Good Partner

Good Partner
S2 : Part 43 - Mission Planning


__ADS_3

Baru saja aku memasuki kamarnya sudah langsung terkena hantaman kuat. Untung saja bendanya hanya sebuah bantal empuk bisa dijadikan untuk tidur siangku. Aku mengambil bantalnya yang terjatuh mencengkeramnya erat sambil menatap mereka berdua dengan tatapan elang. Embusan napas kasarku yang barusan aku keluarkan dari rongga mulutku membuat mereka merinding ketakutan.


"Bukan aku yang melemparnya. Tapi Adrian yang melemparnya ke arahmu tadi!" bantah Yohanes terus menggelengkan kepalanya.


"Penny, maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja," sesalnya menunduk bersalah.


Aku semakin mempererat cengkeraman bantalnya lalu melemparnya balik mengenai wajahnya.


"Kamu tega sekali melempar bantalnya mengenai wajahku sampai sakit!" hardikku mengerucutkan bibirku.


"Penny, aku ti--"


Tidak peduli Adrian ingin meminta maaf padaku dengan berbagai cara. Aku mendengkus kesal menghentakkan kakiku kasar melangkah keluar dari kamarnya.


"Penny! Tunggu aku! Aarghh!" Adrian berusaha beranjak dari ranjangnya untuk menyusulku namun kondisi tubuhnya masih belum pulih sehingga membuatnya kesakitan.


Langkah kakiku terhenti tepat di depan pintu lalu aku membalikkan tubuhku berlari menghampirinya dalam kondisi berdiri membungkuk sambil memegangi perutnya.


"Adrian! Kamu baik-baik saja?" tanyaku sangat cemas melingkarkan kedua tanganku pada punggungnya untuk menahan tubuhnya yang lemah.


"Tidak apa-apa. Ini hanya sakit sedikit," lontarnya santai.


"Maafkan aku, Adrian," sesalku langsung memeluknya erat.


"Ehem...ehem..."


Tanpa disadari sebenarnya masih ada seseorang yang sedang berdiri di pojokan menyandarkan tubuhnya bermalasan pada tembok dan melipat kedua tangannya.


"Apakah aku boleh pergi sekarang, Penny?" tanya Yohanes.


"Oh iya, aku sampai melupakanmu, Yohanes. Terima kasih, ya, telah merawat suamiku dengan baik selagi aku tidak ada," ucapku tersenyum ramah.


"Apa mungkin kamu memerlukan bantuanku lagi?" tawar Yohanes.


'Ish orang ini malahan menawarkan bantuan lagi! Dasar nyamuk pengganggu yang mengganggu kemesraanku saja! Kalau begini kapan aku bisa berdua bersama Penny,' gumam Adrian dalam hati.


"Sepertinya sudah tidak ada lagi. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi," jawabku menolaknya halus.


"Kalau begitu aku kembali ke kantor dulu, ya. Semoga cepat sembuh, Adrian," pamit Yohanes menepuk pundaknya Adrian sambil menatapku.


"Iya sana cepat pergi!" usirnya mengibaskan tangan kirinya.


"Cih! Masih baik tadi aku mau melayanimu!"


"Padahal aku menyuruhmu untuk membeli makanan untukku tapi kamu tidak menurutiku!"


"Itu beda situasi!"


Yohanes mendengkus kesal sambil membenarkan jas kerjanya sempat kusut lalu menghentakkan kakinya kasar melangkah keluar dari sini.


Sementara aku membopong Adrian menaikki ranjang pasien lagi secara perlahan. Senyuman nakal terukir pada wajahnya lalu merangkul pinggangku mendorong tubuhku mendekatinya. Tanganku secara refleks menyentuh pundaknya hingga membuat jantungku mulai berdebar dan pipiku merah merona. Bagiku suhu udara di kamar ini sudah seperti suhu udara pada siang bolong tanpa dinyalakan AC.


"Pipimu memerah," ucapnya sedikit menertawaiku.


"Benarkah?" Aku tersipu malu sambil memegangi pipiku.


"Jantungku semakin berdebar ketika mengamatimu dalam jarak dekat begini," gombalnya membuatku seperti kepiting rebus sekarang.


"Mulai lagi deh." Aku memutar bola mataku bermalasan lalu melepas sentuhan tanganku pada bahunya.


Namun ia menahan tanganku dengan tangan kanannya lalu menyentuh pipiku bekas terkena hantaman bantal darinya dengan tatapan bersalah.


"Pasti pipimu memerah bukan karena berada di dekatku. Tapi karena tadi aku tidak sengaja melempar bantalnya kena pipimu."


"Hmm bukan karena itu. Tapi karena--"


Ucapanku terputus begitu saja langsung dipotong olehnya dengan mengecup pipiku mendalam selama beberapa detik lalu melepaskannya.


"Adrian ...." lirihku manja.


"Maaf, ya, gara-gara aku tidak bisa mengendalikan emosiku jadi berbuat ceroboh begini," sesalnya mengelus pipiku lembut.


"Tidak juga. Tadi itu tidak sakit sama sekali. Untung saja kamu melempar bantalnya tidak kasar jadinya tidak terasa sakit."


"Tapi kenapa tadi kamu seperti dendam padaku sampai ingin meninggalkanku?"


"Itu karena aku--"


"Membenciku?"


Lagi-lagi aku belum selesai berbicara langsung dipotong olehnya. Apalagi ia langsung berprasangka buruk padaku. Supaya ia tidak merasa bersalah, aku berinisiatif mengecup pipinya sekilas.


"Bukan membencimu. Tapi karena aku sangat menyayangimu."


"Cih! Dasar kamu paling pintar cari alasan!" ketusnya bibirnya mengerucut.


"Ish masa kamu tidak memercayai perkataan istrimu sendiri sih! Ya sudah, kalau begitu kamu urus dirimu sendiri saja sana!"


Aku menepis tangannya agak kasar lalu ingin menduduki kursi kosong di samping ranjangnya namun ia menahanku hingga aku kembali duduk di sudut ranjangnya lagi.


"Tadi kamu bilang aku bisanya mencari alasan. Sekarang kamu menahanku tiba-tiba. Maunya apa sih?" Aku menghembuskan napasku melipat kedua tanganku di dada.


"Aku menyayangimu, Penny," ungkapnya tersenyum bahagia padaku.


Ungkapannya sangat tulus padaku membuat pipiku semakin memerah sekarang kemudian aku sedikit memalingkan mata darinya. Adrian mendongakkan kepalanya tepat di hadapanku rasanya saat ini aku ingin mencubit pipinya yang menggemaskan.


"Apa kamu lapar?" tanyaku mengalihkan pembicaraannya sehingga suasana dalam kamar ini tidak terlalu panas.


"Kenapa kamu menanyakan itu padaku?"


"Bukankah kamu tadi meminta Yohanes untuk membelikan makanan untukmu?"


"Sebenarnya tadi aku bermaksud untuk berbuat iseng padanya sih. Aku tidak merasa lapar sama sekali."


"Ish kamu tidak lapar tapi masih bisa memerintah orang sebagai pelayanmu! Memang kamu ini keterlaluan, Adrian!"


"Aku bukan keterlaluan. Tapi aku merasa bosan kalau kamu tidak berada di sisiku. Ya sudah, pelampiasannya aku berbuat iseng untuk menghiburku."


"Tetap saja kamu keterlaluan seperti anak kecil!"


"Penny! Kenapa kamu lebih memilih membelanya lagi daripada aku? Padahal dia bukan suamimu!"


"Karena aku lebih memilih orang yang sikapnya tidak keterlaluan sepertimu!"


Adrian mendengkus kesal matanya menghindariku membalikkan tubuhnya menghadap jendela dan melipat kedua tangannya di dada.


"Ya sudah, aku rela kok kamu membelanya terus," ketusnya kesal.


Aku melingkarkan tanganku pada perutnya menyandarkan kepalaku manja pada punggungnya yang lebar.


"Aku cuma bercanda. Mana mungkin sih aku tidak membelamu sama sekali."


"Bercanda tapi terdengar seperti kamu tulus mengucapkannya."


"Sudahlah aku malas berdebat denganmu terus. Yang penting sekarang aku ingin membicarakan pekerjaan denganmu!"


Adrian membalikkan tubuhnya menghadapku tatapannya mulai serius padaku.


"Memangnya apa yang dibicarakan pengacara Leonard tadi? Apa mungkin preman yang mengincarmu tadi pagi sungguh ada kaitannya dengan orang yang menolongnya sewaktu kecelakaan?" tanyanya mulai penasaran.


"Sebaiknya aku peringatkan padamu dulu. Setelah mendengarkan penjelasanku nanti, kamu jangan bereaksi terlalu berlebihan, ya."


"Iya tenang saja. Memangnya aku seperti Hans yang selalu bertingkah norak di hadapan semua orang."


"Ya sudah, aku ingin memberitahu padamu sekarang mengenai kaki tangan pelaku yang bekerja di kantormu selain investigator Carlos."

__ADS_1


"Memangnya siapa? Apa dia bekerja sebagai investigator juga?" tanyanya semakin penasaran.


"Kepala jaksa Henry yang menolong pengacara Leonard sewaktu kecelakaan."


Reaksinya bukan kaget berlebihan ketika mendengar perkataanku barusan namun ia mulai menajamkan tatapannya dan mengepalkan tangannya.


"Beraninya dia menipu kami selama ini dan selalu bertingkah benar di hadapan kami!" ketusnya bibirnya mengerucut.


"Ya begitulah, dia sok munafik seperti Inspektur William waktu itu."


"Kalau inspektur William masih wajar. Kalau kepala jaksa Henry tidak bisa dimaafkan perbuatannya."


"Iya juga sih perkataanmu itu. Perkaranya bahkan lebih rumit."


"Jadinya dia melakukan kejahatan apa lagi?"


"Kata pengacara Leonard, kepala jaksa henry sepertinya memiliki buku rekening rahasia yang berisi mengenai bukti penggelapan dananya selama ini."


"Lalu dia menyembunyikannya di mana?"


"Sepertinya di Brilliant Hotel. Pengacara Leonard sering melihatnya beberapa kali berkunjung ke sana."


Adrian menghembuskan napasnya kasar bertopang dagunya.


"Sepertinya dia juga menyembunyikan bukti mengenai perbuatan kejamnya di masa lalu."


"Rencananya sih aku akan mengunjungi hotel itu lalu menyusupnya diam-diam dalam waktu dekat ini," sambungku mengernyitkan alisku.


"Kalau begitu aku akan ikut denganmu, Penny!"


"Jangan, Adrian. Kondisi tubuhmu masih belum pulih total. Nanti kalau seandainya terjadi sesuatu gimana?" sanggahku.


"Sepertinya lebih cenderung akan terjadi sesuatu padamu deh. Aku tidak mau kamu terlibat dalam masalah lagi."


"Kondisi tubuhmu jauh lebih penting daripada aku!" tegasku.


"Tidak peduli! Lagi pula luka kecil ini tidak begitu masalah bagiku. Pokoknya nanti setelah aku bisa pulang dari sini, kita harus menjalankan misinya bersama!" hardiknya keras kepala hingga rasanya aku ingin memarahinya.


Aku mengepalkan tangan kananku erat ingin meluapkan rasa kesalku namun ia menenangkanku dengan menyentuh tangan kananku untuk meredam kekesalanku.


"Penny ...."


"Tadi saja kamu sudah kesakitan apalagi membantuku menjalani misi! Sebenarnya tadi aku melihatmu saja sedikit ketakutan."


"Tenang saja. Aku pasti bakal kuat. Percaya saja padaku, Penny!" ujarnya penuh percaya diri sambil mendekapku hangat.


Aku menghela napasku pasrah namun mendengar perkataannya barusan, apa boleh buat aku memercayainya saja.


"Baiklah kalau begitu aku memercayaimu saja. Tapi kalau sampai terjadi sesuatu pada tubuhmu, jangan membuatku repot!"


"Ish mana mungkin sih aku membuatmu repot terus! Apalagi beberapa hari ini kamu terus merawatku."


"Aku tidak merasa repot sama sekali. Malahan aku senang saja merawatmu dengan baik." Aku mengelus kepalanya lembut.


Senyuman nakal mulai terukir pada wajahnya. Perasaanku jadi tidak enak padanya sekarang.


"Sepertinya tubuhku mulai berkeringat lagi. Ayolah, Penny! Kamu harus mengelap keringatku lagi." Adrian mulai merengek padaku manja.


"Ini aneh sekali. Dari tadi aku melihatmu tidak berkeringat sama sekali deh," sahutku menatap curiga.


"Penny! Turuti perintahku saja!"


"Ish, ya sudah, tunggu sebentar!"


Aku beranjak dari ranjangnya mengambil sebuah baskom yang berisi air beserta handuk kecil. Lalu aku merendam handuk memerasnya dengan sekuat tenagaku dan menggenggam handuk mengusap keringat yang melekat pada wajahnya perlahan.


"Nah kalau begini kan wajahku sudah tidak berminyak lagi," lontarnya tertawa usil.


"Dasar modus!"


"Sudah!"


"Ish tidak usah pakai emosi juga kali!" hardiknya bibirnya mengerucut.


"Aku tidak emosi. Kamu saja yang selalu berprasangka buruk!"


"Kalau begitu teruskan saja sampai keringatku tidak melekat pada wajah tampanku lagi."


Aku mengelap keringatnya ke sisi lainnya dari dahi hingga dagunya tanpa melewatkan satu titik pun. Pandangannya berbinar sambil membelai rambutku.


"Penny ...." lirihnya manis.


"Kenapa, Adrian? Apa mungkin wajahku masih berkeringat?" tanyaku sambil menaruh handuknya ke dalam baskom.


"Kemampuan bela dirimu memang sangat diandalkan. Aku sangat bangga kamu bisa menghajar preman jalanan," pujinya berdecak kagum padaku.


"Ini semua berkat kamu, Adrian. Memang sih dari dulu aku pandai berkelahi, namun berkat pengajaran khusus darimu, aku menjadi wanita yang sangat kuat."


"Oh, yang waktu itu, ya. Aku mengingatnya dengan jelas."


*****


Waktu itu Adrian mengajakku berkencan bersamanya, aku merasa aneh padanya. Ia mengajakku berkencan namun menyuruhku membawa baju ganti yaitu kaos polos dan celana olahraga. Tadinya aku mengira Adrian mengajakku melakukan fitness. Tapi ia tidak mengendarai mobilnya menuju tempat fitness. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah gedung kecil seperti tempat pelatihan.


Ketika kami berdua memasuki gedungnya, aku merasa kecewa mengamati tempatnya yang terlihat membosankan.


"Sayang! Kenapa kamu membawaku ke tempat seperti ini?" tanyaku kecewa.


"Aku ingin mengajarimu bela diri, Sayang."


"Tapi aku kan sudah mahir dalam bidang ini."


"Aku tahu, Sayang. Tapi aku ingin kemampuanmu lebih tinggi lagi. Bukan bermaksud untuk menakutimu, kita tidak akan tahu salah satu dari kita bisa dalam bahaya saat menghadapi kasus kecil atau besar."


"Benar juga perkataanmu barusan. Baiklah kalau begitu kita ganti pakaiannya dulu."


Beberapa menit kemudian setelah mengganti pakaian, kami berdua memasuki ruang pelatihannya bersaman. Aku bingung mengamati sekelilingku tidak ada seorang pun yang ingin melatih kami. Perasaanku sudah mulai tidak enak.


"Di mana pelatihnya?" tanyaku.


"Aku pelatihnya, Sayang. Aku tidak suka melihat orang lain bersentuhan padamu."


"Tapi aku tidak rela memukulimu." Langkah kakiku mundur menjauhinya.


"Sayang, aku tidak masalah kalau dipukul olehmu. Lebih baik kena pukulan istriku daripada orang lain. Pukulan darimu tidak akan terasa sakit sama sekali bagiku."


"Kamu yakin?"


"Iya, Sayang. Sekarang pukul aku saja."


Dengan berat hati, aku memulai aksiku memukulinya secara pelan.


"Sayang, maafkan aku. Apakah tubuhmu terasa sakit?" tanyaku cemas.


"Tidak sakit. Barusan kamu melakukannya dengan baik, kalau begitu aku akan melawanmu tapi tenang saja rasanya pasti tidak sakit."


Lalu ia juga membela dirinya melawanku dengan sengaja tidak bertenaga supaya aku tidak terasa kesakitan. Begitu seterusnya kami berlatih membela diri tanpa mengenal lelah hingga pada akhirnya kemampuan kami semakin bertambah.


Ketika tubuh kami mulai terasa lelah, kami memutuskan untuk berhenti lalu membaringkan tubuh di atas lantai dengan napas tersengal-sengal.


"Sayang," panggilnya manis.


"Iya, Sayang."


"Apa tubuhmu terasa sakit akibat terkena pukulanku?"

__ADS_1


"Tidak sama sekali. Kamu memperlakukanku halus tidak mungkin terasa sakit. Sedangkan kamu gimana?"


"Aku juga tidak terasa sakit. Rasanya seru sekali berlatih bersamamu, Sayang." Secara spontan Adrian memelukku hangat sambil mengusap kepalaku.


"Untung saja kamu yang melatihmu. Jadinya aku semakin bersemangat latihan."


"Karena kita sudah berlatih keras, bagaimana kalau kita sungguh berkencan sekarang?"


"Benarkah?"


"Ini sebagai hadiah untukmu, Sayang."


"Aku sayang padamu, Adrian!" seruku girang mempererat pelukannya.


Adrian mengukir senyuman bahagianya sambil menghujani ciuman pada wajahku. Begitu juga aku menghujani ciumannya juga.


*****


Mengingat aksi kami waktu itu, aku sungguh sangat bersyukur memiliki seorang suami yang bisa mengajarkanku bela diri.


"Kamu sungguh melakukannya dengan baik, Sayang," ucapnya mencubit hidungku.


"Kalau ajaran istimewa dari suamiku, pasti aku mudah mempelajarinya."


Tak terasa hari sudah gelap. Semua anggota timku menjenguk Adrian lagi sekaligus kami mengadakan rapat mengenai misi yang akan kami jalankan untuk menangkap kepala jaksa Henry. Mereka semua duduk berderet di atas sofa sedangkan aku duduk bersebelahan dengan Adrian saling menggenggam tangan.


"Jadinya nanti kita gimana, Penny?" tanya Nathan.


"Rencananya sih kita juga akan bekerja sama dengan Yohanes. Aku akan memintanya untuk terus mengawasi pergerakan kepala jaksa Henry selama di kantornya atau di luar kantor. Pokoknya kalau dia sudah mengunjungi hotelnya, ini adalah kesempatan yang baik kita untuk menyusup kesana."


"Tapi bukankah itu terlalu berbahaya?" tanya Hans.


"Tidak. Nanti kita semua akan memainkan peran."


"Oh, kalau masalah itu serahkan saja padaku. Asalkan kalian tahu saja aku pandai bersandiwara," sahut Fina berlagak sombong mengangkat dagunya.


Aku hanya bisa memutar bola mataku bermalasan mendengar ucapan noraknya terus apalagi masalah menjalani misi berat.


"Kamu masih tidak kapok juga! Kalau sampai kamu bersandiwaranya seperti seolah-olah kau mendalami peranmu gimana!" omel Hans memelototinya.


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh bersandiwara?" tanya Fina balik sedikit membentaknya.


"Bukan tidak boleh! Tapi kalau kamu bersandiwara sudah melewati batas!"


Telingaku sudah mulai terasa panas mendengar aksi perdebatan mereka. Adrian secara spontan menutupi telingaku dengan kedua tangannya.


"Sudah cukup hentikan kalian berdua!" pekik Adrian.


"Kamu sebaiknya tidak usah ikut campur, Adrian!" celetuk Hans balik.


"Kalau kalian berisik terus akan aku usir kalian dari sini sekarang juga! Lihat nih gara-gara perbuatan kalian, telinga istriku jadi panas!"


"Haha makanya Hans lain kali jangan norak deh," tawa Nathan terbahak-bahak.


"Kamu juga sebaiknya jangan ikut campur, Nathan!" celetuk Hans mencengkeram kerah bajunya Nathan erat.


"Sudahlah kalian tidak usah bertengkar lagi dan fokus pada rapatnya sekarang!" tegas Tania membuat mereka semua bergeming.


Saat ini suasana dalam kamar sedikit menegangkan ditambah suhu udara yang agak dingin. Pikiranku sudah kembali tenang berkat bantuan Tania sehingga aku bisa kembali fokus pada diskusi rencana misinya.


"Kalian sudah selesai?" tanyaku tersenyum sinis.


"Sudah lanjutkan saja, Penny," sahut Hans berlagak seperti orang bodoh.


"Selalu saja aku belum selesai bicara kalian sudah berprasangka buruk! Memang kebiasaan buruk sulit diubah!"


"Tapi kalau aku selalu mendengarmu sampai selesai bicara, Sayang," ucap Adrian manis.


"Hanya kamu saja yang paling mengerti dibandingkan mereka semua."


"Aku juga tidak berprasangka buruk padamu juga, Penny!" protes Tania melipat kedua tangannya di dada.


"Sudahlah tidak usah banyak protes. Sekarang kita kembali berdiskusi lagi."


Tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang membuka pintunya terburu-buru memasuki kamar ini. Raut wajahnya Adrian yang tadinya masih bisa tersenyum padaku kini cemberut ketika mengamati Yohanes mengunjunginya lagi.


"Bagus kamu akhirnya datang juga, Yohanes," sambutku tersenyum ramah padanya.


"Tentu saja dong. Aku tidak mau ketinggalan mendengar rencanamu untuk misi hebat ini!" serunya fokus menatapku terus.


"Aku bosan melihatmu dua kali hari ini!" Adrian memalingkan mata darinya.


"Ish kamu tidak usah cerewet! Ini demi pekerjaan juga!"


"Kalau begitu rencanamu apa, Penny?" tanya Yohanes sudah tidak sabaran.


"Nanti kamu akan terus memantau pergerakan kepala jaksa Henry selama beberapa hari ini. Sedangkan aku dan yang lainnya akan menyusup ke dalam kamar hotelnya nanti saat dia mengunjungi hotelnya," tuturku kembali berfokus lagi.


"Lalu bagaimana cara kita bisa memasuki kamar hotelnya? Bukankah penjagaan kamar hotelnya itu lengkap harus memakai kartu magnetik supaya bisa masuk ke dalam?" Fina tumben melontarkan pertanyaan padaku.


"Kalau itu justru aku membutuhkan bantuanmu dan Hans. Aku ingin kalian berpura-pura menjadi seorang pelayan kamar hotel melayani pesanan makanannya."


"Wah, sepertinya seru juga nih kalau melakukannya bersama istriku!" seru Hans heboh.


"Makanya sudah kubilang tadi jangan berprasangka buruk dulu!" tegasku memelototinya.


"Hehe maaf, Penny."


"Jadinya nanti kalian masuk ke dalam sana lalu mengambil kartu aksesnya diam-diam tanpa sepengetahuannya," sambungku menjelaskan perannya kepada mereka.


"Lalu kalau kita sudah mengambil kartunya tapi tetap saja dia masih berada di dalam kamarnya," ujar Nathan bingung memiringkan kepalanya.


"Nah kalau itu saatnya kamu memainkan peranmu. Nanti kamu yang akan memberitahunya bahwa terjadi sesuatu di basement mengenai mobilnya," sambungku.


"Wah, keren deh jadinya aku seolah-olah menjadi petugas keamanan!" seru Nathan.


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Tania penasaran.


"Kalau peranmu itu nanti kamu memantau pergerakannya dari kamar hotel seberang. Kebetulan sekali ada hotel lagi tepat berseberangan dengan hotel itu jadinya memudahkan kita untuk memantaunya. Kamu akan foto terus setiap pergerakannya lalu melaporkannya kepadaku," jelasku padanya.


"Kebetulan sekali aku suka memotret orang. Untung saja peranku tidak terlalu sulit."


"Sedangkan nanti peranku apa, Penny?" tanya Adrian penasaran.


"Kalau itu nanti kita akan menyusup ke sana bersama setelah Nathan memancingnya keluar dari kamarnya dan Fina mengambil kartu akses kamarnya untuk kita. Aku juga akan membawa beberapa peralatan untuk membuka brankas rahasianya yang tersembunyi di sana."


"Penny, aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu," ujar Adrian.


"Apa itu?"


"Kamu memang luar biasa sekali, Penny. Idemu itu terdengar sangat sempurna untuk menjalani misi sedikit berat ini. Tidak salah lagi kamu memang detektif wanita yang terbaik di mataku," ungkapnya dengan tatapan tulus merangkul bahuku mesra.


"Sudah pasti Penny memang yang terbaik. Bahkan aku saja tidak kepikiran merancang misi begitu," sahut Yohanes mengacungkan jempolnya padaku.


"Walaupun aku sering mengatakanmu lamban tapi kalau perancangan misi memang kamu yang terbaik, Penny." Tumben sekali Fina melontarkan sebuah pujian dari mulutnya yang biasanya tajam padaku.


"Aduh kalian tidak usah begitu deh! Aku jadi malu rasanya sekarang!" Pipiku semakin memanas mulai merah merona.


"Mudah-mudahan misimu ini akan berjalan dengan lancar, Penny," ujar Tania.


"Mari kita satukan kekuatan kita untuk menangkap kepala jaksa Henry!" ajakku mengulurkan tanganku.


Adrian secara spontan menindih telapak tanganku dengan berdecak kagum lalu diikuti oleh Yohanes dan semua anggota timku saling menindih tangannya.


"Semoga misi kita sukses!" sorakku penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2