitipkan anakku pada ibuku. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju kantorku. Di tengah perjalanan, aku meminta Adrian untuk memberhentikan mobilnya sebentar di depan toko obat.
"Kamu masih terasa tidak enak badan? tanyanya sedikit cemas.
"Aku mau beli vitamin saja. Tenang saja aku sekarang sudah sehat."
"Kamu yakin?"
"Iya. Nih lihat aku bisa tersenyum ceria lagi."
Di saat aku sedang berbincang dengan Adrian, aku merasa ada sesuatu yang sangat menggangguku. Di etalase, ada sebuah botol obat yang pernah kulihat sebelumnya. Aku menghampiri etalase itu dan mengambil botol obat itu melihatnya dengan mengerutkan dahiku.
__ADS_1