Good Partner

Good Partner
Part 43 - Pendatang Baru


__ADS_3

Seorang wanita yang lumayan terlihat cantik itu menghampiri mejaku dengan senyuman ramahnya mengulurkan tangan kanannya. "Apakah kamu, Kepala Detektif Penny?"


Aku beranjak dari kursi. "Iya, itu aku."


Wanita itu mengulurkan tangan kanan. "Perkenalkan aku Fina Lydia, senang berkenalan denganmu. Mulai hari ini, aku akan bergabung dengan timmu, aku harap untuk ke depannya kita bekerja sama dengan baik."


Aku tersenyum ramah berjabat tangan dengannya. "Senang berkenalan denganmu juga, Fina. Aku harap kamu akan nyaman bekerja denganku dan timku sampai seterusnya."


Teman-temanku juga menghampiri Fina yang berdiri tepat di depan mejaku, terutama Hans menghampirinya menampakkan senyumannya mengambang dari tadi sambil merapikan rambutnya. Aku tahu Hans mulai bersikap genit setiap bertemu perempuan cantik di matanya.


Hans menunduk malu tidak berani menatap mata Fina. "Halo Fina ... namaku Hans Christian biasanya aku dipanggil Hans. Senang berkenalan denganmu."


"Senang berkenalan denganmu juga, Hans." Fina berjabat tangan dengan Hans hingga membuat Hans semakin tersipu malu dan tidak rela melepaskan tangan lembutnya Fina.


Nathan melihat Hans yang berjabat tangan lama seperti itu membuatnya geram dan mendorongnya dengan sengaja hingga menabrak berkas dokumenku terjatuh ke lantai.


"Hei, Hans! Beri aku kesempatan untuk berkenalan! Kamu dari tadi berjabat tangan dengannya lama sekali seperti bertemu bintang idola saja!"


"Ya sudah! Tidak perlu memarahiku juga!" Hans melepaskan tangan Fina dengan kesal.


Aku sudah kesal seperti orang tidak waras mengacak rambutku, tidak peduli dilihat banyak orang. "Sudahlah sebaiknya kalian jangan bertengkar lagi! Kepalaku sudah sakit nih karena melihat kalian bertengkar terus di pagi hari!"


Fina mengamati aksi kekonyolan itu hingga tatapannya melotot sambil mendekatkan bibirnya pada daun telinga Tania. "Penny seram juga, ya."


Tania terkekeh. "Namanya juga Penny. Kalau dia tidak seperti itu, maka dia bukanlah Penny yang kami kenal."


Fina menggelengkan kepala. "Aku baru tahu sifat aslinya begitu rupanya."


Tania mengulurkan tangan kanan, hampir lupa berkenalan akibat teralihkan adegan di pagi hari tidak enak dilihat. "Oh ya, aku belum perkenalkan diriku. Namaku Tania Yolanda, panggil aku Tania saja."


Fina berjabat tangan. "Senang berkenalan denganmu juga, Tania."


Dengan cepat Nathan merapikan dirinya akibat bertengkar dengan Hans. "Aku belum perkenalan diri. Namaku Nathanael Reinhard, panggilku saja Nathan. Aku harap kita akan selalu berhubungan dekat untuk ke depannya."


Fina tersenyum ceria menatap semua rekan barunya satu per satu. "Wah, ternyata kalian semua orang yang sangat ramah, ya! Ini membuatku semakin nyaman bekerja sama dengan kalian!"


Sejak Fina menampakkan dirinya di sini, aku sudah tidak dipedulikan siapa pun. Aku bagaikan tembok yang warna catnya sudah pudar dan tidak diwarnai kembali. Mungkin karena penampilannya yang lebih cantik dariku, semua mata jadi tertuju padanya! Dari tadi mereka sibuk berbincang dengan anak baru itu dan sama sekali tidak menatapku balik hingga membuat batas kesabaranku hampir habis.


Aku mengambil tumpukan berkas kasus dan membantingnya ke mejaku dengan kasar hingga membuat seisi kantor ini terkejut melihatku.


PRAKK


Mereka berempat tersentak kaget mengamatiku menjadi ganas tiba-tiba.


Tania mengelus dada dengan gugup. "Aduh Penny, kamu membuatku kaget saja!"


"Kenapa sih dari tadi kamu mengamuk terus seperti singa?" protes Hans menaikkan nada bicaranya satu oktaf.


"Kalian semua cepat ikut denganku ke ruang rapat sekarang juga!" Aku menunjuk mereka satu per satu dengan tatapan kejam sambil bersiap-siap ke ruang rapat.


"Astaga Penny, ini masih pagi lho! Lagi pula Fina juga baru tiba di sini," sergah Hans mencebik kesal.


Aku menggertak meja. "Sesi perkenalan diri sudah selesai. Sekarang waktunya kembali bekerja lagi!"

__ADS_1


Aku berjalan menuju ruang rapat sambil membawa peralatan, diekori mereka semua dari belakang berjalan dengan lesu.


Di ruang rapat, para pria sangat lesu seperti tidak ingin hidup kecuali Fina yang masih bersemangat untuk bekerja. Aku menarik napasku dengan dalam dan membuangnya perlahan untuk menjaga emosiku agar tetap stabil menghadapi timku yang sangat kacau ini.


"Pada tanggal 5 Desember 2021, ditemukan sebuah mayat wanita dan sudah terkonfirmasi identitasnya bernama Maria. Tubuh Maria ditemukan sekitar pukul 6 pagi lalu tadi sudah kuperiksa mayatnya tidak ada bekas luka sayatan apa pun yang ada pada dirinya. Hanya saja ada semacam luka memar yang ada di lehernya, sudah kupastikan Maria dibunuh dengan dicekik lalu jasadnya dibuang ke dasar sungai," ujarku mulai fokus pada penyelidikannya memberikan penjelasan pada semua anggota timku.


"Kapan hasil autopsi mayatnya keluar?" tanya Fina penasaran.


"Kata salah satu dari tim forensik itu hasilnya akan keluar paling cepat sore nanti dan akan dikirimkan melalui email."


Fina bertopang dagu memasang raut wajah serius. "Kalau begitu sambil menunggu hasil autopsinya, bagaimana kalau kita mengunjungi rumahnya terlebih dahulu? Mungkin ada keluarganya mengetahui bahwa ada seseorang yang sangat dendam pada anaknya dan membunuh anaknya begitu saja."


"Kalau begitu, Hans, tolong kamu kunjungi rumah korban terlebih dahulu dan mencari tahu informasi mengenai teman dekatnya!"


Hans tidak menjawabku sama sekali dan hanya sibuk menatap Fina hingga melamun dengan senyuman mengambang. Dengan penuh emosi, aku menggertakkan meja rapatnya hingga membuatnya tersadar dari lamunannya dan matanya terbelalak memandangiku.


Hans memelototiku beranjak dari kursi. "Aduh ada apa lagi sih, Penny!"


"Bisakah kamu bekerja dengan serius! Dari tadi aku sudah berbicara panjang lebar tapi kamu tidak menyimaknya!!" teriakku sangat keras hingga membuat seisi ruang rapat ini bergema.


"Iya maafkan aku, Penny. Lain kali aku tidak akan melamun seperti ini lagi."


"Ya sudah kalau begitu aku akan ikut denganmu mengunjungi rumah Maria. Kamu tidak bisa dipercaya sepenuhnya!" gerutuku membuat tubuhku terasa semakin gerah dan mengibaskan kerah kemejaku dengan lincah.


Aku mencebik kesal menghentakkan kakiku kasar berjalan keluar dari ruang rapat menuju tempat parkir. Aku mengendarai mobilku menuju rumah Maria, diikuti Hans dari belakang.


Setibanya di sana, aku menekan bel rumahnya lalu seorang wanita tua membuka pintu.


"Maaf, Anda ini siapa?" tanya wanita tua itu menatapku dengan ragu.


Wanita tua itu menampakkan wajah pucat. "Oh, jadi Anda yang menyelidiki kasus putri saya."


"Apakah Anda ibunya?" tanya Hans tiba-tiba.


"Iya, saya ibunya Maria. Silakan masuk dulu, tidak enak membicarakan ini di depan pintu!" ajak ibunya Maria mempersilakanku dan Hans memasuki rumahnya menuntunku menuju ruang tamu.


"Apakah Anda ingin segelas air?" tawar ibunya Maria pada kami.


Aku menggeleng sopan. "Tidak usah repot-repot. Lagi pula kami tidak akan berlama-lama di sini."


"Omong-omong kalian berdua kemari untuk apa, ya?" tanya ibunya Maria mulai penasaran.


"Apakah Anda mungkin tahu bahwa putri Anda memiliki seorang teman yang dekat dengannya tapi temannya itu belakangan ini jarang menghubungi putri Anda?" selidikku mulai fokus pada pekerjaan.


Ibunya Maria mengerutkan dahi. "Hmm belakangan ini sih Emma jarang menghubunginya. Bahkan saya pernah mendengarkan putri saya bertengkar dengan Emma beberapa kali belakangan ini."


"Kapan terakhir kali Anda melihat putri Anda bertengkar dengan Emma?"


"Sekitar seminggu yang lalu saat saya sedang membuang sampah di depan rumah, saya melihat Emma sedang menjambak rambut putri saya."


"Apakah mungkin Anda punya nomor ponselnya atau alamatnya Emma?"


"Ada nih, tunggu sebentar!" Ibunya Maria mengambil selembar kertas kecil dan menuliskan alamat rumahnya Emma lalu memberikannya padaku.

__ADS_1


"Terima kasih atas kerja sama Anda. Kalau begitu kami permisi pergi dulu, maaf mengganggu," pamitku dengan ramah lalu melangkah keluar dari rumah Maria yang disusul Hans dari belakang.


Saat aku sedang berjalan menuju mobilku yang terparkir di depan rumah Maria, Hans mencegahku tiba-tiba dari belakang. "Menurutku ini sangat mustahil. Pelakunya tidak mungkin Emma."


"Iya aku juga berpikir seperti itu. Setidaknya mereka bertengkar tidak sampai sedahsyat itu."


"Pelakunya pasti orang lain."


"Besok kita akan mengunjungi rumah Emma dan menanyakannya dengan rinci. Untuk sekarang kita kembali ke kantor dulu!"


Aku berjalan menuju meja kerjaku lalu memandangi layar monitorku. Hasil autopsinya belum keluar hingga sekarang. Karena hari sudah mulai gelap dan juga Fina baru bergabung dengan timku hari ini, aku memutuskan mengajak seluruh anggota timku makan bersama di luar. Sebenarnya aku ingin berkencan dengan Adrian, tapi situasi sekarang tidak memungkinkan kami untuk berkencan.


"Bagaimana kalau kita sekarang pergi makan bersama di restoran barbeque yang biasanya kita kunjungi?"


"Wah, dalam rangka apa itu, Penny?" tanya Nathan penasaran.


"Hari ini Fina baru bergabung dengan tim kita jadi kita harus merayakan penyambutannya."


Hans tersenyum girang setiap mendapatkan traktiran. "Asyik, ayo kita ke sana sekarang!"


Tentu saja aku juga mengajak Adrian untuk makan bersama sekalian memperkenalkan Fina padanya. Aku mengambil ponselku dan menghubunginya.


"Halo Adrian, kamu sedang sibuk sekarang?"


"Tidak juga. Ada apa kamu meneleponku?"


"Aku ingin mengajakmu pergi makan bersama timku di restoran barbeque yang biasanya kita kunjungi sekalian memperkenalkan anggota baruku yang baru bergabung dengan timku hari ini."


"Boleh juga. Aku akan ke sana sekarang juga. Sampai bertemu di sana, Penny." Adrian terburu-buru menutup panggilan telepon dariku.


Setibanya di restoran, sambil menunggu Adrian, aku memesan makanannya terlebih dahulu.


Tak lama kemudian, Adrian tiba di sini menduduki kursi di sebelahku lalu memelukku bagaikan sudah setahun tidak bertemu dengannya.


Aku suka diperlakukan manis begini, taoi bukan berarti di hadapan banyak orang sampai membuatku malu. "Aduh Adrian, jangan memelukku seperti ini di depan semua temanku!"


Sejenak Adrian melepas pelukan duduk di sebelahku. "Maaf, Penny. Aku hanya merindukanmu saja."


Aku menyadarkan kepalaku pada pundaknya. "Aku juga merindukanmu, Adrian."


Adrian mengecup pipiku manis sambil membelai rambutku dengan pandangan berbinar mengukir senyuman bahagia. "Penny, aku tidak peduli semua teman kita melihat kita bermesraan sampai iri. Yang penting aku bahagia melakukannya bersamamu."


Aku mempererat pelukan tersenyum manis. "Mmm kalau begitu aku juga ingin terus melekat padamu sekarang."


Adrian menghela napas lemas. "Tapi Penny, seharusnya aku berkencan denganmu sekarang. Gara-gara kasus baru itu kita jadi gagal kencan, padahal aku sudah menantikannya."


"Aku juga sebenarnya ingin makan malam bersamamu saja. Maafkan aku, Adrian."


"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang aku berada di sisimu."


Sementara semua anggota timku memandangi kemesraan kami sampai terus menggelengkan kepala mereka. Aku bahkan sampai lupa memperkenalkan Fina padanya.


Aku mengulurkan tangan kananku menunjuk sosok Fina duduk di sebelah Hans. "Aku mau perkenalkan pendatang baruku ini namanya Fina Lydia."

__ADS_1


Saat tatapan Adrian beralih pada Fina, raut wajahnya berubah drastis seperti sudah mengenalnya sejak dulu dengan tatapan gugup.


__ADS_2