
Di sisi lain yaitu di dalam suatu ruangan rahasia yang merupakan tempat penyimpanan semua barang korban di sana, seorang pria misterius berpakaian rapi tampak dari belakang sedang mengamati kameranya yang berisi foto-foto pengintaiannya dari tadi.
"Sepertinya detektif wanita ini tidak akan pernah menyerah mengincarku terus. Aku harus bertindak cepat untuk mencegahnya tidak bertingkah lebih jauh untuk mencari keberadaanku terus," ucap pria misterius pada dirinya sendiri.
drrt...drrt...
Ponselnya bergetar di dalam laci mejanya. Ia dengan sigap mengambil ponselnya yang terlihat kuno di era sekarang dan mengangkat panggilan teleponnya.
"Ada apa lagi?"
"Sepertinya kepolisian akan bertindak lebih cepat dari yang kita kira."
"Tenang saja. Dia pasti tidak akan pernah mengincarku."
"Kamu jangan pernah menganggap remeh dulu. Kepala detektif yang menangani masalah ini tidak akan mudah melepaskanmu begitu saja. Dia pasti akan terus menggali informasimu lebih dalam lagi."
"Aku tidak bakal membocorkan informasiku dengan mudah. Apakah kamu lupa sebenarnya aku memiliki kekuasaan yang tinggi?"
"Terserah kamu saja. Yang terpenting aku sudah memperingatkanmu saja supaya kamu tidak bersikap seenaknya saja. Apalagi terakhir kali kamu melakukan pembunuhan pada pelajar SMA itu hingga berkelahi dengannya dulu. Aku yakin kamu pasti sedikit mengubah polanya karena sempat panik."
"Itu hanya sekali saja. Tidak mungkin dia mencurigaiku terus."
"Yang pasti kamu tidak boleh tertangkap basah! Aku tidak akan ikut campur kalau kamu sampai tertangkap oleh detektif wanita itu."
Panggilan telepon tersebut langsung terputus. Pria misterius dengan kesal memasukkan kembali ponsel lipat kunonya ke dalam laci mejanya lagi. Lalu ia kembali mengamati foto tersebut dan menonjok layar tampilan kameranya.
Kembali lagi saat aku akhirnya memutuskan berdiskusi dengan anggota timku mengenai kejanggalan kasus ini yang dari tadi aku lamunkan selama hampir 15 menit.
"Semuanya coba dengarkan aku baik-baik!" pintaku berlagak seperti seorang pemimpin yang hebat.
"Kenapa sih, Penny? Tumben kamu berlagak pamer begini," tanya Hans bermalasan.
"Menurutku kasus pembunuhan ini dengan panti asuhan Violet Orphanage ada kejanggalan. Apalagi mengenai keakraban para pelajar SMA itu."
"Kejanggalan apa sih? Kejanggalan pemilik panti asuhannya merupakan pembunuh sesungguhnya?" Lagi-lagi Hans berspekulasi yang aneh membuat Fina menggelengkan kepalanya merasa suaminya terlihat sangat bodoh.
"Aduh Hans, kamu ini ngomong apa sih! Jelas-jelas pelakunya merupakan seorang pria bertumbuh tinggi. Sedangkan pemilik panti asuhannya kan seorang wanita!" gerutu Fina memukuli punggungnya Hans.
"Tapi bisa juga Nielsen waktu itu salah melihatnya karena banyak asap menghalangi pandangannya. Aku kalau jadi dia di situasi mencekam begitu sih juga penglihatanku bakal kabur."
"Ada-ada saja! Waktu itu juga ada saksi mengatakan bahwa yang membuang tas para korban ke tempat sampah depan rumahnya Nielsen adalah seorang pria bertubuh tinggi. Jadi sudah dipastikan pelakunya memang seorang pria!" celetuk Nathan menggelengkan kepalanya.
"Coba saja kalian pikirkan baik-baik deh! Bisa juga yang membunuh itu adalah kaki tangannya pemilik panti asuhan itu. Soalnya bisa juga dia membunuh tiga anak yang pernah dibesarkan di sana lalu mengambil foto beserta kartu identitasnya juga bertujuan karena dia mungkin sangat merindukan mereka." Hans terus berspekulasi aneh hingga dahinya berkerut.
"Kamu memang bodoh, Hans!" hardik Nathan.
"Kenapa aku bodoh? Aku berusaha untuk berpikir keras sampai aku tidak berselera makan sejak kemarin."
"Ya jelaslah kamu bodoh! Mana mungkin sih seorang pemilik panti asuhan merindukan anak yang pernah diasuhnya sampai menyuruh orang untuk membunuhnya dengan kejam!" bentak Nathan balik berkacak pinggang.
Daripada mendengar perkataan Hans yang aneh dan bodoh membuatku juga ikutan bodoh. Lebih baik aku mengemil cokelat saja sambil mendengarkan perdebatan kedua detektif pria ini. Cokelatnya tersisa satu dalam laci mejaku lalu dengan sengaja membuka bungkusan cokelatnya tepat di hadapan mereka berdua untuk menggodanya.
"Mmm enaknya makan cokelat di saat begini," godaku menikmati cokelatnya sampai mataku terpejam.
"Bagi dong, Penny!" Hans mengulurkan tangannya berusaha meraih cokelat yang ada di tanganku.
Secara spontan aku menepis tangannya dengan kasar.
"Tidak boleh! Cokelatnya hanya boleh dimakanku saja," ledekku menjulurkan lidahku pada Hans.
"Kalau begitu aku minta cokelatnya satu lagi dong, Penny," rayu Fina mengedipkan matanya manja padaku.
"Sayang sekali cokelatnya hanya tersisa satu di laci mejaku," ejekku lagi sengaja menjilat cokelatnya dengan senyuman godaan.
"Ish pelit dasar, Penny!" sungut Fina.
"Makanya Fina, minta Hans belikan cokelat untukmu. Kalau Adrian selalu memberikan cokelat yang terbaik untukku."
"Aku jamin gigimu nanti cepat rusak, Penny!" ketus Hans menyumpahiku hingga membuatku mulai geram sebenarnya.
Aku menghabiskan gigitan terakhir cokelatnya lalu mengambil selembar tisu di atas mejaku untuk menyeka bibir merahku yang dipenuhi bercak cokelat.
"Sekarang karena kalian sudah tidak berdebat lagi mengenai asumsi aneh kalian. Kita bisa melanjutkan diskusinya lagi dengan serius," ucapku kembali terfokus lagi.
"Iya aku juga sudah malas berpikir lagi," balas Hans bermalasan lagi.
"Jadinya menurutku bukan pemilik panti asuhan merupakan pembunuhnya. Tapi bisa juga ada seseorang yang tidak bakal kita duga selama ini mengawasi kita. Orang tersebut bisa juga memiliki hubungan yang sangat dengan Angelina, Gracia, dan Nielsen. Bukan berarti hanya mengenali salah satu dari mereka. Tidak mungkin yang membunuh Nielsen adalah kerabatnya Gracia atau Angelina. Selain itu juga untuk apa kerabatnya membunuh temannya sendiri dengan kejam dan mengambil barang yang tidak berharga," jelasku fokus pada spekulasiku.
"Sekarang aku mau bertanya padamu, Penny. Kenapa kamu tidak kepikiran Marcelia adalah pelakunya?" tanya Hans berkacak pinggang.
__ADS_1
"Kalau dilihat dari bahasa tubuhnya tadi saat menceritakannya padaku, dia terlihat jujur. Tidak ada kegugupan yang terlukis pada wajahnya dan dia berterus terang padaku. Kalau seandainya dia adalah pelakunya, mana mungkin dia memberitahu kehidupan masa lalunya para pelajar itu secara rinci."
"Benar kata, Penny. Aku juga bisa merasakannya tadi. Bahkan Marcelia berharap kita menangkap pelakunya secepatnya. Seorang ibu pemilik panti asuhan mengasuh anaknya walaupun bukan anak kandung pasti juga mengalami rasa sakit pada hatinya. Apalagi kalau mengasuh selama bertahun-tahun," lanjut Tania tersenyum simpul.
"Jadinya apa yang mencurigakan kalau ada kaitannya dengan panti asuhan itu?" tanya Hans lagi mulai penasaran.
"Aku ingin kalian semua coba mencari segala informasi tentang Zack deh. Aku merasa ada sesuatu yang janggal pada dirinya," titahku kepada semua anggota timku.
"Bukankah Zack sudah meninggal sejak lama? Untuk apa mencari informasinya lagi?" Hans terus melontarkan pertanyaannya hingga rasanya aku ingin melemparkan sepatuku mengenai wajahnya.
"Sudahlah pokoknya kalian cari saja sesuai dengan keinginanku. Aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres terhadapnya!" titahku tegas.
Seluruh anggota timku kembali menuju meja kerjanya masing-masing dan melakukan pencarian yang aku perintahkan barusan. Sambil menunggu mereka, aku menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi sambil memejamkan mataku. Rasanya saat ini aku ingin tidur seharian terus di ranjangku tanpa memedulikan siapa pun kecuali suamiku sendiri.
"Ketemu, Penny!" seru Fina.
Baru saja aku ingin memasuki dunia mimpiku sudah diganggu Fina. Aku dengan sigap membuka kedua mataku dan menghampiri meja kerjanya.
"Jadinya apa Zack sungguh mengalami kecelakaan mobil?" tanyaku kepada Fina.
"Iya benar. Zack diadopsi oleh seorang ayah tunggal bernama Bernardo tahun 2018 saat usianya 16 tahun. Lalu ia mengalami kecelakaan mobil yang menimpanya setelah seminggu keluar dari panti asuhan. Mereka berdua ditemukan sudah tidak bernyawa lagi dan mengalami gegar otak yang sangat parah."
"Sepertinya tidak ada yang janggal, Penny. Itu sudah jelas Zack meninggal saat kecelakaan. Catatan laporan dari kepolisian tidak mungkin salah," tegas Hans.
"Tapi ini sedikit terdengar aneh sih. Satu-satunya teman yang akrab dengan Angelina, Gracia, dan Nielsen hanyalah Zack sewaktu kecil dulu. Kata Bu Fransisca waktu itu saat aku menanyakannya, mereka bertiga terus bersama ke mana pun mereka pergi," sangkalku bertopang daguku.
"Jadi maksudmu itu Zack sampai sekarang masih hidup?" tanya Fina.
"Memang ini terdengar sangat tidak masuk akal. Tapi kalau dipikir-pikir sepertinya Zack masih hidup sampai sekarang," jawabku.
Hans meresponku menertawaiku terbahak-bahak hingga memukuli meja kerjanya.
"Mana mungkin sih orang mati bangkit sendiri. Lagi pula Zack mengalami gegar otak dan mengalami pendarahan yang parah waktu itu. Kemungkinan dirinya bakal hidup hanyalah 0.001 persen," sindir Hans.
"Iya juga sih perkataanmu, Hans. Mungkin aku berpikir terlalu berlebihan. Lagi pula waktu itu jelas sekali terlihat Zack meninggal bersama walinya saat ditemukan polisi. Sidik jarinya juga sesuai."
"Sudahlah, Penny. Daripada kamu terus berpikir hal yang aneh lebih baik kamu merenungkan hal yang lain saja. Aku merasa kamu semakin hari semakin parah pemikirannya," celoteh Hans dari tadi tertawa meremehkanku.
"Iya aku tahu! Bahkan aku sempat berhalusinasi aneh tadi!"
Sebenarnya kalau dipikir lama-lama, aku bukan berhalusinasi. Tapi memang aku seperti sedang diawasi seseorang secara diam-diam. Sejak menyelidiki kasus pembunuhan ini ke mana pun aku pergi, aku tidak pernah merasakan adanya ketenangan kecuali di kediamanku sendiri. Aku sengaja membohongiku seluruh anggota timku seolah-olah aku berhalusinasi akibat kelelahan bekerja supaya mereka tidak terlalu mencemaskanku.
Setibanya di kediaman kami, Adrian tidak bersikap seperti biasanya. Biasanya ia selalu bawel dan ceria padaku, namun kini wajahnya sedikit muram. Saat aku selesai memasak makan malamnya dan ingin menyantap makan malam bersamanya, Adrian menghembuskan napasnya lesuh dan alisnya turun.
"Adrian, kamu kenapa sebenarnya? Kenapa kamu lesuh terus sih dari tadi? Kalau seandainya telah terjadi masalah, kamu harus bercerita padaku." Aku terus mencemaskannya dari tadi sampai rasanya ingin mendekapnya sekarang.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit mengalami masalah saja hari ini," balasnya tersenyum tipis padaku masih berlagak tetap menjadi lelaki kuat di hadapanku.
"Masalah apa? Sepertinya bukan sekadar sedikit masalah."
"Itu Penny ...."
"Katakan sesuatu padaku, Adrian. Aku pasti akan membantumu mengatasi masalahnya."
Embusan napas lesuh dikeluarkan dari rongga mulutnya. Aku yakin suamiku pasti habis dimarahi atau terkena masalah lainnya.
"Tadi kepala jaksa mengomeliku habis-habisan."
"Apa? Kenapa? Bagaimana bisa?" Benar tebakanku, tapi aku masih bingung sampai melontarkan banyak pertanyaan.
"Kepala jaksa meremehkanku menganggapku merupakan seorang jaksa yang tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya. Karena insiden salah penangkapan Nielsen sebagai tersangka utama, aku ditegur olehnya habis-habisan tadi."
Tentu saja aku tidak tega mendengar suamiku diremehkan atasannya. Emosiku semakin meledak sekarang.
"Sungguh keterlaluan kepala jaksa! Tega sekali dia memarahi suamiku! Padahal kamu tidak melakukan kesalahan sama sekali tapi kamu diomeli. Tidak akan kubiarkan begitu saja!" gerutuku menggenggam sendok dengan erat ingin melemparnya ke lantai.
"Penny ...."
"Padahal di mataku kamu adalah jaksa terbaik bagiku. Kamu tidak pantas menerima tegurannya, Adrian! Saat ini rasanya aku ingin menampar kepala jaksa itu sekarang!"
"Penny, aku tidak masalah kalau aku yang menerima tegurannya begitu. Tapi aku tidak ingin kamu diremehkannya." Raut wajahnya Adrian semakin lesuh dan matanya terlihat sedikit sembab.
"Memangnya dia meremehkanku seperti apa?"
"Dia berkata bahwa kamu ini merupakan kepala detektif yang tidak kompeten sama sekali dan merusak citra nama baik kejaksaan."
Aku hening sejenak menyandarkan punggungku pada sandaran kursi lemas. Aku jadi teringat sewaktu dulu aku dimarahi Inspektur William habis-habisan karena kesalahan yang telah aku lakukan. Aku menundukkan kepalaku merasa bersalah sambil memainkan kuku jariku. Rasa gelisah mulai timbul pada diriku saat ini.
"Maaf Adrian, aku tidak bermaksud membuat masalah. Gara-gara aku, kamu jadi dimarahi kepala jaksa. Padahal biasanya kau tidak pernah dimarahi separah begini."
__ADS_1
"Penny, untuk apa kamu meminta maaf padaku. Kamu tidak ada salahnya sama sekali," bantahnya.
"Tapi kamu jadi terkena dampaknya karena aku. Aku juga tidak tega melihatmu diremehkan kepala jaksa."
Adrian menggenggam tanganku sambil mengelus punggung tanganku lembut.
"Ini bukan salahmu, Penny. Kamu tidak usah menyalahkan dirimu. Seharusnya aku yang lebih berhati-hati dalam menangani kasusnya. Aku ini memang bukan seorang jaksa yang baik."
Aku beranjak dari kursi lalu mendekapnya hangat.
"Adrian, setelah aku renungkan dengan baik. Sebaiknya kita melupakan kejadian yang sudah lewat dan memikirkan masa mendatang. Walaupun kita sudah terlanjur melakukan kesalahan, kita masih bisa memperbaikinya. Apa kamu lupa? Kau merupakan rekan kerja terbaikku selama aku bekerja sebagai detektif. Aku yakin kita pasti bisa menangani kasus ini dengan baik."
Adrian kembali tersenyum tipis menolehkan kepalanya padaku.
"Kamu benar. Bagiku, kamu juga merupakan rekan terbaikku selama aku bekerja sebagai jaksa. Mencari rekan yang baik sepertimu sangat sulit."
"Sejak dulu kita adalah rekan kerja yang selalu kompak dalam menangani kasus."
"Maka dari itu, mari kita satukan kekuatan kita menghadapi kasus ini sampai selesai. Walaupun kita terus gagal, tapi bukan berarti kita berhenti di tengah jalan. Jangan pernah takut untuk menghadapi masalah kecil seperti ini," ungkapnya penuh percaya diri.
"Selain itu walaupun sikap kita yang lembut dan penyabar bukan berarti diri kita lemah. Dibalik sikap itu sebenarnya kita adalah orang yang kuat dan pantang menyerah," sambungku melanjutkan kalimat motivasinya.
"Maka dari itu, mari kita buktikan kepada semua orang bahwa kita bukan orang yang lemah."
"Dengan cara selalu berambisi dan tidak pernah menoleh ke belakang," paparku melanjutkan perkataan mutiara dari mulutnya.
Adrian mencium pipiku mendalam dan memeluk pinggangku erat.
"Jangan lupa juga kalau vitamin penyemangat selalu tersedia spesial untukmu."
Adrian menghujani ciuman pada pipiku lagi membuatku semakin terasa bahagia bersamanya saat ini.
"Adrian! Kamu kenapa mencium pipiku terus!"
"Supaya kamu semakin bersemangat bekerja, Penny," godanya tersenyum nakal.
"Ish kalau kamu begitu terus, aku juga akan mencium pipimu sampai aku puas!"
Aku memegang kepalanya dengan kedua tanganku dan menghujani ciuman manis pada pipinya juga.
"Penny, kamu jangan sampai berhent, ya. Aku suka kamu bertingkah begini."
Aku menghentikan aksiku lalu mengambil sesendok makanannya dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"Tidak mau!" ejekku menjulurkan lidahku.
"Ish kamu tega padaku, Penny! Padahal tadi aku sudah memberikan banyak vitamin penyemangat untukmu. Masa kamu tidak ingin memberikan vitamin penyemangat untukku juga sih!"
"Bodoh amat! Yang penting sekarang aku makan dulu. Perutku lapar banget nih dari tadi!" Aku kembali menduduki kursiku dan melanjutkan menyantap makan malamnya lagi.
"Hufft! Kalau tahu tadi aku tidak mencium pipimu!" ketus Adrian memanyunkan bibirnya.
"Kalau kamu sungguh mencintaiku, kamu tidak usah ngambek begitu deh!"
"Berarti kalau kamu lebih pilih makan daripada suamimu, kamu tidak mencintaiku setulus hatimu."
"Adrian, coba lihat jariku deh sekarang."
Aku melekatkan jari jempol dan telunjukku membentuk sebuah hati sambil melakukan ciuman jarak jauh padanya.
"Aku selalu mencintaimu, Adrian," ucapku tersenyum hangat.
"Peennyy!"
"Kenapa, Adrian?"
"Wajahmu semakin menggemaskan saja kalau lihat cermin sekarang."
Akhirnya aku bisa melihat senyumannya lagi seperti semula. Membuatku tenang sekarang.
"Omong-omong Adrian, akhirnya aku berhasil membuatmu tersenyum kembali."
"Karena hanya istriku yang mampu membuatku selalu tersenyum di depan matanya," ujarnya mengelus kepalaku lembut.
"Ish padahal kamu dari tadi murung terus membuatku semakin mencemaskanmu!"
"Itu sih tadi. Sekarang sudah tidak lagi murung. Karena kamu akan selalu menjadi bintangku di malam hari, Penny."
Sedangkan di sisi lain, Yohanes memarkirkan mobil sedannya di basement apartemennya lalu keluar dari mobilnya. Namun, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang membuat dirinya kini sedikit ketakutan. Yohanes menoleh ke belakang lalu ada seseorang terlihat misterius ingin menghantamnya.
__ADS_1