
Sebelum aku menyusun strateginya, aku melepas jaketku dan mengikat rambutku model ponytail agar lebih berkonsentrasi. Sedangkan Adrian menarik sebuah papan tulis ke tengah ruang kerjanya untuk menggambar skema strateginya dan menyediakan spidol.
Jika dipikir-pikir, sepertinya ide kami sebelumnya terkesan sangat rumit dan berisiko. Aku terus berpikir sambil memainkan pulpenku. "Aku baru kepikiran. Sepertinya kita jangan datang sebagai tamunya, terlalu berisiko dan sangat berbahaya. Tapi, kita menyusup diam-diam supaya lebih aman."
Adrian menanggapi ideku memanggut-manggut. "Benar juga sih. Berarti kita menyusupnya saat sore hari. Saat restorannya masih dibuka dan Pak Colin tidak akan pulang ke rumahnya."
"Pagar rumah Pak Colin cukup tinggi, kita harus memarkir mobil dekat dengan pagarnya untuk membantu kita memanjat dan melompati pagarnya."
Adrian menggeleng menatapku dengan tatapan ragu. "Sepertinya itu tidak terlalu efektif. Memanjat pagar terlalu berbahaya. Apalagi kamu bisa terluka nantinya kalau tidak berhati-hati. Akan lebih baik jika kita masuk lewat pintu utamanya."
Aku tertawa gemas mendengar Adrian masih bisa mencemaskan kondisiku di saat menyusun strategi. Padahal aksi itu belum terjadi.
"Adrian."
"Kenapa, Penny?"
"Di saat begini kamu masih bisa mencemaskanku," tuturku tersenyum mengambang padanya.
Adrian sedikit memalingkan mata. "Memang aku tidak suka melihatmu terluka terus. Sebaiknya kita memikirkan cara lain supaya kamu tidak terluka, apalagi kamu wanita."
"Tapi bagaimana caranya? Pagar rumahnya itu dijaga dengan sistem keamanan sensor."
"Di kantormu apakah ada detektif yang andal dalam bidang peretasan?"
Perasaanku mulai tidak enak sekarang. Selama ini orang yang paling andal dalam bidang itu hanyalah detektif yang menyebalkan di kantorku.
"Ada sih tapi ...." Kepalaku menunduk lesu.
"Tapi kenapa?" tanya Adrian penasaran.
"Satu-satunya detektif yang andal hanyalah Hans, detektif yang menginterogasiku waktu itu dan salah satu musuhku di kantor."
Seandainya saja Nathan juga andal dalam bidang peretasan, aku tidak akan meminta bantuan Hans. Aku sih agak malas meminta bantuan musuhku sejak dulu. Lagi pula nanti Hans akan meremehkan aku lagi dilihat dari sikap sombongnya. Tapi apa boleh buat, ini demi pekerjaan. Terpaksa aku membujuknya dengan baik.
"Penny? Penny? Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Adrian menepuk pundakku.
Aku baru tersadar dari lamunanku. "Tidak apa-apa."
"Kamu yakin akan meminta bantuan Hans?"
Aku mengangguk percaya diri. "Hanya dia yang bisa kita andalkan saat ini dan juga di antara semua orang yang memiliki keahlian itu hanya Hans yang kukenal."
"Baiklah, kalau begitu kita melanjutkan menyusun strateginya lagi."
Aku beranjak dari kursi mengambil spidol menggambar denah rumah Pak Colin. "Setelah Hans berhasil meretas sistem sensor itu, lalu kita memasuki rumahnya. Pintu depan diawasi beberapa pengawal ketat. Satu-satunya pintu yang tidak ada pengawalnya itu, yaitu pintu belakang halaman rumahnya."
"Aku dan Nathan yang akan menghalangi para pengawal itu. Kamu, Tania, dan Hans langsung berlari ke pintu belakangnya," tuturnya sambil melanjutkan menggambar skemanya.
"Semoga rencana ini berhasil."
"Rencana ini berhasil berkat idemu yang cemerlang, Penny," pujinya menatapku dengan pandangan berbinar.
__ADS_1
"Padahal misi kita belum dijalankan. Lagi pula awalnya adalah idemu, Adrian. Memang kamu jenius!" pujiku mengacungkan jempol padanya.
Ketika kami berdua fokus mengamati gambar skema yang digambar kami, kami menggeserkan tubuh kami perlahan terfokus melihatnya hingga tidak sengaja kepala kami saling terbentur satu sama lain. Bukan saling meminta maaf namun entah kenapa rasanya sangat menyenangkan. Tanpa kami sadari, kami tertawa bahagia sampai puas saling memandang dan menyentuh kepala.
Keesokan pagi, aku datang ke kantor lebih awal karena aku harus membujuk Hans untuk membantuku. Hans merupakan salah satu detektif paling rajin sehingga ia selalu tiba di kantor lebih awal. Aku menarik napasku panjang membuangnya perlahan, lalu memanggilnya dengan baik dan mengajaknya memasuki ruang rapat.
Di dalam ruang rapat, Hans menduduki kursinya berlagak sombong menatapku tersenyum sinis.
"Ada apa nih? Tumben kamu memanggilku ke sini."
"Aku ingin meminta bantuanmu."
"Minta bantuan apa? Kamu meminta bantuanku jika ada maunya saja."
"Kamu masih ingat ketika kamu menginterogasiku waktu itu. Aku bilang bahwa aku pasti akan menangkap pelaku sebenarnya."
Hans mengangkat kaki di kursi. "Iya, aku masih ingat. Sampai sekarang aku masih ingin menagih utangmu mengenai hal itu."
"Aku tahu pelaku sebenarnya menyembunyikan sesuatu yang penting di rumahnya. Pagar rumahnya dijaga ketat dan sistemnya itu berupa sensor. Aku tahu kamu adalah detektif yang paling andal dalam bidang peretasan di kantor ini."
Hans menatapku tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi kesimpulannya, kamu ingin aku membantumu meretas sensor itu?"
"Maukah kamu membantuku? Aku akan mentraktirmu makanan enak nanti," bujukku meminta bantuannya dengan lembut.
"Baiklah aku akan membantumu untuk kali ini saja. Ingat janjimu nanti," patuh Hans langsung tanpa berpikir panjang keluar dari ruang rapat.
Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa usil melihat Hans terlihat girang sekali setelah mendengar tawaranku barusan. Ini pertama kalinya aku berhasil merayu Hans tanpa memerlukan waktu lama. Ya, memang sejak dulu ia selalu senang setiap kali ditraktir siapa pun.
Sore harinya, ini merupakan saatnya aku dan teman-temanku beraksi. Sebelum mengunjungi rumah Pak Colin, aku memeriksa keadaan restoran memastikan Pak Colin berada di sana. Karena ia berada di sana, maka aku memiliki waktu yang cukup lama untuk menyusup rumahnya. Aku langsung bergegas mengendarai mobilku menuju rumah Pak Colin. Sesuai dengan rencana awal, aku memerintahkan Hans meretas sensor pagar rumah dulu.
Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Hans berhasil meretas sehingga pagar terbuka dengan lebar. Kami semua terkagum melihat aksinya barusan. Memang aku tidak salah memanggilnya untuk membantuku.
"Luar biasa!" seru Nathan heboh.
"Kamu hebat sekali, Hans! Bahkan Nathan saja tidak bisa melakukannya," puji Tania sambil menatap Nathan tersenyum sinis.
"Ah, ini hal kecil bagiku," balas Hans sombong.
"Sebaiknya kita masuk sekarang!" ajakku.
Kami langsung masuk ke rumah itu dan banyak pengawal yang mengepung kami. Sekarang giliran perannya Adrian dan Nathan yang mengatasi para pengawal. Adrian dan Nathan mengepalkan tangan mereka mulai menghajar para pengawal itu satu per satu.
"Penny, Tania, dan Hans cepat pergi dari sini!" pekik Adrian tegas sambil melawan para pengawal itu.
"Kalian semua tenang saja. Aku dan Adrian pasti akan bisa mengatasi ini," tambah Nathan membantu Adrian melawan para pengawal.
Aku menatap Adrian dari kejauhan sangat mencemaskannya sekarang melihatnya bersama Nathan berjuang tanpa mengenal lelah. Ia menolehkan kepalanya ke arahku menampakkan senyuman ceria padaku mengangguk pelan menandakan bahwa ia baik-baik saja. Melihatnya seperti itu, aku sedikit lega lalu beralih pada temanku.
"Ayo cepat kita pergi ke halaman belakang!" ajakku pada Tania dan Hans.
Aku, Tania, dan Hans berlari ke halaman belakang, untungnya kami selamat lolos dari sana. Ketika kami sudah berada di dalam rumah, aku membagi tugas pada mereka berpencar mencarinya.
__ADS_1
"Tania, kamu cari di lantai dua. Sedangkan Hans cari di lantai tiga. Cari sekelilingnya tanpa melewatkan apa pun!"
Kami semua berpencar dan melaksanakan tugas masing-masing. Sedangkan aku mencari di lantai dasar. Aku memasuki ruangan pribadinya dan membuka laci mejanya namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Kemudian aku juga terus mencari lagi di setiap area tapi masih tetap tidak ketemu.
Tak lama kemudian, Hans dan Tania menghampiriku.
"Apakah kalian menemukan sesuatu?" tanyaku pada mereka berdua.
Tania menggeleng pasrah. "Aku sudah cari ke seluruh kamar di lantai dua tapi tidak ada benda-benda penting di sana."
"Sedangkan aku sudah mencari sampai teliti di seluruh ruangan lantai tiga bahkan sampai pot tanaman tapi tidak ada benda penting yang disembunyikannya," tambah Hans dengan napas tersengal-sengal.
"Jadi gimana, Penny? Kita tidak punya banyak waktu lagi!" tanya Tania mulai panik.
"Tunggu sebentar, beri aku waktu berpikir dulu!" Aku berjalan mondar-mandir sambil berpikir keras.
Jika Pak Colin tidak menyembunyikan benda itu di kamar walaupun ruangan pribadinya, pasti ia menyembunyikan sesuatu di ruangan rahasianya yaitu tempat di mana orang tidak akan pernah menemukannya. Aku terus memikirkannya sambil menggarukkan kepalaku.
Tiba-tiba ada satu hal yang terlintas di pikiranku. Di buku catatan Pak John tertulis kata 'Versailles'. Lalu saat Pak Colin mengajakku dan Adrian makan bersama di rumahnya, kami membicarakan mengenai lukisan istana Versailles itu. Apakah mungkin ada sesuatu di balik lukisan itu?
Dengan sigap aku berjalan mendekati lukisan itu dan menyentuhnya.
CLIK
Aku tidak sengaja membuat lukisan itu posisinya miring dan ternyata ada pintu rahasia terbuka tiba-tiba. Bola mata Tania dan Hans terbelalak, sorot mata mereka terfokus padaku.
"Penny, apakah ini?" tanya Tania yang terkagum melihatku.
Aku mengangguk. "Iya, ini adalah ruang rahasianya yang dimaksud Pak John."
"Ternyata kamu ini lumayan cerdas juga ya, Penny." Pertama kalinya sebuah pujian tulus dikeluarkan dari mulut Hans.
"Ayo, kita masuk ke ruangan itu sekarang!" ajakku.
Di ruangan ini, ternyata banyak foto-foto termasuk fotoku ditempel di dinding. Selain itu, juga ada banyak ponsel di meja seperti sedang menjual ponsel. Pasti semua ponsel ini digunakan untuk sementara saja. Sorot mataku tertuju pada satu ponsel yang tergeletak sendirinya di meja khusus dan juga benda-benda lainnya. Selain itu, ada laporan keuangan Elite Company yang asli di sini juga.
Tania bergidik ngeri melihat fotonya yang ada di kumpulan foto itu. "Astaga kenapa bisa ada fotoku di sini!"
"Ternyata selama ini semua bukti ada di ruangan ini," kata Hans sambil melihat benda-benda di meja itu.
Aku menunjuk salah satu tumpukan berkas laporan keuangan. "Tidak hanya kasus ini juga, bukti kasus 15 tahun yang lalu juga ada di sini. Bukti yang didapatkan pihak kepolisian saat 15 tahun yang lalu itu adalah palsu. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Kertasnya sudah mulai pudar dan dilihat dari tintanya, ini adalah dokumen asli."
Tatapan mataku beralih pada sebuah brankas terletak di sudut ruangan. "Ada brankas di situ, coba kamu buka, Hans!"
Dengan sigap Hans mencoba membuka brankas itu. Akhirnya brankas berhasil terbuka dan isinya berupa dokumen-dokumen rahasia.
"Ini adalah jackpot!" seru Hans matanya terbelalak.
"Ini luar biasa!" seru Tania terkejut melihat isi brankasnya.
"Sedang apa kalian di sini?" Suara Pak Colin terdengar di telingaku tiba-tiba.
__ADS_1