Good Partner

Good Partner
S2 : Part 52 - Together Forever


__ADS_3

Mengingat salah satu momen terindah kami, membuatku ingin memutar waktu kembali ke masa itu.


"Memang malam itu sangat spesial untuk kita. Apalagi ditambah adanya bintang jatuh, kita bisa berdoa keinginan kita selama ini lalu langsung terkabul dengan cepat. Sekarang anak kita sudah besar semakin cantik, lucu, dan cerdas," ucap Adrian tersenyum manis sambil mengelus kepalaku.


"Ini berkat kamu yang selalu mencintaiku sehingga aku bisa melahirkan putri yang lucu untukmu."


Adrian mengangkat tubuhku membiarkanku duduk di atas pangkuannya. Ia mendekapku hangat dan mengecup pipiku sekilas.


"Terima kasih, Sayang. Kamu selama ini telah berjuang merawat Victoria dari dirinya masih bayi sampai sekarang selalu tumbuh sehat. Memang kamu adalah seorang istri dan ibu yang terbaik bagiku."


"Aku juga selalu mencintai suamiku yang merupakan ayah terbaik bagiku yang selalu merawatku setiap saat tanpa mengenal lelah walaupun kamu sibuk bekerja." Tanganku menyentuh pipinya mengelusnya perlahan.


"Penny Sayang, aku sangat mencintaimu. Mulai sekarang aku semakin kecanduan padamu. Penny kesayanganku yang terbaik sepanjang masa. Hanya ada satu Penny Patterson di dunia ini yang mampu membuatku bahagia."


"Sementara Adrian Christopher kesayanganku yang paling terbaik sepanjang hidupku dan juga hanya ada satu di dunia ini yang mampu menjadi malaikat pelindungku setiap saat. Di saat aku sedang kesulitan, kamu selalu muncul tepat waktu. Di saat aku mengalami banyak masalah, kamu selalu menasihatiku dan memberikan motivasi untukku. Adrian sayang, aku selalu mencintaimu sepanjang hidupku."


Sorot matanya tertuju pada bibirku tampak berkilauan di matanya walaupun tidak dipoles dengan lipstik. Jempolnya mengusap bibirku lembutku mendekatkan wajahnya pada wajahku dengan senyuman godaannya.


"Kamu harus selalu ingat, Sayang. Bibir indahmu hanya boleh disentuh olehku. Tidak hanya itu, bahkan seluruh tubuhmu tidak boleh disentuh siapa pun. Hanya aku yang boleh menyentuhmu."


"Pasti kamu bicara seperti ini karena tadi siang kamu sangat cemburu. Sejujurnya aku juga sangat cemburu tapi aku bahagia, Sayang. Kamu tetap menjaga tubuhmu supaya tidak disentuh wanita lain." Aku mengukir senyuman khasku padanya.


"Sayang, malam ini aku ingin kita bermesraan penuh cinta. Kalau seandainya ada seseorang menghubungi kita seperti anggota timmu, jangan mengangkat teleponnya. Kita terus lanjutkan tanpa ada jeda sama seperti cintaku padamu terus berlanjut tidak pernah terputus sampai kapan pun. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi hubungan kita," ungkapnya tulus.


Aku mengangguk pelan sambil mengelus pipinya pelan.


"Kalau sampai ada yang meneleponku, aku pasti langsung matikan ponselku. Kamu tidak ingin menonton pertandingan sepak bola demi bermesraan denganku. Tentu saja aku akan menikmatinya bersamamu sampai puas. Mau samoai besok juga tidak masalah bagiku. Karena malam ini adalah malam spesial untuk kita berdua."


Adrian membelai rambutku lalu menyentuh pipiku dengan kedua tangannya sambil memejamkan matanya melakukan aksi ciuman manisnya pada bibirku. Kami berdua melakukan aksi ciumannya sudah seperti dunia terasa milik kami tanpa peduli dengan siapa pun. Tanpa adanya jeda, sepasang bibir ini masih menempel satu sama lain bagaikan cinta kami sudah permanen tidak akan bisa terlepaskan sampai selamanya. Kami berdua tidak membutuhkan ciuman sangat agresif. Ciuman kami yang selalu lembut, manis, penuh cinta dan kasih sayang sudah sangat bermakna dan akan selalu kami mengingatnya. Dengan penuh penghayatan mendalami aksinya, tangan kanannya menyentuh ujung kepalaku lalu secara perlahan menyentuh lekukan leherku hingga meraba sepanjang punggungku. Sementara pada saat bersamaan dengannya, aku mempererat pelukannya dalam kondisi mata masih terpejam juga sibuk memainkan bibirku lembut. Pikiran kami hanya terfokus sekarang saja sambil menikmati hingga puas di saat larut malam begini dengan penuh gairah cinta.


Seketika sekarang aku memasuki dunia mimpi, dilihat dari sekelilingku saat ini aku sedang berada di sebuah tempat wisata di Queenstown. Udaranya sangat dingin membuat tubuhku menggigil walaupun dibaluti mantel tebal.


PUKK


Tiba-tiba ada bola salju terlempar mengenai pipiku. Suara gelak tawa nakalnya terdengar jelas lalu aku menolehkan kepalaku memandangi sosok Adrian sedang menertawaiku.


"Haha wajahmu dipenuhi salju," ledeknya menertawaiku puas.


Aku berdecih kesal membalasnya melempar bola salju mengenai pipinya.


"Rasakan ini pembalasanku!"


Adrian menyentuh pipinya menyunggingkan senyuman nakalnya padaku.


"Sayang! Kamu tega sekali merusak wajah tampanku!" Adrian mulai memainkan jari jemarinya sambil mendekatiku membuatku gugup.


Aku melangkah mundur lalu melarikan diri darinya namun karena jalanan dipenuhi salju, sulit bagiku untuk berlari. Dengan pasrah aku melangkahkan kakiku secepat mungkin sebelum dirinya berhasil menangkapku. Namun usahaku sia-sia, Adrian berhasil menangkapku memelukku erat dari belakang sambil mengecup daun telingaku.


"Kamu mau kabur ke mana, Sayang?"


"Aku kedinginan. Mau berendam di pemandian air panas," jawabku asal tapi sebenarnya memang aku ingin berendam.


"Mau berendam tapi tidak mengajakku!" protesnya.


"Habisnya aku mengira kamu akan menggelitikku."


"Kita kesana yuk! Aku juga kedinginan nih."


Langkah kakinya salah membuat tubuhnya ambruk di atas tumpukan salju, otomatis tubuhku juga ikut ambruk namun terjatuh tepat di atas dadanya. Adrian mengukir senyuman bahagianya sambil membelai rambutku.


"Aku selalu bahagia bersenang-senang bersamamu."


"Rasanya aku tidak ingin bangun dari mimpi ini," lontarku memeluknya manja.


"Kalau begitu kita menghabiskan waktu lebih lama lagi saja. Masih banyak hal yang belum kita lakukan di sini."


Aku menganggukkan kepalaku mengukir senyuman khasku padanya. Adrian semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku lalu mengecup keningku lembut.


Tak terasa hari sudah terang dan sinar mataharinya tembus pada jendela kediamannya Fina dan Hans. Mereka berdua saat ini terlihat sangat kelelahan mengurus anak mereka yang merengek sejak tadi. Terutama Fina yang biasanya terlihat rapi kini rambutnya sangat berantakan.


"Ayo Keira, kamu harus makan!" ucap Fina mulai kesal sambil mengambil sesendok buburnya.


Keira memundurkan kepalanya sambil menggeleng dengan wajah cemberutnya. Fina menaruh mangkuk bubur dan sendoknya kasar sambil mengikat rambutnya. Mata Keira mulai berkaca-kaca memandang ibunya kini seperti singa mengaum.


"Mama solly," ucap Keira cadel. Keira sebenarnya cadel hanya saja anehnya setiap ngomong tentang beruang, dia tidak cadel.


Sementara Hans menghampiri anaknya membawakan boneka favoritnya sambil memainkannya. Kini Keira kembali tersenyum lagi bertepuk tangan memandangi ayahnya sedang bermain boneka. Hans memasang wajah lucunya sambil memberikan boneka untuk anaknya.


"Makan yang banyak, Anakku. Nanti kalau tidak makan, kelinci bisa sedih lho," ucap Hans pelan untuk membujuk anaknya supaya makan.


Keira langsung menurutinya mengambil sesendok buburnya makan dengan melahap. Hans memandang Fina dengan senyuman cerdas terukir pada wajahnya.


"Bagaimana? Aku cerdas kan kalau mengurus anak."


"Mungkin karena aku galak jadinya Keira takut denganku," desah Fina lesuh.


"Kamu tidak galak, hanya saja tidak sabaran."


"Ish sama saja!"


"Coba kamu lihat kalau aku yang memancingnya pakai boneka, pasti dia langsung menurutimu."


"Iya memang aku payah kalau masalah mengurus anak! Tapi kalau menangani kasus, aku yang paling cerdas di antara kalian semua." Fina mengedipkan mata kirinya genit pada suaminya.


"Mulai lagi deh sikap sombong istriku timbul."


"Barusan kamu bilang apa?"


"Nanti kita bertiga main bersama, yuk! Sekalian hari ini aku akan bermain sepuasnya demi mendapatkan boneka baru untuk anakku."


"Boneka? Mau ... mau ...." Keira meresponnya girang.


"Kalau masalah permainan, serahkan saja semuanya padaku. Aku ratunya dalam permainan juga." Fina mengangkat alisnya mengeluarkan jurus sombongnya lagi.


"Mama main!"


Fina mengulum senyuman hangatnya mengelus kepalanya Keira lembut.


"Maafkan mama karena tadi sudah galak. Sebagai gantinya mama akan memberikanmu boneka yang imut nanti."


"Yeayy!"


Sementara di sisi lain, pasangan yang satu ini tidak terlihat kewalahan dari sebelumnya. Anak mereka bernama Erhan sibuk bermain mainan robotnya sambil menunggu Tania selesai membuatkan sarapannya.


"Dudu dudu serangan tembak!" Erhan sibuk bermain mainan robotnya.


Nathan duduk tepat di sebelahnya lalu mengambil salah satu robot bermain bersamanya.


"Akh! Ini tidak bisa dibiarkan! Akan aku balas tembakan lebih dahsyat lagi!" balas Nathan.


"Papa tega! Aku tidak mau robotku terluka."


"Bodoh amat. Yang penting papa menang haha."


PUKK


Tania memukuli kepalanya Nathan menggunakan sendok makannya pelan sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu paling pintar membuat anak cemberut saja!" ketusnya.


"Aduh tidak usah pakai pukul juga kali! Kepalaku sakit tahu!" keluh Nathan sambil mengelus kepalanya pelan.


"Hahaha papa lucu!" tawa Erhan terbahak-bahak sampai tubuh mungilnya berguling terus di lantai.


"Dasar anak nakal! Rasanya papa ingin memakanmu sekarang!"


Erhan bergegas bangkit kemudian berlarian menyelamatkan dirinya dari ayahnya. Sementara Nathan tidak ingin kalah darinya langsung mengejarnya hingga dapat meraihnya. Melihat perlakuan antara ayah dan anak membuat Tania tertawa bahagia.


"Dasar ayah dan anak sifatnya tidak berbeda jauh."


Erhan berlari menghampiri Tania bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Di mana, Erhan? Kenapa bersembunyi?" tanya Nathan menyunggingkan senyuman usil.


"Aku tidak mau keluar," jawab Erhan dengan nada ledekan menjulurkan lidahnya.


"Anak nakal!"


"Kalian berdua pagi-pagi begini sudah membuat onar saja!" celetuk Tania.


"Apa itu onar?" tanya Erhan berwajah polos.


"Semacam keributan," jawab Tania membiarkannya duduk di atas pangkuannya.


"Ayo main lagi, Erhan!" ajak Nathan.


"Sepertinya kepalamu memang harus dipukul lagi supaya tidak seperti anak kecil." Tania bersiap mengayunkan sendoknya mengarah pada Nathan.


"Iya ampun jangan pukul kepalaku lagi!" lontar Nathan gemetaran mengangkat kedua tangannya.


"Ya sudah kita sarapan sekarang saja!"


"Yeayy makan!" Erhan berlarian menghampiri meja makan.


"Anak rakus!" lontar Tania dan Nathan serentak hingga mereka saling tertawa kecil.


Sementara kini Adrian dan Victoria sedang menungguku selesai membuatkan sarapannya di ruang makan. Wajahnya Adrian dari tadi tersenyum ceria membuat Victoria bingung padanya.


"Papa senyum terus," ucap Victoria.

__ADS_1


"Mmm masa sih?" Adrian langsung bersikap polos.


Aku menghidangkan nasi omeletnya di meja makan lalu menduduki kursi di sebelah Adrian.


"Mama juga senyum terus," kata Victoria membuatku kebingungan sendiri.


Pipiku dalam sekejap merah merona mendengar lontaran anakku barusan. Sorot matanya Adrian terfokus padaku mengukir senyuman godaannya padaku.


"Sejak bangun tidur kamu tersenyum terus karena apa, Sayang?" tanya Adrian penasaran.


"Itu karena ...."


"Pasti karena kamu bermimpi indah tentangku, 'kan," lontar Adrian tanpa berbasa basi.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Mataku terbelalak terkejut karena ia bisa membaca pikiranku saja.


"Mana mungkin aku tidak tahu pikiran istriku sendiri. Omong-omong, kamu bermimpi kita sedang ngapain?"


"Mmm kita sedang bersenang-senang berada di Queenstown. Saat itu aku bahagia sekali bermain bola salju bersamamu."


"Kenapa mimpi kita bisa sama, ya?"


"Kamu bermimpi tentangku juga di Queenstown? Pantesan dari tadi kamu tersenyum terus sampai anak kita mencurigaimu."


"Hehe papa senyumnya lucu."


"Semalam aku bermimpi bersenang-senang menjelajahi tempat wisata di Queenstown, baik yang pernah kita kunjungi maupun belum dikunjungi dan juga kita bermain ski serta bermain bola salju. Lalu ...." Ucapannya terhenti membuatku semakin penasaran dengan kelanjutannya.


"Lalu apa? Jangan buatku penasaran!"


Adrian mendekat ke daun telingaku berbisik padaku.


"Aku menciummu, Sayang."


Wajahku semakin memerah seperti kepiting rebus membuatku semakin tersipu malu karenanya.


"Kenapa kamu semakin lama semakin nakal sih?" tanyaku gelagapan.


"Mungkin karena aku sudah terlalu mencintaimu jadi begini," jawabnya santai menyunggingkan senyuman nakalnya.


"Ini mungkin efek karena semalam kita berciuman kelamaan jadi terbawa mimpi," bisikku tersenyum malu.


"Papa bisik apa tadi?" tanya Victoria ikut penasaran sambil matanya berkedip.


"Tadi papa ngomong tidak penting," jawabku polos.


Adrian tertawa gemas sambil membelai rambutku lambat laun.


"Sayang, kamu rindu masa bulan madu kita sampai bermimpi, 'kan?" tanyanya.


"Aku rindu setiap momen indah kita berkunjung tempat wisata di sana."


"Bagaimana kalau saat liburan nanti kita pergi ke sana bersama Victoria kali ini? Masih ada beberapa tempat belum kita kunjungi di sana. Mungkin kita akan berkunjung ke sana saat musim dingin supaya bisa bermain bola salju bersama."


"Tapi berlibur di sana lumayan mahal. Lagi pula kita selalu sibuk dengan pekerjaan."


"Tenang, Sayang. Saat Victoria sedang liburan, kita ambil cuti saja untuk berlibur di sana. Urusan biaya belakangan, yang penting kamu dan Victoria bahagia. Kali ini aku ingin bersenang-senang di sana bersama keluarga kecilku lengkap."


"Baiklah aku tidak sabar menanti liburan kita. Apalagi bersama anak kita pasti semakin terasa menyenangkan." Aku mengelus kepalanya Victoria pelan.


"Asyik jalan-jalan lagi! Papa, di sana seperti apa?"


"Pemandangan di sana jauh lebih indah apalagi kamu bisa lihat bintang di malam hari tanpa menggunakan teropong. Terutama udara di sana masih terasa segar karena penduduk di sana sedikit dan juga ramah lingkungan jarang memakai kendaraan pribadi," jelas Adrian panjang lebar.


"Asyik! Aku suka lihat banyak bintang!"


Adrian mengambil sesendok nasi omelet memasukkan ke dalam mulutku tiba-tiba hingga Victoria sangat iri melihatnya.


"Papa! Aku juga mau disuapi! Kenapa papa suka suapi mama diam-diam?" protes Victoria bibir mungilnya mengerucut.


Bahkan anakku sendiri saja bisa protes dengan perlakuan manis Adrian padaku. Memang Adrian kalau sudah terlalu menyayangiku pasti sudah tidak bisa dikendalikan lagi.


"Sayang, aku tahu kamu sangat mencintaiku tapi anak harus disuapi juga," bisikku pelan.


"Maaf, Sayang. Seperti biasa aku sudah kecanduan memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang."


Sorot mataku beralih pada anakku yang wajahnya sedikit cemburut melipat kedua tangannya di dada. Secara inisiatif, aku menyuapi Victoria sambil mengelus kepalanya lembut.


"Anakku jangan mengambek lagi, ya. Papa ini sudah kebiasaan memperlakukan mama manis sejak dulu."


"Aku sayang mama!" Victoria kembali tersenyum ceria.


Sementara Adrian beranjak dari kursi menghampiri Victoria berjongkok di sebelahnya mengelus punggung tangannya.


"Victoria masih sebal sama papa, ya?"


"Aku tidak sebal," jawab Victoria datar.


"Cemburu itu apa?" tanya Victoria kebingungan.


"Lupakan saja. Nanti kalau kamu sudah mulai dewasa baru papa memberitahumu."


Dengan tangan mungilnya, Victoria memeluk Adrian erat.


"Aku sayang papa."


"Kalian berdua manis sekali sih. Aku jadi cemburu sekarang," lontarku tercengang.


Adrian melepas pelukannya kembali duduk di sebelahku menggenggam tanganku.


"Aduh, Sayang! Jangan cemburu sama anak dong!"


"Bodoh amat!" Aku menjulurkan lidahku padanya.


"Kamu lucu sekali, Sayang."


Victoria merespon dengan tertawa puas walaupun sama sekali tidak mengerti maksud perbincangan kami dari tadi.


Usai sarapan, Victoria melangkah memasuki kamarnya membereskan barang yang akan dibawanya saat berpiknik nanti. Aku mencuci piring kotor bekas sarapan tadi sambil masih terus tersenyum mengambang membayangkan perlakuanku dengannya semalam. Mulai lagi Adrian menggunakan setiap kesempatan saat anak kami sedang sibuk sendiri. Kedua tangannya melingkar pada perutku dari belakang.


"Sayang ...." lirihku manja.


"Senyumanmu sangat cantik sekarang."


"Karena ciuman semalam membuatku selalu tersenyum sampai sekarang."


"Mau aku cium lagi?"


Tawarannya barusan membuat diriku tidak bisa mengendalikan senyumanku hingga membuatnya tertawa usil.


"Sudah kuduga pasti kamu sangat menginginkannya."


"Tidak," bantahku langsung.


"Mau aku yang mencuci piringnya?"


"Tidak perlu. Kamu main bareng Victoria saja."


Adrian menyentuh kedua tanganku tiba-tiba menggerakkan tanganku seolah-olah kami mencuci piringnya bersama.


"Kalau kamu menolak, maka kita cuci piring bersama saja."


"Kamu selalu saja manja padaku setiap kali ada kesempatan."


"Supaya kita semakin mesra setiap hari." Adrian mencium lekukan leherku mendalam.


Dengan sigap aku langsung mengamati sekelilingku takut Victoria melihat perlakuan nakal Adrian padaku. Untung saja Victoria masih berada di dalam kamarnya sehingga tidak tertangkap basah.


"Sayang ... geli," lontarku tertawa geli.


"Aku hanya ingin melakukannya saja."


"Ish kalau sampai dilihat oleh anak kita sendiri gi--"


Baru saja aku menolehkan kepalaku menghadapnya, Adrian langsung mencium bibirku sekilas. Perlakuannya sekarang membuatku sedikit geram rasanya ingin mencolek wajahnya dengan tanganku yang dipenuhi sabun sekarang.


"Adriiaan!"


"Bukankah kamu suka diperlakukan manis olehku?"


"Tapi aku belum selesai bicara kamu langsung menciumku! Lagi pula apa kamu tidak takut nanti dilihat anak kita!"


"Penny, aku tahu jantungmu sekarang sedang berdebar. Aku bisa merasakan detak jantungmu karena naluri kita saling terhubung. Jantungku juga berdebar tidak karuan karena berada di dekatmu sekarang."


Gombalannya barusan membuatku sudah tidak bisa menahan niatku lagi. Sambil mengamati sekelilingku, aku memajukan kepalaku padanya mencium bibirnya sekilas. Usai itu aku kembali melanjutkan aksi mencuci piring sempat tertunda.


"Kamu sudah puas sekarang?" tanyaku.


"Belum puas, Sayang."


Aku menolehkan kepalaku lagi menghadapnya kemudian ia mencium bibirku kali ini selama beberapa detik dalam kondisi tangan kami masih saling berpegangan. Adrian melepas tautan bibirnya dan menyandarkan kepalanya pada pundakku.


"Bagaimana, Sayang? Vitamin penyemangat dariku apakah terasa manis?" tanya Adrian menggombalku.


"Semakin hari semakin manis, Sayang. Rasanya tubuhku kembali bertenaga lagi."


"Mau aku melakukannya lagi?"


Aku langsung membungkam mulutnya dengan jari telunjukku hingga bibirnya kini dipenuhi busa.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Aku tidak sengaja," sesalku dengan sigap menyingkirkan sabunnya namun lebih parah.


Adrian menghembuskan napasnya kasar mulai menyunggingkan senyuman nakalnya padaku sambil menyeka busa yang menutupi bibirnya.


"Kamu pasti sengaja melakukannya sampai bibirku belepotan penuh busa begini."


"Adrian sayang, tadi aku sungguh tidak sengaja. Biar aku yang membersihkannya untukmu."


Aku berniat untuk membersihkan bibirnya namun tangan kananku ditahan olehnya lalu ia membalasku menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya yang dipenuhi busa juga.


"Sayang!"


"Aku juga tidak sengaja melakukannya, Sayang." Adrian memasang raut wajah polosnya memalingkan matanya dariku.


"Tadi itu kamu sengaja! Kamu melakukannya di saat aku melihatmu dengan mataku sendiri."


"Tapi kamu semakin terlihat menggemaskan kalau wajahmu dipenuhi busa." Dengan sengaja Adrian mencubit pipiku hingga wajahku hingga seolah-olah wajahku berjenggot putih sekarang.


"Tidak akan kubiarkan! Kenapa sih kamu suka mencolek wajahku dengan sabun?"


"Karena sangat menyenangkan, Sayang." Tangan kanannya hampir mendarat pada kepalaku langsung kuhentikan aksinya.


"Hampir saja rambutku juga kena sabun tadi. Ish memang tanganmu ingin kuikat supaya tidak bisa bergerak!" sungutku bibirku mengerucut.


Di tengah kami sedang asik bermain perang sabun, Victoria berlari menghampiri kami dan menertawai kami.


"Mama papa lucu haha!" tawa Victoria puas sambil memegangi perutnya.


"Ini hasil karya mamamu yang usil jadinya wajah papa terlihat imut sekarang," sahut Adrian mengedipkan matanya berlagak imut.


"Tadi bukankah kamu protes padaku? Sekarang kamu berlagak imut di depan anak."


"Aku tidak jadi protes deh. Asalkan hasil karya Penny kesayanganku pasti aku suka sekali."


"Mama papa, aku juga mau main!" rengek Victoria menggoyangkan tangan kananku.


Adrian mencuci tangannya sejenak lalu menggendong Victoria. Aku mendongakkan kepalaku di hadapan Victoria lalu mencolek pipi mungilnya hingga dipenuhi busa sama sepertiku dan Adrian.


"Mama lagi!" seru Victoria girang menyentuh pipinya dengan jari telunjuknya.


"Anakku lucu sekali!" Adrian mencubit pipi Victoria lembut.


Victoria mencolek wajah Adrian dengan gelak tawa nakalnya sehingga wajah Adrian kini semakin banyak busa.


"Haha papa lucu!"


"Anakku sekarang usil sekali, ya. Papa juga mau berbuat usil sepertimu." Adrian mencolek wajah Victoria dan wajahku bersamaan sambil tertawa puas.


"Ish Adrian! Kenapa kamu juga mencolek wajahku?"


Victoria menyunggingkan senyuman nakal juga mencolek wajahku.


"Mama kena juga haha," ejek Victoria.


"Kalian berdua memang nakal sekali!" Aku juga tidak ingin kalah dari mereka lalu mencolek wajah mereka asal.


Berawal dari mencuci piring hingga pada akhirnya kami bertiga bermain perang sabun tanpa henti-hentinya sampai tidak mengenal lelah.


Sebelum pergi berpiknik, aku dan Adrian memasak makanan yang akan dibawa nanti siang bersama. Terutama kami berdua memasak telur dadar gulung. Adrian mengambil sumpit diam-diam ingin menyantap telur dadar gulung terlebih dahulu. Namun aksinya barusan tertangkap basah olehku dengan sigap aku memukuli tangannya pelan.


"Ish nanti tidak cukup!" tegurku.


"Bodoh amat!" Adrian menjulurkan lidahnya padaku.


"Nanti kalau seandainya tidak cukup, kamu tidak bakal dapat kebagian!" tegasku memperingatkannya.


Adrian tidak menghiraukanku sama sekali malahan menggigit telur dadar gulung dengan nikmat.


"Mmm enak rasanya. Coba kamu cicip, Sayang!"


"Sayang! Tadi aku sudah memperingatkanmu kenapa kamu--"


Ucapanku terputus langsung mulutku dibungkam olehnya dengan sepotong telur dadar gulung bekas gigitannya. Akhirnya aku yang awalnya mengomelinya menjadi menikmati makanannya.


"Tuh kan kamu tersenyum saat mencicipinya. Sudahlah sayang teknik berpura-puramu tidak berlaku untukku. Aku sudah mengenali karaktermu sejak lama. Setiap kali berhadapan denganku, kamu tidak akan pernah bisa membohongiku dengan teknik apa pun."


"Mmm ternyata rasanya sangat pas di mulut."


"Sudah pasti. Karena kita yang memasak selalu dengan penuh cinta sejak dulu."


"Adrian sayang ...." Sambil menunggu masakannya matang, aku memeluknya manja.


"Kamu manis sekali, Penny," sahutnya sambil mengusap kepalaku lembut.


Aku melepas pelukannya lalu memijit pundaknya pelan.


"Kenapa kamu memijitku tiba-tiba?" tanyanya.


"Karena aku ingin melakukannya saja."


Adrian juga memijit pundakku lalu mengecup pipiku sekilas.


"Aku juga ingin memijitmu supaya pundakmu tidak terasa pegal. Lagi pula belakangan ini kita sudah bekerja keras."


"Baiklah kalau begitu kita saling memijit pundak saja supaya tubuh kita tidak terasa pegal."


Siang harinya, sesuai dengan rencana awal kami bertiga melakukan piknik bersama di taman tempat biasanya kami berpiknik. Sebelum itu, Victoria berlari menghampiri sebuah ayunan di taman lalu spontan Adrian membantunya menaikki ayunannya. Aku dan Adrian menggoyangkan ayunannya pelan membuat Victoria tertawa bahagia.


"Mama papa! Ayun lebih kuat lagi!"


"Oke, Putriku. Papa akan ayun lebih kuat lagi!"


"Jangan terlalu kuat, Sayang. Nanti bisa putus."


"Iya, Sayang. Tenagaku tidak mungkin sekuat gitu."


Adrian menggerakkan ayunannya sedikit bertenaga sambil mendekapku dan Victoria dengan hangat.


"Sebaiknya aku yang ayunkan saja. Kamu istirahat dulu," usulku.


"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti kamu bisa pegal, biar aku saja yang ayunkan. Aku ingin kamu dan Victoria bersantai saja."


"Kalau begitu seperti biasa aku pinjam tubuhmu sebagai bantalku yang empuk." Aku membenamkan kepalaku dengan manja pada pundaknya.


"Bantal istimewa sepertiku tidak akan ada di dunia ini," ucapnya mengecup keningku mendalam.


Tak terasa waktu berlalu cepat. Karena hari sudah siang, kami bertiga makan siang dulu di tengah area hijau yang luas. Aku membuka semua kotak makanannya lalu mengambil sesendok beserta lauknya untuk Victoria.


"Enak!" sorak Victoria girang.


"Masakan papa dan mama pasti selalu yang terbaik di dunia ini. Bahkan masakan koki terkenal saja masih kalah," ucap Adrian tersenyum manis padaku.


"Sayang, kamu juga harus makan yang banyak." Aku memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Kamu juga harus makan yang banyak supaya tetap cantik." Adrian membalasku dengan menyuapi telur dadar gulung untukku.


Begitulah seterusnya saling suapan dengan gelak tawa bahagia sampai puas. Usai makan siang, Adrian menghampiri salah satu penjual gelembung. Lalu ia mengayunkan tongkat gelembungnya hingga banyak gelembung bermunculan. Victoria mengamatinya sampai tersenyum ceria berdecak kagum.


"Bagaimana, Anakku?" tanya Adrian.


"Indah sekali! Ayo papa main terus!"


Sementara aku memandanginya sambil menautkan jempol dan telunjuk melambangkan hati dengan mengukir senyuman khasku.


"Aku sayang padamu juga, Penny!" pekik Adrian dari kejauhan sambil bermain gelembungnya membuat hatiku berbunga-bunga.


Adrian kembali menghampiri kami berdua lalu membiarkan Victoria duduk di atas pangkuannya dan mendekapku dan Victoria dengan hangat sambil mengambil ponselnya. Lalu ia mengarahkan kameranya pada kami.


"Ayo kita berfoto bersama! Aku ingin menyimpan salah satu kenangan terindah kita!" ajak Adrian antusias.


"Asyik! Aku suka foto!"


"Senyum secantik mungkin, ya, Sayang. Sedangkan Victoria harus senyum imut."


Aku dan Victoria menurutinya mengukir senyuman terbaik untuknya, begitu juga dirinya tersenyum bahagia membuatku semakin sayang padanya.


Ceklek


Pengambilan foto indah tadi berhasil diambil dengan sempurna. Kami bertiga mengamati hasil fotonya tersenyum bahagia.


"Keluarga kita akan selalu terlihat harmonis seperti di foto ini sampai seterusnya," ucap Adrian.


"Ini semua berkat kamu yang selalu mempertahankan hubungan keluarga kita menjadi harmonis begini," sahutku mengelus pipinya.


"Hidupku sangat bahagia berkat adanya kehadiran istriku dan anakku."


"Papa dan mama senang, aku juga senang!" Victoria tertawa bahagia.


"Aku sangat mencintai keluarga kecilku sendiri. Terutama aku sangat mencintai Adrian Christopher yang merupakan suami kesayanganku terlangka dan terbaik dalam hidupku," ungkapku tulus mengecup pipinya.


"Aku juga sangat mencintai Penny Patterson yang merupakan istri kesayanganku terbaik dan akan selalu menjadi milikku selamanya," ungkap Adrian mengecup pipiku mendalam.


"Aku tidak disayang?" protes Victoria, bibir mungilnya manyun.


Aku dan Adrian saling bertatapan dengan pandangan berbinar lalu kami mengecup pipi Victoria bersamaan dengan penuh kasih sayang.


"Kami pasti sangat menyayangi putri tercinta kami bernama Victoria Anastasia," ucapku dan Adrian serentak dengan gelak tawa bahagia.


Kami berdua mendekap anak kesayangan kami dengan hangat. Keluarga kecil yang telah kami bangun sejak lama akan terus bertahan dengan baik sampai kami menua bersama. Hubunganku dengan suami tercintaku akan terus kokoh dan tidak mudah rapuh walaupun ada terpaan badai yang ingin menghancurkan hubungan kami. Karena aku dan Adrian sejak pertama kali bertemu sebagai partner kerja baik, sahabat terbaik, sepasang kekasih, dan kini sebagai sepasang suami istri yang selalu bermesraan setiap saat setiap ada kesempatan, sudah saling melindungi, memercayai, mencintai dan menyayangi satu sama lain.

__ADS_1


-THE END-


Terima kasih sudah setia mengikuti kisah Penny dan Adrian dari season 1 hingga season 2. Semoga kisah romansa mereka akan selalu menghibur hati kalian dan tak akan terlupakan.


__ADS_2