Good Partner

Good Partner
Part 36 - Melarikan Diri


__ADS_3

Aku membuka lemari pakaianku berganti pakaian sambil menatap cermin merapikan penampilanku terlihat berantakan. Usai itu, aku bergegas ke ruang makan membuka kulkas mengambil susu untuk sarapan, setidaknya bisa mengisi energiku sedikit. Aku berlari keluar rumahku lalu mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh menuju kantor.


Setibanya di kantor, aku bergegas memasuki ruang rapat melihat Tania, Nathan, dan Hans sedang berdiskusi dari tadi.


"Akhirnya kamu datang juga, Penny," sambut Nathan lega melihatku.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Aku dengar kabar dari Adrian bahwa Pak Colin melarikan diri saat kecelakaan," tanyaku panik menempati kursi bagian tengah.


"Tadi sekitar pukul 6 pagi, Pak Colin dibawa ke kantor kejaksaan. Namun di tengah perjalanan, rem bus tidak bisa dikendalikan sehingga bus menabrak mobil lain lalu terbalik. Semua penumpang dalam bus beserta sopir bus ditemukan tewas dan hanya Pak Colin yang tidak ditemukan di sana," terang Hans menjelaskan kejadiannya panjang lebar padaku.


Aku menggebrak meja kesal. "Aish, kenapa mereka ceroboh sekali! Seharusnya sebelum membawa Pak Colin harus melakukan pemeriksaan kondisi bus itu dulu!"


"Kita harus mencari Pak Colin di seluruh kota ini," usul Tania.


"Ayo kita berpencar mencarinya!" ajakku.


Aku dan semua rekan timku berpencar mencari Pak Colin di setiap pelosok kota ini. Sedangkan aku mengunjungi tempat yang biasanya Pak Colin kunjungi. Aku memasuki Kafe langganan Pak Colin mulai mencarinya di setiap sisi namun ia tidak ada di sini.


Aku menanyakan salah satu pegawai Kafe sambil memperlihatkan foto Pak Colin. "Permisi, apakah Anda melihat orang ini tadi berkunjung ke sini?"


"Orang itu sudah tidak berkunjung ke sini belakangan ini."


"Baiklah, terima kasih," balasku langsung meninggalkan Kafe.


Aku mengendarai mobilku dan melewati restoran milik Pak Colin. Sekarang restoran itu sudah ditutup dan disegel pihak kepolisian. Setelah dua jam aku menelusuri kota, aku tidak menemukan Pak Colin di mana pun. Tania, Nathan, dan Hans juga sudah mengelilingi kota ini tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Pak Colin bahkan di gang kecil maupun area yang tidak ada kamera CCTV.


Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas dalam pikiranku. Jika Pak Colin tidak menampakkan dirinya di kota ini, kemungkinan besar ia melarikan diri ke luar kota maupun luar negeri. Aku menghembuskan napasku kasar sambil menginjak pedal gas menuju bandara untuk mencari Pak Colin.


Setibanya di bandara, aku menemui salah satu petugas di sana sambil memperlihatkan fotonya. Namun Pak Colin tidak pernah memesan tiket penerbangan ke luar kota ataupun ke luar negeri hari ini.


drrt...drrt...


Ponselku berdering tiba-tiba. Dengan sigap aku mengangkat panggilan telepon dari Adrian.


"Halo, Adrian. Kamu sudah menemukan Pak Colin?" tanyaku padanya langsung, siapa tahu ia sudah menemukannya terlebih dahulu.


"Aku baru mau memberitahumu, Pak Colin kabur dari kota ini melalui jalur kapal," jawab Adrian terdengar panik.


"Apa? Aku harus pergi ke pelabuhan itu."


Mataku terbelalak langsung menutup telepon.


Setibanya di pelabuhan, aku bertemu Adrian untuk mencari Pak Colin. Lalu kami berdua menanyai salah satu awak kapal di sana.


"Permisi, apakah Anda melihat orang ini tadi sekitar pukul 6 atau pukul 7?" tanya Adrian pada awak kapal itu sambil memperlihatkan foto Pak Colin.


"Oh, orang ini. Tadi saya melihatnya menumpangi kapal teman saya."

__ADS_1


"Apakah mungkin Anda tahu bahwa teman Anda membawa orang ini pergi ke mana?" tanyaku.


"Tadi jika saya tidak salah mendengar diskusi mereka sih, mereka pergi ke Gangnam yaitu di Korea Selatan. Saya melihat orang itu memberi teman saya uang yang jumlahnya cukup banyak," jawab awak kapal itu menjelaskan semuanya pada kami.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Silakan kembali melanjutkan aktivitas Anda," ucap Adrian menggandeng tanganku menuju tempat parkir.


Aku mengikutinya sambil memikirkan tempat apa yang kira-kira biasanya dikunjungi Pak Colin di Gangnam. Sepertinya ayah mengetahui tempat rahasianya. Aku harus mengunjungi ayah di rumah sakit sekarang.


Ketika aku ingin memasuki mobilku melepas genggaman tangannya, Adrian mencegahku mempererat genggamannya. "Kamu mau pergi ke mana, Penny? Aku akan ikut denganmu."


"Aku akan pergi ke rumah sakit mengunjungiku ayahku. Mungkin ayahku tahu tempat yang biasanya Pak Colin kunjungi di Gangnam sewaktu dulu."


"Baiklah, aku akan ikut denganmu ke sana juga," sahut Adrian melepas genggaman tangannya lalu menaiki mobilnya.


Setibanya di rumah sakit, aku dan Adrian berjalan cepat menuju kamar ayah. Saat kami berdua tiba di depan kamar ayah, aku melihat ibu dan ayah sedang asik berbincang. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka, tapi secara terpaksa aku harus bertanya kepada ayah sekarang demi menangkap Pak Colin secepatnya.


Aku membuka pintunya langsung memasuki kamar, diikuti Adrian dari belakang.


"Selamat datang, Putriku. Tumben kamu datang bersama Adrian hari ini," sambut ibu tersenyum ramah padaku.


"Oh, jadi kamu Adrian putranya Randy, ya. Penny suka bercerita tentangmu. Ternyata kamu terlihat tampan," sapa ayah tersenyum pada Adrian.


"Senang bertemu dengan paman," balas Adrian sopan.


"Ibu mampir ke minimarket lantai bawah sebentar. Kalian berdua di sini saja berbincang dengan ayah," pamit ibu lalu keluar dari kamar ayah.


"Iya boleh saja, Penny. Apa pun kamu boleh bertanya pada ayah."


"Ayah tahu tempat yang biasanya Pak Colin kunjungi di Gangnam sewaktu dulu? Misalnya saat dia sedang menghabiskan waktu luangnya."


"Dahi ayah mengernyit. "Kenapa kamu menanyakan hal itu tiba-tiba? Bukankah Colin sudah ditangkap olehmu kemarin?"


Embusan napas lesu keluar dari mulutku. "Tadi pagi Pak Colin dikabarkan melarikan diri keluar dari kota ini saat mengalami kecelakaan. Lalu aku mendengar dia kabur ke Gangnam."


Bola mata ayah terbelalak. "Apa? Bagaimana bisa?"


"Maka dari itu, aku menanyakan ayah mengenai hal itu. Pasti ayah masih mengingatnya sampai sekarang."


"Dulu Colin jarang mengunjungi tempat hiburan di Gangnam. Dia hanya mengunjungi pusat perbelanjaan dan restoran berbintang di sana. Ayah masih bingung sampai sekarang."


"Bingung karena apa ayah?"


"Colin sangat terobsesi dengan perusahaannya. Seperti ada sesuatu yang berharga baginya di sana. Dia lebih memilih sering mengunjungi perusahaan daripada tempat lain," sambung ayah.


Aku memijit pelipisku sejenak. "Apa yang disembunyikan Pak Colin di sana? Aduh, kenapa ayah tidak memberitahuku dari awal!"


"Ayah pikir itu sudah sangat lama dan Colin tidak akan menyembunyikan apa pun lagi di sana hingga sekarang. Maafkan ayah tidak memberitahu hal ini padamu dari awal," sesal ayah menunduk lesu.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, aku beranjak dari kursi lalu membuka pintu kamar ayah.


"Tunggu, Penny! Kamu mau ke mana?" pekik ayah.


"Aku mau pesan tiket penerbangan ke sana sekarang juga."


"Kamu pergi ke sana sendirian lagi?" tanya ayah menaikkan nada bicaranya satu oktaf mengingat kejadian yang menimpaku terakhir kali di sana.


Aku menolehkan kepala berlagak angkuh. "Iya, Ayah. Aku akan ke sana dan menangkapnya dengan tanganku sendiri."


"Kamu masih tidak takut dengan kejadian terakhir kali? Kamu hampir saja terbunuh di sana! Apakah kamu tidak memikirkan ayah sama sekali?" gerutu ayah memarahiku sambil berkacak pinggang.


"Aku harus melaksanakan pekerjaanku. Aku tidak akan merepotkan orang lain lagi. Ini sudah merupakan tanggung jawabku sebagai seorang detektif."


"Kamu ini benar-benar--"


Ayah belum selesai melanjutkan pembicaraannya berusaha beranjak dari ranjang namun tubuhnya masih lemah hingga hampir terjatuh ke lantai.


"Paman!" Dengan sigap Adrian langsung menahan tubuh ayah sebelum terjatuh.


Aku langsung berlari menghampiri ayah memposisikan tubuhnya duduk bersandar di ranjang dibantu Adrian juga.


"Ayah! Apakah ayah baik-baik saja? Maafkan aku." Aku sangat mencemaskannya sekaligus menyesal atas perbuatanku yang keras kepala barusan sampai ayah hampir saja celaka.


"Kamu jangan mencemaskan ayah. Sebaiknya kamu mengajak seseorang menemanimu di sana," usul ayah.


"Tapi ayah, aku tidak ingin merepotkan teman-temanku lagi."


"Pokoknya kalau kamu ingin pergi ke sana sendirian, ayah tidak akan mengizinkanmu ke sana terutama kamu adalah seorang wanita!"


"Aku akan menemaninya di sana paman," pungkas Adrian sukarela tanpa berpikir panjang.


Aku terkejut mendengar perkataannya dan merasa tidak enak padanya. Tidak mungkin ia merelakan pekerjaannya di sini.


Sebaiknya aku menolak tawarannya barusan demi kebaikannya. "Aku baik-baik saja. Aku bisa mengajak teman-temanku yang lain."


Adrian menyentuh pundakku dengan kedua tangan. "Tidak masalah, Penny. Aku harus melindungimu dengan baik setiap saat."


Ayah menepuk pundak Adrian. "Paman akan mengandalkanmu, Adrian. Tolong lindungi putriku dengan baik di sana!"


"Paman serahkan saja semuanya padaku. Putri paman pasti tidak akan ada luka apa pun saat kembali lagi ke sini," lontar Adrian penuh percaya diri.


"Sifatmu itu memang sangat mirip dengan Randy."


"Aku hanya melaksanakan tugasku melindungi sahabatku, Paman."


Aku sudah tidak bisa menahan kesabaranku lagi. Kali ini aku sungguh tidak ingin merepotkan Adrian.

__ADS_1


"Sebaiknya kita membicarakan hal ini di luar saja," ajakku menarik tangan Adrian.


__ADS_2