
Aku sebenarnya masih belum memercayai perkataan Bu Rina tadi sampai rasanya aku sangat syok. Setahu aku, CEO Josh Wilson itu merupakan pria yang baik. Kalau seandainya ia merupakan tersangka utama dalam kasus pembunuhan ini, ia tidak mungkin mengobati luka kakiku waktu itu.
"Apakah Anda yakin?" tanyaku masih meragukannya memutar pulpenku.
Ibu tua itu menampakkan raut wajah ketakutan. "Iya. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Dia mencekik gadis itu dengan kuat hingga tewas lalu tubuh gadis itu dilempar ke sungai."
Aku menelan saliva mulai ketakutan. "Apakah mungkin kamera itu terjatuh di sekitar sana setelah pertengkaran mereka berdua?"
"Saya tidak melihatnya dengan jelas, sepertinya pelaku itu mengambil kamera."
Aku melipat kedua tangan di dada. "Omong-omong, kenapa Anda baru memberitahunya sekarang? Kalau seandainya Anda memberitahu kepada saya lebih awal, kita sudah menangkapnya sekarang."
"Sebenarnya saya takut sekali."
"Kenapa Anda takut?"
"Saya mendengar bahwa ada gadis lain lagi yang ditemukan tewas di rumahnya. Saya takut bila saya mengungkapkan kesaksian saya kepada Anda, nanti saya akan dibunuh juga." Bu Rina mengamati sekeliling ruang interogasi ketakutan.
"Tenang saja, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Kita pasti akan menangkap orang itu dan dia tidak akan bisa kabur lagi ke mana-mana."
"Terima kasih banyak."
"Sesi interogasinya sudah sampai di sini dulu, silakan Anda bisa meninggalkan ruangan ini. Apabila mungkin Anda ingin menambahkan pernyataan kesaksian Anda, Anda bisa menghubungi saya lagi." Aku merapikan peralatanku.
Aku bergegas keluar dari ruang interogasi, lalu meminta anggota timku berkumpul di ruang rapat dengan mendesak. Mendengar kesaksian itu, aku bertekad menangkap CEO Josh. Tidak ada belas kasihan dariku, meski ia sempat berbuat baik padaku. Meski kesaksian Bu Rina kurang jelas, tapi aku bisa menangkapnya dulu untuk menginterogasi lebih lanjut.
"Nathan, tolong kamu ajukan surat penangkapan CEO Josh Wilson sekarang juga!" pintaku pada Nathan tegas.
"Baiklah, Penny," patuh Nathan.
Hans bertopang dagu. "Apakah benar CEO Josh adalah pelaku sebenarnya?"
Fina mengerutkan dahi. "Penny, kamu yakin dengan pernyataan kesaksian Bu Rina?"
Aku meletakkan kedia tanganku di meja menampakkan ekspresi sebagai pemimpin. "Pernyataan kesaksian Bu Rina sudah terbukti bahwa CEO Josh Wilson adalah pelakunya. Lagi pula mendengar pernyataannya, aku teringat dengan kejadian saat di tempat pembuangan mobil bekas itu."
"Apakah waktu itu dia mengunjungi tempat pembuangan mobil bekas?" tanya Fina.
"Waktu itu aku bertemu dengannya di tempat parkir, ini yang menurutku sangat aneh. Kenapa dia tiba-tiba ingin menghancurkan mobil perusahaannya?" Aku berpikir keras hingga dahiku berkerut.
"Hmm apa mungkin di dalam mobilnya ada bukti yang kuat?" pikir Tania mulai berspekulasi.
Aku menggeleng sambil mengetuk mejanya berirama memikirkan masalah ini lebih mendalam. "Tidak, dia pasti ke sana untuk memeriksa kondisi mobil yang dipakai untuk mengejarku waktu itu."
__ADS_1
"Apakah mungkin ada kamera CCTV di sana?" tanya Hans.
"Di tempat itu tidak terpasang kamera CCTV sama sekali, dia pasti sudah memilih tempat di mana tidak ada kamera CCTV untuk menghilangkan jejaknya."
"Di sepanjang jembatan sungai itu kamera CCTV jalannya juga sudah dirusak pelaku," lanjut Tania.
"Satu-satunya bukti yang membuktikan bahwa CEO Josh Wilson merupakan tersangka utama kasus pembunuhan ini melalui pernyataan kesaksian Bu Rina. Kita harus memercayainya."
Satu jam kemudian setelah membuat surat pengajuan resmi penangkapan CEO Josh, akhirnya surat itu telah disetujui. Aku menaikki sebuah mobil van hitam dan juga anggota timku menuju stasiun TV BYZ.
Setibanya di sana, aku menerobos masuk pintu stasiun TV itu walaupun dihadang petugas keamanan di sana, lalu menaikki lift menuju lantai paling atas yaitu ruang pribadi CEO Josh.
Di depan ruangannya, sekretarisnya menghadang kami semua memasuki ruangannya. "Maaf Anda tidak bisa sembarang masuk seperti ini."
Aku memperlihatkan name tag dengan gaya angkuh. "Kami adalah detektif, mohon kerja samanya untuk mengizinkan kami memasuki ruangan CEO."
"Kalian tetap tidak bisa menerobos masuk seperti ini. Kalian harus membawa surat penangkapan terlebih dahulu!"
"Jika Anda tetap tidak mengizinkan kami masuk, maka kami akan menerobos paksa." Aku mendorong sekretaris itu sedikit bertenaga lalu memasuki ruang CEO Josh dengan paksa.
Josh sedang sibuk menatap layar monitornya lalu terkejut saat melihatku mendatanginya tiba-tiba dengan situasi mencekam.
Josh beranjak dari kursi kerjanya menghampiriku menatapku dengan bingung berkacak pinggang. "Detektif Penny, sedang apa kamu di sini? Kenapa kamu menerobos masuk ruanganku begitu saja?"
Josh menatapku ketakutan sambil menggelengkan kepalanya terus. "Aku bukan pelakunya! Sudah jelas bukan aku pelakunya!"
"Ada saksi mata yang mengatakan bahwa kamu sedang berada di TKP saat terjadinya pembunuhan itu," lontarku tersenyum sinis di hadapannya ingin memborgolnya sekarang.
"Bukan aku!" sangkalnya keras kepala memberontakku melangkahkan kakinya mundur.
Embusan napas kasar keluar dari mulutku, aku menarik tangannya dan menahannya paksa dengan sekuat tenagaku supaya ia tidak bisa kabur dariku. "CEO Josh Wilson, kamu ditangkap atas tersangka utama dalam kasus pembunuhan Maria dan Emma. Kamu memiliki hak untuk menyewa pengacara untuk membelamu atau hak untuk berdiam saja."
Namun reaksinya seperti tidak bersalah sama sekali saat aku memborgolnya. Bahkan Josh masih bertingkah santai di hadapanku.
"Bagaimana jika aku bukan pelakunya? Apakah kamu ingin ganti rugi bertanggung jawab atas perbuatanmu?" tanya Josh meninggikan nada bicara tanpa rasa takut.
"Aku tidak akan membiarkanmu lolos seperti itu," jawabku tersenyum licik sambil membawanya dengan paksa.
Saat aku sedang membawa Josh dengan paksa keluar dari gedung ini, seluruh karyawan di sana menatapnya dengan ketakutan dan bergosip tentangnya dari belakang.
Di tengah perjalanan kembali menuju kantorku, Josh hanya berdiam saja dengan santai sambil mengamati sekeliling jalan.
Aku menuntun Josh dengan paksa memasuki ruang interogasi. Sedangkan Nathan dan Tania membawakan semua peralatanku menaruh di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa kamu berbuat seperti ini padaku?" tanya Josh mulai geram padaku.
"Ada seorang saksi yang mengatakan bahwa kamu adalah pelaku yang membunuh seorang gadis di jembatan dekat sungai."
Josh menggebrak meja. "Setelah apa yang telah kuperbuat kepadamu waktu itu, kamu tidak tahu berterima kasih!"
Aku melipat kedua tangan di dada. "Urusan waktu itu dengan urusan sekarang tidak bisa dicampur. Aku tidak pernah mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan. Lebih baik kamu mengaku saja sebelum hukumanmu lebih berat nantinya."
"Nanti lihat saja siapa yang akan menang dalam kasus ini!"
"Sekitar tengah malam sampai subuh tanggal 5 Desember 2021, apakah benar kamu sedang berada di TKP?" selidikku melanjutkan menginterogasinya.
Josh memelototi aku. "Tidak. Aku sedang berada di bar saat itu. Kalau tidak percaya lihat rekaman CCTV di sana."
"Kalau begitu tanggal 8 Desember 2021 sekitar pukul 7 malam, kamu sedang di mana? Korban dari pembunuhan ini memiliki kesamaan dicekik dengan keras hingga tulang rongga lehernya patah. Aku tidak menyalahkanmu, ini hanya spekulasiku saja."
"Waktu itu, aku masih ada di kantor kerja lembur. Lagi pula walaupun jabatanku setinggi ini, aku juga tidak bisa pulang lebih awal."
"Apakah aku boleh melihat rekaman kamera CCTV di perusahaanmu?"
"Boleh saja, kenapa tidak. Lagi pula ini akan sangat membantumu dalam proses penyelidikan ini. Lebih baik kamu melihat bukti yang jelas terlebih dahulu sebelum menangkapku seperti ini," elak Josh memajukan kepalanya sambil memperlihatkan tangannya diborgol.
"Satu pertanyaan lagi. Kamu harus menjawabnya jujur padaku."
"Pertanyaan apa?" hardik Josh.
"Apakah belakangan ini kamu mengikutiku diam-diam? Belakangan ini aku diikuti seseorang saat aku pulang kerja."
Josh tertawa sarkas. "Untuk apa aku menguntit seorang detektif. Walaupun wajahmu lumayan dikatakan cantik tapi kalau menguntit seorang detektif dari belakang itu melanggar hukum."
"Kalau kamu menyadarinya bagus deh."
"Aku mengerti tentang hukum walaupun hanya sedikit. Sebaiknya kamu jangan menekanku lagi. Nanti kamu akan menyesalinya," seloroh Josh seperti orang tidak berdosa bahkan masih bisa menyilangkan kakinya menyandarkan punggungnya santai pada sandaran kursi.
"Baiklah, untuk sesi interogasinya kita akhiri sampai di sini dulu. Kamu akan ditahan di sini paling lama 48 jam." Aku menuntun Josh keluar dari ruang interogasi dan memasukkannya ke sel tahanan sementara.
Aku berjalan menuju meja kerjaku, lalu aku duduk termenung di sana sambil memegang kepalaku. Saat ini sebenarnya aku sangat bingung. Pernyataan kesaksian Bu Rina mengatakan bahwa Josh merupakan pelakunya sedangkan pernyataan alibi Josh ada sedikit masuk akal juga. Pokoknya besok aku harus melihat rekaman CCTV itu.
Pikiranku kacau saat ini, aku memijit pelipisku untuk menenangkan pikiranku. Sebenarnya aku ingin menghubungi Adrian untuk menghibur hatiku tapi aku takut ia sedang sibuk bekerja.
Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan untuk menghubunginya namun Danny mendatangiku tiba-tiba dengan raut wajahnya serius.
"Penny, kamu dicari Inspektur William."
__ADS_1