
Aku menghentikan langkah kakiku sejenak lalu membalikkan tubuhku menatap Fina dengan gugup. Ia berjalan menghampiri kami berdua dengan kesal sambil mengepalkan tangannya, membuat Adrian merasa terkompori.
"Ada apa lagi denganmu?!" ketus Adrian memelototi Fina.
"Jadi sekarang kamu mengantar Penny terus setiap hari. Sampai tadi dia meminjam mobilku dan menyuruhku menjadi sopir pribadinya untuk melakukan kunjungan!"
Aku memasang wajah memelas memposisikan tubuhku berdiri di depan Adrian. "Aku bukan bermaksud menjadikanmu sebagai sopirku. Tapi ini karena--"
"Sudahlah kamu tidak usah mencari alasan!"
Adrian tidak bisa menahan kemarahannya, merangkul pundakku tiba-tiba di hadapan Fina. Aku tahu ia pasti marah karena aku terus dibentak apalagi mataku jika dilihat seperti berkaca-kaca.
"Hentikan, Fina! Teganya kamu membentak kekasihku seperti itu!" bentaknya.
"Kamu sendiri juga membentakku kasar sekarang!" elak Fina mendekati Adrian.
"Kamu tidak usah ikut campur. Sebaiknya kamu pergi sekarang juga!" Adrian menggandeng tanganku menuju mobilnya.
"Kamu benar-benar tidak ada perasaan terhadapku sama sekali! Teganya kamu melakukan ini padaku!" pekik Fina dengan nada melengking membuat Adrian tersentak.
Aku dan Adrian menghentikan langkah kami sejenak. Dengan penuh percaya diri Adrian mempererat rangkulannya semakin mesra di hadapan Fina, lalu mengecup pipiku sekilas.
"Sudah cukup, Fina! Aku akan berterus terang denganmu sekarang. Pertama, sejak dulu aku tidak pernah tertarik denganmu. Kedua, Penny sekarang adalah milikku. Ketiga, jangan pernah mengganggu kami lagi terkait dengan masalah ini!" ungkap Adrian dengan lantang hingga membuat senyumanku mengambang sekarang.
"Kamu!!" pekik Fina hingga emosinya tidak stabil sekarang.
Adrian tidak memedulikannya sama sekali lalu menuntunku memasuki mobilnya dan menyalakan mesin mobil meninggalkan Fina.
Di tengah perjalanan pulang menuju kediamannya, ia sangat kesal menghembuskan napasnya kasar sambil memukuli setiran.
Aku sangat mencemaskannya lalu membuka suaraku. "Adrian ...."
Namun ia tidak meresponsku sama sekali, sorot matanya terfokus pada kaca depan sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
Begitu pula setibanya di apartemen, ia masih terlihat kesal tidak berbicara denganku sama sekali sambil menggandeng tanganku memasuki kediamannya. Adrian berjalan lesu menuju ruang tamu lalu menduduki sofa sambil melepaskan jas kerjanya.
Aku tahu ia lesu begini karena perbuatan Fina keterlaluan. Aku berinisiatif duduk di sebelahnya menyentuh tangan kirinya menanyakannya dengan baik. "Kamu kenapa, Adrian?"
"Tidak apa-apa," sahutnya sambil melepaskan lilitan dasi di leher.
Aku menyentuh pundaknya memasang tatapan iba. "Kamu dari tadi kesal membuatku semakin mencemaskanmu. Tapi bukan berarti kamu emosi seperti itu, ini akan membuatku merasa tidak nyaman. Tidak seperti biasanya kamu bersikap begini."
Embusan napas lesu dikeluarkan dari rongga mulutnya. Akhirnya netra gagahnya kembali menatapku. Ia membungkuk pasrah sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. "Aku sebenarnya takut Fina akan menyakiti hatimu suatu hari nanti. Kenapa dia harus bergabung dengan timmu? Ini akan membuatmu menjadi tidak nyaman karena kehadirannya."
"Tenang saja, Adrian. Lagi pula Fina itu biasa saja bagiku. Walaupun sikapnya sangat menyebalkan tapi dia tetap rekan timku. Aku harus menerimanya apa adanya."
Kepala Adrian sedikit terangkat gugup. "Kamu sungguh yakin bisa menerimanya?"
Aku mengangguk semangat. "Iya, aku yakin. Urusan pribadi dan pekerjaan aku tidak akan campur menjadi satu. Aku tetap harus bertingkah seperti kepala detektif profesional di mata semua anggota timku."
Senyuman tipis kembali terukir pada wajahnya lalu ia mendekapku dengan hangat sambil mengusap kepalaku. "Penny, maafkan aku."
Dahiku mengernyit. "Kenapa kamu meminta maaf, Adrian?"
"Karena sewaktu di mobil, aku tidak berbicara denganmu sama sekali. Apalagi saat kamu memanggilku, aku tidak memedulikanmu. Aku tidak bermaksud bersikap dingin padamu."
__ADS_1
Aku tersenyum ceria mengelus punggung lebarnya penuh cinta. "Adrian, kamu tidak perlu meminta maaf. Aku tidak menganggapmu sedang kesal padaku. Aku tahu suasana hatimu sedang buruk, maka dari itu, kamu kesal terus sepanjang perjalanan tadi. Aku mengerti perasaanmu tadi."
"Penny ...."
"Aku sangat lega mendengar ucapanmu pada Fina di tempat parkir. Aku sangat menyukai pria yang memiliki sifat sangat tegas dan selalu memilih kekasihnya sendiri dibandingkan wanita lain. Apalagi saat kamu mengatakan aku adalah milikmu," ungkapku tersenyum mengambang.
Tiba-tiba Adrian mengecup kelopak mataku sekilas membuatku sedikit terkejut, namun aku sangat menyukainya. "Penny, memang kamu adalah milikku. Kamu akan selalu tetap menjadi milikku sampai seterusnya. Oleh karena itu, aku tidak memedulikan wanita lain selain dirimu."
Aku tersenyum bahagia mengecup pipinya selama beberapa detik. "Kamu juga selalu menjadi milikku, Adrian."
"Mendengar ucapanmu barusan, aku sangat lega mendengarnya. Kalau begitu aku akan memasak makan malam untukmu. Tunggu di sini dulu, ya!" Adrian beranjak dari sofa berjalan menuju dapur sambil menyisingkan lengan kemejanya.
Setelah selesai makan malam, aku melanjutkan menyelidiki kasus ini bersama Adrian sepanjang malam di ruang kerjanya.
"Mayat tubuh Emma ditemukan sekitar pukul 7 malam, lalu saat kita masuk ke dalam rumahnya, tidak ada benda yang mencurigakan tertinggal di sana," ucap Adrian mulai fokus pada penyelidikannya.
"Antingnya Emma hilang karena diambil pelakunya. Sedangkan tadi saat aku bertemu Felix, dia sama sekali tidak tahu mengenai ini dan tidak tertarik menyimpan barang-barang milik Emma dan juga Maria."
"Berarti bisa disimpulkan bahwa pelakunya itu adalah kliennya Maria."
Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Ada sesuatu yang janggal dengan kejadian pembunuhan Emma dan saat aku sedang diikuti pembunuh itu.
"Tunggu sebentar! Tadi kamu bilang tubuhnya Emma ditemukan pukul berapa?"
"Sekitar pukul 7 malam."
Aku beranjak lalu berjalan mondar-mandir sambil bertopang dagu. "Ini aneh sekali, saat aku sedang dikejar pelakunya sekitar jam segitu juga. Lagi pula mustahil pelakunya mengejarku dengan cepat begitu saja. Rumah Emma dan rumahku jaraknya lumayan jauh membutuhkan waktu perjalanan ke sana sekitar 20 menit kalau tidak terjadi kemacetan di jalanan."
Adrian memutar pulpen menampakkan wajah serius. "Berarti yang mengejarmu waktu itu kemungkinan besar bukan pelakunya tapi orang lain."
"Kamera dasbor mobilku. Pasti terekam mobil yang mengintaiku dengan jelas!" ucapku bergegas mengambil kunci mobilku ke basement.
Aku mengambil kamera dasbor dan membawanya dengan sigap memasuki ruang kerja Adrian. Aku mengambil laptopku dari dalam tas kerjaku dan mencolokkan chip menghubungkannya ke laptop untuk melihat rekaman kejadiannya.
Saat aku melihat rekaman itu, wajah seseorang yang mengejarku tidak terlalu jelas karena wajahnya ditutupi masker tapi plat nomor kendaraannya masih terlihat jelas.
"Plat nomor itu, kita harus melacaknya besok!"
Tatapan Adrian terfokus pada layar laptopku. "Tapi sebenarnya aku masih bingung dari tadi. Kalau bukan pembunuh yang mengejarmu, lalu siapa itu?"
"Kita lihat saja besok. Aku pasti akan menangkapnya cepat lambat yang berani menakutiku selama ini. Yang pasti pelaku mengejarku adalah kaki tangan pembunuh."
Keesokan harinya, aku berangkat sendiri ke kantor tanpa diantar Adrian karena aku tidak ingin merepotkannya.
Aku berlari memasuki kantor dan memanggil Nathan karena ia sedang duduk santai di meja kerjanya sedangkan Tania pasti sedang berada di kamar kecil.
"Nathan, cepat bantu ke sini!" panggilku mendesak padanya.
"Ada apa, Penny?"
"Tolong, kamu lacak plat nomor ini untukku sekarang juga!" pintaku padanya.
"Baiklah, Penny. Aku akan melacaknya sekarang." Nathan kembali ke meja kerjanya dan memandang layar monitornya melacak plat nomor kendaraan itu.
Tak lama kemudian, Nathan berhasil melacak nomor itu dan bergegas menghampiriku. "Sudah ketemu, Penny!"
__ADS_1
"Di mana itu?"
"Ini aneh sekali, mobil itu sudah dibuang ke tempat pembuangan sekitar sebulan yang lalu."
"Mungkin itu mobilnya diambil oleh pelaku di tempat pembuangan itu. Aku harus segera ke sana sekarang juga!"
"Biar aku ikut denganmu, Penny!" tutur Nathan menawarkan dirinya sukarela.
Aku menggeleng. "Tidak perlu."
"Tapi kalau sampai terjadi sesuatu, nanti Adrian akan memarahiku."
"Tidak apa-apa. Lagi pula masalah ini tidak ada kaitannya dengan kasus pembunuhan ini. Aku akan pergi sendiri saja."
"Baiklah Penny, hati-hati di jalan!"
Dengan sigap aku melajukan kecepatan mobilku sedikit kebut menuju tempat pembuangan mobil.
Setibanya di sana, aku menginterogasi salah satu karyawan yang bertugas di sana. Aku mengeluarkan ponselku memperlihatkan foto mobil yang dipakai pelaku. "Apa mungkin mobil dengan plat nomor ini ada di sini?"
"Iya, memang mobil ini sudah dibuang sejak lama di sini."
"Apa boleh saya lihat mobilnya? Ada sesuatu yang harus saya periksa, mohon kerja samanya," bujukku mendesak.
"Mohon maaf kalau tidak salah kemarin mobil itu sudah dihancurkan."
Mataku langsung melotot. "Apa? Kenapa dihancurkan?"
"Kemarin itu seorang pria yang meminjam mobil itu menyuruh saya menghancurkan mobil itu, katanya ini mendesak."
Bertambah satu beban lagi karena ada tambahan clue baru membuat kepalaku mulai sakit.
"Apa mungkin Anda mengingat wajahnya?"
"Saya tidak begitu yakin. Waktu itu sudah malam jadi pandangan saya agak tidak jelas, lagi pula saya mengalami rabun senja."
"Coba diingat lagi wajahnya, Anda bisa jadi satu-satunya saksi dalam kasus pembunuhan ini. Kesaksian Anda akan sangat membantu kami dalam proses penyelidikan ini."
"Maaf memang saya tidak mengingat wajah pria itu. Tapi ada satu ciri-ciri yang membuat saya merasa janggal."
"Apa itu?"
"Kalau tidak salah lihat, saya melihat ada lencana kepolisian yang terpasang pada jaketnya. Hanya itu saja yang saya ingat."
Lencana kepolisian? Apa mungkin ada orang dalam bekerja sama dengan pelakunya sama seperti Pak John sebelumnya?
"Apa mungkin Anda melihat kalung name tag nya?"
"Dia tidak memberitahu identitasnya kepada saya. Saya hanya disuruh tutup mulut dan diberi sejumlah uang yang banyak."
"Baiklah saya mengerti. Terima kasih atas kerja samanya dalam memberikan pernyataan kesaksiannya. Kalau mungkin Anda mengingat sesuatu yang baru lagi, Anda bisa menghubungi saya melalui nomor telepon ini." Aku memberikan kartu namaku kepada petugas itu.
Aku keluar dari tempat itu berjalan menuju tempat parkir. Aku masih merenungkan sebenarnya siapa yang mengejarku waktu itu. Apa mungkin ada penyusup lagi yang bekerja di kantorku seperti waktu itu? Aku harus mencari tahu lebih dalam lagi.
Saat aku sedang berlari menuju mobilku, tiba-tiba aku menabrak seorang pria hingga tubuhku terjatuh ke tanah.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?"