
Aku mengajak Josh berjalan kaki ke sebuah restoran yang letaknya sekitar satu kilometer dari kantorku. Walaupun restoran ini tidak semewah dari yang ia bayangkan, yang terpenting aku dengan tulus mentraktirnya makan sebagai permintaan maaf.
Josh menatap sekeliling restoran terkejut, karena tidak terbiasa makan di restoran sederhana. Sedangkan aku hanya bisa menatap buku menu yang ada di tanganku untuk memesan makanannya. Saat makanan kami disajikan pelayan restoran, Josh menertawaiku seperti memandangku rendah. Aku tahu ia orang kaya memiliki gedung stasiun TV pasti ia sangat tidak nyaman jika makan makanan tidak mewah seperti ini.
"Kenapa kamu menertawaiku?" tanyaku gugup.
"Aku tidak menyangka kamu mengajakku ke restoran seperti ini." Josh tertawa remeh membuatku semakin canggung makan bersamanya.
"Maaf jika menurutmu sangat tidak nyaman tapi aku mentraktirmu dengan tulus sebagai permintaan maaf dariku."
"Tidak apa-apa. Walaupun aku biasanya makan di restoran yang mewah elit itu, tapi sesekali makan di restoran ini tidak masalah juga sih," balasnya santai sambil menyantap makanan.
Aku tersenyum lega menyesap secangkir teh hangat. "Baguslah, jika kamu tidak masalah."
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Josh tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya.
"Uhuk...uhuk..."
Aku tersentak hingga batuk tersedak sambil minum secangkir teh hangat terburu-buru. Apalagi orang asing menanyakan privasiku, aku merasa tidak nyaman sebenarnya.
Josh mengambil selembar tisu untukku. "Kamu tidak apa-apa?"
"Terima kasih." Dengan sigap aku menyeka bercak teh yang melekat pada sudut bibirku menggunakan tisunya.
Namun mengamati perilakunya tiba-tiba berubah drastis terhadapku membuat pikiranku terusik sekarang. Karena Josh memperlakukanku seperti ini, aku menjadi merasa sedikit tidak nyaman berada di dekatnya. Ini membuatku rasanya sangat canggung. Apalagi setelah aku menangkapnya, ia bersikap sangat aneh di hadapanku sekarang. Apa mungkin ia masih menaruh rasa dendam padaku dalam hatinya?
"Tenggorakanmu sudah terasa enak?"
Aku menggeleng sambil menaruh tisu di meja. "Aku tidak apa-apa."
"Maaf jika tadi aku berkata lancang padamu hingga membuatmu batuk tersedak."
"Tidak masalah. Aku akan menjawab pertanyaanmu barusan."
"Apa jawabanmu itu?"
Aku menampakkan senyuman percaya diri bersiap melemparkan peluru melawannya daripada ia bertindak lebih jauh. "Sebenarnya aku sudah berpacaran dengan seseorang."
"Begitu rupanya." Reaksinya sangat datar mendengar jawabanku sambil memalingkan matanya dariku.
Sudah kuduga ia pasti akan bersikap modus jika aku belum berpacaran. Seperti CEO yang ada di novel dan komik yang aku baca. "Ada apa memangnya?"
Josh tersenyum paksa. "Tidak apa-apa. Dengan wajah cantik sepertimu itu, sangat wajar sih jika ada orang yang menyukaimu."
"Tidak juga, wajahku biasa saja," balasku merendah menunduk malu sambil menyentuh pipiku.
"Apakah pacarmu itu seorang detektif juga?" tanya Josh dengan gugup.
Aku mengangkat kepala angkuh. "Bukan, dia seorang jaksa."
__ADS_1
"Oh, dia itu jaksa. Jaksa dan detektif memang cocok satu sama lain sih," tutur Josh memalingkan matanya lagi dariku.
"Tapi kamu sendiri pasti punya pacar juga, 'kan?" tanyaku balik dengan rasa penuh penasaran.
Raut wajahnya berubah drastis. Josh menghembuskan napasnya lesu sambil menaruh sendok di atas piring. "Aku tidak punya pacar."
Mataku terbelalak sempurna. Aku tidak memercayai perkataannya terdengar omong kosong. "Selama ini kamu tidak pernah berpacaran dengan seseorang?"
"Iya, memang benar."
"Kenapa bisa? Bukankah kamu ini sangat kaya apalagi kamu seorang CEO stasiun TV ternama pasti banyak wanita yang akan mengincarmu."
"Seorang pria yang kaya belum tentu terjamin bahwa ada wanita yang akan mengincarnya. Mungkin jodoh belum datang. Memang banyak orang memiliki pemikiran bahwa aku sudah berpacaran dengan seseorang."
"Iya aku pernah melihat berita skandalnya di media sosial."
"Terkadang para wartawan menyebalkan merilis beritanya tanpa melihat fakta terlebih dahulu."
"Begitu rupanya, biarkan saja. Aku doakan supaya kamu segera mendapat jodoh yang baik. Mari bersulang!" ucapku sambil mengangkat cangkir tehku.
"Bersulang!" Josh menabrakkan cangkir teh mengenai cangkirku.
"Setelah selesai makan, aku harus segera kembali ke kantorku. Aku harus melanjutkan menyelidiki kasus ini lagi."
"Baiklah, tapi aku punya satu permintaan."
"Jika kita bertemu tatap muka lagi, bolehkah kupanggil dengan namamu saja? Rasanya lebih enak jika memanggilmu dengan namamu," tutur Josh dengan gugup.
"Boleh saja, kenapa tidak," balasku dengan senyuman ramah.
Akhirnya aku terbebas dari suasana canggung cukup lama membuatku dari tadi terus menghitung waktu. Baru saja aku tiba di kantor langsung disambut suasana mencekam, Fina menatapku dengan tatapan elang menghampiriku.
Fina tersenyum sinis melipat kedua tangan di dada. "Sekarang kamu mengincar pria lain mengajak makan bersama."
Sudah kuduga ia cemburu hanya karena aku lebih laku daripada dirinya. Aku tertawa remeh melipat tanganku juga. "Aku hanya mengajaknya makan bersama sebagai permintaan maafku."
"Begitukah? Kalau hanya meminta maaf saja, kenapa kamu pergi keluar dari kantor hampir dua jam." Fina semakin mendekatiku seperti ingin menerkamku saat ini.
"Kenapa? Kamu cemburu melihatku bersama dengan dua pria tampan?" Aku sedikit menyindirnya mengingat dirinya ditolak Adrian secara langsung di hadapanku waktu itu.
Fina mengangkat kepala bergaya angkuh. "Aku tidak cemburu. Hanya saja aku memperingatkanmu terlebih dahulu."
"Kamu ingin mengancamku?"
"Aku peringatkan kamu, jika sampai kamu selingkuh dengan pria lain, maka aku akan merebut Adrian darimu!" jawab Fina dengan lantang mencolek lenganku pelan.
Aku tertawa lepas mencolek lengannya juga. "Tenang saja. Hal itu tidak mungkin terjadi. Aku pasti tidak akan membiarkanmu merebut Adrian dariku."
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang!"
__ADS_1
"Ada apa ini?"
Danny menampakkan dirinya entah dari mana hingga membuatku sedikit terkejut memandanginya, apalagi aku dan Fina sedang berdebat mengenai masalah asmara.
Aku menggeleng gugup. "Tidak ada apa-apa, Danny. Kami hanya berbincang biasa."
"Sudah kuperingatkan berulang kali, jangan pernah membahas tentang kehidupan asmara di kantor! Apakah kalian tidak tahu aturannya!" ketus Danny berteriak hingga telingaku terasa panas sekarang.
Gara-gara wanita licik itu, aku kena omelan lagi. Selalu saja pagi-pagi begini aku kena omelannya. Walaupun Danny itu merupakan seorang kepala detektif yang dikatakan senior karena sudah menjabat hampir delapan tahun, sikap tegasnya itu jangan diremehkan.
"Sudahlah Danny, lebih baik kamu jujur bahwa kamu belum punya pasangan sama sekali jadi kamu selalu bersikap dingin seperti ini," elak Fina mengangkat alisnya sedikit menyindir Danny.
"Apa kamu bilang, Anak baru? Kamu memang tidak punya etikanya sama sekali! Jaga mulutmu yang tajam itu!" bentak Danny mendekati telinga Fina.
Aku berinisiatif harus melerai pertengkaran mereka. Terpaksa aku harus mengakui kesalahan meski sebenarnya Fina yang memulai duluan. "Maaf Danny, aku tidak bermaksud untuk membuat keributan lagi seperti ini. Aku akan mengajarkan anggota timku mengenai etika yang baik." Aku menyenggol lengan Fina dengan sengaja mengisyaratkannya meminta maaf pada Danny sekarang.
"Tidak usah meminta maaf, Penny! Sudah kita tidak ada salahnya sama sekali. Kamu jangan bersikap lemah di hadapannya," sergah Fina seolah-olah membelaku sekarang walaupun secara tidak langsung.
"Sudahlah Fina, lebih baik kita meminta maaf padanya saja," bisikku dengan nada tegas.
"Pokoknya sampai kalian bersikap kurang ajar padaku seperti ini, akan kulaporkan kepada Inspektur William. Apakah kalian mengerti maksud ucapanku barusan?" Danny menaikkan nada bicaranya satu oktaf sambil mengibaskan kerah kemejanya akibat kegerahan menghadapi kami berdua.
"Iya aku mengerti, Danny," patuhku lesu.
"Satu hal lagi untuk meluruskan masalah ini, aku sudah menikah sekitar empat tahun yang lalu, jadi jangan bilang bahwa aku belum punya pasangan sama sekali!" gerutu Danny mendengkus kesal meninggalkan kami berdua.
Fina mengacak-acak rambutnya dengan kesal hingga terlihat sangat tidak beraturan sambil berjalan kembali menuju tempat duduknya. Sedangkan aku kembali ke meja kerjaku dan menatap layar monitorku lagi.
Tania menampakkan senyuman tipis menghampiriku memberiku secangkir kopi. "Ini minum kopi dulu."
"Terima kasih, Tania," sahutku minum kopinya.
Tania menepuk-nepuk punggungku. "Pasti sangat berat bagimu."
Aku mengangkat kepala percaya diri. "Waktu pertama kali rasanya sangat berat, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa dengannya."
"Aku salut denganmu, Penny. Kamu bisa menghadapi wanita yang memiliki kepribadian buruk seperti itu," puji Tania mengacungkan jempolnya padaku.
"Aku hanya melaksanakan tugasku sebagai kepala detektif di divisi ini saja. Aku harus mengendalikan emosiku supaya aku tetap profesional jika sedang bekerja."
"Tapi aku yakin Fina akan berubah sikap suatu saat. Dia pasti akan menyadarinya cepat lambat."
Berkat kopi buatan Tania sangat pas, akhirnya aku bisa kembali tersenyum. "Omong-omong, terima kasih ya kopinya. Ini sangat lezat."
"Lain kali aku akan sering membuatkanmu kopi supaya pikiranmu tenang."
Sedangkan di stasiun TV BYZ, Reporter Yulia sedang mengunjungi sebuah gudang di mana gudang itu untuk penyimpanan surat kabar yang sudah lama. Saat ia sedang merapikan gudang itu, tiba-tiba ia menemukan sebuah artikel yang sangat asing tidak pernah dirilis di mana pun. Ia mengambil artikel itu dari sebuah rak penyimpanan lalu membacanya perlahan dengan tatapan kebingungan.
"Ini aneh sekali, kenapa bisa ada artikel seperti ini? Aku belum pernah mendengar berita ini di mana pun."
__ADS_1