Good Partner

Good Partner
Part 82 - Yes Or No


__ADS_3

Sekarang perasaanku jadi tidak enak. Gara-gara ucapanku barusan membuatnya gelisah.


"Pertanyaan apa itu?"


Adrian menggenggam tanganku memasang tatapan penuh cinta. "Bagaimana jika kita tinggal bersama selamanya?"


Jantungku berdebar-debar sampai tubuhku kaku. Aku tahu maksud dari tinggal bersama selamanya.


"Penny, sebenarnya aku tidak bisa hidup terpisah denganmu. Aku ingin kamu selalu berada di sisiku. Rasanya aku tidak bisa hidup tidak melihatmu sehari saja. Aku ingin melanjutkan hubungan kita lebih dalam lagi. Aku berjanji akan membuatmu selalu bahagia setiap bersamaku."


"Adrian ...."


"Aku tahu pasti kamu sangat terkejut. Sejak pertama kali bertemu denganmu setahun yang lalu dari hubungan kita hanya sebatas partner kerja, sahabat, lalu akhirnya kita menjalin hubungan lebih dalam sebagai sepasang kekasih sejak dua bulan yang lalu hingga sekarang, pasti sangat singkat bagimu. Walaupun kita baru menjalin hubungan asmara selama dua bulan, aku tidak pernah meragukanmu, Penny. Setiap momen bersamamu, aku akan selalu mengingat semua kenangan indah kita selamanya. Kamu adalah pembangkit semangat hidupku. Aku rindu di saat setiap pagi, aku selalu mengantarkanmu kerja dan juga malam harinya aku menjemputmu pulang. Aku ingin terus melakukan rutinitas itu seumur hidupku."


"Adrian ...."


"Kamu selalu menganggapku sebagai vitamin penyemangatmu. Begitu pula juga aku. Kamu adalah alasanku untuk hidup sampai saat ini. Saat aku di masa kritis, aku selalu berjuang bertahan hidup demi kamu. Aku tidak ingin melihat wanita yang kucintai ikut tersakiti juga."


"Adrian ...." Air mata bahagiaku semakin mengalir deras sampai aku tidak bisa menahannya lagi.


"Kamu adalah bagian terpenting dalam hidupku. Kamu adalah cinta pertama dan terakhir bagiku."


Adrian berdiri sejenak, lalu berlutut dan menekuk lutut kanan di hadapanku sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Ia membuka kotak terlihat mahal yang isinya sebuah cincin emas dilapisi perak berkilauan.


Aku menutup mulutku dengan tanganku secara anggun, bola mataku terbelalak memandangi cincin lamarannya.


"Maukah kamu menikah denganku?"


Aku tidak menyangka Adrian sungguh mencintaiku sejauh ini. Pria yang paling kupercayai sejak pertama kali bertemu, sekarang melamarku dengan mengeluarkan seluruh isi hatinya yang ia pendam selama ini padaku. Tidak butuh waktu lama untuk memberinya jawaban. Adrian Christopher adalah satu-satunya pria yang selalu mewarnai hidupku selama ini dan juga cinta pertama dan terakhirku, mustahil aku menolaknya menjadi istrinya di masa depan.


Aku langsung memeluknya girang. "Jawabanku selalu iya. Aku akan menikah denganmu, Adrian. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat bahagia setiap bersamamu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Penny. Mari kita hidup bahagia bersama!" Adrian memasangkan cincin lamarannya pada jari manisku lalu mengangkat tubuhku menggendongku sambil berputar-putar girang.


Momen paling bersejarah saat ini juga dihiasi kembang api yang mewarnai langit malam ini. Selain malam tahun baru, hari kemenangan, hari ini adalah hari yang tidak akan terlupakan seumur hidupku.


"Aku ingin menciummu sekarang." Adrian memegang kepalaku dengan kedua tangannya lalu mendekatkan bibirnya pada bibirku tapi aku menahannya dengan jari telunjukku.


Aku sedikit memundurkan kepalaku. "Jangan lakukan di sini!"


Adrian memanyunkan bibir. "Kenapa? Kamu tidak suka aku menciummu?"


"Di sini banyak orang, nanti dilihat mereka. Aku sangat malu."


"Baiklah aku akan menurutimu, sebagai gantinya kita akan meminum wine sepuasnya malam ini."


Adrian menurunkan tubuhku lalu kami kembali ke tempat duduk melanjutkan makan malam romantis. Kami berdua mengangkat segelas wine secara bersamaan dan bersulang sebagai pengganti ciuman.


"Bagaimana kalau besok kita minta restu dari orang tua kita?" usulnya sambil minum wine.


"Boleh juga. Sekalian besok kamu mengantarku pulang."


"Kalau begitu untuk merayakan hari bersejarah ini, mari kita minum wine sepuasnya!" Adrian dengan semangat menuangkan segelas wine untukku.


"Tapi aku tidak bisa minum banyak."


"Sebenarnya aku pesan kadar alkohol paling rendah supaya kamu tidak mabuk. Tapi kalau kamu tidak sanggup, aku tidak akan memaksamu."


Kami berdua merayakannya bersama hingga larut malam. Adrian minum wine sampai ia sedikit pusing karena ia yang menghabiskan hampir satu botol. Karena aku masih dalam kondisi normal jadinya aku merangkul bahunya menuntunnya masuk ke dalam mobilnya. Sekarang aku menjadi sopir mengendarai mobilnya pulang menuju kediamannya.


Aku merangkul bahunya menuntunnya berjalan memasuki kediamannya. Aku membantunya melepaskan sepatu lalu menuntunnya menuju sofa ruang tamu. Karena ia terus mengeluh pusing, aku membantunya membaringkan tubuhnya di sofa dan juga melepaskan jasnya serta lilitan dasi.


"Tunggu sebentar aku akan ambilkan segelas air untukmu!"


Saat aku ingin melangkah menuju dapur, tiba-tiba ia menarik tanganku hingga aku terjatuh terbaring di sebelahnya.


"Tetap di sini bersamaku, Penny," ucapnya sambil memelukku erat.


Aku membalikkan tubuhku perlahan, lalu menghadapnya dalam keadaan matanya terpejam. Menatapnya dengan jarak sangat dekat sambil menyentuh pipinya membuat hatiku berdebar, aku ingin menciumnya sekarang. Secara perlahan aku mendekatkan bibirku menuju bibirnya.


Tiba-tiba Adrian membuka matanya menatapku dengan senyuman manis sambil mengelus kepalaku. "Kamu menginginkannya, ya."


Aku menunduk malu. "Sebenarnya tadi saat di restoran, aku sedikit menyesalinya."


"Aku akan melakukannya sekarang."


Adrian mempererat pelukannya mendekatkan bibirnya menuju bibirku menciumku dengan lembut. Aku membalasnya dengan melingkarkan kedua tanganku di lehernya untuk menikmatinya sampai kami puas melakukannya. Ciuman kali ini aku bisa merasakan betapa besarnya rasa cintanya padaku, begitu pula aku sangat mencintainya. Mata kami masih saling terpejam menikmati ciuman ini sambil saling meraba punggung.


Sudah puas melakukan aksi ciumannya, Adrian melepas tautan bibirnya sambil mengusap bibirku dengan jempolnya. "Kamu sudah puas sekarang?"


Aku mengangguk anggun.


"Aku ingin tidur bersamamu," ajaknya tiba-tiba dengan nada santai.


Aku membelalakan mataku. Sebenarnya apa yang merasuki pikirannya? Apakah ia ingin berbuat mesum sejak aku menerima lamarannya?


Adrian tertawa puas mencubit pipiku. "Jangan-jangan kamu sudah berpikir ke sana. Tenang saja, aku tidak akan melakukannya selama kita belum resmi menikah. Sebenarnya sejak dulu aku ingin tidur bersamamu sesekali."


Rona merah menyala pada pipiku. "Tapi kamu sakit kepala. Aku tidak sanggup menggendong kamu ke kamar."


"Kita tidur di sofa malam ini. Aku hanya ingin kita tidur bersama sudah cukup untukku."


Adrian mendaratkan bibirnya pada keningku dengan penuh kasih sayang. "Semoga bermimpi indah, Tunanganku."


Keesokan paginya, aku terbangun masih dalam pelukannya lalu ia juga terbangun menyambutku dengan senyuman hangat.


"Apa kamu tidur nyenyak?" tanyanya sambil mengusap rambutku.


"Aku bahkan bermimpi indah karena dipeluk kamu."


Aku menyentuh kepalanya sejenak. "Omong-omong, kamu masih sakit kepala? Maukah aku buatkan sup pereda mabuk?"


"Semalam aku tidak terlalu mabuk. Lagi pula, aku sudah tidak sakit kepala karena tidur bersamamu. Kamu tidak perlu repot-repot memasak untukku."


"Kalau begitu sebaiknya kamu cuci bibirmu itu dipenuhi lipstikku. Lagi pula aku harus mengemas barangku dulu."

__ADS_1


Pipinya memerah, jempol kanannya menyentuh bibirnya. "Benarkah? Untung saja kamu memberitahukan padaku sebelum dilihat banyak orang."


Aku menertawainya. "Semalam kita berciuman sampai bibirmu belepotan begini."


Adrian menggesekkan hidungnya dengan hidungku. "Tidak masalah. Yang terpenting ini menandakan bahwa sekarang aku sudah menjadi milik seseorang."


"Ish, Adrian!"


"Aku mau mandi dulu."


Aku beranjak dari sofa menuju kamar lalu membuka koperku mengemas semua pakaianku. Sambil mengamati sekeliling kamarku, aku pasti akan merindukan kamar ini. Apalagi banyak kenangan indah kami ciptakan di tempat ini.


Saat aku masih sibuk mengemas barangku, Adrian memasuki kamarku duduk di sebelahku ikut membantuku. "Kamu tidak perlu bersedih, Penny. Karena kamu adalah tunanganku, nanti kamu akan kembali tinggal di apartemen ini bersamaku. Apalagi hubungan kita nanti akan menjadi sepasang suami istri.


Aku mengelus pipinya memasang tatapan cemas. "Kamu pasti sangat merindukanku selama aku tidak berada di sini."


"Kalau aku merindukanmu, nanti aku akan tinggal bersama ayahku sementara supaya aku bisa melihatmu setiap hari."


"Tapi jarak rumahmu dan kantormu jauh."


"Tidak apa-apa. Ini semua demi tunanganku. Lagi pula aku tidak tinggal di rumah ayahku hari ini," pungkasnya sambil meresleting koperku.


"Terima kasih sudah membantuku mengemas barangku."


"Sebaiknya kamu mandi dulu supaya wajahmu terlihat lebih bersinar."


Aku mencium pipinya. "Kalau begitu aku mandi sekarang, tunggu sebentar, ya."


Setibanya di rumahku, aku berlari menghampiri ayah dan ibu yang sedang menonton TV di ruang tamu.


Aku memeluk ayah ibuku dengan tangisan haru.


"Ayah! Ibu! Aku sangat merindukan kalian!"


"Ibu juga sangat merindukanmu, Penny. Ayahmu itu merindukanmu sampai tidak bisa tidur," sahut ibu membalas pelukan hangat.


"Ibumu itu bohong. Ayah tidak berlebihan seperti itu!" protes ayah.


"Aku akan masak hari ini. Ibu tunggu di sini saja sama ayah."


Ibu menatapku curiga. "Tumben sekali kamu rajin."


"Karena hari ini tahun baru jadi sesekali aku harus masak."


Aku memasuki dapur mengambil bahan makanan dan juga peralatan memasak. Setelah itu, aku mengikat rambutku lalu mulai memotong sayur dulu.


Tak lama kemudian, Adrian dan Randy memasuki rumah, lalu Peter menyambut mereka berdua. Randy memasuki ruang tamu dan bergabung dengan Peter dan Maia berbincang di sana.


Di tengah kesibukan memasak, aku merasakan sentuhan kasih sayang calon suamiku dari belakang membuat pipiku mulai memanas.


"Adrian, apa yang kamu lakukan? Jangan memelukku seperti ini, nanti dilihat sama orang tua kita," bisikku sambil mengaduk sup.


"Aku ingin melihat calon istriku memasak," balasnya sambil mengusap rambutku.


Adrian mencium pipiku. "Tidak mau!"


"Adrian!"


"Bolehkah aku membantumu memasak?"


Aku menolehkan kepalaku menghadapnya sambil mencubit pipinya lembut. "Kamu boleh membantuku."


"Asyik!" Dengan sigap Adrian merebut sendok sup.


"Tapi kamu tetap harus menjaga sikapmu di depan orang tua kita!" Aku memperingatkannya dengan tegas.


Tatapan Adrian terpaku pada panci berisi sup asparagus. "Mmm sepertinya sup asparagus buatanmu terlihat lezat. Aku ingin mencicipinya dulu."


Adrian mengambil sesendok sup meniup perlahan lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Aku mengedipkan mataku. "Bagaimana rasanya?"


Tangannya mengelus kepalaku. "Tentu saja rasanya sangat lezat!"


Aku menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga. "Kamu masih ingat saat aku pertama kali mencoba masakanmu?"


"Kamu mengatakan padaku bahwa kalau aku sudah menikah nanti, istriku sangat bersyukur memiliki seorang suami yang mahir memasak dan pasti akan semakin mencintaiku."


"Lalu calon istrimu itu adalah aku," lanjutku tersenyum manis padanya.


"Sepertinya aku harus banyak belajar masak variasi makanan supaya kamu semakin sayang aku."


Aku menyajikan masakanku di atas meja makan. Aku dan Adrian saling menyentuh tangan kami diam-diam di bawah meja sambil makan.


"Kalian mengajak kami makan bersama pasti bukan hanya merayakan tahun baru, 'kan. Pasti kalian ingin menyampaikan sesuatu yang penting," ucap ayah dengan tatapan curiga.


"Apa kalian minta restu dari kami?" ujar Randy tiba-tiba langsung pada intinya.


Adrian bergeming hingga matanya terbelalak. "Bagaimana ayah bisa tahu?"


Sorot mata paman Randy terpaku pada cincin lamaranku. "Ayah melihat cincin lamaran yang terpasang di jari manisnya Penny. Kamu pasti melamarnya, 'kan."


Aku dan Adrian meletakkan sendok sejenak. Kami berdua sekarang saling menggenggam tangan memperlihatkannya langsung pada orang tua kami.


"Paman, tante, aku berjanji akan membahagiakan dan melindungi Penny selamanya. Aku sangat mencintainya seumur hidupku. Aku mohon restuilah pertunangan kami," bujuk Adrian menundukkan kepala sopan.


"Paman menyetujuinya," balas ayah dengan cepat.


"Apakah ayah serius?" tanyaku dengan semangat.


"Ayah sudah memercayainya sejak dua bulan yang lalu. Ayah tahu Adrian pasti bisa membahagiakanmu dan juga melindungimu setiap saat. Tidak ada pria selain dia yang mampu melindungimu."


"Kalau ibu juga merestui kalian berdua. Bahkan ibu harus berterima kasih kepada Adrian karena telah mengubahmu menjadi wanita sungguhan," sindir ibu sedikit menertawaiku.


"Kalau ayah bagaimana?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Ayah hanya ingin melihatmu bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai," jawab Randy sambil menepuk pundak putranya.


"Terima kasih ayah, paman, tante telah merestui kami," ucap Adrian tersenyum bahagia.


Paman Randy mengacungkan jempol. "Lagi pula calon menantuku ini pandai juga dalam memasak."


"Terima kasih, Paman. Aku sangat bahagia jika paman menyukainya," balasku dengan senyuman ramah.


Sepanjang hari, kami semua sibuk berbincang sampai malam. Hari sudah larut malam, aku mengantar Adrian kembali ke apartemennya karena tadi pagi ia menyetir mobilku mengantarku pulang.


Setibanya di apartemen, Adrian tidak ingin melepas genggamannya bagaikan lem yang lengket.


Lengan kekarnya mendekap tubuhku erat. "Aku tidak ingin melepaskanmu secepat ini."


Aku mengelus punggungnya. "Aku harus pulang sekarang, besok kita akan bermain lagi."


"Kamu harus berjanji, Penny," ujarnya mengulurkan jari kelingkingnya.


Aku menempelkan jari kelingkingku pada jarinya. "Aku tidak akan pernah mengingkar janjiku dengan calon suamiku."


Keesokan harinya, aku berangkat ke kantor seperti biasa.


Sorot mata Fina tertuju pada cincin lamaranku dengan senyuman lebar. "Selamat Penny, akhirnya kamu dilamar Adrian!"


"Apa? Penny dilamar Adrian?" Nathan langsung menghampiriku menatap cincin yang terpasang di jari manisku.


Nathan menepuk pundakku. "Wah, akhirnya kamu menyusulku juga, Penny! Selamat akhirnya sebentar lagi kamu akan menjadi istrinya Adrian!"


Tania memelukku sekilas. "Sebentar lagi kamu akan menjadi sepertiku, Penny."


Aku menatap mereka semua satu per satu menampakkan senyuman bahagia. "Terima kasih semuanya. Aku juga tidak menyangka Adrian melamarku secepat ini."


"Lalu bagaimana denganmu, Hans?" Nathan menatap menyeringai pada Hans.


Hans menggenggam tangan Fina. "Kalau aku, sudah pasti bersama Fina."


Aku bersorak girang merangkul pundak mereka. "Akhirnya kalian berpacaran juga. Selamat ya! Aku turut bahagia!"


"Sudah kubilang Hans dan Fina bakal jadian suatu hari nanti," ledek Nathan menertawai mereka puas.


Aku menatap sekeliling kantor, entah kenapa aku merasa ada yang kurang di kantor ini. "Omong-omong, aku tidak melihat Inspektur William dari tadi."


"Dia baru saja menyerahkan surat pengunduran diri setelah jabatannya dilepas komisaris polisi sebagai hukumannya," balas Fina.


Tiba-tiba Adrian memasuki kantorku menghampiriku menatapku dengan pandangan berbinar. Tebakanku pasti ia ingin mengajakku berkencan sekarang.


Adrian menggenggam tanganku sambil menatapku sekilas. "Apakah aku boleh meminjam tunanganku?"


"Boleh saja silakan, kalau perlu jangan hanya sebentar," jawab Tania terkekeh.


"Kalian berdua pergi berkencan saja, kami bisa mengurus kantor," usul Fina.


"Baiklah, aku akan pergi bersamamu." Aku merangkul tangannya berjalan keluar dari kantor.


Adrian mengajakku mengunjungi taman kota. Di cuaca yang cerah ini, banyak anak kecil bermain dan juga beberapa pasangan yang sedang berkencan di sana.


Aku dan Adrian berjalan santai di taman saling bergandengan tangan seperti layaknya sepasang suami istri.


"Bagaimana kalau kita duduk di bangku itu sebentar?" ajaknya menunjuk sebuah bangku kosong.


Kami berdua duduk di bangku taman, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.


"Kamu sedang apa, Adrian?"


Adrian membuka bungkusan kotak. "Aku ingin memberimu kue cokelat."


Aku tertawa anggun, tidak menyangka ia sangat peka bisa baca pikiranku. "Kamu tahu saja aku ingin makan kue cokelat."


"Biar aku menyuapimu." Adrian mengambil sepotong kue lalu memasukkan ke dalam mulutku.


"Mmm ini sangat lezat! Aku sangat menyukainya!"


"Kamu lebih menyukaiku atau kue cokelatnya?" tanyanya mulai menggombalku sambil menyunggingkan senyuman usil.


Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya manja. "Tentu saja aku lebih menyukaimu. Kamu akan menjadi suamiku "


Adrian sibuk menyuapiku kue cokelat hingga tidak tersisa. Ia merasa tidak puas, sorot matanya tertuju pada seorang pedagang yang menjual es krim di dekat kami.


"Di sana ada orang yang menjual es krim. Tunggu di sini ya, aku akan beli es krim untukmu dulu!"


Adrian berlari cepat menghampiri penjualnya. Tak lama kemudian, ia kembali lagi hanya membawa satu es krim cokelat saja.


Aku mengernyitkan dahiku. "Kenapa kamu hanya beli satu?"


Adrian mendekatkan bibirnya menuju bibirku. "Kalau aku beli dua nanti tidak seru. Aku ingin menikmatinya bersamamu."


"Baiklah, kamu makan yang sisi sebelah kiri, aku sisi sebelah kanan."


"Aku akan mengikutimu saja."


Kami berdua makan es krim secara bersamaan lalu berujung sepasang bibir kami saling bersentuhan tanpa sengaja.


Dengan sigap aku melepas tautan bibirku tersenyum malu di hadapannya. Sudah kuduga ia bermaksud ingin menciumku tapi tidak terang-terangan. "Dasar nakal!"


Adrian tertawa puas. "Supaya es krim ini semakin manis rasanya."


Aku membalasnya dengan memberikan kecupan manis pada pipinya lalu memeluknya. "Aku sangat mencintaimu, Adrian."


"Aku juga sangat mencintaimu, Penny," ungkapnya mencium keningku mendalam.


Sambil melanjutkan makan es krim , aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya dengan manja sambil menatap cincin lamaran yang terpasang pada jari manisku. Saat kami menikmati es krim melahap, tanpa sengaja bibir kami bersentuhan lagi hingga kami tertawa bahagia secara spontan.


Adrian menyipitkan matanya semakin mendekati wajahku. "Tadi kamu bilang aku nakal, sekarang kamu tertawa."


"Itu karena entah kenapa aku semakin merasa bahagia ketika melakukannya bersamamu."

__ADS_1


__ADS_2