Good Partner

Good Partner
Part 85 - Two Love Birds


__ADS_3

Kami berdua saling menggelitik hingga kelelahan apalagi bermain bersamanya sangat menyenangkan. Namun aku hampir kehabisan napas akibat kebanyakan tertawa tadi. Masih di area hijau itu, aku duduk bersebelahan dengannya sambil merangkul tangannya di bawah teduhan pohon. Semakin lama aku merasa ini bukan acara piknik keluarga, melainkan ini berujung aku sedang kencan dengan Adrian secara tidak langsung. Karena hari mulai semakin sore, udara terasa semakin dingin yang membuatnya secara spontan mendekapku.


"Aku kepanasan, Adrian."


"Udara semakin dingin. Nanti kamu masuk angin."


"Hufft gara-gara tadi kita main kejar-kejaran jadi sekarang tubuhku sangat gerah!" celetukku mengerucutkan bibirku.


"Tapi kamu sangat menyukainya, 'kan," balasnya memajukan wajahnya menyunggingkan senyuman nakal.


"Tidak sama sekali!"


"Masa sih? Baru pertama kali aku melihatmu tertawa seperti itu."


"Itu karena kamu tadi menggelitikku."


"Kamu tahu tidak, aku sangat menyukai wanita yang tertawa bahagia. Aku ingin kamu selalu seperti itu sampai seterusnya."


"Tapi ... bagaimana caranya? Tadi hanya kebetulan saja."


"Bisa kok."


"Apa itu?"


"Aku akan menggelitikmu lagi," ujarnya mulai memainkan jarinya.


Dengan cepat aku langsung menjauhkan tubuhku darinya, namun tubuhku terus dipeluk erat membuatku sulit bergerak.


"Sudah cukup aku tidak mau lagi! Kamu adanya membuatku sengsara saja!"


"Jangan ngambek dong, Penny. Wajahmu jelek setiap kamu mengambek." Adrian mencubit pipiku dengan lembut.


"Menyenangkan sekali bisa bermain denganmu tadi," balasku merangkulnya dengan mesra.


"Aku ingin bermain denganmu seperti ini setiap hari. Nanti saat kita sudah menikah, kamu pasti akan selalu tertawa bahagia tanpa perlu aku menggelitikmu."


Di tengah perbincangan kami berdua, ayah dan ibu menghampiriku sambil membawa barang-barangnya untuk dikemas kembali ke dalam mobil.


"Penny, ibu dan ayah akan pulang ke rumah dulu ya," pamit Maia mengelus kepalaku.


"Kenapa? Padahal kita belum menghabiskan waktu lebih banyak," tanyaku dengan nada kecewa.


"Ayahmu dan Randy sudah menangkap banyak ikan tadi. Lagi pula mereka sangat lelah jadinya ingin pulang ke rumah dan beristirahat," lanjut Maia menjelaskan alasannya padaku.


"Tapi--"


"Sudahlah lebih baik kalian berdua bersenang-senang saja. Ini masih belum malam jadinya ayah memperbolehkan kalian main sepuasnya," usul Peter dengan tatapan percaya diri.


"Benarkah? Aku boleh main bersama Penny sepuasnya?" tanya Adrian mengukir senyuman cerianya.


"Boleh saja. Tapi ingat jangan pulang larut malam, besok kalian harus kembali bekerja," saran Maia seperti biasanya.


"Baik, Bu! Tenang saja aku pasti akan mengantar Penny pulang tepat waktu!" patuhnya merangkul bahuku mesra.


"Kalau begitu kami pulang dulu, ya. Ingat Adrian, jaga putriku dengan baik!" pesan Peter sambil menepuk pundaknya Adrian.


"Aku tidak akan membiarkan Penny terluka bahkan lecetan atau goresan sedikit saja," balasnya berlagak percaya diri.


Aku hanya bisa memutar bola mata bermalasan.


"Ish kamu ini berlebihan sekali sih!" protesku memukuli lengannya pelan.


"Kamu adalah harta berharga, tidak boleh sampai ada goresan," tuturnya santai tersenyum manis padaku.


"Kami tidak akan mengganggu kalian berdua. Kami pamit pulang dulu, ya," pamit Peter meninggalkan kami berdua sambil membawa peralatan pancingnya.


Sedangkan Randy menghampiri Adrian sebentar sambil menatapku.


"Penny, ayah berbicara dengan Adrian sebentar, bolehkah?"


"Boleh, Ayah."


Dengan sigap Randy menarik tangannya menjauh dariku sejenak. Adrian bingung dengan tingkah sang ayah terlihat tidak seperti biasanya.


"Ayah ingin membicarakan apa denganku?"


"Adrian, kamu coba ajak Penny bersepeda bersama."


"Aduh, ayah kuno sekali sih! Di zaman sekarang mana ada orang berpacaran sambil bersepeda bersama. Lagi pula aku tadi tidak membawa sepeda."


"Kenapa putraku ini kaku sekali sih! Maksud ayah itu kalian bersepeda dengan sepeda pasangan." Randy memutar bola matanya bermalasan sambil menepuk jidatnya.


"Sepedanya tidak ada mana bisa bersepeda bersama."


"Itu ada!" Randy menunjuk beberapa sepasang kekasih sedang asik bersepeda bersama.


Adrian menghela napasnya pasrah sambil berkacak pinggang.


"Penny tidak akan suka hal gituan, Ayah."


"Coba saja. Ayah yakin Penny pasti menyukainya," usul Randy lalu meninggalkannya.


Setelah selesai berbincang dalam waktu singkat, Adrian kembali menghampiriku lagi dan mengangkat tubuhku bermaksud membantuku berdiri. Ia menggandeng tanganku menuntunku menuju suatu tempat.


"Kita mau ke mana?" tanyaku mulai penasaran.


Adrian tidak menghiraukanku, lalu menghentikan langkah kakinya sambil mengeluarkan sejumlah uang tunai dari dompetnya memberikannya kepada penyewa sepeda. Ia mengambil salah satu sepeda yang berderet di bawah pohon dan menaikkinya.


"Ayo, naik bersamaku!" ajaknya mengulurkan tangan kirinya padaku.


"Tumben kamu mengajakku bersepeda," balasku tersenyum tipis.


"Kita belum pernah melakukannya selama ini. Aku ingin sesekali melakukannya bersamamu."


"Kalau begitu, ayo berangkat sekarang!" Aku menerima ajakannya menggenggam tangannya sambil menaikki sepeda.


Aku mengayuhkan sepeda yang diawal menginjak pedal dengan kaki kananku. Bersepeda bersama dengan Adrian itu bagaikan pasangan yang ada di film. Tapi menurutku kami lebih romantis dibandingkan pasangan yang ada di film karena aku merasakan ketulusan cintanya Adrian terhadapku.


"Bagaimana, Penny? Ini menyenangkan, 'kan?" tanyanya menolehkan kepalanya menghadapku sekilas.


"Rasanya menyenangkan jika bersepeda denganmu!"


"Mau lebih menyenangkan lagi? Aku akan menambahkan kecepatan laju sepedanya."

__ADS_1


"Tidak perlu! Aku lebih suka dengan kecepatan seperti ini supaya bisa menikmati lebih lama."


"Baiklah sesuai dengan permintaan tunanganku, aku akan menurutimu."


Sebenarnya aku penasaran dengan ide kencannya inj tiba-tiba. Bibirku sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Adrian, kamu memikirkan ide ini karena melihat adegan romantis di film?"


"Bukan. Ini karena aku ingin melakukan kegiatan romantis bersamamu hari ini. Sudah kukatakan sebelumnya, aku membuktikan cintaku besar terhadapmu."


Kami berdua bersepeda bersama sambil menikmati momen matahari terbenam. Kebetulan cuaca hari ini tidak berawan, sehingga kami bisa mengabadikan momen indah ini bersama.


"Adrian, langitnya indah sekali!" seruku terkagum dengan pandangan berbinar.


Adrian menghentikan laju sepedanya sejenak lalu menuntunku menduduki bangku taman kosong sambil mendekapku hangat.


"Jarang sekali aku menikmati melihat matahari terbenam bersamamu," ucapnya bermanja padaku.


"Untung saja cuaca hari ini sangat cerah jadinya kita bisa menikmatinya saat hari libur dengan santai."


Sambil menikmatinya, Adrian mencium pipiku sekilas tersenyum hangat padaku.


"Adrian ...." lirihku manja membenamkan kepalaku pada tubuhnya.


"Aku akan melihatnya lebih lama lagi bersamamu. Walaupun udara semakin terasa dingin, aku akan menghangatkan tubuhmu."


Hari sudah mulai gelap, sudah waktunya kami pulang ke rumah masing-masing. Tapi sebelum itu, Adrian mengajakku makan malam di suatu restoran Korea. Ia memesan jjajangmyeon dua porsi untuk kami berdua.


"Kamu tahu tidak? Aku merasa hari ini kita berdua ini seperti pasangan yang ada di film," ucapku sambil menyantap makanannya.


"Tentu saja tidak. Kita berdua adalah pasangan lebih romantis daripada pasangan yang ada di film."


"Benar dugaanku barusan, pemikiranmu dan pemikiranku itu sama."


"Menurutku kalau di film itu, aku merasa mereka tidak sungguh jatuh cinta sama sekali. Sedangkan apa yang kulakukan denganmu selama ini, aku sungguh tulus melakukannya penuh cinta," ucapnya sambil bertopang dagu menautkan kedua alisnya.


"Sudahlah kita tidak usah membandingkan dengan film lagi. Yang terpenting sekarang kita makan saja. Dari tadi aku sudah sangat lapar ini!" Aku menyantapnya dengan melahap sampai bekas kecap melekat pada sudut bibirku.


Adrian mengambil sapu tangannya dan mengusap bercak kecapnya lembut. Ia berhenti sejenak menatap bibirku dengan tatapan terfokus sambil menelan salivanya berat.


'Aduh, kenapa calon istriku ini selalu cantik di mataku! Apalagi setiap dia makan belepotan begini membuatku menjadi salah fokus,' gumamnya dalam hati.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Adrian?" tanyaku bingung sambil menyentuh bibirku.


"Tidak apa-apa. Aku hanya gemas saja setiap kali melihatmu seperti ini," jawabnya sedikit gugup.


"Sudah kita lanjutkan makan malamnya lagi. Nanti aku bisa dimarahi ibu kalau pulang larut malam."


"Kamu makan sampai belepotan lagi juga tidak masalah bagiku," sindirnya menertawaiku.


"Ish, Adrian! Mulutmu ini harus dikunci rapat supaya diam!" Aku menyuapinya dengan memberinya porsi besar.


"Karena kamu memberiku porsi yang sangat besar, sebagai gantinya aku akan menyuapimu porsi yang besar juga."


Setelah selesai makan malam, Adrian mengantarkanku kembali pulang ke rumah. Di tengah jalan, rasanya mataku sudah sangat berat untuk buka. Aku secara perlahan memejamkan kedua mataku dan akhirnya tertidur juga. Setelah 20 menit perjalanan, Adrian memberhentikan mobilnya tepat di depan rumahnya.


"Penny, bangun! Kita sudah sampai nih!" panggilnya berusaha membangunkanku sambil menepuk lenganku pelan.


"Sebentar, Adrian. Aku masih mengantuk nih, lima menit lagi, ya, baru kita turun dari mobil," sahutku bermalasan dalam kondisi mata masih terpejam.


"Adrian! Kenapa kamu menciumku tiba-tiba! Aku hampir serangan jantung!" protesku membalikkan tubuhku menghadap pintu mobil.


"Habisnya kamu ini susah dibangunkan jadinya terpaksa aku harus membangunkanmu dengan cara seperti ini," ujarnya tertawa kecil.


"Oh, jadinya kamu bilang ini terpaksa! Tadi barusan itu hanya paksaan."


"Bukan itu maksudku, Penny. Kamu hanya salah paham."


Aku bersiap-siap mengambil tasku dan menggenggam gagang pintu mobil. Lalu ia mencegahku keluar dengan menggenggam tanganku. Kedua mata kami saling bertemu dengan pandangan berbinar, tangannya perlahan menyentuh pipiku sambil mendekatkan wajahnya melakukan sentuhan bibirnya pada bibirku lagi menikmatinya tanpa melepas tautan bibirnya. Kedua mataku secara spontan terpejam sambil memeluk punggungnya dengan erat. Aksi manis ini juga diiringi sebuah lagu romantis yang diputar dari tadi yang menambah suasana romansa saat ini dalam durasi cukup lama. Cukup puas melakukan aksi ciumannya, Adrian melepas tautan bibirnya kemudian menggenggam tanganku.


"Bagaimana, Penny? Yang barusan itu bukan paksaan, 'kan?" tanyanya percaya diri.


"Bukan deh. Barusan itu kamu sangat tulus menciumku."


"Ini sudah lebih dari lima menit kita di dalam mobil seperti ini sejak aku membangunkanmu. Sepertinya aku ingin memperpanjang waktunya bersamamu terus," godanya menyunggingkan senyuman nakal.


"Tidak boleh, nanti ibu marah."


"Padahal kamu sendiri tadi sengaja mengulur waktu supaya bisa menghabiskan waktu bersamaku lebih lama lagi, 'kan."


"Tidak kok. Aku hanya masih mengantuk saja!" celetukku balik.


"Sudahlah Penny, lebih baik mengaku saja bahwa kamu ingin tetap berada di sisiku." Adrian semakin melebarkan senyumannya sambil membelai rambutku lembut.


Memang benar. Aku masih ingin bermanja dengannya lebih lama lagi. Apalagi tingkahnya seharian ini sangat menggemaskan.


"Sebenarnya sedikit sih." Aku tidak berani menatapnya menunduk malu.


"Sudah kuduga. Aku sudah sangat mengenal karaktermu ini sejak dulu. Kamu tidak akan pernah bisa membohongiku."


"Lebih cenderung ingin bersamamu lebih lama lagi. Aku tidak ingin berpisah denganmu setiap malam," ujarku lesuh.


"Aku juga sama denganmu. Rasanya hari ini waktu berjalan sangat cepat, aku tidak puas bermain bersamamu."


"Bahkan selama ini kita selalu sibuk dengan pekerjaan kita jadinya aku jarang menghabiskan waktu bersamamu."


"Walaupun kita berdua selalu sibuk, tapi kamu selalu ada di pikiranku, Penny. Jarak yang memisahkan kita, tapi hati dan pikiran tidak akan terpisah begitu saja. Aku tidak mempermasalahkan kita jarang menghabiskan waktu bersama," ungkapnya tulus sambil mengelus pipiku lembut.


"Setiap hari aku juga memikirkanmu bahkan setiap saat. Terutama aku sangat bahagia hari ini bisa menghabiskan waktu bersamamu. Terima kasih telah menghiburku, Adrian."


"Sebaiknya kamu masuk ke dalam rumah saja. Nanti ibu akan mencemaskanmu."


"Baiklah aku akan keluar sekarang."


Aku membuka pintu mobil dan melangkahkan kakiku dengan lesuh sambil menoleh ke arahnya yang sedang memasuki rumahnya juga. Sebelum memasuki rumah, kami berdua saling menatap dari kejauhan dan melambaikan tangan. Lalu aku memasuki rumahku, disambut ibu dan ayah sedang menungguku pulang di ruang tamu.


"Bagaimana? Apakah kalian berdua bersenang-senang tadi?" sambut Peter tersenyum sendiri.


"Kamu pulang jam segini, cukup lama, ya, bersenang-senangnya," ujar ibu dengan nada ejekan.


"Bisa dikatakan agak lama sih," sahutku terkekeh.


"Memang anak muda zaman sekarang kalau sedang pacaran pasti sudah lupa dengan waktu," balas Maia menatapku lirih sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Ibu dan ayah pasti merencanakan ini dari awal bersama paman Randy. Aku tahu kok, selama seharian ini ada sesuatu yang aneh." Aku menyipitkan mataku menatap curiga.


"Memang ayah dan ibu sengaja merencanakan ini. Lagi pula akhirnya kalian berdua juga bisa bersenang-senang, 'kan. Bahkan tadi saat di taman, baru pertama kali ayah melihatmu tertawa seperti itu," kata Peter berterus terang.


"Masa sih? Kenapa semua orang berkata seperti itu di depanku?" tanyaku bingung hingga dahiku berkerut.


Ayah duduk mendekatiku lalu menyentuh kedua tanganku dengan senyuman hangat.


"Sekarang ayah sudah tidak usah mencemaskanmu lagi. Putri ayah sekarang sudah dewasa dan bahkan sebentar lagi akan menikah. Ayah sangat bahagia melihatmu tertawa bahagia seperti itu selain di hadapan ayah dan ibumu sendiri. Kebahagiaanmu di masa yang akan datang, ayah tidak akan meragukannya lagi."


"Ayah ...." Aku menangis terharu sambil memeluk ayah.


"Bahkan tadi ibu memotret kalian berdua," ujar Maia sambil memainkan ponselnya.


"Aku mau lihat fotonya." Aku langsung menghampiri ibu untuk melihat fotonya tapi ibu langsung berhenti bermain ponselnya dan mematikannya.


"Rahasia."


"Ayolah, Ibu! Aku mau lihat!" rayuku seperti anak kecil yang meminta permen.


"Sebaiknya kamu mandi dulu! Nanti kamu masuk angin jika mandi larut malam," saran ibu dengan baik.


"Baik Bu, aku mandi sekarang deh."


Setelah selesai membersihkan diri, aku memasuki kamarku dan mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Di saat itu, ibu mengirimkanku foto-foto yang tadi ibu potret saat di taman. Benar perkataan Adrian, ibu, dan ayah. Bahkan aku sendiri tidak menyangka bisa tertawa bahagia seperti ini. Memang hanya Adrian yang bisa membuatku bahagia selain ayah dan ibu.


Aku mematikan hair dryer dan bersiap-siap untuk memasuki dunia mimpi. Aku duduk di tepi ranjang lalu menaruh ponselku di meja sebelah ranjang.


Drrt..drrt..


Baru saja aku memejamkan mataku, ada yang menghubungiku malam-malam begini. Aku mengambil ponselku lagi dan dengan sigap duduk bersandar pada sandaran ranjang sambil mengangkat panggilan telepon dari vitamin penyemangatku.


"Kamu sudah tidur?"


"Belum kok. Tumben kamu meneleponku, Adrian."


"Aku hanya sedang merindukanmu saja."


"Padahal kita baru berpisah tidak sampai dua jam. Lagi pula biasanya juga kamu tidak meneleponku malam-malam begini."


"Sebenarnya aku meneleponmu itu untuk mengajakmu sarapan bersamaku besok. Aku rindu membuatkan sarapan untukmu seperti dulu."


"Aku juga merindukan masakan buatanmu itu. Kalau begitu aku akan memberitahu ibu untuk tidak memasakkan sarapan untukku."


"Aku akan menunggu kedatanganmu besok."


"Omong-omong, tadi ibu memotret kita saat sedang bermain di taman."


"Benarkah? Aku ingin melihat hasil fotonya."


"Kalau begitu aku akan mengirimkan semua fotonya untukmu."


Aku menggeser layar ponselku mengirimkan foto untuknya.


"Kamu sudah melihatnya?"


"Kita berdua terlihat manis sekali di foto ini. Bahkan aku ingin melihatnya terus sampai ketiduran."


"Ibu memang pandai kalau dalam hal memotret kita."


"Setelah melihat foto ini, aku pasti akan langsung tertidur nyenyak."


"Aku tutup teleponnya dulu, ya. Sudah larut malam, aku harus tidur."


"Selamat tidur Penny, semoga kamu bermimpi indah."


"Selamat tidur juga, Adrian."


Aku mematikan panggilan teleponnya dan menaruh kembali ponselku di meja. Aku memejamkan kedua mataku dan kembali memasuki dunia mimpi.


Keesokan paginya, aku bergegas memasuki rumah Adrian. Ia sudah mempersiapkan sarapannya di atas meja makan dan seperti biasa ia selalu membuatkan nasi omelet untukku. Aku duduk di sebelahnya mulai menyantap sarapannya. Ia menyentuh tangan kiriku secara diam-diam di bawah meja.


"Bagaimana rasanya, Penny? Apakah nasi omelet buatanku rasanya masih sama seperti biasanya?"


"Aku rindu dengan nasi omelet buatanmu ini. Bahkan menurutku semakin hari semakin lezat rasanya," balasku sambil menyantapnya dengan melahap.


"Aku juga rindu sarapan bersamamu seperti ini. Syukurlah nasi omelet buatanku tidak pernah mengecewakanmu," balasnya menyandarkan kepalanya pada pundakku manja.


Sedangkan paman Randy baru selesai membersihkan dirinya ikut bergabung dengan kami berdua sarapan bersama. Adrian langsung mengangkat kepalanya dan duduk bersikap seperti biasa.


"Pagi, Ayah," sapaku ramah.


"Pagi juga, Penny. Putraku ini sudah manja denganmu, ya, pagi-pagi begini," sahut paman Randy sedikit menertawai putranya.


"Tidak kok!" bantahnya langsung.


"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kalian berdua cepat habiskan makanannya. Nanti kalian terlambat kerja," saran Randy.


"Iya tenang, Ayah," patuhnya santai.


"Lagi pula aku juga berangkat sendiri, Ayah," ucapku.


"Tidak! Aku yang akan mengantarkanmu."


"Tapi nanti kamu akan terlambat, Adrian. Beberapa hari yang lalu kamu sudah mengantarkanku. Sebaiknya hari ini aku berangkat sendiri saja."


"Ini masih sangat pagi, Penny. Tenang saja aku tidak akan datang terlambat kerja. Pokoknya aku harus mengantarkanmu."


"Kalau kamu memaksa, apa boleh buat deh aku harus menurutimu."


"Kenapa kamu menerima tawaranku terdengar seperti paksa? Kamu tidak suka, ya, aku mengantarmu." tanyanya memanyunkan bibirnya kecewa.


"Aku justru senang kalau diantar olehmu. Pagi-pagi membuat suasana hatiku baik."


"Kalau begitu pinjamkan pundakmu sebentar untukku. Aku ingin bersandar padamu sebentar."


Dengan sigap ia menyandarkan kepalanya pada pundakku lagi membuat ayahnya sendiri melihat perlakuan putranya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu semakin hari semakin manja dengan tunanganmu, ya."


"Aku mengakuinya dan tidak akan berpura-pura di hadapan ayah lagi."


"Kamu ingin bermanja dengannya sesuka hatimu boleh saja."

__ADS_1


Sambil bermanja denganku, sorot matanya tertuju pada wajahku terukir senyuman manis pada wajahnya.


"Melihatmu dalam jarak dekat begini, kamu terlihat semakin manis, Penny."


__ADS_2