Good Partner

Good Partner
S2 : Part 42 - Duel


__ADS_3

Aku menyunggingkan senyuman nakal mengirimkan pesan singkat kepada seseorang untuk menjaga Adrian di sini dengan ketat. Fina, Hans, dan juga Adrian sangat penasaran dengan siapa sosok yang akan berjaga di sini sampai menyipitkan matanya menatapku curiga. Dengan santainya, aku memasukkan ponselku kembali ke saku blazerku lalu duduk di sudut ranjang.


"Penny, sebenarnya kamu memanggil siapa sih?" tanya Adrian mulai penasaran.


"Apa mungkin kamu memanggil Nathan ke sini?" tanya Fina.


"Bukan."


"Oh, kamu pasti memanggil Tania ke sini!" seru Hans berlagak benar.


"Ish aku mana mungkin menyuruh Tania menjaganya di sini!" sungutku mendengkus kesal.


"Ayolah, Penny! Sebenarnya kamu memanggil siapa sih?" rengek Adrian manja.


"Ada deh. Nanti kamu pasti terkagum melihatnya," balasku semakin melebarkan senyumanku.


"Oh, aku tahu! Pasti kamu meminta ayahku untuk menjagaku di sini!" seru Adrian tersenyum cerdas.


"Ish aku mana mungkin merepotkan ayahmu untuk menjagamu seharian di sini!"


"Apa mungkin ayahmu yang menjagaku nanti?" tanyanya lagi masih tidak mau menyerah menebaknya.


"Aduh ayah dan ibuku kan sibuk merawat anak kita!"


"Sudahlah, Penny. Aku tidak mau main tebak-tebakkan seperti ikutan acara kuis di TV!" keluh Adrian memanyunkan bibirnya.


"Bukankah semalam kamu bilang ingin bermain bersamaku? Ya sudah, aku kabulkan keinginanmu saja."


"Tapi bukan berarti kamu menyuruhku untuk berpikir keras. Padahal cedera di kepalaku masih belum pulih total."


"Memang dasar Penny tega sama suaminya sendiri!" hardik Hans berkacak pinggang.


"Adrian, kalau aku jadi dirimu pasti aku akan memarahinya," ujar Fina menatapku tajam.


"Tidak mungkin aku memarahi istri kesayanganku. Aku selalu menyayanginya setiap saat," bantah Adrian sambil mengelus kepalaku perlahan.


"Padahal waktu itu kamu memarahiku habis-habisan," selorohku memalingkan mata darinya.


"Masa sih kalian pernah bertengkar? Padahal aku melihat kalian selama ini baik-baik saja deh." Fina menatap curiga kami berdua.


"Kami tidak bertengkar. Penny saja yang sembarangan bicara," sangkal Adrian merangkul pundakku mesra.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang membuka pintu kamarnya. Seorang pria muda melangkah masuk terburu-buru menduduki kursi tepat di samping ranjang. Adrian menatap kesal pria muda yang usianya lebih tua darinya, sambil mencengkeram selimutnya erat.


"Kenapa kamu ke sini? Bukankah seharusnya sekarang kamu berada di kantor?" tanya Adrian dengan nada kesal.


"Aku yang memanggilnya ke sini untuk menjagamu," sahutku membantu Yohanes menjawabnya.


"Apa? Penny, kenapa kamu tega sekali memanggilnya ke sini?"


"Ish kenapa sih kamu sensitif sekali dengan temanmu sendiri!" hardikku kesal.


"Iya nih. Padahal aku kan bermaksud baik untuk menjagamu di sini," tambah Yohanes kecewa.


"Kamu pasti mendatangiku karena Penny yang memanggilmu, 'kan! Coba kalau orang lain yang menyuruhmu, aku sangat yakin kamu pasti tidak akan datang ke sini!" ketus Adrian mengerucutkan bibirnya.


"Tidak. Kalau temanku sedang kesusahan pasti aku akan membantunya," sangkal Yohanes berlagak polos sambil menepuk-nepuk pundaknya Adrian.


Adrian memutar bola matanya bermalasan membalikkan tubuhnya menghadap tembok. Sementara aku merasa tidak enak pada Yohanes hanya bisa tersenyum seperti orang bodoh. Lalu aku berinisiatif mendekati Adrian menasihatinya dengan baik.


"Adrian, kamu jangan bersikap begitu pada temanmu. Ini juga demi menjaga keselamatanmu selagi aku tidak berada di sisimu. Satu-satunya teman yang bisa aku andalkan untuk menjagamu ketat hanyalah Yohanes. Lagi pula sebenarnya hubungan pertemanan kalian akrab, kamu saja yang selalu terbakar api cemburu."


"Iya sih sebenarnya aku selama ini kesal dengannya karena cemburu," balasnya lesuh.


"Nah maka dari itu, kamu harus menurutiku. Kamu akan membiarkannya menjagamu, 'kan?"


Embusan napas kasar dikeluarkan dari mulutnya sambil ia berpikir sejenak mengenai situasi sekarang. Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya ia memutuskan untuk menurut.


"Iya deh. Lagi pula juga aku membutuhkan teman ngobrol daripada sendirian di sini." Adrian menyunggingkan senyuman nakal pada Yohanes.


"Kenapa kamu menatapku begitu? Perasaanku seperti tidak enak jadinya," lontar Yohanes gugup hingga keringat dingin mulai mengalir pada lehernya.


"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kamu harus menemaniku sepanjang hari sampai Penny kembali ke sini."


"Baiklah kalau begitu aku jadi tenang deh. Aku akan mengandalkanmu sepenuhnya, Yohanes," ucapku menepuk pundaknya dengan penuh keyakinan.


"Tenang saja, Penny. Aku pasti akan menjaganya sampai mataku tidak berkedip," balasnya berlagak sombong.


Aku membuka bungkusan makanannya makan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Aku tidak tahan dengan perutku yang sejak tadi sudah mengamuk. Sekalian juga aku membukakan bungkusan makanannya untuk Adrian lalu menaruhnya di atas meja. Tanpa berlama-lama, aku menghabiskan makananku hanya 5 menit lalu mengambil selembar tisu dari dalam tasku untuk menyeka bercak minyak melekat pada sudut bibirku.


"Kalau begitu aku pergi dulu deh. Ayo, Hans dan Fina!" ajakku bersemangat.


"Tunggu, Sayang!" pekik Adrian mencegahku pergi menahan tanganku.


"Ada apa, Sayang?"


Adrian mengecup keningku mendalam seperti menyalurkan seluruh energi dalam tubuhnya padaku.


"Supaya kamu semakin bersemangat seperti biasa aku memberikan vitamin penyemangat untukmu."


"Aku akan kembali secepatnya supaya bisa menemanimu lagi," balasku mengelus kepalanya lembut.


"Aish di saat genting begini kalian masih bisa bermesraan!" ketus Hans mengangkat alisnya.


"Yang namanya Penny dan Adrian, satu detik tidak bermesraan saja rasanya tidak akan bisa hidup." Fina menambahi bumbunya.


"Diam kalian!" bentak Adrian balik.


"Sampai bertemu nanti, Sayang," pamitku memeluknya beberapa detik lalu melepas pelukannya.


"Hati-hati di jalan, Sayang," lontar Adrian melambaikan tangannya padaku.

__ADS_1


Aku mengulum senyuman melambaikan tangan padanya. Lalu aku, Hans, dan Fina serentak melangkah keluar dari kamar itu.


Setibanya di kantor, aku melangkah menuju sel sementara mengamati pengacara Leonard yang sedang duduk termenung di pojokkan dengan raut wajah sangat kusut dan kantung mata yang besar. Kalau dilihat dari sikapnya sekarang, yang sedang duduk termenung adalah pengacara Leonard. Berbeda jauh dengan kepribadian Zack terus memakai kekerasan dan memberontakku. Aku berjongkok di depan sel sementara itu untuk memanggilnya pelan.


"Leonard," panggilku pelan.


Ia mengangkat kepalanya perlahan lalu menoleh ke arahku dengan tatapan sendu sambil melangkah mendekatiku.


"Detektif Penny," sahutnya lesuh.


"Aku mendengar dari anggota timku bahwa kamu ingin membicarakan sesuatu yang penting padaku."


"Iya benar. Aku ingin membicarakannya denganmu atau jaksa Adrian."


"Kalau begitu apakah kamu bersedia untuk diinterogasi sekarang?"


"Baiklah aku akan memberitahukan kepadamu sekarang juga sebelum dia bereaksi lagi."


Aku mengisyaratkan Fina untuk membuka pintu sel sementara, lalu kami berdua menuntun pengacara Leonard memasuki ruang interogasinya. Karena tubuhnya selalu gerah, maka dari itu aku menurunkan suhu ACnya supaya ia tidak tegang sama sekali. Sedangkan Fina mengambilkan berkas laporan kasusnya beserta barang buktinya untukku. Aku menyusun berderet semua foto yang disimpan oleh Zack dalam ruang rahasianya dan juga name tag para pelajarnya.


"Baiklah mari kita mulai interogasinya," ucapku mulai serius.


"Bagaimana dengan kondisi jaksa Adrian?" tanya pengacara Leonard tiba-tiba.


"Sekarang kondisinya semakin membaik. Untung saja Zack tidak merusak pembuluh darah pada otaknya," jawabku santai.


"Syukurlah."


"Tapi kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan pernah mengampunimu walaupun itu bukanlah perbuatanmu sebenarnya," ketusku.


"Iya memang aku pantas mendapatkan hukumannya sekarang."


"Sekarang kita langsung masuk pada inti pembicaraannya saja. Perkaramu terlalu banyak sampai aku bingung ingin memulainya dari mana." Tatapanku kebingungan sambil mencari berkas kasus pembunuhan Angelina dan Gracia.


"Aku yang membunuh semuanya," ungkapnya langsung tanpa berpikir panjang.


Aku menaruh berkas laporannya kasar di atas meja lalu menyilangkan kakiku.


"Apa kamu tahu penyebab Zack membunuh semua temanmu?" selidikku.


"Itu karena dia tidak ingin semua temanku melupakannya. Apalagi kita memang sudah saling terikat satu sama lain sudah seperti saudara kandung. Maka dari itu, kalau mereka bertiga melupakannya, dia merasa seperti dikhianati dan sudah kehilangan akal sehatnya."


"Jadinya karena masalah kecil saja dia langsung membunuhnya dengan kejam?"


"Padahal kalau mengenai itu aku tidak mempermasalahkannya sama sekali. Aku sungguh tidak bermaksud untuk membunuh mereka semua," jawab pengacara Leonard merinding ketakutan hingga tangannya gemetar.


"Tapi tetap saja terbukti secara fisik bahwa kamu adalah pembunuhnya. Memang ini sangat berat bagimu hidup dengan gangguan jiwa seperti ini apalagikaumu harus merelakan kariermu sebagai pengacara kompeten."


Tiba-tiba pengacara Leonard mulai bertingkah aneh lagi. Ia terus memegangi kepalanya hingga matanya sulit untuk dibuka. Aku dengan sigap mengambilkan obat penenang untuknya dan juga segelas air putih. Lalu ia mengambil obatnya meminumnya dengan panik. Memang aku sedikit merasa kasihan padanya terutama ia selama bertahun-tahun menjalani kehidupannya dengan sengsara. Usai merasa sedikit tenang, aku kembali menginterogasinya lagi.


"Apa kamu sudah mulai merasa tenang?" tanyaku ragu.


"Baiklah kita lanjutkan lagi interogasinya. Sebenarnya selama ini kamu terus memantau pergerakan ketiga teman itu di klub malam, ya?" selidikku melanjutkan interogasinya.


"Bukan aku yang ingin mengintai mereka. Tapi ini perbuatan Zack lagi. Sejujurnya aku paling benci mengunjungi ke tempat gituan," sangkalnya menggelengkan kepalanya.


"Sudah kuduga kalau dilihat dari gerak geriknya pasti bukan perbuatanmu. Lalu waktu itu saat jaksa Yohanes hampir dibunuh oleh Zack, apakah kamu mengetahui ada penyusup bekerja di kantor kejaksaan? Penyusup itu merupakan anggota tim investigator baru bekerja dengan jaksa Adrian."


"Mengenai itu juga bukan aku pelakunya."


"Tapi kenapa Zack bisa dengan mudah mengakses ke orang yang bekerja di sana? Setahu aku di sana penjagaannya sangat ketat," tanyaku menatap curiga.


Pengacara Leonard menghela napasnya pasrah menggarukkan kepalanya seperti orang gila. Melihat tingkahnya tiba-tiba berubah seperti ini, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dan disembunyikan dariku.


"Inilah sesuatu penting yang ingin aku sampaikan padamu," ujarnya dengan tatapan serius.


"Apa mungkin investigator Carlos ada hubungan saudara tiri atau semacamnya?"


"Aku justru tidak mengenalnya sama sekali. Tapi kamu dan jaksa Adrian harus tahu bahwa ada satu penyusup lagi yang bekerja di kantor kejaksaan."


"Siapa itu?" tanyaku sangat penasaran.


Pengacara Leonard memajukan kepalanya mendekati daun telingaku.


"Kepala jaksa Henry."


Aku tersentak kaget hingga mataku terbelalak. Orang yang selama ini meremehkanku dan Adrian adalah salah satu kaki tangan pembunuhnya. Tapi anehnya kenapa ia bersikeras menyuruh kami untuk segera menangkap Zack?


"Apa aku tidak salah mendengarnya? Setahu aku selama ini dia selalu memarahi jaksa Adrian karena tidak menangkapmu terus."


"Justru dia sengaja ingin membuangku sejak dulu. Sebenarnya aku tahu rencananya sejak awal bahwa dulu saat dia menolongku dari kecelakaan itu, dia hanya memanfaatkanku saja untuk menutupi tindakan gegabahnya," jelas pengacara Leonard panjang lebar.


"Jadi maksudmu selama ini kepala jaksa Henry hidup tanpa berdosa apalagi setelah melakukan tindakan ceroboh terhadap seorang anak remaja yang berusia sepertimu waktu itu?"


"Iya benar. Tidak hanya itu juga. Dia melakukan kejahatan lainnya lagi yang tidak diketahui semua orang."


"Memangnya dia melakukan perbuatan jahat apa lagi?"


"Sebenarnya belakangan ini aku terus menyelidiki kejahatan yang dilakukannya. Sepertinya dia memiliki semacam buku rekening rahasia digunakan untuk menyimpan semua uang hasil penggelapan dana yang terkumpulkan selama ini," tutur pengacara Leonard mengernyitkan alisnya.


"Jadinya apa mungkin kamu tahu tempat dia menyimpan buku rekening rahasianya?"


"Aku pernah mengecek ke seluruh rumahnya tapi dia tidak menyimpannya di dalam sana walaupun aku juga pernah membuka brankasnya."


"Jadinya apa mungkin kamu tahu tempat yang sering ingin dia kunjungi selama ini? Bisa juga dia menyembunyikannya di sana."


Pengacara Leonard terus menundukkan kepalanya berusaha memikirkan tempat kesukaannya kepala jaksa Henry untuk menghabiskan waktunya. Tiba-tiba ada ide terlintas dalam pikirannya.


"Aku tahu tempat yang sering dikunjunginya selama ini."


"Di mana itu?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Kadang saat aku sedang perjalanan menuju suatu tempat untuk bertemu dengan klienku, aku melihatnya sering memasuki ke sebuah hotel."


"Hotel? Apa dia mengunjungi ke sana sendiri atau mungkin ada seseorang sedang bersama dengannya waktu itu?" selidikku hingga mataku terbelalak.


"Hmm selama ini sih aku tidak melihatnya sedang bersama dengan orang lain. Tapi yang masih mengganjal dalam pikiranku itu, kenapa dia suka mengunjungi kesana sendirian padahal kalau aku jadi dia pasti lebih memilih menetap di rumahnya yang mewah. Aku merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan di dalam sana," papar pengacara Leonard mengerutkan dahinya.


"Bisa jadi. Apalagi orang mungkin tidak akan menyadari dia bakal menyembunyikan sesuatu penting di dalam sana."


"Nama hotelnya itu Brilliant Hotel. Aku harap kamu bisa menemukan bukti itu untuk menangkapnya secepatnya."


Aku sedikit bingung dengan perbuatannya pengacara Leonard saat ini. Ia bertindak seperti orang baik tiba-tiba di hadapanku. Aku melipat kedua tanganku di depan dada mengangkat alisku.


"Kenapa kamu berbuat begini padaku tiba-tiba? Walaupun kamu membantuku untuk mempermudah penyelidikannya, tapi tetap saja kamu akan dijatuhi hukuman penjara."


"Karena aku menganggap ini adalah tugas terakhirku sebagai seorang pengacara sebelum membusuk di balik jeruji besi itu. Aku juga akan membalas dendamku atas apa yang telah dia perbuat padaku sewaktu dulu."


Aku menutup semua berkas kasusnya lalu membereskan semua foto yang berceceran di atas meja.


"Baiklah aku akan menangkapnya segera."


"Ini juga sebagai permintaan maafku atas perbuatan jahat yang telah aku lakukan," ujarnya lesuh.


"Dengan pernyataanmu barusan, sangat mempermudahku dan Adrian untuk membuktikan kejahatannya selama ini. Terima kasih atas bantuannya," ucapku tulus tersenyum simpul padanya.


"Hanya ini yang bisa aku perbuat untuk membantumu."


"Kalau begitu kamu bisa kembali ke sel sementara lagi."


Aku mengambil semua barangnya kembali menuju ruang kerja timku lagi untuk mengadakan rapat darurat mengenai penyelidikan kepala jaksa Henry.


"Bagaimana, Penny? Sesuatu penting apa yang disampaikannya padamu?" tanya Fina penasaran.


"Kita harus menangkap kepala jaksa Henry secepatnya. Dia adalah dalang dibalik semua ini."


"Apa?!" Hans tersentak kaget hingga mulutnya terbuka lebar.


"Jadinya selama ini dia adalah penyusup yang bekerja di kantor kejaksaan selain investigator Carlos?" tanya Nathan.


"Iya dia juga ingin menghancurkan hidupnya pengacara Leonard. Maka dari itu, alasan kenapa dia terus memaksa Adrian untuk menangkapnya."


"Tapi kenapa dia tidak ingin memberitahunya langsung kepada Adrian? Bukankah jauh lebih mudah untuk menangkapnya?" Fina berpikir keras hingga dahinya berkerut.


"Pasti ada alasan tersendiri kenapa dia tidak ingin mengatakannya langsung," sambung Tania.


"Yang pasti sekarang kita harus memasuki kamar hotelnya di Brilliant Hotel. Kata pengacara Leonard, ada sesuatu yang disembunyikannya di sana. Bisa jadi berupa buku rekening rahasianya yang membuktikan kejahatannya terhadap penggelapan dana."


"Haruskah sekarang kita melakukan pencariannya?" tanya Hans ragu.


"Tidak sekarang juga sih. Kita harus merencanakan strateginya dulu sebelum menyusup ke sana. Apalagi dia sering berkunjung ke sana, tidak mungkin secara terang-terangan kita menampakkan diri padanya," usulku.


"Baiklah aku akan menunggu perancangan strategimu deh," sahut Nathan.


"Kalau begitu aku akan kembali ke rumah sakit lagi mengunjungi Adrian. Aku tidak mungkin membiarkan Yohanes terus menjaganya."


Sementara di sisi lain, raut wajahnya Adrian terus cemberut selama ditemani oleh Yohanes. Ia terus menghembuskan napasnya kasar sambil menguap. Sementara Yohanes bingung melihatnya begitu akhirnya membuka suaranya.


"Kamu kenapa sih dari tadi berkeluh kesah terus? Memangnya ada apa lagi?" tanya Yohanes sedikit kesal.


"Seandainya saja Penny yang merawatku sekarang, aku pasti tidak akan merasa bosan terus," desahnya lesuh.


"Sudahlah dia kan sedang sibuk bekerja. Sebaiknya kamu fokus saja pada kesehatanmu supaya bisa kembali bekerja lagi. Tugasku sekarang adalah merawatmu dengan baik," celoteh Yohanes cerewet.


Adrian menyunggingkan senyuman nakal menatap Yohanes hingga membuat perasaannya sedikit gugup.


"Kenapa kamu menatapku begitu? Perasaanku jadi tidak enak sekarang," tanya Yohanes mulai keringat dingin.


"Tolong ambilkan aku air!"


Yohanes menurutinya memberikan segelas air putih untuknya. Adrian meneguknya dengan cepat hingga tidak tersisa satu tetes air pun.


"Sudah puas sekarang?"


"Belum nih. Tolong belikan aku makanan! Makanan yang paling enak pokoknya!" rengeknya mulai manja.


"Hei, Adrian! Kalau itu sih aku tidak bisa membantumu!" hardik Yohanes menatap sebal.


"Bukankah kamu sendiri tadi bilang ingin merawatku dengan baik?"


"Iya tapi bukan berarti kamu memperlakukanku sebagai pelayanmu!" ketus Yohanes.


"Tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus menuruti perintahku!"


"Ish untuk apa aku menurutimu! Aku bukan pelayanmu!"


"Beraninya kamu tidak menurutiku!" Adrian mencengkeram bantalnya lalu melemparnya kasar mengenai wajah Yohanes.


Sementara Yohanes mendengkus kesal mengambil bantalnya yang terjatuh lalu melemparnya balik mengenai wajahnya Adrian.


"Dasar anak tidak sopan!"


Adrian mengambil bantalnya lalu melemparkannya lagi mengenai Yohanes.


"Justru kamu yang tidak sopan pada pasien!"


Begitulah mereka saling perang bantal tanpa berhenti sedetik pun.


Sementara aku baru saja tiba di depan pintu kamarnya sambil membenarkan rambutku sedikit berantakan. Sesuai janjiku padanya, aku kembali lebih awal sehingga bisa merawatnya lagi. Semoga saja tidak terjadi sesuatu antara mereka berdua di saat aku pergi. Usai merapikan diriku terlihat sempurna, aku mendorong pintunya perlahan memasuki kamarnya.


PUKK


Tiba-tiba wajahku tertimpuk oleh bantal hingga tubuhku hampir terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2