Good Partner

Good Partner
Part 87 - Forever Love You


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


Sehari sebelum pernikahan, aku dan Adrian mengunjungi pemakaman ibu mertuaku. Aku menaruh sebuah buket bunga sambil bergandengan tangan dengan Adrian.


"Ibu, besok aku akan menikah dengan wanita yang kucintai tepat di sebelahku ini," ucapnya sambil menatapku dengan senyuman hangat.


"Aku akan selalu merawat Adrian dengan baik. Ibu tidak usah mencemaskannya lagi."


"Ibu, aku pasti akan selalu hidup bahagia dengan Penny. Dulu ibu selalu menganggapnya seperti anak kandung ibu. Seandainya ibu masih hidup sampai sekarang, pasti ibu akan sangat bahagia menyaksikan momen bahagiaku dengannya."


Sejenak raut wajah Adrian terlihat lesuh. Aku bisa baca pikirannya sekarang, pasti ia sedih karena sang ibu tidak menjadi saksi pernikahannya secara langsung. Tentunya aku langsung memeluknya erat untuk menghibur hatinya.


"Ibumu pasti akan melihat momen bahagia kita dari atas sana, Adrian."


"Kamu benar, Penny. Pasti ibu akan bahagia melihat kita berdua dari atas sana. Apalagi ibu pernah berpesan padaku satu hal penting."


"Ibumu berharap kamu menikah dengan wanita yang paling kamu cintai seumur hidupmu."


"Besok aku memenuhi keinginan ibuku selama ini. Sebentar lagi wanita yang paling kucintai akan menjadi istriku," lontarnya sambil mengelus kepalaku menatapku dengan pandangan berbinar.


Aku menggenggam tangannya lalu mengelus kepalanya juga dengan lembut.


"Ayo, kita pulang sekarang! Kita harus istirahat yang cukup untuk mempersiapkan pernikahan kita besok," ajakku semangat.


Akhirnya tibalah hari pernikahan kami. Tidak seperti pasangan lainnya yang mempersiapkan pernikahan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku dan Adrian hanya ingin mengadakan pernikahan kami dengan tema yang sederhana saja, tapi sangat bermakna bagi kami berdua. Kami melangsungkan pernikahan di suatu venue hotel berbintang lima.


Sebelum acara pernikahan kami berlangsung, aku mempersiapkan diriku di ruang pengantin. Wajahku dirias secantik mungkin agar aku menjadi wanita yang paling cantik saat sedang berjalan menuju altar pernikahan nanti. Setelah itu, makeup artist itu meninggalkanku sendirian di kamar lalu aku menghampiri sebuah gaun pengantin yang dipilih oleh Adrian waktu itu.


Sementara Tania dan Fina memasuki kamar dan membantuku memakaikan gaun pengantinnya. Kini tubuhku dibaluti sebuah gaun pengantin terlihat anggun ditambah sebuah buket bunga mawar pada genggaman tanganku, mereka menatapku tercengang hingga mulut mereka terbuka lebar.


"Ini Penny teman kita kah? Dia seperti wanita lain," gurau Tania sambil meraba tanganku.


"Memangnya ada apa dengan penampilanku? Apakah penampilanku jelek?" tanyaku sedikit gugup.


"Kamu pintar sekali memilih gaunnya. Bahkan aku sangat iri melihatmu seperti ini," puji Fina namun wajahnya sedikit cemberut.


"Adrian yang memilih gaunnya untukku. Dia tahu saja seleraku seperti apa."


"Adrian sungguh sangat romantis!" seru Tania tersenyum mengambang.


"Kamu jangan terlalu memujinya!" tegurku kesal.


"Aku tahu kamu cemburu, Penny." Tania menyipitkan matanya sengaja menyenggol lenganku.


"Kalian berdua sudah menikah pasti menyenangkan. Seandainya aku seperti ini juga." Fina menundukkan kepalanya lesuh.


"Nanti kamu pasti akan menyusulku dan juga Tania. Aku akan menunggu undangan pernikahanmu," balasku sambil menyentuh bahunya Fina.


"Aku tidak menyangka bahwa kamu akan menikah secepat ini," tutur Tania memelukku dengan tangisan haru.


"Rasanya aku baru pertama kali bertemu dengannya sekitar sebulan yang lalu. Waktu berjalan dengan cepat."


"Aku sangat bahagia melihatmu dan Adrian menikah seperti ini," kata Fina tersenyum tulus memelukku hangat menangis terharu juga.


"Aduh, kalian sudah jangan menangis lagi! Aku tahu kalian sangat bahagia tapi jangan menangis juga!" balasku sambil memeluk mereka berdua.


Tak lama kemudian, Hans dan Nathan memasuki ruangan ini. Karena seluruh teman terdekatku sudah berkumpul semua jadinya kami sudah siap untuk melakukan sesi foto bersama dulu.


"Tunggu!" pekik Nathan tiba-tiba.


"Kenapa, Nathan?" tanyaku terheran.


"Kalau tidak ada pengantin prianya kan jadi kurang lengkap."


"Benar tuh. Masa Adrian tidak ikutan foto sih," sambung Tania.


"Tapi dia kan sibuk menyambut para tamu undangan bersama orang tuaku."


"Aku tidak sibuk kok." Adrian menghampiriku dan duduk di sebelahku merangkul pinggangku.


"Nah sekarang sudah lengkap deh. Saatnya foto bersama," ucap Nathan bersemangat.


"Saya akan ambil fotonya. Semuanya tersenyumlah. Satu ... dua ... tiga!!" Seorang fotografer professional memberikan aba-aba memotret kami.


Cekrek


Pengambilan foto ini terlihat sangat sempurna. Teman-temanku yang sudah memiliki pasangan masing-masing tidak kalah bahagia denganku dan Adrian. Fina berpose imut dengan Hans. Sedangkan Tania merangkul tangannya Nathan dengan mesra. Kebahagiaan tidak hanya aku saja yang alami, tapi kami semua mengalami kebahagiaan itu.


"Kami masuk venuenya dulu, ya. Aku tidak akan mengganggu kalian berdua," pamit Fina menggandeng tangannya Hans.


"Baiklah, kalian duluan saja."


"Lagi pula kalian harus bersiap-siap dulu. Aku sama Nathan pamit dulu, ya," pamit Tania sambil merangkul Nathan meninggalkanku.


Sekarang hanya aku dan Adrian saja yang ada di dalam ruangan ini. Ia duduknya semakin mendekatiku mempererat rangkulannya.


"Wanitaku sungguh terlihat seperti seorang putri. Aku semakin mencintaimu," gombalnya sambil memberikan kecupan manis pada keningku.


"Hari ini kamu terlihat sangat tampan. Kamu membuat jantungku semakin berdebar dengan kencang."


"Karena kamu yang memilihkan tuxedonya untukku." Adrian mengedipkan mata kirinya padaku.


"Memang aku tidak salah memilihkannya untukmu."


Tiba-tiba raut wajah Adrian datar, membuatku sedikit mencemaskannya.


"Penny, sebenarnya hari ini aku sangat gugup."


"Kenapa gugup? Hari ini kan hari paling bersejarah bagi kita berdua. Aku sangat menantikan hari ini sejak dulu."


Adrian duduk menghadapku lalu menempelkan hidungnya pada hidungku. Aku hanya bisa tersenyum bahagia sambil mengalungkan kedua tanganku pada lehernya.


"Penny ...."


"Mmm ada apa?"


"Entah kenapa aku terpesona sekali melihat kecantikanmu saat ini." Tangannya menyentuh pipiku lembut.


"Sudah pasti dong. Masa iya wanita kesayanganmu ini terlihat jelek di hari pernikahannya."


"Acaranya sebentar lagi akan dimulai! Ayo kita ke sana sekarang!" ajaknya dengan penuh antusias.


Aku merangkul tangannya lalu berjalan keluar dari kamar. Di luar kamar, sudah ada kedua orang tuaku dan juga calon ayah mertuaku yang sudah menunggu. Lalu kami semua berjalan menuju venue tempat berlangsungnya pernikahan kami.


Di venue, Adrian berjalan terlebih dahulu menuju altar pernikahannya lalu menatapku dengan senyuman ceria dari kejauhan.


"Mempelai wanita, silakan berjalan menuju altar pernikahan. Mari kita bertepuk tangan dengan meriah!" ucap MC yang memimpin acara pernikahan.

__ADS_1


Aku didampingi oleh ayahku berjalan menuju altar pernikahan. Sambil menghampiri calon suamiku di depan sana, aku menatap tamu di sekelilingku yang bertepuk tangan dengan sangat meriah membuatku ingin menangis terharu. Terutama semua temanku bereaksi berlebihan sampai menangis terharu. Tepat di altar pernikahan itu, ayah melepas rangkulan tangannya lalu berbisik dengan Adrian sejenak sebelum menyerahkanku kepadanya.


"Aku akan serahkan putriku kepadamu. Aku mohon kamu bisa membahagiakan putriku sampai selamanya," bisiknya dengan senyuman lepas.


"Tenang saja. Aku pasti akan selalu membahagiakan Penny seumur hidupku."


Lalu ayah meninggalkan kami berdua berjalan kembali ke tempat duduknya. Sekarang aku dan Adrian dengan jarak sangat dekat berdiri saling berhadapan mengambil sebuah gulungan kertas berisi sumpah pernikahan. Kami berdua mengucapkan sumpah itu secara bersamaan.


"Pengantin pria Adrian Christopher dan pengantin wanita Penny Patterson bersumpah di hadapan semua tamu undangan yang hadir di sini kami berjanji untuk menjadi pasangan yang saling mencintai dan juga menjalankan hidup kami baik suka maupun duka sampai selamanya."


"Kedua mempelai silakan bertukar cincin."


Adrian memasangkan cincin berlian pada jari manisku lalu aku juga memasangkan cincinnya pada jari manisnya.


"Aku akan membahagiakanmu seumur hidupku dan juga akan selalu menjaga keluarga kecil kita dengan penuh cinta. Tidak ada yang mampu mengubah cintaku untukmu. Aku tidak akan pernah meminta lebih daripada cintamu. Aku akan selalu ada untukmu. Aku pasti akan mencintaimu lebih dalam lagi," ungkapnya tulus sambil menyentuh kedua tanganku menangis terharu.


"Pengantin wanita, apakah Anda menerima pengakuan tulus dari pengantin pria?"


"Terima kasih telah mencintaiku dengan sepenuh hatimu dan juga menerimaku apa adanya. Mari kita menjalani kehidupan kita dengan penuh cinta. Aku tidak akan berpaling darimu dan selalu mencintaimu," balasku menatapnya tulus hingga air mata haruku terus berlinang pada pipiku.


Adrian menyentuh pelipisku dengan kedua tangannya lalu kami berdua bersamaan mendekatkan bibir kami berciuman mesra yang menandakan bahwa kini kami berdua sekarang resmi menjadi sepasang suami istri. Masih dalam mata terpejam, tanganku memeluk punggungnya hangat untuk menikmati momen paling bahagia ini beberapa lama. Tidak lupa tembakan confetti yang menghiasi momen terindah kami saat ini. Para tamu undangan yang hadir bertepuk tangan sangat meriah. Tania dan Nathan yang menjadi saksi dalam pernikahan ini menangis terharu sedangkan Fina dan Hans saling berpegangan tangan sambil berbincang sejenak.


"Aku ingin menyusul mereka berdua juga," ucap Fina sedikit memberikan kode keras kepada Hans.


"Tenang saja, nanti kita juga akan menyusul mereka suatu hari nanti," balas Hans sambil merangkul bahunya Fina.


Fina menyandarkan kepalanya pada bahunya Hans dengan senyuman manja.


Acara pernikahan kami berlangsung dengan lancar tanpa adanya halangan. Usainya acara pernikahan, aku dan suamiku beristirahat di kamar hotel. Saat ia sedang membersihkan diri, aku sibuk mengeringkan rambutku dengan handukku sambil menatap cincin yang terpasang pada jari manisku ini tersenyum mengambang. Aku masih tidak rela melewati hari ini dan akan mengulanginya lagi.


Tak lama kemudian, Adrian keluar dari kamar mandi itu tanpa menggunakan busana atasan sambil mengelap tubuhnya yang kekar itu dengan handuknya. Sorot mataku tertuju pada tubuhnya hingga membuatku menelan salivaku berat sambil berdeham.


"Ehem...ehem..."


"Kamu kenapa?" tanyanya bingung.


"Tidak apa-apa," jawabku dengan gugup akibat melihatnya berpenampilan seperti itu.


"Apakah mungkin karena baru pertama kali kamu melihatku seperti ini?" tanyanya sambil menyunggingkan senyuman nakalnya.


"Bisa dikatakan begitu sih. Kamu terlihat sangat gagah," sahutku gelagapan.


"Kamu pasti terpesona melihatku sekarang." Adrian semakin menggodaku sambil mengedipkan mata kirinya.


"Aduh kau membuatku semakin berdebar saja!" Aku merasa pipiku semakin memanas dan hatiku kini berbunga.


Adrian menaruh handuknya di sebuah kursi lalu membaluti tubuhnya dengan handuk kimono. Ia menghampiriku mengukir senyuman bahagianya lalu mengangkat tubuhku menggendongku seperti anak kecil.


"Sayang," panggilnya manis membuat pipiku merah merona.


"Aku masih tidak terbiasa dengan panggilan itu," balasku tersipu malu.


"Sekarang kamu sudah menjadi istriku. Jadinya aku harus memanggilmu dengan panggilan itu."


Sebenarnya sejak dulu aku ingin dipanggil seperti itu. Akhirnya keinginanki terkabul juga.


"Aku suka dipanggil seperti itu, mulai sekarang aku juga akan memanggilmu panggilan manis itu."


"Sekarang sudah larut malam. Ayo, sekarang kita tidur!"


"Kalau begitu sekarang turunkan aku dulu. Aku bukan anak kecil yang belum bisa berjalan," bujukku tersenyum manis.


Adrian melepaskan tautan bibirnya sejenak, posisi tubuhnya saat ini berhadapan denganku sambil mengelus pipiku lembut.


"Sayang ...." lirihku manja.


"Aku sangat menginginkanmu, Penny. Rasanya aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku ingin menikmatinya sampai aku puas. Karena cintaku sangat besar terhadapmu."


"Aku juga masih ingin menikmatinya bersamamu, Adrian. Kamu boleh menciumku sampai kamu lelah juga tidak masalah bagiku." Tanganku mengelus pipinya lembut.


"Aku tidak akan pernah lelah melakukannya bersamamu."


Kami berdua melanjutkan aksi ciuman kami sempat terhenti sejenak tadi. Kali ini ciumannya semakin lama semakin mendalam rasanya hingga kami bisa saling merasakan kekuatan cinta yang tersalurkan pada bibir kami sangat besar hingga debaran jantung semakin kencang. Sesuai dengan keinginan, kami melakukannya tanpa adanya jeda dan tidak ada rasa lelah. Bibirnya lambat laun berpindah pada lekukan leherku menciumnya manis. Lalu ia mengakhiri aksi ciuman berdurasi lama dengan menghujani ciumannya pada pipiku, hidungku, dan juga keningku mendalam. Begitu juga aku menghujani ciumannya pada pipinya sambil tertawa bahagia.


Setelah melakukan aksi ciuman mesranya dalam durasi lama, Adrian membaringkan tubuhnya tepat di sebelahku sambil menyelimuti tubuhku dengan selimut.


"Sekarang yang hanya boleh menyentuh tubuhmu itu adalah aku. Jangan membiarkan pria lain sembarang menyentuhmu begitu saja."


"Iya tenang saja. Kamu tidak usah mengkhawatirkan itu. Bahkan seumur hidupku, hanya kamu yang pernah menyentuh seluruh tubuhku."


"Aku bahagia sekali akhirnya bisa tidur denganmu seperti ini dan tidak usah berpisah denganmu setiap malam. Bahkan aku bisa melihat wajah cantikmu sebelum aku tidur," gombalnya sambil memelukku dengan hangat.


"Bukankah kita pernah tidur bersama waktu itu?"


"Itu tidur di sofa jadi tidak begitu berasa. Sekarang tidur seranjang lebih puas rasanya. Bahkan aku bisa memelukmu sambil berguling-guling sekarang. Selain itu, aku bisa melakukan apa saja padamu sepuasnya."


"Mau tidur di mana pun, aku selalu merasa nyaman jika dipeluk seperti ini," balasku sambil membenamkan kepalaku pada tubuhnya dengan manja mempererat pelukannya.


"Kalau begitu kita teruslah begini sampai besok pagi. Sejak dulu, saat kamu menginap di apartemenku, aku ingin bersamamu seperti sekarang ini."


"Maka dari itu hari terakhir aku menginap di apartemenmu, kamu sengaja berpura-pura mabuk di hadapanku supaya bisa tidur bersamaku, 'kan. Walaupun tidur di sofa."


"Sebenarnya wine waktu itu kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi jadinya aku tidak terlalu mabuk," tawanya terkekeh.


"Ish dasar nakal!"


"Tapi aku tahu kamu sangat menikmati tidur bersamaku waktu itu," pungkasnya sambil mengelus pipiku lembut.


Aku mengulurkan tangannya yang terpasang cincin pernikahan kami lalu menggenggamnya dengan erat.


"Sebenarnya sekarang aku mengira kita sedang bermimpi. Aku masih tidak percaya bahwa aku telah menjadi istrimu secepat ini. Aku merasa kita baru saja berpacaran beberapa saat lalu," ucapku sambil mengelus tangannya.


"Walaupun hubungan persahabatan kita lebih lama daripada berpacaran, tapi aku menganggap kita berpacaran selama satu tahun dua bulan."


"Tanpa kamu mengatakan perasaanmu terhadapku, aku sudah mengetahui kamu sangat menyayangiku dilihat dari perlakuanmu terhadapku." Tanganku menyentuh pipinya.


"Kamu adalah hartaku paling berharga jadi aku harus bertindak cepat menikah denganmu supaya tidak direbut pria lain. Kalau sampai pria lain menyentuhmu tanpa sepengetahuanku, rasanya sangat sesak untuk bernapas. Aku tidak bisa hidup tanpa wanita yang sangat kucintai," balasnya dengan senyuman hangat.


"Hatiku sudah pasti tidak mudah goyah begitu saja. Aku akan selalu setia bersamamu selamanya. Karena kamu pria paling kusayangi sejak pertama kali kita bertemu. Aku pasti selalu mendampingi hidupmu, bahkan kalau kamu pulang kerja terlalu malam, hidupku terasa hampa."


"Aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Aku akan terus menjagamu dan juga anak kita nanti."


Pipiku langsung merah merona mendengar perkataannya mengenai anak terdengar percaya diri.


"Kita baru saja menikah, kamu sudah memikirkan anak saja."


"Supaya keluarga kecil kita terasa lebih berwarna." Adrian mengelus perutku pelan.

__ADS_1


"Omong-omong, besok sebelum kita pulang. Mari kita berkencan sebentar!" ajakku.


"Boleh juga. Kita mau ke mana? Kamu ingin mengunjungi bioskop nonton film horror lagi? Atau kamu mau mengajakku makan makanan pedas lagi?"


"Ada deh. Pokoknya kamu harus bersabar saja."


"Aku jadi tidak sabar nih pertama kali berkencan denganmu sebagai suami istri."


"Maka dari itu, kita harus tidur sekarang."


"Tidak mau!" tolaknya cemberut.


"Kenapa? Kamu tidak mau menuruti istrimu ini?"


"Aku ingin melihat wajahmu dengan jarak dekat seperti ini terus," balasnya sambil memelukku semakin erat hingga aku sesak bernapas.


"Kalau begitu aku juga tidak mau tidur. Aku masih ingin melihat wajah tampanmu ini," ujarku sambil mencium pipinya sekilas.


"Tapi kalau tidak tidur nanti kita berdua bisa sakit."


"Ya sudah kalau begitu tidur sekarang."


Aku berusaha untuk memejamkan kedua mataku tapi rasanya sangat berat. Seperti aku masih ingin berbincang dengannya lagi, begitu pula Adrian yang terus menatapku sambil mengusap kepalaku.


"Penny sayang ...." bisiknya mendekati daun telingaku.


"Mmm kenapa, Sayang?"


"Hanya ingin memanggilmu saja."


"Tapi tadi saat kamu mengucapkan pernyataan itu, apakah benar kamu akan mencintaiku lebih dalam lagi?"


"Kamu masa tidak percaya dengan suamimu sendiri sih. Tentu saja aku mencintaimu sedalam-dalamnya sampai aku mati. Aku rela melakukan apa pun demi dirimu."


Mendengar kata paling menyakitkan dalam hidupku, aku memanyunkan bibirku bernapas lesuh.


"Jangan membuatku takut, Sayang. Jangan pernah mengucapkan kata 'mati' lagi. Aku sangat tidak suka mendengar kata itu. Kamu sudah beberapa kali kritis, aku takut kehilanganmu. Aku ingin kamu selalu hidup sehat, apakah kamu mengerti?"


"Sayang, kamu tidak usah takut lagi. Tenang saja aku pasti akan hidup panjang umur bersamamu sampai kita menua. Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian. Karena aku juga masih ingin memilikimu sampai selamanya. Selain itu, aku tidak suka melihatmu bersama dengan pria lain. Pokoknya hanya aku yang mampu memenangkan hatimu."


"Kamu harus tepati janjimu barusan."


"Aku selalu menepati janjiku demi istriku tercinta." Adrian mencium keningku dengan manis.


"Sudah ya, aku mau tidur dulu. Kamu juga harus istirahat yang cukup. Selamat tidur, Sayang." Aku mencium pipinya sekilas sebagai pengantar tidurnya."


"Selamat tidur juga, Sayang. Semoga kamu memimpikanku."


Akhirnya kami berdua tidur berhadapan dan aku tidur dalam pelukan hangatnya membuatku tertidur nyenyak sampai besok pagi.


Keesokan paginya, aku terbangun dari mimpi indahku dan menatap Adrian yang masih dalam keadaan tertidur lelap. Aku menatapnya dengan jarak yang sangat dekat ini sambil menyentuh pipinya dan mengelusnya dengan lembut. Melihat pesona ketampanannya saat ini dan juga senyumannya membuat jantungku berdebar kencang, bahkan dalam kondisi tertidur saja ia masih terlihat tampan, mungkin pria lain tidak akan berpenampilan sepertinya. Senyumanku terus mengambang memandanginya secara perlahan tanganku berpindah pada kepalanya mengelus dengan lembut. Sontak ia membuka kedua matanya lalu menyentuh tanganku.


"Pagi, Sayang." Adrian menyambutku tersenyum hangat sambil mengusap kepalaku.


"Pagi juga, Sayang. Jadi begini rasanya ketika pengantin baru terbangun di pagi hari."


"Semalam apakah kamu tidur nyenyak?"


"Aku bahkan bermimpi indah. Kamu mendatangi mimpiku."


"Benarkah? Syukurlah aku selalu bersamamu di manapun baik di dunia nyata maupun di dunia mimpi."


"Karena kamu ini suami tercintaku. Aku selalu memikirkanmu sampai terbawa di dunia mimpi."


Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya mencium bibirku sekilas.


"Ini sebagai vitamin penyemangat di pagi hari."


Aku menyentuh pipinya mencium bibirnya sekilas.


"Vitamin penyemangat rasanya sangat manis spesial untuk suamiku."


"Aku bisa merasakan kehangatan dan manisnya vitaminmu barusan."


"Vitaminmu yang manis juga membuatku semakin hangat rasanya, padahal biasanya aku suka kedinginan jika suhu ACnya sangat dingin. Entah kenapa jika berada di sisimu seperti ini rasanya sangat nyaman."


"Karena tubuhku ini membawa kehangatan untukmu."


"Omong-omong, aku mandi dulu, ya. Rasanya tubuhku sangat gerah jika belum mandi."


"Jangan dulu, Sayang. 10 menit lagi baru mandi saja. Aku masih mau memelukmu seperti ini." Adrian mencegahku beranjak dari ranjang semakin bermanja denganku.


"Ih manja banget sih!"


"10 menit itu waktunya singkat. Tidak sulit kamu menunggu selama itu demi suamimu."


"Ya sudah deh, aku rela menunggu 10 menit. Lagi pula aku juga ingin dipeluk oleh suami kesayanganku." Aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini, maka aku semakin melekatkan tubuhku pada tubuhnya bagaikan lem.


"Kamu bilang aku ini manja padahal kamu sendiri lebih manja dariku," protesnya sedikit menertawaiku.


"Kamu barusan bilang apa?"


"Aku sangat menyayangimu, Penny," ujarnya sambil menghujani ciumannya pada pipiku.


"Aku juga sangat menyayangimu, Adrian." Aku juga menghujani ciuman pada pipinya sambil tertawa.


"Penny, kamu terus begini saja. Aku sangat puas mendapat perlakuanmu seperti ini." Adrian menyunggingkan senyuman nakalnya padaku.


Dengan sigap aku menghentikan aksiku bergegas beranjak dari ranjangnya namun ia menarik tanganku lagi hingga aku kembali terbaring dalam pelukannya yang sangat erat.


"Saayaanng!"


"Siapa yang menyuruhmu berdiri?" tanyanya semakin mendekatkan wajahnya menuju wajahku.


"Aku sungguh tidak kuat lagi dengan tubuhku yang sudah gerah. Nanti kamu merasa tidak nyaman kalau tubuhku bau tidak sedap."


"Malahan aku suka wangi tubuhmu sekarang."


"Barusan kamu menyindirku, ya?"


"Aku tidak menyindirmu. Lagi pula tubuhmu memang tidak bau sama sekali."


"Untung saja kamu tidak menyindirku."


"Sayang, kenapa sih kamu dari tadi terburu-buru ingin lepas dari pelukanku? Apakah pelukanmu membuatmu terasa tidak nyaman?"


"Bukan karena itu sih. Malahan aku suka tidur dalam pelukanmu."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu jangan pernah melepaskan pelukanku. Aku ingin tidur bersamamu lebih lama lagi."


"Baiklah aku akan menurutimu, Sayang."


__ADS_2